Sunday, July 10, 2005

I Love You, Ditta Amahorseya !

(Tentang Dusta, Kejujuran, Dan Hidup Seorang Epistoholik)

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 24/Juli 2005
Email : epsia@plasa.com
Home : Epistoholik Indonesia


PELAJARAN DUSTA REPORTER TV. Seorang selebritas menjalani pemotretan sinar X, roentgen, untuk memastikan ada atau tidaknya sesuatu penyakit dalam tubuhnya. Sebelum hasil pemotretan diserahkan ke dokter untuk dianalisis, si artis berbisik kepada operator mesin roentgen tersebut. Ia minta agar hasil pemotretannya terlebih dulu di-retouching, istilah teknis kamar gelap dalam dunia fotografi, yang intinya menjadikan hasil pemotretan tersebut menjadi lebih indah dibanding aslinya.

Itu lelucon. Untuk menggambarkan betapa dunia selebritas adalah dunia fetish, yang sarat pemujaan terhadap kesempurnaan, baik kecantikan sampai ketampanan. Sehingga hasil foto sinar X pun harus direkayasa demi untuk menjaga citra. Kita pun tahu, kini semangat pemujaan terhadap kesempurnaan merupakan senjata ampuh para pemasang iklan untuk menjual produk-produknya. Lihatlah, akibat tumbuh jerawat atau berketombe, mereka gambarkan dunia bak kiamat bagi yang memilikinya. Kemasan dusta yang canggih !

Orang televisi adalah salah satu rujukan yang pernah mengenalkan kepada saya budaya “dusta itu boleh” dalam tayangan media. Momen itu terjadi di tahun 1986. Atas prakarsa Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial (YIIS) yang dipimpin Prof. Selo Sumardjan, guru besar di FISIP UI, digagas tayangan seri informasi untuk mengenalkan pelbagai cabang disiplin ilmu-ilmu sosial di layar TVRI. Saat itu saya sebagai asisten dosen di Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI, mendapat tugas dari jurusan untuk menggarap proyek tersebut.

Ibarat Steven Spielberg, saya pun melakukan casting atau pemilihan calon pelakonnya. Selain ketua jurusan Lily K. Soemadikarta, ada Soelistyo Basuki, dosen yang baru saja pulang dari AS membawa gelar doktor, Theresia Emir, alumnus yang saat itu pemimpin redaksi majalah remaja Mode Indonesia, dan Djati Wahyuni, seorang insinyur, staf Pusat Dokumentasi Informasi Ilmiah – LIPI (PDII-LIPI). Tentu saja, diri saya sendiri ikut pula. Saya juga yang menulis skripnya.

Sebelumnya, kami pernah bertemu dengan wakil dari disiplin ilmu sosial lainnya. Kebanyakan dari sesama pengajar di lingkungan UI. Pertemuannya di kantor YIIS, Kwitang. Langsung dipimpin oleh Pak Selo Sumardjan. Saat itu media televisi satu-satunya hanya TVRI. Banyak orang berpendapat, karena bersifat monopoli membuat orang-orang TVRI terkesan arogan. Entah benar atau tidak, sebagai kalangan yang belum ngeh terhadap kerja media televisi, membuat kami kaum akademisi ini banyak berbagi keluhan.

Misalnya, mbak cantik yang dosen Antropologi FISIP UI membeber uneg-unegnya kepada saya. Katanya, saat syuting untuk Ilmu Politik ada hal yang membuat kru TVRI tersinggung. Akibatnya, tayangan yang memunculkan ilmuwan politik Prof. Miriam Budihardjo (keponakan beliau sekelas dengan saya dalam mata kuliah bahasa Perancis), begitu menurut si mbak cantik tadi, gambarnya menceng-menceng jadinya !


“Mas, ini untuk tayangan televisi. Banyak direkayasa. Ini seperti sandiwara”, kata reporter dari TVRI yang seorang wanita kepada saya. Ia didampingi asistennya, juga wanita.. Namanya : Kadek. Asal Bali. Ia jelita sekali. Kamerawannya, Hendro, mengaku dari Jagalan, Solo.

Syuting kami berlangsung dua hari. Hari pertama di kampus FSUI Rawamangun dan Pusat Studi Ilmu Komputer (Pusilkom) UI di kampus Salemba. Hari keduanya di gedung PDII-LIPI, Gatot Subroto. mBak Threes Emir yang awet muda dan modis itu sempat meledeki saya, karena : “dua hari engga berganti baju”


