Wednesday, June 29, 2005

Lelaki Epistoholik, Cewek Bule dan Harian Kompas

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 22/Juni 2005
Email : epsia@plasa.com
Home : Epistoholik Indonesia




IMAJINASI YANG TERPILIH ! Sebagai kaum epistoholik, sejak kapan Anda menulis surat-surat pembaca untuk harian Kompas ? Saya berkenalan dengan harian ini pada tahun 1970-an justru bukan sebagai penulis surat pembaca. Tetapi sebagai koresponden lepas yang mengirimkan berita-berita seputar kesenian dan kebudayaan yang terjadi di Solo. Nama pena saya : Harry Taxi.

Salah satu peristiwa budaya yang pernah saya liput dan saya laporkan kepada Kompas adalah meninggalnya penari topeng pajegan legendaris dari Bali, I Nyoman Pugra. Beliau meninggal dunia seusai berpentas di Pusat Kebudayaan Jawa Tengah (PKJT) di Sasonomulyo, Solo (1975). Saat itu Pak Pugra mendukung pementasan maestro tari Sardono W. Kusumo yang beberapa saat sebelumnya telah menggegerkan Paris dan Eropa dengan tur membawa “Dongeng dari Dirah” yang fenomenal.

Tahun 1973 sampai 1980, saya berdomisili di Baluwarti, sisi lingkungan dalam komplek Keraton Surakarta. Bahkan sejak 1977 sampai 1980, bermewah-mewah dengan menongkrongi salah satu bagian dari gedung Keraton Solo yang saat itu di bawah pengelolaan Pusat Kebudayaan Jawa Tengah (PKJT). Yaitu gedung Kori Kamandungan, persis di sisi kanan depan Keraton Surakarta.

Dengan semangat swadaya, di Kamandungan ini saya memimpin untuk mengkreasi beragam kiprah kesenian seperti pentas musik, pameran lukisan, pembacaan puisi sampai pemutaran film seni. Kami juga menyelenggarakan Workshop Melukis Anak-Anak Gallery Mandungan. Saya sebagai penggagas dan sekaligus kepala sekolahnya, adalah lulusan Jurusan Mesin, Fakultas Keguruan Teknik UNS.

Mentornya adalah rekan-rekan mahasiswa Seni Rupa UNS. Antara lain Anang Syahroni, Putut H. Pramono, Wahyu Sukirno dan Sutarto. Kami mampu melebarkan sayap ke komplek POLRI Gendengan dan Lanuma Adisumarmo untuk keluarga TNI-AU/Angkatan Udara Republik Indonesia. Sebagian uang kursus peserta saya belikan buku-buku bacaan anak-anak. Sebelum kelas dimulai, mereka dapat membaca-baca buku cerita terlebih dahulu.

Ketika pelbagai karya lukisan anak-anak workshop kami ditayangkan oleh Pak Tino Sidin, yang pengasuh acara “Gemar Menggambar” di TVRI, anak-anak Solo ibarat kena demam lukisan anak-anak. Ketika kami membuka kelas gratis, hampir seribuan anak yang langsung ikut serta. Saya juga menciptakan nama trofi untuk lomba lukis anak-anak se-Jateng/DIY 1979 & 1980 yaitu Samskara Pinastika (Imajinasi Yang Terpilih).

Sebagai orang yang menaruh perhatian terhadap pentingnya budaya membaca dan menulis, tahun 1977 saya menyelenggarakan pameran majalah dinding SLTA Solo. Tahun berikutnya, dengan menggalang kerjasama dengan Perpustakaan Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, dibantu stafnya yang dedikatif Mas Hari Santoso dan pimpinannya, St. Kotska Sugeng (beberapa tahun kemudian saya menjadi satu alumni dengan beliau di UI), saya bisa memamerkan karya-karya majalah dinding SLTA Yogyakarta di Solo.

Saya masih ingat di majalah dinding SMA de Britto Yogyakarta itu ada nama Herry Gendut Janarto, yang beberapa tahun kemudian terkenal sebagai penulis biografi (antara lain Mien Uno dan Bagito), redaktur majalah anak-anak Bobo dan pengamat humor. Juga ada nama YB Margantoro, yang kini sebagai wartawan senior di Harian Bernas Yogyakarta.


TEATER SAMPAI TARI. Kiriman berita saya untuk Kompas yang sempat menjadi bahan pengayaan tulisan redaktur budayanya saat itu, Sides Sudyarto DS, adalah mengenai rangkaian pementasan keliling Indonesia sampai Malaysia oleh kelompok Teater Keliling Jakarta yang dipimpin oleh Rudolph “Rudi” Puspa dan Derry Sirna. Teater Keliling rutin berpentas di Solo mengusung karya Arifin C. Noer dari “Mega-Mega” sampai “Kapai-Kapai”.

Selain Rudi dan Derry, orang teater Jakarta yang sempat seliweran di PKJT Sasonomulyo antara lain Putu Wijaya, Jajang C. Noer (saat muda ia cantik, khas, menarik), Deddy Miswar, Priyo S. Winardi, Saraswati Sunindyo (ayahnya, Pak Sunindyo, beberapa tahun kemudian menjadi dosen saya di UI), Cok Simbara dan Sri Husin. Cewek Jakarta yang terakhir ini menjadi teman ngobrol asyik seusai ia pentas. Saat itu saya ditemani cewek Australia yang tetangga “bule masuk kampung” saya, Victoria Monk, hingga larut malam.

Selain Tory, masa-masa itu saya juga mengenal Helen Pausacker, juga cewek Australia. Helen belajar menjadi dalang. Helen wajahnya lembut. Suka senyum. Saya sempat mengikuti Helen saat ia belajar mendalang. Saat itu saya menghimpun bahan untuk memprofilkan diri Helen secara panjang lebar di majalah Variasi.

Helen saat itu mengajari saya menyanyikan lagu yang juga pernah dinyanyikan oleh Rod Stewart, “Waltzing Mathilda”. Lagu rakyat Australia. Nama wartawan saya untuk majalah Variasi ini lain lagi : Harry Tekssi-Wong Solo.

Helen baru-baru ini tampil menjadi ko-editor buku Chinese Indonesians : Remembering, Distorting, Forgetting (2005) yang diterbitkan oleh Institute of Southeast Asian Studies, Universitas Melbourne, Australia. Dalam buku bunga rampai yang memuat 9 tulisan para ilmuwan, misalnya Arief Budiman, Leo Suryadinata sampai Jean Gelman Taylor, juga disertakan tulisan mengenai keterlibatan Tionghoa dalam wayang, dengan fokus pada wayang purwo dan kulit.

Cewek bule lainnya yang tak tanggung-tanggung jahil memberiku julukan sebagai beatnik, yang definisinya pemuda dan pemudi di Amerika Serikat yang tingkah lakunya berlawanan dengan segala adat kebiasaan, adalah Sisca. Ia penari, asal Amerika Serikat. Sisca lebih ekspresif. Juga suka fotografi, dimana kami pernah melakukan pameran bersama.

Pernah dalam ngobrol-ngobrol, ia saya tanya bagaimana cara dia mengobati rasa kangen terhadap cowoknya di AS sana. Sisca punya solusi aneh yang mengundang senyum : dengan memandangi berlama-lama sepatu cowoknya yang ia bawa ke Indonesia. Kalau Anda pernah menonton film mengharukan tentang kisah cinta antar-reporter televisi, Up Close & Personal yang dibintangi Robert Redford dan Michele Pfeiffer, sepatu juga menjadi simbol cinta sekaligus simbol akhir sedih dari cinta mereka.


Sedang cewek bule dari Eropa yang saya kenal saat itu adalah Marlene Heinz. Asal Belanda. Juga penari. Anak seorang profesor. Marlene nampak anggun dan ningrat memesona bila tampil melilitkan syal panjang batik di leher jenjangnya.

Mungkin didorong oleh perasaan sok gengsi atau sok ikut menguri-uri atau melestarikan kesenian tradisional Jawa yang adiluhung, saya pernah terpaksa sok betah dan sok asyik kala menemani Marlene menonton pertunjukan tari di Keraton Mangkunegaran. Ketika berlangsung Festival Wayang Se-Indonesia (1978) di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, saya sempat menjadi “bodyguard” untuk Helen, Marlene dan Sisca tadi.

Saat itu saya ikut masuk rombongan kelompok tari Wayang Buddha, pimpinan Suprapto Suryodarmo. Helen, Marlene dan Sisca berangkat lebih dulu ke Jakarta. Inilah kali pertama saya ke Jakarta. Sebagai pencinta buku, saya menyempatkan diri main ke Toko Buku Gramedia, Jl. Gajah Mada. Saya hanya bisa membawa pulang bukunya Ivan Illich, Energy & Equity (1974) yang isunya masih relevan, terutama dikaitkan dengan krisis energi, ketidakadilan sosial yang terjadi di jalan raya dan makin mahalnya BBM saat ini.

Ketika Wayang Buddha usai berpentas, diputuskan esoknya rombongan segera kembali ke Solo. Walau sebenarnya festival belum usai. Tak dinyana, Marlene melarang saya yang mau ikut kembali ke Solo. Ia merajuk agar saya mau terus menemaninya dua hari lagi di Jakarta, hingga seluruh acara festival itu usai. OK. Saya tak bisa menahan rayuan cewek asal negara bekas penjajah, londo ini, dan saya mengiakan permintaannya. Mata Marlene berbinar-binar.

