Friday, November 06, 2009

Facebook, Surat Keong dan Blunder Presiden SBY

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 87/November 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia


Déjà vu, 1998. “Untuk pribadi yang memiliki naluri luar biasa dalam mengeksploitasi kekurangan fihak lain, secara mengejutkan ternyata Suharto terbukti tidak mampu mencermati kekurangan yang terdapat dalam dirinya sendiri. Barangkali karena ia terpancang pada masa lalu.”

Itulah awal tulisan Tim Healy berjudul “Kings Don’t Fall Lightly” di majalah AsiaWeek, 5 Juni 1998. Majalah itu memuat laporan utamanya mengenai kejatuhan rezim Suharto ketika diterjang badai reformasi dan naiknya Habibie, yang digugat dalam sampulnya berbunyi : Presiden atau Pion ?

“Momen itu pasti mengejutkannya. Setelah kembali dari sebuah konferensi di Mesir dan mendapati Indonesia dicekam aksi kerusuhan, Suharto mencoba memulihkan kembali kekuasaannya. Tetapi segera saja ia mendapati dirinya dalam posisi yang aneh : dirinya hanyalah sosok pion dalam permainan kekuasaan di antara fihak lainnya dibanding sebagai seorang ahli strategi,” lanjut Tim Healy.

Gambaran betapa seorang presiden dapat diibaratkan sebagai sosok “bebek lumpuh” di tahun 1998 itu sepertinya berulang kembali pada awal November 2009 ini. Kali ini menimpa Presiden SBY yang baru terpilih. Ketika menanggapi tindakan polisi yang menahan Wakil Ketua KPK (nonaktif) Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah, dalam jumpa pers Jumat malam (30/10/2009), nampak SBY seperti kehilangan kontak dengan realitas. Ia hadir seperti makhluk asing di tengah lautan nurani keadilan publik bangsa ini yang terkoyak.

Saat itu SBY secara normatif mengatakan bahwa penahanan kedua petinggi KPK itu merupakan hal yang biasa. Ada ratusan dan ribuah kejadian yang sama telah terjadi, begitu simpul SBY. Di bagian lain ia malah condong mengecam aksi penyadapan yang legal dilakukan oleh KPK sembari menguatirkan betapa aksi serupa akan dilakukan oleh orang-orang yang mampu membeli peralatan yang sama sehingga terjadi “lautan aksi penyadapan,” ujar SBY seperti dilanda paranoia.

Meledak di Dunia Maya. Pendekatan normatif model SBY itu, esok harinya, menuai badai. Kemarahan rakyat atas tindakan polisi yang dinilai sewenang-wenang dengan menahan Bibit dan Chandra tidak mampu ditentramkan dengan pernyataan presiden itu. Akhirnya kegusaran itu antara lain juga meledak beramuniskan media jaringan sosial Facebook di dunia maya.

Ujudnya berupa gerakan solidaritas, cause, perjuangan, untuk mendukung Bibit dan Chandra dalam memperoleh keadilan. Para facebookers ini mewakili sebagian suara rakyat. Siapa sesungguhnya di balik ”gerakan” ini? ”Saya rakyat biasa yang marah dengan kemungkaran di negeri ini,” kata Usman Yasin, yang membuat dan menjadi pengelola ”Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Rianto”.

Usman Yasin adalah dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jambi yang juga mahasiswa program doktor di Institut Pertanian Bogor. Kamis siang itu dia baru saja mengikuti ujian doktoral.

”Saya menyalakan televisi untuk melepas lelah setelah ujian. Namun, saya justru melihat berita Pak Bibit dan Chandra ditahan. Hati saya tak tahan lagi dengan ulah lembaga penegak hukum. Saya pikir mereka sewenang-wenang,” katanya.

Lalu, secara spontan, Usman Yasin pun membuat akun gerakan dukungan di jejaring sosial Facebook. ”Saya bukan anggota partai, juga bukan politisi. Saya juga tidak kenal dengan Pak Bibit dan Chandra, tetapi hati saya mengatakan mereka berani dan benar,” ujarnya lagi.

Tanggal (2/11/2009), sekitar jam 10-an, saya berbulat hati untuk ikut berbaris dalam akun cause, perjuangan, di situs jejaring sosial Facebook itu. Saya merasa punya makna sebagai warga negara ketika terjun di tengah gelegak gerakan moral di dunia maya tersebut. Saat itu saya menemukan logo parodi KPK (foto) karya sahabat seaspirasi di Facebook tersebut dan kini telah menghias kaos kebanggaan saya.

Sebelumnya, dalam menyikapi kemelut KPK vs Polri itu saya telah menulis di blog saya, The Funny Business, sebuah fake news a la Andy Borowitz. Saya ceritakan bahwa asal muasal ricuh itu dipicu oleh keberadaan telepon genggam cerdas baru Breakberry buatan Cayman Island. Anda dapat juga menyimak tulisan berjudul KPK, Polisi dan Goyang Buaya dalam blog yang sama.

Selebihnya, saya bangga bisa masuk dalam barisan cause di Facebook itu, walau mungkin saya berada pada nomor sekitar 321.380. Tak apa. Malamnya, sekitar jam 21-an, dukungan itu sudah mencapai angka 423 ribuan. Saat ini (7/11/2009, Jam 11.40) dukungan itu sudah mencapai angka :1.016.038. Rekor satu juta telah terpecahkan !

Blunder SBY Berlanjut. Angka itu bagi SBY dan para menterinya mungkin hanya dianggap hanya sebagai angka yang tak punya makna apa-apa. Setelah meraih kemenangan yang fenomenal dalam Pilpres 2009, setelah merasa mampu berbuat adil dalam membagi-bagi kue kekuasaan kepada partai koalisinya, ketika merasa oposisi mungkin ia nilai tak punya gigi, SBY seperti terbuai dalam menikmati zona nyaman dalam masa bulan madunya itu.

Tetapi ia lupa. Seperti kata Tjipta Lesmana sebagaimana dikutip BBC (31/10/2009) bahwa penahanan Bibit dan Chandra itu menyangkut the biggest human virtue, yaitu rasa keadilan, keadilan dan keadilan pada diri rakyat, membuat pendekatan normatif a la SBY, seperti dilakukan saat Suharto dilanda krisis, yaitu semata mengandalkan masa lalu itu tidak manjur lagi.

Walau sebenarnya masa lalu itu hanya beberapa bulan yang lewat, tetapi di mata rakyat langkah semacam itu akan dinilai sebagai suatu pencederaan. Sehingga dikuatirkan hanya mendorong dirinya menuju tepian jurang. Jurang krisis kepercayaan !

“Tidak ada satu pun kekuasaan yang mampu bertahan melawan gerakan dan suara masyarakat. Mereka akan terlindas,” tegas Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, setelah memperdengarkan rekaman hasil penyadapan KPK di lembaganya itu. SBY kini tinggal menyandarkan efektivitas pemerintahannya kepada hasil kerja Tim 8 di bawah pimpinan Adnan Buyung Nasution. Mereka merupakan bemper presiden kita.

Tetapi toh blunder SBY itu berlanjut. Untuk itu saya telah mengirimkan surat pembaca ke harian Suara Merdeka, 6 November 2009, sebagai berikut :

SBY, PO Box vs Facebook

Fisiknya lumpuh, tetapi isi surat pembacanya senantiasa jernih dan tajam. Mantan agen koran yang sudah berhaji itu bahkan ingin menyumbangkan gagasan tentang bagaimana republik ini dijalankan secara langsung ke SBY. Untuk itu ia juga ingin suratnya memperoleh balasan secara langsung pula dari presiden. Tetapi si penulis surat itu harus kecewa. Jawaban normatif yang ia terima berupa surat dari kantor kepresidenan, tidak membuatnya puas. Surat dari kantor presiden itu kemudian ia kembalikan, ia kirim balik ke Jakarta.

Penulis surat itu adalah Bapak H. Erlangga Chandra dari Banyudono, Boyolali. Keluh-kesah beliau itu disiarkan oleh jaringan Radio 68 H (6/11/2006) se-Indonesia. Nara sumber lainnya adalah Dr. F. Pudiyanto Suradibroto (Jakarta), FX Triyas Hadi Prihantoro (Solo), Soeroyo (Solo) dan saya sendiri dari Wonogiri. Siaran khusus itu, diputar ulang 11/11/2006, memang membedah mengenai krida para penulis surat pembaca yang tergabung dalam komunitas Epistoholik Indonesia (EI).

Spirit seorang warga negara yang bergairah ingin menyumbangkan gagasan tetapi harus menelan kecewa, seperti dicontohkan Bapak Erlangga Chandra itu, sepertinya harus terulang kembali tepat tiga tahun di bulan November ini pula.

Di tengah tekanan masyarakat terkait kasus kriminalisasi dua pimpinan non-aktif KPK yang patut diduga dilakukan komplotan terdiri cukong dan oknum-oknum penegak hukum yang busuk, Presiden SBY meluncurkan program kerja 100 hari pemerintahannya. Program pertama yang ia sebut adalah upaya memberantas, mengganyang mafia hukum. Untuk itu SBY menyediakan fasilitas Kotakpos 9949 Jakarta 10000, guna menampung surat-surat keluhan dan aduan dari masyarakat.

SBY adalah seorang doktor, dan disekelilingnya juga banyak para cerdik pandai. Tetapi di era Internet ini, di kala keputusannya harus senantiasa tepat dan cepat, manajemen komunikasinya nampak dieksekusi sebagai orang yang berasal dari jaman baheula.

Ketika gelora gerakan anti kriminalisasi KPK yang digalang warga negara Indonesia bermediakan jaringan sosial seperti Facebook dimana tiap hari bertambah ratusan ribu pendukungnya, SBY hanya mampu merespons gelombang tuntutan dahsyat itu dengan membuka kotak pos. Tak ubahnya mengulang trik untuk meredam frustrasi rakyat a la era Orde Baru.

Ia hanya nampak bersedia menerima surat-surat kertas yang di era digital ini disebut dengan ejekan sebagai snail mail, surat keong, karena lambannya. Sebagai ilustrasi, bila surat semacam itu saya kirim dari Wonogiri, mungkin baru akan sampai di Jakarta 2-3 hari kemudian. Memakan waktu 172800-259200 detik. Kalau dikirimkan lewat email, hanya butuh waktu sekitar 15-30 detik. Bayangkan perbedaanya !

Belajarlah sedikit dari Obama, yang tak pernah lepas dari telepon genggamnya, sehingga ia mengetahui denyut nadi dan suara rakyat yang diperintahnya. Setiap saat. Saran usil saya : bukalah akun Facebook, Pak SBY. Lalu pertama-tama, bergabunglah bersama kami dalam barisan yang membela keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Maaf, dalam situasi genting di mana rasa ketidakpercayaan rakyat terhadap penegak hukum sedemikian anjlok saat ini, rakyat Indonesia menunggu : kini Anda harus tampil tegas, sebenarnya Anda sekarang berada di fihak yang mana ?


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia


Wonogiri, 7/11/2009

ee

Friday, October 23, 2009

Kambing Jantan Mengamuk di STMIK SiNus Surakarta

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 86/Oktober 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Blog yang meledak. Berita itu meledak sebelum Noordin M. Top tewas di MJ9, Mojosongo, Solo. Bahwa Sherina, penyanyi lagu “Cinta Pertama Dan Terakhir,” bintang film cantik dan cerdas itu, kini berpacaran dengan seekor “kambing jantan.”

Anda jangan kaget, kambing jantan itu bukan satwa berkaki empat yang suka mengembik itu. Tetapi sebutan untuk penulis novel Raditya Dika (24 tahun) yang menjadi terkenal gara-gara menulis cerita tentang keseharian dirinya dalam blognya.

Karena isi blognya itu disukai, akhirnya bisa diterbitkan dalam sebuah buku berjudul Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh (2005).

Sukses membuahkan sukses. Buku kedua Radith berjudul Cinta Brontosaurus, diterbitkan pada tahun 2006. Hampir sama dengan buku sebelumnya, cerita-cerita dalam buku ini berasal dari kisah keseharian Radith. Namun, buku kedua ini menggunakan format cerita pendek.

