Monday, January 26, 2009

Kaum Epistoholik dan Media Yang Berubah

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 66/Januari 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Piramida terbalik. “Pemasaran diri sendiri,” kata ahli pemasaran Al Ries dan Jack Trout dalam bukunya Horse Sense : The Key to Success Is Finding a Horse to Ride (1991), “merupakan aktivitas pemasaran yang terpenting sekaligus yang paling sulit.” Ketika melakukan perjalanan darat Wonogiri-Tasikmalaya pulang-pergi (17-18/1/2009), sambil mengamati dan memotret beragam papan peraga kampanye para calon legislatif kita, kiranya pendapat Ries dan Trout itu benar adanya.

Katakanlah, bisa saya simpulkan, bahwa sebagian besar para caleg itu tidak memahami strategi komunikasi pemasaran. Sehingga yang menonjol adalah sikap narsis, nafsu pemujaan terhadap diri mereka sendiri dan partai mereka. Yang mereka tonjolkan adalah nama partai, nomor partai, daerah pemilihan, nomor urut dirinya, foto, lalu janji-janji dan slogan kampanye mereka.

Itulah penggalan isi surat pembaca berjudul “Caleg-Caleg Kita Yang Narsistik” yang dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah (24/1/2009). Setelah istirahat panjang selama enam bulan sejak Juli 2008, itulah surat pembaca yang bisa saya tulis lagi. Ada kegembiraan bisa dimuat, tetapi juga kekecewaan. Karena surat pembaca saya itu hanya dimuat setengahnya saja !

Saya merasa itu memang salah saya sendiri. Karena saya tidak memakai formula penulisan yang baku di koran-koran, yaitu formula atau hukum piramida terbalik. Bagian yang terpenting dari isi tulisan dipajang di bagian depan, lalu disusul informasi-informasi berikutnya yang makin kurang penting bagi pembaca.

Baiklah, karena tulisan surat pembaca itu sekarang bisa dipajang di blog, apalagi di blog saya sendiri, maka di bawah ini akan saya sajikan secara lengkap isi surat pembaca yang terkena gunting sunting oleh redaksi korah Kompas Jawa Tengah itu. Berikut lanjutannya :

Tak ada data nomor telepon/HP atau email yang bisa mengundang konstituen untuk berinteraksi. Pesan-pesan mereka justru kebanyakan tidak berorientasi kepada sudut pandang sasaran kampanye mereka, yaitu para konstituen. Konstituen hanya diminta maklum akan janji-janji atau mantra-mantra “jual kecap” mereka. Pendekatan tersebut berakibat fatal.

Dalam dunia komunikasi dikenal rumus WIIFM (What’s In It For Me). Sekadar contoh, ketika menerima surat, sebelum membuka amplop, di benak Anda secara naluriah segera muncul pertanyaan WIIFM itu : adakah isi surat ini yang penting dan bermanfaat bagiku ? Isi surat yang tidak memenuhi harapan itu, tentu saja mengecewakan penerimanya. Rumus ini berlaku universal.

Kesimpulan saya : dalam berkomunikasi saja para caleg itu nampak kemaruk mementingkan diri mereka sendiri, apalagi bila kelak telah terpilih ?


Eksistensi yang tergerus. Kekecewaan atau keluhan terhadap pemuatan surat pembaca atau artikel yang tidak lengkap di atas, merupakan hal klasik di ranah media massa cetak. Koran, media berbasis atom atau kertas, pengusung mashab jurnalisme pohon mati ini, memang dibatasi oleh kolom yang terbatas. Tentu saja karakternya jauh berbeda dengan media digital yang berbasis bits, yang mampu menyediakan lahan ekspresi yang hampir tidak terbatas kepada umat manusia.

Saya merasa beruntung. Karena selama hampir enam tahun ini, dengan mengelola blog ini misalnya, saya ikut mampu menikmati kedahsyatan media digital tersebut. Di antara jutaan umat manusia saya merasa ikut dikaruniai anugerah apa yang disebut oleh Rick Levine, Christopher Locke, Doc Searls dan David Weinberger dalam bukunya Cluetrain Manifesto (1999), dikutip dalam The 8 Habit-nya Stephen R. Covey (2007), sebagai pelaku “percakapan yang sama sekali tidak terjadi lima tahun yang lalu, dan sama sekali belum nyata sejak mulai Revolusi Industri.”

Kredo utama Weinberger dan kawan-kawan itu memang percakapan. Interaksi. Dialog. Medianya : Internet. Percakapan itu kemudian meruntuhkan sendi-sendi operasional bisnis yang sudah kedaluwarsa. “This is an obituary for business-as-usual,” tandas Thomas Petzinger, Jr. dari The Wall Street Journal, ketika menulis kata pengantarnya. Obituari. Berita kematian.

