Saya berada pada nomor sekitar 321.380. Malamnya, jam 21-an, dukungan mencapai angka 423 ribuan. Pertumbuhan menakjubkan itu yang akhirnya membuat saya kesulitan menemukan kembali data sahabat seaspirasi yang mengkreasi dan memajang logo parodi yang kreatif itu di Facebook.
Melalui Google, juga masih sia-sia. Saya gagal menemukan dirinya untuk meminta ijinnya.
Baiklah. Pemajangan logo di blog ini dan cerita komplitnya di blog Suporter Indonesia merupakan apresiasi saya atas ide kreatifnya tersebut.
Juga sebagai permintaan ijin secara terbuka. Berpatungan bersama teman-teman seide dan sebarisan, logo unik itu kini coba dicetak di kaos, sebagai sarana kampanye mendukung perjuangan KPK.
Semoga Anda juga tergerak melakukan hal yang sama !
EI, BH Dan Laskar Penulis Pakis
Virus Obama. Bambang Haryanto menjadi pembicara dalam acara peluncuran buku Kepada Yth. Ibu Negara di Istana Merdeka : 151 Suara Hati dari Anak Puncak Brengos Pacitan, 14 Agustus 2009.
Bertempat di halaman Perpustakan Karang Taruna Satria Bakti, Pakis Baru, pendiri EI itu menggelorakan hadirin, pelajar dan guru mereka, untuk bersama menyerukan slogan terkenalnya Barack Obama :
Yes, we can ! Yes, we can ! Yes, we can !
Anak-anak penulis surat itu dari desa terpencil (foto), di punggung gunung Brengos itu, dimotivasi untuk berkeyakinan bahwa mereka mampu meraih cita-cita mereka setinggi mungkin. “Semakin tinggi cita-cita adik-adik, semakin mudah cita-cita itu akan bisa kalian raih,” kata BH.
BH diundang Diana AV Sasa dari Lembaga Riset dan Penerbitan Indonesia Buku (iboekoe). Diana sebagai penyunting buku kumpulan surat tersebut berasal dari Pakis Baru, tetapi pernah bersekolah SD dan SMP di Wonogiri, kota yang membentuk dirinya menjadi pencinta buku dan juga penulis buku.
BH dan EI-nya “ditemukan” Diana AV Sasa baru-baru saja ini melalui Internet. Tetapi setelah ketemu, ternyata tempat kos Diana itu hanya dibatasi jalan dari rumah BH. Bahkan, keduanya memiliki alma mater yang sama : SDN Wonogiri 3 dan SMP negeri 1 Wonogiri. Ajaib. Kecintaan kepada buku, bisa mempersatukannya.
Terima kasih untuk penghargaan Tasrif Award 2009 dari Aliansi Jurnalis Independen Indonesia (AJI), 11 Agustus 2009, 11 Agustus 2009, kepada Pak Khoe Seng Seng (foto). Kegigihan beliau menjadi inspirasi bagi kami, warga komunitas penulis surat pembaca se-Indonesia, Epistoholik Indonesia (EI).
Secara pribadi, dan juga kawan-kawan di EI, sejak setahun lalu kami menggalang kontak sms dan email dengan Pak Khoe. Berusaha selalu mendukung perjuangan beliau. Semoga beliau nanti benar-benar bebas, sehingga udara segar akan senantiasa mengalir ke paru-paru kami, dalam upaya menyuarakan pendapat demi kebaikan iklim berdemokrasi di tanah air.
Email balasan Khoe Seng Seng :
“Saya tidak menduga akan menerima penghargaan ini karena saya juga tidak tahu ada penghargaan ini dan siapa yang menominasikan saya dan apa kriteria pemilihan untuk mendapatkan penghargaan ini saya juga tidak tahu.”
“Waktu saya menulis surat pembaca tidak terlintas dalam pikiran saya akan mendapatkan penghargaan. Yang ada dalam pikiran saya pada waktu itu hanya emosi yang saya tuangkan dalam surat pembaca, dimana surat pembaca saya yang diterbitkan harian Kompas adalah surat pembaca saya yang pertama kali saya tulis dan yang di Suara Pembaruan adalah surat pembaca saya yang ke dua.”
“Semua yang saya tulis dalam kedua surat pembaca saya ini ada bukti tertulisnya bukan karangan saya ataupun fitnah. Kedua surat pembaca saya inilah yang kemudian membuat saya mendapat masalah yaitu digugat ke pengadilan dan dilaporkan ke pihak yang berwajib dengan tuduhan pencemaran nama baik yang tidak pernah bisa dibuktikan di pengadilan. Tetapi pengadilan malah menghukum saya yang bisa membuktikan memang apa yang saya tulis adalah fakta kejadian yang dialami ribuan konsumen.”
