Tuesday, February 13, 2007

Geliat Gincu Koran, Radio dan Lame Stream Media Sebagai Dinosaurus Di Era Digital : Pandangan Seorang Kaum Epistoholik

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 41/Februari 2007
Email : humorliner@yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Akhir tahun 2001 saya kena PHK. Oleh sebuah perusahaan Internet di Jakarta yang model bisnisnya sebagai agregator opini konsumen. Di situs perusahaan ini konsumen dibayar dengan poin agar mau menulis resensi terhadap produk atau jasa yang telah mereka beli. Akumulasi poin hingga mencapai jumlah tertentu akan dibayarkan dengan uang.

Inilah wujud gethok tular, word of mouth, di era digital. Penilaian itu mereka beri skor. Pendapat mereka kemudian dihimpun dengan pendapat konsumen lainnya, sehingga memunculkan skor akhir dan peringkat tertentu.

Dengan skor dan peringkat ini, calon konsumen memperoleh panduan dalam menentukan konsumsi sesuatu produk atau jasa. Jaringan pembeli tampil sebagai raja, bahkan mampu berskala global. Apalagi karena konsumen secara alamiah memang cenderung lebih memperhatikan pendapat konsumen lain dalam menentukan konsumsinya.

Saya bekerja sebagai bagian komunikasi, lingkupnya termasuk promosi dan pemasaran. Selain pemilik, karyawannya ada empat. Satu webmaster sekaligus direktur, lalu diri saya, satu sekretaris dan satu lagi layanan untuk komunitas situs. Impian besar saya bahwa situs ini sosoknya menjadi lebih besar dari even yang digagas pakar komunikasi pemasaran Handi Irawan dengan Indonesia Customer Satisfaction Award (ICSA) yang melakukan survei terhadap kepuasan konsumen dan lalu mengumumkannya setahun sekali. Di situs ini, perayaan itu dapat dilakukan setiap minggu misalnya, dengan responden yang secara teoritis agregatnya jauh lebih besar.

Pangkalan datanya jauh lebih masif, seleksi produk dan jasa tidak terbatas, kemudahan untuk diakses setiap saat, mampu menjadi panduan berbelanja bagi konsumen. Saat itu saya menvisikan, keluarga dengan kereta dorong di lorong-lorong swalayan melalui PDA atau ponsel, mereka akan mengakses dulu situs tersebut untuk berkonsultasi sebelum menentukan pilihan konsumsinya. Hemat saya, model bisnis situs ini berpeluang menjungkirbalikkan hubungan produsen dan konsumen dan situs ini berada di episentrum, pusat gempanya.

Saya diberhentikan, ini menurut versi gede rasa saya, karena gagasan visioner di atas akan melambungkan diri saya sebagai front man situs tersebut. Sementara itu, atasan saya, yang ahli kutak-katik HTML akan terancam terbenam melulu di balik monitor. Itulah realitas office politics, dan saya yakin yang menjadi korban dari hal-hal semacam ini tidaklah saya sendirian.

Untuk mengobati gundah, saya mencari hiburan dengan mencari buku-buku panduan menjadi komedian. Kisah ini dengan judul “Komedi dan Komedian : Kejujuran Mengolok Diri Sendiri” (antara lain berisi nostalgia bertukar lelucon dengan Gus Dur, 25 Oktober 1986, di Toko Buku Gramedia Blok M), telah muncul di kolom Teroka Humaniora, harian Kompas, 27 Januari 2007. Sungguh sangat kebetulan, tanggal tersebut adalah hari ulang tahun kedua deklarasi Epistoholik Indonesia, sekaligus Hari Epistoholik Nasional.

Buku-buku panduan menjadi komedian itu ternyata tidak saya jumpai di pelbagai toko buku utama di Jakarta. Untunglah, di QB World of Books, Jl. Sunda, ada layanan untuk pemesanan buku-buku dari luar negeri. Saya memesan, dan sebulan kemudian buku panduan menjadi komedian yang saya idamkan itu telah saya terima.