Buku ketiganya yang berjudul Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa terbit pada tanggal 29 Agustus 2007. Buku ke empatnya berjudul Babi Ngesot : Datang Tak Diundang Pulang Tak Berkutang terbit pada bulan April 2008.

Selain menjadi penulis, Radith pun bermain dalam film yang diangkat dari pengalaman hidupnya, Kambing Jantan: The Movie (2009). Ia juga menjadi penulis skenarionya, termasuk untuk calon filmnya yang terbaru : Maling Kutang (2009).

Kini Radith yang masih berkuliah di Jurusan Politik Indonesia pada FISIP UI tersebut punya kegiatan seabrek. Ia punya jabatan sebagai direktur sebuah penerbit buku di bawah Gagas Media. Menulis buku. Menulis skenario dan juga bintang film. Apa yang bisa kita pelajari dari fenomena Radith ini ?

bambang haryanto,stmik sinar nusantara surakarta,menulis,blog,epistoholik indonesia,surat pembaca,kuliah umum
Menyebarkan virus menulis. Bambang Haryanto, pendiri komunitas penulis surat pembaca Epistoholik Indonesia (tengah) bergambar bersama mahasiswa baru STMIK Sinar Nusantara, Surakarta. Dalam presentasinya ia ditemani oleh webmaster asal Solo dan pengelola portal blog PasarSolo, Sadrah Sumariyarso (paling kiri) yang membawakan bahasan mengenai manfaat blog dan Facebook. Mengingat vitalnya beragam media sosial bagi kehidupan, langkah pengenalan terhadap blog sampai Facebook di STMIK Sinar Nusantara ini pantas ditiru oleh PTN-PTS lainnya.


Pertama : dahsyatnya menulis. Kelebihan dan pelbagai talenta istimewa dari Radith itu tetap akan terpendam dan hanya sia-sia, bila saja ia tidak mengomunikasikannya kepada orang lain atau masyarakat luas. Radith pun menulis. Bila ia menulis hanya di buku hariannya saja, tentu uneg-uneg sampai gagasannya itu hanya dia sendiri yang mengetahuinya. Kurang maksimal.

Tetapi Radith menuliskan cerita kesehariannya di blog, yaitu jurnal di Internet yang bisa diakses dari seluruh penjuru dunia. Realitas ini menunjukkan bahwa kegiatan menulis, kegiatan menuangkan pikiran kita ke dalam bahasa, merupakan senjata ampuh untuk berekspresi, untuk mempertajam kinerja otak kita, berguna untuk memperteguh rasa PD/percaya diri bagi kita, juga sebagai andalan untuk menopang kesuksesan kita. Baik ketika masih berkuliah atau pun ketika kita meniti karier di dunia pekerjaan.

Sayang, di dunia pendidikan kita, pentingnya keterampilan menulis lebih sering dipandang sebelah mata. Selama ini kegiatan menulis sering diartikan secara sempit, sebagai kegiatan profesional yang dilakukan semata-mata oleh dosen, peneliti, wartawan, sastrawan, penulis skenario, atau penulis naskah iklan.

Tetapi sebenarnya untuk semua bidang dalam dunia pekerjaan, apa pun itu, semakin tinggi jabatan atau pangkat seseorang PASTI akan dituntut kemampuannya untuk menulis. Dalam kolom “Careers” yang diasuh Anne Fisher di majalah bisnis terkenal, Fortune (7/12/1998 : hal. 129), muncul pertanyaan dari seorang dosen sebuah universitas di AS. Ia mengeluh karena mahasiswanya rata-rata meremehkan pentingnya keterampilan menulis.

Anne Fisher menjawab, dengan mengutip ucapan Dr. Gary Blake yang mengelola situs Writing Workshop bahwa : “Ketika saya berkeliling ke seluruh negeri dan berbicara dengan pelbagai perusahaan klien saya, saya terkejut mendapati kenyataan bahwa banyak manajer yang mengeluhkan fakta betapa tak seorang pun anak buahnya yang mampu menulis sebuah alinea yang sederhana saja. Anda dapat memiliki gagasan yang paling cemerlang di dunia ini, tetapi itu semua tak berguna bagi perusahaan Anda, juga tak ada manfaatnya bagi karier Anda, apabila Anda tidak mampu mengekspresikan gagasan itu secara jelas dan persuasif.”


Pentingnya keterampilan menulis sebagai senjata sukses meniti karier juga diungkapkan Anne Fisher dalam sebuah statistik. Merujuk hasil survei tahun 1997 oleh Robert Half Internasional yang meneliti 1000 perusahaan terbesar di AS dilaporkan bahwa 96 persen menegaskan bahwa karyawan harus memiliki keterampilan berkomunikasi yang bagus untuk kemajuan karier mereka.

Bahkan keterampilan literasi, atau baca tulis, juga terkait dengan penghasilan. Merujuk hasil penelitian Stephen Reder, pakar linguistik dari Portland State University di Oregon (AS) yang bekerja dalam penelitian untuk Depdiknas-nya AS, dapat ia simpulkan : lulusan tingkat diploma dan S-1 yang memiliki keterampilan tinggi dalam hal menulis, rata-rata memiliki tingkat gaji TIGA KALI LEBIH BESAR dibanding mereka yang keterampilan menulisnya jelek.

Kedua : ayo ngeblog. Situs KapanLagi menuliskan profil Radith berikut ini : “Raditya Dika adalah seorang blogger yang akhirnya menjadi seorang penulis buku dan skenario film. Kepiawaian menulis terasah dengan selalu menulis blog yang berada
di : www.kambingjantan.com.

Dalam blognya [yang baru], Radith menuliskan cerita kesehariannya di jurnal Internet tersebut yang bisa diakses dari seluruh penjuru dunia. Merujuk manfaat dan potensi blog tersebut maka di pelbagai perguruan tinggi, banyak diusahakan agar mahasiswanya mengelola blog, seperti di UNS.

Saya usulkan : alangkah baiknya bila di STMIK Sinar Nusantara ini, setiap mahasiswa dan bahkan juga para pengajarnya, diwajibkan mengelola blog. Selain untuk menggembleng sivitas akademika untuk terampil menulis, juga bermanfaat sebagai sarana kehumasan dan promosi perguruan tinggi Anda ini.

Begawan digital dari MIT, Nicholas Negroponte, menyatakan bahwa Internet adalah gempa bumi berskala 10,5 Skala Richter yang mengguncang peradaban manusia. Salah satu fenomena terdahsyat dari Internet adalah kehadiran beragam media sosial, yang dapat hadir dalam beragam bentuk. Misalnya milis, forum, blog, wiki, podcast, album foto dan video di Internet.

Media sosial berbeda dibanding media industri seperti surat kabar, televisi dan film. Kalau media industri membutuhkan biaya besar dan sumber daya mahal untuk menerbitkan informasi, media sosial menyediakan sarana murah bagi setiap orang untuk menjadi produser informasi.

Fenomena ini membalikkan konsep media massa menjadi menciptakan media untuk massa. Setiap orang kini dengan bersenjatakan sarana penerbitan berbasis web yang murah, mudah dikelola, dengan koneksi yang selalu tersambung dan semakin canggihnya sarana komunikasi bergerak, mendaulat mereka menjadi partisipan yang aktif dalam menciptakan berita atau informasi, sekaligus berperan dalam penyebarannya.

Chris Anderson dalam bukunya The Long Tail : Bagaimana Pilihan Tak Terbatas Menciptakan Permintaan Tak Terbatas (2007), mengungkapkan ketika semua orang kini berpotensi menjadi produser informasi. Anda semua, mahasiswa di sini juga harus berperanserta, sebagai produser informasi.

Realitas ini akan menghadirkan fenomena the long tail, si ekor panjang. Dalam fenomena itu pilihan kita hampir tidak terbatas dan ketika segala sesuatunya menjadi tersedia bagi setiap orang. Keragaman benar-benar menjadi raja.


Ketiga : vitalnya berwawasan global. Ketika di masa-masa awal penulisan blognya, Radith masih berkuliah di Australia. Jadi dari Australia secara tidak ia sadari telah merintis untuk menghimpun penggemar di Indonesia, yang kemudian menjadi pengikut setianya saat Radith kembali ke Indonesia. Konon dalam akun Twitternya kini Adith memiliki 60.000 pengikut, mereka yang berlangganan cerita-cerita atau berita terbaru darinya.

Bersenjatakan blog dan memiliki wawasan global, semua orang kini berpeluang menjadi “bintang,” yang oleh pakar ekonomi atensi Michael Goldhaber disebut sebagai micro-celebrities selebritis kelas mikro. Walau mungkin hanya sekitar belasan atau puluhan orang, tetapi potensi penggemar secara online ini bila dikelola dengan baik akan berdampak dahsyat.

Sekadar ilustrasi, ada cerita berikut ini. Saya memiliki keluarga besar, dari keturunan kakek-nenek saya, yang berasal dari Kedunggudel, Sukoharjo. Untuk mengomunikasikan kabar keluarga, sejak lima tahun lalu diluncurkan blog Trah Martowirono yang saya kelola.

Suatu kejadian unik sempat mencuat : ketika warga keturunan asal Indonesia yang leluhurnya dulu diangkut sebagai buruh pada era kolonial (1930-an) ke Suriname, yang kebetulan memiliki nama leluhur Martowirono, melakukan kontak. Mereka itu kini tinggal di Suriname, New York, Irlandia dan bahkan Belanda. Akhirnya, memang hanya kebetulan bahwa leluhur (kita) memiliki nama yang sama, tetapi kontak sesama keturunan Martowirono yang tanpa hubungan darah itu tetaplah berlanjut.

Contoh lain, saya mengelola blog komedi, Komedikus Erektus ! Gara-gara blog ini saya didaulat menjadi nara sumber perbincangan seputar dunia komedi Indonesia oleh Radio BBC Siaran Indonesia yang berpusat di London, Inggris.

Kemudian seorang profesional pajak di Jakarta, penyuka buku-buku komedi terbitan luar negeri, yang tidak saya kenal, tiba-tiba mengajak kenalan. Kemudian 10 judul buku kajian humor dan komedi terbitan luar negeri ia kirimkan kepada saya yang tinggal di Wonogiri ini !

Inti ajarannya : dengan Internet, kita benar-benar menjadi warga dunia.


Keempat : berkuliah, juga berwiraswasta. Radith kini berkuliah, juga bekerja, sekaligus berwiraswasta. Gambaran itu menegaskan realita baru dewasa ini : manfaatkan masa berkuliah Anda, jangan hanya untuk berkuliah semata. Itu mahasiswa jadul, jaman dulu.

Isilah masa indah sebagai mahasiswa itu dengan kegiatan yang beragam, yang menarik bagi minat Anda. Kalau bisa, mulailah berwiraswasta. Apalagi sekarang ini adalah era komputer, era Internet, era dimana keterampilan mereka yang berkuliah di kampus STMIK Sinar Nusantara ini sangat dibutuhkan.

Padukan apa yang Anda pelajari di bangku kuliah, dan praktekkan segera. Baik untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, menajamkan wawasan dan pengetahuan, dan bahkan untuk merintis usaha yang mampu menghasilkan pemasukan selama masih di bangku kuliah.

Sebagai gambaran, saya cantumkan di bawah ini cerita mengenai kiprah Ashley Qualls, cewek SMA, yang mampu menjadi jutawan berkat bisnis onlinenya di Internet. Ia memulai bisnisnya saat berusia 14 tahun, dengan meluncurkan situs Whateverlife dengan modal delapan dollar yang ia pinjam dari ibunya.

Sebagaimana dikutip oleh YahooNews, Ashley merancang desain-desain grafis cantik, unik dan warna-warni, yang biasa dipajang untuk menghias situs jaringan sosial seperti MySpace oleh pelanggan yang rata-rata juga seusia dirinya.

Tiga tahun kemudian, bisnisnya itu meraih penghasilan kotor lebih dari satu juta dollar setahun. Kini ia mampu membeli rumah dengan empat kamar, dan ruang bawahnya ia jadikan sebagai kantor. Ibunya, Linda LaBrecque, ia angkat sebagai direkturnya.

