Sunday, June 21, 2009

Solo Batik Carnival dan Publikasi Dunia Maya

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 76/Juni 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia


Pebisnis batik Solo, pelajari fenomena kasus Prita Mulyasari. Satu email curhat-nya atas layanan RS Rumah Sakit Internasional Omni, membuat ia ditahan selama 20 hari.

Tetapi segera kasus kontroversial yang menyinggung rasa keadilan itu memicu gelombang protes yang dahsyat. Semula hanya berupa bisik-bisik di dunia maya, tetapi akhirnya menggelembung, hingga mampu menghasilkan efek publikasi yang luar biasa.

Ribuan orang menulis di blog, bertukar komentar di forum, milis, dan bahkan ratusan ribu orang sengaja bergabung dalam cause di Facebook untuk menuntut pembebasan Prita. Ibaratnya mereka berdemo dan ber-gethok tular di dunia maya yang akhirnya mendorong kasus tersebut dapat dibedah dan diletakkan dalam proporsinya.

Kasus Prita vs Omni di atas menunjukkan kedahsyatan media sosial, yang dapat hadir dalam beragam bentuk, misalnya milis, forum, blog, wiki, podcast, album foto dan video di Internet. Media sosial berbeda dibanding media industri seperti surat kabar, televisi dan film.

Kalau media industri membutuhkan biaya besar dan sumber daya mahal untuk menerbitkan informasi, media sosial menyediakan sarana murah bagi setiap orang untuk menjadi produser informasi.

Fenomena ini membalikkan konsep media massa menjadi menciptakan media untuk massa. Setiap orang kini dengan bersenjatakan sarana penerbitan berbasis web yang murah, mudah dikelola, dengan koneksi yang selalu tersambung dan semakin canggihnya sarana komunikasi bergerak, mendaulat mereka menjadi partisipan yang aktif dalam menciptakan berita atau informasi, sekaligus berperan dalam penyebarannya.

sbc,solopos,bambang haryanto,media sosial

Warga terlibat. Merujuk kepada kemampuan media sosial tersebut, pebisnis batik Solo, Pemkot Solo dan semua pemangku kepentingan terkait penyelenggaraan acara tahunan Solo Batik Carnival (SBC) yang tahun ini akan digelar 26-28 Juni 2009, kini saatnya membuat terobosan baru.

Yaitu secara terencana sengaja melibatkan warga untuk menjadi corong suara ke persada dunia dengan memanfaatkan media-media sosial yang ada. Aktivitas SBC kemudian tidak hanya terpusat kepada persiapan bagi peserta arak-arakannya semata.

Melainkan harus juga menjangkau kepada warga yang dimotivasi sampai dilatih secara cerdas untuk tampil menjadi penerbit informasi di dunia maya tentang semua aspek SBC yang terjadi.

Untuk aksi satu ini kita dapat meneladani langkah yang ditempuh oleh UNS Sebelas Maret. Ketika cita-cita UNS ingin masuk dalam jajaran universitas kelas dunia, yang antara lain dinilai dari frekuensi dan akumulasi penerbitan sivitas akademikanya di dunia maya yang tercatat dalam mesin pencari Google, UNS telah memacu seluruh warganya untuk menjadi blogger, alias menjadi penerbit di dunia maya.

Terus berdengung. Para pemangku kepentingan terkait SBC harus melakukan strategi serupa. Bahkan gerakan memobilisasi publikasi itu harus dilakukan secara sinambung. Sebelum, selama dan sesudah peristiwa budaya tersebut paripurna dilaksanakan. Sehingga peristiwa ini selalu menjadi buzz, berdengung senantiasa di dunia maya.

Ketika karnaval SBC berjalan, saya membayangkan kejadian menakjubkan seperti dikisahkan oleh ahli strategi Internet, John Blossom, asal AS. Dalam situs yang menyertai penerbitan bukunya, Content Nation : Surviving and Thriving as Social Media Changes Our Work, Our Lives, and Our Future (2009), ia bercerita tentang suasana peristiwa olah raga terakbar di Amerika Serikat, yaitu final kejuaraan Super Bowl XLIII awal Februari 2009 yang lalu.

Kiprah ribuan penonton yang sekaligus “wartawan” itu, dengan bersenjatakan media jaringan sosial Facebook dan microblogging Twitter, menjadi fenomenal adanya.

John Blossom menulis : “Di tengah kerumunan itu stadion riuh berhias pendar-pendar nyala layar telepon genggam. Puluhan ribu warga biasa mengirimkan video, audio, foto dan pesan-pesan pendek kepada rekan-rekan mereka sebagai bagian integral peristiwa itu melalui sarana telepon genggam mereka. (Fenomena ini) menegaskan betapa penerbitan melalui media sosial telah menjadi bagian dari selebrasi diri kita sebagai umat manusia.”

Solo Batik Carnival pasti juga merupakan bagian dari selebrasi warga Solo atas batik sebagai karya kebanggaan budaya mereka. Saya memimpikan dan membayangkan betapa dahsyat bila rasa bangga itu, baik sebagai pelaku sampai sebagai saksi dari arak-arakan megah yang mempertontonkan karya kreatif dalam karnaval SBC itu, dapat secara masif mereka ceritakan secara bersama-sama kepada dunia.

Tujuan akhirnya : Solo yang lebih kuncoro bukankah mampu mendatangkan maslahat bagi seluruh warganya ?


[Catatan : Tulisan ini dengan penyuntingan oleh redaksi telah dimuat di Harian Solopos, Senin, 22 Juni 2009].


Wonogiri, 20-22 Juni 2009

ee

Wednesday, June 10, 2009

Sidang Ke-2 Prita Mulyasari : Ketika Hukum Membungkam Hati Nurani ?

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 75/Juni 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia


Photobucket




Wonogiri, 11/4/ 2009

ee

Thursday, June 04, 2009

Inspirasi Prita, Content Nation dan UU ITE Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 74/Juni 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia


Surat blogger. Thanks, nDoro Kakung untuk reportasenya. Apakah Anda juga sempat “melihat-lihat” pengacara>a Omni Hospital, Risma Situmorang, di sidang Prita Mulyasari itu ?

Melalui BBC Siaran Indonesia (29/4/2009), saya mendengar Risma Situmorang berkata bahwa kebebasan berekspresi dibolehkan asal tidak mengganggu kebebasan subjektif orang/fihak lain.

Déjà vu !

