Showing posts with label media digital. Show all posts
Showing posts with label media digital. Show all posts

Sunday, August 22, 2010

Ratapan Anak Tiri, Gandhi dan Penulis Surat Pembaca

Warga Epistoholik Indonesia Di Tengah Jagongan Media Rakyat 2010 Yogyakarta-Bagian 2


Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 103/Agustus 2010
Email : epistopress@gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


Makhluk hibrida yang ganjil.
Itukah profil penulis surat pembaca ?

Penulis surat pembaca boleh jadi merupakan gabungan muskil antara sosok demonstrans yang marah setiap hari, komedian dengan daya observasi jeli, sedikit aliran darah teroris dalam dirinya, secuil karakter dermawan intelektual yang malu-malu, dan sedikit banyak dikaruniai keterampilan mengasah pena bak seorang wartawan.

Barangkali karakter semacam itu yang membuat penulis surat pembaca, utamanya kaum epistoholik, hadir sebagai makhluk yang aneh justru di mata media tempat mereka sering mengekspresikan diri.

Di forum talkshow Jagongan Media Rakyat 2010, 23 Juli 2010, di Yogyakarta, saya sempat melontarkan pertanyaan itu ke forum : penulis surat pembaca itu anak tiri atau anak emas media ? Dalam obrolan yang dipandu Mukhotib MD yang mengelola blog mmdnews.wordpress.com itu saya tidak memperoleh jawaban saat itu. Tak apa-apa.

Bagi saya, yang menulis surat pembaca sejak tahun 1973, penulis surat pembaca adalah anak tiri media massa. Kehadirannya mereka butuhkan, boleh jadi hanya sebagai filler, pengisi ruang kosong semata. Kalau kapling itu dipakai untuk iklan, maka mudah saja kolom itu dikorbankan. Atau diubah, sehingga kaplingnya menjadi pletat-pletot, yang secara visual mereduksi wibawa keberadaannya.

Penulis surat pembaca memang bukan siapa-siapa di mata pengelola media. Walau setiap kali membaca-baca fotokopi kartu tanda penduduk mereka, tetapi pernak-pernik tentang apa dan siapa dirinya, kapasitasnya, latar belakangnya, aspirasinya, sosoknya sebagai manusia, semua itu nampaknya menjadi isu yang tidak begitu penting bagi media bersangkutan. Mereka tidak tertarik untuk membuat semacam bank data tentang para kontributor kolom surat pembaca mereka.

Sehingga ikhtiar yang berusaha memanfaatkan data penting itu sebagai bahan ramuan untuk membuat lebih molek dan lebih bernasnya kolom bersangkutan, nampaknya gagasan semacam ini terlalu jauh untuk bisa masuk jangkauan daya pikir pengelola media atau pun kolom bersangkutan.

Maklum, barangkali, karena pengelola kolom itu juga manusia biasa. Boleh jadi dirinya sudah keberatan beban menjalani tugas utamanya sebagai wartawan, sementara timbunan surat-surat pembaca yang ada membuat dirinya hanya mampu bekerja ibarat ulah seekor bajing yang lari-lari berputaran di kandang rotornya sehari-hari.

Pokoknya asal ada surat pembaca yang bisa tampil pada setiap penerbitan, cukup sudah pekerjaan mereka. Bahkan kalau tidak ada, tidak sedikit yang melakukan rekayasa, dengan membuatnya sendiri pula. Karena banyak wartawan muda yang bercerita sendiri, bahwa ketika dalam masa pelatihan mereka selalu mendapat tugas untuk menulis surat-surat pembaca.

Tidak aneh dengan pendekatan business as usual itu kemudian penjaga kolom surat-surat pembaca sering dipercayakan kepada wartawan-wartawan sepuh, mereka yang tidak dituntut lagi untuk menulis, karena mendekati pensiun. Akibatnya, entah mana yang duluan, telor atau ayam (menurut kajian ilmiah, oleh Dr Colin Freeman dari Sheffield University's Department of Engineering Materials, ayam yang duluan !), dalam arti entah karena penulis surat pembacanya atau penjaga rubriknya, isi kolom-kolom surat pembaca di media-media massa kita saat ini, menurut saya, isinya membosankan.

