Showing posts with label surat kabar. Show all posts
Showing posts with label surat kabar. Show all posts

Sunday, August 22, 2010

Ratapan Anak Tiri, Gandhi dan Penulis Surat Pembaca

Warga Epistoholik Indonesia Di Tengah Jagongan Media Rakyat 2010 Yogyakarta-Bagian 2


Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 103/Agustus 2010
Email : epistopress@gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


Makhluk hibrida yang ganjil.
Itukah profil penulis surat pembaca ?

Penulis surat pembaca boleh jadi merupakan gabungan muskil antara sosok demonstrans yang marah setiap hari, komedian dengan daya observasi jeli, sedikit aliran darah teroris dalam dirinya, secuil karakter dermawan intelektual yang malu-malu, dan sedikit banyak dikaruniai keterampilan mengasah pena bak seorang wartawan.

Barangkali karakter semacam itu yang membuat penulis surat pembaca, utamanya kaum epistoholik, hadir sebagai makhluk yang aneh justru di mata media tempat mereka sering mengekspresikan diri.

Di forum talkshow Jagongan Media Rakyat 2010, 23 Juli 2010, di Yogyakarta, saya sempat melontarkan pertanyaan itu ke forum : penulis surat pembaca itu anak tiri atau anak emas media ? Dalam obrolan yang dipandu Mukhotib MD yang mengelola blog mmdnews.wordpress.com itu saya tidak memperoleh jawaban saat itu. Tak apa-apa.

Bagi saya, yang menulis surat pembaca sejak tahun 1973, penulis surat pembaca adalah anak tiri media massa. Kehadirannya mereka butuhkan, boleh jadi hanya sebagai filler, pengisi ruang kosong semata. Kalau kapling itu dipakai untuk iklan, maka mudah saja kolom itu dikorbankan. Atau diubah, sehingga kaplingnya menjadi pletat-pletot, yang secara visual mereduksi wibawa keberadaannya.

Penulis surat pembaca memang bukan siapa-siapa di mata pengelola media. Walau setiap kali membaca-baca fotokopi kartu tanda penduduk mereka, tetapi pernak-pernik tentang apa dan siapa dirinya, kapasitasnya, latar belakangnya, aspirasinya, sosoknya sebagai manusia, semua itu nampaknya menjadi isu yang tidak begitu penting bagi media bersangkutan. Mereka tidak tertarik untuk membuat semacam bank data tentang para kontributor kolom surat pembaca mereka.

Sehingga ikhtiar yang berusaha memanfaatkan data penting itu sebagai bahan ramuan untuk membuat lebih molek dan lebih bernasnya kolom bersangkutan, nampaknya gagasan semacam ini terlalu jauh untuk bisa masuk jangkauan daya pikir pengelola media atau pun kolom bersangkutan.

Maklum, barangkali, karena pengelola kolom itu juga manusia biasa. Boleh jadi dirinya sudah keberatan beban menjalani tugas utamanya sebagai wartawan, sementara timbunan surat-surat pembaca yang ada membuat dirinya hanya mampu bekerja ibarat ulah seekor bajing yang lari-lari berputaran di kandang rotornya sehari-hari.

Pokoknya asal ada surat pembaca yang bisa tampil pada setiap penerbitan, cukup sudah pekerjaan mereka. Bahkan kalau tidak ada, tidak sedikit yang melakukan rekayasa, dengan membuatnya sendiri pula. Karena banyak wartawan muda yang bercerita sendiri, bahwa ketika dalam masa pelatihan mereka selalu mendapat tugas untuk menulis surat-surat pembaca.

Tidak aneh dengan pendekatan business as usual itu kemudian penjaga kolom surat-surat pembaca sering dipercayakan kepada wartawan-wartawan sepuh, mereka yang tidak dituntut lagi untuk menulis, karena mendekati pensiun. Akibatnya, entah mana yang duluan, telor atau ayam (menurut kajian ilmiah, oleh Dr Colin Freeman dari Sheffield University's Department of Engineering Materials, ayam yang duluan !), dalam arti entah karena penulis surat pembacanya atau penjaga rubriknya, isi kolom-kolom surat pembaca di media-media massa kita saat ini, menurut saya, isinya membosankan.