Sebagai pengamat komedi (plus : komedian masih gagal : http://komedian.blogspot.com), saya suka mengingat atau mengumpulkan soundbite tokoh-tokoh kita. Omongan Risma itu, kayaknya pernah saya dengar sebelumnya. Ternyata varian omongan tersebut pernah muncul dari Muhammad Nuh, Menkominfo kita.

Di BBC Siaran Indonesia (25/3/2008), ketika menteri kita itu memutuskan untuk memblokir situs-situs porno di Internet, ia berkata : “Kebebasan mencari informasi (di Internet) itu dibatasi oleh kebebasan yang lain, yaitu kebebasan untuk melindungi bangsa ini,” tegasnya.

Ketika heboh film Fitna buatan Geerts Wilders mencuat, Mei 2008, Menkominfo memutuskan Indonesia untuk memblok situs berbagi video, YouTube. Soundbite dia, intinya, bahwa adanya kebebasan berekspresi juga membuka kebebasan orang lain untuk menutup (memblok) produk kebebasan berekspresi itu.

Hukum pasal karet. Benang merah dari pernyataan Menkominfo kita tahun lalu itu sampai kasus Prita Mulyasari sekarang ini, masalah ini akan TETAP menjadi masalah besar kita di masa yang akan datang.

Terutama terkait dengan aspirasi kita sebagai pendukung kebebasan sipil (civil liberties) versus undang-undang yang draconian, yaitu UU ITE 2008 yang oleh “gagahput3ra” (komentar #26 di artikel Omni Pecas Ndahe) dikomentari dengan pernyataan : “Capek ngebahasnya, dari awal UU ITE penuh pasal karet….:( “

Terkait dengan gerakan kebebasan sipil, menarik juga ide dari “hendry” (komentar #50) yang menanyakan ada tidaknya organisasi semacam EFF, kalau tak salah kepanjangannya Electronics Frontier Foundation di AS, untuk “bantu penduduk yang berdomisili di Indonesia.”

Kembali lagi, seperti diungkap “Pangeran Ahmad Nurdin” (komentar di artikel Demo Pecas nDahe), asal-muasal semua bencana itu adalah : “UU ITE-nya itu. Mbak Prita ini adalah salah satu korban yang terekpos dan mendapat sorotan simpati publik. UU ITE ini kan sudah lewat mekanisme perundang-undangan DPR, nah berarti semuanya dodol dan kita harus mengingatkan.”

Akhirnya, jangan lupa selalu akan sabda nDoro Kakung yang satu ini : “Kita harus bersatu melawan kesewenang-wenangan dan ketidakadilan semacam ini. Kita juga mesti semakin hati-hati. Musuh di luar sana semakin pintar. Kita juga harus semakin cerdik.”

Perjuangan Sarah. Himbauan agar kita untuk menjadi cerdik ini telah dinasehatkan pula oleh organisasi Wartawan Tanpa Tapal Batas. Ketika muncul blog di Wordpress, November 2008, yang berisi komik menghina Nabi Muhammad SAW, dan lagi-lagi Menkominfo kita sempat bicara “keras” untuk para blogger, nasehat dari Wartawan Tanpa Tapal Batas itu sempat muncul di kepala saya. Sekarang muncul lagi.

Apakah kita para blogger suatu saat, untuk menghindari bencana seperti yang dialami oleh Prita sekarang ini, harus berlaku seperti tokoh “Sarah” yang harus tampil di dunia maya secara anonim ? Kalau Anda ada waktu silakan klik : [ http://esaiei.blogspot.com/2008/11/bila-indonesia-tergigit-blogger-berbisa.html] untuk mengikuti kiprah “Sarah” dan membaca tip dan kiat-kiat berharga dari organisasi Wartawan Tanpa Tapal Batas itu.

Terakhir, terima kasih, Ibu Prita. Semangat dan gut Anda untuk mengeluarkan isi hati terkait ketidakadilan yang Anda rasakan, kini mampu menjadi inspirasi kita semua. Dahsyat. Dahsyat sekali. Benarlah kata begawan Internet dari majalah Wired, Kevin Kelly, bahwa “succes is nonlinear !”

Seperti pula di bagian halaman cause facebook di http://apps.facebook.com/causes/290597 yang digawangi oleh Ika (creator), Enda Nasution, Wenny Trisvianne, Agus Hamonangan, Mariana Amiruddin, bukankah di situ tertulis slogan inspiratif : Anyone can change the world ? Keberanian Ibu Prita ini mampu mengubah dunia kita, semoga, akan menjadi lebih baik nantinya.

Terima kasih untuk Lasma Siregar (Melbourne) yang pertama kali menularkan info kasus Ibu Prita kepada saya. Juga untuk Arista Budyono dari www.wonogiriku.wordpress.com di Jakarta yang terus membocori saya tentang info-info perjuangan dari blognya nDoro Kakung ini.

Terima kasih untuk Antyo Rentjoko, yang mungkin rada jengkel pada tanggal 4/6/2009 saya bombardir ide agar peristiwa besar ini bisa diabadikan dalam kaos sebagai memorabilia. Sampai ide ramai-ramai menghitamkan, black out, blog-blog kita di postingan tanggal saat Ibu Prita disidang, sebagai bentuk demo maya kita.

Warga bangsa penerbit. Tentu saja, terima kasih banyak untuk nDoro Kakung himself. Asupan info Anda yang membuat hari-hari terasa menggairahkan. Saya di kota kecil Wonogiri merasa berbahagia di tengah gelombang aksi demo maya yang menggairahkan ini, inspiratif ini, di antara Anda, baik pembaca dan penulis komentar di blog ini. Juga di media sosial lainnya yang diikat oleh satu inspirasi mulia yang sama.

Keikutsertaan secara sukarela yang dipandu oleh hati nurani itu benar-benar melambungkan saya ikut merasa menjadi warga yang disebut oleh John Blossom sebagai content nation, bangsa penerbit.

Topik aktual ini pernah saya tulis di Tabloid BOLA (13 Maret 2009) saat ulang tahun ke 25 tahun dan di blog suporter sepakbola http://suporter.blogspot.com, dengan judul : Media Sosial dan Masa Depan BOLA.

Content Nation itu punya slogan : the world is a nation of publishers. be a citizen.
Ibu Prita adalah salah satu warga terhormatnya.
Juga kita-kita semua !


[PS : (1) Para calon presiden kita kini juga menaruh perhatian pada kasus Ibu Prita. Tetapi mereka nampaknya super-gaptek semua. Belum lagi ada kubu yang menamai tim-tim pendukungnya dengan istilah-istilah atau kode era radio CB, beriklan tak mencantumkan URL situsnya (kali tak punya), dan mungkin tidak tergerak untuk mempelajari bagaimana kedahsyatan media sosial, termasuk blognya nDoro Kakung ini, beraksi.

