Sunday, October 17, 2004

Islam Vs Amerika Babak Baru : Benturan Peradaban Beramunisi Lawakan

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 12/Oktober 2004
Home : Epistoholik Indonesia



MODEL TALIBAN. Diselimuti bayang-bayang sikap bermusuhan dan prasangka rasial akibat tragedi 11 September 2001, di Amerika Serikat meletus benturan peradaban baru antara Islam vs Uncle Sam.

Inilah gambaran front tersebut : Sesosok pria berbusana muslim, berjenggot lebat, memakai kopiah hitam dan bertampang model pejuang Taliban, menaiki panggung. Ia memberi salam : “Assalamu alaikum !”. Tidak ada salam balik yang berarti. Pria tambun itu segera menimpali, “Bagi Anda yang tidak memahami arti salam saya tadi, akan saya beritahu. Artinya adalah : Saya akan membunuh Anda semua !” Penonton meledak dalam tawa.

Pejuang Islam berpeluru lawakan tadi adalah Azhar Usman (28). Komedian, juga pengacara dan aktivis itu adalah lulusan BA Ilmu Komunikasi dari University of Illinois dan Juris Doctorate, cum-laude, dari University of Minnesota Law School. Pujian koran bergengsi The New York Times terpajang di situsnya (www.azhar.com) : “He is on stage, killing !”.

Pujian itu menunjukkan, sebagaimana komedian cerdas lainnya, Azhar Usman terampil mengolah makna ganda suatu kata. Kata membunuh (killing) dalam lingo komunitas komedian biasa diartikan sebagai lawakan yang disambut ger-geran, secara cerdas ia tempatkan dalam konteks suasana batin warga Amerika Serikat yang menaruh kebencian dan permusuhan terhadap Islam akibat serangan teroris 11 September 2001.

Azhar Usman, keturunan India kelahiran Chicago, mengaku, “Saya Muslim Amerika. Ya sholat, tetapi juga makan hamburger”, candanya. “Saya keponakan Osama Bin Ladin. Mereka menyebut saya sebagai Bin Laughin” (Bin Ngakak). Menanggapi budaya munafik masyarakat AS dalam mempersepsikan dunia Islam, Azhar menjelaskan bahwa di beberapa negara Islam memang ada yang diperintah raja. “Tetapi, apakah kita (di AS) hidup di Abad 15 ? Saya tak bisa membayangkan hidup di negara dimana rakyat memilih presiden berdasar siapa dulu ayahnya !”. Audiens kembali tergelak. Mereka tahu kini George W. Bush yang kena tembak.


Lawakan Azhar Usman tidak pernah menyinggung materi-materi biru atau porno. Satirnya juga merambah ke sistem peradilan. Sindirnya, “warga kulit hitam di AS merasa tidak pernah diadili secara fair. Tetapi kami warga keturunan Arab dan muslim bahkan tidak pernah sekali pun memperoleh peradilan !”. Ia pun melucukan terorisme, kegemaran sensasi di kalangan media, tata cara ibadah, politik internasional sampai prasangka agama.

“Saya berharap, lawakan saya adalah lawakan cerdas. Ini adalah cara untuk memanusiawikan apa yang tersembunyi di balik pintu. Saya pikir, bagi kalangan non-muslim, masjid merupakan bangunan yang sangat misterius. Saya kira mereka sangat terganggu karena menara-menara mesjid mirip rudal”


MENGHAPUS STEREOTIP. Azhar Usman adalah bagian dari munculnya genre baru dunia komedi muslim di dunia Barat. Nama lainnya, Ahmed Ahmed asal California kelahiran Mesir, Bryant Reginald Moss (Preacher Moss), warga Afrika-Amerika, Maysoon Zayid asal Palestina yang lahir di New Jersey, juga komedian wanita Tissa Hami keturunan Iran.

Sulayman S. Nyang, profesor Kajian Afrika dari Universitas Howard dan cendekiawan muslim Amerika seperti dikutip Caryle Murphy dari Washington Post (25/4/04), menjelaskan bahwa pemunculan komedian-komedian Muslim-Amerika merupakan pertanda bahwa komunitas Muslim telah berasimilasi dengan gaya hidup Amerika dalam hal memperolok diri, membuat satir, yang merupakan bagian dari budaya masyarakatnya.

Seperti para pendahulunya, pelawak berketurunan Yahudi, Irlandia dan Afrika, komedian muslim juga menyuguhkan humor etnis. Tujuannya tidak hanya untuk memancing gelak, tetapi juga untuk mempromosikan penerimaan Islam ke dalam mainstream masyarakat Amerika.

Melalui media hiburan, komedian muslim berkeyakinan mampu mengikis pandangan diskriminatif berdasarkan stereotip di kalangan non-muslim. Juga diharapkan mampu memberikan penyadaran kepada kalangan muslim sendiri mengenai jati diri, termasuk perilaku merusak diri sendiri dan kekurangannya.