Selain surat-surat pembaca yang generik, tentang kehilangan barang atau surat berharga sampai keluhan konsumen, isinya yang berupa sumbang saran gagasan kebanyakan tidak inspiratif. Isinya seringkali tak lain dari daur ulang pernyataan para pejabat, paparan opini sampai fatwa-fatwa klise, yang kesemuanya kurang menggugah untuk menyeruak cakrawala kepada pemikiran baru, pemahaman yang baru.

Pintu perubahan. Padahal keberadaan kolom itu, menurut saya, merupakan tumpuan eksistensi media cetak dalam berinteraksi dengan audien mereka di tengah berlangsungnya badai revolusi media yang menderu saat ini. Yaitu ketika media-media berbasis atom atau kertas mau tak mau, cepat atau lambat, harus berevolusi atau ber-revolusi menjadi media berbasis digital dengan segala pengorbanan dan peluang yang mungkin terjadi.

Pintu interaksi itu semula hanya kecil di media berbasis atom. Ya kolom surat pembaca itu. Kini, di era digital ini, sudah seharusnya pintu tersebut menjadi membesar adanya. Karena lewat pintu yang membesar itulah arus jaman mengalir dan mengkristal kini menjadi gerakan jurnalisme warga, ketika media hadir digerakkan sendiri oleh para pembacanya. Sampai-sampai seorang Dan Gillmor, pendiri gerakan jurnalisme warga itu, tak sungkan untuk merendahkan diri. Ucapannya yang terkenal adalah : "My readers know more than I do."

Untuk mencerna apa yang terjadi, Stephen Baker dan Heather Green ("yang cantik") dalam laporan utama berjudul "Blog Akan Mengubah Bisnis Anda" di majalah BusinessWeek (11/5/2005), telah menulis : "Dalam era media massa, penerbit seperti BusinessWeek mencetak berita. Sumber-sumber mencoba untuk dikutip. Namun, keputusan tetap di tangan kami. Begitu pula dengan surat-surat kepada redaksi."

"Kini," tulis mereka selanjutnya, "publik tak hanya dapat bicara melalui kami. Mereka dapat menulis cerita mereka dalam blog. Dan, bila mereka menguasai serba-serbi bentuk komunikasi yang baru ini-seperti cara blogger lain dapat terhubung kepada blog mereka-mereka dapat menjangkau khalayak dalam jumlah yang amat besar."

"Dan ini baru permulaan," tegas mereka. "Dengan sistem ini, tembok antara penerbit dan publik runtuh. Fenomena blog membalikkan konsep media massa menjadi menciptakan media untuk massa."

Jin memang telah keluar dari botolnya. Media massa utama sudah tak mampu lagi mengembalikan kendali yang semula berada dalam genggamannya. Mereka sepertinya terlambat menangkap peluang sejarah. Dengan posisi seperti itu, sesungguhnya, menulis surat-surat pembaca di media-media massa menjadi tidak begitu seksi lagi.

Terlebih lagi karena sisa kendali yang masih mereka miliki kebanykan hanya akan membuat penulis surat pembaca terserimpung dalam upayanya memperoleh umpan balik atas karyanya secara seketika. Terhempang pula stimulasi batin yang berpeluang mereka terima sebagai pemacu nyala api kreativitasnya dalam berkarya di hari-hari mendatang.

Penghalang itu adalah : banyak koran menghilangkan data email atau blog Anda, bahkan nomor HP Anda, untuk muncul pada pemuatan surat-surat pembaca Anda. Bahkan juga untuk kolom serupa di media online mereka. Sehingga di era digital dan interaktif ini orang lain yang berniat mengontak Anda harus melakukan upaya yang cumbersome, sekaligus sangat menyiksa.

