Thursday, September 02, 2004

MEDIA BARU DAN IMPIAN KAUM EPISTOHOLIK MASA DEPAN

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 7/September 2004
Home : Epistoholik Indonesia



JOR-JORAN GRATIS. Berita hot diwartakan oleh situs web Kompas Cyber Media/KCM (www.kompas.com), 22/8/2004 : Hotmail akan merilis layanan e-mail berkapasitas 2 GB pada bulan September mendatang. Layanan ini diluncurkan bagi para pelanggan Hotmail dan agar bisa bersaing dengan layanan webmail lainnya.

Banyak pengguna Hotmail, termasuk kalangan bisnis yang memiliki account MSN merasa kapasitas inbox 2 MB di Hotmail sudah tak mencukupi untuk menampung e-mail. Apalagi kini muncul e-mail berkapasitas besar dari Gmail dan Yahoo. Hotmail pun segera memekarkan kapasitas layanan e-mailnya menjadi dua gigabyte yang cukup untuk menampung e-mail, gambar, serta attachment lain. Khusus untuk batas pengiriman attachment, Hotmail menyediakan kapasitas hingga 20 MB.

Microsoft, selaku pemilik layanan Hotmail, juga menjanjikan versi baru Hotmail tak akan berisi iklan dan banner yang mengganggu tampilan. Selain itu, di layanan Hotmail baru tersebut tak ada lagi batasan aktivasi selama 30 hari.

Sebagai pengguna Hotmail (humorline@hotmail), seperti saya ceritakan di Esai Epistoholica No. 04, saya tentu bergembira menyambut peningkatan layanan ini. Bila nanti terjadi, maka layanan email Yahoo yang hanya berkapasitas 100 MB itu akan menjadi anak kerdil di dunia e-mail gratisan. Apalagi layanan karya anak negeri sendiri, Plasa.com yang hanya 10 MB, ibarat gurem di dunia layanan webmail. Tetapi, saya kira, persaingan ke depan akan semakin marak.


PENYAKIT KRONIS INDONESIA. Selain menyimaki berita tentang jor-joran pemberian account email gratis sampai 2 GB oleh Microsoft Corporation di Seattle, AS, sebagai pemilik Hotmail itu, saya telah mem-posting dua surat pembaca ke situs Kompas Cyber Media itu.

Kedua surat tersebut sebenarnya sudah pernah dimuat di Harian Kompas edisi Jawa Tengah. Topiknya tentang pentingnya pengenalan komputer dan Internet untuk kaum lanjut usia dan surat kedua, berisi protes saya terhadap kebiasaan buruk, pembelian tiket pertandingan olahraga yang diberi bonus sebungkus rokok.

Esoknya, 23 Agustus 2004, sambil mem-posting Esai Epistoholica No. 06, saya melongoki situs KCM itu. Kedua surat pembaca saya itu ternyata belum muncul. Ada apa ? Apakah waktu sehari itu kurang cukup bagi Redaksi KCM untuk menentukan sesuatu surat pembaca dapat dimuat ? Apalagi KCM itu media Internet, di mana up date data amat mudah secara elektronik, bahkan harus dilakukan secara real time, seketika, bukan ?

Saya berpikiran, surat saya itu tidak bakal dimuat. Ini dugaan, yang bisa keliru : mungkin karena surat saya tentang pengenalan komputer dan Internet itu dipandang sarat pesan promosi. Karena isinya memang mencantumkan penjelasan kiprah situs blog Epistoholik Indonesia kita. Alamat situsnya, sudah pasti, juga tersaji di sana.

Kalau memang itu yang terjadi, maka jelas hal ini hanya menandakan adanya perbedaan paradigma dalam mengelola suatu media berbasis Internet. Menurut saya, apa yang berlaku pada benak pengelola KCM merupakan penyakit kronis yang rata-rata melanda insan-insan Internet di Indonesia !


KRITIK SITUS AMIEN RAIS. Artikel saya berjudul Internet Sebagai Senjata Kampanye Presiden pernah dimuat pada tanggal 8 Maret 2004 di lembaran Teknologi Informasi Harian Kompas, yang terbit tiap Senin. Lembaran TI itu dijaga oleh wartawan Kompas senior, Rene L. Pattirajawane, yang berbasis di Hongkong.