DIJODOHIN DENGAN POLISI. Di sela penggarapan program televisi tersebut, bersama pengajar lainnya di jurusan, saya mengajar kursus Perpustakaan dan Dokumentasi untuk staf di lingkungan Pusat Sejarah ABRI. Saya dapat jatah mengajar Media Teknologi. Mengenalkan media literacy, melek terhadap media, dengan prakteknya berupa pengenalan dasar-dasar fotografi dan kegiatan pemotretan. Ada 20-an peserta, baik kalangan sipil mau pun militer, dari pelbagai angkatan. Pangkat tertinggi peserta adalah Letnan Kolonel. Dilaksanakan di lingkungan Museum ABRI Satria Mandala, Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Setelah kursus berlangsung beberapa saat dan mengetahui status saya yang bujangan, perwira yang memimpin pelaksanaan kursus, Letkol (U) Harris, yang perwira Angkatan Udara, kasak-kusuk. Ia berbaik hati. Yaitu ingin menjodohkan saya dengan peserta kursus. Ah, asmara memang bisa bersemi dan mekar di mana-mana. Ia merujuk kepada dua wanita muda, manis-manis, berkulit putih dengan pangkat letnan dua polisi. Boleh milih, kata Pak Harris. Netty atau Agnes. Saat itu, peserta wanita lainnya, Lettu Sus (U) Mardiana Saragih, juga meminta dengan rada serius alamat saya.

Tawaran tak dinyana ini saya tanggapi dengan serius pula. Jawaban saya, “Hal terberat mempunyai istri dari kalangan militer atau polisi, adalah bila ingin melakukan sesuatu, yang paling intim sekali pun, kita wajib melapor terlebih dulu. Kalau mereka belum menyatakan ‘Siap !’, kita tidak bisa melakukannya”.

Saya sebagai anak tentara kan juga tahu leluconnya tentara. Begitulah, setelah mengalami dan menghayati mata pelajaran saya yang lebih banyak diisi canda, sampai ada peserta kursus sengaja meminjami saya buku kartun asal luar negeri. Isinya : lelucon tentara yang bercampur rada-rada porno. Buku itu kami nikmati ramai-ramai. Klop sudah selera antara murid dengan gurunya !

Ketika pelajaran praktek memotret dengan slide selesai, hasilnya saya tayangkan dengan proyektor ke layar. Potretnya standar, seperti foto saat kita berwisata. Ketika di layar tersaji gambar, mereka berpakaian seragam dan berdiri berjajar di muka pagar kolam, saya berkomentar : “Inilah contoh mereka yang sukses memelihara ikan sebagai peserta program Transmigrasi Angkatan Darat di Muara Bungo, Sumatra”.


Program Pengetahuan Ilmu-Ilmu Sosial yang mengenalkan Ilmu Perpustakaan jadi ditayangkan di TVRI, Jumat, 30 Januari 1987. Jam 20.00. Aku nonton di rumah mBah Roto, Rawamangun. Upaya untuk merekamnya ke kaset video, gagal. Aku tulis sebagian kesanku di buku harianku : “He-he, aku geli nonton diri sendiri !”

Tetapi, esoknya, ketika mengajar ke kursus, seisi kelas menyambut penampilanku di TVRI kemarin dengan hurra. Baik Sri Atmakusumah (teman kuliahku yang bekerja di Pusjarah ABRI, kini pindah ke Perpustakaan Nasional, dan istri tokoh pers nasional, Atmakusumah), Letda (Pol) Entin Kustini, Pak Harris, Letkol Sumadi, Mayor Taryono Tartar sampai Mayor Hermana Sulaiman, semuanya mengucapkan selamat untuk penampilanku di televisi.

Esoknya lagi, Tya, doi saya, justru berlaku getas. Mengomentari sebaliknya. Ia cerita, katanya langsung senyum-senyum saat begitu diriku muncul di televisi. Tetapi, lanjutnya lagi, ia tak tanggung-tanggung memvonis bahwa penampilanku di televisi kurang wajar. Kurang rileks. Kaku. Sampai omongannya engga natural. Benar-benar omongan gadis jujur. Memang tak mudah secara instan menjadi aktor di televisi. Aku tak bisa mengelak.

Yang pasti : apa yang Tya katakan memang benar adanya. Aku akui. Saya senang terhadap keterusterangannya itu. Karakter tersebut merupakan salah satu daya tarik diri pribadinya. Termasuk ketika berkata bahwa ia ingin membeli buku mengenai kiat-kiat bagaimana hidup dan mencintai seseorang yang berkarakter sulit. Termasuk pula kemudian sebagai gadis keturunan etnis Tionghoa, Tya berani berterus terang mengatakan bahwa ia suka pria Jawa.

Setelah puas menggebuki saya dengan kritikan, ia pun bermurah hati membedaki luka itu dengan taburan komplimen : Tya senang melihatku tampil di televisi dengan rada rapi. Beberapa bulan kemudian ketika aku ia minta mewakili orang tuanya dalam pertemuan antara orang tua/wali mahasiswa dengan fihak fakultasnya, dan saat kami bertemu pagi-pagi di kampus Universitas Trisakti, Tya sempat bernostalgia : “Kok engga tampil seperti saat muncul di TV dulu lagi ?”


MENTERI YANG DUSTA. Setelah kami bubaran, aku tak tahu apakah Tya juga pernah nonton lagi penampilanku di televisi. Seingatku, aku pernah muncul di antv, Indosiar, TransTV, dan juga TV7 akhir-akhir ini. Muncul di televisi, memang mampu memunculkan sensasi.