Mereka harus rela menulis surat di atas sehelai kertas, membeli perangko dan menunggu lama balasan atas snail mail yang mereka kirimkan tersebut. Benar-benar kendali yang sungguh mencekik di jaman digital ini. Belum lagi, Anda tahu, betapa rada kosongnya hidup ini bila teriakan Anda hilang begitu saja tanpa gema.

Burung di genggaman. Dalam acara di Jagongan Media Rakyat 2010 itu saya munculkan ilustrasi tentang topik di atas, ketika seorang mahasiswa, Arham, bertanya. Ia ingin tahu tentang sejauh mana perkembangan yang saya alami secara pribadi sebagai penulis surat pembaca di media cetak dan kini sebagai seorang blogger.

Saya jawab : "Kalau saya hanya menulis di media cetak, pasti nama dan karya tulis saya tidak terekam oleh mesin pencari Google, maka boleh jadi nama saya tidak mungkin terdeteksi oleh LSM Combine (penyelenggara JMR 2010), dan pastilah saya bakal tak bisa hadir di sini untuk menemui Anda semua."

Penulis surat pembaca memang anak tiri media massa. Di tengah gelombang badai media digital, yang kalau Anda menyaksikan video di YouTube berjudul "Social Media Revolution" Anda akan diguncang tuntutan sesuai derak lirik lagunya Fat Boy Slim, "Right here, right now !," ternyata penulis surat pembaca tidak pula di-reken oleh media massa arus utama sebagai mitra untuk bertahan dalam aura denial, pengingkaran, di era digital. Penulis surat pembaca adalah seekor burung dalam genggaman mereka, tetapi lalu dilepaskan begitu saja.

Sebaliknya media-media lama itu malah nampak ngiler melihat sekumpulan burung di awan. Lihatlah, media arus utama kini lagi sibuk saling melakukan copy/paste trik media lainnya dalam upaya mempertahankan oplag mereka. Mereka kini sibuk berusaha menjaring "burung-burung yang terbang di awan " itu, baik anak-anak TK, SD, SMP dan SMA, sampai mahasiswa, untuk dicegah sekuatnya agar tidak meninggalkan koran mereka.

Ada yang melalui trik membuat kelompok fokus, mengadakan kompetisi majalah dinding, pertandingan basket, mengulik gaya hidup anak muda, ramai-ramai naik sepeda, bimbingan jurnalistik ke pelbagai pesantren, dan lain sebagainya. Yang menarik adalah, mereka pula yang kemudian menuliskan semua kegiatan itu di medianya. Bukan ditulis oleh subyek yang mereka jadikan sasaran "pembinaan" bersangkutan.

Penulis surat pembaca, burung yang ada dalam genggaman, tidak pernah masuk dalam layar radar mereka. Akhirnya kita pun sebagai kaum epistoholik hanya bisa tahu diri, dan bersyukur bila posisi sebagai anak tiri itu membuka cakrawala akan hadirnya berkah yang melimpah.

Posisi semacam ini menggembleng kita untuk mampu berusaha menemukan jalan-jalan baru untuk berkreasi, juga mengeksplorasi media-media baru untuk berekspresi. Apalagi bukan sebagai suatu kebetulan bahwa eksistensi komunitas Epistoholik Indonesia ini berusaha saya hidupkan kembali di tahun 2003, ketika fenomena blog muncul di permukaan dan saya terpapar pesonanya saat itu pula.

Tetapi waktu sepanjang hampir sewindu ini ternyata memang tidak mudah memberikan pemahaman mengenai roh sampai potensi kehadiran blog bagi kemajuan asah intelektual rekan-rekan sesama penulis surat pembaca. Boleh jadi karena pemahaman itu akan baru bisa mereka peroleh, untuk dinikmati dan dihayati, apabila semua aksi itu telah mereka jalani dengan cinta, dengan dedikasi sepenuh jiwa dalam waktu yang lama.

