Showing posts with label jurnalisme warga. Show all posts
Showing posts with label jurnalisme warga. Show all posts

Sunday, November 28, 2010

Epistoholik, Effendi Gazali dan Virus Gagasan

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 108/November 2010
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


Anda mengenal Effendi Gazali ?
Kita mengenalnya sebagai pakar ilmu komunikasi.

Ternyata ia juga punya pikiran yang cukup menarik tentang kita. Tentang kaum penulis surat pembaca. Tentang kaum epistoholik.

Suatu kejutan.

Karena saya pribadi selama ini mengenalnya dalam berinteraksi sebagai tokoh komedi. Dalam ranah ini kami saling bertegur sapa dengan cara khas. Ia saya sebut sebagai boss. Dan mungkin karena saya tinggal terpencil :-), di Wonogiri, yang mengesankan sebagai daerah konservasi, ia memanggil saya dengan sebutan yang lajim beredar di kalangan suku Indian : chief.

Interaksi kami tersebut semakin membekas ketika ditabalkan dalam sebuah buku. Pada sampul belakang buku saya yang baru saja terbit di akhir November 2010 ini, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Etera Imania, 2010), Effendi Gazali (foto) yang mantan juara lawak se-Sumatra Barat itu telah menulis endorsement sebagai berikut :

"Dalam dunia 'humor kuliner', Bambang Haryanto jago analisis serta jago masaknya! Indonesia perlu puluhan orang seperti Bambang Haryanto, baru kemudian ada kemajuan di negeri ini. Di sanalah nantinya dunia humor kita akan lebih kaya, pluralis, dan makin cerdas!"

Terima kasih, boss Effendi Gazali.

[Cerita akan berlanjut…]


Wonogiri, 30 November 2010

Monday, January 26, 2009

Kaum Epistoholik dan Media Yang Berubah

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 66/Januari 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Piramida terbalik. “Pemasaran diri sendiri,” kata ahli pemasaran Al Ries dan Jack Trout dalam bukunya Horse Sense : The Key to Success Is Finding a Horse to Ride (1991), “merupakan aktivitas pemasaran yang terpenting sekaligus yang paling sulit.” Ketika melakukan perjalanan darat Wonogiri-Tasikmalaya pulang-pergi (17-18/1/2009), sambil mengamati dan memotret beragam papan peraga kampanye para calon legislatif kita, kiranya pendapat Ries dan Trout itu benar adanya.

Katakanlah, bisa saya simpulkan, bahwa sebagian besar para caleg itu tidak memahami strategi komunikasi pemasaran. Sehingga yang menonjol adalah sikap narsis, nafsu pemujaan terhadap diri mereka sendiri dan partai mereka. Yang mereka tonjolkan adalah nama partai, nomor partai, daerah pemilihan, nomor urut dirinya, foto, lalu janji-janji dan slogan kampanye mereka.

Itulah penggalan isi surat pembaca berjudul “Caleg-Caleg Kita Yang Narsistik” yang dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah (24/1/2009). Setelah istirahat panjang selama enam bulan sejak Juli 2008, itulah surat pembaca yang bisa saya tulis lagi. Ada kegembiraan bisa dimuat, tetapi juga kekecewaan. Karena surat pembaca saya itu hanya dimuat setengahnya saja !

Saya merasa itu memang salah saya sendiri. Karena saya tidak memakai formula penulisan yang baku di koran-koran, yaitu formula atau hukum piramida terbalik. Bagian yang terpenting dari isi tulisan dipajang di bagian depan, lalu disusul informasi-informasi berikutnya yang makin kurang penting bagi pembaca.

Baiklah, karena tulisan surat pembaca itu sekarang bisa dipajang di blog, apalagi di blog saya sendiri, maka di bawah ini akan saya sajikan secara lengkap isi surat pembaca yang terkena gunting sunting oleh redaksi korah Kompas Jawa Tengah itu. Berikut lanjutannya :

Tak ada data nomor telepon/HP atau email yang bisa mengundang konstituen untuk berinteraksi. Pesan-pesan mereka justru kebanyakan tidak berorientasi kepada sudut pandang sasaran kampanye mereka, yaitu para konstituen. Konstituen hanya diminta maklum akan janji-janji atau mantra-mantra “jual kecap” mereka. Pendekatan tersebut berakibat fatal.

