Thursday, December 23, 2004

Mandom Resolution Award 2004 (1)

Oleh : Bambang Haryanto
Pemenang Mandom Resolution Award 2004
Esai Epistoholica No. 14/Desember 2004
Home : Epistoholik Indonesia


Hot News : Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, Ketua Dewan Juri Mandom Resolution Award 2004 dan Totot Indrarto, Creative Director SatuCitra Advertising, kreator MRA 2004, bersedia menulis komentar atas isi situs blog ini :

"Mas Bambang,
Waah...asyik juga baca "blog"nya. Rupanya banyak sekali anekdote yang bisa Anda rekam, yang kalau dibiarkan akan hilang ditelan bayu, dan tidak akan menambah khasanah KM (Knowledge Management) kita. But for your knowledge. Dr. Bisono yang itu jelas bukan bapaknya Tika Bisono, sebab ayah TB adalah orang minyak (pegawai Stanvac)".

SARLITO
(Emailnya tertanggal : 26 Desember 2004.

"Terima kasih, Prof ! Sungguh surprise Anda sudi memberikan komentar yang membahagiakan saya !" (BH).

"Halo Mas BH,
Wah, Anda memang luar biasa. Amat sangat rajin mencatat, berpikir, dan menuliskannya buat banyak orang. Sejak hari pertama saya perhatikan Anda memang sibuk dengan notes dan tape mini tape recorder itu. Mengingatkan saya pada tekab, eh... wartawan. Hahaha....

Saya senang membaca-baca Blog Anda, sudah saya feed dengan RSS menggunakan Bloglines. Terus lanjutkan perjuangan, Mas! Di atas bintang masih ada bintang!

BTW, kalau ada finalis MRA 2004 lain yang memiliki Blog, tolong beritahu saya".

Wassalam,

Totot Indrarto
www.pakde.com
Celebrating Life
(Email 2 Januari 2005)


Dear Mas Totot Indrarto,
Salam sejahtera. Terima kasih untuk hadiah email dan komentar Anda atas isi blog saya. Mumpung ingat, maka harus ditulis, agar tidak hilang ditelan bayu (kata Mas Ito).

Bab bawa-bawa bloknot kesana-kemari ala WTS (wartawan tanpa surat kabar), itu dapat ilham dari turis Jepang. Yang bocorin info itu Harry Davis, pengajar MBA di Sekolah Bisnis Harvard. Kata Pak Davis, turis Jepang keliling dunia, catat ini dan itu, lalu datanya dihimpun, dianalisis, jadilah produk Jepang membanjiri dunia. Selain itu, ini yang belum banyak diajarin di sekolah kita, yaitu belajar untuk mengamati.

Nah di MRA 2004 yang lalu, saya belajar mengobservasi dan hebatnya Dimas Deworo juga belajar hal yang sama,hingga muncul kesimpulan kompak bahwa sampeyan itu temannya Will Smith dan Tommy Lee Jones : Man In Black ! (Para finalis MRA 2004 adalah para alien-nya ?)
Bab blog, ya saya penginnya mengajak banyak orang untuk mau bikin blog, termasuk rekan-rekan alumni MRA 2004 yang luar biasa resolusinya itu, seperti yang Anda tulis dalam situs blog Anda. Jadi, kita sejalan, bukan ?

Sekian dulu. Salam dari Wonogiri !

Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia


Pengantar : Setelah terpilih dari 923 peserta se-Indonesia, saya, Bambang Haryanto, mengikuti babak final Mandom Resolution Award 2004 di Hotel Borobudur International, Jakarta, 23 - 26 November 2004 yang lalu.

Mandom Resolution Award (MRA) merupakan bentuk corporate social responsibility dari PT Mandom Indonesia Tbk dalam menunjukkan kepeduliannya terhadap perkembangan dan kemajuan masyarakat. Dengan esensi nilai "Human and Freedom", PT Mandom Indonesia Tbk membuka ruang yang merdeka bagi setiap insan manusia untuk berani mengejar dan mewujudkan apa pun impiannya. Melalui MRA, Mandom ingin memberi penghargaan bagi mereka yang berani dan rela berkorban untuk mewujudkan impiannya untuk memajukan masyarakat atau lingkungan demi mencapai kehidupan yang lebih baik. Dalam babak final telah diseleksi 19 finalis untuk dipilih 10 pemenang. Saya terpilih sebagai salah satu pemenang MRA 2004.

Untuk menyebarluaskan spirit "Human and Freedom" dari kontes ini, dan cerita suka duka ketika mengikutinya, saya telah menuliskan beberapa sketsa-sketsa cerita. Semoga dapat mengilhami Anda pembaca untuk berani menggantungkan impian setinggi bintang dan berusaha untuk menggapainya.

Kita simak kata pujangga Jerman Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832), bahwa kuncinya adalah keberanian. What you can do, or dream you can, begin it. Boldness has genius, power, and magic in it . Apa saja yang bisa kau kerjakan, atau bisa kau impikan, mulailah. Keberanian memiliki kejeniusan, kekuatan dan daya magis di dalam dirinya !

