Friday, November 21, 2008

Bila Indonesia Tergigit Blogger Berbisa

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 64/November 2008
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Jurnalisme akar rumput. Sarah bekerja sebagai akuntan pada sebuah departemen. Ia mengetahui bahwa bosnya, wakil menteri, telah melakukan korupsi. Ia ingin mengabarkan kepada dunia mengenai tindak kriminal ini, tetapi ia juga takut dipecat. Ringkas kata, Sarah memutuskan meluncurkan blog untuk mewartakan tindak korupsi di lembaganya itu. Untuk melindungi dirinya, ia akan bertindak sangat hati-hati sehingga identitas dirinya di balik postingnya itu tidak terungkap. Ia memutuskan untuk ngeblog secara anonim.

Teknik atau kiat-kiat ngeblog secara anonim itu, yang bertujuan baik seperti kiprah Sarah di atas, telah sengaja diajarkan oleh organisasi Wartawan Tanpa Tapal Batas. Mereka berkeyakinan bahwa blog merupakan sarana ampuh sebagai penyalur kebebasan berekspresi yang memicu gairah jutaan warga-warga biasa. Konsumen yang selama ini pasif mengkonsumsi informasi, berkat blog telah berubah menjadi partisipan yang energetik dalam kiprah jurnalisme jenis baru ini. Seorang pionir blog dari Amerika Serikat, Dan Gillmor, menyebut fenomena ini sebagai jurnalisme akar rumput, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Para blogger itu, secara pelahan, akan tergerak mengembangkan kode etik standar bagi kiprah mereka, sehingga eksistensinya menjadi kredibel dan dipercaya masyarakat. Tetapi di Internet juga penuh informasi-informasi sampah dan menjadi ajang penyebar kebencian. Blog yang memberi semua orang, tidak pandang bulu tingkat pendidikan atau pun keterampilan teknisnya, memang terbuka untuk menerbitkan tulisan apa saja. Konsekuensinya, blog-blog yang membosankan atau pun blog yang memuakkan akan tumbuh sama cepatnya dengan blog-blog baik yang bermanfaat bagi kita semua.


Blog-blog hitam. Kita di Indonesia, akhir-akhir ini tersengat oleh hadirnya blog hitam, blog negatif, yang konon meresahkan. Pertama, menjelang eksekusi mati terpidana tindak terorisme di Bali 2002, muncul blog yang isinya berupa ancaman pembunuhan kepada tokoh-tokoh top pemerintahan kita bila eksekusi itu dilakukan. Blog yang konon berpangkalan di Kanada itu kini sudah menghilang. Apa ceritanya lalu menjadi selesai ?

Kedua, baru saja muncul blog lain berbahasa Indonesia, berupa komik, yang isinya disebut menghina Nabi Muhammad SAW. Seperti kebijakan ketika tayangan film buatan politisi Belanda yang menghina Islam muncul di situs YouTube, Indonesia pun melayangkan usul pemblokiran blog itu ke Wordpress, tempat blog komik penodaan agama itu berinduk. Blog tersebut kini telah menghilang pula dari dunia maya.

Kedua blog itu apa blog beneran atau blog rekayasa ? Ketika blog-blog itu kini menghilang, apa ceritanya lalu juga selesai ? Menkominfo dan polisi konon akan terus mengusutnya. Mereka ingin mencari tahu apakah ada unsur-unsur dalam negeri yang terlibat dalam peluncuran blog komik yang bermuatan SARA tersebut.

Bahkan untuk mengantisipasi hal-hal serupa di masa datang, seperti janji Menkominfo dulu itu, akan dibentuk badan khusus guna mengantisipasi munculnya blog-blog hitam bermuatan SARA serupa di masa datang. Realistiskah ikhtiar Menkominfo semacam ini ?


Miskin hero. Mungkin ini sikap skeptis : bangsa Indonesia nampaknya cocok sebagai bangsa yang kurang beruntung. Termasuk dalam berurusan dengan blog. Karena blog yang begitu digdaya itu ternyata seringkali muncul ke permukaan secara besar-besaran (atau dibesar-besarkan) ketika ia hanya menjadi media yang bercitra negatif.

Kita belum memiliki tokoh misalnya, seperti Arash Sigarchi, yang harus masuk penjara selama 14 tahun karena pelbagai postingnya di Internet berupa kritik untuk pemerintahnya, Iran. Kisahnya kemudian mampu menjadi ilham bagi para blogger sejagat, bahwa apa yang ia kerjakan itu merupakan sebuah panggilan, suatu keharusan, dan bukan hanya sebagai pelampiasan hobi belaka.

Di Malaysia kita mengenal blogger Raja Petra Kamaruddin yang terkenal vokal. Blognya disebut sebagai duri bagi Pemerintah Malaysia, khususnya Wakil Perdana Menteri Najib Razak. Sebelum kasus barunya, ia pernah diadili atas tuduhan penghinaan karena mengaitkan Najib Razak, yang akan menjadi PM Malaysia di tahun 2009, dengan kasus pembunuhan model asal Mongolia.