Selain surat-surat pembaca yang generik, tentang kehilangan barang atau surat berharga sampai keluhan konsumen, isinya yang berupa sumbang saran gagasan kebanyakan tidak inspiratif. Isinya seringkali tak lain dari daur ulang pernyataan para pejabat, paparan opini sampai fatwa-fatwa klise, yang kesemuanya kurang menggugah untuk menyeruak cakrawala kepada pemikiran baru, pemahaman yang baru.

Pintu perubahan. Padahal keberadaan kolom itu, menurut saya, merupakan tumpuan eksistensi media cetak dalam berinteraksi dengan audien mereka di tengah berlangsungnya badai revolusi media yang menderu saat ini. Yaitu ketika media-media berbasis atom atau kertas mau tak mau, cepat atau lambat, harus berevolusi atau ber-revolusi menjadi media berbasis digital dengan segala pengorbanan dan peluang yang mungkin terjadi.

Pintu interaksi itu semula hanya kecil di media berbasis atom. Ya kolom surat pembaca itu. Kini, di era digital ini, sudah seharusnya pintu tersebut menjadi membesar adanya. Karena lewat pintu yang membesar itulah arus jaman mengalir dan mengkristal kini menjadi gerakan jurnalisme warga, ketika media hadir digerakkan sendiri oleh para pembacanya. Sampai-sampai seorang Dan Gillmor, pendiri gerakan jurnalisme warga itu, tak sungkan untuk merendahkan diri. Ucapannya yang terkenal adalah : "My readers know more than I do."

Untuk mencerna apa yang terjadi, Stephen Baker dan Heather Green ("yang cantik") dalam laporan utama berjudul "Blog Akan Mengubah Bisnis Anda" di majalah BusinessWeek (11/5/2005), telah menulis : "Dalam era media massa, penerbit seperti BusinessWeek mencetak berita. Sumber-sumber mencoba untuk dikutip. Namun, keputusan tetap di tangan kami. Begitu pula dengan surat-surat kepada redaksi."

"Kini," tulis mereka selanjutnya, "publik tak hanya dapat bicara melalui kami. Mereka dapat menulis cerita mereka dalam blog. Dan, bila mereka menguasai serba-serbi bentuk komunikasi yang baru ini-seperti cara blogger lain dapat terhubung kepada blog mereka-mereka dapat menjangkau khalayak dalam jumlah yang amat besar."

"Dan ini baru permulaan," tegas mereka. "Dengan sistem ini, tembok antara penerbit dan publik runtuh. Fenomena blog membalikkan konsep media massa menjadi menciptakan media untuk massa."

Jin memang telah keluar dari botolnya. Media massa utama sudah tak mampu lagi mengembalikan kendali yang semula berada dalam genggamannya. Mereka sepertinya terlambat menangkap peluang sejarah. Dengan posisi seperti itu, sesungguhnya, menulis surat-surat pembaca di media-media massa menjadi tidak begitu seksi lagi.

Terlebih lagi karena sisa kendali yang masih mereka miliki kebanykan hanya akan membuat penulis surat pembaca terserimpung dalam upayanya memperoleh umpan balik atas karyanya secara seketika. Terhempang pula stimulasi batin yang berpeluang mereka terima sebagai pemacu nyala api kreativitasnya dalam berkarya di hari-hari mendatang.

Penghalang itu adalah : banyak koran menghilangkan data email atau blog Anda, bahkan nomor HP Anda, untuk muncul pada pemuatan surat-surat pembaca Anda. Bahkan juga untuk kolom serupa di media online mereka. Sehingga di era digital dan interaktif ini orang lain yang berniat mengontak Anda harus melakukan upaya yang cumbersome, sekaligus sangat menyiksa.

Mereka harus rela menulis surat di atas sehelai kertas, membeli perangko dan menunggu lama balasan atas snail mail yang mereka kirimkan tersebut. Benar-benar kendali yang sungguh mencekik di jaman digital ini. Belum lagi, Anda tahu, betapa rada kosongnya hidup ini bila teriakan Anda hilang begitu saja tanpa gema.

