Thursday, November 18, 2004

Impian Kaum Epistoholik Indonesia Tergantung Di Bintang-Bintang

(Dan Sayap-Sayap Warganya Kini Terbang Untuk Menggapainya :
Impian dan Cita-Cita Di Balik Eksistensi Epistoholik Indonesia)



Oleh : Bambang Haryanto
Pencetus Komunitas Epistoholik Indonesia
Esai Epistoholica No. 13/Nopember 2004
Home : Epistoholik Indonesia


Selamat pagi. Nama saya Bambang Haryanto, dari Wonogiri, Jawa Tengah. Sungguh menjadi kehormatan saya mendapatkan kesempatan untuk menceritakan upaya pribadi saya di hadapan para juri Mandom Resolution Award 2004 yang terhormat, upaya saya melambungkan impian setinggi bintang dan resolusi saya untuk menggapainya.

Saya seorang epistoholik. Ibu kita Kartini, juga seorang epistoholik. Artinya, orang-orang yang kecanduan menulis surat. Tetapi kali ini, epistoholik dimaknai sebagai orang yang kecanduan menulis surat-surat pembaca di media massa.

Kolom surat pembaca, tentu sudah Anda ketahui, di mana biasanya termuat protes dan keluhan. Misalnya orang yang tak bersalah diuber-uber, diteror debt collector perusahaan kartu kredit, protes terhadap kualitas air dari PAM yang jelek, kejadian pungli di bandara atau jalanan, dan semacamnya.

Disamping orang-orang yang memprotes dan mengeluh melalui surat pembaca, yang biasanya insidentil, terdapat beberapa orang khusus yang memanfaatkan kolom surat pembaca itu secara teratur, bukan hanya untuk protes, tetapi juga memberikan antisipasi, dan bahkan juga solusi. Orang-orang khusus ini diberi label sebagai epistoholik, saya kemudian menghimpun mereka dalam sebuah komunitas Epistoholik Indonesia, dan dari sinilah garis mulai untuk memberangkatkan impian dan cita-cita masa depan yang menantang.

Ada 4 (empat) impian yang tergantung di bintang-bintang cakrawala saya sebagai pencetus Epistoholik Indonesia.

1. Pertama, menjadikan komunitas Epistoholik Indonesia sebagai salah satu pilar yang mendorong kehidupan berdemokrasi.
2. Kedua, komunitas Epistoholik Indonesia mempromosikan pentingnya keterampilan menulis, terutama pada generasi muda.
3. Ketiga, membangun dan memfasilitasi dialog lintas generasi.
4. Keempat, memberdayakan setiap insan sebagai sumber pengetahuan dan kearifan yang terintegrasi dalam jaringan untuk kesejahteraan kehidupan bersama.

***

Pertama, menjadikan komunitas EI ini sebagai salah satu pilar kehidupan berdemokrasi. Setelah terbungkam selama 32 tahun, kini saatnya rakyat harus berbicara. Lantang. Menyuarakan aspirasi sampai protes. Komunitas kami selalu mendorong warganya untuk cerewet, dengan menulis dan menulis, sehingga atmosfir demokrasi selalu gaduh dan riuh. Seperti kata James Buchanan, “saya suka gaduhnya demokrasi”, itulah pula cita-cita kami.

Dalam berinteraksi dengan media cetak, kami sedang berusaha mencari peran yang lebih progresif untuk menyuarakan aspirasi pembaca. Kalau selama ini media internet, radio dan televisi relatif menempatkann audiens sebagai isi secara lebih signifikan, hal itu belum banyak terjadi dalam media cetak. Karena media cetak selama ini terlalu journalist-centered, berpendekatan top-down, kini kami sedang mengetuk-etuk pintu mereka : libatkan kami, jadikan kami sebagai sumber diskusi koran Anda, karena itu bermakna bagi masyarakat kami. Bila tidak maka koran Anda pun akan terancam mati !


Kedua, komunitas Epistoholik Indonesia mempromosikan pentingnya keterampilan menulis, yaitu melahirkan gagasan dalam bahasa, terutama bagi generasi muda Indonesia. Kami kecewa berat terhadap luaran produk pendidikan Indonesia yang kebanyakan tidak cakap dalam menulis, bahkan menulis surat lamaran pekerjaan pun mereka tidak mampu.

Hasil penelitian dari lembaga NAEP (National Assessment of Educational Progress) di AS menyatakan, setiap anak didik itu memiliki kemampuan relatif sama dalam menyerap informasi, tetapi hanya sedikit yang mampu belajar memanfaatkan informasi-informasi itu secara efektif dalam berpikir dan bernalar. Jadi semakin terampil anak didik dalam menulis dan semakin banyak mereka menulis, akan semakin mengasah mereka menjadi intelektual yang pemikir. Kalau mayoritas generasi terdidik kita tidak menulis, artinya tidak juga berpikir, maka menurut logika filsuf Rene Descartes, “saya berpikir maka saya ada” (cogito ergo sum), maka bangsa Indonesia ini bisa dianggap tidak ada.