Fakta menunjukkan, media sosial telah membuat kasus Ibu Prita menjadi a gigantic roar (istilah dari Luis Marinho Falcão) sehingga mereka ikut-ikutan bicara. Kenapa fenomena dahsyat ini tidak menjadi modus kampanye mereka ? Mungkin mereka justru ketakutan bahwa kita sebagai “content nation” akan menyalak balik terhadap mereka bila ada hal-hal yang tidak sesuai isi hati nurani. Begitukah ?

(2) Rerasan usil : jangan-jangan di luar sana, entah seseorang yang di tipi suka disebut sebagai pakar multimedia atau caleg dpr yang gagal, justru bercita-cita agar semakin banyak penulis keluhan di internet atau para blogger, yang bisa masuk penjara ? :-( ]

Salam saya dari Wonogiri !


Wonogiri, 5/6/2009

Wednesday, June 03, 2009

Prita Mulyasari, Awal Pembrangusan Kebebasan Berekspresi ?

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 73/Juni 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia


Photobucket


Wonogiri, 4/6/2009

ee

Friday, May 15, 2009

Kebebasan Berpendapat Di Lampu Merah !

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 72/Mei 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia




Membunuh satu kera. Sebuah lelucon berbau rasis antara orang Perancis versus orang Swiss. Si Perancis bertanya, “mengapa Orang Perancis selalu berusaha mengejar gengsi dan nama baik, sementara orang Swiss senantiasa mengejar uang ?” Merasa tersinggung dan direndahkan, si Swiss pun membalas. “Semua orang memang selalu mengejar apa saja yang tidak mereka miliki !”

Impas ? Semoga tendangan balik a la Swiss tadi membuat si Perancis menjadi lebih bijak. Nama baik memang aset yang berharga. Bagi individu mau pun lembaga. Di negara yang represif, sesuatu kritik kepada penguasa selalu mudah digelincirkan sebagai upaya pencemaran nama baik.

Padahal seperti ujar, Henry Wotton (1568–1639), penyair dan diplomat Inggris, critics are like brushers of noblemen's clothes. Kritik ibarat sikat untuk membersihkan pakaian sang bangsawan yang baik budinya.

Sebuah perusahaan pengembang di Jakarta, rupanya tidak memilih untuk bersikap sebagai orang mulia itu. Mereka justru telah memperkarakan kritik yang dilontarkan oleh konsumennya ke meja hijau. Upaya yang defensif, ibarat perilaku “membunuh seekor kera untuk menakut-nakuti ratusan kera yang lainnya.”

Di bawah ini saya sajikan dua berita dan satu surat pembaca yang terkait dengan kasus tersebut.

Pengirim Surat Pembaca Harus Berhati-hati
KOMPAS - Jumat, 8 Mei 2009 | 04:14 WIB

Jakarta, Kompas - Masyarakat yang menyampaikan keluhan melalui rubrik ”surat pembaca” di media massa kini harus lebih berhati-hati. Pasalnya, pengirim surat pembaca dapat dikenai hukuman pidana karena mencemarkan nama baik.

Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang diketuai Haryanto menjatuhkan hukuman enam bulan penjara dengan masa percobaan satu tahun terhadap Fifi Tanang, ketua perhimpunan penghuni Apartemen Mangga Dua Court, Jakarta. Fifitidak ditahan, selama pada masa percobaan itu tidak melakukan perbuatan pidana serupa.

Vonis itu dibacakan dalam sidang pada Kamis (7/5). Jaksa penuntut umum perkara adalah Mana Sihombing dan D Diana. Fifi yang didampingi pengacaranya, Rizal Farid, langsung menyatakan banding. ”Saya banding karena fakta hukumnya tidak benar. Ini rekayasa besar,” kata Fifi.

Majelis hakim menilai Fifi telah mencemarkan nama baik PT Duta Pertiwi selaku pengembang Apartemen Mangga Dua Court. Pencemaran nama baik itu dilakukan melalui keluhannya yang dimuat pada harian Investor Daily edisi 2 dan 3 Desember 2006. Perbuatan Fifi terbukti melanggar Pasal 311 Ayat (1) Kitab Undang-undang Hukum Pidana.

Rizal Farid, pengacara Fifi Tanang, menuturkan, kliennya selaku ketua perhimpunan penghuni Apartemen Mangga Dua Court memang mengirimkan surat ke The Jakarta Post untuk dimuat pada rubrik surat pembaca. Surat tersebut tidak pernah dimuat.

Namun, pada 2 dan 3 Desember 2006 surat itu justru muncul di Investor Daily, dengan pengirim Fifi Tanang. Padahal, Fifi tidak pernah mengirim surat ke harian tersebut. (IDR)


[Sumber : http://cetak.kompas.com/ read/xml/2009/05/08/04142187/pengirim. surat.pembaca.harus.berhati- hati ].


Penulis Surat Pembaca Dihukum Enam Bulan Penjara
TEMPO Interaktif, Kamis, 07 Mei 2009 | 19:57 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menghukum Fifi Tanang, penulis surat pembaca, enam bulan penjara dengan masa percobaan selama satu tahun. Majelis menganggap Fifi terbukti mencemarkan nama baik PT Duta Pertiwi dalam surat pembaca di harian Investor Daily tertanggal 2-3 Desember 2006.

“Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana pencemaran nama baik,” kata ketua majelis hakim, Haryanto, saat membacakan putusan di persidangan, Kamis (7/5).

Lantaran menjalani masa percobaan, kata Haryanto, Fifi Tanang tak perlu menjalani penahanan. Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa yang menuntut Fifi hukuman satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun

Putusan ini dianggap janggal oleh penasihat hukum Fifi, Rizal Farid. Sebab, kata Rizal, kliennya merasa tak pernah mengirim surat pembaca ke Investor Daily.

Kliennya, kata Rizal, hanya mengirim surat pembaca ke harian Warta Kota tertanggal 4 November 2006 dengan judul ‘Hati-hati Terhadap Modus Operandi Penipuan PT Duta Pertiwi Tbk’.

Dalam persidangan, kata Rizal, saksi dari Investor Daily mengaku meperoleh tulisan tersebut dari internet. “Artinya, surat tersebut tidak sah karena tidak disertai bukti identitas penulisnya,” kata Rizal.