Migrasi nilai toko buku. Apa yang saya kerjakan itu, memilih untuk membeli buku dari luar negeri, pernah menjadi bahasan Rhenald Kasali di Tabloid Kontan (16/6/1997). Dengan judul “Value Migration II” ia paparkan secara menarik bagaimana konsumen buku berpindah dari toko-toko buku tradisional (tanpa AC) ke toko-toko buku swalayan, seperti Gramedia, Grafiti, Sari Agung, Tropen, dan sebagainya.

Sementara Rhenald Kasali yang saat itu sedang menjadi mahasiswa doktor di University of Illinois at Urbana, AS, mengamati terjadinya pergeseran konsumen buku di sana. Yaitu terjadinya value migration dari toko-toko buku swalayan ke toko-toko buku online. Konsumen lebih memilih melalui online, antara lain karena harga buku lebih murah. Seleksi untuk judul, secara teoritis tidak terbatas.

Siapakah konsumen toko-toko buku online itu ? Kalau di AS, konsumennya tentu saja terdiri dari berbagai generasi, karena hampir semua generasi di AS sudah tersentuh oleh Internet. Kalau di Indonesia, sebagian besar konsumen itu tentu saja kohor, atau generasi, komputer yang lahir 1960-1970 dan kohor Internet, yang lahir antara 1970-1978.

Menurut Rhenald Kasali, mereka inilah yang sekarang menjadi pelanggan Amazon.com yang mulai terkenal di kalangan anak-anak muda Indonesia itu. “Kalau sudah begitu, terjadilah value migration dan kita tak bisa berbuat apa-apa,” simpulnya.


Koran sebagai dinosaurus ? Migrasi nilai yang kini dahsyat terjadi dan membuat kelimpungan korbannya, adalah yang terjadi di dunia persuratkabaran. Mengambil analogi dari pelajaran berubahnya perilaku membeli buku dalam kisah Rhenald Kasali di atas, kini koran-koran di Indonesia juga terancam ditinggalkan oleh lapisan pembacanya, justru oleh mereka yang semula menjadi fondasi keberadaannya.

Lapisan pembaca tersebut adalah warga urban, melek huruf, yang haus dan sadar akan makna pentingnya informasi baik akurasi mau pun timing, berwawasan intelektual dan bercakupan global, cukup penghasilannya, dan menguasai bahasa Inggris. Tipe seperti mereka-mereka inilah yang cenderung mengonsumsi berita dari Internet dan meninggalkan koran-koran tradisonal, mainstream media, yang kini mendapat ejekan baru sebagai lame stream media, media yang lamban.

Kita saksikan kemudian, dalam menanggapi ancaman tersebut kini koran-koran Indonesia bereaksi ibarat industri rokok. Mengetahui bahwa masa depan tirasnya tergantung kepada konsumen atau pembaca muda, maka akhir-akhir ini ke sanalah industri rokok dan koran bermain.

Rubrik untuk anak-anak, pelajar dan mahasiwa, kini marak ditampilkan. Perwajahan, format sampai gaya penulisan dari koran itu mengalami perubahan. Versi Internet dari koran bersangkutan, juga sudah lama dihadirkan. Tetapi semua itu gincu belaka.

Pakar media Marshall McLuhan pernah berujar, jangan tanyakan tentang air kepada ikan, maka jangan pula tanyakan masalah koran itu kepada pengelola koran. Karena kedekatan, bahkan menjadi nafas sehari-hari dan menjadi jiwa mereka, membuat mereka hanya mampu melakukan reaksi-reaksi gincu ketika badai Internet begitu dahsyat mengancam eksistensinya.