Kalau sebelum pentas rombongan kami ditampung di Wisma Seni TIM Cikini, kini saya harus mencari tempat nginep lain di Jakarta. Saya numpang di tempat teman saya, Joko Waluyono (teman SD), di bilangan Setiabudi. Begitulah, tiap malam kami berempat bertemu untuk berfoya-foya nonton beragam pementasan wayang dari penjuru tanah air di Taman Ismail Marzuki. Kebetulan Helen, Marlene dan Sisca tinggal di Kebayoran Baru, sehingga kami berempat saat pulangnya dari Cikini dapat ditempuh dengan taksi dalam satu rute yang sama.

Ketika festival usai, hanya saya dan Marlene yang memutuskan pulang bersama ke Solo. Naik kereta api Senja. Marlene cukup cerdik, saat membeli tiket ia menggunakan kartu mahasiswa Belandanya. Kami dapat diskon.

Sepanjang perjalanan, ketika malam merambat menjadi tua, rambut blondanya Marlene menari berkibaran diterpa angin malam yang menerobosi jendela kereta. Bayangkanlah kedamaian padang tulip yang ditepis angin. Ujung-ujung rambutnya lembut sesekali menampari sebagian mukaku. Aroma tubuh perempuan Amsterdam itu menyala di setiap pori-porinya. Marlene, penari gemulai itu tertidur dalam pelukan. Sleeping Beauty. Sepanjang kereta api berjalan. Sepanjang malam.

Esoknya, ternyata kereta api mogok di Klaten. Kami harus berganti naik angkutan Colt dan turun di Pasar Klewer. Pengalaman gonta-ganti moda angkutan ini membuat dia hanya ketawa-ketawa ketika kami saling mengenangkannya.


SURAT UNTUK SYAMSUL HARAHAP. Harian Kompas saat itu belum mampu saya langgan. Harian ini baru tiba di Solo sekitar jam 11 siang. Agar bisa terus mengikuti perkembangan, dan mencek nasib kiriman tulisan-tulisan saya, maka hampir tiap senja saya menongkrong di kios korannya Mas Jo di bilangan Pasar Pon.

Kios koran di dekat gedung bioskop Ura Patria (UP) di jantung kota Solo, tapi kini sudah tergusur, adalah pusat informasi saya. Inilah tempat saya numpang baca-baca koran dan majalah secara gratisan, dan membelinya bila ada yang beritanya relevan.

Saya tidak ingat apakah sebelum tahun 1981 saya pernah menulis surat pembaca untuk Harian Kompas. Dari file yang saya punyai, saya menulis surat pembaca untuk Kompas ketika saya sudah berdomisili di Jakarta. Saat itu saya berkuliah di Universitas Indonesia, Rawamangun, Jakarta Timur. Inilah surat pembaca saya tersebut :



SELAMAT JALAN, SELAMAT DATANG
Kompas, Jumat, 9 Oktober 1981


Syamsul, sejarah telah mencatat bahwa mahkota yang menghiasimu selama sembilan tahun sebagai raja kelas welter ringan tinju nasional, telah tumbang. Adakah kau amat menyesalinya ? Semoga tidak.

Karena waktu memang terus saja mengalir. Dia mengelus dan selalu melahirkan juara-juara baru, benih-benih baru. Aku ucapkan selamat jalan bila kau telah berniat untuk menggantung sarung tinju, sekaligus teriring salam selamat datang untuk buah penamu di masa datang.

Selamat datang Syamsul, sebagai kolumnis tinju. Memang di arena ini akan sepi dari medali, himne kemenangan atau pun sorak-sorai kekaguman. Juga kecil kansmu –sebagai kolumnis tinju—semisal untuk meraih semacam Pulitzer, terlebih lagi karena hadiah Adinegoro kita itu terlalu “pembangunan”.

Selamat datang Syamsul, sebagai kolumnis tinju. Penamu yang terbukti begitu tajam, arif dan berintelegensia itu adalah tahta yang “tidak tertumbangkan” oleh usia. Justru ia akan mengasahnya menjadi semakin bijak. Dan aku kira, di arena baru inilah namamu akan selalu terpateri pada setiap dada petinju-petinju muda, benih-benih baru, yang kau lecut lewat pena-penamu. Selamat datang.


Bambang Haryanto
Jurusan Ilmu Perpustakaan-FSUI
Jl. Belimbing 24 B
Jl. Balai Pustaka Jakarta



BAPAK ANGKAT IKAN PAUS . Harian Kompas Sabtu, 13 Januari 1990, di kolom Pojok Kompas-nya Mang Usil tertulis :

“Seorang pembaca mengusulkan agar di Indonesia didirikan klub bapak/ibu angkat untuk satwa- terutama yang besar-besar dan banyak makannya- yang dipelihara di KB Ragunan, untuk membantu pemeliharaan dan perawatan mereka. Mang Usil setuju banget.”

Inilah surat pembaca yang beruntung mendapat accolade asyik tersebut :



ADOPSI SATWA RAGUNAN
Kompas, Jumat, 12 Januari 1990


Untuk memaksimalkan fungsi KB (Kebun Binatang) Ragunan, pengelola kebun binatang tersebut antara lain telah melaksanakan sistem bapak angkat untuk beberapa koleksi satwanya. Pada sistem ini bapak angkat bersedia membiayai perawatan binatang yang dipilihnya, dan untuk KB Ragunan baru diminati oleh lima orang yang semuanya orang asing (Kompas, 8/1/1990).

Berdasarkan berita tersebut tampak kesan bahwa untuk menjadi bapak angkat satwa koleksi KB Ragunan pasti membutuhkan biaya mahal dan eksklusif. Apabila kesan itu benar, saya ingin usul agar KB Ragunan sudi menerapkan sistem bapak angkat untuk satwa koleksinya seperti yang telah dikerjakan oleh International Fund for Animal Welfare (IFAW) di Massachusetts (AS) untuk binatang ikan paus yang sering berkeliaran di perairan Cape Cod, Massachusetts, sejak tahun 1982 (Reader’s Digest , 1/1984).

Lembaga tersebut menerbitkan katalog berisi sketsa masing-masing ikan paus yang ada, ukuran dan nama sebutannya. Dengan menyumbang dana sebesar 10 dollar setiap bapak angkat memperoleh sertifikat pengadopsian dan foto anak angkatnya. Tercatat lebih dari 8.000 orang telah mengangkat anak ikan-ikan paus tersebut, dan metode IFAW ini nampak lebih “demokratis”, juga dapat dimassalkan, dibanding metode bapak angkat KB Ragunan yang berkesan mahal dan eksklusif itu.

Kerja sama KB Ragunan dengan media massa dan biro iklan untuk merancang iklan layanan masyarakat mengenai peluang masyarakat menjadi bapak/ibu angkat satwa koleksinya, mungkin merupakan salah satu jalan yang dapat ditempuh untuk memobilisasi dana demi memaksimalkan fungsi ideal kebun binatang di Indonesia.


Bambang Haryanto
Career Book Club/CBC
PO Box 55/Jatra
Jakarta 13220



GUS DUR VS SEPAKBOLA. Menjelang Piala Dunia 1990, saya kembali menulis surat pembaca untuk Kompas, kali ini tentang sepakbola. Saat itu RCTI yang baru hadir, dengan menggunakan dekoder untuk para pelanggan, sebagai stasiun resmi untuk penayangan siaran langsungnya.

Sebagai anak kos, tentu tidak mampu membeli dekoder. Tidak ayal, hampir tiap malam saya harus mau bergabung bersama mahasiswa dan masyarakat Rawamangun untuk hura-hura nonton Piala Dunia di Asrama Mahasiswa UI Daksinapati, Rawamangun, Jakarta Timur.


KEINDAHAN SEPAK BOLA
Kompas, Sabtu, 30 Juni 1990


Kejuaraan sepak bola Piala Eropa 1988 telah dua tahun berlalu, tetapi ia belum terlupakan. Ia bukan Gullit. Bukan pula Koeman atau Marco Van Basten, walau pun sama-sama memamerkan keindahan sepak bola.

Gullit menggelar kegarangan dalam menanduk bola, Koeman meragakan konsentrasi energi dengan tendangan geledeknya, tetapi ia dengan ujung pena yang dituntun kecintaan terhadap sepak bola, riset literatur yang luas, wawasan yang dalam, ketajaman pikir dan keindahan optimal ekspresi dalam bahasa.

Kini dalam Piala Dunia Italia 1990, ia kembali. Anak bajang kembali menggiring bola, serangkaian laporan dan analisis yang indah dan dalam, kembali disajikan wartawan “khusus” Kompas, Sindhunata. Pasti saya hanya salah satu di antara banyak sekali pembaca yang menyukai tulisannya yang memeragakan keindahan sepak bola.

Tetapi saat ini saya masih punya harapan tersembunyi. Sebab selama ini ini media massa kita nampak lupa menampilkan komentar atau ulasan sepak bola dari seorang pengamat sepak bola yang tidak kalah tajam wawasan atau pun inteligensianya. Beliau yang saya maksud adalah K.H. Abdurachman Wahid. Bagaimana, kiai ?


Bambang Haryanto
Job-Hunting Consultant
Dept. KS-VI
PO Box 55/Jatra
Jakarta 13220 B



ANAK PEMALU DAN BARBARIANS ! Saya berkuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta, mungkin sebagai perpanjangan minat dan kecintaan saya terhadap buku. Saya menyukai perpustakaan, tetapi kurang menyukai pekerjaan rutin dan administratif perpustakaan. Saya menyukai kegiatan yang membuka peluang krida kreativitas dan berfokus pada upaya “menjual” perpustakaan. Mencakup promosi, pemasaran dan bahkan juga kehumasan. Selama menjadi mahasiswa, saya banyak menulis topik langka ini.

