Tuesday, May 25, 2010

Gesang, Jejaring Sosial dan Dana Megawati

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 96/Mei 2010
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia



Saya punya kebiasaan jelek.
Tidak rajin menonton televisi.
Jadi seringkali banyak ketinggalan berita.

Hari Jumat 22 Mei 2010 lalu, ketika diundang Republik Aeng-Aeng untuk ke Solo guna menonton konser pelajar di rumahnya maestro keroncong Gesang, saya tidak ngeh tentang apa yang terjadi. Baru ketika naik bis dan penjaja koran menawarkan koran JogloSemar yang diobral seribuan, saya baru tahu dari tajuk beritanya bahwa Gesang telah meninggal dunia.

Jadi perjalanan saya ini adalah perjalanan layatan. Sayang, bis Raya yang saya tumpangi mengalami gangguan kopling menjelang Nguter. Menunggu, dan lalu harus ganti bis Ismo, membuat saya terlambat tiba di rumah Gesang.

Acara pun telah usai. Para kerabat dan hansip kampung membenahi kursi-kursi. Para pelajar yang bernyanyi, sudah tak ada lagi. Saya hanya bertukar senyum dengan seorang pria berwajah Jepang yang sedang memotret-motret ruang tamu maestro keroncong itu.

Sudah telanjur sampai di Solo, saya memutuskan dari Kemlayan itu untuk jalan kaki ke Toko Buku Gramedia. Di deretan buku-buku baru saya takjub menemukan bukunya Nicholas Christakis dan James H. Fowler, Connected : Dahsyatnya Kekuatan Jejaring Sosial Mengubah Hidup Kita/" (Gramedia, Mei 2010). Sebuah serendipity yang menyenangkan.

Takjub karena pada tanggal 13 Mei 2010 lalu saya telah mengakses tayangan video Nicholas Christakis ketika berbicara dalam forum konferensi TED (Technology, Entertainment, Design).

Forum TED ini cikal-bakalnya digagas oleh Richard Saur Wurman dan pernah diliput oleh majalah Fortune tahun 1980-an. Dari liputan itu saya lalu menyontek istilah intellectual hedonist yang kemudian saya pakai untuk label atau brand diri sendiri. Termasuk untuk deskripsi diri pada akun FB saya ini. Label itu saya pakai sebagai tabir atau bom asap bagi kondisi nyata diri saya selama ini, sebagai seorang pengangguran.

Organisasi nirlaba ini punya slogan jenial : ideas worth spreading. Klik. Sebagai seseorang yang suka bergulat dan berkebun gagasan, saya pun memutuskan bergabung sebagai warga jaringan global untuk forum ini sejak bulan Juli 2009. Walau kebanyakan masih sebagai seorang lurker belaka.

Kembali ke buku Connected tadi. Dalam forum TED itu Nicholas Christakis, yang profesor di Universitas Harvard itu, bertutur terkait pengalamannya sebagai dokter yang mengurusi pasien yang menjelang ajal dan juga para keluarganya, sekitar 15 tahun lalu di Universitas Chicago.

Ia mengkaji apa yang disebut sebagai widower effect, menurutnya sebagai gagasan lama dalam ilmu-ilmu sosial sejak 150 tahun lalu, yang dikenal sebagai kondsi "kematian akibat patah hati." Ia bilang, kalau saya meninggal dunia, resiko yang sama menjadi berganda untuk istri saya dalam tahun pertama.

Ia lalu merujuk contoh pasien yang sakaratul maut akibat sakit pikun, yang dirawat oleh putrinya. Si anak itu mengalami kelelahan, jasmani and rohani, karenanya. Suami sang anak itu kemudian juga ikut tertular sakit istrinya. Nicholas Christakis, lanjut cerita, pernah menerima telepon dari teman sang suami tadi, bahwa dirinya ikut terimbas penderitaan depresi yang diderita kawannya itu. Ia pun secara acak menelpon rekan sang suami itu, dan dalam fase tertentu teman-teman itu juga mengalami depresi serupa.

Ujar Nicholas bahwa dirinya memperoleh dua fakta nyata. Pertama, efek kehilangan suami/istri itu tidak hanya mendera suami atau istri yang kehilangan itu. Yang kedua, hal itu ternyata juga tidak hanya terbatas pada pasangan beberapa orang dekat, tetapi terus melebar sampai ke lingkaran pergaulan selanjutnya. "Koneksi-koneksi itu begitu luas, dan kita semua melengket pada jaringan hubungan satu dengan yang lain," simpulnya.

