Tuesday, August 17, 2004

BERBURU PEKERJAAN ADALAH MENJUAL SOLUSI, BUKAN MENGEDARKAN KELUH KESAH DAN MASALAH !

Oleh : Bambang Haryanto


Esai Epistoholica No.5/Agustus 2004
Home : Epistoholik Indonesia



HATI NURANI. Surat kaleng itu diterima oleh Bapak Soeroyo epistoholik dari Solo. ”Namanya juga kaleng, seribu satu hujatan dilimpahkan pada seseorang, termasuk diri saya”, tulis beliau. Beliau mengira, surat kaleng itu berkaitan dengan pelbagai tulisan surat pembaca yang ia kirimkan dan dimuat di Harian Solopos, Solo. Inilah reaksi yang mengagumkan dari Bapak Soeroyo :


“Apakah tulisan saya melanggar HAM ? Tulisan saya tidak pernah menyudutkan orang, namun keganjilan yang ada dalam masyarakat saya ketengahkan. Sedapat mungkin saya arahkan ke asas benar, jujur dan adil. Ini bisa terpenuhi bila nurani seseorang dikomando oleh nafsu budi luhur yang selalu menapaki jalan Allah, sehingga pikiran dan akal tertuju pada hal-hal positif, bermanfaat.”

“Kalau saya boleh memberi nasihat, maka janganlah membiasakan diri membuat surat kaleng. Tindakan itu menunjukkan sikap jiwa kerdil, tidak ksatria.” (Solopos, Minggu, 27 Juni 2004).


Simaklah kemudian cerita dari Lasma Siregar yang dikirimkan via e-mail, 13 Agustus 2004, dari Melbourne, Australia kepada saya :

“Besok saya kirimkan via snail-mail, print surat pembaca seorang Bapak di Kalimantan Selatan (bermasalah dengan polisi) dan print surat pembaca FS Hartono di Republika (dicaci maki pembaca lewat surat ke rumahnya).

Saya malah pernah diancam segala ! Sayangnya orangnya nggak bilang siapa dia, dimana dan mengapa ? Semestinya kan membalas di media yang sama, bukan lalu nyerbu kita secara pribadi? Untung saya jauh di udik, bagaimana dengan Pak FS Hartono di jalan Kaliurang ?”


Surat kaleng atau e-mail kaleng,sampai saat ini memang belum pernah saya terima. Tetapi seperti yang ditambahkan wanti-wanti oleh Lasma Siregar, ancaman baik fisik atau pun psikis terhadap kita kaum epistoholik, pantaslah serius dicermati. Wacana ini harus mulai dibuka, untuk diperbincangkan secara meluas. Baik oleh antarkita, pengelola media, ahli hukum, juga pemerhati kebebasan hak bersuara. Anda siap berkontribusi ? Kita nantikan.


KELUHAN KAUM MUDA. Sementara itu, kiprah saya sebagai epistoholik baru-baru ini mengakibatkan saya menerima e-mail seperti di bawah ini :

(1) Salam,nama saya ES, tamatan D-III Teknik Aeronautika/Teknik Penerbangan STTKD-Yogyakarta. Alamat surat : Banjar Mantri, Cakranegara, Kota Mataram, Lombok-NTB 83231.

Saya sudah hampir 2 tahun menganggur, karena sulitnya mencari kerja yang sesuai dengan background pendidikan saya. Saya sudah melamar kesana-kemari (dalam dan luar negeri) tapi tidak ada satupun surat panggilan kerja untuk saya. Saya sangat bingung, pusing dan stress sekali menerima kenyataan ini, apalagi umur saya yang sudah hampir 26 tahun.

MOHON BANTUAN ANDA UNTUK BISA MENCARIKAN PEKERJAAN YG SESUAI DENGAN BIDANG PEKERJAAN SAYA/BACKGROUND PENDIDIKAN SAYA.

Atas segala perhatian dan pertolongannya saya ucapkan banyak-banyak terima kasih.

Salam & hormat saya,
ES

(E-mail, 12 Agustus 2004)



(2) Salam hormat,nama saya DS. Saya mahasiswa Teknik Lingkungan/S-1 di sebuah PTS di Jogja. Saya membaca info tentang anda di koran Bernas beberapa hari yang lalu. Saya tertarik dengan isi surat anda di rubrik surat pembaca.

Apakah anda bisa mencarikan info lowongan kerja part-time/paruh waktu bagi mahasiswa kurang mampu seperti saya ini dan adakah lowongan kerja (dalam & luar negeri) di bagian teknik lingkungan seperti background pendidikan yang saya jalani sekarang ini ?

Atas segala perhatian dan bantuannya saya ucapkan terima kasih banyak. (saya tunggu balasan anda segera).