Dalam dunia komunikasi dikenal rumus WIIFM (What’s In It For Me). Sekadar contoh, ketika menerima surat, sebelum membuka amplop, di benak Anda secara naluriah segera muncul pertanyaan WIIFM itu : adakah isi surat ini yang penting dan bermanfaat bagiku ? Isi surat yang tidak memenuhi harapan itu, tentu saja mengecewakan penerimanya. Rumus ini berlaku universal.

Kesimpulan saya : dalam berkomunikasi saja para caleg itu nampak kemaruk mementingkan diri mereka sendiri, apalagi bila kelak telah terpilih ?


Eksistensi yang tergerus. Kekecewaan atau keluhan terhadap pemuatan surat pembaca atau artikel yang tidak lengkap di atas, merupakan hal klasik di ranah media massa cetak. Koran, media berbasis atom atau kertas, pengusung mashab jurnalisme pohon mati ini, memang dibatasi oleh kolom yang terbatas. Tentu saja karakternya jauh berbeda dengan media digital yang berbasis bits, yang mampu menyediakan lahan ekspresi yang hampir tidak terbatas kepada umat manusia.

Saya merasa beruntung. Karena selama hampir enam tahun ini, dengan mengelola blog ini misalnya, saya ikut mampu menikmati kedahsyatan media digital tersebut. Di antara jutaan umat manusia saya merasa ikut dikaruniai anugerah apa yang disebut oleh Rick Levine, Christopher Locke, Doc Searls dan David Weinberger dalam bukunya Cluetrain Manifesto (1999), dikutip dalam The 8 Habit-nya Stephen R. Covey (2007), sebagai pelaku “percakapan yang sama sekali tidak terjadi lima tahun yang lalu, dan sama sekali belum nyata sejak mulai Revolusi Industri.”

Kredo utama Weinberger dan kawan-kawan itu memang percakapan. Interaksi. Dialog. Medianya : Internet. Percakapan itu kemudian meruntuhkan sendi-sendi operasional bisnis yang sudah kedaluwarsa. “This is an obituary for business-as-usual,” tandas Thomas Petzinger, Jr. dari The Wall Street Journal, ketika menulis kata pengantarnya. Obituari. Berita kematian.

Lanjut mereka : “Kita semua menemukan suara kita lagi. Kita belajar bagaimana bicara satu sama lain. ….Kini, mengitari planet bumi kita lewat Internet dan jaringan situs Internet, percakapan itu begitu meluas, dan sedemikian multifaset, sehingga usaha untuk menemukan apa yang bersifat mutlak sungguh sia-sia.”

“Hasrat yang kuat untuk menjelajah jaringan Internet itu memperlihatkan suatu kerinduan yang begitu besar dan kuat, yang hanya dapat dimengerti sebagai sesuatu yang bersifat spiritual ; suatu kerinduan yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang hilang dalam hidup kita. Yang hilang adalah bunyi dari suara panggilan jiwa manusia. Hasrat spiritual untuk memasuki jaringan Internet itu adalah janji kembalinya suara-suara tadi,” simpul Weinberger dan kawan-kawan.

Media massa cetak, antara lain karena keterbatasan visi, terjepit pamrih bisnis yang sempit, dan terutama oleh atau karena keterbatasan fisik, pengelolaannya sebenarnya senantiasa menyerimpung percakapan-percakapan itu. Menyabotase suara-suara tadi. Bahkan sering tidak mereka sadari sendiri. Maka yang hadir selama ini adalah keterputusan percakapan antara awak koran dengan pembaca, terlebih lagi percakapan antarpara pembaca itu sendiri.

Internet kini telah mampu menyambung kembali tali-tali manusiawi yang terputus itu. “The Internet is enabling conversations among human beings that were simply not possible in the era of mass media,” tandas tesis nomer enam dari kredo Weinberger dan kawan-kawan itu.

Internet tentu saja membawa akibat samping atau konsekuensi yang serius : media massa cetak dengan eksistensi yang semakin serius tergerus “Ketika infrastrukturnya bergeser, segala sesuatu (akan) runtuh,” simpul Stan Davis, mantan profesor di Sekolah Bisnis Harvard dan Universitas Columbia.