Saya mencintai buku sejak SD, mungkin karena saya adalah anak lelaki yang pemalu. Saking pemalunya, bila hendak menginginkan sesuatu, saya sering tidak berani mengatakan terus terang kepada ayah atau ibu saya. Jalan keluarnya, mungkin inilah bibit kronis sebagai seorang epistoholik mulai berkecambah, yaitu dengan menulis surat.

Saat itu ketika saya duduk di kelas SD bahkan sampai lulus SMP, ayah saya Kastanto Hendrowiharso sebagai anggota TNI-AD, bertugas di Yogyakarta. Keluarganya tetap di Wonogiri. Bapak saya tiba di Wonogiri hari Sabtu sore, dan kembali ke Yogya hari Senin pagi-pagi.

Salah satu momen mengesankan waktu kecil, saya pernah diajari bapak untuk mengokang pistol. Yang terasa ringan adalah pistol Vickers yang pegangannya seperti irisan di permukaan tempe yang akan digoreng (“agar bumbunya meresap”, kata ibu saya). Beberapa saat kemudian berganti dengan FN 45, yang lebih berbobot dan berat mengokangnya. Saya belum pernah menggunakannya.

Saya suka menulis surat mini, memo, bila menginginkan dibelikan buku. Terutama ketika awal bulan, di mana saya tahu saat itulah serial kegemaran saya, karya SH Mintardjo, Nogosoro-Sabukinten, diterbitkan. Memo itu berisi judul serial buku itu, nomor jilid, lalu saya masukkan ke kantong baju dinas ayah saya.

Hari Sabtu depan, kemudian menjadi hari yang menyenangkan. Ayah saya tiba sekitar jam 4 sore, saya lalu membuka tasnya. Bila buku Nogosoro-Sabukinten saya temui, maka sekitar jam 7 malam seluruh isi buku tersebut sudah saya tuntaskan. Koleksi Nogosoro-Sabukinten juga sering dipinjam teman. Bahkan oleh teman-teman baru yang jauh dari kampungku.

Walau pun pemalu, anehnya, saat duduk di Sekolah Dasar Negeri Wonogiri III salah satu pelajaran yang saya sukai adalah bercerita di depan kelas. Saya ingat, kalau perbendaharaan cerita teman-teman saya seputar cerita Kucing Gemuk vs Kucing Kurus, saya bisa menceritakan Kisah Pertempuran Laut Arafuru, Pemberontakan di Kapal Tujuh, Siti Gahara sampai Hikayat Indera Bangsawan.

Tetapi saya pernah terkagum sama teman saya Mulyadi, cucu seorang jagal sapi, karena bisa menceritakan kisah tentang anak yang mampu naik ke langit dengan memanjat turus kacang. Cerita yang mengherankan saya. Dari mana dia memperoleh cerita sehebat itu ? Ternyata dari buku pelajaran bahasa Inggris kakaknya yang bersekolah di SMP. Cerita yang membikin saya terkagum itu memang cerita yang terkenal di seluruh dunia : Jack And The Beanstalk !

Di bawah ini dua surat pembaca saya yang mengoreksi informasi tentang buku dan penulis buku :



F. ROSS JOHNSON BUKAN NOVELIS !
Kompas, Rabu, 1 Mei 1991


Dalam features mengenai ekspansi kerajaan elektronik Jepang Sony ke dunia hiburan di AS (Kompas, 19/4/1991) antara lain disebutkan bahwa Sony akan meluncurkan beberapa judul film berbiaya mahal. Salah satu judul film disebut Barbarians At The Gate yang dibuat berdasarkan novel laris Ross Johnson.

Saya ingin meralat info terakhir ini. Ross Johnson bukanlah seorang novelis. Buku Barbarians At The Gate : The Fall of RJR Nabisco (judul kompletnya) juga bukan karya novel, melainkan buku nonfiksi yang disusun oleh Bryan Burrough dan John Helyar. Penerbitnya Harper & Row, 1990. ISBN 0-6-016172-8.

Isinya mengenai kisah pertarungan dan kejatuhan CEO RJR Nabisco bernama lengkap F. Ross Johnson yang “serakah” meluncurkan produk rokok tidak berasap dan melancarkan usaha merger untuk mempergemuk pundi-pundi uangnya sendiri. Upayanya gagal, ia tidak mendapat dukungan direksi, dan Johnson mengundurkan diri bulan Februari 1989.

Buku Barbarians At The Gate itu telah dipilih oleh majalah bisnis Business Week (10/12/1990) sebagai salah satu buku terbaik bisnis tahun 1990.


Bambang Haryanto
Job-Hunting Consultant
CBC-Dept. KS-4
PO Box 55/Jatra
Jakarta 13220 B



BUKAN LULUSAN HARVARD
Kompas, Senin, 30 September 1991


Tulisan features mengenai kiprah gurita agen tenis pro dunia oleh wartawan Kompas di Tokyo H. Witdarmono (Kompas, 16-17 September 1991) memang menarik. Namun ada kekeliruan fatal ketika ia mengisahkan riwayat pendidikan Mark Hume McCormack, pendiri agen tenis IMG (International Management Group) yang ditulis sebagai lulusan dari Harvard Law School yang bergengsi tersebut.


Data tersebut keliru. Mark H.McCormack yang oleh majalah Sport Illustrated dijuluki sebagai “the most powerful man in sports” karena kiprah IMG-nya bukan lulusan Harvard Law School, melainkan dari Yale Law School.

Oleh karena itulah ia menulis buku-buku best-seller yang judul-judulnya merupakan “ejekan” bagi Harvard, yaitu :

What They Don’t Teach You At Harvard Business School, What They Still Don’t Teach You At Harvard Business School (buku ini saya miliki, saya beli untuk hadiah HUT-ku, 24/8/1990-BH) dan What They Don’t Teach You At Harvard Law School.


Bambang Haryanto
Job-Hunting Consultant
CBC-Dept.KS-9
PO Box 6255/Jatra
Jakarta 13220 B



SURAT PEMBACA SEBAGAI MEDIA PROMOSI. Saya menyewa fasilitas kotakpos di Kantorpos Rawamangun sejak tahun 1983 sampai tahun 1998. Saat itu kantorpos adalah pusat aktivitas kerja saya. Bahkan juga untuk memperoleh cinta dari Anez, Calista, Niken, Tutut sampai Tya. Saat saya kuliah di UI itu Marlene Heinz kembali ke Belanda. Kontak antarkami Amsterdam-Jakarta melalui surat, akhirnya terhenti. Marlene kini tinggal di Solo, suaminya orang Jawa, anaknya berumur 6 tahun. Saya belum pernah ketemu dirinya lagi.

Saat itu, dengan fasilitas kotakpos saya juga berbisnis informasi panduan mengenai kiat-kiat strategi berburu pekerjaan. Mengecerkan informasi yang diramu dari sekitar 30-an buku-buku strategi berburu pekerjaan dan ratusan artikel majalah luar negeri yang saya koleksi. Cara mempromosikan bisnis tersebut, tentu saja, cukup melalui kolom surat-surat pembaca. Salah satu contohnya di bawah ini :



JEBAKAN IKLAN LOWONGAN KERJA
Kompas, Sabtu, 18 Desember 1993.


Berburu pekerjaan merupakan salah satu pekerjaan tersulit di dunia. Bahkan menurut saya, berburu pekerjaan adalah pekerjaan. Tak heran kalau konsultan karier Morin dan Cabrera (1982) menandaskan bahwa untuk memperoleh sukses, pencari kerja harus mengalokasikan waktu 35 jam per minggu untuk semata-mata berburu pekerjaan !

Tuntutan kerja keras di atas tidak banyak diketahui oleh rata-rata pencari kerja. Ketika terjun berburu pekerjaan, secara naluriah mereka langsung merujuk iklan-iklan lowongan pekerjaan di media massa sebagai satu-satunya akses untuk memperoleh pekerjaan.

Artini Idasmawati dalam suratnya yang dimuat Kompas 7 Desember 1993 mengeluhkan lowongan pekerjaan yang ditawarkan dalam iklan selalu menuntut pengalaman kerja di bidangnya. Iklan-iklan tersebut, tulis Artini, membuat lulusan perguruan tinggi yang nonpengalaman kerja merasa takut dan rendah diri untuk melamar pekerjaan yang ditawarkan.

Rasa takut dan rendah diri seperti yang dialami Artini dapat dipahami. Hal ini terjadi karena mereka tidak mengetahui, bahwa iklan-iklan lowongan merupakan metode perekrutan karyawan yang punya bias hanya menguntungkan pihak perusahaan.

Menurut sebuah riset di AS, setiap iklan rata-rata dibanjiri 20 s.d. 1.000 pelamar. Pelamar yang berkualitas, sedang atau pun rendah, berbaur jadi satu. Realitas ini mempersulit proses seleksi, sehingga pihak perusahaan mencari akal untuk mempermudahnya. Salah satu caranya adalah dengan mencantumkan filter seperti yang dikeluhkan Sdr. Artini itu.

Sebaiknya, pencari kerja tidak usah termakan trik-trik perusahaan tersebut apabila Anda merasa memiliki kepribadian yang sesuai dengan tuntutan pekerjaan yang ditawarkan dan mempunyai sikap untuk mau selalu belajar, mengembangkan diri, maka persyaratan seperti pengalaman kerja itu tidak pantas ditakuti. Sebaiknya Anda terus saja melamar.