Tommy Hetami, pemimpin umum Suara Merdeka Cyber News (Suara Merdeka, 12/2/2007), hanya menyebutkan beberapa portal berita di Internet di Indonesia yang ia nilai belum tampil kokoh sebagai pesaing media cetak. Dalam acara Dunia Bisnis BBC Siaran Indonesia (29/1/2007), pernah dibincangkan peta baru bisnis portal berita di Indonesia. Utamanya terkait dengan masuknya kelompok bisnis MNC/RCTI yang meluncurkan portal berita.

Perbincangan yang juga melibatkan Nukman Luthfie dan Rapin Mudiardjo, tokoh-tokoh media Internet, nampak masih berkutat seputar isi, content, bagaimana persaingan antar portal berita bergulat antara kecepatan versus akurasi, kredibilitas, dukungan tradisi jurnalistik sampai aneka ragam menu informasi yang disajikan.

Semuanya content centric. Titik. Semua peselancar di Internet itu dikiranya mengunjungi web tertentu hanya untuk membaca-baca informasi. Media mereka berubah, tetapi mindset pengelolanya resisten untuk berubah. Adalah O. Ricardo Pimentel dari Milwaukee Journal-Sentinel pernah mengeluh tentang rekan-rekannya seprofesi.

“Kebanyakan kami mempraktekkan jurnalisme dengan J besar dan kami selalu ketakutan bahwa misi jurnalisme akan tercemar oleh perubahan yang terjadi. Padahal, perubahan juga bagus bagi jurnalisme.,” tuturnya.

Dalam eksekusi situs web mereka, “penerbit-penerbit besar meremehkan hasrat orang untuk berkongregasi dan bersosialisasi di dunia maya, dimana ini merupakan salah satu daya tarik terbesar dari American Online,” cetus Prof. Jeffrey Rayport dari Universitas Harvard di US News & World Report (13/11/1995). Di masa kini, tengoklah kesuksesan pesta sosialisasi anak-anak muda di media maya itu dalam situs MySpace.

Catatan : kalau Anda pebisnis bermediakan Internet dan telah membaca dua artikel tonggak dari Jeffrey Rayport di Harvard Business Review, pasti cakrawala Anda kini jauh menjadi berbeda.

Mudah-mudahan para pelaku bisnis portal berita lama, yaitu Detikcom yang dalam wawancara dengan BBC diwakili pendirinya Budiono Darsono dan Kompas Cyber Media lewat Ninok Leksono, sudah pula membacanya. Yang pasti, mereka mengatakan siap menerima datangnya pesaing baru dari MNC/RCTI tersebut.

Bagi saya, itulah kiranya jalan pikiran tipikal sang “ikan-ikan” yang biasa hidup bersama air selama ini. Kemelekatan memang tidak mudah dihilangkan. Mereka memang telah hanya terbiasa saling mengintai dan mengawasi gerak-gerik pesaing mereka yang besar-besar, tanpa menyadari bahwa tempat mereka berpijak dewasa ini telah dikerat secara diam-diam, jengkal demi jengkal, oleh ribuan atau pun jutaan para netpreneur atau blogpreneur tanpa mereka sadari.

Photobucket - Video and Image Hosting


”Somewhere out there is a bullet with your company’s name on it. Somewhere out there is a competitor, unborn and unknown, that will render your business model obsolete,” demikian mukadimah yang puitis dan mencekam dari Gary Hamel dan Jeff Sampler dalam artikel monumentalnya, “The E-Corporation : More than just Web-based, it's building a new industrial order,” di majalah Fortune, 7/12/1998 (foto di atas).

Robert M. Pirsig dalam Zen and the Art of Motorcycle Maintenance (1981) pernah bertamsil, bahwa problem bisa tidak terlihat karena problem itu memang terlalu kecil atau bahkan karena terlalu besar. Ribuan atau jutaan peluru yang mengintai di jagat maya itu sebagian besar nampaknya justru tidak terlihat oleh para pengelola media lama tersebut.