Bukan tentang berita. Ancaman keruntuhan besar itu memang sering tidak kelihatan. Atau bahkan cenderung disepelekan. Dilecehkan. Diingkari. Akarnya adalah : miopia. Sekadar ilustrasi : pelaku media massa utama terus saja melecehkan kehadiran media-media baru berbasis digital itu, terutama blog atau jurnal di Internet, dan menganggapnya bukan sebagai ancaman potensial media massa. Di Indonesia kita bisa bercermin dari apa yang mereka tulis.

Artikel yang ditulis wartawan Kompas, Amir Sodikin, yang berjudul Geliat Portal Berita dan Senjakala Blog (Kompas, 14/8/08), merupakan salah satu bukti miopia itu. Tulisnya, “Putaran arus website bertipe portal berita kini sedang kencang-kencangnya. Masing-masing perusahaan yang ingin mengklaim sebagai portal berita ternama terus berbenah. Tak hanya perusahaan, website komunitas, pemerintah, swasta, nonprofit , dan website pribadi melirik tampilan portal berita. Inilah senjakala bagi blog !”


Lanjutnya lagi, “Yang disebut tampilan berita adalah kemudahan mengelola headline berita, menyusupkan foto-foto dalam berita, kemudahan menaruh banner atau iklan, kecenderungan memakai tampilan tiga kolom, dan penggunaan tab- tab kecil untuk berita-berita terkini non-headline.”

Wartawan Kompas lainnya yang sering menulis masalah teknologi komunikasi dan informasi, Pepih Nugraha, ketika menulis tentang blog ia memakai judul : Upaya Menjadi Lebih Dipercaya (Kompas, 20/11/2008). Lokakarya oleh Kompas bertajuk Galeri Foto Online dan Citizen Journalism di Semarang, dilaporkan di Kompas Jawa Tengah (19/12/2008) dengan judul : Jurnalisme Warga Harus Tetap Memiliki Berita.

Ilustrasi-ilustrasi di atas kiranya mampu memberi gambaran betapa awak media massa utama melihat kehadiran media-media baru, termasuk blog, sangat condong sebagai media yang terkait dengan berita. “There's a big misconception among professional journalists that the new media is about news,” keluh Milverton Wallace, pemrakarsa NetMedia, konferensi Internet untuk wartawan dan manajer media di Eropa.

“Itu salah. Ini semua menyangkut ekspresi diri, menyangkut naluri ingin berperanserta dalam mendefinisikan dan membentuk lingkungan informasi/komunikasi di mana kita hidup. Pelbagai macam bentuk media digital itu, seperti blog, podcast, situs jaringan sosial dan lain-lainnya semata merupakan sarana dan saluran untuk memenuhi aspirasi itu,“ lanjutnya seperti dikutip situs Master New Media (10/11/2006).

“Hasrat spiritual untuk memasuki jaringan Internet itu adalah janji kembalinya suara-suara tadi,” seperti simpul Weinberger dan kawan-kawan tadi, membuat milyaran penduduk dunia kini bermigrasi ke Internet. Tetapi tidak banyak pelaku bisnis media massa utama yang cerdas dan arif menyikapi perubahan besar ini. Lihatlah, mereka masih bersibuk melakukan acara consumer focus groups, berusaha meraih pembaca baik tua atau pun muda dengan membidik fokus minat tertentu seperti kepenulisan, fotografi, hobi, komik sampai blog, mengutak-atik insentif harga langganan (misalnya ada potongan untuk para guru), berusaha bersolek dengan mempercantik tipografi atau menyajikan tulisan yang pendek-pendek. Strategi balsem belaka.


Strategi sekop. Migrasi besar-besaran pembaca ke Internet itu juga menimbulkan salah sangka yang lebih parah. Karena pengelola media massa utama tetap saja bersikukuh mengira para pembaca itu akan dapat dipuasi bila mereka dapat menemukan koran tetapi yang tersaji di layar komputer.

Kalangan pintar di Lembah Silikon menamai utak-atik ini sebagai shovelware strategy, informasi yang telah dimuat di media cetak disekop lagi dari lahatnya untuk kemudian dipajang di media onlinenya. Hadirlah kemudian e-paper, replika koran di layar komputer, yang sajian isinya ditambahi fasilitas seperti hyperlink seperti halnya media online yang biasa.

Tebakan yang keliru lagi. Karena data menunjukkan bahwa orang berbondong ke dunia maya utamanya tidak (!) untuk mengonsumsi sajian media massa. Menurut kajian situs Alexa, hanya terdapat tiga organisasi media yang masuk dalam jajaran 100 situs web yang paling banyak dikunjungi. BBC berada di peringkat 46, CNN 50 dan The New York Times di peringkat 97.