Mahasiswa STMIK Sinar Nusantara juga bisa ! Kisah menarik Raditya Dika sampai Ashley Qualls di atas, semoga dapat menjadi ilham bagi kita semua dalam mengarungi masa depan. Langkah itu harus kita ayunkan mulai saat ini.

Ajakan saya adalah : mulai menulislah. Tuliskan cita-cita masa depan Anda di kertas. Tempelkan di meja atau dinding tempat Anda belajar. Setiap kali membaca cita-cita Anda itu, serukan tekad sebagaimana slogan dahsyat Barack Obama saat bertarung hingga sukses menuju kursi presiden AS :

Yes, we can !
Yes, we can !
Yes, we can !

Tuliskan pula cita-cita Anda itu di buku harian. Menulis di blog. Sebagai pendiri komunitas penulis surat pembaca, Epistoholik Indonesia, saya mengajak Anda semua mencoba menulis surat-surat pembaca di pelbagai media massa. Begitu dimuat, Anda akan merasakan getaran untuk menulis dan menulis lagi.

Langkah praktis : milikilah bloknote. Yang bisa disimpan di saku, ia harus menyertai Anda sebagaimana HP Anda. Juga selalulah membawa bolpoin. Lalu tirulah gaya turis Jepang dalam cerita berikut ini :

Nilai 4 dan Turis Jepang
Dimuat di kolom Surat Pembaca,Harian Suara Merdeka
Senin, 12 November 2007 : Hal. L

Ada nilai empat di rapor SMP saya. Untuk pelajaran Administrasi, ketika saya duduk di klas 1 SMP Negeri 1 Wonogiri, 1967. Rapor saya merah karena saya ketahuan menyontek. Sejak kejadian memalukan itu saya mengubah kebiasaan belajar saya. Semua mata pelajaran hari itu, begitu tiba dari sekolah, segera saya ubah dalam bentuk tanya-jawab. Semuanya tertulis.

Dengan menulis maka apa yang diajarkan oleh guru dan segala hal yang saya baca dari buku pelajaran, otomatis kini menjadi milik saya. Kalau hanya mendengarkan saja, atau membaca-baca saja, daya lengketnya dalam ingatan terbatas. Dua hari, sudah mengabur dan lalu hilang. Tetapi dengan menuliskannya, info-info baru itu akan lebih lama tergores dalam otak kita, bahkan bisa terus teringat dalam jangka waktu lama.

Untuk terus mampu menyalakan api menulis itu, sebuah bloknot dan bolpoin selalu menemani saya, ke mana pun pergi. Juga di sisi tempat saya tidur. Ketika menemui hal-hal yang menarik di jalanan, di koran, buku, atau munculnya gagasan tertentu, langsung ditulis di bloknot tersebut.

Seperti saya tulis di kolom ini (23/2/2006), Harry Davis, Wakil Direktur Program MBA di Sekolah Bisnis Universitas Chicago, Amerika Serikat, mengatakan bahwa turis-turis Jepang juga membawa-bawa bloknot ketika keliling dunia. Mereka mencatat hal-hal khusus yang dapat mereka amati dari pelbagai penjuru dunia yang mereka kunjungi.

Mereka melakukan tindak intelijen secara legal, mengumpulkan data. Pelbagai data itu diolah dan dijadikan pertimbangan dalam menghasilkan produk yang diekspor Jepang ke seluruh dunia. Itulah cara Jepang menguasai ekonomi dunia.

Menurut Harry Davis, kebiasaan model turis Jepang itu harus dimiliki setiap insan yang produktif, utamanya dalam mengembangkan dan mengasah keterampilan melakukan observasi. Kepada mahasiswa MBA-nya, seperti dikutip koran USA Today (12/2/1992), ia anjurkan untuk membawa-bawa bloknot sepanjang waktu.

Dengan demikian mereka setiap saat dapat menulis dan mengawetkan hasil observasi dan ide-ide seputarnya, yang sangat bermanfaat bagi pekerjaan atau pun kehidupan pribadinya.

Kalangan wartawan sudah terbiasa melakukan hal tersebut, dan kini bisa diadopsi sebagai bagian gaya hidup produktif sehari-hari kita. Kepada sesama kaum epistoholik, saya anjurkan untuk melakukannya. Anda, apa pun profesinya, pasti bisa pula memperoleh manfaat dari anjuran yang sama ! [Bambang Haryanto Jl.Kajen Timur 72 Wonogiri 57612].


Semoga cerita-cerita ini bermanfaat bagi Anda semua.
Terima kasih.


*) Artikel ini merupakan makalah untuk kuliah umum dalam Workshop Jurnalistik, Salam Kampus bagi Mahasiswa Baru Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Sinar Nusantara Surakarta tahun akademik 2009/2010, di Solo, 29 - 30 September 2009.

Wonogiri, 24 Oktober 2009

ee

Friday, September 18, 2009

Lebaran 2009, Buku dan Kunang-Kunang Terbang

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 83/September 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Perfect strangers. Semoga Anda sehat-sehat adanya. Bagaimana suasana kota Anda, mendekati hari Lebaran ? Di jalanan kota saya, Wonogiri, rasanya semakin sesak oleh orang. Pasar penuh orang. Antrean ATM penuh orang. Toko penuh orang.

Sementara Perpustakaan Wonogiri, yang mudah ditemui, tetap saja wajah-wajah yang sama. Familiar strangers.

Wajah-wajah yang lalu lalang di luar perpustakaan itu adalah wajah-wajah asing. Perfect strangers. Juga kendaraan mereka yang bernomor bukan aseli Wonogiri. “Selamat pulang kampung sobat, saudara-saudara saya yang di hari-hari normal berkiprah, berkarya dan berkrida di luar Wonogiri.”

Adakah acara khusus bagi Anda, apabila Anda ikut merayakan Hari Kemenangan, di hari Fitri nanti ? Tahun ini saya akan merayakannya bersama kunang-kunang.

Ceritanya, ada seorang nenek yang mendongeng kepada cucu-cucunya. Tentang serpih-serpih tulang rawan hasil guntingan kuku-kuku jari dan kaki. Ia katakan, sebaiknya serpihan itu dipendam di pojok rumah. Bila malam, serpihan itu akan berubah menjadi kunang-kunang yang beterbangan menghiasi malam..

Cucu-cucu itu, walau takjub atas dongengan itu, tetap saja memendam rasa tidak percaya. Tetapi mereka tetap saja mengingatnya. Bahkan setelah berpuluh tahun kemudian.

Ada orang bilang, ucapan guru atau orang tua itu melesat dalam kecepatan cahaya untuk sampai ke telinga anak didik atau seseorang anak. Tetapi makna dari ucapan itu sampai ke hati atau pemahaman, akan berjalan dengan kecepatan suara. Jauh lebih lambat dibanding kecepatan cahaya.

Tetapi pesan itu tetap akan sampai. Entah beberapa bulan, beberapa puluh tahun kemudian, atau bahkan ketika sang anak, si penerima pesan itu, sudah berada di tepi kematian.

Dongeng tentang kunang-kunang itu, yang secara ilmu biologi atau fisika sebagai tak mungkin, mungkin dirancang sebagai sebuah metafora. Kiasan. Saya memaknainya kini, betapa bagian sekecil apa pun dari diri kita bila ditanam akan menumbuhkan cahaya, kebaikan, keindahan. Apalagi bila ia menari dalam kegelapan.

Kebetulan ketika saya mengetikkan kata firefly, kunang-kunang, dalam peranti lunak The Oxford Dictionary of Quotations (2002), muncul lema/entri menarik :

Kepala suku Indian Kaki Hitam, Cakar Gagak (c. 1830–1890), sebelum meninggal dunia pada tanggal 25 April 1890, seperti dikutip oleh John Peter Turner dalam bukunya The North-West Mounted Police: 1873–93 (1950), antara lain sempat mengatakan :

What is life? It is a flash of a firefly in the night.
Apakah hidup itu ? Ia adalah pendar nyala kunang-kunang di waktu malam.

Surat pembaca kunang-kunang. Nenek yang mendongeng tentang kunang-kunang itu berasal dari Kedunggudel, Sukoharjo. Namanya Jiah Martowirono.

Ia nenek saya dan dongeng tentang kunang-kunang itu menjadi salah satu tema Reuni Trah Martowirono XXIII/2009, yang akan dilangsungkan 23 September 2009.

Lokasi : Museum Benteng Vredeburg, Djokdjakarta. Anak cucu-cicit Trah Martowirono, dari seantero Nusantara, bersiap melakukan Serangan Oemoem guna mendoedoeki selama Enam Djam di Djokdja. Cerita terkait dapat Anda klik di blog Trah Martowirono.

Surat-surat pembaca yang kita tulis, saya ibaratkan juga sebagai nyala kunang-kunang. Tidak semua orang akan merasa takjub atau mampu memahami sinar yang ia pancarkan. Tetapi bagi orang tertentu, bila terjadi “klik,” surat pembaca itu dapat menjadi cahaya yang bermakna bagi banyak orang.

Apalagi bila cahaya itu memiliki voltase yang tinggi. Misalnya memiliki relevansi, nilai-nilai moral, bukan slogan, tetapi ketukan yang mampu menyapa hati. Bagi saya, agar mampu menulis surat pembaca yang bervoltase tinggi itu, seringkali, mau tak mau harus merujuk kepada sumber-sumber cahaya yang tertentu. Utamanya : buku.

Sedikit bicara tentang kaitan buku dan surat pembaca. Maaf, sebagai pembaca surat-surat pembaca, saya kadang merasa kurang nyaman bila memergoki surat pembaca atau artikel yang merujuk kepada sumber buku tertentu tetapi ditulis dengan data bibliografi yang pincang. Misalnya data judul buku rujukan tidak ditulis, nama pengarang dikaburkan, dan tahun terbit disepelekan karena tidak dicantumkan.

Maaf lagi, iritasi ringan ini memang dipicu cara berpikir model digital. Karena dalama paradigma digital, semua ilmu pengetahuan itu harus tersambung, connected, sehingga dapat dicek dan di-ricek oleh orang lain, untuk sama-sama diuji kebenaran atau validitasnya. Jalan pikiran ini pula yang mendasari raksasa internet, Google, meluncurkan proyek gigantik : The Google Books Library Project yang berusaha mendigitalkan semua buku-buku di dunia, sehingga bisa diakses oleh sesama umat manusia.

Syukurlah, ketidaknyamanan saya tentang data bibliografi itu masih kelas ringan kok. Karena dalam surat-surat pembaca, yang sering isinya menyangkut isu-isu aktual dan kurang dituntut adanya pendalaman, sehingga tidak terlalu menuntut hadirnya parade atau obral kutipan dari buku-buku (baru ?) tertentu.

Tetapi realitas semacam ini juga bisa sebagai tabir, untuk menutupi hal yang bisa (bila mau) diperdebatkan : apakah seorang penulis surat pembaca juga seorang maniak, pembaca buku, atau justru tidak menyukai buku ? Mungkin ini penilaian subyektif : bagi saya, rasanya selama ini, tidak mudah menemukan obrolan tentang sesuatu buku dalam surat-surat pembaca.

Book buzzer. Akibatnya, salah satu cita-cita saya sebagai pendiri komunitas Epistoholik Indonesia, sepertinya masih di awan. Gerakan menjadikan surat pembaca sebagai salah satu media untuk mem-buzzing info dan isi buku-buku (baru ?), kiranya masih belum memancarkan daya tarik optimal untuk memantik minat sesama warga komunitas EI ini.

Minimal untuk semakin meminati, mencintai buku. Sehingga sumber info, asupan bagi gelegak kawah intelektual kita, bukan kliping-kliping koran semata. Anda punya pendapat ? Saya tunggu.

Untuk menggelorakan cinta buku itu, walau seorang Jeff Gomez menerbitkan buku Print Is Dead : Books in Our Digital Age (2007), saya kini mencoba menghidupkan lagi blog buku saya yang lama terbengkalai.


Sekian dulu, obrolan dari Wonogiri. Setelah hiruk-pikuk Lebaran usai, saya punya PR. Menyiapkan makalah guna merayu mahasiswa baru agar memiliki wawasan baru betapa keterampilan menulis (surat pembaca, blog, artikel, surat cinta, sd surat lamaran) adalah senjata survival mereka dalam percaturan dunia datar yang mengglobal ini.

