Tuesday, December 13, 2005

Desember, “Dreams” dan Hari-Hari Hectic Seorang Blogpistoholik !

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 30/Desember 2005
Email : epsia@plasa.com
Home : Epistoholik Indonesia




MEI ADALAH PERAWAN. Apa makna bulan Desember bagi Anda ? “Lelaki adalah bulan April ketika merayu. Desember ketika mereka menikah. Perempuan adalah Mei ketika perawan, tetapi ketika langit berubah ia pun berubah : dengan menikah.”

Petikan dialog dalam drama As You Like It (1599) karya pujangga Inggris, William Shakespeare (1564–1616) itu, Anda bisa mencernanya ? Kalau saja aku deket sama Upik, aku akan bertanya kepada mahasiswi Sastra Inggris UI ini. Walau mungkin dia juga engga ngeh, karena proyek skripsinya dulu justru membahas karya Ralph Ellison, pengarang Amerika. Kalau Anda tahu, silakan beritahu saya.

Kalau sekadar cari-cari kaitan antara kata “Mei” dan “perawan”, saya pasti mudah teringat akan Cresenthya Hartati. Gadis artistik lulusan SMA Tarakanita II Pluit Jakarta ini lahirnya tanggal 18 Mei. Sama dengan tanggal kelahiran mendiang Paus Johanes Paulus II yang juga suka musik.

Har pernah menghadiahiku teks lagu lembutnya Gerard Joling, “Everlasting Love”, yang masih sering menggaung di radio-radio saat ini. Yang paling menggelora saat ia menyenandungkan “Time for Us” yang juga lagu tema film Romeo & Juliet , garapan sutradara Franco Zeffireli (1968).

Baiklah. Itu kaitan “Mei” dan “perawan”. Tetapi kaitan antara “pria menikah” dan “Desember”, apalagi karena saya bujangan, pasti hanya membuat saya kini merasa buntu untuk mencoba mengerti apa yang eyang Shakespeare mau.

Buntu.

Buntu itu pula secara kronis aku rasakan di bulan November-Desember. Tak bisa lancar menulis. Terkena sindrom writer’s block. Maka isi blog ini pada edisi yang lalu hanya memajang tulisan daur ulang, menjejer 12 surat-surat pembacaku yang tidak bisa “nembus” di media massa. Padahal topik yang pengin ditulis cukup banyak berseliweran di kepala ini.

Misalnya, isu yang muncul dalam World Summit on Information Society 2 (WSIS 2) yang berlangsung di Tunisia (16-19/11/2005). Dari radio BBC aku kecipratan tema atau mungkin pesan dari konferensi puncak itu bahwa “bila Anda tidak mampu berekspresi, maka Anda dianggap tidak ada.” Aku bayangkan mereka yang tidak kenal blog, media personal berskala global, maka anggap saja mereka sebagai tidak eksis, tidak ada ?

Isu menarik dari WSIS 2 itu, bagiku, antara lain tentang diluncurkannya program “One Laptop Per Child”, yaitu program pengadaan laptop seharga 1 juta rupiah untuk pelajar dan guru-guru mereka di seluruh dunia.

Program ini digagas oleh “nabi” digital idola saya, Nicholas Negroponte dari Media Lab, MIT, AS. Aku senyum-senyum kecut ketika koran top AS, Washington Post, kok ya bisa begitu goblog dengan salah menyebutnya sebagai John Negroponte. Ini kan tokoh yang pernah jadi duta besar AS untuk PBB ? Orang Wonogiri saja tahu, kenapa orang Washington D.C. justru tidak tahu ?

Saya ikut bermimpi dengan gagasan agung Nicholas Negroponte tersebut : kapan siswa-siswa SD di Wonogiri, kota saya, juga bisa bersekolah dengan tas punggungnya berisi laptop ? Masih angan-angan. Saya sendiri saja sudah beberapa bulan ini libur menggunakan laptop. Gara-gara laptop Fujitsu model kuno yang terbeli dari hadiah memenangkan Honda The Power of Dreams Contest 2002 itu lagi rusak.

Padahal saya pengin tiap hari Sabtu membawanya ke Perpustakaan Umum Wonogiri (“saya heran, kok di hari Minggu malah tutup ; engga seperti Perpustakaan Umum DKI di Tanah Abang III yang justru buka sepanjang hari Minggu”), lalu bisa digunakan oleh anak-anak SD untuk menulis puisi atau tulisan lain karya mereka. Lalu saya akan memajangnya di situs-situs blog.