Sekadar cerita, satu-dua bulan sebelum kirim artikel itu saya pernah bersilaturahmi gagasan dengannya seputar menu sajian halaman TI selama ini. Menurut saya, sajiannya lebih condong memenuhi khalayak pembaca yang oleh konsultan pemasaran TI terkenal Geoffrey Moore dijuluki sebagai early adopter, orang-orang techie yang kecanduan teknologi baru dan mau beresiko mengeluarkan uang untuk memiliki gadget teknologi informasi garda depan. Padahal, menurut saya, harian Kompas yang koran umum itu sebaiknya lebih memperhatikan segmen konsumen teknologi yang disebut sebagai early majority, yang populasinya lebih banyak.

Baiklah, kembali ke artikel saya tentang Internet dan kampanye presiden. Artikel itu mencoba membandingkan pemahaman antara tim sukses kampanye calon presiden John F. Kerry di AS dan tim sukses Amien Rais dalam memanfaatkan Internet sebagai senjata kampanyenya.

Saya kutipkan sebagian : “....situs kampanye tokoh utama PAN ini tidak ubahnya baru mengalihkan media cetak ke dalam bentuk digital. Pemahaman terhadap Internet yang mendasari eksekusinya ini baru mengolah isi (content), tetapi belum mengeksplorasi pentingnya konteks (context) media berbasis Internet.

Pengelola situs ARC (Amien Rais Centre) berasumsi peselancar datang ke situsnya semata-mata untuk membaca berita terbaru mengenai diri Amien Rais. Artikelnya pun kering. Sekadar ilustrasi, kalau di situs John Kerry ada tulisan profil Teresa, istrinya, di situs ARC (Amien Rais Centre) tak ada cerita tentang istri Amien Rais. Eksekusi situs web hanya sebagai koran digital itu mengakibatkan peluang simpatisan untuk ikut menjadi bagian integral isi situs secara signifikan, serius terkendala. Paling-paling hanya boleh memberi komentar untuk sesuatu berita, atau ikut jajak pendapat, yang tidak ubahnya seperti pembaca menulis di kolom surat pembaca di media cetak

Situs web ARC berpeluang tampil sepenuh tenaga bila dilandasi pemahaman terhadap Internet dalam konteks yang tepat. Gregory P. Gerdy, pakar Internet dari Dow Jones, dalam Mary J. Cronin (ed.) The Internet Strategy Handbook : Lessons from the New Frontier of Business (Harvard Business School Press, 1996), menegaskan bahwa situs web merombak proses penerbitan yang selama ini ada.

Dalam penerbitan cetak tradisional, aktivitas penciptaan informasi, produksi, distribusi dan konsumsi informasi, terjadi secara terpisah-pisah. Tetapi di Internet, semua proses itu terintegrasi dalam satu sistem. Terutama harus didaulatnya informasi dari para konsumennya sebagai bagian integral isi situs itu sendiri. Perubahan konteks maha vital inilah yang tidak disadari pengelola situs ARC, juga oleh mayoritas pengelola situs lainnya di Indonesia selama ini”


DIALOG ANTAR KONSTITUEN. Situs web John F. Kerry, lebih agresif pendekatannya. Informasi dari konstituen, atau konsumen situs webnya, justru menjadi bagian integral dari situsnya. Ia bahkan menyebutnya sebagai “situs saya, tetapi ini bukan milik saya pribadi. Ini juga situs milik Anda, membukakan peluang untuk melakukan perubahan bagi tanah air kita demi menjadikan Amerika kembali pada jalurnya, dengan memensiunkan George W. Bush, serta memilih arah benar untuk negara yang sama-sama kita cintai ini !”

Ucapan bahwa situsnya bukan hanya miliknya semata, ditunjukkkan dengan tersajinya link untuk situs web tak resminya, fasilitas chat dan puluhan blog, yaitu situs pribadi berisi jurnal atau catatan harian para pendukungnya di Internet.