Walau pun demikian, sebagai sumber informasi, televisi kini bukan favorit saya lagi. Saya jarang menonton televisi. Tayangan berita, hampir tidak pernah. Hanya kadang nonton sepakbola Indonesia atau sitkom “Friends” di RCTI bila tidak keburu mengantuk saat menjelang puncak malam Senin itu.

Tetapi, suatu hari, secara tak sengaja, saya nonton televisi yang menayangkan acara jumpa pers seseorang mantan pejabat tinggi negara yang dikait-kaitkan dengan pelanggaran HAM. Gerak-gerik dirinya di depan kamera lalu mengingatkan saya isi artikel majalah Reader’s Digest (6/1985), berjudul “How To Tell If Someone Is Lying”. Bagaimana Mengetahui Bila Seseorang Melakukan Kebohongan.

Tulisan tersebut merupakan petikan dari bukunya Allan Pease, Body Language (Bantam, 1984). Isinya mengenai kiat-kiat praktis, tanpa kita perlu memakai alat lie detector, sehingga kita mampu mendeteksi ketika seseorang melakukan dusta atau sebaliknya.

Pernah, seorang Menteri Dalam Negeri di era Orde Baru termuat fotonya di sampul suatu majalah berita dengan pose jari telunjuknya bersilang di depan mulutnya. Saya pun segera berkesimpulan : ia berdusta. Ketika mantan pejabat tinggi negara yang dikait-kaitkan dengan pelanggaran HAM tersebut tampil dengan berwajah tegang, berkali mengusap hidung atau menggaruk lehernya, saya pun segera kembali berkesimpulan : dirinya juga sedang berdusta.

Kiat-kiat Allan Pease ini, oh, entahlah, merupakan berkah atau justru merupakan musibah bagi diri saya. Karena saya sering secara tidak sadar, bila berinteraksi dengan seseorang, sindrom “malaikat pencatat keburukan” itu otomatis berjalan di benakku. Aku seperti tergoda untuk mencari tanda-tanda, clues, atau mengharapkannya muncul, sehingga aku segera memperoleh kesimpulan bahwa dirinya orang yang jujur, apa adanya, atau manipulatif, alias suka melakukan dusta.

Lebih merepotkan lagi, ketika misalnya hubungan antarkita kemudian merosot atau memburuk, aku kadang terdorong untuk memutar ulang momen-momen perjumpaan atau catatan yang lalu, guna mencari-cari dan menemukan isyarat bahwa dirinya dulu-dulu itu memang telah melakukan dusta. Oh, aku tahu, sindrom merasa jujur sendiri atau merasa benar sendiri seperti ini tentu bukan hal yang sehat. Tetapi, entah kenapa, sepertinya penilaian yang dituntun oleh intuisi dan isi artikel tersebut lebih sering mendekati kebenaran.

Akibatnya, bagiku, ternyata menemukan kebenaran sering menimbulkan kekecewaaan. Juga berderet pertanyaan. Mengapa seseorang yang kepadanya telah aku sajikan diriku sebenarnya, justru mereka balas dengan dusta ? Mengapa seseorang yang nampak ingin memproyeksikan dirinya sebagai sosok yang jauh dari perbuatan dosa, taat kepada agamanya, juga melakukan hal yang sama pula ?

Meminjam penggalan lirik lagu “Simple Man”-nya Lobo, pertanyaan itu berbunyi : “Why does everyone have more than one face ?”. Mengapa setiap orang mempunyai banyak muka ?

Jawabnya : karena dunia ini memang berisi macam-macam manusia.

Lebih detil, Allan Pease mengatakan bahwa gerakan tangan menyentuh wajah sering melukiskan tindakan desepsi, dusta. Ketika seseorang berbicara, melihat dan mendengar kebohongan atau ketidakjujuran, dirinya akan mencoba berusaha menutup mulut, mata dan telinga dengan tangannya.

Anak kecil bila berbohong, dirinya seringkali menutup mulut dengan tangan dalam upaya menyetop keluarnya kata-kata bohong dari mulutnya. Apabila ia tidak ingin mendengar cercaan dari orang tuanya, ia akan menutup telinga dengan kedua tangannya. Begitu pula, bila ia tak ingin melihat sesuatu, dirinya akan menutupkan tangan ke matanya. Ketika semakin dewasa, gerak tangan ke wajah tersebut akan lebih halus, lebih tersembunyi, tetapi tetap muncul.

Menurut Allan Pease lagi, ketika seseorang mulai berdusta, tubuhnya mengirimkan sinyal-sinyal yang saling bertentangan. Walau pun sinyal itu secara sadar ingin ditekan, toh tanda-tandanya tetap muncul di sana-sini. Misalnya, otot wajah jadi menegang, pupil mata membesar dan berkontraksi, berkeringat di kening, pipi memerah, dan peningkatan frekuensi kedipan mata.