Kasus itu bermula dari sengketa antara PT Duta Pertiwi dan sejumlah pedagang pemilik kios di ITC Mangga Dua pada September 2006. Sejumlah pedagang merasa dirugikan lantaran, saat membeli kios dari Duta Pertiwi pada 1994, mereka mengira bakal memperoleh sertifikat hak guna bangunan (HGB) murni. Ternyata belakangan mereka menerima sertifikat HGB di atas hak pengelolaan lahan.

ANTON SEPTIAN


Komentar Anda (1) :
Empati untuk ibu fifi tanang dan kawan-kawan

Salam epsito ergo sum, saya menulis surat pembaca karena saya ada.

Sebagai penulis surat pembaca, pendiri komunitas penulis surat pembaca Epistoholik Indonesia (episto.blogspot.com), saya sangat prihatin atas musibah yang menimpa Ibu Fifi, Pak Kho, dan kawan-kawan.

Hukum memang mahal untuk orang kecil. Semoga Ibu Fifi dan Pak Kho dkk, dikuatkan imannya. Perusahaan itu nampak menang di depan meja hijau, tetapi sebenarnya nama baiknya telah tererosi.

Salam episto ergo sum.
-- Bambang haryanto, Wonogiri, 13/05/2009 10:25:

[Sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/layanan_publik/2009/05/07/brk,20090507-175090,id.html].


Saran untuk Penulis Surat Pembaca

Pengalaman saya dalam menulis surat pembaca sudah membawa dampak yang luar biasa untuk diri saya, karena saya telah digugat dan dipidanakan oleh pelaku usaha dengan gugatan atau dakwaan penghinaan (pencemaran nama baik) dan saya sudah dihukum untuk membayar Rp 1 miliar tunai, serta proses pidana saya sedang berlangsung saat ini di Jakarta Timur dengan ketua pengadilan sebagai ketua majelis hakim.

Argumentasi di depan sidang pengadilan ataupun di depan penyidik tidak berguna, karena yang saya lawan adalah konglomerat nomor tiga terkaya di Indonesia menurut majalah Forbes. Sebab, di depan sidang, majelis hakim tidak mempertimbangkan sama sekali bukti dokumen dan bukti keterangan saksi serta ahli yang saya hadirkan di persidangan waktu saya digugat. Begitu juga di kepolisian, pihak penyidik tidak mau melihat bukti dokumen, apalagi bukti saksi.

Kalau boleh saya menyarankan kepada para calon penulis surat pembaca, hendaknya pada waktu menulis surat pembaca berupa keluhan atas produk/layanan jasa dari pelaku usaha, gunakan kata-kata yang tidak berkonotasi negatif, dan hindari rangkaian kalimat yang berarti menuduh pelaku usaha berbuat sesuatu.

Sebab, jika penulis menemui pelaku usaha yang baik, tidak akan ada masalah. Tapi jika penulis menemui pelaku usaha yang memang sejak awal berniat curang, pasti pelaku usaha ini akan mempertahankan diri seolah-olah memang pelaku usaha ini jujur. Akibatnya, penulis ini bisa digugat dan dilaporkan dengan pasal penghinaan (pencemaran nama baik) oleh pelaku usaha yang curang ini.

Hindari penggunaan kata "ditipu", "tertipu", "menipu", "bohong", "berbohong", "dibohongi", "mencuri", "dicuri", dan sebagainya, karena kata-kata ini bisa membawa akibat penulis dipidanakan dan digugat. Pelaku usaha yang memang berniat berbuat curang akan menyatakan belum ada putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap yang menyatakan pelaku usaha ini menipu, berbohong, ataupun mencuri, jadi tidak bolehlah penulis menghujat dengan menuduh bahwa pelaku usaha ini menipu, berbohong, ataupun mencuri. Jika penulis tetap ingin menggunakan kata-kata ini, tambahkanlah kata "diduga" di depan kata-kata di atas. Jadi susunan katanya menjadi "diduga menipu", "diduga berbohong", ataupun "diduga mencuri".

Penggunaan kata "diduga" ini pun belum 100 persen menjamin keamanan penulis. Sebab, kalau saya tidak salah ingat, ada putusan perkara antara majalah Tempo dan Asian Agri di Pengadilan Jakarta Pusat, di mana majalah Tempo dihukum bersalah karena pemberitaannya yang menggunakan kata "diduga" ini dianggap telah menuduh oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Mohon kepada para redaktur, jika memang sekiranya redaktur menganggap tulisan surat pembaca bisa membawa akibat yang tidak baik bagi penulis, tolong nama dan alamat penulis hanya disimpan di redaksi, walaupun penulis surat pembaca tidak meminta nama dan alamatnya disembunyikan, karena bukti dan saksi sekuat apa pun tidak akan berguna jika penegak hukumnya sudah terkontaminasi oleh pelaku usaha yang tidak baik ini.

Terima kasih.


Khoe Seng Seng
ITC Mangga Dua, Jakarta

[Sumber : http://www.lkm-mediawatch.org/mediawatch/index.php?option=com_content&view=article&id=235:saran-untuk-penulis-surat-pembaca&catid=39:suara&Itemid=67 dari : http://www.korantempo.com/ korantempo/koran/ 2008/12/04/ Opini/krn.20081204. 149992.id. html].


Wonogiri, 16/5/2009

Friday, April 17, 2009

Facebook : Meraba Teman Dalam Kegelapan

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 71/April 2009
Email : humor liner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Anjing Obama. The Beatles punya “With a Little Help From My Friends.” Dionne Warwick menyenandungkan suara indahnya, “In good times and bad times / I'll be on your side forever more /That's what friends are for.”

Sementara James Taylor yang lagu-lagunya dominan berwarna kelabu, putus asa dan kesepian, mengandalkan persahabatan para teman agar mampu bangkit dari keterpurukan : “Winter, spring, summer, or fall /all you've got to do is call/and I'll be there, yeah yeah yeah/you've got a friend.

Semua lagu-lagu menawan itu bicara mengenai makna teman. Manusia sebagai makhluk sosial butuh teman. Dan konon, teman manusia yang paling setia, paling jujur, karena dirinya tidak memandang harta, status atau kecantikan, kualitas semacam itu hanya terdapat pada sosok seekor anjing.

Bicara tentang anjing, Anda kenal Bo ? Itulah anjing air Portugis yang baru-baru saja ini dimiliki keluarga orang nomor satu di AS, Barack Obama. Memiliki anjing memang menjadi salah satu janji kampanyenya, untuk putrinya Sasha dan Malia. Ketika dijamu komedian Jay Leno (19/3/2009), Obama mengatakan : ”Listen, this is Washington, that was a campaign promise… I think I'm going to have a lot of fun with it. You know, they say if you want a friend in Washington, get a dog.”