Di tengah melimpah ruahnya informasi di Internet, termasuk blog yang dikelola oleh tiap individu, membuat konsumen kini dapat mencari dan memilih sendiri informasi yang mereka minati. Pantas dicatat, mereka jelas bukan mencari informasi yang tersaji secara paket sebagaimana disajikan oleh media massa. Alasan ini pula yang membuat konsumen senang memanfaatkan mesin pencari untuk menemukan isi selain yang dimuat oleh media massa dibanding mencarinya di situs-situs online media massa bersangkutan.

Alasan itu pula yang mendasari mengapa empat dari lima situs yang paling sering dikunjungi di dunia ini adalah mesin pencari Google, Yahoo! dan dua lainnya. Peringkat kelima barulah situs video sharing YouTube.com. Situs pencari yang bukan berbahasa Inggris merebut porsi 24 situs di antara 100 situs yang paling dikunjungi itu. Fakta lain : peselancar Internet hanya mengunjungi situs surat kabar beberapa kali dalam sebulan, tetapi mengunjungi dan menggunakan situs pencari beberapa kali dalam seharinya.

Imperium surat kabar sedang menuju keruntuhan sebagai institusi bisnis besar yang mencari untung. Surat kabar dinubuatkan akan berubah sebagai pusat layanan komunitas. Bersifat sosial dan hiperlokal. Itulah arah yang kini dirintis oleh jurnalisme warga. Warga Epistoholik Indonesia dan kaum epistoholik pada umumnya, yang bersuara dan menulis karena tuntutan untuk berbagi informasi, bukan tuntutan untuk memperoleh bayaran, saya visikan mampu menjadi ujung tombak dalam arus besar gerakan pendemokratisasian informasi ini.

Di tahun ke-4 deklarasi pendirian komunitas Epistoholik Indonesia, bertepatan dengan pencanangan tanggal 27 Januari sebagai hari Epistoholik Nasional, saya akan mengulangi ajakan yang lama : milikilah blog sekarang juga. Teruslah menulis surat pembaca di media massa, tetapi ajaklah pembaca untuk melakukan dialog lebih lanjut di blog-blog Anda. Kolom surat pembaca itu ibarat sebagai appetizer, umpan tekak, sementara isi blog-blog Anda adalah sajian utamanya.

Yakinlah, seperti sering saya alami, para pembaca yang cerdas itu akan mampu menemukan blog Anda itu. Walau, seperti biasa dan mudah diduga, surat pembaca Anda akan disunting, sementara pencantuman data email atau alamat blog Anda itu akan selalu disensor oleh pengelola media massa cetak tersebut.

Saya selalu mengalaminya. Tak apa. Itulah ciri jurnalisme pohon mati. Mereka hanya mampu melakukan penundaan sesaat untuk terselenggaranya interaksi atau dialog antarwarga itu. Bukankah dramawan, novelis dan penyair Perancis Victor Hugo (1802–1885) telah berujar : tak ada sesuatu yang begitu kuat sebagaimana sebuah gagasan yang telah tiba saatnya ?


Wonogiri, 25/1-6/2/2009

ee

Thursday, December 18, 2008

Ketika Tribune Co. Bangkrut

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 65/December 2008
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Politik burung unta. Pemimpin redaksi koran lokal pulang larut malam. Ia naik sepeda dan memboncengkan teman sekerjanya, redaktur pelaksana. Di tengah perjalanan mereka memergoki sebuah rumah yang agak ramai dikerubungi warga setempat. Ternyata si empunya rumah itu meninggal dunia. Kedua awak koran itu berseru pelan, hampir bersamaan : “Semoga bukan pelanggan koran kita.”

Beberapa puluh tahun kemudian, keduanya mungkin akan berseru dengan kalimat yang sama bila memergoki anak-anak muda sedang membeli komputer. Apakah mereka akan berseru seperti itu pula bila mereka bisa hadir di tengah keriuhan para blogger dalam Pesta Blogger 2008, 22 November 2008 di Jakarta yang lalu ?