“Apa yang saya telah alami selama 3 tahun ini telah membuka mata saya terhadap penegakan hukum di negeri ini yang sangat luar biasa dimana untuk mendapatkan keadilan seperti mencari jarum di lautan pasir.” (12/8/2009).
Epistoholik dan Freedom Writers
Dalam diri setiap orang ada sebuah mata air yang terus menyemburkan kehidupan, energi, cinta, apa pun sebutan yang Anda berikan padanya.
Mata air apa yang menyembur dari dalam diri Anda ? Menulis merupakan cara yang baik untuk menyalurkannya. Demikian tutur Mark Rutherford yang dikutip Susan Shaughnessy dalam bukunya Walking on Alligators : A Book of Meditations for Writers (1993) yang diterjemahkan dengan judul Berani Berekspresi (MLC, 2004).
Erin Gruwell juga setuju. Ia adalah guru bahasa Inggris dari SMA Woodrow Wilson di Long Beach, California. Muridnya ibarat himpunan anak-anak buangan yang terdiri dari keturunan kulit hitam, latin, Asia dan kulit putih yang tidak akur. Mereka membentuk gang. Di kantong celana mereka hanya ada dua benda : pistol atau heroin. Sekolah ini hanya pantas disebut sebagai gudang, tempat para remaja itu siap-siap kena DO atau terbunuh oleh murid lainnya.
Erin Gruwell (Hillary Swank, foto) yang idealistik tidak menyerah. Secara pelan dan bersusah payah ia mengajar pertama kali dengan mengajak murid-muridnya memahami duka derita, kesusahan atau kepedihan yang mereka rasakan. Ia meminta muridnya memiliki buku harian, tempat mereka menuliskan uneg-uneg terkait kesulitan hidup yang mereka alami., dan kemudian mendiskusikan dengan dirinya. Erin berusaha mendobrak wawasan, pola pikir murid-muridnya dan mengajak mereka untuk mengalami wawasan baru dalam kehidupannya. Karya-karya tulis mereka itu kemudian terhimpun dalam buku The Freedom Writers Diary yang diterbitkan tahun 1999.
"Tanpa takut kehilangan kejantanan, jujur saja bahwa terdapat dua atau tiga adegan yang membuat saya menggigit bibir dan mencoba agar air mata saya tidak tumpah. Bila Anda melihat film ini dan mata Anda tidak berkaca-kaca, pasti ada yang salah pada diri Anda," demikian tulis "joshua-o-massel" mengomentari kisah perjuangan Erin Gruwell dan murid-muridnya yang difilmkan dengan judul Freedom Writers (2007) ini.
Dalam salah satu adegan film ini, nampak di dinding ruang kelas mereka tercantum slogan "Bersulang Untuk Perubahan." Anda juga akan digoyang lagu hip-hop "Dream"-nya Common yang menampilkan will.i.am ( "I got a dream, that one day, all of the people and myself, are gonna find a better way" ) diselingi suara pidato terkenal "I Have A Dream" dari Martin Luther King.
Film ini memang tidak memberikan jawaban keajaiban. Tetapi memberikan harapan. Karena pada akhirnya, semua upaya mulia itu pasti memberikan sesuatu, bahkan mungkin segala-galanya. Dan semua itu bisa menjadi nyata, antara lain dimulai, seperti kiprah kaum epistoholik selama ini, dari aktivitas yang gigih dalam mengasah pena. (BH)
Blog Ini dan Blog-blog Dunia
Gara-gara google ganger. Direktori blog Blogged.com yang berbasis di Alhambra, California (AS), diluncurkan awal tahun 2008. Para editor penuh waktunya bekerja memilih blog-blog berkualitas, berbahasa Inggris, antara lain dinilai berdasarkan frekuensi posting, relevansi isi, desain dan gaya penulisan. Pangkalan datanya kini menghimpun sekitar 200.000 blog berkualitas, salah satu yang terbesar di Internet.
Blog saya ini, yang tidak berbahasa Inggris, sungguh suatu hal yang tak terduga, telah diundang untuk bisa tercatat dalam direktori ini. Saat itu, 24 Juli 2008, ketika melakukan aksi google ganger, mengetikkan nama sendiri di mesin pencari Google, tersaji data bahwa blog Esai Epistoholica telah mereka nominasikan untuk masuk ke direktori ini. Setelah melakukan konfirmasi, saya pun memperoleh icon yang terpajang di atas. Keberadaan blog saya ini dapat Anda klik di sini untuk mengetahui konfigurasinya dalam direktori tersebut. Saya masih merasa aneh, walau juga gembira atas apresiasi tak terduga ini.
