Tuesday, October 05, 2004

Lelucon Gus Dur dan Judy Yang Bikin Patah Hati

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 11/Oktober 2004
Home : Epistoholik Indonesia




GUYON PORNO GUS DUR ? Pernahkah Anda secara khusus memperoleh cangkriman, teka-teki atau riddle, dari seorang Gus Dur ? Tahun 1986 saya pernah memperolehnya. Saya hanya bisa gelagepan karena tidak mampu menebaknya.

Peristiwanya terjadi di hari Sabtu, 25 Oktober 1986, di Toko Buku Gramedia Blok M, Jakarta Selatan. Malam hari. Saat itu saya sedang memilih-milih buku di rak yang khusus menghimpun buku-buku humor. Tiba-tiba dari arah pintu, masuklah sosok yang sudah terkenal. Gus Dur !

Segera saya menghampirinya. Lalu saya ambil buku berjudul 5600 Jokes For All Occasions-nya Mildred Meiers dan Jack Knapp yang terpajang di etalase. “Buku ini cocok untuk Gus Dur”, ucap saya sambil mengangsurkan buku itu kepadanya. Gus Dur hanya jegeges. Tertawa kecil. Mungkin ia merasa telah bertemu dengan seseorang yang punya hobi sama.

Tak saya sangka, Gus Dur pun memberi saya tembakan pertanyaan : “Rambut wanita mana yang paling lebat, paling hitam dan paling keriting ?”.

Pertanyaan yang asosiatif, nakal dan menjurus. Saya tahu ini hanya jebakan. Tetapi saya hanya bisa tertawa dan memberi tanda menyerah. Gus Dur pun segera memberikan apa yang disebut dalam dunia komedian sebagai pemicu bom tawa, punchline : “Rambut wanita Papua Nugini”. Saya terbahak, walau saya tahu kalau tabiat saya ini telah mengusik kenyamanan pengunjung lainnya.

Ngobrol punya ngobrol, malam itu Gus Dur sedang mengantar puterinya membeli sepatu. Ia rada mengomel, kenapa sekolah mesti menyeragamkan sepatu untuk murid-muridnya. Ia pun, ketika menyangkut masalah humor, berkali-kali mengatakan kalimat : “Hanya kita-kita saja yang waras. Yang masih waras”. Saya hanya mendengarnya. Saya belum tahu apa makna di balik kata-kata Gus Dur saat itu.

Yang pasti, buku 5600 Jokes For All Occasions : Over 550 Subjects To Help You Entertain, Insult And Amuse Any Audience-nya Mildred Meiers dan Jack Knapp malam itu jadi saya beli. Harganya Rp. 16.350,00. Di bagian depan halamannya saya tulis tebakan Gus Dur tersebut dan tanggal peristiwanya. Juga keterangan buku ini bisa terbeli setelah memperoleh honor menulis artikel seputar minat baca dan perpustakaan dari majalah Pembimbing Pembaca, September dan Oktober 1986 yang diterbitkan oleh Balai Pustaka.


INTIP WAYANG ORANG. Saat itu, saya menyukai buku-buku kumpulan lelucon terbitan Amerika Serikat dan Inggris. Walau tidak terlalu serius, saya mengoleksinya. Sebagian isinya, saat itu, saya terjemahkan dan dikirimkan ke pelbagai media massa yang memiliki kolom lelucon. Misalnya majalah Hai, HumOr, Kawanku, Suasana, Variasi, surat kabar Jayakarta, Republika, Suara Pembaruan (Minggu), tabloid Serasi dan yang lainnya. Contoh :

MEROKOK. Seekor induk kangguru sedang berbaring melepaskan lelah. Tiba-tiba ia berteriak kesakitan. “Brengsek ! Berapa kali kubilang, anak-anakku, jangan sekali-kali kalian merokok di tempat tidur !” (Dimuat di Hai No.17/3 Mei 1994)


Kesenangan saya menulis memang dipicu oleh kegemaran terhadap humor. Ketika duduk di kelas 2 SMP Negeri I Wonogiri (1967), saya mengirimkan beberapa lelucon pendek ke majalah Kancana, majalah organisasi istri TNI Angkatan Darat Persit Kartika Chandra Kirana, majalahnya ibu saya. Ada 4 lelucon saya yang dimuat, lalu mendapat honor sebesar Rp. 200,00 yang dikirimkan melalui poswesel ke sekolah saya. Itulah peristiwa besar dalam hidup saya !