Mimpi indah ? Tetapi sebenarnya saya sudah memulainya, ketika meluncurkan blog PoetrySolo yang memuat karya-karya puisi anak-anak yang muncul di koran Solopos. Sayangnya, ketika anak-anak itu saya kirimi surat agar mau menulis lagi, lalu sudi mengirimkannya kepada saya untuk saya tampilkan di blog (“gratis”), tak ada tanggapan dari mereka. Padahal belasan surat sudah saya kirimkan kepada calon-calon Rendra, Sutardji atau Joko Pinurbo masa depan Indonesia itu.


BLOG ITU NORAK ? Sokurlah, di tengah impian indah itu ada realitas yang harus disyukuri dari negeri ini. Saya merasa senang membaca tulisan Dr. Onno W. Purbo yang membawa oleh-oleh menggembirakan dari WSIS 2 itu (Kompas, 28/11/2005: 35). Menurut dia, Indonesia ternyata punya reputasi cemerlang di kancah teknologi informasi dunia.

“Rakyat Indonesia terbukti dapat membangun sendiri infrastruktur internetnya. Tak ada negara yang mempunyai warnet dalam jumlah besar, lebih dari 3.000 warnet dan terorganisasi dalam Asosiasi Warnet Indonesia (Awari). Tidak ada negara yang berhasil membangun wireless internet di 2,4 GHz dan 5,8 GHz dalam skala besar.”

“Tidak ada negara mengembangkan RT/RW-net semasif Indonesia. Tahun mendatang, Indonesia tampaknya akan menjadi contoh bagi infrastruktur VoIP Rakyat dan VoIP Merdeka yang akan memotong SLJJ dan SLI operator telekomunikasi. Semua hanya ada di Indonesia, dengan massa yang semakin besar”

Artikel yang optimistik itu kemudian menggelitik saya untuk mengontak penulisnya. Berikut email saya untuk Dr. Onno W. Purbo :

Dear Mas Onno W. Purbo,
Salam sejahtera. Semoga jetlagnya, terbang dari Tunisia, sudah hilang. Seperti WSIS 1 yang lalu, saya senang membaca oleh-oleh Anda. Baik yang di Kompas mau pun di majalah Gatra. Sokurlah, saya ikut bangga dan senang, karena berkat Mas Onno, Michael Sunggiardi, Rene LP, Donny BU dll, nama Indonesia punya wibawa tersendiri yang tinggi di forum terhormat tersebut.

Karena peran Anda yang tak kunjung surut dalam meng-IT-kan Indonesia, sampai-sampai di daftar alamat saya nama jabatan Anda bukan mantan dosen ITB (kok masih suka Anda sebut sih ?), tetapi : IT Messiah.

Artikel Anda di Kompas, antara lain yang paling saya sukai adalah alinea berbunyi : “Dengan kondisi tidak banyak uang, proses diseminasi pengetahuan harus swadaya masyarakat... mengajak semua teman-teman dan para mahasiswa menulis artikel, menulis buku agar ilmu tersebar ke masyarakat, aktif di mailing list, berdiskusi.....etc”

Pertanyaan kecil : kok Anda tidak atau lupa menyebut blog ? Di bawah ini saya sebagai kaum epistoholik (rada tepatnya blogpistoholik : blasteran antara blogger dan epistoholik), orang-orang yang kecanduan menulis surat pembaca telah mencoba ikut iuran gagasan :


Blog Itu Norak ?
Dimuat di Harian Kompas Edisi Jogja, Selasa, 14 Juni 2005

Beberapa waktu lalu di kolom surat pembaca surat kabar Suara Merdeka (2/2/05) dan Solopos (1/2/2005), seorang pakar Teknologi Informasi yang terkenal dari Yogya, yaitu Roy Suryo, menulis surat pembaca yang unik. Isinya antara lain berbunyi, “bahwa saya sengaja tidak membuat blog atau homepage pribadi, apalagi email gratisan, karena memang sudah tidak merasa perlu ikut beberapa fasilitas yang mungkin masih dianggap tren bagi seseorang, tetapi sudah dianggap norak oleh masyarakat lain”

Pilihan Roy Suryo itu pantas dihormati, walau saya sebagai seorang blogger atau penulis jurnal di Internet yang disebut sebagai blog (atau weblog), tidak begitu terima. Komunitas Blog Indonesia (KBI) kemudian bereaksi, menyebut bahwa Roy Suryo kekurangan informasi atau bahkan menerima informasi yang tidak benar tentang blog. Kami (KBI) sendiri memandang bahwa blog adalah hasil dari evolusi bertahun-tahun di Internet, yang semakin menunjukkan bahwa Internet adalah wadah nyata untuk saling menghubungkan orang-orang di dunia nyata.