Akibatnya, tidak sedikit teman seiring yang kemudian memilih berhenti di tengah jalan. Bosan. Mereka tidak berselera menulis surat-surat pembaca lagi. Sungguh disayangkan, sepertinya mereka terhenti sebelum menemukan rumusan bagaimana kedahsyatan surat-surat pembaca yang mereka tulis itu mampu mendatangkan manfaat secara fokus untuk menunjang sukses karir, bisnis, sampai cita-cita idealnya sebagai sosok manusia istimewa.

Saya tak bisa menghalangi. Sebagai bekal, mungkin petuah dalam kosmologi suku Jawa, "kelakone ngelmu kanthi laku," dapat bermanfaat sebagai cermin. Petuah hebat itu telah dieksplorasi seorang Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers: The Story of Success ( 2008). Inti ajarannya, bercermin dari sukses Mozart, Bill Gates sampai The Beatles, bahwa tanpa lelaku atau yang oleh Robert Sternberg disebut sebagai "practical intelligence" yang gentur, alias menuntut ketekunan serta menghabiskan ribuan jam dalam latihan, janganlah mengharapkan kesaktian atau keberhasilan akan hadir menyatroni yang bersangkutan.

Boleh jadi karena beratnya tuntutan itu maka banyak teman sesama kaum epistoholik dalam hadir di dunia maya tidak banyak yang mengelola blog secara tekun, fokus dan konsisten. Mereka lebih terpesona pada Facebook, media murah meriah untuk mengekspresikan diri. Utamanya untuk menulis status semata, dan bukan untuk memberikan kontribusi secara lebih serius dalam kanal blog yang ada, yaitu kolom My Note yang tersedia. Dan di dalam kubangan Facebook itu, kita tahu, betapa sulitnya untuk menjadi konsisten dalam menghadirkan jati diri kita sebagai insan unik di persada dunia ini.

Sebagai klangenan. Bagi saya kini, di tengah media-media digital yang baru itu, aktivitas menulis surat pembaca di media cetak kini terasa sebagai aktivitas yang antik. Seperti orang-orang yang setiap hari bermobil, kemudian di akhir pekan mereka ramai-ramai bersepeda. Kolom surat pembaca dulu ibarat sebagai media perjuangan, kini barangkali bisa disebut sebagai wahana klangenan belaka, sebagai kegiatan ringan yang mengasyikkan untuk mengisi waktu senggang.

Tetapi bagi saya, memburu klangenan itu pun ternyata bukan persoalan mudah. Ada pengalaman pribadi, ketika di bulan Juli 2010 yang lalu saya telah mengirimkan email berisi sejumlah surat pembaca. Alamat yang saya tuju adalah alamat email yang tertera di koran itu pula. Beberapa hari kemudian, saya memperoleh balasan. Antara lain berisi teks berbunyi : The email account that you tried to reach does not exist. Akun email itu dinyatakan tidak ada.

Artinya : email berisi surat pembaca saya itu tidak "tembus." Satu-dua bulan sebelumnya, saya mengirimkan surat pembaca ke media lainnya. Mendapat balasan serupa. Email saya tidak "nembus" pula. Saya pikir ini hanya merupakan persoalan teknis, suatu online glitch, maka saya mengirimkannya lagi dengan akun email yang berbeda. Ternyata, tidak lagi "nembus" untuk kedua kalinya.

Sudahlah. Mungkin bencana saya ini semata kebetulan belaka. Atau sebut saja sebagai "karma," karena di blog saya pernah menulis kritikan untuk koran-koran tersebut dalam mengelola kolom-kolom surat pembacanya.

"Para blogger senang menyebarkan kesalahan-kesalahan kami. Mereka hendak menjatuhkan kami dari posisi penting yang kami duduki sejak surat kabar pertama dijual," begitu tutur lanjut Stephen Baker dan Heather Green dalam majalah BusinessWeek edisi yang sama. Saya sudah melakukan perbuatan "menyebarkan kesalahan-kesalahan" itu, dan rupanya kini saya memperoleh balasan balik dari mereka. Terima kasih.