Bambang Haryanto
Job-Hunting Consultant
CBC-Dept. KS-12/93
PO Box 6255/Jatra
Jakarta 13062



SATU EDISI KOMPAS DUA SURAT SAYA . Di awal Juni (10/6/2005) saya memperoleh SMS dari sobat Joko Suprayoga (Kendal). Pola menulisnya sejak dulu tak berubah, suka dengan bahasa hiperbola yang membuat saya cenderung merasa seperti orang bodoh. Ia katakan bahwa harian Suara Merdeka telah memuat dua surat pembaca saya sekaligus.

Saya tidak tahu apa yang terjadi. Apa harian Suara Merdeka (10/6) itu berbeda antara edisi Kendal dengan edisi Wonogiri ? Yang saya temukan, hanya satu saja surat pembaca saya yang muncul di koran asal Semarang tersebut. Yaitu surat yang mengulik mewabahnya lelucon model plesetan yang tak mencerdaskan di Audisi Pelawak TPI (API).

Surat pembaca saya itu juga mengenalkan situs blog saya, Komedikus Erektus !, sebagai manifestasi niat saya untuk aktif memberikan sumbangan pemikiran bagi kemajuan dunia komedi Indonesia. Kalau hanya mengumpat saja, siapa saja bisa, kan ? Joko kemudian mengoreksi bahwa dua surat pembaca saya tersebut dimuat di Suara Merdeka edisi 5 Juni 2005. Benarkah omongan dia ?

Ternyata dalam koran edisi 5 Juni 2005 tersebut, bahkan tidak ada satu pun surat pembaca saya. Sudahlah. [Update 13/2/2010 : Joko Suprayoga telah berbaik hati mengirimkan link yang menunjukkan bahwa situs harian Suara Merdeka 10 Juni 2005 memang telah memajang dua surat pembaca saya.

Terima kasih, Mas Joko. Saya juga minta maaf karena telah menyebut Anda berbohong, karena saya terpicu fakta bahwa edisi tanggal 5/6/2005 yang Anda sebut dalam SMS Anda itu benar-benar nyata. Saya di Wonogiri saat itu memang mendapati fakta tentang keberadaan (juga ketidakberadaan) surat pembaca saya, baik edisi 10/6/2005 dan 5/6/2005, seperti yang telah saya tulis di atas].


Satu edisi koran yang memuat sekaligus dua tulisan surat pembaca saya memang pernah terjadi dalam hidup saya. Harian Kompas Minggu, 2 Januari 1994, telah memuat dua surat pembaca saya berjudul “Jurnalisme Televisi” dan “Sistem Pendidikan Ketinggalan Jaman”.

Dalam tulisan pertama saya mengritik selera kurang terpuji dari reporter televisi. Menurut saya, reporter televisi seperti insan yang tidak memiliki perasaan, ketika secara semena-mena mencocorkan mik ke wajah-wajah warga yang sedang tertimpa bencana. Termasuk horor yang mencekam, yang saya lihat saat itu, mereka mencocorkan mik ke wajah Ny. Basoeki Abdullah, istri pelukis terkenal. Terbingkai close up yang begitu dramatis dan memilukan, ia menceritakan saat-saat ia menemukan tubuh pelukis maestro kita tewas dianiaya penjahat.

Saya tuliskan, “dalam tampilan selera buruk itu, warga yang sedang dirundung bencana atau kesusahan di layar televisi seolah-olah malah tampil sebagai terdakwa”.


Dalam surat pembaca saya yang kedua, saya menulis : kini dunia pekerjaan telah mengalami perubahan, sementara dunia pendidikan tetap saja belum berubah. “Sistem pendidikan kita masih kuat berorientasi memenuhi tuntutan perusahaan-perusahaan manufaktur produksi massal, sistem yang diilhami prinsip manajemen ilmiah Frederick Winslow Taylor (1856-1915) yang membagi pekerjaan dalam bagian-bagian kecil dan sederhana sehingga dapat dikerjakan secara mudah oleh pekerja berpendidikan rendah...Mereka tidak diijinkan berpikir, karena berpikir adalah hak eksklusif manajer.”

Potret kuatnya faham Taylorism ini dapat kita simak dari media massa : lomba mewarnai gambar (bukan melukis !), acara cepat-tepat SD-SLTA di TVRI, pelbagai kuis ciptaan Ani Sumadi, asah terampil kelompencapir, kuis-kuis lokal di televisi swasta dan sebagainya. Padahal pelbagai kuis itu, seperti disebut Dr. Utami Munandar, adalah ajang adu kecerdasan “tingkat rendah”, tetapi dengan imbalan yang melimpah. Sementara di sisi lain, ada pekerja rendahan yang mampu “berpikir” seperti Marsinah, justru mengalami nasib mengerikan.

Akhirnya saya mengusulkan solusi : diselenggarakannya program business training, dan bukan job-training, dalam pendidikan kita. Contohlah aktivitas Junior Achievement yang sejak tahun 1919 di AS, di mana pelatihan ini tidak melulu mengajari siswa untuk mampu membaca neraca rugi-laba, akan tetapi juga mengajarkan anak didik untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia, modal dan informasi, sehingga menghasilkan uang. Hasil pelatihan ini membuat sumber daya manusia tidak mengenal uzur keterampilannya.


AYO GABUNG EPISTOHOLIK INDONESIA ! Surat pembaca saya yang mengenalkan komunitas Epistoholik Indonesia muncul di Kompas Jawa Tengah & Yogya, 5 Mei 2004. Saat itu saya mengomentari kiprah seorang guru di Solo yang suka mengamuk, menulis surat-surat pembaca. Beliau adalah FX Triyas Hadi Prihantoro, yang gara-gara surat itu pula kemudian sudi bergabung dalam komunitas Epistoholik Indonesia kita ini.

Dia juga pantas dicatat sebagai warga EI yang suratnya berjudul “Pilkada dan Cat” dimuat di harian Kompas pada penghujung sebelum harian yang membesarkan komunitas Epistoholik Indonesia itu mengalami perubahan. Bahkan dia pula, bersama Andreas Adhy Aryanto, sebagai warga Epistoholik Indonesia yang muncul pertama kali dalam harian Kompas wajah baru.

Pada bulan-bulan terakhir ini saya bisa berekspansi, menulis surat pembaca untuk Kompas Jawa Timur dan juga Kompas Yogyakarta.



FANATISME AREMANIA 2005
Harian Kompas Jawa Timur, Senin, 18 April 2005


Sebagai warga suporter sepakbola Solo, Pasoepati, saya mengucapkan duka cita yang mendalam atas tewasnya M. Abdul Rochim, suporter Aremania dalam kecelakaan lalu lintas saat mau mendukung tim Arema Malang bertanding melawan Persekabpas di Stadion Wilis, Madiun (10/4/2005) yang lalu. Saya juga prihatin atas kerusuhan yang meledak menyusul dibatalkannya pertandingan antara kedua tim yang sama-sama berasal dari Jawa Timur tersebut.

Saya mengagumi Aremania sejak tahun 2000. Pasoepati banyak belajar dari militansi arek-arek Malang ini. Hubungan antara suporter Solo dan Malang pun relatif harmonis, bersahabat, dan saling menghormati. Di tahun 2001, pernah hampir separuh Stadion Manahan Solo diokupasi oleh ribuan Aremania. Sokurlah, pertandingan berjalan semarak dan tak ada masalah berarti antarsuporter, walau pun saat itu tim tuan rumah justru mengalami kekalahan.

Tetapi di luar Solo, militansi Aremania yang sepertinya tidak pandang bulu dalam mengerahkan ribuan warganya, sering merugikan diri mereka sendiri. Baik merosotnya citra, karena munculnya hal-hal negatif, dan bahkan termasuk pula gagalnya mereka menonton sepakbola.

Pernah pertandingan di Sleman dibatalkan, antara lain karena penonton tuan rumah justru tidak memperoleh tempat. Gesekan pun terjadi, pertandingan batal, tetapi Panpel PSS Sleman mampu berbuat bijak. Yaitu memulangkan Aremania, dengan biaya mereka. Hal serupa, gerudukan ribuan Aremania yang tanpa kompromi, rupanya berulang di Stadion Wilis, Madiun, hari Minggu yang lalu. Tetapi buntut dari peristiwa tersebut lebih parah, yang berakibat tercorengnya citra Aremania.

Mungkin tidak mudah, ijinkan saya usulkan agar para senior Aremania, saudara-saudara saya, seperti Cak Surtato, Ponidi Thembel, Yuli, Rudi Permadi dan pentolan Aremania lainnya, sudi mengambil hikmah atas peristiwa Madiun itu.

Bahwa militansi dan fanatisme Aremania haruslah dibarengi dengan sikap tepo seliro, tahu diri, dengan pemahaman bahwa tidak semua stadion di kota-kota utama sepakbola Indonesia selalu mampu menampung serbuan mereka.


Bambang Haryanto
Pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli
Warga Epistoholik Indonesia
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri 57612
E-mail : epsia@plasa.com




ALUMNI BUSSSEEET DAN MURI, YUK BERGABUNG !
Harian Kompas Yogyakarta, Rabu, 1 Juni 2005


Untuk ikut menegakkan pilar-pilar demokrasi, saya sebagai seorang epistoholik atau orang yang kecanduan menulis surat-surat pembaca di media massa, telah membangun komunitas Epistoholik Indonesia (EI). Melalui komunitas ini antarwarga EI berinteraksi dan saling mendukung hingga diharapkan mampu menghasilkan karya-karya surat pembaca yang semakin berkualitas dan berguna bagi masyarakat luas.