Lelucon cerdas, Mr. Obama. Langsung saja si Bo itu menjadi bulan-bulanan komedian negeri Paman Sam yang lidahnya tajam-tajam. Inilah cuap-cuap Jay Leno : “Benar-benar hal ini menjadi tradisi keluarga presiden kita. Semua mereka memiliki anjing keluarga. Keluarga Obama punya anjing yang diberi nama Bo. Keluarga Bush memiliki Barney. Keluarga Clinton juga memiliki, tentu saja, namanya Bill.”

"Bo hadir tepat waktu, sebab anak-anak Obama, Sasha dan Malia merasa kecapekan melempar-lemparkan cakram frisbee kearah Joe Biden,” celetuk komedian Jimmy Fallon.

Bayangkan bila lelucon semacam di atas diluncurkan di Indonesia.Pasti Jay Leno dan Jimmy Falon terancam masuk penjara. Dengan tuduhan melakukan pencemaran nama baik. Moga Anda masih ingat, majalah Tempo memperoleh gugatan serupa dari seorang menteri yang mungkin menggemari dan mempercayai cerita film The Omen. Ia menggugat Tempo karena foto dirinya di sampul majalah yang berupa mosaik angka-angka itu mengandung angka “666.” Dalam film The Omen angka itu diartikan sebagai simbol setan. Di Solo, angka itu sebagai merek teh !

Cerita anjing juga bisa terkait dengan koran. Apalagi anjing sering disuruh tuannya untuk mengambilkan koran di pagi hari. Dalam konteks ini, Bo bakal mengalami kesulitan. Pasalnya, kalau Anda wartawan Indonesia, silakan dulu melongoki situs Newspaper Death Watch : Chronicling the Decline of Newspapers and the Rebirth of Journalism.

Anda akan menemui daftar koran-koran di AS yang baru-baru saja ini berhenti terbit. Rocky Mountain News, Baltimore Examiner, Kentucky Post, Cincinnati Post, King County Journal, Union City Register-Tribune, Halifax Daily News, Albuquerque Tribune, South Idaho Press, San Juan Star dan masih banyak lagi yang berganti terbit sebagai edisi online semata..

Anjing Bo dan bertumbangannya koran-koran itu juga menjadi bahan lelucon. Kembali Jay Leno ngocol : “Hal paling sulit (bagi Obama) saat ini adalah bagaimana melatih anjing tersebut agar tiap pagi mampu membawakan koran untuknya ketika Bo kesulitan menemukan penerbit koran yang masih operasional.”


Kuatnya hubungan terlemah. Sudahlah. Mari lupakan koran-koran itu. Lupakan juga si Bo. Kembali kita mengobrolkan masalah utama kita : teman. Semoga Anda masih ingat (kalau Anda membaca di My Notes dalam Facebook saya), dalam postingan yang lalu, berjudul “Facebook, Putri Solo dan Malcolm Gladwell,” saya sempat menceritakan adanya teman, friend, dan juga acquaintance, kenalan, dalam lingkaran pertemanan dalam akun Facebook kita. Mana dari keduanya yang lebih mampu memberi manfaat bagi kehidupan sosial kita ?

Mungkin secara naluriah kita akan segera menyebutkan teman. Tetapi jangan remehkan kenalan. Malcolm Gladwell dalam The Tipping Point : How Little Things Can Make a Big Difference (2000), memajang cerita yang menarik tentang kenalan. Ia mengutip hasil kajian sosiolog Mark Gravonetter (1974) yang menyimpulkan bahwa, “orang tidak mendapatkan pekerjaan melalui teman. Mereka mendapatkan pekerjaan melalui kenalan.”

Mengapa begitu ? Gravonetter berpendapat bahwa ketika seseorang perlu mencari tahu tentang pekerjaan baru, atau dalam hal ini juga informasi atau gagasan-gagasan baru, koneksi lemah selalu lebih penting daripada koneksi kuat. Kenalan lebih unggul dibanding teman.

Bagaimana pun juga, teman-teman kita, koneksi kuat kita itu, adalah orang-orang yang sedunia dengan kita. Mereka mungkin sepekerjaan dengan kita, tinggal dekat kita, pergi ke tempat ibadah yang sama, belajar di sekolah yang sama, atau bergabung dengan kelompok pesta yang sama. Maka berapa banyak pengetahuan mereka yang belum kita ketahui ?

Sebaliknya, seorang kenalan, sesuai definisinya berada di dunia yang sangat berbeda dari dunia kita. Mereka mungkin sekali tahu lebih banyak tentang sesuatu yang belum kita ketahui. Para kenalan itu lebih berpeluang memiliki “suara-suara baru” yang kita perlukan. Hal serupa juga berlaku bagi perusahaan.

Gary Hamel dalam artikelnya di majalah Fortune, “Reinvent Your Company : 10 Rules for Making Billion-Dollars Business Ideas Bubble Up from Below” (12/6/2000), dalam hukum nomor ke-4 ia menandaskan pentingnya perusahaan membuka lebar-lebar telinganya guna mendengarkan suara-suara baru itu. Anda harus mencamkan, betapa ide-ide bisnis baru itu bernilai milyaran dollar dan suara-suara baru tersebut utamanya berasal dari anak-anak muda. Tepatnya, mereka yang memiliki perspektif anak muda.

Kemudian, menurut Hamel, juga suara-suara yang diunduh dari tepian peta geografis perusahaan. Kapasitas untuk hadirnya inovasi radikal meningkat sejalan dengan semakin jauhnya suara-suara baru itu dari kantor pusat perusahaan. Orang-orang dari pinggiran itu (dalam The Power of the Marginal, Paul Graham menyebut pelopor Apple Computers, yaitu Steve Jobs dan Steve Wozniak, juga sebagai kaum pinggiran) umumnya memiliki sumber daya terbatas, sehingga mereka dipaksa untuk bertindak kreatif.

Saya punya sedikit cerita pribadi. Gara-gara menulis surat pembaca, saya pernah diundang oleh pimpinan puncak kelompok media di Jawa Tengah. Ia mengeluh, ide dari anak buahnya untuk pengembangan masa depan medianya hanya normatif-normatif saja. Ia menginginkan ide dari luar kotak. Setelah menderetkan hasil kajian dari Nielsen mengenai makin merosotnya koran bagi pembaca muda, naiknya pamor Internet dan juga televisi, ia meminta pendapat saya.