Untuk warga komunitas Epistoholik Indonesia di mana saya berakar dan menjadi springboard impian saya, saya mengucapkan banyak terima kasih atas kerja sama hebat kita selama ini, dukungan, juga doa. Semoga oleh-oleh cerita ini dapat menjadi bekal agar kita, seperti kata Sheila on Seven, mampu “melompat lebih tinggi” lagi.

Ini adalah himpunan sketsa bagian pertama. Isinya meliputi judul :

ALIEN DI MATA TIKA
BUJANGAN DIGITAL
SEPATU LONDON KONYOL
MELOMPAT KOHOR
KOSAKATA MERANGSANG DARI TIKA
WILDE, ALLEN DAN AYAM MALAYSIA
EKONOMI REPUTASI DIAN SAFITRI

Selamat membaca. Terima kasih untuk atensi Anda.

Bambang Haryanto

--------------------

ALIEN DI MATA TIKA. Strumming my pain with his fingers / Singing my life with his words / Killing me softly with his song / Killing me softly with his song / Telling my whole life with his words / Killing me softly with his song.

Lagu indahnya Roberta Flack ini mengalun dari suara Tika Bisono di Flores Room, Hotel Borobudur, Kamis malam, 26 November 2004. Psikolog, entertainer sekaligus salah satu juri dari Mandom Resolution Award (MRA) 2004 itu sudi menyumbang lagu, menghangatkan acara, sebelum diumumkan siapa-siapa para pemenang kontes Mandom Resolution Award 2004. Termasuk yang juga hangat adalah demo main saxophone yang “kontroversial” dari Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono yang menghapus kekaguman saya terhadap Louis Armstrong, Dave Koz dan Embong Raharjo.

Saya, sebagai salah satu finalis, berhimpun dengan sembilan finalis lainnya berada di sayap kanan bagian depan arena. Antara lain bergabung Dian Safitri, dr. Erwin S. Setiawan, SpJP, Hariyadi, Hisyam Zamroni, Prasetya Marsianta, DR. Ir. Slamet Sudarmaji, M.Sc, Soleman Betawai, Sunaryadi dan Tarjum.

Finalis lainnya seperti Bagyo Anggono, Bambang Kartono Kurniawan, Deny Wibisono, Dimas Deworo Puruhito, Ilham Prayudi, Muhammad Rudiyanto dan Nurhayati, berada di sayap kiri. Apakah posisi “sayap kanan” itu posisinya para pemenang dan “sayap kiri” posisi para pecundang ? Atau sebaliknya ?

Sebelum jauh-jauh melamunkan peluang “ekstrim kiri” versus “ekstrim kanan” itu, tiba-tiba saya dibuyarkan oleh komentar. “Dia itu penyanyi”, salah seorang finalis MRA 2004 di dekat saya mengomentari Tika. Lainnya pun segera ramai menimbrung.

Yang segera menyeruak dari kepala saya saat itu adalah : seberapa jauh mereka-mereka itu mengenal Tika Bisono sebagai penyanyi ? Kenalkah mereka akan lagu ciptaan Guruh Soekarno Putra, Melati Suci yang dilantunkan secara indah oleh Tika ? Pernahkah mereka mendengarkan lagu ciptaan Dadang S. Manaf, Ketika Senyummu Hadir, yang menjadi judul album Tika Bisono pada tahun 1990 ?

Flashback. Saya pertama kali mendengar suara Tika Bisono pada tahun 1980-an. Saat itu saya berkuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia, di Rawamangun, Jakarta Timur. Sering mendengarkan Radio Prambors, di mana saat itu Tika Bisono (kalau tak salah) ikut menyanyikan salah satu lagu pemenang Lomba Cipta Lagu Remaja-nya Prambors. Kalau tak salah pula, pada tahun sekitar itu (Prahastika) Tika Bisono sudah berkuliah di Fakultas Psikologi UI, yang kampusnya di Rawamangun juga.

Saat itu, saking penginnya memergoki sosok Tika Bisono, setiap kali naik bus kota, meliwati Jalan Utan Kayu, saya pasti menengok ke rumah yang ada papan namanya berbunyi : Dr. Bisono. Ahli Bedah Plastik. Padahal, sampai sekarang pun, saya tidak tahu apakah ada kaitan antara Dr. Bisono itu dengan Tika Bisono.Yang pasti, mungkin ini suatu serendipity, Tika adalah Putri Indonesia 1978 pilihan majalah Gadis. Di majalah ini pula di tahun-tahun itu saya menulis cerita pendek dan esai. Cut !.

Sebelum berangkat ke Jakarta untuk mengikuti babak final MRA 2004, saya sudah mengerjakan pekerjaan rumah : meriset data seputar prestasi Tika Bisono sebagai artis. Secara khusus saya mengunjungi Radio Pemerintah Daerah Kabupaten Wonogiri. Sokurlah, bagian diskoteknya mau membantu, sehingga saya menemukan album kasetnya Tika Bisono yang terbit tahun 1990. Mengapa saya harus melakukan hal “aneh” seperti ini ?