Lanjut mereka : “Kita semua menemukan suara kita lagi. Kita belajar bagaimana bicara satu sama lain. ….Kini, mengitari planet bumi kita lewat Internet dan jaringan situs Internet, percakapan itu begitu meluas, dan sedemikian multifaset, sehingga usaha untuk menemukan apa yang bersifat mutlak sungguh sia-sia.”

“Hasrat yang kuat untuk menjelajah jaringan Internet itu memperlihatkan suatu kerinduan yang begitu besar dan kuat, yang hanya dapat dimengerti sebagai sesuatu yang bersifat spiritual ; suatu kerinduan yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang hilang dalam hidup kita. Yang hilang adalah bunyi dari suara panggilan jiwa manusia. Hasrat spiritual untuk memasuki jaringan Internet itu adalah janji kembalinya suara-suara tadi,” simpul Weinberger dan kawan-kawan.

Media massa cetak, antara lain karena keterbatasan visi, terjepit pamrih bisnis yang sempit, dan terutama oleh atau karena keterbatasan fisik, pengelolaannya sebenarnya senantiasa menyerimpung percakapan-percakapan itu. Menyabotase suara-suara tadi. Bahkan sering tidak mereka sadari sendiri. Maka yang hadir selama ini adalah keterputusan percakapan antara awak koran dengan pembaca, terlebih lagi percakapan antarpara pembaca itu sendiri.

Internet kini telah mampu menyambung kembali tali-tali manusiawi yang terputus itu. “The Internet is enabling conversations among human beings that were simply not possible in the era of mass media,” tandas tesis nomer enam dari kredo Weinberger dan kawan-kawan itu.

Internet tentu saja membawa akibat samping atau konsekuensi yang serius : media massa cetak dengan eksistensi yang semakin serius tergerus “Ketika infrastrukturnya bergeser, segala sesuatu (akan) runtuh,” simpul Stan Davis, mantan profesor di Sekolah Bisnis Harvard dan Universitas Columbia.

Bukan tentang berita. Ancaman keruntuhan besar itu memang sering tidak kelihatan. Atau bahkan cenderung disepelekan. Dilecehkan. Diingkari. Akarnya adalah : miopia. Sekadar ilustrasi : pelaku media massa utama terus saja melecehkan kehadiran media-media baru berbasis digital itu, terutama blog atau jurnal di Internet, dan menganggapnya bukan sebagai ancaman potensial media massa. Di Indonesia kita bisa bercermin dari apa yang mereka tulis.

Artikel yang ditulis wartawan Kompas, Amir Sodikin, yang berjudul Geliat Portal Berita dan Senjakala Blog (Kompas, 14/8/08), merupakan salah satu bukti miopia itu. Tulisnya, “Putaran arus website bertipe portal berita kini sedang kencang-kencangnya. Masing-masing perusahaan yang ingin mengklaim sebagai portal berita ternama terus berbenah. Tak hanya perusahaan, website komunitas, pemerintah, swasta, nonprofit , dan website pribadi melirik tampilan portal berita. Inilah senjakala bagi blog !”


Lanjutnya lagi, “Yang disebut tampilan berita adalah kemudahan mengelola headline berita, menyusupkan foto-foto dalam berita, kemudahan menaruh banner atau iklan, kecenderungan memakai tampilan tiga kolom, dan penggunaan tab- tab kecil untuk berita-berita terkini non-headline.”

Wartawan Kompas lainnya yang sering menulis masalah teknologi komunikasi dan informasi, Pepih Nugraha, ketika menulis tentang blog ia memakai judul : Upaya Menjadi Lebih Dipercaya (Kompas, 20/11/2008). Lokakarya oleh Kompas bertajuk Galeri Foto Online dan Citizen Journalism di Semarang, dilaporkan di Kompas Jawa Tengah (19/12/2008) dengan judul : Jurnalisme Warga Harus Tetap Memiliki Berita.

Ilustrasi-ilustrasi di atas kiranya mampu memberi gambaran betapa awak media massa utama melihat kehadiran media-media baru, termasuk blog, sangat condong sebagai media yang terkait dengan berita. “There's a big misconception among professional journalists that the new media is about news,” keluh Milverton Wallace, pemrakarsa NetMedia, konferensi Internet untuk wartawan dan manajer media di Eropa.

“Itu salah. Ini semua menyangkut ekspresi diri, menyangkut naluri ingin berperanserta dalam mendefinisikan dan membentuk lingkungan informasi/komunikasi di mana kita hidup. Pelbagai macam bentuk media digital itu, seperti blog, podcast, situs jaringan sosial dan lain-lainnya semata merupakan sarana dan saluran untuk memenuhi aspirasi itu,“ lanjutnya seperti dikutip situs Master New Media (10/11/2006).