Berkat gagasan dan realisasi mendirikan komunitas EI tersebut membuat diri saya tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI). Bahkan telah diprofilkan dalam tayangan Bussseeet di TV7 setelah diliput oleh Erika Michiko yang menawan dan kru Shandika Widya Cinema Yogyakarta, bulan Maret 2005 yang lalu.

Banyak pemegang rekor MURI tetapi tidak /belum diliput oleh tayangan Bussseeet, dan banyak yang ditayangkan dalam Bussseeet tetapi bukan pemegang rekor MURI. Bersama surat ini saya ingin mengajak Anda para pemegang rekor MURI dan sekaligus pernah tampil di Bussseeet, untuk bergabung.

Misalnya, dari Kotagede ada M. Natsir dengan kreasi othok-othok, dari Solo ada Tom Hari dengan aneka kreasi uniknya, dari Bandung ada Hendi Sumantono dengan mulut saksofone-nya, sampai Aggi Tjetje (Jakarta) yang pemilik 8 gelar akademis yang berbeda-beda.

Langkah konkret pertama dari komunitas Album (Alumni Bussseeet dan MURI) ini adalah membuat direktori digital di Internet, guna menghimpun data keunikan dan data pribadi warganya yang patut dan harus disebarkan kepada masyarakat luas. Saya tunggu kontak Anda.


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri 57612
Situs EE : http://esaiei.blogspot.com
Email : epsia@plasa.com



SAYA DI TENGAH MEDIA YANG BERUBAH. Sebagai seorang epistoholik, saya akan terus mengirimkan surat-surat pembaca ke Kompas dan juga media cetak lainnya. Tetapi sebagai konsumen informasi, kini surat kabar bukan lagi sebagai pusat asupan saya memperoleh informasi. Saya hanya membaca surat kabar (sekaligus empat surat kabar) seminggu 3 kali : Rabu, Sabtu dan Minggu. Saya juga tidak menonton siaran-siaran berita di televisi.

Untuk mengikuti perkembangan informasi yang mutakhir, saya mendengarkan Radio BBC. Baik siaran pagi, ketika sambil beraktivitas olah raga jalan kaki pagi, dan siaran malam hari.

Semua itu terjadi, mungkin karena minat saya nampak semakin terspesialisasi. Saya menyukai perkembangan Internet, humor dan komedi, kreativitas, dunia karier, wanita, sampai psikologi, dan semua itu tidak saya peroleh informasinya secara komprehensif di media-media cetak tanah air. Saya mencarinya dan memperolehnya di Internet.

Tidak ayal, perimbangan belanja koran dan akses Internet, kini semakin terbalik. Akses Internet memakan biaya semakin jauh lebih banyak dibanding untuk membeli koran. Saya yakin bahwa saya tidak sendirian. Mungkin tesis migrasi nilai (value migration) dari Adrian J. Slywotzky, kini terjadi. Akibat kehadiran Internet, koran justru ditinggalkan oleh pembaca setia yang selama ini menopang kelangsungan hidupnya : kaum terdidik.

Internet, menurut saya, mempunyai kelebihan yang tidak dipunyai koran : kita mampu hadir sebagai produser informasi. Kalau di koran paling banter seseorang bisa menulis artikel atau surat pembaca, maka di Internet kita (para pembaca) dapat mengekspresikan diri kita sebebas-bebasnya.

Peluang pembaca untuk berekspresi dalam Kompas sajian baru nampak tidak ada perubahan dibanding koran lamanya. Yang nampak hanya upaya ingin pembaca generasi barunya, generasi MTV yang lebih visual-oriented, bisa dipikat dan sokur-sokur bisa lengket, melalui perubahan di bidang visual.

Hal ini nampak, misalnya, diajukannya formula oleh tokoh dibalik perubahan itu, Dr. Mario Garcia, yang ia katakan bahwa, “Pembaca sekarang punya lingkungan di mana teknologi menjadi utama. Internet membuat mereka sangat menyadari pentingnya navigasi”

Benar. Navigasi memang penting. Navigasi itu bisnis besar di Internet. Lihat : Google. Tetapi nampak kedahsyatan Internet baru diambil kulitnya saja oleh Mario Garcia. Berbeda dengan sajian navigasi di beberapa media cetak dunia yang lebih canggih dalam menggabungkan antara kekuatan media cetak untuk bersinergi dengan kekuatan Internet, navigasi di halaman pertama harian Kompas hanyalah navigasi untuk sebuah “dunia kecil”, isi koran bersangkutan pada hari itu pula. Memang berguna, tetapi tidak mengobati atau memuaskan kehausan pembaca , sekaligus tidak membukakan cakrawala yang lebih luas kepada pembaca.

Entah karena unsur pengaruh tidak tahu atau unsur fobia, navigasi yang ada tersebut belum eksplisit ditujukan untuk membawa pembaca menuju “dunia besar” informasi : Internet. Paling tidak ke saudaranya : Kompas CyberMedia !

Padahal, menurut saya, di masa depan isi koran nantinya tidak lebih dari hanya navigasi dan navigasi semata. Mirip indeks, ditambah anotasi ringkas, persis sajian majalah TV Guide, untuk mengantar pembaca menuju ke Internet. Karena konsumen media generasi Internet memang membutuhkan lebih. Terutama, mereka jelas-jelas tidak lagi puas hanya sebagai pembaca.

Tetapi juga siap menjadi penyangkal, teman diskusi, penasehat, sumber berita, apa pun, sehingga dalam “planet” Kompas akan hadir ibarat suasana pasar yang riuh sepanjang 24 jam. Ada sesuatu yang hidup setelah sesuatu berita usai dibaca, yaitu interaksi. Baik antara pengelola koran dengan pembaca, bahkan juga antarpembaca itu sendiri !

Presiden SBY tahu kebutuhan publik untuk berinteraksi tersebut. Maka dirinya telah membuka layanan SMS. Menerima, membalas, dan kini juga agresif mengirimkan pesan.

Bagaimana dengan Kompas ?

Selama Jakob Oetama atau wartawannya (kecuali Budiarto Sambazzy) tidak mencantumkan alamat email, dan juga tidak membalas kontak-kontak yang masuk, maka “an unusual symbiosis” yang disebut oleh Jennifer Wolff dalam tulisannya di Columbia Journalism Review edisi musim gugur 1995, tidak pernah terjadi.

Padahal dalam simbiosa yang tidak lajim itu, inilah hal hebat yang bisa terjadi : “Readers have unprecedented access to reporters and editors, and journalist enjoy the rare opportunity to learn with lightning speed what their audience is thinking on a variety of issues”



P.S. Teriring ucapan selamat hari ulang tahun Kompas Ke-40, 28 Juni 2005. Selamat dan semoga sukses dengan penampilan baru !


Wonogiri, 30 Juni 2005

Monday, June 13, 2005

Seni Merayu dan Kisah Seorang Epistoholik

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 21/Juni 2005
Home : Epistoholik Indonesia



RAYUAN MAUT NY. ROBINSON. Radio BBC pertengahan minggu kedua bulan Juni ini mewartakan meninggalnya Anne Bancroft, artis sepuh Hollywood yang saya kenal aktingnya pada tahun 1970-an. Memang sudah lama sekali, tetapi film yang ikut ia bintangi itu sulit terlupakan. “The Graduate”. Hasil karya sutradara, kalau tak salah, Mike Nichols. Saya menontonnya di Bioskop Kartika, kompleks Beteng, gedung bioskop kelas dua di Solo.


Hide it in a hiding place
where no one ever goes
Put it in your pantry
with your cupcakes
It's a little secret
Just the Robinson’s affair.

Anne Bancroft bermain sebagai Ny. Robinson. Adegan yang mungkin bakal sulit dilupakan oleh pecandu film segenerasi saya adalah saat ia merayu pemuda Benjamin Braddock yang baru lulus kuliah, graduate, yang diperani secara polos dan memikat oleh aktor kaliber Oscar, Dustin Hoffman. Pada hal Anda tahu, Benjamin saat itu adalah justru pacar anaknya, yang dimainkan oleh Katharine Ross.

Sembunyikan di tempat yang tersembunyi
Di mana tak seorang pun tahu
Letakkan di dapurmu
Di antara adonan kue-kue mangkok
Rahasia kecil ini
Affair asmara dalam keluarga Robinson.

Itulah petikan lirik dari lagu “Mrs. Robinson” dari duo terkenal Simon & Garfunkel yang menjadi salah satu lagu tema film ini.

Rayuan maut Ny. Robinson memang menggetarkan. Sehingga adegan dari aktingnya tak terlupakan. Sepertinya Ny. Robinson saat melancarkan jurus-jurus merayunya tahu bahwa hasil akhir dari aktivitas merayu memang tidaklah begitu penting.

“Apa ? Konyol sekali ?!”, mungkin demikian sergah Anda.

Itu benar. Yang konyol, yang penuh keajaiban, dan emosional, semua memiliki bagiannya dalam rayuan. Tetapi mengharapkan sebuah rayuan akan berakhir dengan pernikahan, mendapatkan pekerjaan baru, atau tumpangan untuk pulang ke rumah, sama saja dengan mengambil kemurnian dari interaksi sosial ini.

Para perayu dan para calon perayu, camkan hal penting di atas tadi. Merayu adalah kekuatan kelembutan, soft power, sesuatu yang dahsyat, tetapi kini mudah terlupakan di dunia yang semakin penuh persaingan dan tindak kekerasan dewasa ini. Merayu mungkin muncul dengan istilah lain, negosiasi, diplomasi atau pendekatan win-win solution. Atau dalam bahasa Jawa, menang tanpo ngasorake, kemenangan diperoleh tanpa lawan kita merasa terhinakan.