Sekolah Tinggi Manajemen dan Ilmu Komputer Sinar Nusantara, Solo, tanggal 30 September 2009, memberi saya podium untuk berbagi wawasan dengan mereka. Terima kasih untuk Sadrah Sumariyarso dari PasarSolo yang telah memberi saya kepercayaan yang mulia ini.

Bocoran : di depan mahasiswa itu saya akan bercerita tentang kisah sukses non-linear dari pacarnya Sherina, yang menulis buku berjudul Babi Ngesot : Datang Tak Diundang, Pulang Tanpa Kutang.

Hal lain : saya memimpikan bisa membaca buku baru, terbitan Harvard (2009), karya John Mullins dan Randy Komisar, Getting The Plan B : Breaking Through to a Better Business Model.

Isinya membahas rahasia dibalik sukses iPod-nya Apple, Skype sampai Paypal. Siapa tahu, dengan ditulis akan membuat impian ini lebih mudah direalisasikan.

Terakhir : Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin. Sejahtera bagi Anda semua dan keluarga.


Wonogiri, 18 September 2009

ee

Saturday, September 12, 2009

Lima Tahun Kepergian Aktivis HAM, Munir

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 82/September 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia

Kehilangan besar. “Human Rights Watch hari ini berduka atas meninggalnya Munir, salah satu tokoh penegakan hak-hak asasi manusia Indonesia. Pengacara berusia 38 tahun itu meninggal secara tak terduga ketika dalam perjalanan dari Indonesia menuju Belanda untuk melanjutkan kuliah pasca sarjananya.”

Itulah awal berita yang dilansir oleh organisasi Human Right Watch (HRC) yang berpusat di New York, 8 September 2004. “Ini merupakan kehilangan besar bagi saya pribadi, karena Munir adalah sahabat dan rekan seperjuangan,” kata Joe Saunders, wakil direktur program HRC.

“Juga kehilangan besar bagi gerakan penegakan hak-hak asasi manusia sebab Munir tak pernah lelah berjuang dan merupakan sosok yang unik sebagai periset, ahli strategi dan juru bicara yang efektif. Rasa duka cita saya teruntuk keluarga dan kawan-kawannya.”

“Munir memiliki klas tersendiri. Ia memiliki kecerdasan listrik dan ingatan ensiklopedis. Dalam rapat ia mampu menggelar data yang mendetil secara kaleidoskop, wawasan serta analisis tajam untuk menjelaskan gambaran aktual guna menentukan tindak lanjut kemudian,” papar lanjut Joe Saunders.

Menagih janji SBY. Lima tahun kemudian, ingatan ensiklopedis tentang kasus terbunuhnya Munir rupanya tidak dimiliki oleh petinggi negeri ini. Kasus hitam ini cenderung menjadi terkatung-katung. Setelah SBY terpilih untuk kedua kalinya, kalangan aktivis penegakan HAM kini menunggu aksi SBY untuk menuntaskan kasus besar yang mencoreng nama Indonesia di mata dunia ini.

Lima tahun lalu, kepergian mendadak Munir itu memantik saya sebagai seorang epistoholik untuk menulis surat pembaca. Pada tanggal 8 September 2004, sehari setelah meninggalnya Munir, saya menulis surat pembaca dengan judul “Selamat Jalan Pejuang HAM Sejati” ke harian Bali Pos, Pikiran Rakyat, Republika, Solopos, Suara Merdeka, dan Wawasan. Saya tidak tahu apakah surat pembaca saya itu dimuat atau tidak.

Dengan judul “Perginya Layang-Layang,” surat pembaca dengan isi serupa juga saya kirimkan ke harian Kompas Jawa Tengah. Surat yang saya emailkan 8 September 2004 itu baru muncul, dengan penyuntingan, tanggal 30 September 2004. Saya tidak tahu mengapa harus begitu lama menunggu untuk pemuatannya.

Surat pembaca saya yang asli berikut di bawah ini. Juga terdapat dua surat pembaca lainnya, menyangkut sosok Munir sebagai sumber inspirasi.

Perginya Layang-Layang
Dimuat di kolom Surat Pembaca
Harian Kompas Jawa Tengah, 30 September 2004


Tanggal 8 September 2004 di warung soto Terminal Angkuta Wonogiri, kau menjadi bahan pembicaraan. Seorang berkata, Munir telah meninggal. Lainnya menyahut, ya, Munir yang banyak omong itu telah meninggal. Saya mencatat dialog jujur rakyat itu.

Bagi awam, omongan atau isu tentang orang hilang, hak-hak asasi manusia (HAM), kebebasan pers, penegakan hukum, sampai superioritas sipil atas militer dan sejenisnya yang kau ungkapkan bertahun-tahun terakhir, memang mengesankan dirimu sebagai sosok yang banyak bicara.

Tetapi banyak omong senyatanya adalah kelebihanmu, senjata utamamu. Terutama di saat terlalu banyak orang bungkam, takut bicara hal-hal yang benar. Menurutku, semua omonganmu itu tidaklah sia-sia. Sebab selain omongan, di tengah angin perubahan dan banyak orang suka tiarap, kau juga menjadi teladan banyak anak muda.

Seperti kata Hamilton Mabie, jangan takut terhadap deraan angin hambatan dan kesengsaraaan. Ingatlah layang-layang, yang membubung naik bila diterpa angin daripada bila terbang bersama angin. Itulah sosokmu. Selama ini, semakin angin keras menerpamu, terbang mu pun semakin meninggi.

Saya dan kita semua, sungguh tidak tahu rencana Tuhan. Tetapi kau telah dijemput kembali ke haribaan-Nya saat kau mengapung di atas mega-mega dalam penerbangan dari Jakarta menuju Belanda, mudah-mudahan itu pertanda baik.

Bahwa Tuhan menyayangimu. Seperti halnya mereka-mereka yang selama ini telah tersentuh oleh mulianya niatmu, omonganmu, juga tindakanmu.

Saya secara pribadi tidak mengenalmu, tetapi ijinkan saya ikut berdoa semoga Tuhan memberimu tempat yang layak di sisiNya. Selamat jalan, Munir. Terbanglah sang layang-layang, dalam damai, menuju keabadian.


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia
Wonogiri


Bangsa Yang Dihukum
Dimuat di kolom Surat Pembaca
Harian Kompas Jawa Tengah, 28 September 2007


Penegakan hukum di Indonesia ibarat gerakan tari poco-poco. Kita senang melihat adanya kemajuan, tapi ternyata disusul gerakan memutar dan bahkan mundur sama sekali. Sepertinya bergerak tetapi nyatanya hanya berjalan di tempat.

Contoh yang mencolok adalah kasus terbunuhnya aktivis HAM, Munir, yang tetap misterius sejak kejadian tiga tahun lalu. Demikian pula kasus korupsi mantan Presiden Soeharto.

Mungkin bangsa lain di dunia saat ini merasa gemas melihat ulah kita. Entah kebetulan atau tidak, tapi dengan memakai ilmu otak-atik gathuk, mencocok-cocokkan fakta yang terjadi, kita boleh merasa bahwa dunia sedang menghukum kita. Misalnya, gara-gara kasus Munir dan bertepatan dengan rentetan kecelakaan yang terjadi, membuat maskapai penerbangan kita dilarang terbang ke Eropa.

Demikian pula ketika MA justru menghukum majalah TIME untuk membayar uang trilyunan karena membeberkan data korupsi Soeharto, kita pun segera dapat “balasan” yang setimpal. Yaitu ketika PBB dan Bank Dunia meluncurkan program global untuk mengembalikan aset rakyat yang dicuri mantan penguasanya. Bahkan secara tegas dinyatakan bahwa mantan presiden Soeharto merupakan penguasa nomor wahid sejagat dalam melakukan korupsi besar-besaran ketika memerintah.

Terakhir : siapa tahu, bencana alam yang beruntun menimpa kita akhir-akhir juga merupakan isyarat, sebagaimana ditamsilkan oleh Ebiet G. Ade, “mungkinkah Tuhan sudah bosan melihat tingkah kita, yang banyak salah dan dosa-dosa ?”


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia


Gelar Tong Kosong
Dikirimkan ke kolom Surat Pembaca
Harian Kompas Yogyakarta, 22 Oktober 2004


Di tengah hiruk-pikuk Pilpres Putaran Kedua, capres Susilo Bambang Yudhoyono menempuh ujian doktornya di Institut Pertanian Bogor. Sementara itu Munir, tokoh pembela hak asasi manusia dipanggil kembali oleh Sang Chalik ketika sedang dalam penerbangan dengan Garuda dari Jakarta menuju Belanda. Munir menuju Belanda guna meneruskan studinya. Kabar terakhir mengenai Amien Rais, mantan ketua MPR, adalah pulang kandang ke Universitas Gajah Mada untuk menjadi dosen kembali.

Kisah ketiga tokoh tadi pantas menjadi tauladan. Mereka tidak berhenti belajar. Kembali menjadi dosen, seperti yang dipilih Amien Rais, juga merupakan pilihan untuk kembali belajar. Di sekitar kita tidak sedikit birokrat sampai guru yang kembali ke kampus untuk menempuh program lanjutan S2 dan S3.

Lalu bagaimana dengan mereka yang tak punya biaya atau waktu untuk menempuh program lanjutan ? Belajar untuk meningkatkan diri yang tidak berpamrih disemati gelar akademis ketika usai, masih banyak jalan yang dapat ditempuh.

Cara terbaik adalah dengan membaca. dan menulis. Membaca dapat mengandalkan sumber-sumber ilmu yang terhimpun di perpustakaan, toko buku atau Internet. Berorganisasi, menjadi relawan atau aktivis, adalah juga wahana untuk belajar. Sedang menulis itu penting, karena mempribadikan segala asupan informasi untuk menjadi milik kita sendiri.

Dengan menulis, baik di media massa cetak atau pun Internet, dirinya berbagi ilmu dengan orang lain sekaligus mampu memperkaya khasanah ilmu dirinya pribadi. Tanpa menulis, gelar-gelar akademis itu ibarat tong kosong karena ilmu yang ia peroleh segera terlupakan dan khasanah ilmu pengetahuan tidak mendapatkan tambahan dari pemilik gelar-gelar akademis bersangkutan.

Di sini kita dapat meneladani perjuangan seorang yang pernah bekerja di perusahaan sound system sebagai juru servis, lalu jualan antene TV kelilingan, jualan sepatu dan antena parabola, tetapi semangatnya untuk belajar tanpa henti sampai terpilih menjadi satu di antara 20 Pemimpin Politik Asia Pada Millenium Baru oleh majalah AsiaWeek 1999. Orang tersebut adalah : Munir.


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia


Wonogiri, 13/9/2009

ee

Thursday, August 27, 2009

Berjalan 56 tahun, Epistoholik Indonesia dan Masa Depan

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 81/Agustus 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Kompas, 24 Agustus 2009

Patriot Games. Tanggal 24 Agustus adalah hari televisi : TVRI, SCTV dan juga RCTI. Pada tanggal yang sama tahun 1929, pejuang pembebasan Palestina legendaris Yasser Arafat dilahirkan. Juga Ken Hensley di tahun 1945. Ia musikus dari kelompok musik Uriah Heep, yang aku sukai lagunya Time to Live dan July Morning di era 70an. Saat itu saya bersekolah di STM Negeri 2 Yogyakarta.

Pengarang Brazil Paulo Coelho lahir pada tanggal yang sama tahun 1947, persis sama dengan bintang film setengah umur yang tetap cantik Anne Archer. Ia tampil menawan saat main sebagai istri Harrison Ford dalam film Patriot Games. Musikus Jean-Michael Jarre (1948) yang salah satu nomor musiknya bernuansa Cina, saya dengar tahun 70-an akhir, masih terasa mengebor kepala saya ini. Musikus lain, Ron Holloway, saksofonis tenor Amerika Serikat, lahir tanggal 24 Agustus 1953. Persis sama dengan tanggal kelahiran saya.