“Hasrat spiritual untuk memasuki jaringan Internet itu adalah janji kembalinya suara-suara tadi,” seperti simpul Weinberger dan kawan-kawan tadi, membuat milyaran penduduk dunia kini bermigrasi ke Internet. Tetapi tidak banyak pelaku bisnis media massa utama yang cerdas dan arif menyikapi perubahan besar ini. Lihatlah, mereka masih bersibuk melakukan acara consumer focus groups, berusaha meraih pembaca baik tua atau pun muda dengan membidik fokus minat tertentu seperti kepenulisan, fotografi, hobi, komik sampai blog, mengutak-atik insentif harga langganan (misalnya ada potongan untuk para guru), berusaha bersolek dengan mempercantik tipografi atau menyajikan tulisan yang pendek-pendek. Strategi balsem belaka.


Strategi sekop. Migrasi besar-besaran pembaca ke Internet itu juga menimbulkan salah sangka yang lebih parah. Karena pengelola media massa utama tetap saja bersikukuh mengira para pembaca itu akan dapat dipuasi bila mereka dapat menemukan koran tetapi yang tersaji di layar komputer.

Kalangan pintar di Lembah Silikon menamai utak-atik ini sebagai shovelware strategy, informasi yang telah dimuat di media cetak disekop lagi dari lahatnya untuk kemudian dipajang di media onlinenya. Hadirlah kemudian e-paper, replika koran di layar komputer, yang sajian isinya ditambahi fasilitas seperti hyperlink seperti halnya media online yang biasa.

Tebakan yang keliru lagi. Karena data menunjukkan bahwa orang berbondong ke dunia maya utamanya tidak (!) untuk mengonsumsi sajian media massa. Menurut kajian situs Alexa, hanya terdapat tiga organisasi media yang masuk dalam jajaran 100 situs web yang paling banyak dikunjungi. BBC berada di peringkat 46, CNN 50 dan The New York Times di peringkat 97.

Di tengah melimpah ruahnya informasi di Internet, termasuk blog yang dikelola oleh tiap individu, membuat konsumen kini dapat mencari dan memilih sendiri informasi yang mereka minati. Pantas dicatat, mereka jelas bukan mencari informasi yang tersaji secara paket sebagaimana disajikan oleh media massa. Alasan ini pula yang membuat konsumen senang memanfaatkan mesin pencari untuk menemukan isi selain yang dimuat oleh media massa dibanding mencarinya di situs-situs online media massa bersangkutan.

Alasan itu pula yang mendasari mengapa empat dari lima situs yang paling sering dikunjungi di dunia ini adalah mesin pencari Google, Yahoo! dan dua lainnya. Peringkat kelima barulah situs video sharing YouTube.com. Situs pencari yang bukan berbahasa Inggris merebut porsi 24 situs di antara 100 situs yang paling dikunjungi itu. Fakta lain : peselancar Internet hanya mengunjungi situs surat kabar beberapa kali dalam sebulan, tetapi mengunjungi dan menggunakan situs pencari beberapa kali dalam seharinya.

Imperium surat kabar sedang menuju keruntuhan sebagai institusi bisnis besar yang mencari untung. Surat kabar dinubuatkan akan berubah sebagai pusat layanan komunitas. Bersifat sosial dan hiperlokal. Itulah arah yang kini dirintis oleh jurnalisme warga. Warga Epistoholik Indonesia dan kaum epistoholik pada umumnya, yang bersuara dan menulis karena tuntutan untuk berbagi informasi, bukan tuntutan untuk memperoleh bayaran, saya visikan mampu menjadi ujung tombak dalam arus besar gerakan pendemokratisasian informasi ini.

Di tahun ke-4 deklarasi pendirian komunitas Epistoholik Indonesia, bertepatan dengan pencanangan tanggal 27 Januari sebagai hari Epistoholik Nasional, saya akan mengulangi ajakan yang lama : milikilah blog sekarang juga. Teruslah menulis surat pembaca di media massa, tetapi ajaklah pembaca untuk melakukan dialog lebih lanjut di blog-blog Anda. Kolom surat pembaca itu ibarat sebagai appetizer, umpan tekak, sementara isi blog-blog Anda adalah sajian utamanya.

Yakinlah, seperti sering saya alami, para pembaca yang cerdas itu akan mampu menemukan blog Anda itu. Walau, seperti biasa dan mudah diduga, surat pembaca Anda akan disunting, sementara pencantuman data email atau alamat blog Anda itu akan selalu disensor oleh pengelola media massa cetak tersebut.

Saya selalu mengalaminya. Tak apa. Itulah ciri jurnalisme pohon mati. Mereka hanya mampu melakukan penundaan sesaat untuk terselenggaranya interaksi atau dialog antarwarga itu. Bukankah dramawan, novelis dan penyair Perancis Victor Hugo (1802–1885) telah berujar : tak ada sesuatu yang begitu kuat sebagaimana sebuah gagasan yang telah tiba saatnya ?


Wonogiri, 25/1-6/2/2009

ee

No comments:

Post a Comment