Jeffery P. Davidson dalam bukunya mengenai kiat sukses meniti karier, Blow Your Own Horn : How To Market Yourself and Your Career (Amacom, 1987), menyarankan agar kita berhati-hati dengan bahasa tubuh kita. Bahasa tubuh, katanya, lebih jujur menghadirkan isyarat ketika seseorang melakukan kebohongan. Agnes de Mille, penari dan penata tari Amerika Serikat seperti dikutip New York Times Magazine (11/5/1975) pernah bilang bahwa ekspresi sejati seseorang itu tercermin pada tari dan musiknya. Tubuh tak pernah berbohong, katanya.

Kajian Dr. Robert Goldstein dari Universitas New York yang termuat dalam buku The Average Books menyimpulkan rata-rata orang Amerika melakukan dusta 1.000 kali tiap tahunnya. Para pendusta itu tingkah laku gaulnya cenderung :

* Singkat dan minimal dalam perubahan ekspresi mukanya
* Hemat gerak tangan dan menghindari kontak mata
* Cenderung menjauh dengan lawan bicara
* Menjadi terlalu sadar diri, suka mengubah posisi duduk, ribet merapikan pakaian dan menggaruk-garuk
* Bicaranya pelahan dan kalimatnya lebih singkat dibanding normalnya, karena berpikir bila semakin panjang omongannya akan semakin terbuka kedoknya


Di luar rumus-rumus canggih yang diajukan oleh Allan Pease dan Robert Goldstein tadi, sebenarnya tiap diri kita telah dikaruniai intuisi guna menentukan apakah lawan bicara kita sedang berdusta atau tidak. Tetapi, hemat saya, dari semua interaksi yang terjadi, sebenarnya yang jauh lebih tidak berbahagia adalah justru si pendusta itu sendiri.

Sudah sering terbukti, guna melindungi dustanya terdahulu maka dirinya akan terdorong untuk berdusta lagi. Berdusta lagi. Lagi dan lagi. Dirinya kemudian, mungkin justru tidak ia sadari, sungguh-sungguh semakin tenggelam dalam pusaran spiral kedustaan. Kobaran api neraka kecil mulai membakar diri mereka sendiri.


AWAL PESONA DITTA. Masih terkait dengan dusta, kolumnis humor terkenal Amerika Serikat, Art Buchwald, pernah mengatakan bahwa petugas humas, public relations, adalah orang-orang yang selalu terpaksa mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin mereka katakan.

Ungkapan ini, di sela-sela acara Deklarasi Asosiasi Suporter Sepakbola Indonesia (ASSI) di Gedung Yayasan Tenaga Kerja Indonesia (YTKI), Jl. Gatot Subroto Jakarta (11/8/2001), aku lontarkan kepada Bogie Priadi, Senior Officer Divisi Komunikasi dan Korporasi Bank Mandiri. Dialah petugas top humasnya bank pemerintah yang saat itu mensponsori Liga Indonesia. Pak Bogie tersenyum lebar menanggapi gurauanku ini. Petugas PR atau Humas memang digaji untuk mengatakan hal-hal yang serba baik mengenai perusahaannya kepada masyarakat.


Rumusan tersebut pasti juga dikenal oleh seorang Ditta Amahorseya. Siapakah Ditta ? Kalau Anda membaca harian Kompas (6/7/2005) di halaman 33, dalam rubrik “Teropong”, Anda akan mendapati cerita penuh inspirasi tentang dirinya.

Bukan mengenai kiprahnya sebagai pejabat top humasnya Citibank Indonesia, atau sebutan resminya sebagai Corporate Affairs Head of Citibank Indonesia. Tetapi tentang pergulatan pribadinya yang mengidap kelainan jantung, sekaligus spirit perjuangannya mengelola penyakitnya tersebut, hingga berani meniti keputusan yang berada di batas tipis antara hidup dan mati. Ditta yang mengagumkan.

Sejak dulu, saya menyukai Ditta Amahorseya. Saya merasa mengenalnya sejak tahun, kalau tak salah, 1978, 1979, atau 1980. Semula saya mengenalnya dari majalah Gadis. Saya menulis cerita pendek dan esai di majalah ini. Mau tak mau juga tergiur membaca-baca kegiatan yang diadakan majalah Gadis, yaitu pemilihan Putri Remaja Indonesia. Antara lain pernah tampil nama-nama pemenangnya seperti Ella dan Petty Tunjungsari, keduanya anak Titiek Puspa. Tika Bisono (“saya kenal Tika, ia juri saya di kontes Mandom Resolution Award 2004”). Marina Sastrowardoyo. Tentu saja, juga Ditta Amahorseya.

Tahun 1980, baru saya bisa melihat diri Ditta dengan mata kepala saya sendiri. Sosoknya lebih tinggi di antara rata-rata rekannya. Sekitar 170 cm. Berkacamata, rambutnya panjang, dan agak berbobot. Rada chubby. Tapi, menurutku, Ditta sungguh charming dan mencitrakan wanita berintelejensia. Saya baru tahu Ditta punya turunan darah sastrawan Sutan Takdir Alisjahbana ketika membaca iklan duka cita di Kompas saat meninggalnya ayahandanya.