Informasi terkait :

  • Bambang Haryanto: Membaca dan Menulis Seperti Donor Darah
  • Being Digital Sampai Surat Cinta Berabjad Rusia
  • Inilah 5 Buku Favorit Presiden Epistoholik Indonesia
  • Kaum Epistoholik Punya 5 Blog Tongkrongan
  • Virus Obama Menyebar di Puncak Brengos
  • Surat dari Presiden Rakyat Epistoholik


  • Pasir hidup digital. Pada tanggal yang sama, lima puluh enam tahun kemudian, harian Kompas memajang tajuk berita tentang negara kita yang terjebak dalam impor pangan. Garam saja impor. Sebagai tradisi, setiap ulang tahun aku membeli koran yang terbit pada tanggal 24 Agustus. Sebagai tonggak peringatan apa saja “isi dunia” pada masa itu.

    Di bagian dalam edisi 24 Agutus 2009 ini (foto) terdapat artikel tulisan peneliti LIPI, Jaleswari Pramodhawardani, “RUU Rahasia Negara dan Keamanan Nasional.”

    Salah satu alinea menarik : “Banyak kalangan mengkhawatirkan kehadiran RUU Rahasia Negara. Pertanyaan yang muncul, bagaimana rahasis negara didefinisikan ? Apa saja yang masuk klasifikasi “rahasia negara“ ? Siapa yang memiliki otoritas untuk menggolongkan informasi ke dalam rahasia negara ? Bagaimana membedakan kepentingan negara dengan kepentingan pemerintah yang berkuasa ? Siapa pengontrolnya ? Pers ? Pers dapat dijerat pasal membocorkan rahasia negara.”

    Para penulis surat pembaca, tegakkan antena kewaspadaan Anda. RUU ini kelak, kita cemaskan, berpotensi menjerat kita semua untuk masuk penjara. Apakah menuliskan penyimpangan suatu layanan publik atau indikasi terjadinya korupsi dalam kolom surat pembaca atau blog, nantinya termasuk sebagai usaha membocorkan rahasia negara ?

    Bagi saya, kebijakan ini sebuah ironi di era Internet ini. Upaya yang tidak mungkin. Carl David Woolston & Stephen Palmer dalam makalah tentang revolusi dalam dunia bisnis, berjudul The Hub Mentality (2009) menegaskan untuk para pelaku bisnis bahwa mereka tidak dapat menyembunyikan kesalahan. In the digital age, there is nowhere to hide. Mereka tidak bisa mengumpetkan ketidakbecusan di balik pupur tebal iklan. Para pengusaha itu tidak akan mampu lari dari publisitas yang negatif:


    You can’t hide your mistakes when they spread like a virus through word-of-mouth, email, and blogging networks. You can’t cover up incompetence under thick layers of advertising make-up. You can’t run from negative publicity.

    Tetapi ironi dunia digital ini sedang terjadi di negeri kita. Lihatlah, ketika Prita Mulyasari karena mengirimkan email keluhan dan juga Khoe Seng Seng dan kawan-kawan menuliskan surat pembaca, keduanya diseret ke meja hijau. Mungkin Indonesia masih sebagai negeri [yang pemimpinnya banyak] gaptek, sehingga tidak melek terhadap realitas nyata yang dipaparkan Woolston dan Palmer : The Information Age has stripped you naked and left you exposed, flaws and all. Era informasi pasti membuat Anda, juga korporasi itu, diblejeti pakaiannya untuk tampil telanjang bulat di muka dunia.

    ”You can’t bury customer feedback—all you can do is manage how you respond to it,” tegas Carl David Woolston & Stephen Palmer. Tetapi kedua korporasi yang menyeret Prita dan Khoe itu tidak tahu kalau respon mereka keliru. Akibatnya, kini hari demi hari ulahnya justru membuat diri mereka menjadi semakin berkubang dalam jebakan spiral pasir hidup era digital yang semakin menyeret mereka kedalamnya.

    Jadi korporasi yang menyeret Prita dan Khoe Seng Seng mungkin menang atau dimenangkan di meja hijau, tetapi citranya dalam benak publik yang tergurat abadi di dunia maya dan mesin-mesin pencari, merupakan noktah yang bakal tidak terhapuskan sepanjang jaman.

    Kenangan tak terhapuskan. Pindah ke topik pribadi. Tentang rasa syukur yang saya rasakan. Tentang momen-momen yang saya alami, tanggal 24 Agustus 2009 ini. Ketika saya memperoleh limpahan atensi dan percakapan seperti terekam dalam rantai pesan-pesan pendek di bawah ini.


    Barry Hendriatmo/Jember : Slmat ultah, smg pjang umur, mrh rjki & ttap shat wl afiat. Amin. Salamku Bhd ! OKEY [Minggu, 23/8/2009 : 22.08 : 58]. Balasan BH : Terima kasih. Selamat berpuasa. [Senin, 24/8/2009 : 04.23:03].

    Mustikaningsih/Solo1 : Metpagi met nyiapin mknsahur masBos, moest berdoa+berhrp diHut ke 56 ini mas hepi sehat sll + sukses n senantiasa dlm lindunganNya ya ? Amien. [Senin, 24/8/2009 : 02.33:03]. Balasan BH : Tks, Tika. Lain kali angkanya ga usah disebut2 :-(. Kalau semua angka itu jd lilin klenteng semua, ntar pemadam kebakaran musti siap2, kan ? Sukses selalu. Salam. [Senin, 24/8/2009 : 18.39:54].

    Broto Happy W/Bogor : Ass.wr.wb. lagi sahur Mas ? selamat ulang tahun, semoga panjang umur, sehat, dan sukses selalu. Selamat beribadah puasa. Salam, Happy. [Senin, 24/8/2009 : 03.05:54]. Balasan BH : Terima kasih. Selamat menunaikan ibadah puasa. [Senin, 24/8/2009 : 04.25:08].

    Muhidin M Dahlan/Yogya : pak bambang, keluarga besar indonesia buku dan gelaran buku mengucapkan selamat ulang tahun. [Senin, 24/8/2009 : 04.22:48]. Balasan BH : Terima kasih, Gus Muh. Pesta 24 Agustusnya outsourcing saja, biar dirayakan oleh TVRI, RCTI dan SCTV :-). Salam untuk Ibuku & Gelaran Buku. Sukses selalu. [Senin, 24/8/2009 : 04.32:31].

    FX Triyas Hadi Prihantoro/Solo : Sugeng tanggap warso Mas Bambang. Sukses ya ? [Senin, 24/8/2009 : 12.19:13]. Balasan BH (1) : Tks, Mas Triyas. Pestanya kita rayakan di LSM Commitment yll ya ? Atau di RCTI dll. Mg rs capeknya dr Bali sdh pulih. Salam. [Senin, 24/8/2009 : 12.27:35]. Balasan BH (2) : Info tambahan : bl ada waktu, silakan tengok situs IB : www.indonesiabuku.com. Wawancara IB dgn saya ttg EI, menulis, membaca dan buku, sbg kado utk EI kita + saya. [Senin, 24/8/2009 : 14.35:55].

    Thomas Sutasman/Cilacap : Selamat ulang tahun, semoga hidup semakin bahagia dan mencerahkan orang lain lewat srt pembaca. [Senin, 24/8/2009 : 12.54:21]. Balasan BH (1) Terima kasih, mas Thomas utk limpahan asah asih asuh dr Anda dlm kiprah kita bersama utk berguna bg sesama melalui surat2 pembaca. Terus kita lanjutkan ya ? Salam. [Senin, 24/8/2009 : 14.06:44]. Balasan BH (2) : Info tambahan : bl ada waktu, silakan tengok situs IB : www.indonesiabuku.com. Wawancara IB dgn saya ttg EI, menulis, membaca dan buku, sbg kado utk EI kita & sy.[Senin, 24/8/2009 : 14.34:32].

    Mayor Haristanto/Solo : Happy b’day. Semoga panjang umur dan terus nulis. Salam Myr se klg. [Senin, 24/8/2009 : 13.06:58]. Balasan BH : Terima kasih. Sukses selalu pula. Salam. [Senin, 24/8/2009 : 14.10:24].

    Diana AV Sasa/Surabaya : Pak Bambang, selamat ulang tahun. Panjang usia surat pembaca. Hadiah ulang tahun dari Indonesia Buku ada di situs. Salam. [Senin, 24/8/2009 : 14.09:54]. Balasan BH (1) : Tks, mBak Diana. Td pg sy sd GR, cari2 lilin dan kuenya di situs IB. Kok blm ada ? Pdhal sy pengin bkoar2 ttg hadiah khusus dr IB. Kali krn puasa, sy tdk blh sombong ya ? [Senin, 24/8/2009 : 14.19:04].

    Diana AV Sasa/Surabaya : Saya KO, badan agak kurang fit, baru tadi bisa menulis. Maaf. Biar telat asal dapat. Hehehee…Happy birthday… Wish you all the best.[Senin, 24/8/2009 : 14.21:47].

    Joko Suprayogo/Kendal : Nuwun sewu pak, slamat berulang usia, semoga makin jaya dan tambah bijaksana. Tambah umur pasti tambah makmur, selalu senantiasa begitu. [Senin, 24/8/2009 : 14.34:14]. Balasan BH : bl ada waktu, silakan tengok situs IB : www.indonesiabuku.com. Wawancara IB dgn saya ttg EI, menulis, membaca dan buku, sbg kado utk EI kita & saya.Moga berguna. [Senin, 24/8/2009 : 14.39:40].

    Joko Suprayogo/Kendal : Bagus pak. Membaca dan menulis seperti donor darah.Ups, sedikit info pak, kemarin sempat ngomong2 sm orang (nama koran di Jateng) soal pencekalan pak BH, katanya sih tdk ada pencekalan, hahaha. Makanya pak, kritik terus (nama koran di Jateng) ! [Senin, 24/8/2009 : 14.56:40].

    Basnendar Hps/Solo : Met ultah mas, smoga sukses smua. Ttg cd softwr aq ttp ke mb beti. [Senin, 24/8/2009 : 15.19:06]. Balasan BH : Tks, Bas. Bl ada waktu, bisa tengok situs IB : www.indonesiabuku.com. Wawancara IB yll ttg EI, menulis, membaca + buku jd kado istimewa utk 24/8 ini. Mg brguna. [Senin, 24/8/2009 : 14.44:56].

    Bakhuri Jamaluddin/Tangerang. Info BH : Tks, Bakh. Bl ada waktu, bs tengok situs IB, www.indonesiabuku.com. Wawancara IB ttg EI, menulis, membaca + buku, jd kado istimewa utk 24/8 ini. Maaf, aku poso Facebook :-). [Senin, 24 Agustus 2009 : 16.49 : 02]. Balasan Bakhuri : Ya, sekalian ngabuburit.tks. [Senin, 24 Agustus 2009 : 16.52 : 55].

    Arista Budyono/Jakarta. Info BH : Siap2 buka ? Bl ada waktu, bisa tengok situs IB : www.indonesiabuku.com. Wawancara IB ttg EI, menulis, membaca + buku jd kado unik utk 24/8 ini. Maaf, Arista, aku poso Facebook :-). [Senin, 24 Agustus 2009 : 17.06 : 07]. Balasan Arista : Makasih infonya pak, nti saya cerita kalau dah dimuat di web itu. [Senin, 24 Agustus 2009 : 16.39 : 59].

    Jokowu/Solo. Info BH : Info contoh personal branding : tengok situs IB, www.indonesiabuku.com. Ada cerita2 tt EI, menulis, baca + buku, mg jd info menarik bg blog LSM Commitment yad. Salam. [Senin, 24 Agustus 2009 : 17.16:25].

    Bonny Hastuti YA/Tasikmalaya : “Selamat ulang tahun, semoga panjang umur & bahagia selalu, serta diberi kelancaran & kesuksesan dalam pekerjaan & keluarga. Ditambah rezeki yang barokah. Amien.” dari adik bonny dan keluarga di tazikmalaya. [Senin, 24 Agustus 2009 : 19.46:20]. Balasan BH : Tks untuk ucapan dan doamu. Semoga Allah memberi pahala melimpah untuk kebaikanmu. Selamat berpuasa [Selasa, 25 Agustus 2009 : 03.59:12].