Burung di genggaman. Dalam acara di Jagongan Media Rakyat 2010 itu saya munculkan ilustrasi tentang topik di atas, ketika seorang mahasiswa, Arham, bertanya. Ia ingin tahu tentang sejauh mana perkembangan yang saya alami secara pribadi sebagai penulis surat pembaca di media cetak dan kini sebagai seorang blogger.

Saya jawab : "Kalau saya hanya menulis di media cetak, pasti nama dan karya tulis saya tidak terekam oleh mesin pencari Google, maka boleh jadi nama saya tidak mungkin terdeteksi oleh LSM Combine (penyelenggara JMR 2010), dan pastilah saya bakal tak bisa hadir di sini untuk menemui Anda semua."

Penulis surat pembaca memang anak tiri media massa. Di tengah gelombang badai media digital, yang kalau Anda menyaksikan video di YouTube berjudul "Social Media Revolution" Anda akan diguncang tuntutan sesuai derak lirik lagunya Fat Boy Slim, "Right here, right now !," ternyata penulis surat pembaca tidak pula di-reken oleh media massa arus utama sebagai mitra untuk bertahan dalam aura denial, pengingkaran, di era digital. Penulis surat pembaca adalah seekor burung dalam genggaman mereka, tetapi lalu dilepaskan begitu saja.

Sebaliknya media-media lama itu malah nampak ngiler melihat sekumpulan burung di awan. Lihatlah, media arus utama kini lagi sibuk saling melakukan copy/paste trik media lainnya dalam upaya mempertahankan oplag mereka. Mereka kini sibuk berusaha menjaring "burung-burung yang terbang di awan " itu, baik anak-anak TK, SD, SMP dan SMA, sampai mahasiswa, untuk dicegah sekuatnya agar tidak meninggalkan koran mereka.

Ada yang melalui trik membuat kelompok fokus, mengadakan kompetisi majalah dinding, pertandingan basket, mengulik gaya hidup anak muda, ramai-ramai naik sepeda, bimbingan jurnalistik ke pelbagai pesantren, dan lain sebagainya. Yang menarik adalah, mereka pula yang kemudian menuliskan semua kegiatan itu di medianya. Bukan ditulis oleh subyek yang mereka jadikan sasaran "pembinaan" bersangkutan.

Penulis surat pembaca, burung yang ada dalam genggaman, tidak pernah masuk dalam layar radar mereka. Akhirnya kita pun sebagai kaum epistoholik hanya bisa tahu diri, dan bersyukur bila posisi sebagai anak tiri itu membuka cakrawala akan hadirnya berkah yang melimpah.

Posisi semacam ini menggembleng kita untuk mampu berusaha menemukan jalan-jalan baru untuk berkreasi, juga mengeksplorasi media-media baru untuk berekspresi. Apalagi bukan sebagai suatu kebetulan bahwa eksistensi komunitas Epistoholik Indonesia ini berusaha saya hidupkan kembali di tahun 2003, ketika fenomena blog muncul di permukaan dan saya terpapar pesonanya saat itu pula.

Tetapi waktu sepanjang hampir sewindu ini ternyata memang tidak mudah memberikan pemahaman mengenai roh sampai potensi kehadiran blog bagi kemajuan asah intelektual rekan-rekan sesama penulis surat pembaca. Boleh jadi karena pemahaman itu akan baru bisa mereka peroleh, untuk dinikmati dan dihayati, apabila semua aksi itu telah mereka jalani dengan cinta, dengan dedikasi sepenuh jiwa dalam waktu yang lama.

Akibatnya, tidak sedikit teman seiring yang kemudian memilih berhenti di tengah jalan. Bosan. Mereka tidak berselera menulis surat-surat pembaca lagi. Sungguh disayangkan, sepertinya mereka terhenti sebelum menemukan rumusan bagaimana kedahsyatan surat-surat pembaca yang mereka tulis itu mampu mendatangkan manfaat secara fokus untuk menunjang sukses karir, bisnis, sampai cita-cita idealnya sebagai sosok manusia istimewa.