Hanya saja, semoga pengelola media massa yang menghukum saya juga mau menyimaki pernyataan kedua wartawan majalah bisnis terkemuka itu, yang terasa lebih manusiawi, tahu diri, dan mengharukan. Dengan jujur keduanya berkata : "Kami, media tradisional, menyadari sepenuhnya bahwa kami hanya mengontrol bagian yang semakin kecil dari pengetahuan manusia."


Menari sendiri. Dunia sudah berubah, kawan. Kalau dulu, dan berulang kali saya tulis di blog ini pula, penulis surat pembaca ibarat bayi yang tali pusarnya selalu tersambung dengan media massa bersangkutan. Tetapi di era digital kini, ketika sang ibu itu sendiri kini juga lagi kelimpungan dalam mempertahankan hidupnya sendiri, keputusan penting harus dijatuhkan.

Landasannya, simak pesan video di YouTube yang berjudul Prometeus - The Media Revolution, yang inspiratif ini. Di situ Anda akan memperoleh informasi yang sebenarnya tidak lagi mengagetkan, tetapi di negeri ini banyak diingkari. Bunyinya : "Blogs become more influential than the old media" sampai "24 of 25 largest newspaper are experiencing record declines in circulation."

Hidup media-media baru.
Selamat tinggal galaksi Gutenberg, media-media lama.

Tiba saatnya sang anak tiri itu untuk memutus tali pusarnya sendiri. Karena dirinya sudah besar. Sudah mampu mandiri. Dan dengan blognya pula dirinya mampu menari, dengan irama yang ia pilih sendiri pula.

Meminjam tamsil seorang Stephen R. Covey, media-media untuk massa itu merupakan sarana setiap insan untuk menemukan suara-suara otentik mereka sendiri. Mereka-mereka itu tak ubahnya Sokrates atau Gandhi, yang perjuangannya mampu mengubah dunia semata dipandu kehendak menuruti suara-suara otentik mereka sendiri !



Wonogiri, 21-22 Agustus 2010

Monday, August 16, 2010

Episto Ergo Sum

Oleh : Wisnu Martha Adiputra
Esai Epistoholica No. 102/Agustus 2010
Blog : Duniaku Dunia Kreatif
Facebook : facebook.com/wisnu.martha
Home : Epistoholik Indonesia


Pengantar : Diundangnya komunitas Epistoholik Indonesia (EI) untuk menampilkan diri dalam acara Jagongan Media Rakyat 2010, di Yogyakarta, 22-25 Juli 2010, masih berbuntut dengan melimpahnya berkah.

Kali ini datang dari Radio Geronimo FM Yogyakarta yang mengundang EI untuk mengisi acara "Angkringan Gayam," Minggu malam, 1 Agustus 2010. Komunitas kita diwakili oleh Tuwarji, warga EI di Yogya yang dihadirkan bersama staf pengajar Ilmu Komunikasi Fisipol Universitas Gajah Mada, Wisnu Martha Adiputra (foto).

Kehormatan dari Radio Geronimo FM membuat saya mampu memutar mesin waktu ke tahun 1970-an. Saat itu saya bersekolah di STM Negeri 2 Yogyakarta. Kalau membaca koran Kedaulatan Rakyat sering memergoki surat pembaca yang ditulis Ir. RM Pradiko Reksopranoto, yang kami kemudian bisa bertemu muka di Solo tahun 2002.

Sedang tentang Radio Geronimo sendiri, saya telah menulis kenangan berjudul "Radio dalam Kehidupan Seorang Epistoholik." Tulisan ini kemudian dimuat di harian Media Indonesia, 10 September 2006, juga mengisi blog Rane Hafied, saat itu penyiar Radio Singapura dan kini menyiar di Radio NHK Jepang.