    Bakhuri Jamaluddin/Tangerang : Aku sdh baca2 Indonesiabuku dan belajar beri komentar, bgmn ? Knp lagi puasa FB ? [Senin, 24 Agustus 2009 : 23.03:36]. Balasan BH : Tks ut komentarmu. Maaf, aku br baca nanti siang. Puasa FB krn godaan utk pamer, ingin mengungguli org lain + godaan nafsu mberi komentar2 tak bergizi kuat sekali :-( [Selasa, 25 Agustus 2009 : 04.06:54].

    Putri Sarinande : Selamat bertambah usia Mas, maap telat br tau. Sy pernah jln2 ke blog mas n akhirnya bc artikel seorang relasi. Tokoh ttg mas. Sampai jumpa di email. Putri Sarinande. [Selasa, 25 Agustus 2009 : 00.21:24]. Balasan BH : Tks, Putri Sarinande/PS utk surprosemu ini. awas lo, lagu PS ini jg mau dibajak Malaysia. BTW, sy punya “kue” HUT di www.indonesiabuku.com. Tks utk kebaikan hatimu. [Selasa, 25 Agustus 2009 : 04.16 :18].

    Purnomo Iman Santoso/Semarang : Selamat ulang tahun pak Bambang, 24-8-2009. Sehat selalu dan terus berkarya. [Selasa, 25 Agustus 2009 : 06.18 :25]. Balasan BH : Tks, Mas Pur. Sukses selalu juga utk Anda. BTW, sy punya “kue” HUT di www.indonesiabuku.com. Kl ada waktu silakan ditengok ya. Tks utk kebaikan hati Mas Pur. Salam. [Selasa, 25 Agustus 2009 : 07.56 :16].

    Purnomo Iman Santoso/Semarang : Ok Pak BH, sy sore ini ke warnet (maklum blm psg speedy). Seharian kemarin saya KO, penyakit turunan saya kumat-flu berat. Saya punya mimpi2, satu diantaranya tentang EI. Bantu doa Pak BH, mimpi2 sy terwujud/come true SEGERA, krn ini saling berkaitan.[Selasa, 25 Agustus 2009 : 08.17:30]. Balasan BH : Tks, Mas pur. Mg sgr sehat+bugar kembali. Ttg impian, apa sy+teman2 EI tak bs dibocori sjk dini ? Atau ini RHS agar jd surprise ? Sy sll dukung Mas Pur. Sukses selalu. [Selasa, 25 Agustus 2009 : 08.41:02].

    Purnomo Iman Santoso/Semarang : Impian sy tentang EI, mudah2an Pak BH berkenan, EI Go Nasional. Max 2010. Setuju pak ? Ini ada proses2 kreatif yg melibatkan warga EI (nantinya) dan saya yakin bisa. Amin. [Selasa, 25 Agustus 2009 : 08.45:35]. Balasan BH : Info : Th 1993 ada org Medan membajak mentah2 ide EI, lalu kirim proposal minta dana ke Mensesneg Moerdiono. Untung ia gagal. Berkat TI, EI bs makin menasional. Ayo ! [Selasa, 25 Agustus 2009 : 09.47.19].

    Purnomo Iman Santoso/Semarang : Saya selalu harus ada persetujuan Pak Bambang Haryanto selaku pendiri EI. Dan sy tdk akan menggunakan jalur-jalur berbau KKN, koneksi pejabat dan sejenisnya. Mimpi saya bersifat melengkapi dan melibatkan pendiri dan Warga EI sebagai komunitas adalah utama. [Selasa, 25 Agustus 2009 : 04.16:18]. Balasan BH : Itu contoh sj. Saya percaya pribadi sd visi-misi Mas Pur demi kebaikan EI kita. Sy bersyukur atas ide hebat Mas Pur. Sy slalu siap ut melangkah bsm, mewujudkannya. [Selasa, 25 Agustus 2009 : 10.10:53].

    Purnomo Iman Santoso/Semarang : Tks Pak BH atas kepercayaannya. Saya sangat menghargai dan berpihak pada ide inovatif, pionir, genuine. Dan tdk respek pd imitasi mau pun second product. Bantu doanya Pak BH agar Tuhan dengan kuasanya yg tak terbatas berkenan menggenapi dan menyempurnakan langkah dan karya saya, keluarga, Pak BH dan warga EI yg kreatif-inovatif-genuine. Selamat berpuasa. [Selasa, 25 Agustus 2009 : 10.20:19].

    Terima kasih, Mas Purnomo.

    Gurat di tembok. Terima kasih pula kepada Anda semua yang berbaik hati mengirimkan pesan atau menorehkannya di “tembok” akun Facebook saya. Pesan-pesan di bawah ini saya baca dari email saya. Berhubung saya ingin berpuasa Facebook sebulan ini, maka mohon maaf, saya menjawab ucapan Anda tersebut melalui blog ini pula. Ada nilai plusnya : Di Facebook data Anda tidak tercatat oleh laba-laba mesin pencari Google, sementara di blog ini akan mereka catat sehingga mudah ditemukan.


    Hartati Syukur/HerbaLife-Jakarta : "## S'lamet ulang ta'on, mas hari ## S'moga tambah sehat + sejahtera + HAPPY lahir & bathin :-) ##" [Monday, August 24, 2009 5:16 AM].

    Balasan BH :”Terima kasih, Hartati. Dulu melalui Blue Book, kini melalui Facebook. Kado bluebookmu di tahun 1987 masih utuh lho. Kamus Inggris-Indonesia-nya John M. Echols dan Hassan Shadily, dimana pada halaman 285, abjad “H” telah kau ubah dengan ditambahi tiga huruf lagi dengan tinta merah. Mungkin kini, huruf tambahan itu sebaiknya berubah menjadi “HerbaLife” ya ? Selamat berteman dengan klub Inter Milan, David Beckham, isu-isu menarik seputar kesehatan dan kesejahteraan. Sukses selalu untukmu !”

    Diana Av Sasa-Indonesia Buku/Surabaya : "Selamat Ulang tahun pak Bambang.... panjang usia...terus menulis... hadiahnya ada di situs indonesia buku ya..." [Sunday, August 23, 2009 11:56 PM].


    Balasan BH :”Terima kasih, mBak Diana AV Sasa. Kado istimewa dari Indonesiabuku itu sungguh, weleh-weleh, bisa-bisa membuat topi saya tak lagi muat. Bengkak luarnya. Mabuk di dalamnya. Habis, engga sangka, tiba-tiba muncul reaksi berantai, macam-macam, dan susul-menyusul, setelah saya Anda beri kehormatan untuk mendongeng tentang manfaat plus kesaktian surat dan surat pembaca bagi anak-anak Pakis Baru, 14 Agustus 2009 yang lalu.

    Yang istimewa, seperti saya tulis untuk teman kuliah saya dulu, betapa interaksi saya dengan mBak Diana AV Sasa dan Muhidin M Dahlan, membuat “monster buku” yang lama meringkuk dalam hibernasi [istilah ini aku dengar pertama kali dari Anez] kini sepertinya sedang bangun dan mencari mangsa. Terima kasih untuk inspirasinya !”


    Hio Is Ariyanto/OI Bento House Solo : "Atas nama Warga Oi Bento House Solo mengucapkan Selamat ulang tahun Pak Bambang smoga sehat selalu dan selalu eksis dengan semua kegiatanya :)." [Sunday, August 23, 2009 11:27 PM].

    Balasan BH :”Makasih, Is, untuk ucapan dan doaku. Walau kita tak sering ketemu, tetapi melalui media dan hati, kita senantiasa saling mendukung dan mengompori. Banyak visi-misi kita berdua yang sama, sementara aplikasinya menjadi lebih kaya ketika kita memiliki beragam cara untuk menyampaikannya. Salaut dan salam untuk Warga Oi Bento House, Solo ! “

    Thomas Sutasman/Cilacap : "Selamat ulang tahun pak. semoga semakin berbahagia dan yang lebih penting semakin mencerahkan orang lain dengan surat pembacanya" [Sunday, August 23, 2009 10:59 PM].

    Balasan BH :”Terima kasih, Mas Thomas. Maaf, saya belum bisa mengunjungi lagi Segara Anakan sampai Benteng Pendem-nya Jepang di Cilacap. Tetapi terkait dengan aktivitas kita sebagai Warga EI, saya memendam salut dan kekaguman ketika Anda mampu menularkan virus agar anak-anak didik SMP Anda berani menulis surat pembaca.

    Mari hal positif ini kita terus tularkan kepada sejawat guru lainnya, bahwa menulis surat pembaca itu merupakan revolusi yang membawa perubahan bagi anak didik kita dalam memandang sekitar dan memandang dirinya sebagai kontributor perubahan untuk menuju kebaikan bersama. Saya bangga bisa mengenal Anda !”

    Sadrah Deep/Pasarsolo.com – Solo : "Happy Birthday Pak Bambang... :))" [Sunday, August 23, 2009 6:09 PM].

    Balasan BH :”Terima kasih, Sadrah, untuk ucapan, atensi, obrolan dan pertemanan kita selama ini. Tak sangka pertemuan kita saat Solo mencanangkan 30 Juli (2008) sebagai Solo Cyberholic Day, ke depan ini masih bisa kita isi dengan aktivitas yang berguna. Memang secara fisik kita tidak selalu bersama, tetapi saya tahu, kita selalu mengompori demi kemaslahatan bersama. OK ?”

    Panji Kartiko/Jakarta : "Met ulang taun yah mas Bambang... semoga ide-ide dan pemikiran semakin briliantnya ..!!" [Sunday, August 23, 2009 6:02 PM].

    Balasan BH : “Terima kasih, Mas Panji. Waktu terus berjalan, hiruk pikuk kita sebagai suporter Pasoepati, entah di Manahan, di studio Indosiar, di Senayan, sampai saat kita sama-sama mencetuskan 12 Juli (2000) sebagai Hari Suporter Nasional di Palmerah, mungkin terlihat surut.

    Tetapi panggilan untuk berbuat sesuatu, dengan media dan strategi baru, demi kemajuan sepakbola Indonesia, syukurlah, idealisme kita itu masih membara. Mari kita tuangkan bensin kedalamnya dalam perjuangan ke depan secara bersama-sama !”

    Yohanes Yantono/ISI Solo : "Selamat ulang tahun yo, semoga berkat Tuhan selalu melimpah, tambah bahagia dan sejahtera, merdeka..." [Sunday, August 23, 2009 5:31 PM].

    Balasan BH : “Terima kasih, Empu Yantono. Kalau kita reuni, kau bisa membawa keris buatanmu yang berpamor batu bintang, aku membawa pensil dan Martinus Driyarkoro dari Dian Desa Yogyakarta (?) bisa membawa contoh-contoh aplikasi teknologi tepat guna. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberi bimbingan bagi kita, agar menjadi insan yang berguna.”

    Muhidin M Dahlan/Yogyakarta : "Keluarga Besar Indonesia Buku dan Gelaran Buku mengucapkan selamat ulang tahun. Panjang usia surat pembaca. (Pimpinan Sekretariat Pusat)." [Sunday, August 23, 2009 2:26 PM].

    Balasan BH : “Terima kasih, Gus Muh. Mungkin terilhami oleh kegotongroyongan pasukan pengawal Jenderal Sudirman, yang markasnya saat bergerilya di tahun 1947 kita kunjungi 14/8/2009 yang lalu di Sobo, Pakis Baru, Pacitan, maka ucapan Anda pun mengatasnamakan pasukan Indonesia Buku. Bagi saya, ini berkah besar. Terima kasih untuk interaksinya dalam dinginnya udara Pacitan, tetapi panas bergelora dalam seia mengobarkan semangat dan budaya literasi untuk anak-anak bangsa.”

    Bakhuri Jamaluddin/Tangerang : "Dik BH, selamat ultah, semoga sukses selalu, he he klasik ya ? Kapan semua karyanya diterbitkan dlm Otobiografi, tapi jangan dijadikan satu edisi, nanti terlampau tebal melebihi Al-Qur'an.

    Ada edisi humor, edisi epistoholik, edisi suporter, edisi buku masuk desa, edisi komedi, edisi dunia maya, edisi museum rekor, edisi buka buka buku, edisi Persis dan PSSI, etc, etc. Wah bisa jadi Mini Public Library karya "Wong UI bali ndeso Wonogiri". Kamu Pasti Bisa, Doaku Menyertaimu, Insya' Allah !" [Sunday, August 23, 2009 9:22 AM].