Ahli strategi perang Cina, Sun Tzu, pernah bilang : ketahuilah dirimu dan ketahuilah musuhmu, kau akan selalu memenangkan setiap pertempuran, kau ketahui dirimu dan tak kau ketahui musuhmu, membuatmu mungkin menang atau kalah, dan bila kau tak pernah mengetahui dirimu atau pun musuhmu, maka kau akan selalu mengalami kekalahan.

Kontes Mandom Resolution Award 2004 memang bukan perang dalam arti harafiah. Tetapi saya pagi-pagi harus berhitung dan pasang antisipasi : terdapat dua puluh topik resolusi yang telah terpilih, yang tersaring dari 923 resolusi yang diajukan dalam kontes ini, tentulah semuanya berupa ide-ide gemilang yang bakal menjadi saingan berat dalam memperebutkan posisi sebagai pemenang. Terlebih lagi, apabila terjadi persaingan yang sangat ketat antarpara finalis, saya yakin akan muncul pertimbangan-pertimbangan subjektif dari diri para juri dalam menilai para kontestan.

Tahun 2002, ketika saya mengikuti The Power of Dreams Contest 2002 yang diselenggarakan oleh PT Honda Prospect Motor, falsafah Sun Tzu itu juga saya laksanakan. Saya meriset “apa dan siapa” para juri saat it.

Misalnya Arswendo Atmowiloto ( “dia itu wong Solo”), Mien Uno (“saya memiliki dan membaca buku biografinya”), Riri Riza (“jauh sebelum Hari-H penjurian, saya telah kirim email bahwa akan minta tanda tangan untuk buku skenario film laris yang ia produseri, Ada Apa Dengan Cinta ?”), Susi Susanti (“ia akrab dengan adik saya yang wartawan olahraga), Kusnadi Budiman (“ia lahir di Brasil, dan saya suporter sepakbola”) dan Satoshi Okamoto ("ketika dia menjabat di Honda Pakistan, dubes Jepang untuk Pakistan saat peluncuran mobil Honda mengungkapkan filosofi pentingnya industri dan kemakmuran dalam bahasa Pakistan, dan kata mutiara itu sudah saya hafalkan”). Saya menang dalam kontes berhadiah 20 juta rupiah ini.

Dengan riset, saya ingin kembali menang. Oleh karena itu menjelang final Mandom Resolution Award 2004 saya pun melakukan riset untuk mengetahui sebanyak-banyaknya jeroan perusahaan PT Mandom Indonesia Tbk. Tentu saja, terutama meriset siapa “lawan”, yaitu para juri-juri kita.

Saya ingat ajaran Habit 5 dari Stephen R. Covey : Seek First To Understand, Then To Be Understood. Pertama-tama fahami dulu, kemudian orang lain pun akan memahamimu. Motif saya, minimal, agar di depan para juri saya bukan lagi sebagai orang yang asing, alien, bagi mereka. Bila berhasil, ini sudah advantage besar bagi diri saya.

Kembali ke Flores Room, lagunya Tika, Killing Me Softly With His Song, masih menggema (mungkin saya satu-satunya finalis MRA 2004 yang punya rekaman suara suasana Malam Anugerah MRA 2004 itu) :

I heard he sang a good song
I heard he had a style
And so I came to see him
and listen for a while.

Sejujurnya, saya tidak cakap dalam bernyanyi. Tetapi di depan para juri saat itu, saya percaya bahwa pesan-pesan dari lirik di atas telah menggema indah dalam ruang penjurian saat itu. Terutama di telinga Tika.

Momen itu terjadi ketika mengenalkan diri, saya telah menyebut masing-masing keistimewaan para juri itu di mata saya. Untuk Tika Bisono, sengaja saya mengutip kalimat yang tergurat dalam bungkus kasetnya keluaran 14 tahun lalu yang berbunyi :

”Tika Bisono adalah panorama yang indah.
Sampai detil-detilnya”.

Lalu saya tambahkan :

“Ketika hari ini saya dapat berjumpa dengan mBak Tika, saya pun mempercayainya. Senang sekali saya bisa bertemu dengan Anda, mBak Tika”. Mungkin kata-kata ini yang membuat saya terpilih sebagai salah satu pemenang MRA 2004.


BUJANGAN DIGITAL. Ketika mendapat selebaran jadual presentasi saat acara welcome dinner di Restoran Italia Bruschetta, 23/11/2004, secara kebetulan saya dan Tarjum memakai baju yang warna dan motifnya sama. Kebetulan lagi, kita dapat jatah sama-sama untuk presentasi pada hari kedua. Kebetulan yang lebih detil lagi, kita sama-sama mengeksploitasi gagasan dan membumikan impian bersenjatakan Internet.

“Topik-topik presentasi hari pertama adalah lo-tech dan hari kedua hi-tech”, begitu canda saya pada Tarjum. Ia hanya senyum-senyum.

Memanglah, nuansa hi-tech, teknologi tinggi, saya alami saat presentasi di Ruang Belitung 3, Kamis, 25/11/2004. Telah tersedia laptop mungil Sony VA10, yang tersambung dengan LCD projector, dan inilah pengalaman pertama saya menggunakan fasilitas hotspot Internet. Alias koneksi Internet berkecepatan tinggi secara wireless atau tanpa kabel.