Materi lelucon saat itu saya ambil dari cerita-cerita ayah atau ibu saya. Atau memodifikasi lelucon dari majalah-majalah lama yang saat itu terdapat di perpustakaan (umum ?), sekitar 200 m dari rumah saya, di belakang Kabupaten Wonogiri. Penjaganya, sekaligus menempati rumah itu, adalah Pak Kasbul.

Materi lainnya dari goro-goro dalam pertunjukan wayang orang ketika diajak ayah saya untuk menontonnya di Kompleks THR Yogyakarta. Sejak SD memang ayah saya bertugas di Yogyakarta dan keluarganya tetap di Wonogiri. Ketika bersekolah di STM Negeri II Yogyakarta, Jurusan Mesin, saya pun mencari uang jajan dengan mengirimkan lelucon-lelucon ke majalah Aktuil (Bandung) dan Varia Nada (Jakarta).


KRITIK TELEVISI. Sebagai epistoholik, saya tidak sering membumbui surat pembaca saya dengan lelucon. Tetapi di tahun 1987, karena saking jengkelnya terhadap TVRI, maka saya tulis surat pembaca di Tabloid .Monitor (No. 38/22-28 Juli 1987) sebagai berikut :


SINDROM DIET

Menyimaki Monitor akhir-akhir ini, di kolom ini, saya merasa beruntung karena tidak memiliki pesawat tv. Sebab bila punya pasti sudah ketularan Sindrom Arswendo : nongkrongi acara televisi, bersiasat, dan kemudian jadi kecewa karena uneg-uneg, saran/kritik yang dilontarkannya dianggap sepi oleh TVRI. Karena tidak ada secuil pun reaksi atau penjelasan.

Walau demikian sindrom satu ini tidak membahayakan, dan M. (Tabloid Monitor- BH) bagi saya cukup pas berperan seperti pelopornya, TV Guide, karena jasa M.-lah saya bisa melakukan diet nonton televisi - di rumah tetangga. Sekaligus memperkecil resiko kecewa ketika nonton televisi.

Untuk pembaca M. dan penonton tv yang telanjur ketularan Sindrom Arswendo, teruskan. Saya kira kolom ini Suara Pembaca-BH) cukup demokratis sebagai mimbar bertukar uneg-uneg atau pun saran seputar dunia tv kita, dan percayalah -walau tidak bereaksi-TVRI toh juga membacanya.

Untuk itu santai sajalah, tidak perlu stress, dan sebagai penawar kecewa, saya sajikan satu anekdot mengenai “barang/jasa yang tidak laku dijual” :

Di Rusia : Asuransi Jiwa.
Di Hongaria : Novel Eskapis.
Di Irlandia : Scotch Whisky.
Untuk Suku Kanibal : Minyak Goreng (mereka merebus mangsanya dengan deterjen).
Untuk Padri Ortodoks Yunani : Alat cukur listrik.
Untuk Produser Siaran Televisi : Ide-ide Baru !


Bambang Haryanto
Humor Book Club-Dept. 17
PO Box 55/Jatra
Jakarta 13220


OBOS YANG HUMORIS. Saat ini, ketika menggelindingkan komunitas Epistoholik Indonesia, tak saya sangka, banyak warganya yang juga humoris. Tentu saja termasuk Bapak Soeroyo, yang usianya kini 80 tahun. Bagi saya, beliau adalah jagoan dalam membuat akronim yang sering mengundang senyum. Saat kita bertemu pun, Desember 2003, yang ada adalah pula canda dan tawa.

Sebagai misal, Anda kenal dengan istilah cilukbha ? Pak Soeroyo pernah menulis surat pembaca, cilukbha ternyata gerakan ibu-ibu PKK di Yogyakarta yang berupaya agar kotanya bersih, sehat dan nyaman. Cilukbha adalah singkatan dari Celana Ini Lumayan Untuk Kuda Buang Hajat ! Celana itu berupa kantong plastik yang dikenakan di “buritan” kuda untuk menampung kotorannya agar tidak berceceran di sepanjang jalan.