Saya tak bisa menghalangi. Sebagai bekal, mungkin petuah dalam kosmologi suku Jawa, "kelakone ngelmu kanthi laku," dapat bermanfaat sebagai cermin. Petuah hebat itu telah dieksplorasi seorang Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers: The Story of Success ( 2008). Inti ajarannya, bercermin dari sukses Mozart, Bill Gates sampai The Beatles, bahwa tanpa lelaku atau yang oleh Robert Sternberg disebut sebagai "practical intelligence" yang gentur, alias menuntut ketekunan serta menghabiskan ribuan jam dalam latihan, janganlah mengharapkan kesaktian atau keberhasilan akan hadir menyatroni yang bersangkutan.

Boleh jadi karena beratnya tuntutan itu maka banyak teman sesama kaum epistoholik dalam hadir di dunia maya tidak banyak yang mengelola blog secara tekun, fokus dan konsisten. Mereka lebih terpesona pada Facebook, media murah meriah untuk mengekspresikan diri. Utamanya untuk menulis status semata, dan bukan untuk memberikan kontribusi secara lebih serius dalam kanal blog yang ada, yaitu kolom My Note yang tersedia. Dan di dalam kubangan Facebook itu, kita tahu, betapa sulitnya untuk menjadi konsisten dalam menghadirkan jati diri kita sebagai insan unik di persada dunia ini.

Sebagai klangenan. Bagi saya kini, di tengah media-media digital yang baru itu, aktivitas menulis surat pembaca di media cetak kini terasa sebagai aktivitas yang antik. Seperti orang-orang yang setiap hari bermobil, kemudian di akhir pekan mereka ramai-ramai bersepeda. Kolom surat pembaca dulu ibarat sebagai media perjuangan, kini barangkali bisa disebut sebagai wahana klangenan belaka, sebagai kegiatan ringan yang mengasyikkan untuk mengisi waktu senggang.

Tetapi bagi saya, memburu klangenan itu pun ternyata bukan persoalan mudah. Ada pengalaman pribadi, ketika di bulan Juli 2010 yang lalu saya telah mengirimkan email berisi sejumlah surat pembaca. Alamat yang saya tuju adalah alamat email yang tertera di koran itu pula. Beberapa hari kemudian, saya memperoleh balasan. Antara lain berisi teks berbunyi : The email account that you tried to reach does not exist. Akun email itu dinyatakan tidak ada.

Artinya : email berisi surat pembaca saya itu tidak "tembus." Satu-dua bulan sebelumnya, saya mengirimkan surat pembaca ke media lainnya. Mendapat balasan serupa. Email saya tidak "nembus" pula. Saya pikir ini hanya merupakan persoalan teknis, suatu online glitch, maka saya mengirimkannya lagi dengan akun email yang berbeda. Ternyata, tidak lagi "nembus" untuk kedua kalinya.

Sudahlah. Mungkin bencana saya ini semata kebetulan belaka. Atau sebut saja sebagai "karma," karena di blog saya pernah menulis kritikan untuk koran-koran tersebut dalam mengelola kolom-kolom surat pembacanya.

"Para blogger senang menyebarkan kesalahan-kesalahan kami. Mereka hendak menjatuhkan kami dari posisi penting yang kami duduki sejak surat kabar pertama dijual," begitu tutur lanjut Stephen Baker dan Heather Green dalam majalah BusinessWeek edisi yang sama. Saya sudah melakukan perbuatan "menyebarkan kesalahan-kesalahan" itu, dan rupanya kini saya memperoleh balasan balik dari mereka. Terima kasih.

Hanya saja, semoga pengelola media massa yang menghukum saya juga mau menyimaki pernyataan kedua wartawan majalah bisnis terkemuka itu, yang terasa lebih manusiawi, tahu diri, dan mengharukan. Dengan jujur keduanya berkata : "Kami, media tradisional, menyadari sepenuhnya bahwa kami hanya mengontrol bagian yang semakin kecil dari pengetahuan manusia."


Menari sendiri. Dunia sudah berubah, kawan. Kalau dulu, dan berulang kali saya tulis di blog ini pula, penulis surat pembaca ibarat bayi yang tali pusarnya selalu tersambung dengan media massa bersangkutan. Tetapi di era digital kini, ketika sang ibu itu sendiri kini juga lagi kelimpungan dalam mempertahankan hidupnya sendiri, keputusan penting harus dijatuhkan.