Saya melihat Ditta saat itu sebagai salah satu dari kaum “WTS” yang rutin mangkal di Rawamangun. Jangan berpikir yang bukan-bukan dulu. Walau mungkin sebuah kebetulan ketika di tahun 60-an sejumlah mahasiswa Fakultas Sastra UI Rawamangun menyatakan marah dan tersinggung ketika merasa pernah mendapatkan sangkaan agak “miring” tersebut.

Bacalah isi buku harian Catatan Seorang Demonstran (1983), karya Soe Hok Gie. Buku ini saya beli di Jakarta, 30 Juni 1983. Buku yang kini difilmkan oleh Riri Riza (aku kenal Riri Riza, ia menjadi juriku di Honda’s The Power of Dreams Contest 2002) dengan judul Gie, dimana dalam catatatannya seorang Soe Hok Gie yang saat itu mahasiswa Jurusan Sejarah FSUI telah geram dan melampiaskan kemarahannya atas penilaian seperti itu :

Hari itu hari Jumat tanggal 7 Januari 1966. Aku tiba di Fakultas Sastra kira-kira jam 11.30 dengan mengendarai jip dari Drs. Nugroho Notosusanto. Ketika aku tiba di ruang Senat terlihat suasana resah........Ketika aku dan Herman kembali ke ruang Senat rupanya sudah ada persoalan lain yang cukup memusingkan kepala. Beberapa jam yang lalu Senat menerima surat dari Prof. Prijono, Menko Pendidikan dan Kebudayaan yang pada pokoknya meminta agar (Fakultas) Sastra mengirimkan 20 orang mahasiswi untuk “nonton” wayang di istana semalam suntuk. Cara memintanya sangat menyinggung perasaan, seolah-olah Sastra adalah tempat supply wanita untuk konsumsi istana. Tidak seorang mahasiswa pun yang diundang”


”WTS-WTS” YANG MEMESONA. Di komplek kampus Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Rawamangun, terdapat taman yang dipayungi rimbun pepohonan yang diisi beberapa kupel dan bangku taman. Di sana-sini mangkal pedagang makanan. Komplek ini tiap hari kuliah selalu ditaburi sosok-sosok yang mampu melahirkan inspirasi, bukan saja cantik dan jelita, tetapi juga memesona. Mereka itulah yang lajim disebut sebagai para “WTS” : Wanita Taman Sastra.

Misalnya, dari Arkeologi ada Widhiana Laneza. Bercelana jin biru, baju jin biru pula, rambut panjangnya digerai. Mirip penyanyi rock. Kacamatanya frame besar seperti yang dipakai komedian Drew Carrey. Bagiku, ini pemandangan yang memesona. Ada pula Deasy Indriati, yang mungil dan gemintang. Dari Ilmu Perpustakaan : Saraswati, Sri Mulungsih, Arlima Mulyono (adik dari pelawak Warkop, almarhum Nanu Mulyono), Poppy sampai Evy yang mengejar-ejar cinta saya.

Dari Sastra Cina, misalnya penyanyi Christine Panjaitan. Teman kentalnya, Prianti Gagarin Singgih, yang seperti cewek bule Amerika. Sosok menawan dari Sastra Inggris antara lain, Siti Rabyah Parvati. Ayahnya dari Padang, ibunya, Ibu Poppy, priyayi dari Solo.

Rumah eyangnya di Solo kini menjadi lokasi berdirinya Balai Sudjatmoko. Intelektual raksasa dan Rektor Universitas PBB di Tokyo tersebut tidak lain adalah oomnya Siti Rabyah Parvati, yang akrab dipanggil Upik ini. Ayah Upik adalah Perdana Menteri Sutan Syahrir.

Kalau ada ulangan mata kuliah Bahasa Perancis, saya suka duduk di belakangnya. Biar mendapatkan bocoran jawaban yang benar dari dia. Ketika menulis skripsi, Upik cerita dirinya akan menulis tinjauan terhadap karya pengarang besar Amerika berkulit hitam, Ralph Ellison. Sebagai orang yang kebetulan tahu teknik-teknik meriset, menelusur dan menemukan informasi, saya telah membuatkan daftar artikel di pelbagai majalah Amerika Serikat yang pernah menulis tentang Ellison.

Melalui temannya, daftar itu saya berikan kepada Upik. Dengan catatan : dokumen komplitnya harus diuber ke pelbagai perpustakaan di AS sana. Suatu ketika kami bertemu di Perpustakaan Pusat Kebudayaan Amerika, di Wisma Metropolitan II. Ketika saya tanya tentang skripsinya, Upik malah bilang, “forget lah, Mas”.

Dari Sastra Indonesia, ada Ani “Trio Bebek” Harahap, putri seorang profesor yang sering manggung bersama Guruh Soekarnoputra. Dari Sastra Jepang, saya punya favorit : St. Hanifah Misa Lestari yang berwajah teduh dan inosen. Yasmina Kusuma Dewi, yang tinggi besar dan serasi itu, juga amatlah menawan.