Ilustrasi kecil mengenai masih dipakainya model bisnis yang usang tersebut mungkin dapat ditunjukkan ketika saya beberapa saat lalu tak sengaja menemukan direktori blog di situs komunitasnya Kompas Cyber Media. Direktori itu tampil sekenanya, tidak disusun menurut abjad nama blog, nama pengelola atau pun subjeknya.

Di halaman itu Anda diajak untuk mendaftarkan blog Anda. Tetapi jangan keburu senang dan berharap data blog Anda segera tampil seketika. Seminggu juga tidak bakalan muncul. Entah kapan.

Sang pengelola nampaknya lupa bahwa media digital itu harus tampil seketika, secepat kilat, karena konon elektron memang mampu mengelilingi bumi sebanyak sebelas kali dalam setiap detiknya. Media digital, berbeda pula dari media pohon mati alias kertas, juga tidak terbatas kapasitasnya.

Sehingga dengan tidak menampilkan semua blog yang ingin meramaikan arus lalu lintas informasi komunitas itu, boleh kan kalau pengingkaran terhadap janjinya sendiri bisa kita sebut sebagai tindak kriminal ? Minimal, mereka menyerimpung status situsnya sendiri sebagai hub warga komunitasnya sendiri pula.

Hal menyedihkan itu terjadi, apakah mungkin karena pengelolannya masih mengukuhi sikap mental scarce mentality ? Padahal bytes dan bits itu melimpah ruah di jagat ini sehingga sesuai mencocoki sikap mental abundance mentality, yaitu sikap mental mulia, rendah hati, tidak iri atau pun dengki atas suksesnya orang lain, yang sohor dikenalkan oleh Covey kepada banyak orang selama ini.


Siaran radio dipenggal-penggal. Pengalaman sebagai korban “kriminalitas” serupa, tetapi justru lebih parah, saya alami akhir-akhir ini terkait interaksi saya sebagai konsumen informasi dengan lame stream media lainnya, yaitu radio. Sebagai seorang epistoholik, telah saya tuliskan uneg-uneg saya lewat surat pembaca di bawah ini :


Quo Vadis, Radio Karavan dan PTPN Solo ?
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah
Kamis, 1 Februari 2007


Mengonsumsi berita sudah menjadi ritus. Sarapan pagi dengan baca koran, berangkat ke kantor sambil mendengarkan radio, rehat jam kerja diisi mengakses Internet dan menjelang tidur mengikuti berita malam di televisi. Saya sebagai seorang epistoholik, ritus di atas sudah merupakan keniscayaan. Tetapi akhir-akhir ini, akses informasi saya melalui radio mengalami gangguan yang membingungkan dan menjengkelkan.

Radio BBC Siaran Indonesia yang dipancarkan Radio Karavan Solo sejak tanggal 18, 19, dan 20 Januari 2007, baik siaran pagi (05.00-06.00) dan malam (18.00-18.30), tiba-tiba hilang total. Dulu, selama menjelang Lebaran, siaran malam BBC juga dikorting 10-15 menit untuk acara buatannya sendiri yang tak punya value informasi, tetapi ada sponsornya. Hilangnya siaran ini tidak mereka wartakan di radio bersangkutan, apalagi di media massa lainnya.

Lain lagi ulah Radio PTPN Solo. Siaran relai Voice of America/Suara Amerika malam hari (18.30-18.59), sering dikorting, hanya belasan menit saja. Bahkan sejak 24 Januari sd 29 Januari 2005, ditiadakan sama sekali. Sedang relai BBC Siaran Indonesia malam (20.00-20.30), hanya muncul 7-10 menit awal.

Menyedihkan. Sungguh ironis, pelaku bisnis industri radio justru tidak menghargai nilai informasi dari radio juga. Penjelasan mereka mengapa terjadi disrupsi parah yang dialami publik dalam memperoleh informasi, dinantikan.