Landasannya, simak pesan video di YouTube yang berjudul Prometeus - The Media Revolution, yang inspiratif ini. Di situ Anda akan memperoleh informasi yang sebenarnya tidak lagi mengagetkan, tetapi di negeri ini banyak diingkari. Bunyinya : "Blogs become more influential than the old media" sampai "24 of 25 largest newspaper are experiencing record declines in circulation."

Hidup media-media baru.
Selamat tinggal galaksi Gutenberg, media-media lama.

Tiba saatnya sang anak tiri itu untuk memutus tali pusarnya sendiri. Karena dirinya sudah besar. Sudah mampu mandiri. Dan dengan blognya pula dirinya mampu menari, dengan irama yang ia pilih sendiri pula.

Meminjam tamsil seorang Stephen R. Covey, media-media untuk massa itu merupakan sarana setiap insan untuk menemukan suara-suara otentik mereka sendiri. Mereka-mereka itu tak ubahnya Sokrates atau Gandhi, yang perjuangannya mampu mengubah dunia semata dipandu kehendak menuruti suara-suara otentik mereka sendiri !



Wonogiri, 21-22 Agustus 2010

Thursday, December 18, 2008

Ketika Tribune Co. Bangkrut

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 65/December 2008
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Politik burung unta. Pemimpin redaksi koran lokal pulang larut malam. Ia naik sepeda dan memboncengkan teman sekerjanya, redaktur pelaksana. Di tengah perjalanan mereka memergoki sebuah rumah yang agak ramai dikerubungi warga setempat. Ternyata si empunya rumah itu meninggal dunia. Kedua awak koran itu berseru pelan, hampir bersamaan : “Semoga bukan pelanggan koran kita.”

Beberapa puluh tahun kemudian, keduanya mungkin akan berseru dengan kalimat yang sama bila memergoki anak-anak muda sedang membeli komputer. Apakah mereka akan berseru seperti itu pula bila mereka bisa hadir di tengah keriuhan para blogger dalam Pesta Blogger 2008, 22 November 2008 di Jakarta yang lalu ?

Cerita di atas memang fiksi. Tetapi lanskap habitat media yang sudah berubah bukan fiksi. Tetapi mungkin karena balutan rasa percaya diri yang tinggi untuk menutupi rasa kuatirnya, atau karena ignoransi, masih saja ditemui pengelola media cetak yang berlabel sebagai mainstream media itu, yang sering diplesetkan sebagai lamestream media, media yang lamban, tidak mampu melihat revolusi yang sedang terjadi.

Atau tidak mau melihatnya. Mereka lebih suka berlaku seperti burung unta: dengan membenamkan kepalanya ke dalam tanah, maka persoalan sudah dianggap selesai dan berlalu.

Suara percaya diri itu terdengar dari Bali. Dalam Seminar Nasional AJI yang bertema Pers Indonesia Menyongsong Era New Media (27/11/2008), CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo, mengatakan seperti dikutip Kompas (28/11/2008 : 13) antara lain bahwa setiap kelahiran media baru selalu diikuti kecemasan akan mengancam bahkan mematikan media sebelumnya.

Diakui, media online dewasa ini memang sedang menunjukkan kecenderungan peningkatan. Namun, kecenderungan itu tidak berarti akan melenyapkan media cetak. “Untuk menghadapi kecenderungan itu media cetak dituntut untuk kreatif dalam pengayaan kontennya serta berafiliasi dengan media online,” tuturnya.


Bergelut cari solusi.Pengayaan konten itulah yang kini mudah ditemui pada pelbagai media cetak di Indonesia. Misalnya, untuk berusaha merenggut para pembaca muda, maka halaman-halaman khusus untuk para pelajar dan mahasiswa telah pula mereka sediakan. Demikian pula halaman khusus untuk kaum perempuan, para guru, liputan tentang hobi atau komunitas tertentu.

Pengayaan semacam itu segera menimbulkan wabah ikut-ikutan, me too product, yang segera menular dan ditiru oleh media-media lainnya. Bahkan tidak jarang, untuk merekatkan ikatan, koran pun menjadi event organizer guna menyelenggarakan pertemuan bagi para pembacanya.