Presentasi hari kedua itu dibuka oleh Tarjum. Saya mendapat giliran sesudahnya. Saat jedah, seusai Tarjum keluar ruang, saya lihat dua juri wanitanya minta ijin untuk pergi ke toilet. Saya pun menunggu. “Apa yang Tarjum katakan, juga ceritakan dalam presentasinya, hingga kedua juri wanita itu harus kompakan ke belakang ?”. Sesudah saya adalah Ilham Prayudi. Ketiganya, sokurlah, menjadi pemenang MRA 2004.

Show time !. Di depan juri, Prof. Sarlito Wirawan Sarwono, Maria Hartiningsih dan Tika Bisono, saya pun menyapa :

“Perkenalkan, nama saya, Bambang Haryanto, dari Wonogiri. Kelahiran Solo, 24 Agustus 1953. Saya seorang epistoholik dan penulis lepas. Lulusan dari STM Negeri II Yogyakarta, Fakultas Keguruan Teknik Jurusan Mesin UNS Sebelas Maret Solo dan Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Status perkawinan, mmm, kalau dalam dunia digital dikenal istilah koneksi tanpa kabel sebagai wireless, maka status saya yang bujangan dalam istilah digital adalah : wifeless.”


SEPATU LONDON KONYOL. Sepatu kulit itu dibeli adik saya di London, saat ia bertugas meliput di Birmingham, Inggris. Sudah berumur delapan tahun dan jarang dipakai, kondisi kulitnya masih bagus. Cacat beratnya, rekatan antara bagian kulit dan solnya ringkih. Saat saya pakai untuk mengikuti MRA 2004, ia jadi sumber maha bencana !

Dalam perjalanan dari Wonogiri (saat itu hujan deras) dan mendekati Hotel Borobudur (juga hujan), kondisinya masih utuh. Juga tetap berjaya sampai saat acara welcome dinner tiba. Tetapi pada hari pertama presentasi, yang merupakan hari libur bagi saya, sepatu saya itu tiba-tiba jadi ikut stres berat. Solnya terlepas. Apakah ini pertanda atau firasat buruk bagiku dalam mengikuti kontes MRA 2004 ini ?

Solusi yang berkelebat di benak adalah : saya harus membeli lem sepatu. Tempatnya saya sudah tahu : Toko Golo di Pasar Baru. Dua tahun lalu saya membeli tape recorder mini, yang saya tenteng-tenteng a la wartawan itu, juga di toko murah meriah ini. Begitulah, ketika Adam Yazid, Bagyo Anggono, Deny Wibisono, Dian Safitri dan Anik Dini Hariyati dan anggota kloter pertama lainnya berjuang menjual diri dan impiannya di depan juri, saya justru sibuk urusin sepatu bobrok produk negerinya Tony Blair itu.

Trik a la McGyver pun dilakukan. Fasilitas benang dan jarum yang tersedia di kamar mandi, saya manfaatkan. Sol sepatu itu saya ikat dengan benang dengan kulitnya. Saya pakai pelan-pelan, sok gaya kalem dan cuek, untuk keluar dari hotel. Sampai di Lapangan Banteng, sepatu konyol itu saya masukkan ke tas, dan kemudian dengan bersandal saya ngebut ke Pasar Baru. Dengan membeli lem kulit PowerGlue, sol dan kulit itu saya tangkupkan di tengah perjalanan kembali ke hotel.

Saya pikir, dengan satu tube lem saja urusan jadi segera beres. Ketika break makan siang, sol sepatu saya ternyata copot lagi. Akibatnya, janjian saya sama Dimas Deworo dan Anik Dini Hariyati yang pengin bareng-bareng nonton Pesta Kesenian Kota Asia, sori, saya batalkan secara sefihak.

Saya dipaksa harus ke Pasar Baru lagi. Beli lem sepatu lagi. Kini saya mengamuk, membeli tiga tube lem dengan merek berbeda. Sokurlah, urusan sepatu itu akhirnya beres. Kalau soal sol brengsek ini berkepanjangan, mungkin saya tak bisa tampil PD saat presentasi di hari kedua. Sampai saat ini kondisinya masih kokoh, padahal saya lem dengan lem yang harganya tak semahal yang pertama.

Skandal sepatu itu membuat acara ingin main ke PT Balai Pustaka, yang hanya sepelemparan batu dari Hotel Borobudur, jadi gagal. Gagasan reuni dengan rekan-rekan pengelola majalah Pembimbing Pembaca-nya Klub Perpustakaan Indonesia, di mana saya pernah di tahun 1980-an sebagai kontributornya, belum kesampaian pula akhirnya.

“Oalah, jauh-jauh ke Jakarta, tinggal di hotel berbintang, aktivitas utamaku hanya bolak-balik ke Pasar Baru untuk beli lem sepatu !”


MELOMPAT KOHOR. Akademisi pemasaran dari Universitas Indonesia, Rhenald Kasali pernah menulis di majalah Cakram, 1/1996, mengenai pemasaran dengan analisis cohort. Cohort atau kohor adalah agregat individu yang mengalami peristiwa yang sama di dalam interval waktu yang sama pula.