Mudah-mudahan kini Roy Suryo sudi meralat pandangannya tersebut. Sokur-sokur bila sudah pula mencerna isi laporan utama majalah Fortune (Jan 2005) yang menyatakan bahwa blog adalah tren nomor wahid di antara 10 kecenderungan teknologi yang patut diamati pada tahun 2005 ini. Bahkan baru-baru ini majalah bisnis terkemuka dunia lainnya, Business Week (awal Mei 2005), menerbitkan laporan utama bahwa blog akan mengubah lanskap bisnis dunia.

Sebagai seorang blogger pemula, semua laporan itu membesarkan hati. Tetapi ada juga pengalaman sebaliknya. Sebagai orang yang pernah sekolah dan banyak menanam kenangan di Yogya, saya pernah (30/8/2004) mendaftarkan diri untuk bergabung dalam komunitas blogger Angkringan Yogya. Anehnya, tak ada balasan apa pun dari mereka. Saya bingung, padahal Internet adalah media interaktif, bukan ?

Sekian dulu obrolan dari Wonogiri. Sekali lagi, terima kasih untuk suntikan optimisme dan kabar membanggakan dari Tunisia. Sukses selalu untuk Mas Onno sebagai IT Messiah, dan IT Indonesia !

Hormat saya,
Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia

PS : Kalau boleh, bisakah saya minta foto Anda yang bersama pak Nicholas Negroponte ? Saya ngefans sama dia, karena bukunya Being Digital itu bisa bikin saya menangis, karena optimisme masa depan IT yang ia visikan. Terima kasih.


Email saya itu dibalas oleh Dr. Onno W. Purbo. Singkat. Tanpa disertai foto. Sepertinya juga ditembuskan kepada koleganya yang lain. Ringkasnya, ia sebagai (sebutan dari saya) IT Messiah tegas menyatakan diri sebagai pro-blog. Saya bersyukur. Maka seperti halnya bunyi refrain nomor “Messiah” (1742) karya George Frederick Handel (1685–1759) yang terasa agung dan terkenal itu, kita kaum blogger rasanya patut berseru : Halleluyah !

Asal Anda jangan mengucapkannya sambil meniru ulah masyuk tokoh yang diperani oleh Nicolas Cage dalam film Face/Off garapan John Woo. Yaitu saat Cage berperan sebagai pemuka agama, berjubah, mendekati anak-anak ABG yang sedang melantunkan koor nomor “Messiah”-nya Handel tersebut. Ia mendekati salah satu anak koor yang berambut pirang, sangat cantik.

Keduanya nampak tak saling segan dan ketika refrain “Halleluyah” berkali-kali menggema, adegan menunjukkan wajah Cage yang orgasmik. Penonton terpana karena ironi. Karena sebelumnya terlihat tangan Cage menyusuri pantat gadis cantik tersebut dan pasti meremasnya dengan penuh gelora birahi pula. Keagungan Tuhan, oleh manusia, memang bisa ditafsirkan macam-macam adanya.


MANUSIA AGUNG DAN IMPIAN. Topik lain yang juga berparade di kepala saya, masih juga terkait dengan impian, adalah momen peluncuran bukunya Stephen R. Covey, The 8th Habit : From Effectiveness to Greatness edisi Bahasa Indonesia, 30/11/2005, di Jakarta.

Saya belum membeli buku ini. Bahkan buku sebelumnya, The 7 Habits of Highly Effective People (1989), yang aku beli 14 Mei 1994 seharga Rp. 1.500,00 di pasar buku loaknya Bang Japrak di Jl. Kramat Raya, dekat PMI, Jakarta, masih harus dibaca dan dibaca lagi untuk bisa memahami sampai ke sumsum dan hati.