Dengan membawa contoh koran The London Lite dan The London Paper (“makasih Niz, untuk oleh-olehmu ini”), saya mengusulkan agar perusahaannya menerbitkan koran secara gratisan seperti kedua koran negerinya Pangeran Charles itu. Well, sebelum berkicau mengenai segi-segi positif ikhtiar ini, rupanya diskusi harus diakhiri. Suara “the power of the marginal” dari Wonogiri sudah harus dihentikan di sini.

Kedahsyatan dari paradoks semacam ini, yaitu potensi dibalik kenalan dan suara-suara dari pinggiran dalam memacu inovasi baru, membuat Gravonetter melontarkan sebuah ungkapan yang menurut Malcolm Gladwell disebutnya bagus sekali : kekuatan di balik koneksi lemah, strength of weak ties. Pendek kata, ujarnya, kenalan, hubungan terlemah itu, justru sebagai sumber kekuatan sosial, sehingga makin banyak kenalan kita, makin besar kekuatan atau kekuasaan kita.


Teman dalam kegelapan. Kenalan ternyata sangat-sangat penting. Selamat untuk Anda yang memiliki banyak kenalan di Facebook Anda. Tetapi ngomong-ngomong, seberapa dekat Anda telah merasa mengenal kenalan-kenalan itu sampai saat ini ? Seberapa intensif dan maksimal diri Anda dalam memelihara per-kenalan-an ini ?

Jangan-jangan Anda bahkan tidak pernah melihat-lihat data profil mereka. Anda pun barangkali sudah merasa cukup hanya mengenal nama mereka, yang satu atau dua kali menulis komentar di wall Anda, dan sesudahnya Anda tidak merasa perlu mengenal lebih dekat mereka lagi ? Jangan-jangan, angka puluhan, ratusan dan bahkan ribuan nama yang terjalin dalam lingkaran pertemanan Facebook Anda itu bukan sebagai sesuatu yang penting dan punya arti untuk digali. Semua itu hanya statistik dan bukan mewakili sosok-sosok pribadi yang unik.

Saya belum pernah membaca cerita tentang hal ini di Facebook.

Mungkin karena saya masih sebagai warga baru. Saya baru bergabung dalam Facebook sejak 19 Juli 2008. Jadi mungkin terlalu dini dan terlalu ambisius bila saya mengharapkan pendapatnya Mark Gravonetter dan Gary Hamel di atas, dalam upaya menukarkan, menyemaikan dan atau memperoleh gagasan-gagasan baru, akan segera menjadi kenyataan dalam hidup saya.

Dalam beberapa obrolan, sesuatu yang bagi saya serius, ternyata ketika selesai digurat di dinding Facebook hanya bernasib seperti kapur barus. Wanginya cepat menguap habis tergerus angin lalu. Kata-kata mudah segera tidak memiliki makna.

Baiklah. Mungkin dalam menjalin pertemanan yang lebih serasi dan khas dalam konstelasi Facebook saat ini saya sebaiknya justru harus mengikuti ujaran esais dan novelis kelahiran Skotlandia, Norman Douglas (1868–1952). Saya memaknainya sebagai situasi pertemanan dalam kegelapan. Ia berkata :

To find a friend one must close one eye.
To keep him—two.


Wonogiri, 16-17/4/2009

Monday, March 30, 2009

Caleg Narsistik, Untouchable dan Surat Pembaca

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 70/Maret 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia


Caleg-Caleg Kita Yang Narsistik. “Pemasaran diri sendiri,” kata ahli pemasaran Al Ries dan Jack Trout dalam bukunya Horse Sense : The Key to Success Is Finding a Horse to Ride (1991), “merupakan aktivitas pemasaran yang terpenting sekaligus yang paling sulit.”

Ketika melakukan perjalanan darat Wonogiri-Tasikmalaya pulang-pergi (17-18/1/2009), sambil mengamati dan memotret beragam papan peraga kampanye para calon legislatif kita, kiranya pendapat Ries dan Trout itu benar adanya.

Katakanlah, bisa saya simpulkan, bahwa sebagian besar para caleg itu tidak memahami strategi komunikasi pemasaran. Sehingga yang menonjol adalah sikap narsis, nafsu pemujaan terhadap diri mereka sendiri dan partai mereka. Yang mereka tonjolkan adalah nama partai, nomor partai, daerah pemilihan, nomor urut dirinya, foto, lalu janji-janji dan slogan kampanye mereka.

Tak ada data nomor telepon/HP atau email yang bisa mengundang konstituen untuk berinetraksi. Pesan-pesan mereka justru kebanyakan tidak berorientasi kepada sudut pandang sasaran kampanye mereka, yaitu para konstituen. Konstituen hanya diminta maklum akan janji-janji atau mantra-mantra “jual kecap” mereka. Pendekatan tersebut berakibat fatal.

Dalam dunia komunikasi dikenal rumus WIIFM (What’s In It For Me). Sekadar contoh, etika menerima surat, sebelum membuka amplop, di benak Anda secara naluriah segera muncul pertanyaan WIIFM itu : adakah isi surat ini yang penting dan bermanfaat bagiku ?

Isi surat yang tidak memenuhi harapan itu, tentu saja mengecewakan penerimanya. Rumus ini berlaku universal. Kesimpulan saya : dalam berkomunikasi saja para caleg itu nampak kemaruk mementingkan diri mereka sendiri, apalagi bila kelak telah terpilih ? (Surat pembaca ini telah dimuat di Kompas Jawa Tengah, Sabtu, 24 Januari 2009, dengan memperoleh penyuntingan).


Obama vs Caleg-Caleg Kita. Sukses Obama menjadi presiden Amerika Serikat ke-44 ditunjang pemanfaatan sarana teknologi komunikasi dan informasi (TKI) yang cerdas dalam kampanyenya. Intinya, sarana TKI itu digunakan untuk mendengar, menyerap aspirasi konstituen, dan lalu mensosialisasikannya sebagai isu bersama. Meminjam kata-kata Bung Karno, Obama sukses sebagai penyambung lidah rakyat.

Bagaimana wajah kampanye para caleg kita ? Mereka sangat elitis, egois, untouchable dan tidak merakyat, karena tidak mau membuka dialog dengan konstituennya. Simak saja peraga kampanye mereka, isinya lebih banyak mementingkan diri mereka sendiri. Memuji-muji diri sendiri.