Ikhtiar dan kreativitas itu pantas dipuji. Tetapi sejarah masa depan berkehendak lain. Ancaman media-media baru terhadap koran pada jaman yang lewat, misalnya radio, film sampai televisi, jelas tidak sama dengan ancaman Internet terhadap surat kabar dewasa ini. Meminjam isi laporan tahunan dari New Directions for News 2003 diungkapkan, “Jurnalisme menemukan dirinya dalam momen langka dalam sejarah…hegemoninya sebagai penjaga gawang berita terancam tidak hanya oleh teknologi baru dan para pesaing, tetapi terancam secara potensial oleh pembaca yang mereka layani.”

Imajinasi para pengelola Jurnalisme Besar tak pernah memperkirakan ancaman semacam ini. Apalagi yang lebih menakutkan dibanding ancaman yang satu ini ? Dengan sarana penerbitan online yang mudah dioperasikan, seperti blog, tersedianya fasilitas koneksi yang terus-menerus tersambung dan sarana komunikasi mobil yang semakin andal, pembaca online dewasa ini serta merta mampu menjadi partisipan aktif dalam mengkreasi dan menyebarkan berita dan informasi.

Tidak salah bila dalam melukiskan gambaran mengenai budaya masa depan, futurolog John Naisbitt dalam Mind Set!: Reset Your Thinking and See the Future (2006), menuliskan kematian perlahan budaya surat kabar sebagai pokok bahasan yang paling pertama.

“Sirkulasi surat kabar sudah turun selama bertahun-tahun. Pada 1960-an, empat di antara lima orang Amerika membaca suratkabar setiap pagi. Sekarang hanya setengah orang Amerika yang melakukannya,” tegasnya. Di lain fihak ia mengungkapkan bahwa surat kabar gratis semakin mantap dan Internet menyedot pembaca sehingga beralih.

“Yang sedang kita saksikan adalah kematian perlahan budaya surat kabar, yang ada hubungannya dengan nilai penting suratkabar dalam kehidupan kita. Aspek kehidupan kita ini jelas-jelas memudar dan mengalami penurunan arti penting. Lalu, saat arti penting surat kabar bagi kehidupan kita semakin berkurang, apa yang terjadi pada perusahaan surat kabar menjadi kurang menarik,“ simpul Naisbitt.

Domino itu sekarang benar-benar mulai jatuh. Ketika suara percaya diri dari Bali itu belum menguap, harian Kompas (13/12/2008) mewartakan mengenai kelompok penerbit surat kabar besar di Amerika Serikat, yaitu Tribune Co., yang menyatakan diri bangkrut karena dililit utang. Mereka pun dikhawatirkan bukan sebagai korban yang terakhir. Dalam berita itu hanya disebutkan secara selintas bahwa penyebab terancam ambruknya koran-koran di AS itu akibat merosotnya pemasukan iklan dan berpindahnya pembaca ke Internet.

Di halaman lain koran itu juga mewartakan mengenai majalah Newsweek yang akan berubah wajah. Akibat pelambatan ekonomi global, majalah ini juga akan mengurangi jumlah eksemplar hingga sekitar 1 juta, dari angka semula 2,6 juta eksemplar setiap terbitnya. Kebijaksanaan lainnya adalah pengurangan jumlah karyawan mereka. Hal serupa juga akan dilakukan manajemen majalah Time, sementara majalah US News & World Report dikabarkan akan lebih fokus pada Internet.

Geliat pelbagai media itu, seperti juga halnya yang dilakukan surat-surat kabar Indonesia, merupakan cerminan upaya mereka dalam mencari-cari solusi. Berusaha memecahkan masalah. Orientasi yang mungkin nampak benar itu sebenarnya merupakan pendekatan yang keblinger. Memecahkan masalah merupakan pergulatan yang justru terkait dengan sisi kelemahan mereka. Sementara itu Naisbitt mengingatkan, “Anda tidak akan mendapatkan hasil dengan memecahkan masalah, melainkan dengan memanfaatkan peluang.”


Surat kabar gratis. Peluang bagi media di masa depan itu menurut saya, antara lain, terdapat dalam penerbitan koran gratis dan sinergi dalam mengeksploitasi secara kreatif kedigdayaan Internet. Surat kabar di masa depan mungkin memang tidak lenyap. Tetapi bentuk, isi dan cara memperolehnya tidak akan sama lagi seperti yang kita dapati sekarang ini.