Seusai bincang-bincang di Radio Geronimo FM yang dipandu oleh host yang charming bernama Gracy Sondang Marpaung, Mas Wisnu Martha Adiputra telah menyisipkan tulisan tentang kaum epistoholik di antara tulisannya tentang musik, film, kreativitas dan media, di blog beliau yang menarik. Dengan rasa bangga, tulisan beliau tersebut saya pajang untuk mengisi blog saya ini.

Terima kasih untuk Widiaji, Sondy, dan juga Mas Wisnu, untuk dukungan dan apresiasi Anda terhadap kiprah warga EI ini. [Bambang Haryanto].


Dengan menulis kita dapat "memindahkan" gunung?
Betulkah demikian?

Jawabannya, benar sekali. Kita tidak hanya dapat "memindahkan" gunung tetapi juga mengubah dunia menjadi lebih baik.

Tentu saja bukan berarti memindahkan gunung dalam pemaknaan kerja fisik tetapi lebih berarti pada perubahan besar yang abstrak dan tidak langsung, baik di level individual dan masyarakat.

Betapa banyak individu yang berubah karena tulisan. Banyak juga kelompok-kelompok masyarakat yang berkembang lebih baik karena tulisan. Tulisan adalah wahana kreativitas dan inspirasi yang mengalir dari satu pihak ke pihak yang lain. Bila hal yang positif, inspirasi dan kreativitas, itu bisa diterima, hal positif itu akan mengalir dengan mudah ke banyak orang.

Beberapa hari yang lalu di program acara radio "Angkringan Gayam" Geronimo FM, Yogyakarta, saya mengenal komunitas yang unik dan bertemu salah satu wakilnya. Mas Tuwarji. Nama komunitas itu adalah Epistoholik Indonesia.

Komunitas ini adalah kumpulan orang yang menulis dengan rutin di surat pembaca media cetak, terutama suratkabar. Mereka menulis tentang kegundahan hati yang terjadi di lingkungan sekitar. Kebanyakan kegundahan hati mereka adalah kegundahan masyarakat umum karena hampir semua kegundahan itu berkaitan dengan pelayanan publik. Perbedaannya, para "epistoholik" ini dengan sukarela dan bahagia menuliskannya ke media.

Berdasarkan pemaparan blog Epistoholik Indonesia, www.episto.blogspot.com, kita dapat mengetahui bahwa kaum epistoholik adalah orang-orang yang kecanduan menulis surat pembaca.

Kata epistoholik berasal dari kata epistle yang berarti surat dan oholik yang berarti kecanduan. Bila imbuhan oholik pada alkoholik dan warkoholic bermakna negatif, tidak demikian halnya dengan epistoholik yang berarti positif.

Di dalam blog Epistoholik Indonesia sudah digambarkan dengan sangat bagus aktivitas mereka oleh pendirinya, Bambang Haryanto. Mereka menulis hal-hal yang tidak sesuai yang terjadi di sekitar mereka. Tidak jarang keluhan mereka yang dimuat di media massa membuat perubahan yang positif. Pihak-pihak yang tidak memberi pelayanan atau menjalankan kewajibannya dengan baik memang biasanya akan berbenah bila terpantau oleh publik yang lebih luas.

Bambang Haryanto sendiri sudah menulis surat pembaca sejak 1973 dan setelah itu dia kecanduan menulis surat pembaca di suratkabar. Dalam perkembangan selanjutnya, Bambang Haryanto bisa mengajak beberapa individu yang memiliki hobi sama untuk membentuk komunitas.

Kini komunitas Epistoholik Indonesia memiliki keanggotaan yang bersifat cair di beberapa kota. Perkembangan ini juga meluaskan komunitas, bukan hanya jumlah anggota yang bertambah banyak. Seperti yang dilakukan mas Ajie, ia kemudian membentuk komunitas donor darah yang bersiap 24 jam untuk membantu sesama lewat jaringan di media dan kaum epistoholik yang dikenalinya.


Bermedia tertinggi. Lalu, bagaimana meninjau fenomena ini dari sudut pandang kajian media? Hal yang agak mudah diamati dari komunitas epistoholik ini adalah bahwa komunitas ini berada dalam wilayah kecakapan bermedia yang "tertinggi".