Dalam sarana itu tidak terpajang data alamat, situs web/blog, email, telepon/HP (apalagi yang bebas pulsa) sebagai gestur kesediaan mereka membuka akses guna bersosialisasi dan berinteraksi dengan rakyat banyak yang mereka wakili. Pemilih kini benar-benar ibarat dipaksa untuk memilih kucing dalam karung ! (Dimuat di Kompas Jawa Tengah, Selasa, 3 Februari 2009, dengan memperoleh penyuntingan).


Mendadak Sok Selebritis. Selebritis menjadi makhluk istimewa karena dirinya memberikan sesuatu kepada masyarakat. Utamanya bakat artistik yang mereka geluti dan perjuangkan dalam waktu yang tidak sedikit. Mereka jadi terkenal. Masyarakat luas mudah mengenal mereka, dengan sukarela menjadi fans, pengagum, dan bahkan menghidupinya dengan membeli produk-produk artistik kreasi mereka.

Keistimewaan kaum selebritis itu kini ingin dinikmati para caleg kita. Tetapi dengan jalan pintas. Mereka yang selama ini bukan siapa-siapa, satu kecamatan pun tidak dikenal meluas, mendadak jadi sok selebritis. Lalu meminta dukungan, yang mementingkan dirinya sendiri, hanya dengan memajang papan peraga kampanye di jalan-jalan.

Rata-rata dengan olah grafika yang kacau-balau dan teks-teks yang hambar, datar, tidak menggugah. Tidak komunikatif. Tanggal 9 April 2009 akan menjadi saksi bahwa usaha jalan pintas itu hanya akan sia-sia belaka ! (Dimuat di Kompas Jawa Tengah, Sabtu, 14 Februari 2009, dengan memperoleh penyuntingan).


Caleg Kita dan Melek Media. Pamer tampang dan pamer gelar akademis. Itulah yang mencolok dan mudah ditemui dalam papan peraga kampanye caleg-caleg kita. Ditambah slogan atau janji yang normatif, membuat konstituen kekurangan informasi mengenai visi-misi dan utamanya tentang kualitas intelektual caleg bersangkutan.

Saya heran, mengapa mereka tidak memanfaatkan media massa ?

Kalau kantongnya tak mampu untuk pasang iklan, mengapa mereka tidak menulis artikel atau surat pembaca ? Atau membuat blog. Dengan menulis mereka mengasah ketajaman berpikir atau pengamatannya terhadap masalah yang dihadapi para konstituen, terbuka untuk berdiskusi dan kemudian memberikan solusi.

Inilah saatnya mereka berdiri disamping rakyat dan berbicara memakai kacamata rakyat, sebuah sikap yang harus terus mereka pertahankan bila terpilih kelak sebagai wakil rakyat.

Bukti tertulis dan dibaca banyak orang itu juga bermanfaat untuk menagih janji para wakil rakyat yang ingkar janji ! (Dimuat di Kompas Jawa Tengah, Sabtu, 14 Februari 2009, dengan memperoleh penyuntingan).


Partai cerai berai. Partai politik memasuki Pileg 2009 dengan situasi cerai-berai. Keputusan Mahkamah Konstitusi tentang pemenang pileg bagi mereka yang memperoleh suara terbanyak, memang memberi kedaulatan yang lebih dominan kepada konstituen. Tetapi hal itu merupakan kartu mati bagi partai dan birokrat partai. Karena internal partai kemudian menjadi tidak solid, ketika mau tak mau antarkader mereka dipaksa untuk saling bersaing satu sama lain.

Kondisi ini melemahkan partai. Para kader/caleg terkondisikan sulit bekerjasama guna membesarkan lebih dahulu kue partainya, yaitu porsi konstituen yang dapat diraih partai mereka. Sebaliknya, para caleg itu kini sibuk saling sikut antarteman guna memburu porsi kue pribadi masing-masing untuk bisa terpilih.

Dengan menyimaki strategi dan teknik para caleg dalam menjual diri, yang sebagian besar nampak amatiran dan merupakan wajah-wajah baru yang tidak dikenal, dapat diduga betapa tidak efektifnya mereka kelak dalam menjaring suara. Selamat datang era tokoh, selamat memilih dalam kegelapan, karena para tokoh dalam Pileg 2009 ini rata-rata rakyat memang tidak mengenal akrab diri-diri mereka. (Dimuat di Kompas Jawa Tengah, Selasa, 17 Februari 2009, dengan memperoleh penyuntingan).


Balada bangsa pelupa. Orang bermain dengan cara berbeda jika skor yang mereka capai dicatat. Itulah ajaran Stephen R. Covey dalam bukunya The 8 Habit (2005). Dengan ilustrasi dalam olah raga jalanan, apa saja, ia menyatakan bahwa ketika skor pertandingan tidak dicatat akan mendorong para peserta main secara seenaknya.

Hukum serupa harus juga diterapkan dalam kehidupan berpolitik kita. Setiap warga negara harus memliki catatan mengenai rekam jejak tokoh atau partai politik tertentu. Termasuk juga ketika memasuki masa kampanye seperti saat ini.

Apalagi pada saat-saat kritis itu, dalam masa pergantian kepemimpinan melalui pemilihan umum, catatan papan skor yang kita buat dapat menjadi pedoman untuk melakukan pilihan. Jangan terbuai oleh isi iklan. Atau strategi pencitraan.

Papan skor juga memperkecil peluang rakyat untuk mudah melupakan masa lalu. Ingat kata pepatah, betapa ingatan bangsa yang buruk merupakan makanan empuk bagi para politisi busuk. Maukah kita ? (Dikirimkan ke Kompas Jawa Tengah, 16 Februari 2009. Tidak dimuat).

Vandalisme Partai Politik. Suhu kampanye Pileg 2009 mulai menghangat. Memang belum terasa bagi konstituen, tetapi baru merambati partai-partai politik peserta. Bahkan dapat diduga, justru terjadi antarcaleg di bawah payung partai yang sama. Di Wonogiri, hal itu ditunjukkan dengan semakin maraknya ulah pengrusakan atribut-atribut kampanye yang terpajang di jalanan.

Siapa pun pelakunya, tindak vandalisme itu merupakan kampanye yang nyata dan sekaligus sangat buruk bagi citra semua partai politik. Citra yang belum berubah bahwa politik itu kotor dan menghalalkan segala cara guna meraih kekuasaan jelas dipertegas dengan pesan konkrit di sebalik aksi-aksi vandalisme itu.