Cerita di atas memang fiksi. Tetapi lanskap habitat media yang sudah berubah bukan fiksi. Tetapi mungkin karena balutan rasa percaya diri yang tinggi untuk menutupi rasa kuatirnya, atau karena ignoransi, masih saja ditemui pengelola media cetak yang berlabel sebagai mainstream media itu, yang sering diplesetkan sebagai lamestream media, media yang lamban, tidak mampu melihat revolusi yang sedang terjadi.

Atau tidak mau melihatnya. Mereka lebih suka berlaku seperti burung unta: dengan membenamkan kepalanya ke dalam tanah, maka persoalan sudah dianggap selesai dan berlalu.

Suara percaya diri itu terdengar dari Bali. Dalam Seminar Nasional AJI yang bertema Pers Indonesia Menyongsong Era New Media (27/11/2008), CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo, mengatakan seperti dikutip Kompas (28/11/2008 : 13) antara lain bahwa setiap kelahiran media baru selalu diikuti kecemasan akan mengancam bahkan mematikan media sebelumnya.

Diakui, media online dewasa ini memang sedang menunjukkan kecenderungan peningkatan. Namun, kecenderungan itu tidak berarti akan melenyapkan media cetak. “Untuk menghadapi kecenderungan itu media cetak dituntut untuk kreatif dalam pengayaan kontennya serta berafiliasi dengan media online,” tuturnya.


Bergelut cari solusi.Pengayaan konten itulah yang kini mudah ditemui pada pelbagai media cetak di Indonesia. Misalnya, untuk berusaha merenggut para pembaca muda, maka halaman-halaman khusus untuk para pelajar dan mahasiswa telah pula mereka sediakan. Demikian pula halaman khusus untuk kaum perempuan, para guru, liputan tentang hobi atau komunitas tertentu.

Pengayaan semacam itu segera menimbulkan wabah ikut-ikutan, me too product, yang segera menular dan ditiru oleh media-media lainnya. Bahkan tidak jarang, untuk merekatkan ikatan, koran pun menjadi event organizer guna menyelenggarakan pertemuan bagi para pembacanya.

Ikhtiar dan kreativitas itu pantas dipuji. Tetapi sejarah masa depan berkehendak lain. Ancaman media-media baru terhadap koran pada jaman yang lewat, misalnya radio, film sampai televisi, jelas tidak sama dengan ancaman Internet terhadap surat kabar dewasa ini. Meminjam isi laporan tahunan dari New Directions for News 2003 diungkapkan, “Jurnalisme menemukan dirinya dalam momen langka dalam sejarah…hegemoninya sebagai penjaga gawang berita terancam tidak hanya oleh teknologi baru dan para pesaing, tetapi terancam secara potensial oleh pembaca yang mereka layani.”

Imajinasi para pengelola Jurnalisme Besar tak pernah memperkirakan ancaman semacam ini. Apalagi yang lebih menakutkan dibanding ancaman yang satu ini ? Dengan sarana penerbitan online yang mudah dioperasikan, seperti blog, tersedianya fasilitas koneksi yang terus-menerus tersambung dan sarana komunikasi mobil yang semakin andal, pembaca online dewasa ini serta merta mampu menjadi partisipan aktif dalam mengkreasi dan menyebarkan berita dan informasi.

Tidak salah bila dalam melukiskan gambaran mengenai budaya masa depan, futurolog John Naisbitt dalam Mind Set!: Reset Your Thinking and See the Future (2006), menuliskan kematian perlahan budaya surat kabar sebagai pokok bahasan yang paling pertama.

“Sirkulasi surat kabar sudah turun selama bertahun-tahun. Pada 1960-an, empat di antara lima orang Amerika membaca suratkabar setiap pagi. Sekarang hanya setengah orang Amerika yang melakukannya,” tegasnya. Di lain fihak ia mengungkapkan bahwa surat kabar gratis semakin mantap dan Internet menyedot pembaca sehingga beralih.

“Yang sedang kita saksikan adalah kematian perlahan budaya surat kabar, yang ada hubungannya dengan nilai penting suratkabar dalam kehidupan kita. Aspek kehidupan kita ini jelas-jelas memudar dan mengalami penurunan arti penting. Lalu, saat arti penting surat kabar bagi kehidupan kita semakin berkurang, apa yang terjadi pada perusahaan surat kabar menjadi kurang menarik,“ simpul Naisbitt.