Dr. Rhenald Kasali, pakar manajemen perubahan dari Universitas Indonesia, ketika diwawancarai harian Kompas (10/12/2005 : 39) seputar ajaran Covey bila diterapkan di Indonesia, antara lain berkata : “Dalam situasi seperti itu (Begitu masuk era informasi, jarak mati, uang digital, informasi seketika di mana-mana, tempat tidak mengandung makna lagi, selalu timbul gejolak.) dibutuhkan orang-orang yang bisa menciptakan masa depan dengan impian, bukan dengan fakta.”

“Karena fakta belaka engga bisa dipegang, harus bisa melihat ke depan. Orang-orang seperti itu, yang oleh Jaya Suprana, disebut orang-orang yang keliru, karena dianggap aneh, tidak mengacu pada masa lalu, tetapi meng-create sesuatu yang baru. Karena, dalam situasi seperti itu product life cycle jadi pendek”

Pemenang Nobel Sastra 1925, George Bernard Shaw (1856–1950) yang dramawan, kritikus dan sastrawan Irlandia, punya sabda lebih radikal. Ia bilang, orang-orang bernalar itu menyesuaikan dirinya dengan dunia. Tetapi orang yang tidak bernalar kukuh berusaha agar dunia yang justru beradaptasi dengan dirinya. Orang yang tidak punya nalar itu mungkin dalam bahasa Jawa cocok disebut sebagai orang yang aeng-aeng, aneh-aneh. Oleh karena itu, tegas Shaw, semua kemajuan semata-mata selalu tergantung kepada orang-orang yang aeng-aeng itu pula !

Sayang pendidikan di Indonesia sepertinya hanya menitikberatkan untuk mencetak anak-anak bangsa yang bernalar belaka, bahkan penurut, dan bukan anak-anak bangsa yang dipacu untuk memiliki impian dan punya sikap ingin berbeda.

Di tengah masa depan yang tidak pasti, seorang Peter Schwartz dalam bukunya The Art of Long View : Planning for the Future in an Uncertain World (1991) juga menegaskan bahwa masa depan ditentukan oleh hal-hal yang intangible, tidak kasat mata. Meliputi harapan, ketakutan, impian dan juga keyakinan.


Now here you go again,
you say you want your freedom
Well who am I to keep you down
It's only right that you should play the way you feel it
But listen carefully to the sound
Of your loneliness

Aku menyukai lagu “Dreams” di atas yang dinyanyikan kelompok musik The Corrs asal Irlandia itu. Saya menyukai Sharon yang penggesek biola. Saya kepincut pertama kali sama mereka saat melantunkan lagu ini dalam konser bersama Luciano Pavarotti dan kawan-kawan untuk pengumpulan dana bagi anak-anak korban perang di Liberia.

Konser di kota Modena, Italia, 1998, diramaikan pula oleh Celine Dion, Eros Ramazzoti, Florent Pagny, Jon Bon Jovi, Natalie Cole, Pino Daniele, Spice Girls, Stevie Wonder, Trisha Yearwood sampai Vanessa Williams.

“Bila kau ingin meraih kebebasanmu. Jadilah dirimu sendiri. Tetapi dengarkan baik-baik suara hati ketika kau di dalam kelengangan.”

Pesona tentang kehebatan dan keagungan impian itulah yang membuat aku akhir-akhir ini suka menulis kalimat “memindahkan Himalaya”. Kalau pendaki gunung legendaris asal Selandia Baru Sir Edmund Hillary di tahun 1953 ketika berhasil menaklukkan Himalaya dan berseru, ”Well, we knocked the bastard off !”, kini aku berusaha menjual impian : mari “memindahkan” Himalaya.

Setiap diri Anda, menurutku, pantas “memiliki” Himalaya. Cita-cita puncak. Impian-impian teragung. Beberapa saat yang lalu di Boks Bengok (shout box) salah satu situs blog saya ada seseorang wartawati menulis komentar : dirinya minta diajari menulis. Lalu saya balas dengan guyonan bahwa “mengajari wartawan menulis ibarat menyebarkan garam ke lautan”, tetapi juga saya selipkan pertanyaan : Himalaya apa yang ingin kau “pindahkan” dengan tulisan-tulisanmu itu ? Ia belum membalas.