Bambang Haryanto
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri 57612
Email : humorliner@yahoo.com
Warga Epistoholik Indonesia


Esoknya, Kristiana, Station Manager Radio Karavan FM Solo memberikan tanggapan di Kompas Jawa Tengah pula. Ia katakan, saat itu studionya sedang pindah lokasi. Sedang acara menjelang Lebaran itu ia katakan untuk memberikan informasi lalu lintas kepada para pemudik. Seingat saya, saat itu radio Karavan FM masuk jaringan penyiaran radio di Jakarta, mengudara serempak secara nasional dan materi siarannya tidak banyak relevansinya bagi pemudik di Solo dan sekitarnya.

Surat pembaca saya tersebut membuat saya dikontak oleh Pedhet Wijaya, Ketua Forum Penyiaran Jawa Tengah Wilayah II. Intinya, ia membuka diri untuk mendiskusikan masalah dunia penyiaran radio dan televisi di daerahnya.

Putra Solo yang ketika duduk di SMA Negeri 1 pernah mementaskan Opera Jaka Tarub di Pusat Kebudayaan Jawa Tengah (PKJT) Sasonomulyo tahun 1975, merasa kaget karena saya mengetahui rekam jejaknya 30-an tahun yang lalu itu. Karena penasaran, Pedhet pun mengaku mengobok-obok isi situs biografi, The Morning Walker saya. Ia malah makin bingung.

Lalu dalam balasan email, saya kisahkan, bahwa saat itu saya pernah menulis profil kegiatan siswa SMA-nya Indri Hapsari dan Krisnina Maharani itu di Majalah HAI. Termasuk menyebut opera Jaka Tarub karyanya, sebagai monumen prestasi siswa sekolah terpandang di kota Solo itu. Obrolan antara kita berdua belum berakhir.

Dalam diskusi lanjutan melalui email, Pedhet Wijaya yang lulusan MBA dan tokoh kunci PT Radio Ardan Swaratama Bandung, dan baru tahun 2003 pulang kampung ke Solo guna mendirikan Solo_Radio, mengemukakan hal-hal yang baru bagi saya. Terutama ia prihatin secara mendalam ketika berefleksi mengenai kuatnya stigma terhadap Solo, kotanya, akhir-akhir ini.

Solo yang buram.

Kota berperangai “sumbu pendek,” pusat perencanaan bom nasional sampai menjadi pusat amuk massa dan kerusuhan sosial. Pedhet Wijaya dari pengembaraan intelektual dan ketajaman intuisi bisnisnya mengolah media radio di Bandung, pulang kampung ke Solo, ingin memberikan solusi.

Ia memancangkan niat mulia, bahwa broadcast media mestinya harus menjadi alat social engineering, sehingga tidak jadi hanya menjadi pengganti tape/CD player atau penyalur (relay) informasi semata

Lanjut Pedhet, “Harus ada proses kreatif di sana, dan juga karakter yang kuat. Karena pemahaman seperti itu pula saya mau pulang-kampung ke Solo ketika teman-teman mengajak bermitra mendirikan Solo_Radio. Visi Solo_Radio kurang lebih selaras dengan visi Mas soal Pasoepati. Nah berangkat dari situ, kenapa tidak kita kerja sama, mumpung mimpinya sama nih? :-).”

Saya mencoba menghayati jalan pikiran eksekutif radio itu dan ajakannya tersebut. Gara-gara menulis di blog ini tentang pengalaman saya sebagai pendengar radio, saya pernah diprofilkan di harian Media Indonesia (Minggu, 10/9/2006) dalam artikel berjudul, “Manusia, Radio, dan Satu Gelombang.”

Saya pernah gagal menjadi nara sumber untuk perbincangan di radio. Karena gangguan komunikasi, saya tidak berhasil dikontak Meity Hivana dari Radio Delta FM Medan, 30/1/2006, untuk menjadi nara sumber melalui telepon perbincangan bertopik komedi Indonesia dalam acara Delta Afternoon Show Medan yang berlangsung keesokan harinya.