Situs blog pendukungnya antara lain arizonaforkerry, AZ4Kerry, CAforKerry2004, cbusforkerry, DCforKerry2004, Democrats-only, fairfaxforkerry, GeorgiaforKerry, johnkerry4president, johnkerrycutthebush2004, tnwomenforkerry sampai veteransforkerry.. Riuhnya para blogger, penulis buku harian, mengisi situs Kerry itu memicu interaksi unik dan kreatif ketika dukungannya tidak hanya sekedar kata-kata di dunia maya.

Dua orang blogger setianya, Tom AZ dari Arizona dan Mark dari Iowa memutuskan berlomba saat mendukung tim basket favoritnya dan sekaligus mendukung gerakan pengumpulan dana Satu Juta Dollar Melalui Internet Bagi John Kerry yang ditutup akhir September 2003. Caranya : ketika tim basket Arizona State Sun Devils dukungan Tom AZ bertanding melawan tim Hawkeyes dari Iowa yang didukung Mark, keduanya sepakat mendonasikan dua dollar untuk setiap angka yang dihasilkan tim yang didukungnya dalam pertandingan tersebut untuk John Kerry.

Ilustrasi tadi menunjukkan John Kerry membuka peluang dan akses agar konstituennya saling berinteraksi dalam mendukung kampanyenya di Internet. Tim sukses Kerry menyadari bahwa kampanye bermedia Internet jauh lebih efektif apabila tidak dijalankan secara monolitis, terpusat, top-down, melainkan justru digerakkan menurut norma Internet sebagai media yang egaliter, yaitu dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Di sinilah kedigdayaan Internet menyelipkan pesan politik yang luhur, bahwa keberhasilan kandidat dalam memanfaatkannya untuk kampanye justru harus memberi peluang dan mendorong konstituennya buka suara, sementara para kandidat itu pun harus pula membuka lebar-lebar telinganya guna menyerap aspirasi dan suara rakyatnya.


DIALOG KENA BLOK. Kasus surat pembaca saya di situs KCM itu mengindikasikan masih banyak media massa cetak dan media online kita justru melakukan blok alias tidak membuka akses bagi konsumennya untuk bisa berinteraksi satu sama lainnya. Sebagai contoh, alamat pengirim surat pembaca tidak dicantumkan secara penuh. Alamat e-mail, disensor. Fenomena ini merupakan langkah salah dalam mengantisipasi masa depan.

Adalah Pablo J. Boczkowski, asisten profesor bidang kajian organisasi dari MIT, dalam bukunya Digitizing the News: Innovation in Online Newspapers (MIT Press, 2004), memaparkan skenario mengenai media online masa depan. Detilnya silakan kunjungi : http://ojr.org/ojr/workplace/1075928349.php

Menurutnya, media baru tidaklah muncrat dari perubahan teknologi yang revolusioner melainkan hasil asimilasi antara struktur dan praktik media lama dengan kemampuan teknis yang tersedia. Inovasi surat kabar online kini prosesnya sedang berlangsung dengan pelbagai kombinasi yang beragam dari kondisi awal dan faktor-faktor lokal yang membimbing penerbit akan menempuh jalur yang berbeda-beda.

Tetapi yang pasti, peranserta pembaca secara online akan merubah definisi apa yang disebut sebagai berita. “Alih-alih bertitik berat kepada pendekatan yang berfokus pada wartawan, journalist-centered, berita dalam sajian online semakin meningkat untuk juga bertitik berat kepada pembaca”, tulis Boczkowski. “Dalam lingkungan online, pembaca memiliki dampak langsung yang lebih besar kepada berita”.

Berita yang semula bertitik berat kepada wartawan, dikomunikasikan secara satu arah atau monolog, bersifat lokal, akan semakin meningkat titik beratnya kepada pembaca, berlangsung dalam percakapan yang majemuk, serta mikro-lokal. Dalam ranah online, pelbagai jenis kelompok aktor akan terjun bermain, memiliki dampak langsung dalam proses produksi berita dibanding selama ini yang tipikal terjadi di ruang-ruang berita media cetak atau pun radio.


FAJAR BARU JURNALISME MADANI. Kecenderungan ke arah sajian berita online yang bertitik berat kepada pembaca/konsumen secara de facto akan memperkokoh sosok gerakan jurnalisme publik atau jurnalisme madani, karena meningkatnya peran yang lebih besar warga dalam proses editorial dan publikasi “semua berita yang ingin diketahui oleh warga”.