Domino itu sekarang benar-benar mulai jatuh. Ketika suara percaya diri dari Bali itu belum menguap, harian Kompas (13/12/2008) mewartakan mengenai kelompok penerbit surat kabar besar di Amerika Serikat, yaitu Tribune Co., yang menyatakan diri bangkrut karena dililit utang. Mereka pun dikhawatirkan bukan sebagai korban yang terakhir. Dalam berita itu hanya disebutkan secara selintas bahwa penyebab terancam ambruknya koran-koran di AS itu akibat merosotnya pemasukan iklan dan berpindahnya pembaca ke Internet.

Di halaman lain koran itu juga mewartakan mengenai majalah Newsweek yang akan berubah wajah. Akibat pelambatan ekonomi global, majalah ini juga akan mengurangi jumlah eksemplar hingga sekitar 1 juta, dari angka semula 2,6 juta eksemplar setiap terbitnya. Kebijaksanaan lainnya adalah pengurangan jumlah karyawan mereka. Hal serupa juga akan dilakukan manajemen majalah Time, sementara majalah US News & World Report dikabarkan akan lebih fokus pada Internet.

Geliat pelbagai media itu, seperti juga halnya yang dilakukan surat-surat kabar Indonesia, merupakan cerminan upaya mereka dalam mencari-cari solusi. Berusaha memecahkan masalah. Orientasi yang mungkin nampak benar itu sebenarnya merupakan pendekatan yang keblinger. Memecahkan masalah merupakan pergulatan yang justru terkait dengan sisi kelemahan mereka. Sementara itu Naisbitt mengingatkan, “Anda tidak akan mendapatkan hasil dengan memecahkan masalah, melainkan dengan memanfaatkan peluang.”


Surat kabar gratis. Peluang bagi media di masa depan itu menurut saya, antara lain, terdapat dalam penerbitan koran gratis dan sinergi dalam mengeksploitasi secara kreatif kedigdayaan Internet. Surat kabar di masa depan mungkin memang tidak lenyap. Tetapi bentuk, isi dan cara memperolehnya tidak akan sama lagi seperti yang kita dapati sekarang ini.

Surat kabar itu gratis. Visi koran gratis ini pernah saya tulis di kolom surat pembaca harian Suara Merdeka setahun lalu ( 7/12/2007). Bahkan pernah juga saya ajukan kepada pimpinan puncak kelompok bisnis surat kabar terkemuka di Jawa Tengah. Topik itu justru yang menjadi penyebab, dugaan saya, mengapa diskusi antara kita tersebut langsung ia hentikan. Usulan saya itu nampaknya memang mengoyak zona nyaman media cetak yang ngotot sebisanya untuk terus ingin bertahan.

Pada hal koran gratis juga membuka peluang-peluang baru. Utamanya dalam memenangkan tambang emas masa depan : lokalitas. Isi koran gratis itu nanti tak ubahnya isi majalah TV Guide dewasa ini, yang berisi data acara televisi dan ratusan saluran situs atau blog di Internet. Isi dan penyebarannya pun sangat lokal, hyper local. Konsiderans ini vital karena perusahaan media masa depan harus memvisikan medianya tak lain sebagai utilitas informasi dan koneksi untuk lingkungan setempat yang benar-benar lokal.

Merujuk skenario masa depan semacam itu, jadi sungguh lucu bila menurut saya, ketika mengikuti strategi Internet yang dikembangkan, misalnya oleh kelompok Kompas-Gramedia dewasa ini. Mereka justru berupaya membesarkan mega portalnya di Internet, dengan melebarkan sayap dengan meluncurkan pelbagai saluran. Dari merengkuh para selebritis sampai kalangan pelajar. Nampaknya, upaya ini dilakukan dengan asumsi bahwa konsumen media digital masa kini tetap sepasif konsumen koran atau televisi di masa lalu ?

Sementara itu mereka nampak baru saja ngeh terhadap makna kehadiran media yang bernama blog. Dalam perbincangan di tengah acara Pesta Blogger 2008, salah satu wartawannya mengungkapkan bahwa kelompok media itu semula menyepelekan eksistensi blog. Kini mereka baru bergegas meluncurkan versi beta situs Kompasiana, blog network-nya, untuk menfasilitasi dialog antara jurnalis dan para pembacanya.