Ia pun memberi contoh lain : kalau Anda gemuk, teman-teman Anda pun akan kecenderungan "tertular" ikut gemuk pula. Demikian pula kebiasaan merokok, termasuk juga mengenai kebahagiaan. Malcolm Gladwell dalam bukunya The Tipping Point (2000) pernah menggaris bawahi realitas pentingnya lingkar pergaulan. Menurutnya, lebih baik anak berasal dari keluarga yang bobrok tetapi memiliki lingkar pertemanan yang baik, dibanding anak-anak berasal dari keluarga baik-baik tetapi terbenam dalam lingkaran pergaulan yang bobrok.

Buku itu juga menarik bagi kita para Facebookers. Kajiannya juga menunjukkan bahwa pola jejaring sosial di dunia maya (Internet) ternyata mirip dengan pola jejaring di dunia nyata. Jadi, setelah membaca buku ini Anda akan tahu bahwa Facebook bukan sekadar Facebook, tapi itu adalah duplikat pola jejaring soial kita di dunia nyata.

Terima kasih, Pak Nicholas.

Buku yang menggoda. Termasuk pula bukunya John Hagel III dkk., The Power of Pull: How Small Moves, Smartly Made, Can Set Big Things in Motion (2010). Godaan lain, tetapi bukan buku, melainkan perangkat keras USB Wifi. Sarana untuk akses Internet melalui hotspot yang beberapa hari ini sudah dinikmati oleh keponakan saya yang SD sampai lulusan SMA, Yasika, Yuko dan Yudhis, di rumah.

USB Wifi itu akan memberdayakan komputer tua saya sehingga dapat terkoneksi tanpa kabel dengan dunia maya. Di lantai bawah toko itu, tempat menjual periferal komputer, ternyata alat ini tidak saya temukan.


Komedi dan epistoholik. Dari toko buku Gramedia, saya mampir ke gedung sebelahnya. Studio Radio Ria FM, karena daya tarik baliho yang mewartakan adanya lomba lawak se-Solo Raya bulan Juni 2010 mendatang. Ngobrol dengan Mas YBF Embun Hendrojati, Station Manager. Saya yang ingin memperoleh informasi lebih detil tentang lomba lawak itu dan ingin saya pajang di blog Komedikus Erektus, ia justru meminta data email saya. Kartu nama pun saya berikan.

Ia selanjutnya banyak bercerita mengenai kiat mengintegrasikan acara radionya berupa kuis yang melibatkan pengunjung toko buku Gramedia di Solo. Ketika saya memberikan kartu nama saya, ia ingin tahu apa itu "epistoholik" yang tercantum di dalamnya. Sambil menjelaskan sekadarnya, saya juga merujuk isi surat pembaca saya yang dimuat di harian Kompas Jawa Tengah, Rabu, 19 Mei 2010 di bawah ini. Sayang, sampai hari ini email dia tentang lomba lawak radionya itu belum saya terima.


Pilkada, Google dan Wonogiri

Jual tampang dan jual gelar-gelar akademis merupakan pemandangan biasa menjelang Pilkada. Saksikan saja isi media kampanye para kandidat yang bertebaran di pinggir jalan raya, di mana di Wonogiri hal serupa mulai terjadi.

Tetapi kebanyakaan modus kampanye mereka bergaya sok artis, sok terkenal, dan selfish, mementingkan diri sendiri karena tidak membuka peluang dialog dengan konstituen. Tak ada data nomor telepon/HP, email, blog/situs yang bisa mengundang konstituen untuk berinteraksi. Para kandidat pemimpin daerah di Wonogiri nampaknya belum terbuka cakrawalanya untuk memanfaatkan teknologi informasi secara semestinya.

Boleh jadi hal tersebut juga mewakili gambaran tentang tingkat ke-gaptek-an masyarakat Kota Gaplek ini, seperti tercermin dari hasil riset kecil-kecilan tanggal 15 Mei 2010. Melalui bantuan mesin pencari Google, saya masukkan nama-nama kabupaten di eks Karesidenan Surakarta.

Hasilnya : Klaten, 1, 32 juta lema/entri, Sragen, 947 ribu, Boyolali, 897 ribu, Karanganyar, 872 ribu, Sukoharjo, 870 ribu dan yang paling buncit, Wonogiri, 772 ribu lema. Tambahan, untuk Surakarta tersaji 2 juta lema.

Para calon bupati dan calon wakil bupati Wonogiri yang kelak akan terpilih, silakan saja Anda terus mengembangkan wayang, keris, batu karst, ketek ogleng, sampai campursari.

Tetapi mesin penggerak kemajuan sesuatu bangsa tetaplah kiprah karunia Allah yang demokratis dan berada di antara dua kuping masing-masing warga, dengan dibantu sarana imperatif dunia modern saat ini : teknologi informasi.