Sebagai contoh, saya yang lahir tahun 1953 termasuk, menurut penggolongan Kasali, dalam Kohor Orde Baru. Karena mereka yang lahir tahun 1951 sd 1960 itu menyaksikan kestabilan politik di bawah rejim Orde Baru. Kemudian mereka yang lahir tahun 1961 sd 1970 ia sebut sebagai Kohor Komputer, karena mengenal komputer dan teknologi informasi dari awalnya. Kohor selanjutnya, lahir setelah 1970 disebut Kohor Produk Globalisasi. Generasi ini hidup dalam lingkup pemanfatan teknologi informasi, kebebasan bergerak antarbangsa di tengah arus informasi berskala global.

Menurut analisis di atas, memang benar saya termasuk kohor yang umumnya gaptek, gagap teknologi. Bayangkan, saya mengenal Internet secara “sastra” pada tahun 1994 lewat majalah Fortune. Saat itu komputer belum pernah saya sentuh. Baru pada tahun 2000 saya memutuskan mengikuti kursus komputer, untuk menguasai MS Word. Baru pada tahun 2002 saya memiliki komputer. Bulan Oktober 2003, saya meluncurkan komunitas Epistoholik Indonesia dengan menghadirkan puluhan situs blog di Internet.

Saya merasa beruntung karena bisa “melompat”, yaitu dari kohor Orde Baru untuk merasakan atribut yang melekati atmosfir hidup mereka yang dilahirkan tahun 1960-an dan tahun 1970-an. Ketika terjun dalam final Mandom Resolution Award 2004, di tengah peserta-peserta lain yang lebih muda, saya sedikit berbangga karena mampu menjual impian dengan mengaplikasikan perangkat teknologi informasi yang paling hot masa kini, yaitu situs blog di Internet.

Tepatnya, menggabungkan hobi menulis surat pembaca yang rata-rata disukai kaum senior, kaum pensiunan (golongan troisieme age, usia ketiga, menurut Dr. Mary Furlong, pakar Internet AS) yang diperkuat pendokumentasiannya dan penyebarannya dengan media Internet.

Pengalaman di MRA 2004 ini mengingatkan sebaris kalimat dari bukunya Robert T. Kiyosaki. “Secara fisik kamu pasti akan lebih tua, tapi itu tidak berarti secara mental kamu akan lebih tua. Jika kamu ingin awet muda lebih lama, pakai saja ide-idemu yang lebih muda. Orang-orang menua atau ketinggalan zaman karena mereka berpegang pada jawaban-jawaban benar yang sebenarnya adalah jawaban-jawaban lama”, itulah nasehat tokoh ayah kaya untuk Robert T. Kiyosaki, yang diungkap dalam bukunya Rich Dad’s Guide To Investing (2002).

Catatan tambahan : Seingat saya, para kontestan MRA 2004 tidak pernah diminta mengisi formulir berisi data pribadi oleh panitia. Dalam presentasi, seperti terungkap dalam cerita atas, saya pun telah memberikan fakta sebenarnya tentang data diri saya. Aneh bin ajaib, dalam iklan pengumuman pemenang MRA 2004 di Harian Kompas, 5/12/2004, umur saya dapat diskon besar-besaran. Ini berkah ? Atau musibah ?


KOSAKATA MERANGSANG DARI TIKA. “Jangan lupa, Mas Bambang. Knowledge Management”, demikian tutur Tika Bisono ketika menyalami diri saya yang saat itu kerepotan membagi tugas manajemen tangan antara membawa trofi, memegang piagam dan cek raksasa di panggung Mandom Resolution Award 2004.

Knowledge Management (KM) adalah kosakata yang terlontar spontan dari Tika Bisono, di tengah presentasiku, ketika mengomentari resolusiku yang bertujuan menghimpun pengetahuan warga komunitas Epistoholik Indonesia dalam situs-situs blog di Internet agar dapat dimanfaatkan secara meluas oleh masyarakat, bahkan mendunia. “Ini ilmu baru, Mas Bambang. Nanti di luar, kita bisa bicara hal ini lebih banyak”, imbuh Tika saat itu.

Ilmu baru ? Resolusiku itu sebenarnya merupakan variasi lain dari kiprah perpustakaan, yaitu menghimpun informasi, mengorganisasikan dan kemudian menyebarkannya. Yang mungkin membedakan, KM memperoleh sarana bantu secara masif teknologi informasi dan aplikasinya cenderung pada lingkup perusahaan.

Yang pasti, setahuku, KM memiliki aneka wajah. Thomas A. Stewart, wartawan senior majalah bisnis Fortune, penulis buku Intellectual Capital (DoubleDay, 1997) dan salah satu pionir kajian KM, punya cerita menarik. Ia telah menceritakan bagaimana cara raksasa pabrik traktor Deere & Co. mendayagunakan keahlian para karyawannya. Dengan langkah awal, melakukan inventarisasi tentangnya.