Dari Sastra Jerman, sosok menawan tentunya peragawati top Indonesia, Pinkan Vemy Runtu. Dari Sastra Perancis, Dewi L. Primawati. Saat Dewi menikah, resepsinya dilangsungkan di India, tempat ayah Dewi menjabat sebagai duta besar RI di negeri anak benua itu. Ada pula Titi Widoretno, yang terkenal dengan nama Neno Warisman.

Jangan lupakan Reda Gaudiamo. Sosok perempuan satu ini memesona bila tampil di panggung, memetik gitar, dan melakukan musikalisasi puisi-puisinya wong Solo, Sapardi Djoko Damono, yang penyair dan guru besar di Sastra Indonesia. Sampai kini. Tampilan Reda, dengan dres kasual dan rambut panjang tergerai, mudah mengingatkan pesona penyanyi rakyat sohor Amerika : Joan Baez.


Saya tidak tahu, Ditta yang saat itu tercatat sebagai mahasiswa Sastra Indonesia, masuk tahun 1979 atau 1980. Ia kemudian pindah ke FISIP UI, mengambil Ilmu Komunikasi. Tahun 1990, ia mengambil Master di Universitas Boston, Amerika Serikat. Kalau masuk tahun 1979, mungkin di Sastra Indonesia ia seangkatan dengan Mien Lindim Pongoh. Gustinia Farida. Evy Suhaemi. Ibnu Wahyudi ? Kalau masuk tahun 1980, seangkatan dengan Eko Endarmoko. Juga, Dwi Retno “Tutut” Setiarti.

Cerita lain dulu. Di tahun 1981, saat dunia terpincut berat sama Lady Diana, saya mendapati kemiripan style rambut Princess Diana pada seorang Nia. Nama lengkapnya : Gustinia Farida. Sosoknya tinggi, slim dan cantik. Mencerminkan gadis yang penggembira. Saya suka bila ia memakai rok span warna biru Benhur. Senyumnya cemerlang.

Dalam upaya untuk berkenalan dengan dirinya, oh, rupanya saya telah melakukan blunder yang asyik, sangat memalukan, tetapi juga tidak terlupakan sepanjang hidup saya. Saya senang mengenang karena telah melakukan kekonyolan yang unik !

Saya memberanikan diri mengirim surat pujian dan beberapa pertanyaan untuknya, tentu menyangkut pengetahuannya sebagai mahasiswa Sastra Indonesia. Aku boleh menyombongkan diri, sebagai seorang epistoholik, betapa hebat daya sihir surat yang aku kirimkan saat itu. Tetapi aku kemudian justru menjadi terkaget sendiri ketika mengalami akibatnya yang tidak terduga-duga !

Di surat, aku mengaku bernama Hari, seorang pelajar SMP yang bertanya kepadanya bagaimana cara menulis puisi yang baik. Skenarioku, Nia akan sudi membalas dan secara pelan-pelan, aku akan mengenalkan diriku yang sebenarnya. Benar-benar taktik yang mengandalkan kebohongan, sehingga aku memang pantas kena batunya !

Suatu sore, ketika aku baru bangun tidur siang, tiba-tiba di depan rumah kosku yang berupa lapangan volley di Jl. Balai Pustaka Timur, terparkir sebuah mobil jip Jimny coklat. Dari dalam jip muncul sosok yang aku kenal :

Gustinia Farida !

Ia ditemani dua teman cewek yang kemudian salah satunya aku kenal bernama Mien Lindim Pongoh. Terjadilah pertemuan yang kaku dan lucu. Aku tetap mengaku sebagai Hari, kuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI. Tetapi aku pura-pura tidak mengenal mereka. Mereka bertiga juga tidak mengaku mahasiswa FSUI pula.

Liar ! Liar ! Liar !

Aku juga cerita berasal dari Solo, dan di kos ini bersama rekan di Fakultas Kedokteran UI. Kemudian mereka bertiga pamit. Terlanjur kejeblos, esoknya aku justru mengirim surat lagi kepadanya. Intinya, menanyakan kok suratku dulu engga dibalas.

Mungkin karena terlanjur malu, gengsi atau tak mau mundur dari kebohongan, aku ragu-ragu untuk meneruskan manuverku untuk mengenal Gustinia Farida. Goblog ! Padahal, di kampus dan kalau aku melewati dia yang sedang ngerumpi dengan temannya, kerumunan itu terdengar bersorak. Namaku terseru pula dari sana. Tetapi, oh, aku malah cepat-cepat ingin kabur saja !

Ia pun kiranya pernah meminta bantuan petugas perpustakaan FSUI agar aku dipinjami buku seputar panduan menulis puisi. Petugas itu berkali-kali titip pesan kepada rekannya, yaitu petugas perpustakaan di jurusanku, untuk disampaikan kepadaku.

Tahun 1982, kalau tak salah, Gustinia Farida sudah tidak aku temui di kampus FSUI lagi. mBak Yayi, petugas perpustakaan FSUI dan sebagai salah satu pusat sumber gosip mengenai mahasiswa FSUI, mengabarkan bahwa Nia berpindah ke Australia.