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia


Melepas Gesang. Acara berikutnya, meluncur ke Pendapi Gedhe, balairung dari Balai Kota Surakarta. Gedung sudah penuh sesak para pelayat yang ingin mengantar Gesang ke peristirahatannya yang terakhir, di TPU Pracimoloyo, Makamhaji, Sukoharjo. Selama upacara berlangsung, entah kenapa, juga tidak satu pun diperdengarkan lagu-lagu karya Gesang.

Di dekat keranda yang berbalut bendera Merah Putih, terdapat layar untuk memproyeksikan tayangan visual. Sarana itu hanya teronggok bisu. Mayor Haristanto menyeletuk : "Alangkah baiknya, saat menunggu upacara, di layar tersebut dapat ditayangkan klip-klip visual berupa biodata Gesang semasa hidupnya."

Saya pun membalas : "Jadi untuk upacara pemakaman seseorang tokoh harus melibatkan campur tangan EO (event organizer) ya ? Begitu sang tokoh bersangkutan sakit keras, maka sang EO segera meneken kontrak dan langsung bekerja mempersiapkan segala rupa untuk pemakamannya ?"

Upacara melepas jenazah Gesang pada hari Jumat siang itu dilakukan dengan upacara militer. Inspektur upacaranya adalah Walikota Solo, Joko Widodo.

gesang,bambang haryanto,ngarsopuro,24 mei 2010,mengenang jasa gesang,sd muhammadiyah 1 solo,tk primagama solo

Fast Forward : Senin, 24 Mei 2010. Hari ini saya ke Solo lagi. Menyaksikan anak-anak dan pelajar Solo melakukan kegiatan mengenang Gesang. Mereka itu adalah murid TK Primagama dan murid SD Muhammadiyah 1 Solo. Mereka menyanyikan lagu "Bengawan Solo," pembacaan puisi oleh Anni, musikalisasi puisi diiringi gesekan biola Intan dari SMA St. Yosef dan petikan gitar Agus S. Dhukun, dan juga cerita guru tentang keteladanan Gesang selama hidupnya.

Aktivitas itu berlangsung di Ngarsopuro, di depan lukisan Gesang yang terpampang di tembok pinggir jalan. Lukisan karya pelukis Sugeng Riyanto itu berjudul "Sang Maestro" (2009), berukuran 1,6 x 2,5 meter , dibuat dengan bahan cat besi di atas plat alumunium.

Setelah ikut mengantar barisan anak-anak itu mengunjungi rumahnya Gesang, saya ikut ke Nayu, ke studio Republik Aeng-Aeng. Ketika membaca-baca isi koran JogloSemar hari itu, terdapat berita yang membuat dahi rada berkerinyut.

Berita itu berjudul, "Megawati Hadiri Pemakaman Mertua Jokowi." Mertua Walikota Solo itu, bernama Ngadiyo (78), wafat pada hari Sabtu malam. Dimakamkan hari Minggu. Pada baris berita selanjutnya tertulis, "Istri almarhum, Hj. Sri Sunarni, telah meninggal dunia tanggal 28 September tahun lalu."

Apakah ini hanya kebetulan ?
Ataukah tesis Nicholas Christakis itu terbukti ?
Saya tidak tahu.

Tetapi terkait kehadiran Megawati dan putri mahkotanya, Puan Maharani di Solo dan sekitarnya, yang antara lain untuk berkampanye mendukung kadernya bertarung di Pilkada Sukoharjo (3/6/2010), terdapat kabar yang cukup menggelitik.

Hari Sabtu malam Megawati sempat mendatangi pasar malam tiban di Ngarsopuro. Ia dengan arahan Pak Jokowi menghampiri rombongan paduan suara UNS Sebelas Maret, Voca Erudita, yang lagi mengamen. Mereka mengamen guna menghimpun dana untuk membiayai tur mereka bulan Juni 2010 mendatang ke China. Lintang Rembulan, putrinya Mayor yang kini kuliah di jurusan Arsitektur, juga bergabung di dalamnya.

Saat itu, secara spontan, diceritakan bahwa mantan Presiden Republik Indonesia itu menyumbang Voca Erudita. Langsung dari dompetnya sebanyak 10 ribu dollar Amerika Serikat !

Sebagai penonton televisi yang jelek, apakah peristiwa ini sudah masuk sebagai berita atau tidak, saya benar-benar tidak tahu.


Wonogiri, 25 Mei 2010


ee

1 comment:

  1. bagus juga artikelna salam kenal ya

    ReplyDelete