Kekuatan kelembutan baru-baru ini juga menjadi titik berat perjalanan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Amerika Serikat. Di negeri Paman Sam itu SBY mengimbau agar negeri adidaya tersebut lebih mengedepankan penggunaan soft power dibanding hard power dalam berinteraksi dengan negara lain di dunia. Tegas SBY, “Remember : the use of soft power charms and disarms. Hard power, on the other hand, if it is used incorrectly, provokes resistance and, sometimes, resentment”.


Deborah Tannen dalam buku larisnya, You Just Don’t Understand : Women and Men in Conversation (1990), antara lain telah mengurai mengapa komunikasi antara pria dan wanita sering menemui kesulitan. Menurutnya, karena kaum pria lebih suka menggunakan hard power, buah dari kultur pria, yaitu persaingan. Sementara di kutub lain, kultur wanita adalah konformitas, keserasian dan harmoni.

Oleh karena itu tidaklah aneh melihat para pria dalam “menjual” diri kepada kaum wanita cenderung mengedepankan senjata-senjata hard power untuk memenangkan persaingan. Otot, uang, mobil, villa, kapal pesiar dan bahkan pula senjata. Ingat kasus Adiguna Sutowo. Mungkin mereka memang memenangkan persaingan antarpria, tetapi apakah juga memenangkan hati sang wanitanya ?


Kembali ke hal merayu. Untuk dapat merayu dengan baik, Anda harus berasumsi bahwa kesenangan yang diperoleh dari rayuan adalah tujuan dari merayu itu sendiri. Persis seperti inti “garis-garis besar haluan negara” bagi kaum epistoholik, yang menulis surat-surat pembaca, meminjam ucapan Charles Schulz yang pencipta kartun Snoopy, karena ”reward is in the doing”. Pahala atau berkah otomatis ternikmati ketika kita asyik dalam menulis surat-surat pembaca itu sendiri.

Tentu saja, merayu dapat berakhir dengan berbagai hal. Tetapi kemurnian dari motif merayulah yang akan membawa rayuan Anda tampil dengan penuh gaya.

Merayu juga tidak seperti yang selama ini kerap Anda sangka. “It’s a charming and honest expression of interest in others”, kata Susan G. Rabin, direktur Sekolah Merayu (School of Flirting) di New York. Merayu adalah ekspresi menawan dan jujur untuk menunjukkan perhatian kepada orang lain. Merayu bukan pula sebuah tingkah genit menghalalkan segala cara untuk memikat orang lain, kemudian meninggalkan setelah mengambil keuntungan, habis manis sepah dibuang.

Menurut saya, merayu sejatinya sebuah keluhuran. Karena inti dari merayu adalah persahabatan. Menunjukkan perhatian. Mendongkrak sang target rayuan hingga dirinya merasa penting dan merasa dihargai. Ditambah sedikit bumbu kenakalan. Dan ketika ada unsur persahabatan itu datang dari seorang wanita, hmm, hal itu bisa meletup menjadi sesuatu yang lebih dari sebuah persahabatan.


SELAMAT DATANG DI KELAS MERAYU SAYA ! Sebagai lelaki kaliber busett, bujangan setengah tua, yang sering merasa sebagai a lonely clown, badut yang dirundung kesepian, tentu saja diri saya bukan rujukan seratus persen tepat untuk belajar mengenai rayuan. Apalagi rayuan terhadap wanita-wanita yang menawan hati. Sebab, terus terang, hidup saya penuh kegagalan demi kegagalan dalam berhubungan dengan kaum wanita.

Contohnya banyak. Saya gagal meraih hati seorang Sherry Bilsig. Bukan Sherry Bilsing-Graham, penulis dan juga supervisor produser dari sitkom “Friends” yang terkenal itu. Sherry Bilsig adalah artis figuran yang menjadi pramugari dalam film “Die Hard 2 : Die Harder” yang dibintangi Bruce Willis. Rambutnya yang di-braided, blonda, tiba-tiba menjadi bunyi “klik” di dada ini dan sejak momen itu sosok Sherry sulit dilupakan.

Januari lalu, di kabin Airbus-nya Value Air yang mengangkasa Jakarta-Singapura-Jakarta dan di hiruk-pikuk Bandara Internasional Changi, Singapura, saya mencari-cari di antara para pramugari yang bisa mendekati bayanganku tentang Sherry. Tak ketemu juga. Bayangan Sherry sepertinya tak mungkin bisa lagi ditemui.


Whenever you are,
I fear that I might
Have lost you forever,
like a song in the night.
(Jose Mari Chan, “Beautiful Girl”).


Saya juga gagal mewujudkan impian memiliki seorang bidadari, Isabelle Adjani. Saya tidak patah hati. Ia aktris sangat jelita yang berasal dari Perancis. Ia baru saja cerai dari komposer musik yang juga saya kagumi, Jean Michael-Jarre, juga dari Perancis. Sementara saya, ah, hanya lelaki biasa dari Praci. Tepatnya, Wonogiri, dekatnya Praci.


RAYUAN BU DOSEN PERANCIS. Cita rasa saya terhadap wanita yang ada “bau-bau” Perancisnya, tetapi bukan wanita impian yang hanya bergerak-gerak di layar-layar bioskop, saya temui pada diri seorang Anez. Mahasiswi Sastra Perancis. Juga arkeologi. “Namamu pakai huruf z, terasa eksotis”, pujiku. Ia menerangkan bahwa namanya diilhami dari kosa kata bahasa Spanyol.

Nama Spanyol, tetapi cinta Perancis. Saking kentalnya Anez dengan Perancis, anjingnya yang kecil dan lucu, juga punya nama dalam bahasa Perancis : Grigri. Artinya, jimat. Saat itu dengan bantuan teman, saya membuat kop surat dengan komputer. Tertulis “Grigri Petshop” lengkap dengan alamat rumahnya, yang disambut Anez dengan tertawa-tawa.

Sayang, bahasa Perancisku tidaklah canggih. Aku pernah ikut dalam mata kuliah Bahasa Sumber di FSUI, kini Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI. Di sini setiap mahasiswa, baik Arkeologi, Ilmu Perpustakaan (jurusanku) dan Filsafat (jurusannya Dian Sastro kini), Sastra Arab, Sastra Belanda, Sastra Cina, Sastra Indonesia, Sastra Inggris, Sastra Jawa, Sastra Jepang, Sastra Jerman, Sastra Perancis, Sastra Rusia, wajib mengikuti mata kuliah tersebut. Para mahasiswa boleh memilih : bahasa Belanda, Italia atau Perancis.

Aku memilih Perancis. Tetapi karena metode belajarku tidak efektif, selain tuntutan untuk berfokus pada mata kuliah di jurusanku sendiri, membuat mata kuliah Bahasa Perancis ini menjadi kurang membahagiakanku. Apalagi, mungkin ini bisa disebut sebagai ge-er berat, ibu dosen Perancisku yang masih muda dan charmant itu, aku rasa, terlalu berlimpah memberikan perhatian rada khusus pada diriku. Memuat rayuan terselubung. Godaan yang menggairahkan. Mendebarkan dan menggelisahkan.

Teman sekelasku dari jurusan yang berbeda, yaitu cewek-cewek yang radar atau naluri kewanitaannya peka, sering mencandaiku akan hal spesial satu ini. Termasuk pula Upik, anak Sastra Inggris dan putri mantan Perdana Menteri RI Sutan Syahrir, yang sering aku repoti ketika aku sulit mengerjakan PR atau saat tes-tes dadakan Bahasa Perancis.

Semua gunjingan itu membuatku jadi jengah. Aku seperti Benjamin Braddock yang naif di depan Mrs. Robinson yang berpengalaman. Akhirnya, aku melakukan desersi. Hanya ikut kuliah bahasa Perancis itu satu semester. Au Revoir ! Lalu pindah ke mata kuliah Bahasa Belanda.


Kembali ke Anez. Aku belum berani membelai Grigri, anjing kesayangannya itu. Aku merasa kurang yakin bahwa diriku memiliki keramahan alami untuk seekor anjing. Pernah saya bertemu seekor anjing, di mana mulutku tidak berkata apa-apa kepadanya. Hanya sorot mataku ingin berkata : “Hei, kamu anjing jelek”. Kami pun berpapasan dengan damai. Tetapi, sekejap kemudian, saya rasakan sebuah gigitan mencengkeram tumit saya. Anjing itu rupanya memahami bahasa nonverbal saya. Untung rabies tidak mendera saya.

Grigri dan Anez, sungguh ajaib, menjadi pemicu terbitnya buku kumpulan lelucon satwa, yang saya tulis, Ledakan Tawa Dari Dunia Satwa (Andi, 1987). Begitulah modal rayuan saya. Perasaan jatuh cinta yang mendalam telah berujung dengan terbitnya sebuah buku. Kalau Anda menulis surat saja tidak mampu, maka dapat Anda bayangkan betapa besar upaya yang telah saya lakukan sehingga dapat terlahir sebuah buku.

Proses yang terjadi memang menggairahkan, mungkin tercampur dengan mabuk, terpagut ekstasi, sekaligus tidak memikirkan apa hasil akhir yang terjadi. Kalau Anda percaya, itulah fenomena menakjubkan yang disebut sebagai flow, mengalir, temuan psikolog Mihaly Csikszentmihalyi dari Universitas Chicago.

Flow adalah kondisi bahagia dan terkonsentrasi yang seakan-akan tidak dibatasi waktu, yang Anda raih ketika pekerjaan tidak terlalu sulit tetapi juga tidak terlalu sederhana, namun cukup menarik untuk memikat seluruh perhatian Anda. Flow sering bersamaku ketika menulis surat-surat rayuan yang panjang atau bergulat merampungkan tulisan-tulisan yang membahagiakan.