    Balasan BH : “Terima kasih, Mas Bakhuri. Cita-cita untuk membuat buku senantiasa naik-turun bagiku. Terkait masalah interaksi dengan penerbit, pernah naskahku “dipendam” oleh penerbit dengan status tidak diterbitkan dan sekaligus juga tidak mau mereka kembalikan. Bahkan berkelit naskah hilang. Setelah surat pembaca aku tulis, mereka lalu memohon-mohon agar kasus ini tidak dibawa ke meja hijau saat mengembalikan naskah yang hilang itu. Hal itu membuatku trauma.

    Problem lain, pergeseran teknologi. Budaya buku, budaya cetak itu, kini menuju kematian. Sampai ada blog yang membahas topik itu : http://printisdeadblog.com/. Berhubung hal itu di luar apa yang bisa saya jangkau, saya mengerjakan saja apa yang bisa saya kerjakan. Kalau ada gagasan pengin menulis, ya menulis saja. Lalu dipajang di blog, media yang karena keajaiban digital menjadi sarana berekspresi yang egaliter.

    Perkara ada yang membaca atau tidak, perkara ada yang mengomentari, baik sedikit, banyak atau tidak ada sama sekali, biarkanlah semua itu terjadi. Proses atau petualangan yang bergolak dalam benda karunia Allah yang paling demokratis dan terletak antara kedua kuping kita itu yang senantiasa memberikan sensasi yang mencandu. “Menulislah sampai jari-jemarimu sakit,” kata komedian Jerry Seinfeld. Saya belum mencapai tahap itu.

    Terima kasih, Bakh. Idemu itu kini sedang bergolak, karena perkembangan teknologi pula yang mampu membuatku, juga kita semua, tak usah lagi bersinggungan dengan para penerbit komersial ketika kita hendak menerbitkan buku. Interaksiku dengan mBak Diana AV Sasa dan Muhidin M Dahlan, membuat “monster buku” yang lama meringkuk dalam hibernasi [istilah ini aku dengar pertama kali dari Anez] itu kini sepertinya sedang bangun dan mencari mangsa. Kita bisa bikin sesuatu yang berguna, Bakh, seperti kita saat menuntut ilmu di kampus UI Rawamangun dulu-dulu itu.”


    Estafet gagasan “Ideas won't keep. Something must be done about them,” tegas Alfred North Whitehead (1861–1947), filsuf dan matematikus Inggris. Gagasan mengenai masa depan komunitas penulis surat pembaca, Epistoholik Indonesia, memang tak hanya disimpan saja. Bila disimpan, ia hanya akan menjadi mumi belaka. Gagasan itu harus terus disebarluaskan. Harus pula memiliki wajah baru dalam pelakunya dan kreasi-kreasi baru dari mereka.

    Saya harus bersyukur, taman kiprah penulisan surat-surat pembaca itu yang berisikan beragam kembang-kembang gagasan, bisa mekar. Siraman air, belaian sinar matahari dan angin, serta tanah subuh yang menjanjikan untuk diolah, menjadi panorama pada hari ini. Hari hidupku, ketika Yang Maha Kuasa masih memberi patok waktu 56 tahun. Sebagai batu pijak baru, untuk berangkat berjalan lagi.

    Penyair kesayangan mendiang Presiden AS ke 35, John F. Kennedy (1917–1963), yaitu Robert Frost (1874–1963) memiliki puisi indah yang pernah aku tulis dalam skripsiku di tahun 1984 : Stopping by Woods on a Snowy Evening (1923). Dua puluh lima tahun kemudian, kuplet terakhir puisinya itu serasa menyapaku lagi :

    The woods are lovely, dark and deep.
    But I have promises to keep,
    And miles to go before I sleep,
    And miles to go before I sleep.



    Wonogiri, 24-25 Agustus 2009

    Wednesday, August 19, 2009

    Sumbu Pendek, Ekor Panjang dan Benturan Peradaban

    Oleh : Bambang Haryanto
    Esai Epistoholica No. 80/Agustus 2009
    Email : humorliner (at) yahoo.com
    Home : Epistoholik Indonesia



    Jebakan persepsi. Gambar perempuan mampu memicu pertengkaran. Satu gambar perempuan muda dan jelita, dan satunya lagi gambar perempuan tua renta.

    Satu kelompok akan bersikukuh bahwa gambar yang mereka lihat itu sosok perempuan muda dan jelita. Kelompok lainnya, melihat gambar yang sama sebagai wajah perempuan tua dan pendiriannya itu akan mereka bela mati-matian pula.

    Kalau Anda pernah membaca bukunya Stephen R. Covey, 7 Habits of Highly Effective People (1989), Anda akan menemukan ilustrasi yang mengejutkan itu. Sementara dalam bukunya yang lebih baru, The 8th Habit (2006), sosok kontroversi itu berupa gambar perempuan muda dan sosok pemain saksofon.

    Inti dari kasus perselisihan ini adalah : betapa dua orang dapat melihat obyek yang sama, saling tidak bersepakat, tetapi keduanya sekaligus sama-sama benar. Simpul Covey adalah : ini semua terjadi bukan terkait dengan logika, melainkan terkait erat dengan hal-hal psikologis.

    Gedor Covey kepada pemahaman kita selama ini : “Kalau kejadian 10 detik saja memiliki dampak begitu dahsyat bagi pemahaman kita terhadap dunia, bagaimana bila pengkondisian itu terjadi terus-menerus dalam sepanjang hidup kita ?”

    Kita ekstrapolasi : bagaimana bila pengkondisian itu ternyata sudah berlangsung ribuan tahun, berlabelkan hal yang kita nilai sebagai sesuatu yang tinggi, sakral, sekaligus sangat peka, yaitu agama ? Bagaimana pula bila pengkondisian dalam agama tersebut, agama apa saja, senantiasa sangat kental diwarnai dengan upaya penyeragaman, uniformitas, yang sekaligus menegasikan keberagaman, pluralitas ?

    Dunia kiranya hanya akan mencatat pelbagai perang dan perang semata. Juga potret-potret tindak kekejaman. Itulah yang terjadi bila ada sebagian umat bersikukuh mendukung doktrin keseragaman, baik agama, ras, budaya, politik sampai ekonomi. Contohnya, adalah Hitler dengan Nazinya, yang mengagungkan ras Arya, telah melahirkan peristiwa Holocaust yang mengerikan. Faham fasis serupa belumlah mati.


    Seragam bila mati. Kita tahu, upaya penyeragaman selalu mengalami kegagalan. “Life is plurality,” begitu kata Octavio Paz (1914-1998), diplomat, penulis dan penyair asal Meksiko. Dan hanya, “death is uniformity,” lanjutnya. Hidup itu beragam, sedang kematian adalah seragam. Apa yang mampu membuat dunia ini berputar, tutur Paz, adalah terjadinya saling memengaruhi antara pelbagai perbedaan, yaitu daya tarik dan daya tolaknya.

    Bila terjadi penindasan terhadap perbedaan dan beragam keunikan, dengan mengenyahkan peradaban dan budaya yang berbeda, kedepannya semua itu semata melemahkan kehidupan karena lebih memilih kepada kematian. Keseragaman sesuatu yang mustahil. Kalau Allah memang menghendaki keseragaman itu sejak semula, niscaya kita semua sekarang ini telah dijadikan dalam satu umat sejak manusia diciptakan olehNya.


    Gempa bumi dahsyat. Keberagaman dalam pelbagai sendi kehidupan umat manusia itu kini semakin mengemuka ketika Internet semakin berperan penting dalam kehidupan umat manusia. “Internet adalah gempa bumi berkekuatan 10,5 Skala Richter yang mengguncang sendi-sendi kehidupan umat manusia,” tegas “nabi digital” Nicholas Negroponte dari Media Lab, MIT, Amerika Serikat.

    Salah satu fenomena terdahsyat dari Internet adalah kehadiran beragam media sosial, yang dapat hadir dalam beragam bentuk. Misalnya milis, forum, blog, wiki, podcast, album foto dan video di Internet. Media sosial berbeda dibanding media industri seperti surat kabar, televisi dan film. Kalau media industri membutuhkan biaya besar dan sumber daya mahal untuk menerbitkan informasi, media sosial menyediakan sarana murah bagi setiap orang untuk menjadi produser informasi.

    Fenomena ini membalikkan konsep media massa menjadi menciptakan media untuk massa. Setiap orang kini dengan bersenjatakan sarana penerbitan berbasis web yang murah, mudah dikelola, dengan koneksi yang selalu tersambung dan semakin canggihnya sarana komunikasi bergerak, mendaulat mereka menjadi partisipan yang aktif dalam menciptakan berita atau informasi, sekaligus berperan dalam penyebarannya.

    Chris Anderson dalam bukunya The Long Tail : Bagaimana Pilihan Tak Terbatas Menciptakan Permintaan Tak Terbatas (2007), mengungkap ketika semua orang kini berpotensi menjadi produser informasi, maka akan hadir fenomena the long tail, si ekor panjang. Dalam fenomena itu pilihan kita hampir tidak terbatas dan ketika segala sesuatunya menjadi tersedia bagi setiap orang. Keragaman benar-benar menjadi raja.

    Simak ilustrasi di bawah ini :



    Chris Anderson menunjukkan bahwa selama ini dunia bisnis bertumpu pada produk-produk best seller, alias pembuat hit di bagian kepala (head), bagian paling tebal dalam kurva permintaan tradisional. Ekonomi pembuat hit ini memfokuskan bisnisnya hanya menggarap produk atau talenta yang menurut mereka potensial untuk dijual. Ekonomi pembuat hit merupakan kreasi di mana TIDAK CUKUP RUANG untuk menampung segala hal dan tidak mampu memenuhi kebutuhan setiap orang pula.

    Rinciannya : tidak cukup ruang di rak-rak toko buku untuk mampu menampung semua buku yang diterbitkan, dan juga semua CD, DVD atau games yang diproduksi. Tidak cukup layar bioskop untuk menayangkan semua film yang ada. Tidak cukup saluran untuk menyiarkan semua acara televisi yang ada. Tidak cukup pula gelombang radio untuk mengudarakan seluruh ciptaan musik yang ada, dan tidak cukup jam setiap harinya bagi kita untuk menyapu semuanya itu di pelbagai slot-slot yang tersedia. Itulah potret diri dunia kelangkaan, the world of scarcity.

    Sementara itu dewasa ini, berkat Internet yang membuka distribusi dan eceran secara online, kita memasuki jaman limpah ruah, the world of abundance. Dan perbedaannya sangatlah dahsyat. Menurut Chris Anderson, dunia bisnis masa depan tidaklah bertumpu pada produk-produk best seller, alias pembuat hit di bagian kepala (head) itu, melainkan pada produk-produk yang sampai belum lama ini dianggap gagal atau sampah, yaitu produk-produk di bagian ekor panjang (the long tail) yang tak ada habisnya, pada kurva yang sama.

    Sekadar contoh dalam bahasa industri musik, bagian kepala adalah ranahnya major label dan bagian buntut merupakan lahan kiprahnya kaum indie, kaum yang berkarya sesuai kata hati mereka. Dalam dunia apparel, bagian kepala adalah porsi untuk supermarket atau toko fashion besar, sementara pada bagian buntut adalah lahan kiprah bisnisnya beragam distro. Dan tidak sedikit dari mereka yang berkiprah di ranah buntut panjang ini menuai sukses besar pula.

    Chris Anderson memiliki tamsil menarik untuk menggambarkan perubahan dahsyat ini. Dalam ekonomi pembuat hit atau produk-produk top, baik buku, lagu sampai film, ibarat pulau-pulau yang menyembul di atas permukaan air. Tetapi ketika air itu surut dan mengering, di bawah puncak-puncak itu akan kita temukan beragam obyek yang selama ini tidak terlihat dalam pandangan kita.