Tokoh EI yang humoris lainya, adalah Bapak H. Soerodjokartono, berdomisili di Bandung. Di kalangan anak, cucu dan tetangga, ia dikenal dengan sebutan : Obos. Pensiunan BUMN sejak tahun 1989, lahir di Bandung 31 Agustus 1933, memberi julukan kepada cucu-cunya terdiri : 2 orang Jamin (Jawa-Minang), 2 Pejabat (Peranakan Jawa -Batak), 2 orang Jawa (Jawa-Jawa) dan sisanya Janda (Jawa-Sunda).

Obos ini ketika menulis surat pembaca mengeluhkan layanan PDAM yang semau gue, telah memberi vonis jenaka. Katanya, perusahaan pengelola air minum itu getol melakukan praktik ilmu kiralogi, ilmu kira-kira dipadu ilmu awurisme, alias ilmu ngawur dalam mencatat tagihan, karena besarnya susah dimengerti dan kacau balau.

Sosok humoris dari EI yang lain lagi, tentu saja, adalah Lasma Siregar. Slogan terkenalnya Pak Soeroyo yang TOPP, Tua, Optimis, Prima dan Produktif, di tangan pena orang Batak yang kesasar di pedalaman Melbourne ini bisa ditekuk-tekuk menjadi : Tua, Optimis, Positif dan Playboy. Kalau nanti Pak Soeroyo duko, tak berkenan alias marah, saya tak ikut menanggung.

Untuk memahami humornya kadang tidak mudah. Coba, baca salah satu tulisannya yang muncul di situs web Mediakrasi (www.mediakrasi.com ) berjudul kontroversial : Demi Kesopanan, Marilah Telanjang Bulat. Silakan nikmati sendiri lanjutannya di situs blog dia ().

Kalau humor dalam kacamata serius, mari kita simak nasehat Bapak Darmawan Soetjipto. Beliau tulis, H. Moh. Abdullah Balbaid telah mengupas soal ketawa dalam bukunya berjudul: Al Qur'an Membasmi Keresahan Dalam Zaman Modern, antara lain menyebutkan :

Ketawa jalanmu menuju keberhasilan : ketawa dan kondisi tubuh yang melegakan merupakan dua unsur utama yang dibutuhkan oleh rata-rata manusia untuk menjamin kesehatan dalam usaha meraih keberhasilan dalam kehidupan. Maka tertawalah dan dunia pun akan tertawa pula bersamamu. Menangislah dan engkau akan menangis sendiri. Liputilah rumahmu, rumah sanak keluargamu dan rumah teman-temanmu dengan tawa.
Maka tertawalah selalu dan liputilah dunia dengan tawa dan kegembiraanmu. Tertawa itu memanjangkan umur dan menumbuhkan kekuatan pada tubuh.



LEDAKAN TAWA DUNIA SATWA. Kegemaran mengoleksi buku-buku kumpulan lelucon, menumbuhkan kenangan tersendiri. Di tahun 1987, saya mampu menyusun dua buku kumpulan lelucon.

Seorang mahasiswi Desain Produksi FTSP Universitas Trisakti, Cresenthya Hartati, pernah mengatakan dengan binar “You’re the great !”, antara lain setelah saya berikan sebuah buku kumpulan lelucon berjudul Bom Tawa Antar Bangsa (Pustaka USA, 1987).

Seorang putri duta besar RI, antara lain di di Senegal dan Kamboja, Widhiana Laneza yang saat itu berkuliah di Arkeologi FSUI, seekor anjingnya bernama Grigri yang lucu, mampu menjadi ide terbitnya buku Ledakan Tawa Dari Dunia Satwa (Andi, 1987).

Sayang, materi lelucon yang saling kita ceritakan dengan gembira, dengan Riaty Rafiudin yang saat itu kuliah Jurusan Ilmu Politik FISIP-UI, belum berhasil terwujud menjadi sebuah buku.

Kisah yang mengiringi lelucon-lelucon itu tidak selalu berakhir dengan tawa ria. Yang pasti, berbekal humor pula saya mampu untuk survive. Termasuk yang terparah, ketika di penghujung tahun 2001 saya dipecat dari pekerjaan sebagai direktur komunikasi sebuah situs web hak-hak konsumen, PintuNet.com, di Jakarta.