Kalau direktori atau buku daftar alamat sesuatu perusahaan yang biasa hanya berisi data karyawan berdasar peringkatnya dalam struktur organisasi, maka direktori yang sudah terkomputerisasi di Deere ini agak lain. Dengan sebutan “People Who Know”, sistem ini mampu menjawab pertanyaan tentang keahlian tertentu yang dimiliki para karyawan yang dibutuhkan untuk menemukan solusi atau menjalankan sesuatu proyek pekerjaan.

Jadi kalau di jaman awal industrialisasi ada masalah dalam pabrik telah membuat begawan manajemen masa lalu Frederick Winslow Taylor bersabda, “biarlah para ahli yang membereskannya”, maka rumus solusi di jaman sekarang adalah, “para ahli itu sudah tersedia, mereka adalah kita-kita !” (Sungguh kebetulan, cerita Thomas A. Stewart yang dimuat di majalah Fortune, 29/9/1997, telah saya kutip dalam naskah buku saya yang telah rampung setahun lalu, Hari-Hari Sepakbola Indonesia Mati : Kesaksian Seorang Suporter Pasoepati).

Ada cerita menarik lainnya tentang KM. Ketika tim pengembangan mobil baru pada Ford Motor Company ingin mempelajari mengapa kerja tim pengembang mobil model Taurus meraih sukses di pasaran, mereka mengalami jalan buntu. Tak ada orang yang mampu memberitahu mereka. Tak ada yang ingat dan tak ada pula yang mencatat kerja sukses tim tersebut. Akibatnya fatal : pengetahuan yang diperoleh Ford Motor Company selama mengerjakan proyek Taurus telah hilang selamanya.

Kejadian ini membuka mata bahwa aset terpenting suatu perusahaan yang paling sukar difahami dan paling sulit dikelola adalah pengetahuan. Belajar bagaimana mengidentifikasi, mengelola dan menumbuhsuburkan pengetahuan merupakan kiprah vital sesuatu perusahaan yang berniat memenangkan kompetisi dalam ekonomi global yang bergerak cepat dewasa ini.

Pancingan intelektual dan pengenalan kosakata KM dari Tika Bisono itu melontarkanku pada pertanyaan : perlukah aku terjun lebih lanjut guna mendalami knowledge management (KM) ini, guna mewujudkan impianku untuk komunitas Epistoholik Indonesia ?

You bet !

Inspirasi Tika itu membuat hadiah Mandom Resolution Award 2004 harus dialokasikan guna menambah panjang daftar buku yang ingin saya beli :

(1) Working Knowledge, Thomas H. Davenport dan Laurence Prusak (Harvard Business School Press, 2000). Bila terbeli, ini buku ketigaku masalah teknologi informasi yang diterbitkan Sekolah Bisnis Harvard tersebut, dan, (2) The Complete Idiot's Guide to Knowledge Management : Complete Idiot's Guides, karya Melissie Clemmons Rumizen (Penguin Putnam, 2001). Begitulah, ikut kontes Mandom, malah kecipratan ilmu baru !


WILDE, ALLEN DAN AYAM MALAYSIA. Usai menang, saya stres. Creative Director biro iklan itu segera mengisyaratkan agar aku mempersiapkan diri menulis skenario awal. Lalu ada paparan jadual syuting. Seseorang wartawan pesen, kalau filmnya jadi, pengin lihat preview-nya untuk bahan tulisan. Sori, teman, saya bukan sedang cerita seusai menang di MRA 2004 kali ini.

Tetapi itu kesibukan saya dua tahun lalu, usai saya menang dalam The Power of Dreams Contest 2002 yang diadakan oleh PT Honda Prospect Motor. Buah dari stres di atas adalah profil diri saya sebagai suporter sepakbola Indonesia (sebagai pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli yang tercatat di MURI) tertayang dalam film satu jam di TransTV, 29 Juli 2002. Saya menjadi terkenal. Kemenangan dan prestasi itu menjadi inspirasi.

Ilustrasi ini sekadar ingin memberi bukti, bahwa sebaiknya, menurut faham saya, setelah upacara penghargaan pemenang selesai, kita sebenarnya masih punya pekerjaan rumah. Tidak hanya bangga dan senang ketika nama dan foto kita mejeng di iklan Kompas, 5 Desember 2004, tetapi alangkah baiknya bila kemenangan itu sengaja kita kabar-kabarkan kepada dunia. Apakah ini perwujudan dari sikap sok, arogan, atau besar kepala ? Terserah penilaian Anda.

Bagi saya, mengikuti final MRA 2004 adalah momen istimewa dalam hidup saya. Saking istimewanya, berita tentang keikutsertaan dalam final itu pun sengaja saya sebar-sebarkan ke media. Siaran pers saya kirimkan ke Kompas edisi Jawa Tengah.

Sokurlah, dimuat edisi tanggal 23 November 2004. Ketika menang, saya kirimkan e-mail berisi ucapan terima kepada Redaksi Kompas yang telah memuat kelolosan saya mengikuti babak final MRA 2004. Saya tambahkan cerita-cerita ringan.

Sambutannya pun mengagetkan dan tak terduga. Wartawan dan sekaligus Kepala Biro Kompas edisi Jawa Tengah, P. Tri Agung Kristanto, mewawancarai diri saya. Bila hasil wawancara itu dimuat di edisi Jawa Tengah, saya sudah bersyukur. Bila nanti menyusul prestasinya Tarjum, yang profilnya muncul di Harian Kompas edisi Nasional, saya akan jadi sangat terkagum-kagum.