Mengilas balik di antara momen-momen interaksi yang istimewa dan terjadi dengan Anez, adalah ketika saya ikut makan malam dengan ayah dan ibunya. Beliau adalah seorang duta besar di pelbagai negara francophone, negara-negara yang kuat dipengaruhi budaya Perancis, di benua Afrika. Terakhir menjadi duta besar di Kamboja.

Ketika malam itu obrolan bergulir tentang makanan, saya menyinggung kegemaran orang Perancis yang keranjingan makan escargot, bekicot. Saya memberanikan diri nyeletuk, “Orang Perancis suka makan bekicot, membuat mereka jadi lamban ketika ditagih membayar hutang”.

Pak dutabesar meledak dalam tawa. Tetapi putrinya saat itu tidak antusias untuk ikut tertawa. Sinyal lampu merah tentang masa depan pdkt, pendekatan saya telah menyala.

Aktivitas rayuan memang mirip permainan badminton sosial. Dibutuhkan dua partisipan yang aktif, baik meluncurkan volley mau pun mengembalikannya. Tanpa kerelaan dari mitra bermain, permainan tidak terjadi. Saya mundur. Dengan ksatria menghormati keputusannya. Anez, gadis semampai, berkacamata, artistik, rada suka hal-hal berbau paranormal tapi juga suka outdoor activities, lalu menjadi masa lalu.


AKU SUKA SURAT KAMU. Pak Syukur, pria keturunan Tionghoa asal Kalimantan dan beristrikan wanita Tionghoa asal Yogya, saya temui siang itu di daerah Teluk Gong, Jakarta Utara. Ia sedang di beranda, asyik membersihkan kutu di tubuh anjingnya. Anjing lagi. Ngobrol kami hanya sebentar, lalu saya minta ijin memasuki ruang tamu.

Tumben, ia ramah”, desis Tya, putrinya. Aku juga rada surprais. Beberapa saat sebelumnya aku mendapat asupan informasi dari Tya bahwa ayahnya kurang suka sama orang-orang pribumi. Ah, cakrawala pemikiran putrinya ternyata jauh lebih liberal. Tya menerimaku apa adanya. “Aku suka pria Jawa”, bisiknya.

Tya juga pernah curhat bahwa ayahnya itu juga rada nyentrik dalam memperlakukan dirinya. Suka marah-marah dan irasional, sehingga sering membuatnya tidak bahagia di rumah. “Kalau begini terus, aku lalu ingat mama”, akunya sedih. Sayang pula, mamanya telah meninggal saat ia masih duduk di sekolah dasar.

Ia pernah menunjukkan foto-foto masa kecilnya. Saat berseragam siswa SD Tarakanita, baju putih dan rok motif kotak-kotak a la tartan Skotlandia yang khas, sedang dipangku ibundanya. “Rasa sedihku ini hanya pernah aku ceritakan kepada kamu”, katanya di suatu waktu.


Tya aku kenal saat ia duduk di kelas III SMA Tarakanita 2 Jakarta. Ia bersama beberapa teman sekelasnya menjadi anggota klub yang aku dirikan, Ideas T-Shirt Club (ITSC). Setiap sebulan sekali ITSC mengeluarkan desain t-shirt yang isunya lagi hot, lalu kita patungan dalam menyablonkannya.

Saat kapal milik kelompok pencinta lingkungan hidup Greenpeace, Rainbow Warrior, bersiap melancarkan protes terhadap percobaan senjata nuklir Perancis di lautan Pasifik Selatan dan lalu ditenggelamkan oleh agen rahasia Perancis di Selandia Baru, ITSC membuat desain t-shirt :

You Can’t Sink A Rainbow.
Anda Tak Mampu Menenggelamkan Pelangi.

Pelangi memang tidak pernah tenggelam di lautan. Malah warna-warninya berpendaran di antara hati saya dan hati Tya. Kami mengukir warna-warni pelangi itu dalam surat-surat kami. Yang panjang-panjang. “Aku menyukai surat-surat kamu”, katanya.

Tya tidaklah sendirian. Saya pernah menggalang pertemanan dengan tiga orang gadis yang bekerja dalam satu bagian yang sama. Semula hanya mengenal salah satunya, Vita. Saat hajat pesta kawin kakaknya, aku dikenalkan pada dua teman sekantornya lagi. Aku bahkan kemudian memperoleh foto-foto ketika mereka bertiga lagi menyanyi atau menari bersama bos-bos mereka dalam acara resmi kantor mereka.

Aku menyebut ketiganya sebagai Charlie’s Angels. Mereka menyukainya. Sejak itu, setiap kali, aku harus menulis satu surat untuk sekaligus mereka bertiga. “Suratmu seperti ulah anak-anak. Rada nakal, menggemaskan”, tulis Anti.

Itulah pengakuan murni rasa bahagia seorang wanita. Baik mereka yang sudah memiliki cucu, bersuami atau masih lajang, di setiap jiwa seorang wanita memang terdapat seorang gadis kecil. Ia berdiri di sebalik pintu, rada gelisah, sesekali menengok keluar. Ia mengharap ada anak lelaki yang mengajaknya keluar, untuk bermain.

Aku rasa, aku berhasil menarik gadis kecil dalam jiwa-jiwa mereka bertiga untuk bermain dan bercanda. Resep untuk memperoleh komplimen seperti yang ditulis Anti tadi, sebenarnya sederhana : rancanglah sejak awal surat Anda bahwa subjek utama dalam surat-surat Anda adalah justru sang pembaca itu sendiri.

Anda, bayangkanlah, hanya ibarat sebagai dalang. Tukang cerita. Singkirkan sebisa mungkin unsur aku, aku dan aku, sehingga yang menonjol nanti adalah sang pembaca sebagai pelaku utama cerita itu sendiri. Dalam surat, bebaskan dirinya terbang di antara kata-kata. Memang, ini aktivitas menulis surat yang tidak biasa. Harus banyak mengumpulkan bahan cerita. Tidak letih untuk mengembangkan imajinasi. Semua itu, bukankah layak untuk Anda kerjakan, bagi seseorang yang Anda cintai ?

Ia kemudian bisa Anda ajak terbang menari di atas mega. Di antara taburan kemilau emas debu bintang. Dalam warna-warni ruap sabun. Atau mengikuti petualangan lucu, misalnya bersama Dr. Dolittle atau Pangeran Kecil dari dongeng seorang pilot, Antoine Saint Exuperry. Baru-baru ini saya menulis surat cinta sampai perlu mengutip pendapat Michael Goldhaber , Oscar Wilde dan juga Peter Spann segala.


To know you is to love you. Semakin aku mengenal mereka, semakin akurat aku melancarkan rayuanku padanya. Walau bukan bermotif asmara, melainkan persahabatan, aku pernah merasa berhasil melancarkan rayuan kepada beberapa tokoh di bawah ini : Ibu Mien Uno. Susi Susanti. Riri Reza. Arswendo Atmowiloto. Kusnadi Budiman. Satoshi Okamoto. Itu terjadi ketika aku menjadi finalis dalam The Power of Dreams Contest 2002 dan mereka adalah para jurinya.

Seminggu sebelum Hari-H penjurian, aku telah mengirimkan email ke kantornya Ibu Mien Uno. Aku tulis bahwa beliau adalah ikon dalam bidang pendidikan dan pengembangan kepribadian di Indonesia. Aku katakan, suatu kebanggaan saya nanti bisa bertemu dengan Ibu. Sekalian nanti saya ingin meminta tanda tangan Ibu Mien Uno untuk buku yang memuat biografi Ibu. Entah kebetulan atau tidak, sebelum penjurian tiba, ada sebagian panitia membocoriku informasi : “Ibu Mien Uno suka memberi pujian untuk esainya Mas Bambang”

Saat itu aku juga gencar merayu semua rekan sekaligus kompetitorku dalam kontes impian itu. Aku tahu upayaku ini berhasil, ketika aku diumumkan sebagai salah satu pemenangnya. Dalam tayangan ulang di TransTV, 27/7/2002, aku merasa yang paling banyak mendapatkan ucapan selamat dan pelukan dari mereka. Oh, what’s a wonderful world !.


Dua tahun kemudian, saat menjadi finalis Mandom Resolution Award 2004, saya juga melancarkan rayuan. Tertuju kepada para juri : Prof. Sarlito Wirawan Sarwono. Tika Bisono. Maria Hartiningsih. Untuk dua orang yang pertama, silakan membaca dalam Esai Epistoholica No. 14 dan 15/Desember 2004. Motif minimalku, agar aku tidak dianggap alien, orang asing, bagi mereka. Itu saja.

Beberapa jam sebelum saat penjurian untukku tiba, di depan salah satu ruangan Hotel Borobudur, Jakarta, telah muncul dari dalam : Maria Hartiningsih. Ia wartawan senior Harian Kompas. Aku lalu mengenalkan diri. Sebelumnya, komputer di kepalaku telah memberi isyarat : aku pernah membaca tulisan mBak Maria yang mengutip isi buku Shifting Gears : Mastering Career Change and Find the Work That’s Right for You (1990) karya Carole Hyatt, konsultan karier asal AS, yang pernah pula berseminar di Jakarta.

Klik di kepalaku berbunyi. Karena buku itu juga aku miliki. Lalu obrolan antarkami pun terjadi seputar buku bersangkutan. Misi kecilku berhasil. Aku kini merasa bukan orang asing lagi di mata mBak Maria. Ketika penjurian resmi berlangsung, antarkami malah bisa saling mengobrolkan seputar kotaku dan sejawatnya sesama wartawan Kompas yang pernah ia kunjungi rumahnya di Wonogiri itu.