Dari Wonogiri saya pernah mengisi ruang udara untuk topik kiprah kaum epistoholik di Kantor Berita Radio 68 H (6/11/2006), Radio Utan Kayu Jakarta (11/11/2006) dan topik suporter sepakbola Indonesia di radio yang sama (5/1/2007). Tetapi memakai kacamata sebagai orang dalam industri radio, ini sungguh pengalaman baru.

Apakah melakukan social engineering melalui radio itu mirip apa yang dikerjakan oleh penyiar radio dalam film karya Nora Ephron, Sleepless in Seattle (1993), yang bertagline "what if someone you never met, someone you never saw, someone you never knew was the only someone for you ?" dan berhasil mempertemukan “cinta yang sudah tergurat di kosmis” antara duda di Seattle, Sam Baldwin (Tom Hanks) dengan wartawati Annie Reed (Meg Ryan) dari Baltimore, di puncak Empire State Building, New York City, ketika Hari Valentine ?

Atau seperti Dr. Laura Schlessinger di Radio WWRC di Washington DC, yang mengasuh acara konsultasi untuk keluarga, yang disiarkan dalam 290 jaringan radio dan mampu menghimpun 10 juta pendengar setianya ?

Saya tidak tahu. Untuk sementara ini, biarkanlah “sumbu pendek” saya yang bekerja : meneruskan menulis komplain saya yang kedua kepada Pedhet Wijaya. Karena lagi-lagi Radio Karavan FM Solo sejak hari Jumat 9 Februari sampai 13 Februari 2007 (pagi ini), kembali siaran BBC Siaran Indonesia tidak muncul lagi.

Sedang Radio PTPN, mungkin mereka tidak memperoleh akses terhadap harian Kompas Jateng, tidak menanggapi sama sekali isi surat pembaca saya di Kompas Jawa Tengah itu.


Bengokan Yang Menggelegar ! Bagi pengelola media lama, konsumen informasi mungkin hanya dianggap sebagai bagian dari statistik belaka. Tidak berwajah. Tidak mampu protes. Memang benar, bila platformnya masih berdiri di atas dasar media-media lama.

Jaman kini telah berubah. Dalam diskusi yang riuh dan berbobot mengenai 95 tesis bisnis baru yang diajukan Rick Levine, Christopher Locke , Doc Searls dan David Weinberger dalam Cluetrain Manifesto : The End of Business as Usual (1999), Aaron Osterby, pendiri dan mitra dari Osterby, Morgan & Associates menegaskan :

"Online communication is more about listening than the traditional print model which is 95 percent talking. To be an intelligent communicator both the listening and speaking forces must work in balance. This is the revolution of new media, this is what will change business communication forever."

Pengelola media lama yang bersikukuh tidak mau mendengar, kini silakan siap-siap menjadi bahan bisik-bisik dan gunjingan di media-media baru. Terutama blog. Dalam perbincangan yang sama, mencuat pula pendapat Luis Marinho Falc√£o, Direktur dari Ogilvy Interactive yang mengatakan, "the most frightening thing about an electronic whisper is the fact that it becomes a gigantic roar before some notice it."

Bengokan dahsyat yang menggelegar dan paling menakutkan lewat blog-blog itu pernah terbukti membuat Dan Rather, pembawa acara televisi terkenal, pensiun. Anggota DPR dari Florida, Mark Foley, mundur. Dan pabrik pembuat kunci Kryptonite harus mengeluarkan uang sekitar 10 juta dollar untuk mengganti kunci-kunci yang telah dibeli konsumen.

Photobucket - Video and Image Hosting


Seperti ditulis dalam majalah Fortune, 24/1/2005 (foto) badai blog itu bermula muncul tanggal 12 September 2004, berupa perbincangan di milis para penggemar sepeda bahwa kunci Kryptonite yang berbentuk U mudah dibobol dengan ujung bolpoin Bic.