Oscar Wilde (1854-1900), dramawan dan penyair Inggris-Irlandia, pernah bilang bahwa hal yang lebih jelek daripada diomongin orang adalah bila tidak diomongin orang.

Pepatah Malaysia bilang, jangan seperti penyu yang hanya senyap-senyap ketika bertelur puluhan ribu, tetapi tirulah ayam yang bertelur sebutir riohnya sekampong.

Dan humoris plus sineas jenius Woody Allen berkata pula : “Delapan puluh persen resep sukses adalah show-off, alias mejeng”.

Ketika memenangkan Mandom Resolution Award 2004, sudahkah Anda berupaya untuk berhasil berbagi pengalaman, dan mejeng di media ?

Pengalaman saya ketika mencermati perilaku pemenang lain dalam The Power of Dreams Contest 2002-nya Honda, ternyata prestasi tinggi dan hadiah nomplok jutaan rupiah itu membuat kebanyakan mereka, entah kenapa, justru takut diketahui oleh orang lain. Saya berkali-kali mendorong mereka untuk kontak ke media, agar prestasi hebat itu menarik jadi liputan media. Saya gagal. Mereka seperti membiarkan prestasi dirinya tidak tercatat dalam banyak benak orang lain.

Padahal kini, setiap hari, berita masalah cerai dan selingkuh, menjadi santapan penonton televisi sehari-hari. Presiden AS pun, Bill Clinton, tak enggan membuka rahasia bab celana dalamnya di acara televisi. Setiap orang memang boleh memiliki pilihannya sendiri-sendiri.


EKONOMI REPUTASI DIAN SAFITRI . Saya mengenal karya Dian Safitri, dua tahun lalu. Di Perpustakaan British Council, Gedung Widjojo, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta. Saya tinggal di Wonogiri, tetapi tempat ini adalah salah satu lokasi kluyuran tetap saya bila ke Jakarta.

Lokasi favorit lainnya, Glodok Plaza (untuk mencari peranti lunak komputer yang baru), Toko Buku QB di Jl. Sunda (baca-baca buku impor baru sambil kuping dimanja alunan Andrea Bocelli atau Pavarotti), Toko Buku Gramedia Matraman, dan juga lapak majalah bekasnya Pak Yono di depan PMI Kramat Raya yang sering memergoki beragam majalah top dunia seperti Forbes, Fortune, Harvard Business Review, Newsweek, Time bahkan sampai Wired. Bukunya Stephen R.Covey yang terkenal, edisi asli dari Simon and Schuster, juga saya pulung dari lapak ini. Harganya di toko ratusan ribu, edisi Indonesia 40-an ribu, dan di lapak ini saya beli hanya Rp. 1.500,00 !

Kembali bab kiprah Dian Safitri. Di British Council itu saya menemukan kotak kardus, dan selebaran himbauan dari Proyek 1001 Buku, agar pembaca menyumbangkan buku-buku bacaan yang akan disumbangkan ke pelbagai taman bacaan. Sebagai pustakawan (jalanan), saya menilai ini ide brilyan. Ketika di tengah acara welcome dinner MRA 2004, saya katakan hal ini kepada Dian Safitri. Saat itu ia belum cerita banyak, bahkan hingga MRA 2004 usai. Ia pun memberikan kartu nama atas nama perusahaan, bukan (padahal saya pengin) atas nama proyek impian yang ia presentasikan di MRA 2004. Tidak apa-apa.

Yang saya tahu pasti, proyeknya bersama rekan dan relawannya dalam memulung buku dan kemudian mendistribusikannya ke pelbagai taman bacaan yang tersebar di tanah air, mengindikasikan kerja keras tanpa pamrih yang hebat. Pantas memperoleh accolade yang tulus. . “Proyek kami tidak pernah mau menerima uang. Kami hanya mau menerima buku, dan menggalang kerja sama dengan beberapa perusahaan yang mendukung idealisme kami”, tuturnya sekilas pada diri saya dalam kesempatan obrolan. Dian menyebut nama perusahaan Starbuck (bikin saya ingat kata mutiara pendirinya Howard Schultz, “hati-hati dengan wish Anda, karena kebanyakan akan kesampaian”) dan pula Federal Express.

Bekerja tanpa imbalan uang ? Adakah makhluk seperti itu di tengah dunia yang semakin komersial dewasa ini ? Deny Wibisono, finalis dari Jember dan teman sekamar saya (No. 706. Dua-duanya pemenang MRA 2004, ya Den !), tertawa ketika saya mintai komentar tentang kiprah kaum epistoholik, orang-orang yang kecanduan menulis surat pembaca di media massa. Ia tertawa karena kaum epistoholik itu mau-maunya menulis di media massa, tanpa bayaran sama sekali !