Untuk memperoleh tempat dan posisi yang enak untuk jatuh akibat bencana PHK itu, saya harus kembali menggali harta yang sudah lama saya miliki. Ya, humor itu lagi. Apalagi dibarengi impian, ibarat pulasan bedak untuk mengurangi rasa sakit, yaitu keinginan merintis menjadi komedian, setelah terilhami pentas cerdas komedian yang juga doktor, Steve Martin, saat memandu acara penerimaan Oscar 2001.
Untuk menghalau hati galau saya harus belajar lagi. Melalui layanan toko buku QB World of Books, Jakarta, saya memesan buku yang didatangkan dari Amerika Serikat. Buku itu karya Judy Carter, The Comedy Bible : From Stand-Up to Sitcom - The Comedy Writer’s Ultimate How-To Guide (2001). Buku yang membuat mata hati saya menjadi terbuka. Judy Carter menulis dalam situs webnya (www.comedyworkshopS.com), apabila suatu hal buruk terjadi janganlah sekali-kali menggunakan tiga kata ini : ini tidak adil.

Sebab keyakinan bahwa hal-hal baik harus juga terjadi pada orang baik-baik, merupakan harapan yang tidak realistis. Keyakinan semacam itu hanya akan menimbulkan kekecewaan berat dan sakit hati yang juga berat. Melainkan, ubahlah sikap Anda, berlakulah lebih praktis, dengan memakai pandangan yang kurang menyakitkan. Berfikirlah, saran Judy Carter, bahwa hidup itu lelucon.

Apalagi bagi kalangan komedian. Kita sebagai insan-insan jenaka, ujarnya, adalah sosok yang aneh. Kalau kebanyakan orang berusaha menyembunyikan cacat dan celanya, kita para jenakawan justru membeberkan segala cacat-cela itu di hadapan dunia. Semua itu guna merenggut tawa. Lanjutnya, apabila orang-orang normal mengekspresikan sense of humor-nya dengan menghafalkan lelucon-lelucon, tetapi komedian mentransformasikan seluruh pengalaman hidupnya menjadi bahan lelucon dan menulis leluconnya sendiri.


MULAI DARI NOL LAGI. Formula besi menjadi komedian sejati dari Judy Carter tersebut benar-benar membuat saya ciut nyali. Karena sekian banyak buku kumpulan lelucon yang saya miliki, yang dihimpun bertahun-tahun dengan segenap cinta, belum lagi state of mind yang berkarat selama ini, kini semuanya harus disingkirkan. Semuanya itu harus menjadi tidak berarti bila diriku ingin benar-benar menjadi seorang komedian sejati.

Saya harus mulai dari nol lagi. Kemudian harus dengan berani berdarah-darah mentransformasikan seluruh pengalaman hidup menjadi bahan lelucon dan menulis lelucon saya sendiri. Tantangan yang berat telah mengadang di depan ini :

Beranikah di panggung menceritakan rahasia diri sebagai hipokondriak, alias orang yang mudah berprasangka dirinya punya sesuatu penyakit ? Hanya sesudah membaca berita di koran tentang gejala sesuatu penyakit, lalu langsung merasa memiliki penyakit bersangkutan ? Dan bahkan kecewa ketika dokter mengatakan bahwa dirinya justru sehat-sehat saja ?

Beranikah melucukan dirinya sendiri sebagai bujangan di usia 52 tahun, dan ketika adik-adiknya sudah punya anak, justru menginginkan ingin dicatat prestasinya yang lamban itu dalam MURI sebagai rekor pribadi ?

Sanggupkah membuka diri dan bersedia ditertawakan orang dengan mengaku dirinya mengidap sindrom Peter Pan, yang ingin terus awet muda sekaligus terus berlari dari tanggung jawab, walau sebenarnya terus pula merasa bersalah dan dibekap kesepian ?

Ajaran bibel-nya Judy Carter itu membuat saya patah hati. Tetapi dengan batin yang lebih tegar kini. Karena sekarang saya merasa tahu makna ucapan “hanya kita-kita saja yang waras, yang masih waras” dari seorang Gus Dur delapan tahun lalu itu : orang yang waras adalah orang yang mampu menertawai cacat, cela, dan mengakui segala kekurangan dirinya.

Pemahaman itu membekali saya, mudah-mudahan juga Anda, sehingga kita akan terus mampu bertahan. Juga harapan meraih keberhasilan-keberhasilan.


Wonogiri, 4-5 Oktober 2004


No comments:

Post a Comment