Sajian berita yang selama ini secara fundamental bersifat monolog, dimana respons masyarakat hanya sebatas mengisi atau menulis di kolom-kolom surat pembaca (letters to the editor, dalam berita online akan semakin meningkat ragam sumber sekaligus spektrum yang lebih luas perbincangannya.

Liputan secara online untuk sesuatu peristiwa (terutama, walau bukan eksklusif, peristiwa penting) cenderung menyajikan spektrum pendapat, sekaligus secara eksplisit dan implisit terjadi pertukaran antar beragam suara tersebut. Akibatnya, terbukanya sesuatu berita terangkat ke tingkat kontestasi yang lebih tinggi, diekspresikan dalam konflik opini secara langsung atau dalam pandangan beragam yang tidak langsung, dibanding sajian oleh tipikal media tradisional.

Berita sebagai percakapan berakibat pula kepada meningkatnya kesadaran wartawan mengenai titik pandang pembacanya. Hal ini merupakan sebagian dari dampak tumbuhnya kepengarangan bermediakan media baru yang diluncurkan oleh individu, baik terwujud dalam bentuk situs web berita tradisional atau pun yang tidak tradisional seperti weblog atau blog.


WE'VE ONLY JUST BEGUN. Weblog atau blog kini menjadi media kita, kaum epistoholik Indonesia, untuk mengekspresikan diri. Saat ini memang hanya saya sendiri yang menjadi tukang untuk mempublikasikan surat-surat pembaca warga Epstoholik Indonesia. , kata Carpenters. Kita baru saja memulainya. Merintis jalan panjang.

Angan-angan saya, kelak setiap sosok epistoholik di masa depan dapat mengelola “surat kabar” atau “buku harian”-nya itu, berupa situs blog mereka sendiri, sebagai corong online untuk menyatakan eksistensinya di muka dunia.

Mereka yang kini sudah terbiasa menyuarakan opini di pelbagai media cetak, dengan media online semoga mereka merasakan kebebasan dan keleluasaan yang lebih optimal dalam menyuarakan opini, pendapat, aspirasi, dan berdialog pula dengan pembaca atau pengelola blog lainnya. Kehadiran media online bakal semakin riuh, sebagai cerminan riuhnya demokrasi.

Perjalanan menuju penyadaran itu, mungkin masih panjang. Banyak kendala. Sekadar ilustrasi, seperti cerita di awal tulisan ini : pada satu sisi kita menikmati kemurahan hati dan kepercayaan sebuah provider e-mail seperti Hotmail, yang bersedia memberikan layanan e-mail gratis sebesar 2 GB kepada setiap mahkluk di jagat ini, tanpa ditanyakan KTP-nya.

Demikian pula kalau Anda membuka account situs blog pada www.blogger.com (seperti situs blog ini), Anda hanya menempuh tiga langkah mudah. Juga waktu yang singkat. Tetapi untuk urusan serupa dengan media online dalam negeri, misalnya untuk membuat blog serupa di situs Indosiar, Anda bakal menghadapi suasana seperti seseorang berwajah Timur Tengah meminta visa untuk berkunjung ke Amerika Serikat.

Francis Fukuyama dalam bukunya Trust : The Social Virtues and the Creation of Prosperity (Free Press, 1995) menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi suatu bangsa bergantung tidak hanya kepada aplikasi SDM atau akumulasi modal, tetapi juga bergantung kepada derajat bagaimana bangsa itu memperlakukan modal sosial, yaitu kepercayaan (trust).

Indonesia terus saja terpuruk, mungkin karena kepercayaan atau trust adalah sesuatu yang langka pada diri bangsa kita saat ini. Itulah kira-kira juga penyebabnya mengapa dua buah surat pembaca yang paling hanya menghabiskan kapasitas 60-an KB tidak dapat dimuat dalam sebuah media online nasional. Mereka mengelola media baru, tetapi pola pikirnya masih berkarat pada paradigma lama. Mungkin itu pula pola pikir kita yang umum sebagai bangsa ?



Wonogiri, 31 Agustus 2004

No comments:

Post a Comment