Anda sebagai kaum epistoholik, yang rajin menulis surat-surat pembaca di media massa, atau para blogger yang dengan sepenuh hati dan cinta mengelola blog-blog Anda, Himalaya apa yang ingin Anda “pindahkan” dengan tulisan-tulisan Anda ? Usaha Anda akan hanya biasa-biasa saja apabila tanpa dibarengi dorongan kuat untuk meraih cita-cita teragung dalam hidup Anda.

Filsuf dan penyair Amerika, Ralph Waldo Emerson (1803–1882), pernah berucap :

Hitch your wagon to a star.
Gebrak keretamu untuk meluncur meraih bintang !

Sebagai penggagas komunitas epistoholik, saya telah menuliskan impian-impian puncak saya di situs blog Epistoholik Indonesia. Silakan cek dan bila Anda berkenan, saya juga sangat ingin mendengar impian-impian teragung Anda.


AYATULAH KOMEDI DARI AMERIKA. Dua bulan terakhir yang menutup tahun 2005 ini, ada juga sisi yang menggembirakan. Sebagai penulis freelance adalah suatu kebanggaan tersendiri ketika tulisanku bisa muncul di koran utama negeri ini. Apalagi topik tulisan tersebut adalah topik yang saya sukai : komedi. Komedi yang serius. Komedi yang cerdas. Komedi yang membuka dialog. Komedi yang membuka peluang terelakkannya benturan peradaban.

Tulisanku itu berjudul “Benturan Peradaban : Promo Islam Lewat Lelucon”, di rubrik Teroka/Humaniora (Kompas, 18/11/2005). Sebagai orang yang bercita-cita sebagai komedian, walau selalu mundur dan maju, pemuatan tulisan ini merupakan ikhtiar maju untuk meraih impian besar itu.

Tulisan itu mengisahkan dinamika perjuangan para komedian muslim di AS, pasca peristiwa 11 September 2001, untuk menghapus prasangka-prasangka buruk sampai konflik sosial berdasarkan stereotip antara Barat vs Islam. Salah satu tokoh pejuangnya adalah komedian Azhar Usman, keturunan India asal Chicago. Karena saking lucunya, sampai-sampai media massa di AS sana menjulukinya sebagai Ayatulah Komedi.

Saya terkesan atas wawasan Azhar Usman yang kiranya patut juga dicamkan oleh kaum muslim di Indonesia. Katanya : “Sepanjang umat muslim tidak mampu secara memadai mendefinisikan diri mereka dengan terlibat dalam aktivitas seni dan kebudayaan, maka mereka akan terus-menerus didefiniskan berdasar peristiwa-peristiwa politik yang terjadi di dunia”

Salah satu cerita lain yang menurutku lucu, tapi diedit oleh Kompas karena keterbatasan kolom, adalah mengenai comedienne muslim, Tissa Hami, yang keturunan Iran. “Misi saya sebagai komedian adalah membuat penonton tertawa. Tetapi kalau saya mampu membuat mereka berfikir, hal itu merupakan bonus tambahan”, tuturnya. “Saya ingin menunjukkan bahwa umat Islam bukanlah teroris, tidak semuanya fanatik. Juga tidak semua wanita muslim itu tertindas dan terbungkam”, lanjutnya.

Tissa Hami bergelar Master Kajian Internasional yang kini bekerja sebagai staf admisi di Kennedy School, Universitas Harvard. Latar belakang asalnya dari Iran dan referensi buruk hubungan antara negeri kelahirannya dengan negerinya kini, tak luput jadi lawakan. Katanya, “kalau tidak ada penonton yang tertawa mendengar lawakan saya, kalian akan saya jadikan sandera!”

Cerita lain yang patut dicatat adalah gagasan dan aksi komedian Ahmed Ahmed, muslim Amerika kelahiran Mesir. Ia bersama Bob Alper, komedian dan juga seorang rabbi Yahudi, melakukan tur komedi berdua. Dengan tema “Satu Arab, Satu Yahudi, Satu Panggung” mereka menggotong misi untuk meredakan ketegangan dan prasangka hubungan antarbangsa melalui humor. Pentasnya di Denver dipenuhi penonton, baik dari kalangan Islam, Kristen dan juga Yahudi.