To know you is to love you. Semakin aku mengenal diri mereka, dan bila semakin kaya respons (ingat : kita melakukan badminton sosial !) mereka, maka akan pula semakin kaya warna petualangan yang bakal ia alami di balik makna kata yang aku tuliskan padanya. Juga semakin ia mengetahui betapa berharga dirinya di hati saya.

Riaty, mahasiswi FISIP UI, walau hubungan antarkami bukan hubungan asmara, pernah merasakan pula hal yang sama. Setiap membaca suratku, dirinya merasa berharga. Ia akan protes keras bila suratku berupa ketikan. “Surat-surat Mas Hari (ia menyebutku begitu), sering aku baca hingga berkali-kali”. Sebagai seorang epistoholik, penghargaan semacam tentu bakal sulit terlupakan.

Surat, apalagi yang ditulis tangan dan dikirimkan lewat pos, akan lebih romantis dan mengena bagi hati wanita dibandingkan bila terkirim berwujud email atau SMS. Masing-masing cara itu memang punya kelebihan. Tetapi untuk mampu membuat pembacanya terbang ke awan, surat yang ditulis tangan, adalah yang paling menawan.

Dan jangan lupa, seperti terekam dalam ribuan adegan film atau sinetron, surat biasanya dibaca di tempat yang paling pribadi. Pada sebuah cocoon, hideaway, atau sanctuary, tempat dirinya mampu membayangkan impian yang paling liar sekali pun seolah mampu menjadi kenyataan. Di kamar pribadinya. Di tempat tidurnya. Surat itu bisa dibaca berulangkali olehnya.



“Aku membalas surat-surat kamu ketika seluruh keluargaku lelap tertidur. Angin malam mendesis lewat sela-sela jendela di dekat meja belajarku. Dingin. Mendekati subuh. Dari gorden yang tersibak sedikit, mengintip sebuah bintang. Berkelip. Aku bayangkan ia dirimu, mengajakku bercakap hingga habis separo malam”, tulis Tya dalam suratnya.

Surat-suratku pula yang ikut membuat hati Tya penuh bunga. Termasuk ketika ia lulus SMA. Saat mau mendaftar ke Seni Rupa ITB, Bandung, ia memintaku untuk mengantarnya. Sayang sekali, aku tak bisa mengantarnya. Seharusnya aku menyesal. Sebab saat itu ia menawarkan iming-iming. Tulisnya, bila dirinya lolos diterima di ITB, “aku akan mencium kamu”.

Ia mungkin kualat. Cita-cita dirinya masuk Seni Rupa ITB akhirnya terhambat. Tinggal angan-angan belaka dan aku hanya bisa menghiburnya. Hampir ia memutuskan kuliah di Malang. Tetapi akhirnya memilih di Universitas Trisakti, Jakarta.

Ketika diadakan pertemuan untuk menjelaskan seluk-beluk perkuliahan oleh fihak fakultas untuk kalangan orang tua mahasiswa, aku justru yang diminta Tya untuk mewakili orang tuanya. Antara merasa aneh, kurang percaya diri, aku luluskan permintaannya ini. Hari itu aku datang ke Universitas Trisakti. Ketika pertemuan berlangsung, dari balik kaca pintu, nampak ia dan teman-temannya bergerombol. Lain hari ia cerita, saat itu teman-teman dan dirinya saling menunjuk masing-masing orang tua dan atau yang mewakilinya.

Suatu saat ia malah membuatku serasa terbang. Saat itu ia bilang bahwa sesudah lulus ia pengin mengajakku untuk kuliah lagi. Yaitu menyusul kakak-kakaknya, di Australia. Begitulah wanita, saat ia merasa berharga, saat ia lagi mabuk cinta. Dan aku kira, dia tidak tahu pula akibat dari tsunami yang terjadi pada diri ini, ketika semua angan-angan kita kandas di tengah jalan. Kami bubaran. Ia meninggalkan seekor anjing yang kami sebut dengan nama “Pipi”, berwarna abu-abu. Boneka itu kini masih saja tertimbun di antara baju-baju dan kaosku.


NANYA-NANYA UKURAN BH ! Pengobat terbaik untuk semua sakit akibat patah hati yang parah adalah waktu. Juga humor. Dr. Lila Gruzen, terapis, konsultan perkawinan dari California (AS) dan pengarang buku 10 Foolish Dating Mistake, bilang bahwa humor adalah senjata merayu yang paling sering diabaikan oleh para pria.

“Ketika lelaki kehilangan sense of humour-nya, hal ini jelas merupakan kesalahan bodoh dan fatal dalam berkencan”, tuturnya. Imbuhnya, kaum wanita benar-benar menghargai pria yang bisa lepas tertawa, tidak jaim dan tidak terlalu kenceng dalam menghadirkan dirinya.

Humor itu pula yang membuat diri saya masih waras ketika menemui situasi rayuan yang tidak terduga sebelumnya. Situasi membingungkan yang aku hadapi saat ini.

Mrs. Robinson telah berani merayu pacar putrinya. Aksi yang memang tidak lajim. Mendebarkan. Hal yang tidak lajim juga terjadi pada diriku, akhir-akhir ini. Karena tidak tahu, saat ini aku terjebak kebablasan melakukan rayuan terhadap seseorang yang sudah bersuami dan beranak pula. Repotnya lagi, seolah dirinya juga memberi sinyal-sinyal yang terbuka.

Pengakuan mengenai status dirinya memang sejak awal tidak secara jelas ia ungkapkan. Bisa difahami. Interaksi antarkita juga belum lama. Aku juga sengaja tidak rewel bertanya-tanya. Sebab seperti Men’s Health Real Life Survival Guide (2001) memberiku nasehat :

Don’t go barging into her personal life, asking things like her age, her marital status, her cup size. She’ll let you know the things she want you to know.

Jangan seret dia ke masalah-masalah pribadi, seperti nyinyir nanya-nanya umur, status perkawinan, atau ukuran BH-nya. Dirinya akan memberitahu segala sesuatu yang ia ingin Anda mengetahuinya.

Benar. Baru akhir-akhir ini ada beberapa isyarat yang ia munculkan. Mixed signals. Isyarat yang saling bertentangan. Fahamku : kalau dirinya sudah bersuami dan sebagai wanita yang tentu memiliki naluri yang peka, mengapa tidak ia cuek-kan saja berondongan aksi pdkt yang telah aku lakukan selama ini ? Tetapi, oh, mengapa dirinya justru memberikan sinyal yang sebaliknya ?

Apakah dirinya sedang menerapkan taktik model Rusia saat menjebak dan menghabisi tentara Nazi di tahun 1940-an ? Mula-mula mereka biarkan tentara Jerman itu merangsek masuk dan masuk. Lalu akan muncul problem logistik. Tentara yang berada di garis depan semakin sulit memperoleh pasokan logistik dari garis belakang yang semakin menjauh. Lalu muncul musim dingin. Ofensif balasan tentara Rusia tinggal menghancurkan tentara Nazi yang kecapekan dan kelaparan.

Ofensif dia, baru-baru ini, dengan memberikan data alamat email baru yang kini mencantumkan nama seorang lelaki. Bisa jadi nama ayahnya. Atau nama suaminya. Tetapi pada saat yang sama dirinya juga memunculkan sinyal lain. Dalam SMS yang sama justru menyiratkan bahwa pintunya terkesan masih terbuka : dirinya memintaku untuk menulis-nulis surat lagi untuknya. Sebagai seorang epistoholik, apa ada penghargaan yang lebih tinggi dan melambungkan angan daripada pengakuan bahwa suratnya dinantikan ? Tetapi kemudian dalam voice mailbox teleponnya, kini muncul suara renyah anak kecil yang menyapa. Putrinya ? Boleh jadi pula.

Di tengah seliweran sinyal-sinyal yang membingungkan, apa yang seharusnya aku lakukan ? Menanyakannya. Tetapi seorang Susan G. Rabin, direktur Sekolah Merayu (School of Flirting) di New York dan pengarang buku 101 Ways to Flirt, cepat-cepat memberi masukan tambahan :

“Anda telah pernah mendengar banyak hal mengenai pentingnya kesabaran dan sikap tidak tergesa-gesa dalam berinteraksi dengan kaum wanita. Ada alasan logisnya. Sebagaimana dalam hal seks, wanita memang butuh waktu lama untuk menghangatkan hubungan. Para pria akan lebih berpeluang memetik hasil bila dirinya mampu bersikap sabar. Ketika dirinya merasa aman, wanita akan menjadi lebih terbuka. Ia pun akan datang kepada Anda”.

Ya. Saya akan dengan sabar menantikannya.

Atau suatu saat bila waktunya kurasa tepat, aku akan menanyakannya. Atau mengikhlaskannya. Yang pasti, rumusan untuk dapat merayu dengan baik kita harus berasumsi bahwa kesenangan yang diperoleh dari rayuan adalah tujuan dari merayu itu sendiri, telah aku camkan selama ini. Merayu telah aku lakukan sebaik-baiknya, kurasa. Dan kesenangan juga telah saya peroleh. Kini saya sedang menunggu bonusnya. Bisa positif. Bisa pula negatif.

Tidak ada masalah. No problemo.
Saya siap.

Yang pasti, hidup akan berlanjut.
Aktivitas merayu akan pula terus berlanjut.
Dengan penuh gaya.


Wonogiri, 11 Juni 2005