Surat kabar itu gratis. Visi koran gratis ini pernah saya tulis di kolom surat pembaca harian Suara Merdeka setahun lalu ( 7/12/2007). Bahkan pernah juga saya ajukan kepada pimpinan puncak kelompok bisnis surat kabar terkemuka di Jawa Tengah. Topik itu justru yang menjadi penyebab, dugaan saya, mengapa diskusi antara kita tersebut langsung ia hentikan. Usulan saya itu nampaknya memang mengoyak zona nyaman media cetak yang ngotot sebisanya untuk terus ingin bertahan.

Pada hal koran gratis juga membuka peluang-peluang baru. Utamanya dalam memenangkan tambang emas masa depan : lokalitas. Isi koran gratis itu nanti tak ubahnya isi majalah TV Guide dewasa ini, yang berisi data acara televisi dan ratusan saluran situs atau blog di Internet. Isi dan penyebarannya pun sangat lokal, hyper local. Konsiderans ini vital karena perusahaan media masa depan harus memvisikan medianya tak lain sebagai utilitas informasi dan koneksi untuk lingkungan setempat yang benar-benar lokal.

Merujuk skenario masa depan semacam itu, jadi sungguh lucu bila menurut saya, ketika mengikuti strategi Internet yang dikembangkan, misalnya oleh kelompok Kompas-Gramedia dewasa ini. Mereka justru berupaya membesarkan mega portalnya di Internet, dengan melebarkan sayap dengan meluncurkan pelbagai saluran. Dari merengkuh para selebritis sampai kalangan pelajar. Nampaknya, upaya ini dilakukan dengan asumsi bahwa konsumen media digital masa kini tetap sepasif konsumen koran atau televisi di masa lalu ?

Sementara itu mereka nampak baru saja ngeh terhadap makna kehadiran media yang bernama blog. Dalam perbincangan di tengah acara Pesta Blogger 2008, salah satu wartawannya mengungkapkan bahwa kelompok media itu semula menyepelekan eksistensi blog. Kini mereka baru bergegas meluncurkan versi beta situs Kompasiana, blog network-nya, untuk menfasilitasi dialog antara jurnalis dan para pembacanya.

Layanan baru ini nampak dilakukan secara skittish, atau kurang cong dalam bahasa orang Solo pasaran. Sebagai seseorang yang menyukai olah komedi dan berniat membuat satir bagi ulah pejabat-pejabat kita yang diliput dalam pemberitaan atau nampang dalam iklan-iklan politiknya di Kompas, saya merasa menabrak dinding. Ketika membaca persyaratan untuk menjadi penyumbang tulisan dalam jaringan blog itu pagi-pagi sudah muncul caveat gawat : dilarang memposting tulisan-tulisan yang berupa satir.

Mungkin masih dalam status beta, nampak baru segelintir saja wartawan Kompas yang mau ngeblog. Jadi Anda jangan berharap dulu adanya spesialisasi subjek tulisan, hal yang imperatif di media digital, dari para wartawan bersangkutan. Jangan bayangkan akan ada wartawan/blogger seperti Susan Gunelius atau Susan M. Heathfield dari kelompok koran The New York Times yang ambil spesialisasi tentang blog. Atau Daniel Kurtzman tentang humor politik. Atau Jon Fine dengan blognya yang khusus membahas media di situs majalah Business Weeks.

Ikhtiar meluncurkan fasilitas blog network itu boleh jadi malah berpeluang besar untuk gagal. Minimal tidak maksimal. Merujuk pendapat Jeffrey Veen dalam artikelnya “Why Content Management Fails,” kegagalan itu akibat dari keengganan banyak orang untuk mengubah cara kerja mereka. Utamanya justru terjadi untuk para pekerja ilmu pengetahuan. Tentu saja, dalam konteks ini adalah para wartawan.