Contoh lain, di Toronto, Kanada, komedian muslim muncul dalam acara bertajuk "Jewish Muslim Comedy Night." Di sini tampil komedian muslim Rasul Somji yang melucukan peristiwa saat menerima kado Natal dari ceweknya yang beragama Kristen. “Karena saya muslim, hadiah saya baginya adalah : saya jadikan ia sebagai sandera”


BROKEN LINK YANG MEMUPUS SEJARAH. Dalam artikel yang dimuat di Kompas tersebut, di sisi lain, saya gagal mempromosikan diri sebagai blogger yang mengelola blog saya, Komedikus Erektus ! Keterangan ini dihilangkan oleh redakturnya. Data yang termuat tinggal informasi bahwa saya telah menulis dua buku kumpulan humor dan berdomisili di Wonogiri.

Artikel ini kemudian juga dimunculkan di situs webnya Kompas, tetapi ketika saya buat link, ternyata tidak nyambung. Jengkel juga. Karena saya ingat nasehat B.L. Ochman, pakar strategi pemasaran dan kehumasan bermediakan blog yang pernah berkata : link like crazy.

“Salah satu aspek penting yang membedakan antara memposting tulisan di situs blog dengan jurnalisme pohon mati (media kertas), para blogger itu wajib gila-gilaan dalam membuat link untuk tulisannya. Link-lah ke blog lain atau situs web yang Anda sebutkan. Link ke artikel, buku-buku, produk, biodata, sampai materi paparan yang terdapat di situs lain yang telah Anda sebut-sebut dalam blog Anda”

Bagi saya, mungkin juga Anda, membuat link-link ini merupakan pekerjaan yang rada-rada tedious, membosankan. Apalagi ketika link itu ternyata tidak jalan, tentu tambah menjengkelkan. Semua kekecewaan itu belum seberapa.

Bagaimana kalau sesuatu isi blog bersangkutan atau link yang Anda anggap penting, bersejarah, bahkan ada sepotong hati telah Anda sematkan di sana, tetapi situs (yang Anda buat link) itu justru kemudian dibuang, dimatikan atau dihapuskan oleh si pemiliknya ?

Jejak-jejak menjadi terputus, sejarah atau kenangan menjadi pupus. Mungkin mirip suasana hati seorang penyair Inggris, Edmund Spenser (1552–1599), yang menggambarkan betapa ombak-ombak lautan telah menghapus nama indah yang ia gurat di pasir pantai sekaligus memangsa dukanya :

One day I wrote her name upon the strand,
But came the waves and washèd it away:
Again I wrote it with a second hand,
But came the tide, and made my pains his prey.

Lirik “Dreams”-nya The Corrs yang dilantunkan Andrea yang jelita kembali bergulung di relung-relung hati.

Like a heartbeat drives you mad
In the stillness of remembering what you had
And what you lost

Yeah, thunder only happens when it's raining
Players only love you when they're playing
Yeah, women they will come and they will go
When the rain washes you clean you'll know, you'll know


Itulah dunia.
Ada yang Anda peroleh.
Ada pula yang harus hilang.

Kemarin senja, (12/12/2005), tiba-tiba di radio Suara Amerika terlantun lagu “Everybody Hurts” yang juga dinyanyikan oleh The Corrs. Lagu itu mengudara guna mengiringi berita duka meninggalnya Sri Sadeli, penyiar senior radio Suara Amerika yang pernah satu sekolah dengan Pierre Tendean, salah satu Pahlawan Revolusi 1965, saat mereka bersekolah di Semarang. Sri Sadeli meninggal dalam kecelakaan lalu lintas di Amerika Serikat.

Don't let yourself go
Cause everybody cries
And everybody hurts
Sometimes

Sometimes everything is wrong
Now it's time to sing along
When your day is night alone
Hold on, hold on

Antara pesan di balik lirik “Dreams” dan “Everybody Hurts” itu mencuat pertanyaan yang menyeruak dan mengusik jiwa ini : Apa yang telah aku peroleh pada sepanjang tahun 2005 yang akan segera masuk dalam peraduan sejarah selamanya ini ? Apa yang telah hilang ? Apa pula yang telah menoreh luka di hati ini ?

Barangkali di momen count down, saat pergantian tahun nanti, aku sudah bisa melakukan kalkulasi. Atau justru tidak usah, tidak perlu melakukannya. Sembari mengikhlaskan saja semua yang telah memilih menghilang. Atau pergi.

So, hold on, hold on
Hold on, hold on

Everybody hurts
you are not alone


Wonogiri, 13-14 Desember 2005.

No comments:

Post a Comment