Layanan baru ini nampak dilakukan secara skittish, atau kurang cong dalam bahasa orang Solo pasaran. Sebagai seseorang yang menyukai olah komedi dan berniat membuat satir bagi ulah pejabat-pejabat kita yang diliput dalam pemberitaan atau nampang dalam iklan-iklan politiknya di Kompas, saya merasa menabrak dinding. Ketika membaca persyaratan untuk menjadi penyumbang tulisan dalam jaringan blog itu pagi-pagi sudah muncul caveat gawat : dilarang memposting tulisan-tulisan yang berupa satir.

Mungkin masih dalam status beta, nampak baru segelintir saja wartawan Kompas yang mau ngeblog. Jadi Anda jangan berharap dulu adanya spesialisasi subjek tulisan, hal yang imperatif di media digital, dari para wartawan bersangkutan. Jangan bayangkan akan ada wartawan/blogger seperti Susan Gunelius atau Susan M. Heathfield dari kelompok koran The New York Times yang ambil spesialisasi tentang blog. Atau Daniel Kurtzman tentang humor politik. Atau Jon Fine dengan blognya yang khusus membahas media di situs majalah Business Weeks.

Ikhtiar meluncurkan fasilitas blog network itu boleh jadi malah berpeluang besar untuk gagal. Minimal tidak maksimal. Merujuk pendapat Jeffrey Veen dalam artikelnya “Why Content Management Fails,” kegagalan itu akibat dari keengganan banyak orang untuk mengubah cara kerja mereka. Utamanya justru terjadi untuk para pekerja ilmu pengetahuan. Tentu saja, dalam konteks ini adalah para wartawan.

Menurutnya, para pekerja ilmu pengetahuan (knowledge worker) itu selama bertahun-tahun telah mengasah strategi untuk menyempurnakan pelaksanaan pekerjaan mereka, praktek yang mereka lakukan bahkan sejak berada di bangku kuliah. Sehingga usaha untuk merubah proses bersangkutan, seberapa pun valid solusi teknis yang ditawarkan, hampir menjadi tidak mungkin. Mereka akan memberontak, walau setelah menjalani pelatihan sekali pun.


Imperium yang cerai-berai. Kapal induk media yang besar itu memang memerlukan tenaga besar dan waktu yang tidak sedikit untuk mampu mengubah arah pelayarannya. Dinosaurus itu sedang berjuang mempertahankan hidupnya, yang harus ditebus dengan pengorbanan besar. Karena suatu saat kelak harus mau mengamputasi sebagian besar dari tubuh dan jiwanya. Itulah tuntutan logis dari jaman yang baru pula.

Dekan Sekolah Jurnalistik dari Universitas California di Berkeley, Orville Schell, mengatakan bahwa “imperium Roma media massa kini tercerai-berai, dan kita akan memasuki periode masa feudal di mana akan semakin banyak lagi pusat-pusat kekuatan dan pengaruh.”

Jon Fine dalam blognya (12/7/2007) pernah menulis artikel provokatif mengenai tiga kubu jenis koran Amerika yang pertama kali akan mematikan koran edisi cetaknya. Dalam diskusi, seorang pembaca “Barbara Vickroy” menyarankan agar insan surat kabar mampu berpikir di luar kotak agar mereka bisa bertahan.

Sementara pembaca bernama “Jojo” lebih tajam analisisnya. Ia tegaskan bahwa problem pokok dari insan-insan surat kabar itu karena mereka terpatok ke masa lalu dan tidak memiliki visi atau pemahaman yang konkrit mengenai Internet. Itulah sebabnya mereka tidak mampu bermigrasi dan meraup keuntungan dari Internet.

Kita saksikan sepuluh tahun terakhir ini, dengan hanya memasang akhiran dotcom pada nama koran untuk media online mereka, lalu mendigitalkan begitu saja kandungan informasi yang ada, lalu dianggaplah selesai eksplorasi mereka di dunia digital. Tak aneh bila pendekatan semacam ini terancam tidak membuahkan apa-apa. Tidak memperoleh sukses di medan digital, sementara media atomnya, media kertas itu, makin tergerus oleh perubahan jaman.

Lenyapnya surat kabar kelak, sang media oligarki itu, akan menjanjikan jaman baru. Era digital, seperti kata David Amano, memang membuat segalanya serba balik jungkir. “Dengan media blog, pandangan saya terhadap komunitas dan orang-orang yang bisa saya akses jadi balik jungkir. Media digital memperbesar apa yang kita katakan. Media digital lebih membuka pilihan bagi kita. Media digital memberi kita kendali.