Kami mendorong generasi muda untuk menulis surat pembaca, karena menurut pengalaman empiris kami, menulis surat pembaca itu memicu kecanduan. Bisa menulis saja itu sudah mencandu, dan bila dimuat kita membayangkan gagasan kita dibaca ribuan orang, apalagi kalau nanti mendapatkan tanggapan. !


Ketiga, membangun dan memfasilitasi dialog lintas generasi. Sebagian warga komunitas kami adalah para warga senior, pensiunan. Menurut pandangan kami, di Indonesia kini ada jutaan kaum pensiunan sebagai sumber ilmu pengetahuan, pengalaman sampai kearifan, yang terbengkalai. Kita berpacu melawan waktu, bagaimana harta karun berharga mereka dapat didialogkan dengan generasinya yang lebih muda.

Kami di EI, telah mendokumentasikan surat-surat pembaca mereka di Internet, sehingga mudah diakses setiap saat dan di mana pun pengakses berada. Impian pribadi saya, di masa depan nanti pada setiap panti wreda, panti jompo atau organisasi wredatama, ada fasilitas komputer yang tersambung di Internet. Kemudian generasi muda mengajukan pertanyaan, dan kemudian jaringan kaum senior ini memberikan tanggapan.

Dinamikanya seperti segmen “Ask the Audience” dalam kuis Who Wants To Be A Millionaire. Tanggapan mereka disusun menurut peringkat, dan silakan penanya tadi untuk memilihnya. Hal sebaliknya juga dimungkinkan terjadinya dialog antarmereka ketika generasi senior justru bertanya kepada para juniornya. Teknologi semacam untuk mendorong kehidupan demokrasi di AS telah dipelopori oleh organisasi civil liberties, MoveOn.org.


Keempat, lebih memberdayakan setiap insan sebagai sumber pengetahuan dan kearifan yang terintegrasi dalam jaringan untuk kesejahteraan kehidupan bersama. Bagi saya, tiap orang itu cendekia. Tetapi karena selama ini banyak terkendala oleh media untuk mencatat dan mengkomunikasikannya (bikin buku mahal, apalagi bikin koran), maka ilmu gembolan, simpanan yang tersembunyi dari tiap-tiap individu itu tak muncul, mungkin hanya jadi bahan omongan, juga tidak terdokumentasikan, sehingga akhirnya mudah hilang ditelan jaman.

Kini, berkat Internet, kendala itu bisa dirobohkan. Kini tiap individu, dibantu Internet, mampu bertiwikrama untuk mampu memproklamasikan ide dan uneg-unegnya ke seluruh dunia. Jin telah keluar dari botolnya !

Tulisan surat pembaca hanyalah wujud puncak dari gunung es harta karun si penulisnya. Di bawah puncak itu tersembunyi khasanah ilmu, pengetahuan, pengalaman dan kearifan tiap-tiap individu yang dapat digali dan dikomunikasikan.

Sekadar contoh realisasinya, saya telah membangun gugusan situs blog pribadi. Silakan klik : http://bukabeha.blogspot.com, dan Anda akan dipandu menuju belasan situs blog sebagai “kebun-kebun” tulisan yang memuat informasi dan gagasan yang dapat saya sumbangkan kepada dunia. Semua warga EI saya dorong untuk memulai hal yang sama : menulis, mengaktualisasikan diri dan mempublikasikannya sehingga mampu memberikan kontribusi kepada sesama.

Pada akhirnya, diharapkan akan terbentuk gugus-gugus cendekia yang memiliki minat sama. Semua gugus itu, juga gugus minat yang lainnya, saling terhubung dalam suatu jaringan maya, di mana seseorang yang membutuhkan informasi sampai bimbingan tertentu akan dirujuk kepada ahlinya, sekaligus “kebun-kebun” tulisannya atau bahkan berdiskusi dengan yang bersangkutan beserta komunitasnya.

Kalau di media cetak kita biasa tergantung kepada opini yang ditulis satu-dua orang pakar, di Internet pakar itu bisa banyak. Hal ini jelas memberikan lebih banyak sudut pandang, karena seringkali pencari solusi lebih mencari perspektif dibanding solusi yang baku.

Demikianlah skenario tentang empat impian besar yang kini tergantung di bintang-bintang dan sejak Oktober 2003 saya telah mengajak puluhan pasang sayap warga Epistoholik Indonesia untuk terbang dan menggapainya. Suatu kehormatan besar saya bisa membagikan impian tersebut dalam ajang Mandom Resolution Award 2004 ini.

Terima kasih untuk perhatian Anda.

Akhirnya, terimalah salam dari warga Epistoholik Indonesia :
Episto ergo sum !
Saya menulis surat pembaca karena saya ada !



Jl. Kajen Timur 72
Wonogiri 57612
18/11/ 2004

Catatan : Naskah ini dipersiapkan untuk mengikuti babak final Mandom Resolution Award 2004, Jakarta, 24-26 November 2004.

No comments:

Post a Comment