    “Yang mulai kita lihat, ketika pengecer online mulai menyambut peluang untuk memanfaatkan jalur distribusi yang sangat efisien dan murah ini adalah gunung raksasa sangat dahsyat yang sebelumnya hanya nampak puncaknya,” tegas Chris Anderson. Untuk itu, kita harus juga angkat topi kepada Larry Page dan Sergei Brin, berkat bantuan mesin pencari Google kreasi mereka, membuat produk atau informasi apa pun di Internet sekarang ini mudah sekali Anda temukan !

    Dalam konteks diskusi kita saat ini, dengan merujuk tema pengaruh Internet dan blog terhadap perkembangan kehidupan beragama dan budaya bertoleransi di Soloraya, maka kita, hemat saya, harus mempersiapkan diri menghadapi maraknya fenomena si buntut panjang tersebut. Apalagi Solo masih belum luntur memiliki stigma sebagai kota bersumbu pendek, dimana perbedaan pendapat atau faham seringkali diselesaikan dengan adu fisik dan bukan dengan adu visi.

    Fenomena si buntut panjang, seperti lajimnya suatu temuan teknologi, senantiasa memiliki sisi baik dan sisi buruk. Maraknya pemanfaatan media-media sosial, membuka potensi semua orang untuk berbicara, berekspresi, dan meluaskan pengaruh. Tetapi juga sekaligus mampu memicu persaingan dan bahkan benturan.

    Khusus benturan yang terkait dengan agama saya, agama Islam, ada beberapa ilustrasi yang mengemuka akhir-akhir ini. Misalnya, baru saja sebagian umat Islam Solo menyambut kedatangan jasad Air Setiawan dan Eko Peang, dengan dielu-elukan sebagai martir atau syuhada, setelah keduanya tewas di Bekasi terkait aksi aparat dalam menumpas terorisme di Jakarta.

    Sementara itu di Jalur Gaza, saat menguping siaran BBC (14/15/2009), diwartakan bahwa penguasa kawasan itu, yaitu Hamas, terlibat bentrokan bersenjata di sebuah masjid melawan kelompok Islam radikal yang menamakan diri sebagai pendiri keemiratan di Gaza, berjulukan Tentara Tuhan. Kelompok itu menyebutkan bahwa Hamas dituduh tidak cukup Islami dibandingkan diri mereka. Pemimpinnya, Abdul Lateef Mhousa, akhirnya tewas. Ia meledakkan dirinya sendiri dengan rompi bom. Korban tewas dalam bentrokan itu, 22 orang.

    Di Nigeria, umat muslim juga saling berperang antarmereka. Di Irak, perang antara Sunii vs Syiah, masih membara. Di Pakistan dan Afghanistan, pemerintahan muslimnya juga memerangi kelompok muslim yang radikal, Taliban.

    samuel huntington,the age of muslim wars,benturan peradaban,newsweek januari 2002

    Samuel Huntington dalam artikelnya “The Age of Muslim Wars” di Newsweek, Des 2001-Feb 2002 (ditunjukkan dalam foto) menyebutkan bahwa pentas politik global kontemporer dewasa ini diisi era peperangan kaum muslim. Baik perang antarkaum muslim sendiri dan juga perang kaum muslim melawan kaum non-muslim. Tetapi ia optimistis, ketika menyimpulkan bahwa peperangan ini akan surut pada tahun 2020-an, ketika gelembung penduduk muda muslim (muslim youth bulge) mengempis.

    Sebelum era 2020-an itu datang maka Internet dan blog akan menjadi ajang perang dan benturan budaya itu. Juga di Solo kita ini. Tetapi, hemat saya, selama benturan itu masih berupa kata-kata di layar komputer, di layar televisi dan radio atau dalam bentuk demo di jalanan, bukan sabetan pedang atau ledakan bom, kita tak usah terlalu risau. James Buchanan (1791-1868), presiden AS ke-15, menyatakan : “Saya suka gaduhnya demokrasi.”

    Mudah-mudahan obrolan kita ini juga menjadi gaduh dalam upaya membangun budaya dialog yang produktif dan inklusif, untuk memanjangkan sumbu wawasan dan kreatitivitas warga Solo dalam mengarungi masa depan. Saya bangga bisa bersama Anda dalam momen bersejarah ini.


    Catatan : Makalah ini disampaikan dalam diskusi bertema “Pengaruh Internet dan Blog Terhadap Perkembangan Kehidupan Beragama dan Budaya Bertoleransi di Soloraya” yang diselenggarakan oleh LSM Commitment Solo, 19 Agustus 2009.

    Diskusi yang juga membicarakan peranan surat pembaca itu diselenggarakan sejalan dengan peluncuran blog Mediakeberagaman.com. Pembawa makalah lainnya adalah juga warga Epistoholik Indonesia, FX Triyas Hadi Prihantoro, guru SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta, yang aktif menulis di blog dan media massa.


    Wonogiri, 19 Agustus 2009


    ee

    Monday, August 10, 2009

    Monster Hydra, Budaya Jawa dan Terorisme

    Oleh : Bambang Haryanto
    Esai Epistoholica No. 79/Agustus 2009
    Email : humorliner (at) yahoo.com
    Home : Epistoholik Indonesia


    bambang haryanto,artikel,terorisme,budaya jawa,noordin m top,solopos 10/8/2009

    Harmoni orang Jawa. Noordin M Top diduga telah tamat riwayatnya. Yang mengagetkan, gembong aksi terorisme nomor wahid di Asia Tenggara itu tewas dalam serangan Densus 88 di Beji, Temanggung. Sebelumnya, aparat memburunya sampai Cilacap, tempat ia diduga memiliki istri ketiga.

    Mengapa teroris asal Malaysia itu nampak nyaman bersembunyi dan sekaligus terus giat merancang aksi-aksi terornya dari Jateng?

    Sebagai teroris yang licin, tampaknya Noordin tahu benar kelemahan budaya Jawa. Kita tahu, budaya Jawa itu memiliki pandangan ketat mengenai pentingnya harmoni, keselarasan. Perasaan yang terinternalisasi secara mendalam dalam jiwa orang Jawa adalah kepekaan untuk tidak dipermalukan di muka umum.

    Perasaan demikian memupuk konformitas, pengendalian tingkah laku dan menjaga ketat harmoni sosial. Konflik yang terjadi diredam sekuat tenaga. Reaksi normal setiap orang Jawa dalam menanggapi konflik adalah penghindaran, wegah rame dan mediasi oleh pihak ketiga.

    Sikap wegah rame tersebut, misalnya, mencuat pada kasus ketidakacuhan warga perumahan Jatiasih, Bekasi, terhadap pengontrak baru yang tak pernah bergaul dan berlaku tidak wajar. Ketika penggerebekan terjadi, mereka baru terkaget-kaget karena lingkungannya jadi sarang teroris. Sikap wegah rame itu pula disiratkan Kapolda Jawa Tengah Alex Bambang Riatmodjo (saat) menyatakan teroris telah menjadikan Jateng sebagai persembunyian dan wilayah perekrutan teroris-teroris baru.

    Payung perlindungan. Kasus di Cilacap di mana keluarga Bahrudin Latif menikahkan anak gadisnya dengan laki-laki yang dicurigai sebagai Noordin M Top, semoga membuka mata kita betapa taktik penyusupan kaum teroris telah merambah ke ranah yang tidak kita duga sebelumnya.

    Ahli intelijen yang khusus mengkaji gerakan Jemaah Islamiyah (JI) Noor Huda Ismail seperti dikutip situs Jakarta Globe (31/7) mengatakan bahwa taktik licin itu dilakukan Noordin M Top di tempat lain sebagai sarana untuk melindungi dirinya. Apalagi taktik serupa diyakini tidak hanya dilakukan oleh Noordin semata.

    Sebelum di Cilacap, Noordin menikahi Munfiatun di Surabaya tahun 2004. Munfiatun ditangkap tahun 2005, dihukum tiga tahun, dibebaskan tahun 2007. Sebelumnya, Noordin dipercayai memiliki istri pertama asal Rokan Hilir, Riau. Pada 2003, rumah ini digeberebeg, tetapi dia lolos.

    Noordin memang teroris yang julig. Menurut Noor Huda Ismail, ia tahu bagaimana melakukan pendekatan terhadap komunitas yang dapat memberikan perlindungan padanya, utamanya dari komunitas yang mencita-citakan berdirinya negara Islam di Indonesia. Payung budaya perlindungan dalam jaringan Islam radikal itu ia perkokoh melalui jalinan kekerabatan yang diikat tali perkawinan.

    Kesetiaan yang tinggi antarmereka akhirnya memudahkan gembongnya melakukan cuci otak dalam mengindoktrinasi anak-anak muda yang terisolasi tersebut untuk menjadi martir bersenjatakan bom bunuh diri.

    Penetrasi jaringan teroris kini memasuki ranah yang oleh sebagian besar kebanyakan kita sebagai warga suku Jawa merasa tidak berhak ikut campur karena berada di ranah pribadi, ranah keluarga. Tetapi karena aksi terorisme itu berdampak luas, kini setiap warga negara harus menjadi bagian paling depan untuk ikut aktif memeranginya. Apalagi terorisme sering digambarkan seperti monster Hydra dalam mitologi Yunani. Monster itu memiliki sembilan kepala, bila satu kepala ditebas, akan muncul dua kepala baru menggantikannya.

    Jika ternyata tewas, dikhawatirkan Noordin segera digantikan oleh wajah-wajah baru. Monster Hydra itu baru dapat dikalahkan oleh Hercules dengan mencabut akarnya. Perumpamaan itu menunjukkan bahwa aksi penumpasan teroris yang mengandalkan aksi-aksi pihak yang berwajib, tidak akan seratus persen efektif. Solusi idealnya adalah masyarakat harus bekerja sama membuat teroris menjadi “impoten”.


    Sindrom jendela pecah. Yang ditakuti teroris bukan kematian, tetapi ketika mereka tidak mampu menyerang. Aksi pencegahan untuk melumpuhkan dan mempersempit ruang gerak teroris itu dapat terjadi bila ada kedekatan, terbinanya rasa percaya, antara warga dengan pihak berwajib, khususnya polisi. Kredo Kapolda Alex Bambang Riatmodjo ketika awal memangku jabatan bertajuk the policing with love, pemolisian dengan pendekatan cinta, kini semakin dinanti realisasinya.

    Tanpa realisasi hal itu, apalagi bila pihak berwajib di mata masyarakat malah dicitrakan sebagai korup, berlaku tidak adil, apalagi suka menyakiti rasa keadilan masyarakat, maka rakyat pasti enggan berhubungan dengannya. Rakyat akan menjauh.

    Akibatnya, semua gejala dini tindak kejahatan sampai hal-hal yang mencurigakan akan mereka diamkan, tidak dilaporkan kepada polisi. Sehingga, teroris dan penjahat pun akan leluasa meneruskan aksinya.

    Gejala dini itu oleh kriminolog James Q Wilson dan George Kelling disebut sebagai sindrom broken windows (jendela pecah), untuk menerangkan asal muasal epidemi tindak kejahatan. Mereka berpendapat, kriminalitas merupakan akibat tak terelakkan dari ketidakteraturan.

    Jika jendela sebuah rumah pecah namun dibiarkan saja, siapa pun yang lewat cenderung menyimpulkan pastilah di lingkungan itu tidak ada yang peduli atau bahwa rumah itu tidak berpenghuni. Dalam waktu singkat, akan ada lagi jendelanya yang pecah, dan belakangan berkembang anarki yang menyebar ke sekitar tempat itu.

    Menurutnya, di sebuah kota, awal yang remeh seperti corat-coret grafiti, ketidakteraturan dan pemalakan, semua setara dengan jendela pecah, ajakan untuk melakukan kejahatan yang lebih serius lagi.

    Awal yang remeh itu juga bisa terjadi dalam atmosfir budaya Jawa, justru ketika kita berusaha menjaga harmoni bertetangga. Harmoni itu pula yang mampu membuat kita terlena, menumpulkan sikap waspada, sehingga tidak tergelitik dalam mengendus ketidakwajaran. Mengambil contoh di Cilacap, jangan sampai kita tidak menyadari bahwa anak gadis tetangga adalah istri seorang teroris berbahaya.


    [Artikel ini dimuat di Harian Solopos, Senin, 10 Agustus 2009 : Hal.4].




    Wonogiri, 11/8/2009

    ee