Cerita masih berlanjut. Beberapa tahun kemudian, ketika aku menjadi asisten dosen mata kuliah Media Teknologi, aku membutuhkan mahasiswi yang mempunyai suara enak, microphonic. Saat itu aku sedang membuat program slide bersuara. mBak Yayi, petugas perpustakaan FSUI, bersedia membantu mencarikannya. Ia tahu ada mahasiswi Sastra Indonesia yang pernah menjadi penyiar radio. Setelah ketemu, siapa dia ?

Mien Lindim Pongoh.

Ah, dunia memang kecil. Begitulah “reuni” antara kita terjadi. Berhari-hari Mience, panggilan akrabnya, dengan baik hati membantuku dalam perekaman suara di Lab Bahasa FSUI. Kita sama-sama menahan diri. Seolah baru saling kenal saat itu.

Aku tidak menanyakan kabarnya Gustinia Farida. Apalagi menanyakan momen saat ia memergoki aku bangun tidur di kosku dulu-dulu itu. Mien, wanita semampai, manis, santun, berkulit putih asal Manado, tetapi merasa tak punya kaitan keluarga dengan pemain bulutangkis terkenal Lius Pongoh, rupanya juga tidak tergoda untuk membongkar-bongkar rahasiaku yang ia ketahui sejak dulu itu.

Sebelum lulus, ia telah menikah dengan seorang wartawan Suara Pembaruan dan dikaruniai satu putra. Aku sempat mendapat cerita-cerita mengenai putranya itu. Tetapi Mien tidak menyiar di radio lagi.


Mahasiswi Sastra Indonesia yang sempat membuat saya patah hati adalah Dwi Retno Setiarti. Menurutku, ia mirip Pam Dawber yang saat itu bermain dalam sitkom “Mork and Mindy” bersama Robin Williams. Orang cantik asal Slipi ini setelah lulus SMA sempat menjadi pramugari. Tidak aneh bila dibanding rekan sesama angkatannya ia punya rasa percaya diri yang lebih kuat. Aku mengalami reaksi kimia yang menggelora ketika Tutut (nama panggilannya di rumah) menebar pesona dengan pandangannya.

Di lorong kampus Rawamangun itu, tak hanya sekali, pandangan mata Tutut seolah mengabarkan sinyal-sinyal gelora seperti lirik lagu “Strangers In The Night”-nya Frank Sinatra. Sebuah nyala api infatuation mulai memercik di dadaku ini :

Something in your eyes was so inviting,
something in your smile was so exciting,
something in my heart told me I must have you


Semula aku tak tahu namanya. Aku minta bantuan temanku, Bakhuri Jamaluddin yang satu kelas dengannya dalam mata kuliah Bahasa Sumber Belanda. Tutut jelas orang Jawa. Berdasar rujukan nama dan alamatnya, aku berhari-hari melakukan aksi scanning terhadap buku telepon Jakarta yang tebal itu. Tidak pula ketemu nomor telepon rumahnya.

Suatu malam, saya memutuskan main ke rumahnya. Sebelum masuk gang, saya bertanya pada beberapa wanita yang sedang berkumpul di mulut gang tersebut. Ketika itu saya bertanya rumahnya Dwi Retno Setiarti, “yang kuliah di Rawamangun”. Salah satu dari mereka bilang, “mBak Tutut lagi pergi”. Rupanya ia pembantunya. Aku lalu bertanya nama ayahnya. Bingo ! Problemku terselesaikan.

Aku kejutkan Tutut, keesokan harinya, dengan menelponnya. “Dari mana kau bisa mendapat nomor teleponku ? Dari Henny ya ?”, tanyanya dengan penasaran. Aku jawab dengan gombal : “Aku hanya minta bantuan ke Telkom. Kataku, tolong carikan nomor teleponnya Tutut, orang Slipi yang sangat cantik dan mahasiswa UI. Dari mereka aku lalu dapat nomor telepon rumah kamu !” Tutut terdengar tergelak renyah.

Sayang, walau pun penuh gelora, ramuan kimia antara kita di hari-hari mendatang kurang berjalan serasi. Saya pernah pula memotretnya. Obrolan-obrolan singkat di kampus atau di telepon, terasa tidak mulus. Kurang nyambung. Kesalahanku yang utama dalam relasi ini adalah kurang sabar. Kesalahan fatal dalam urusan cinta. Akibatnya, jatuh cinta itu cepat berkobar dan cepat pula padam apinya. Tetapi, Tutut tidak mudah terlupakan.


SPIRIT DITTA AMAHORSEYA. Aku menyukai Ditta Amarhoseya, walau jelas tidak ada api asmara yang meletup di sana. Yang mengemuka adalah berupa perasaan kagum, bercampur rasa hormat. Seperti kita menyukai dan sekaligus mengagumi sosok Aung San Su Kyi, Ibu Teresa, Corazon Aquino, Oprah Winfrey, Meg “Ebay” Whitman, Karlina Supelli, Dita Indah Sari, Marsinah dan mereka yang dari pribadinya memancarkan pesona luhur atau keteladanan tertentu.