Dua hari kemudian beberapa blog dan situs konsumen elektronik Engadget, menayangkan demonstrasi cara membobol kunci itu. Tetapi tanggal 16 September, pabrik Kryptonite justru meremehkan kabar tersebut. Kabar di pelbagai blog makin gencar, sehingga menarik perhatian media massa tradisional, sehingga diwartakan oleh kantor Berita Associated Press dan koran The New York Times edisi 17 September 2004.

Mesin pencari khusus blog, Technorati, memperkirakan pada tanggal 19 September kisah tentang kunci Kryptonite diakses sekitar 1,8 juta pengunjung. Akhirnya tanggal 22 September 2004, perusahaan itu mengabarkan akan mengganti kunci-kunci yang menghebohkan tersebut. Para pengelola media lama, apakah Anda masih meragukan kesaktian blog ?

Photobucket - Video and Image Hosting


Semua Orang Itu Cerdas. “Baiklah. Anda boleh terus mengeluh tentang blog. Namun, yang pasti, anda tak mungkin tak mengacuhkan fenomena ini. Sejak Internet diciptakan, blog lah mahluk yang tingkat penyebarannya tercepat di dunia informasi,” tutur Stephen Baker dan Heather (“yang cantik”-BH) Green dalam Business Week (11/5/2005) yang sampulnya terpampang di atas. “Bahkan,” lanjutnya, “terjangan blog dapat menggoyahkan hampir semua jenis bisnis, termasuk bisnis Anda.”

“Bisnis” saya adalah mengelola komunitas kaum epistoholik, kaum pemabuk penulisan surat-surat pembaca di media massa. Kekuatiran saya adalah, apa yang akan dikerjakan oleh warga komunitas saya ketika suatu saat koran-koran berwujud kertas itu tidak ada lagi ?

Maka sejak tahun 2003, saya terus berusaha mem-blog-kan karya-karya surat pembaca warga saya agar terpajang di Internet. Sebuah pancingan dan sekaligus undangan, agar mereka kelak mau mengelola sendiri blog-blog mereka di kemudian hari. Dengan memiliki blog, mereka ibaratnya berubah menjadi “institusi koran” tersendiri. Menjadi pemilik, pemimpin redaksi, wartawan, dan kalau blognya ngetop, bisa tampil menjadi petugas pemasaran dan penangguk dana dari pemasukan iklan.

Belum begitu sukses.

Memanglah, teknologi yang telah tersedia tidak selalu otomatis mendorong orang untuk mau mempergunakannya. Asumsi saya bahwa setiap penulis surat pembaca, seperti juga insan lainnya, pasti memiliki kecerdasan, pengalaman hidup yang kaya dan kearifan, kini bagi mereka telah tersedia media baru, gratis lagi, untuk menampung harta karun mereka. Untuk disampaikan kepada orang lain. Untuk membuka perspektif-perspektif baru. Untuk memperkaya khasanah dunia.

Kebelumberhasilan itu tidak membuat saya berkecil hati. Ketika meneliti nama-nama dalam direktori blog di situs komunitas Kompas Cyber Media itu juga sangat jarang sekali ditemui wartawan koran bersangkutan yang memiliki blog. Bahkan wartawan yang suka menulis topik teknologi informasi sekali pun.

Hanya ada satu nama yang muncul. Tetapi blognya dieksekusi persis seperti situs koran tempatnya bekerja, yang hanya pantas sebagai “kuburan” atau shovel ware belaka. Karena informasi yang asli sudah dimuat di media cetaknya dan hanya dicongkel kemudian untuk dipajang kembali dalam blog bersangkutan.

“Sebagian besar blog memang tidak menghasilkan uang, walau pun blog www.kausfiles.com dan www.InstaPundit.Com benar-benar menangguk keuntungan. Tetapi kaum blogger tidak peduli. Mereka mengerjakan semua itu tidak untuk memperoleh uang, paling tidak, tidak secara langsung. Mereka menerjuninya karena gairah, ledakan energi yang mereka peroleh ketika isi blog mereka mampu menggores kesadaran masyarakat,” kata John Ellis dalam artikelnya di majalah Fast Company (April 2002).