“Misi saya sebagai komedian adalah membuat penonton tertawa. Tetapi kalau saya mampu membuat mereka berfikir, itu merupakan bonus tambahan”, tutur Tissa Hami. “Saya ingin menunjukkan bahwa umat Islam bukanlah teroris, tidak semuanya fanatik. Juga tidak semua wanita muslim itu tertindas dan terbungkam”, lanjutnya.

Tissa Hami bergelar Master Kajian Internasional dari universitas ternama dan kini bekerja sebagai staf admisi di Kennedy School, Universitas Harvard. Latar belakang asalnya dari Iran dan referensi buruk hubungan antara negeri kelahirannya dengan negerinya kini, sering jadi lawakannya. Tissa mengancam, “kalau tidak ada penonton yang tertawa mendengar lawakan saya, mereka akan saya jadikan sandera!”


ALLAH MADE ME FUNNY. Komedi berorientasi muslim di AS sedang naik daun. Terjadi peningkatan permintaan, baik oleh komunitas muslim atau pun kelompok non-muslim. Sineas wanita Kanada Zarqa Nawaz sampai berencana memproduksi film yang ia sebut sebagai “terrodies”, atau komedi tentang terorisme. Bahkan perusahaan filmnya pun ia namakan unik : FUNdamentalist Film.


Bulan Mei 2004 juga mulai digelar tur komedi baru keliling Amerika, Allah Made Me Funny, The Official Muslim Comedy Tour. Penggagasnya Preacher Moss, sebelumnya sohor sebagai penulis Saturday Night Live yang didukung komedian Azeem dan Azhar Usman. Misi tur untuk menunjukkan keberagaman kaum muslim dan menunjukkan bahwa warga Afrika-Amerika merupakan salah satu kelompok besar warga Muslim di Amerika Serikat.

“Ide tur ini adalah menyediakan wahana di mana kaum muslim dan non-muslim dapat saling merasa nyaman, relevan dan inklusif dalam pengalaman bersama ketika humor yang terjadi mampu menjembatani jurang-jurang bias, sikap tidak toleran dan penyakit sosial lainnya”, tutur Moss kepada Hannah K. Strange dari UPI (8/6/2004).

Ia katakan, sebelum peristiwa 11 September 2001, isu yang dominan dalam komunitas muslim AS adalah isolasionisme. “Kita berada di tengah budaya Amerika tetapi kurang progresif dalam menyatakan diri. Kini seluruh komunitas muslim harus memperbaiki diri, tumbuh, dan kita menginginkan menjadi bagian dari proses. Komedi adalah sarana untuk menenangkan, melucuti senjata dan membangun jembatan melalui humor.”


Terlebih setelah kejadian 11/9 Moss prihatin berat, karena Islam dibajak segolongan orang untuk kepentingannya sendiri. Kini saatnya muslim Amerika menemukan kembali tujuan, kemuliaan dan kemanusiaannya dari hal-hal nonsens atau pun kekerasan yang mengatasnamakan Islam. Komedian Azeem menambahkan, “Siapa saja dapat membunuh fihak yang tidak berdosa...tetapi itu bukanlah perilaku muslim karena tidak Islami”.


POLISI MORAL . Apakah lawakan diperbolehkan dalam Islam ? Menurut Azhar Usman, Nabi Muhammad adalah pribadi yang suka tersenyum dan bercanda. Dalam cerita sufi, juga terdapat tokoh Nasarudin Hoja yang termashur dengan lawakannya yang cerdas. Menjadi komedian, menurutnya, juga diperbolehkan oleh syariah Islam. Pedoman bagi dirinya adalah melawak untuk membuat orang tertawa dan dilandasi niat mulia. Walau ia juga tahu, ada kelompok konservatif Islam yang tidak menyetujui terjun dia sebagai komedian muslim.

Mungkin itulah bedanya, simpul Azhar Usman, dirinya sebagai muslim Amerika merasa nyaman untuk mentertawai diri sendiri dan umat muslim lainnya di dunia. Contohnya, “momen paling mengerikan dalam hidup sebagai karyawan muslim (di Amerika) adalah saat berwudlu dan tertangkap basah oleh bos ketika sedang mencelupkan kaki kita di wastafel”.


Bagaimana dunia lawak muslim di Indonesia ? Kiranya Gus Dur, Mustofa Bisri atau Emha Ainun Nadjib sebagai intelektual, sumber inspirasi dan pencetus humor-humor cerdas, kini tak boleh lagi hanya sendirian. Sangat dinantikan komedian-komedian muslim profesional lahir segera di Indonesia.


Siapa tahu dengan meneladani Azhar Usman dan kawan-kawan, akan terbuka perspektif dan wajah segar baru tentang Islam. Apalagi akhir-akhir ini sebagian umat Islam seperti justru senang bersikap reaktif, daripada proaktif, dengan tampil menjadi polisi moral dalam menyikapi sebagian karya-karya kreatif anak bangsa.


Wonogiri, 16 September 2004

No comments:

Post a Comment