Setelah ditahan dengan dakwaan kasus SARA, yaitu penghinaan terhadap Islam sejak September 2008 dengan menggunakan Undang-Undang Keamanan dalam Negeri atau ISA yang keras, awal November ini ia dibebaskan. Pembebasan ini konon mengindikasikan pemerintah Malaysia di bawah UMNO yang lagi goyah, sekaligus membuka jalan Malaysia menuju pemerintahan yang tidak lagi represif terhadap kaum oposisi dan suara-suara kritis. Blogger ternyata mampu ikut andil dalam penegakan demokrasi.

Itu di Malaysia. Sementara di negara-negara yang masih represif, seperti Cina atau Mesir, blogger senantiasa masuk radar pengawasan pemerintah. Di negara kita, sinyalnya kadang rancu. “Blogger Indonesia Dijamin Tak Dipenjara,” tulis Kompas (23/10/2008 : 13) mengutip kata Menkominfo Muhammad Nuh. Tetapi ketika muncul kasus seperti dalam awal tulisan ini, selalu saja muncul tokoh yang dikenal sebagai pakar telematika yang berkata-kata sambil melotot, menyampaikan pesan ini dan pesan itu, yang sepertinya menganggap blogger itu sebagai anak kecil.

Aksi menghamburkan peringatan semacam ini, juga keinginan Menkominfo membentuk badan khusus guna mengantisipasi munculnya blog-blog hitam di masa datang, di permukaan nampak sebagai langkah yang benar.

Tetapi, benarkah ? Saya teringat artikel Kevin Kelly di majalah Wired (9/1997). Judulnya “New Rules for the New Economy : Twelve dependable principles for thriving in a turbulent world.” Kevin Kelly dalam paparan hukumnya yang kedua belas, yang ia sebut sebagai hukum inefisiensi, telah mematok ajaran pamungkasnya : jangan sekali-kali menyelesaikan masalah.

Dalam artikel berjudul “Solocon Valley” (Kompas Jawa Tengah, 5/8/2006) saya pajang juga ajaran itu. Kata Kevin Kelly, “seperti simpul Peter Drucker yang dikutip oleh George Gilder, rumusnya kini (di era Ekonomi Baru atau Ekonomi Jaringan) berbunyi : jangan menyelesaikan masalah, tetapi carilah peluang. Apabila Anda menyelesaikan sesuatu masalah, Anda berinvestasi bagi kelemahan Anda. “

Kredo yang sama juga menjadi garis bawah John Naisbitt dalam buku barunya, Mind Set!: Reset Your Thinking and See the Future (2006). “Hasil bukan diperoleh dari memecahkan masalah melainkan dari mengeksploitasi peluang,” tegasnya. Atau dalam nasehat Stephen R. Covey : berhentilah mengejar ular.

Kemunculan dua blog hitam, baik blog yang berisi ancaman pembunuhan atau pun blog bermuatan SARA itu, ibarat bangsa kita sedang tergigit oleh ular berbisa. Reaksi pertama kita yang sering muncul adalah ungkapan marah, lalu berusaha mengejar ular bersangkutan, dan bahkan kalau bisa kita dapat membunuhnya.

Tetapi dalam balutan rasa marah dan aksi ingin membalas dendam itu kita sering buta dan lupa diri. Bahwa racun atau bisa ular yang sudah masuk dalam aliran darah itu akan melumpuhkan diri kita. Bahkan mampu membunuh kita pula.

Untuk umat Islam yang menjadi sasaran provokasi blog SARA tersebut, mari kita hentikan aliran racun itu dulu. Kita dapat bercermin dari kata-kata tokoh agama Din Syamsuddin, bahwa Nabi Muhammad SAW tidak berkurang mulianya akibat cercaan atau penghinaan semacam itu. Ia mengimbau agar umat Islam berlaku bijak dan tenang. Tokoh intelektual muda muslim, Ulil Abshar-Abdalla, telah pula menggariskan keyakinan serupa dalam blognya melalui kredo yang bernas : Iman yang kuat tak akan takut pada keraguan. Iman yang dangkal dan dogmatis selalu was-was pada pertanyaan dan keragu-raguan.

Ancaman gigitan blogger-blogger berbisa dipastikan akan lebih banyak lagi di masa datang. Bangsa Indonesia bebas memilih. Apakah memilih berperilaku mengumbar amarah dan berusaha membunuh blogger-blogger itu ? Atau kita pertama kali lebih memilih untuk berusaha memperkuat ketahanan diri, agar selalu mampu menetralkan diri dari racun-racun berbisa itu, sehingga kita tetap terus bersatu dan juga bertahan ?


Wonogiri, 22/11/2008
Ikut menyambut Pesta Blogger Nasional 2008 di Jakarta dari kejauhan.


ee

1 comment:

  1. di manapun, media sosial selalu memiliki risiko. jelas bahwa akan ada manusia2 lucu yang memanfaatkan blog utk hal2 g penting. tapi sy setuju: tak usahlah terlalu pusing. yang harus adalah makin membanyaki blog-blog berkualitas keren!

    ReplyDelete