Terima kasih, John. Sebagai blogger dan epistoholik, reward di luar uang itu yang bahkan bisa lebih memabukkan. Baru-baru saja saya menulis surat pembaca di bawah ini :


Laptop, Tukul dan Anggota DPRD
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah
Selasa, 6 Februari 2007


Pemakai laptop yang terkenal di Indonesia, ada dua. Pertama, terpidana sebagai teroris Imam Samudra. Kedua, pelawak Tukul Arwana. Tokoh pertama, terkenal piawai menggunakan laptop untuk berkomunikasi dengan teman-temannya melalui Internet. Bahkan dari balik jeruji penjara. Tokoh kedua, nampaknya masih terbatas menggunakan laptop untuk membaca teks-teks yang memandu dirinya sebagai pembawa acara talkshow bernuansa lawak.

Kini pemakai laptop yang juga terkenal di Indonesia, adalah para anggota DPRD. Koran lokal di Solo mewartakan betapa banyak para anggota DPRD itu ternyata masih kikuk dan awam, hingga tampil cenunak-cenunuk dalam menggunakannya.

Mudah-mudahan mereka segera fasih dan memang sehari-hari menggunakannya. Diharapkan para wakil rakyat itu juga fasih menulis, mengkristalisasikan pikiran ke dalam bahasa, dan mempublikasikannya ke media. Baik cetak mau pun digital. Jadi mereka tidak hanya cakap omdo, omong doang, berbicara saja.

Semoga pula laptop mereka tersambung ke Internet, untuk membuka wawasannya. Sekaligus memudahkan diri mereka untuk dikontak oleh rakyat melalui sarana komunikasi digital yang egaliter tersebut.


Bambang Haryanto
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri 57612
Email : humorliner@yahoo.com
Warga Epistoholik Indonesia


Beberapa hari kemudian saya menerima surat dari seorang ibu, mBak Amy D. di Solo. Ia telah membelikan komputer untuk anaknya yang masih duduk di Sekolah Dasar, dan ia meminta panduan yang mudah dipahami awam sehingga dirinya tidak gaptek dan bisa berkenalan dengan Internet.

Setelah saya balas dengan SMS, dan tentu saja informasinya sangat terbatas, terbetik gagasan untuk mengenalkan mBak Amy dengan warga EI yang tinggal pula di Solo, yaitu Mustikaningsih. Mustikaningsih yang mengaku sebagai buruh pabrik plastik, tetapi baru saja membeli buku Tesaurus karya Eko Endarmoko (“saya kenal Eko di FSUI 1980-an”), semula enggan dan menjauhkan diri berkenalan dengan komputer di kantornya.

Setelah surat pembacanya dimuat, ia saya kompori untuk mau belajar komputer. Ia semula menulis surat pembaca dengan tulisan tangan. Juga dikirimkan melalui snail-mail, alias pos.

Kini, Mustikaningsih bisa menulis surat pembaca ke Kompas Jawa Tengah melalui email. Saya percaya, walau mungkin masih juga cenunak-cenunuk, dirinya akan mampu membantu mBak Amy dan buah hatinya dalam mengenal dunia digital yang baru dan menggairahkan tersebut.

Khusus kepada buah hati mBak Amy, dan rekan-rekan segenerasinya, saya ingin kembali kutipkan teks dalam sampul majalah TIME edisi 25/12/2006, ketika mereka menetapkan Tokoh Tahun 2006.

Person of the Year : You.
Yes, you.
You control the Information Age.
Welcome to your world.

Bukankah ucapan tersebut juga cocok untuk Anda, walau mungkin bakal tidak disukai oleh para pengelola media lama ?


Wonogiri, 13 Februari 2007

ee

No comments:

Post a Comment