Menurutnya, para pekerja ilmu pengetahuan (knowledge worker) itu selama bertahun-tahun telah mengasah strategi untuk menyempurnakan pelaksanaan pekerjaan mereka, praktek yang mereka lakukan bahkan sejak berada di bangku kuliah. Sehingga usaha untuk merubah proses bersangkutan, seberapa pun valid solusi teknis yang ditawarkan, hampir menjadi tidak mungkin. Mereka akan memberontak, walau setelah menjalani pelatihan sekali pun.


Imperium yang cerai-berai. Kapal induk media yang besar itu memang memerlukan tenaga besar dan waktu yang tidak sedikit untuk mampu mengubah arah pelayarannya. Dinosaurus itu sedang berjuang mempertahankan hidupnya, yang harus ditebus dengan pengorbanan besar. Karena suatu saat kelak harus mau mengamputasi sebagian besar dari tubuh dan jiwanya. Itulah tuntutan logis dari jaman yang baru pula.

Dekan Sekolah Jurnalistik dari Universitas California di Berkeley, Orville Schell, mengatakan bahwa “imperium Roma media massa kini tercerai-berai, dan kita akan memasuki periode masa feudal di mana akan semakin banyak lagi pusat-pusat kekuatan dan pengaruh.”

Jon Fine dalam blognya (12/7/2007) pernah menulis artikel provokatif mengenai tiga kubu jenis koran Amerika yang pertama kali akan mematikan koran edisi cetaknya. Dalam diskusi, seorang pembaca “Barbara Vickroy” menyarankan agar insan surat kabar mampu berpikir di luar kotak agar mereka bisa bertahan.

Sementara pembaca bernama “Jojo” lebih tajam analisisnya. Ia tegaskan bahwa problem pokok dari insan-insan surat kabar itu karena mereka terpatok ke masa lalu dan tidak memiliki visi atau pemahaman yang konkrit mengenai Internet. Itulah sebabnya mereka tidak mampu bermigrasi dan meraup keuntungan dari Internet.

Kita saksikan sepuluh tahun terakhir ini, dengan hanya memasang akhiran dotcom pada nama koran untuk media online mereka, lalu mendigitalkan begitu saja kandungan informasi yang ada, lalu dianggaplah selesai eksplorasi mereka di dunia digital. Tak aneh bila pendekatan semacam ini terancam tidak membuahkan apa-apa. Tidak memperoleh sukses di medan digital, sementara media atomnya, media kertas itu, makin tergerus oleh perubahan jaman.

Lenyapnya surat kabar kelak, sang media oligarki itu, akan menjanjikan jaman baru. Era digital, seperti kata David Amano, memang membuat segalanya serba balik jungkir. “Dengan media blog, pandangan saya terhadap komunitas dan orang-orang yang bisa saya akses jadi balik jungkir. Media digital memperbesar apa yang kita katakan. Media digital lebih membuka pilihan bagi kita. Media digital memberi kita kendali.


Media digital ibarat karcis untuk bisa melongoki belakang panggung, untuk memperoleh akses dan perkawanan dengan merek atau individu yang tak pernah sedekat ini sebelumnya. Media digital membuka berlangsungnya koneksi, akses dan hubungan. Semua itu sungguh manusiawi adanya.”

Panggilan digital yang manusiawi itu tidak setiap insan media mampu mendengarnya. Kecuali barangkali Dan Gillmor, sebagai contoh. Ia memutuskan meninggalkan San Jose Mercury News karena jurnalisme yang ia minati berada di luar kapasitas koran tempat ia selama ini bekerja. Ia kini dikenal sebagai salah satu bapak jurnalisme warga.

Alasan hengkang serupa juga dilakukan oleh mitra pendiri situs WashingtonPost.com, Mark Potts. Ia malah meluncurkan media hyper local yang isinya disumbangkan oleh para pembacanya.

Apakah berita besar mengenai bangkrutnya kelompok koran Tribune Co. di Amerika Serikat itu juga mampu memperkeras dering panggilan digital di gendang telinga para pewarta media arus utama, juga di Indonesia ?

Atau mereka baru loncat dari dek ketika kapal medianya sudah benar-benar miring dan nyaris tenggelam ? Dalam situasi seperti itu, meminjam kata-kata Naisbitt tadi, bahwa apa yang terjadi pada perusahaan surat kabar menjadi tidak lagi menarik.



Wonogiri, 3-16/12/2008

ee