Didorong saking tertariknya kepada Ditta, aku sempat menyediakan map khusus untuk menghimpun kliping penampilannya dalam liputan media. Ditta adalah seorang avid reader, pembaca buku yang jempolan. Aku pernah tergoda untuk mengirimkan surat, ketika ia masih bekerja untuk sebuah perusahaan rokok yang kini diakuisisi perusahaan rokok raksasa Amerika. Aku pengin mengirim protes ke Ditta, “mengapa Anda sebagai wanita yang cerdas mau bekerja pada perusahaan yang produknya merugikan kesehatan, juga mengakibatkan kematian yang tidak perlu ?”

Apakah karena penyakit kelainan jantung itu yang telah mendorong Ditta pindah bekerja, dari pabrik rokok ke lembaga perbankan ? Saya tidak tahu.

Mengidap kelainan jantung bawaan bukan berarti kehilangan harapan hidup. Ditta Amahorseya (44), Corporate Affairs Head of Citibank Indonesia, telah membuktikannya. Tidak ada kata “menyerah” dalam kamus hidupnya kendati telah beberapa kali di ambang ajal karena serangan jantung dan dioperasi lima kali. Itulah cerita awal wartawati Kompas, Evy Rachmawati, ketika menulis tentang perjuangan hidup seorang Ditta.

Pantang menyerah. Begitulah prinsip yang dijalani oleh Ditta menghadapi penyakit jantungnya. Karena itu, ia memutuskan menjalani serangkaian operasi jantung kendati peluang keberhasilannya tipis dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.

“Kematian buat saya adalah pilihan. Kalau kedamaian itu bisa didapatkan dengan kematian, mengapa tidak. Apa bedanya saya mati dua jam setelah operasi atau beberapa tahun lagi, saya tidak mau menunggu dalam kesakitan”, tuturnya.

“Saya harus menerima kenyataan kalau kelainan jantung saya tidak bisa sembuh seratus persen. Ini kelainan. Kalau bocor ya dibetulin, begitu seterusnya”, papar Ditta.

Ditta mengaku sempat marah atas gangguan jantung yang dideritanya sehingga ia harus dioperasi berulang kali, minum obat seumur hidup, dan setiap minggu harus diambil darahnya untuk diperiksa kekentalannya. Memang, dalam merespons sesuatu keadaan yang buruk seseorang wajar melewati tahap penyangkalan (denial), marah (anger), tawar-menawar (bargain), depresi (depression) dan akhirnya penerimaan atau pasrah (acceptance).

“Saya marah selama lebih dari setahun ketika mengetahui tidak bisa hamil dan punya anak gara-gara ini”, ujar cucu sastrawan Sutan Takdir Alisjahbana itu. Namun, pendalaman pada nilai-nilai spiritual belakangan membuat ia pasrah atas kelainan jantung yang juga dialami ibu, nenek dan adiknya. Kepasrahan itu, acceptance, ternyata amat membantu proses operasi karena ia seolah bekerja sama dengan dokter dengan alam bawah sadarnya.

“Saya banyak bersyukur pada apa yang ada sekarang. Saya menikmati apa yang bisa dipetik sampai saatnya saya mati nanti”, katanya.


Ditta, bagi saya, sungguh pribadi yang luar biasa. Bukan hanya karena telah menunjukkan semangat die hard untuk mempertahankan hidup, tetapi juga kepasrahan yang ia yakini dan rasa syukur yang selalu ia panjatkan kepada Tuhan. Pribadinya pun makin bersinar, inspiratif, ketika ia dengan terbuka dan rela menceritakan cacat dan cela yang ia miliki kepada masyarakat luas.

Ketika budaya dunia selebritis semakin mengepung dan memengaruhi kita untuk tampil menomorsatukan kesempurnaan, Ditta tidak memilih jalan itu. Ditta memilih jalan untuk tampil sebagaimana manusia dengan segala kekurangannya.

Pilihan yang luhur sehingga tiap orang mampu menemukan kaitan, juga relevansi, antara diri mereka dengan spirit dan perjuangan seorang Ditta selama ini. Apalagi keterusterangan dan kejujuran, bukan dusta atau upaya menutup-nutupi kekurangan, adalah hal langka untuk ditemui di negara yang berdiri dalam jajaran nomor wahid dalam kejahatan korupsi di dunia ini.

Keteladanan yang Ditta tampilkan, mungkin suatu koinsidensi atau kebetulan, mengingat hari-hari ini ekonom UI, Faisal Basri (Kompas, 3/7/2005) sedang pula mengampanyekan pentingnya sikap kejujuran bagi seluruh bangsa ini. Kebetulan yang indah.

Selamat panjang umur, mBak Ditta.
Semoga Anda sehat-sehat selalu.

Sayang, saya hanya baru bisa mengenal Anda secara selintasan saja di Rawamangun, puluhan tahun lalu itu. Rasanya saya pengin mampu untuk menulis lebih lanjut tentang diri Anda lagi, suatu saat nanti. Atau, bagaimana kalau Anda merintis untuk menulis buku tentang diri Anda sendiri ?




Wonogiri, 10 Juli 2005

No comments:

Post a Comment