“Mengapa ide-ide dalam surat pembaca tidak Anda jadikan saja artikel, hingga mendapatkan bayaran ? “. Pertanyaan ini muncul dari wartawan Kompas, P. Tri Agung Kristanto, yang juga diiyakan oleh istrinya, ketika kami ngobrol di kantor perwakilan Kompas Solo, di Kalitan (18/12/2004).

Saya jawab : sumber literatur dan keterampilan analisis untuk menulis artikel, katakanlah punya tuntutan derajat sepuluh tingkat, tetapi yang saya miliki kebanyakan hanya pada derajat dua. Pengetahuan saya hanya sedikit-sedikit, tetapi meliputi banyak sekali topik. Generalis. Dengan kemampuan saya setingkat itu idealnya dituangkan bukan dalam bentuk artikel, karena pasti akan ditolak. Ia cocoknya memang di kolom-kolom surat pembaca.

Sambil guyon saya melanjutkan : menulis surat pembaca, walau tak dapat bayaran, tetapi dihitung-hitung secara bisnis akan lebih menguntungkan dibanding bila saya menulis artikel. Mengapa ? Menulis artikel, maksimal setahun akan dimuat 12 kali. Satu bulan, satu artikel. Tetapi kalau menulis surat pembaca, sebulan saya dapat dimuat 5-8 kali, hingga setahun nama dan alamat saya akan terekspose kepada pembaca sebanyak 60-96 kali.

Kalau perhitungannya menurut kaidah bisnis, lalu dari mana uangnya ? Muncul kemudian apa yang disebut sebagai reputation economy. Ide-ide yang saya tulis dalam surat pembaca ditujukan untuk membangun reputasi saya. Saya membangun nama baik, menanamkan kepercayaan pada pembaca, sekaligus memperluas pengaruh di kalangan pembaca.

Kalau saya sudah terkenal dan dipercaya, saya bisa mengadakan seminar, bimbingan, sampai konsultasi. Bahkan satu (!) surat pembaca saya telah menggerakkan perusahaan jaringan radio di Magelang mengenalkan diri, kemudian meminta saya untuk menggagas suatu program radio yang akan mereka produksi !

Contoh aktual lain : Oprah Winfrey sukses bukan karena ia ahli ilmu tertentu, tapi penampilan di shownya membuat dirinya dipercaya jutaan orang. Sehingga apa pun omongannya, baik tentang pilihan diet, judul buku, konsultan keuangan, konsultan baju sampai pendekor dapurnya, akan cenderung diikuti oleh jutaan pemirsanya. Majalah yang ia terbitkan, O, juga sukses.


Simak pula keteladanan ilmuwan komputer, Linus Torvalds, yang sukarela membukakan rahasia penemuan peranti lunaknya Linux untuk diketahui oleh banyak orang, secara gratis. Para ahli lain boleh mengubah atau menambahnya. Kini Linux digunakan para pengembang peranti lunak untuk merancang pelbagai aplikasi di seluruh dunia.

Atensi dan reputasi yang dinikmati oleh Torvalds mengantarkan dia menduduki jabatan penting. Ketika ditanya tentang pekerjaan yang ia peroleh akibat nama baiknya, ia menjawab : “hal baik dari reputasi adalah...Anda masih memilikinya walau pun telah pula Anda pertukarkan. Anda punya roti dan Anda masih bisa pula memakannya”

Terima kasih, Linus Torvalds. Terima kasih pula untuk Lee Silber yang menulis dalam bukunya Self-Promotion for the Creative Person (2001) resep untuk meraih keberhasilan, bahwa : focus on what you love and the money will follow.

Kalau Dian Safitri tidak mencintai atau tidak berfokus pada kegiatan volunteership yang ia lakukan, demikian pula finalis MRA 2004 lainnya, termasuk saya, tentu kita semua tidak bisa bertemu di acara spesial yang diselenggarakan oleh PT Mandom Indonesia Tbk itu. Kalau tak ikut dalam MRA 2004, ya tentu tak ada peluang untuk membawa pulang hadiah.

Mungkin pertemuan saya dengan buah karya Dian Safitri dan kawan-kawan di Perpustakaan British Council tahun 2002 lalu itu adalah isyarat bahwa kelak kita akan bertemu, untuk sama-sama menjadi pemenang dalam lomba mewujudkan impian, yang embrionya berawal dari pengabdian kepada sesama yang diawali dengan cinta. Begitu ? Hanya Tuhan Yang Maha Tahu.

DANNY BOY VERSI MAS ITO. Kalau Anda menonton film Family Business yang dibintangi Sean Connery dan bercerita tentang kakek, ayah dan cucu yang merencanakan merampok bank, lagu Danny Boy mengalun pula dari sana. Apakah ini termasuk lagu rakyat Irlandia ? Sebuah lagu sedih, yang digunakan untuk mengiringi ritual pemakaman ?

Saya tak tahu pasti. Tetapi memutar kembali tape recorder mini saya, yang merekam saat ketua dewan juri kita, Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, dengan PD-nya menenteng saxophone ke atas panggung, yang melintas di pikiran saya adalah judul karyanya Arthur Miller. The Death of Salesman.............nantikan sambungan selanjutnya.

Wonogiri, 22-24 Desember 2004


(Bersambung)


No comments:

Post a Comment