Mereka penganut sikap mental kelangkaan, scarcity mentality, di mana fihak/partai lain merupakan pesaing yang harus dihancurkan. Seharusnya mereka bersikap mental berkelimpahan, abundance mentality, dimana fihak lain merupakan mitra untuk saling memajukan, termasuk memacu modus yang lebih kreatif dan lebih komunikatif dalam menyapa hati rakyat secara mulia dan elegan.

Itulah catatan sisi hitam dari pesta demokrasi kita saat ini. Jadi jangan salahkan rakyat, yang sedang terpuruk dewasa ini, bila mereka muak atau alergi untuk terjerembab dalam pusaran tindak persaingan politik yang tidak beradab itu.

Apalagi rakyat semakin sadar bila mereka terancam hanya diperalat sebagai sarana pencapaian ambisi individu atau partai yang semata jualan busa-busa janji dan impian yang sulit ditagih terkait kesejahteraan mereka di masa depan. (Dimuat di Kompas Jawa Tengah, Kamis, 19 Februari 2009, dengan memperoleh penyuntingan).


Caleg Tidak Mendengar. Hai rakyat, dengarkanlah dan ikuti kata-kataku. Percayai janji-janjiku, dan pilihlah aku. Begitulah inti pesan dari berderet papan peraga kampanye para caleg yang bertebaran di jalanan. Mereka seolah berada di atas, mengira rakyat itu bodoh dan mudah mengikuti apa saja kata mereka.

Persepsi itu salah besar. Mereka harusnya mau belajar dari ujaran Rebbeca MacKinnon, seorang blogger dan peneliti di Universitas Harvard yang mantan wartawan CNN di Beijing dan Tokyo.

Ia bilang, seseorang lebih mampu menyerap dan mengelaborasi kembali informasi secara lebih mendalam bila yang bersangkutan dilibatkan dalam diskusi mengenai materi tersebut. Bahkan mereka memiliki pemahaman lebih mendalam lagi bila dirinya mampu menuliskan opini tentang hal bersangkutan di ruangan publik.

Untuk mensosialisasikan pemilu dan individu caleg bersangkutan, kalau saja saya seorang birokrat KPU/KPUD atau caleg dan birokrat partai, akan saya ajari rakyat untuk menulis di beragam media. Baik artikel atau surat-surat pembaca di media massa, atau pun di blog-blog di Internet. Termasuk membebaskan mereka untuk menuliskan kritik untuk para caleg bersangkutan.

Dengan demikian maka papan peraga kampanye di jalanan itu bukan sebagai media indoktrinasi, searah, yang membodohi rakyat. Tetapi lebih merupakan undangan awal bahwa caleg bersangkutan bersedia membuka telinga untuk mendengar aspirasi rakyat. (Dimuat di Kompas Jawa Tengah, Jumat, 20 Maret 2009).


Caleg Yang Tidak Mendidik. Papan nama itu berisi tempelan beragam informasi. Dari lowongan pekerjaan, pelatihan blog, promosi real estat, kursus, seminar, sampai arisan sepeda motor. Tertempel di sebuah kios fotokopi di Wonogiri, yang semakin hari kapling halamannya semakin bertambah dengan info-info yang makin beragam pula. User generated content (UGC), demikian istilah dari dunia Internet untuk fenomena papan nama tersebut.

Para caleg Wonogiri seyogyanya memperkaya kampanyenya dengan cara UGC ini. Di kantor partai atau rumahnya, mereka dapat mendirikan papan informasi untuk masyarakat setempat. Diri mereka tampil sebagai hub, pusat persilangan informasi yang bersifat lokal, yang tentu saja relevan dengan kebutuhan konstituennya.

Prakarsa yang mendidik dan memberi manfaat ini jelas merupakan kampanye yang memiliki keunggulan tersendiri ! (Dimuat di Kompas Jawa Tengah, Rabu, 25 Februari 2009, dengan memperoleh penyuntingan).


Caleg dan Gangguan Jiwa. Caleg-caleg yang gagal terancam didera gangguan kejiwaan. Itulah topik yang marak akhir-akhir ini. Radio BBC ketika mewawancarai pimpinan rumah sakit jiwa di Solo, memperoleh penjelasan menarik.

Kursi legislatif yang ada di DPRD Solo hanya 40-an, tetapi diperebutkan oleh ratusan kontestan. Peluangnya, 1 kursi diperebutkan 10 kontestan. Jauh lebih banyak yang akan gagal, sehingga rumah sakit jiwa bersangkutan mulai kini mempersiapkan layanannya.

Angka itu sebenarnya lebih rendah bila dibandingkan dengan rasio antara lowongan pekerjaan dan pelamar pekerjaan yang aktual di negeri kita saat ini. Tetapi yang membedakan, para caleg memiliki mindset yang berbeda dibandingkan para pencari kerja.

Simak saja papan peraga kampanye mereka, hampir semua pesannya semata berorientasi dan mementingkan diri mereka sendiri. Untuk itu, bahkan mereka berani menghabiskan dana pribadi untuk meraih kursi. Jadi bisa kita bayangkan bila ambisi besar mereka itu nantinya terbentur dalam kegagalan. (Dimuat di Kompas Jawa Tengah, Selasa, 31 Maret 2009).


Politikus Instan dan Media. Siapa menanam, mengetam. Di masa mudanya Barack Obama bertahun-tahun mengabdi sebagai relawan. Bergaul dengan banyak kalangan bawah, bahkan yang tersingkirkan. Ia banyak menyerap, mendengar dan belajar. Popularitas dan keberhasilannya kini sebagai presiden AS bukan ia raih dengan cara-cara yang instan.

Kiat Obama itu semoga menjadi pelajaran bagi para caleg yang ingin bertarung di Pemilu 2014 mendatang. Mereka kini bisa belajar dari para caleg pemilu 2009 saat ini, yang nampak menonjol keinginannya untuk berhasil dengan cara-cara instan yang sebagian besar hanya akan menuai kegagalan.

Para caleg lima tahun mendatang itu harus berinvestasi mulai saat ini. Antara lain dengan menggalang hubungan yang luas, memupuk nama baik dan kepercayaan. Satu hal yang juga sangat penting, mereka harus mengasah keterampilan berkomunikasi yang memanfaatkan beragam media.

Karena di masa depan, untuk memenangkan kompetisi apa pun, setiap individu atau perusahaan harus dikelola sebagai perusahaan media ! (Dikirimkan ke Kompas Jawa Tengah, Jumat, 27 Maret 2009).


Wonogiri, 31/3/2009

ee