Salam hormat saya,
DS di Jogjakarta

(E-mail : 13 Agustus 2004)


THE THREE MUSKETEERS !. Surat pembaca saya di Bernas itu mengutip nasehat Richard Lathrop dalam bukunya Who’s Hiring Who ? (Ten Speed Press,1989) untuk pencari kerja : daripada saling bersaing, sebaiknya antar para pencari kerja itu justru bekerjasama. Membentuk klub pencari kerja. Mengoperasikan jaringan,lewat SMS atau email, saling meneguhkan dan saling menginformasikan adanya lowongan. Kata saya, misi bersama mereka akan sukses bila antar warganya meneladani persatuan kokoh tiga tokoh rekaan Alexander Dumas, The Three Musketeers, yang memiliki semboyan bagus : Tous pour un, un pour tous. Semua untuk satu, satu untuk semua.

Sayang, rupanya dua anak muda di atas, sepertinya berharap lain. Ambil jalan pintas. Tulisan saya itu tidak menjadi inspirasi,tidak pula diapresiasi, dan dengan enteng beban hidup mereka justru dialihkan pada diri saya. Sebagai orang yang tinggal di kota kecil Wonogiri,juga tidak berkiprah dalam dunia ketenagakerjaan, tentu hal yang sangat fantastis bila saya mampu mencarikan pekerjaan atau lowongan pekerjaan bagi kedua sobat muda ini. Saya sedih mengatakan, tetapi jelasnya saya tidak bisa secara langsung menolong mereka.

Mungkin mereka justru akan sakit hati bila saya terloncat untuk memberikan usulan atau nasehat seperti ini : kunjungilah saja perpustakaan atau toko-toko buku untuk menemukan buku yang mengupas kiat dan strategi berburu pekerjaan. Informasi serupa, juga sangat melimpah ruah di Internet !

Kalau boleh menambah, saya titipkan pendapat Alan Weiss, Ph.D., direktur Summit Consulting Group di Greenwich, Rhode Island (AS) saat memberikan nasehat bagi mereka yang ingin kariernya maju. Kata Weiss, “cara terbaik untuk mempengaruhi boss Anda adalah dengan memanfaatkan interes dia dan bukan interes Anda”. Dengan kata lain, fokuskan kontribusi Anda untuk perusahaan dan bukan atas apa yang Anda kerjakan. Pendapat ini saya kutip dari buku Men’s Health Real Life Survival Guide (Rodale, 2001) yang isi lainnya juga sangat menarik. Buku ini hadiah hebat dari Lasma Siregar, Melbourne, Australia.

Pendapat Weiss itu bila diadopsi untuk para pencari kerja, adalah pertama-tama, ubahlah sikap mental Anda : berburulah pekerjaan dengan sikap mental bahwa Anda adalah solusi, problem solver bagi perusahaan sasaran. Sebelum melamar ke sesuatu perusahaaan, risetlah dulu apa saja bidang inti perusahaan bersangkutan dan tempatkan diri Anda secara tepat di mana Anda bisa memberikan kontribusi terbaik bagi suksesnya perusahaan. Nyatakan hal itu secara tegas dan rinci di surat lamaran Anda, juga nantinya dalam tes wawancara.


EMAS DAN BARA API . Sayangnya, entah salah siapa atau di mana, pendekatan berburu pekerjan sebagai upaya menjajakan solusi itu rata-rata tidak dikenali oleh para pencari kerja kita. Kedua surat sobat muda di atas, sori Mas ES dan Mas DS, bagi saya, adalah surat yang justru ditulis dengan sikap mental merendahkan diri sendiri. Karena menempatkan posisi diri mereka hanya sebagai problem maker semata.


Konsultan pemasaran legendaris dunia, Al Ries dan Jack Trout, telah menulis buku hebat : Horse Sense : The Key to Success Is Finding a Horse to Ride (McGraw-Hill, 1991). Pada halaman dedikasi buku itu ia pun menulis : dipersembahkan untuk kiprah terpenting, kiprah pemasaran yang paling teramat sulit... yaitu pemasaran diri Anda sendiri.


ES, DS, dan jutaan pencari kerja muda lainnya dari negeri Republik Indonesia yang kini memperingati ulang tahun ke 59 kemerdekaannya, mau tak mau telah dan harus mengalami masa-masa sulit. Juga di masa depan nanti. Bagaimana seharusnya bersikap ?

Seorang rekan epistoholik hebat dari Kendal, Joko Suprayoga telah menulis surat pembaca di Suara Merdeka (13/3/2004). Isinya berupa komentar cerdas mengenai keberanian mencoba dari seorang anak tukang becak dan lulusan STM Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat Sumatera Utara, Veri, hingga mampu meraih puncak di kontes AFI. Joko Suprayoga yang lulusan Fakultas Perikanan Undip itu menulis :

“Pernahkah kita melihat emas ? Semakin panas api yang melebur semakin murni emas dihasilkan. Begitu juga dengan kita semua. Kita perlu diuji dengan masa sulit dan menderita sebelum menjadi unggul.”


Berdasar pemahaman luhur ini, serta merunut kepada dedikasi yang panjang sebagai kaum epistoholik sejak 1981, sudah seharusnya Pak Soeroyo, juga Pak FS Hartono, memperoleh medali emas.

Bukan kaleng. Apalagi surat kaleng !


Dirgahayu Indonesiaku !


Wonogiri, 17 Agustus 2004

No comments:

Post a Comment