Aktivitas menulis di media massa memerlukan pemahaman yang tinggi atas media. Selain itu, keinginan untuk memberikan kontribusi sosial melalui media adalah indikator tertinggi dari kecakapan bermedia. Kecakapan tertinggi ini mengindikasikan mereka tidak lagi kritis memandang media dan aktivitasnya, melainkan juga sudah berbuat sesuatu, yaitu dengan berkontribusi pada pesan media.

Kajian media bila diinteraksikan dengan demokrasi menunjukkan bahwa kaum epistoholik memperkuat demokrasi bermedia. Epistoholik atau audiens ini sedikit banyak juga berperan dalam produksi pesan media. Rubrik surat pembaca di sebuah suratkabar adalah salah satu rubrik yang paling diburu untuk dibaca. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh "keaslian" dari surat pembaca yang berasal dari masyarakat secara langsung. Kemungkinan rubrik surat pembaca adalah perwujudan yang paling riil dari ruang publik.

Suratkabar bisa dianggap sebagai jenis media yang paling demokratis karena suratkabar adalah media yang secara rutin menyediakan ruang bagi masyarakat. Hal ini berbeda dengan jenis media lain, terutama media penyiaran, atau media interaktif yang secara natural memang tertuju untuk masyarakat. Dengan demikian, media cetak merupakan kombinasi dari pihak media dan masyarakat.

Coba kita lihat ruang dan waktu yang diberikan media televisi sebagai contohnya. Hampir tidak ada ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan aspirasi melalui media. Hanya ada sedikit ruang dan waktu bagi audiens untuk menyuarakan kepentingan masyarakat. Audiens juga tidak bisa memberikan masukan atau kritik untuk stasiun televisi.

Ini adalah contoh untuk menunjukkan betapa rubrik surat pembaca beserta "aktivis" pengisinya, komunitas epistoholik, adalah bagian yang penting bagi demokrasi media. Memang setelah internet berkembang pesat dan menjadi bagian dari masyarakat, demokrasi media semakin mungkin terjadi, tetapi pada kenyataannya internet belum sekuat media cetak aksesnya di masyarakat.

Sebagai penutup, komunitas ini memiliki slogan episto ergo sum, yaitu aku menulis (surat pembaca) maka aku ada. Manifesto yang cantik dan terus membuat komunitas ini untuk terus menulis di surat pembaca, untuk memerdekakan diri dan berkontribusi sosial.

Komentar : bambang mengatakan...

Dear Mas Wisnu, salam episto ergo sum. Terima kasih untuk dorongan dan apresiasi Anda terhadap komunitas Epistoholik Indonesia, seperti yang Anda tunjukkan saat menjadi host di Radio Geronimo Yogya dan teman saya Tuwarji, menjadi tamu mewakili EI. Surprise, baru kali ini EI dapat tinjauan dari seorang akademisi. Selama ini banyak rekan wartawan yang sudi menyelisiknya.

Suatu kebetulan yang hadir di Geronimo adalah Mas Ajie. Kalau saya, mungkin acaranya jadi bubar,tidak fokus, karena saya pasti tergerak untuk selfish :-). Karena bernafsu ngomongin nostalgia musik tahun 70-an (Deep Purple, Led Zepp, Uriah Heep, Carpenters, Black Sabbath, Grand Funk Railroad, etc :-) ) yang saya dengarkan dari Radio Geronimo ini, saat saya jadi murid STM Negeri 2 Yogyakarta. Mungkin hal ini akan membuat Sondy, yang beda generasi, jadi tak enak posisinya saat memandu acara.

BTW, artikel Anda yang inspiratif ini akan saya pajang di blog EE saya (esaiei.blogspot.com), sebagai penulis tamu. Salam untuk Mas Ana Nadhya Abrar. Sukses selalu untuk Mas Wisnu !


Wonogiri, 16/8/2010