Kontributor di AyoNgeblog.com
Tak lagi tamu. "Mulai dari postingan ini, mas BH sudah resmi ditransfer sebagai kontributor rutin Ayo ngeBlog!," begitulah tulis pengantar Muhammad Ilman Akbar, pengelola blog yang mempromosikan manfaat ngeblog bagi warga Indonesia.
Saya jadi blogger tamu sejak 27 Juli 2008. Tulisan pertama saya adalah, Blogwalking, Busur dan Blogger. Dan tulisan saya yang terakhir tadi adalah yang ke-sepuluh. Gara-gara tulisan Arista Budiyono yang menulis tentang diri saya berjudul Kita Menulis Maka Kita Ada,membuat saya terpanggil untuk berbagi cerita di blog ini.
"Dan apresiasi sedalam-dalamnya harus kita sampaikan kepada mas BH atas perhatiannya untuk Ayo ngeBlog! dan perkembangan blog di Indonesia, ditunjukkan atas banyak postingannya selama ini," lanjut Ilman.
Terima kasih, Ilman.Semoga kolaborasi ini mampu memberi manfaat bagi kita semua.
Membantu Riset Anda !
Bahagia Mengenal Anda
Buka-buka BH : Anybody can make history. Only a great man can write it. Semua orang bisa menorehkan sejarah. Hanya orang besar saja yang mampu menuliskannya.
Ucapan Oscar Wilde (1854-1900), dramawan dan penyair Inggris-Irlandia tersebut, tentu membesarkan hati bagi kita kaum blogger dan kaum epistoholik juga.
Tetapi pasti sangat terlalu besar kepala bila saya mengklaim diri sebagai orang besar, karena blog saya di samping dan di bawah ini hanya berisi solilokui seorang bujangan tua yang suka jualan impian ("one by one it seems they're comin' true") "memindahkan" Himalaya dengan tulisan, melalui surat-surat pembaca, berbagi cerita kecil tentang lagu-lagu Carpenters yang indah atau tentang buku being digital-nya Nicholas Negroponte yang bisa bikin menangis karena janji optimistis dunia digital masa depan, sampai utak-utik soal komedi yang serius, menggairahkan, membangun toleransi, mengelakkan benturan peradaban, sekaligus masih menakutkan untuk diterjuni. Juga mengenai suporter dan sepakbola Indonesia. Atau cerita gerundelan saat menyusuri jalanan pagi kota kecil Wonogiri.
Ayo Bergabung ! : Epistoholik adalah sebutan kebanggaan untuk orang-orang yang kecanduan berat menulis surat-surat pembaca di media massa.
Sebutan itu mula-mula diberikan oleh majalah TIME (6/4/1992) kepada Anthony Parakal, pensiunan klerk perusahaan kereta api dari Mumbai India, di mana dalam foto ia berbangga dengan harta karunnya, yaitu himpunan surat-surat pembaca yang ia tulis sejak tahun 1955.
Sebutan itu mula-mula diberikan oleh majalah TIME (6/4/1992) kepada Anthony Parakal, pensiunan klerk perusahaan kereta api dari Mumbai India, di mana dalam foto dirinya (atas) ia berbangga dengan harta karunnya, yaitu himpunan surat-surat pembaca yang ia tulis sejak tahun 1955.
Komunitas Epistoholik Indonesia (EI) dirintis sejak tahun 1992 dan 1994. Tetapi gagal. Diluncurkan lagi tahun 2003 seiring kemajuan teknologi blog di Internet,tetapi baru dideklarasikan tangga 27 Januari 2005, yang sekaligus dicanangkan sebagai Hari Epistoholik Nasional. Apa impiannya dan siapa saja mereka di Indonesia ?
Selamat datang, silakan menjelajah blog-blog di bawah ini, dan saya harap Anda bakal ikut segera kecanduan pula !
Anda pribadi istimewa. Saya sangat merasa tersanjung apabila Anda sudi menuliskan komentar, juga data URL/email Anda, sehingga saya berpeluang membalas kebaikan hati Anda.Terima kasih untuk kunjungan dan atensi Anda.Sampai jumpa lagi.
2 comments:
loh mas..kok gambar nya gak bisa diakses ?..
btw, saya terkesan dengan cara menulis mas..ringan dan mengalir.
selamat juga atas listed di blogged nya...
salam kenal ya
Dear Mas Sam,
Thanks. Itu memang black out, hitam tok, sebagai simbol empati blogger untuk kasus Ibu Prita.
salam.
Post a Comment