Media digital ibarat karcis untuk bisa melongoki belakang panggung, untuk memperoleh akses dan perkawanan dengan merek atau individu yang tak pernah sedekat ini sebelumnya. Media digital membuka berlangsungnya koneksi, akses dan hubungan. Semua itu sungguh manusiawi adanya.”

Panggilan digital yang manusiawi itu tidak setiap insan media mampu mendengarnya. Kecuali barangkali Dan Gillmor, sebagai contoh. Ia memutuskan meninggalkan San Jose Mercury News karena jurnalisme yang ia minati berada di luar kapasitas koran tempat ia selama ini bekerja. Ia kini dikenal sebagai salah satu bapak jurnalisme warga.

Alasan hengkang serupa juga dilakukan oleh mitra pendiri situs WashingtonPost.com, Mark Potts. Ia malah meluncurkan media hyper local yang isinya disumbangkan oleh para pembacanya.

Apakah berita besar mengenai bangkrutnya kelompok koran Tribune Co. di Amerika Serikat itu juga mampu memperkeras dering panggilan digital di gendang telinga para pewarta media arus utama, juga di Indonesia ?

Atau mereka baru loncat dari dek ketika kapal medianya sudah benar-benar miring dan nyaris tenggelam ? Dalam situasi seperti itu, meminjam kata-kata Naisbitt tadi, bahwa apa yang terjadi pada perusahaan surat kabar menjadi tidak lagi menarik.



Wonogiri, 3-16/12/2008

ee

Friday, September 26, 2008

Warnet Wonogiri, Jurnalisme Warga dan Piramida Maslow

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 62/September 2008
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia


Hukum Metcalfe. Warung-warung telepon berguguran di Wonogiri. Satu per satu mereka menutup usahanya. Ada dua warnet yang kepemilikannya terkait dengan saudara saya ikut gulung tikar pula. Jaman memang telah berubah. Kepemilikan telepon seluler yang terus meluas di masyarakat membuat wartel-wartel itu menjadi tidak relevan. Hari-hari hidupnya tinggal menjadi sejarah.

Info lain : kepemilikan telepon seluler itu juga mengancam keuntungan jasa angkutan umum. Para supir bis jurusan Wonogiri-Solo, ketika saya tanyakan di Terminal Bis Tirtonandi, mengeluh terkait makin merosotnya pendapatan mereka. Kata para supir dan kondektur, kepemilikan HP membuat konsumen mudah membuat janji satu sama lain ketika mereka hendak bepergian. Lalu mereka pun pergi bersama, menaiki sepeda motor. Paduan HP dan sepeda motor akhirnya menggerogoti pemasukan para pebisnis angkutan umum dewasa ini.

Informasi baru, yang bagi saya terasa mengejutkan, adalah kabar mengenai akan tutupnya sebuah warung Internet di Wonogiri. Setelah Lebaran, warnet SoloNet ini, akan cabut dari Wonogiri. Padahal warnet ini favorit saya. karena berada dalam satu arah rute rutin saya ke Perpustakaan Umum Wonogiri. Diri saya juga memiliki kenalan dengan beberapa pendiri SoloNet di Solo itu. Bahkan sejak sekitar delapan tahun yang lalu. Warnet ini termasuk pionir jasa akses Internet di Solo, di mana bidang usaha perusahaan induknya kini semakin beragam dan berkembang.

Kok SoloNet memutuskan untuk menutup usaha warnetnya di Wonogiri ? Ini dampak dari persaingan usaha. Memang, akhir-akhir ini ketika Speedy/Telkom gencar melakukan ekspansi di Wonogiri maka muncul warnet-warnet baru. Dari kacamata saya sebagai seorang blogger, perkembangan tersebut saya anggap sangat positif bagi Wonogiri.

Saya mudah ingat isi Hukum Metcalfe, bahwa semakin banyak node dalam sesuatu jaringan maka akan semakin bernilailah jaringan bersangkutan. Satu orang memiliki pesawat telepon, maka pesawat itu tidak ada manfaatnya. Ketika dua orang memilikinya, telepon itu baru bisa berguna. Semakin banyak orang memiliki telepon, membuat semakin banyak orang bisa saling berhubungan, sehingga semakin bernilai jaringan yang terbentuk olehnya.

Nalar saya, semakin banyak warnet akan mendorong meningkatnya pula para penggunanya. Kemudian dengan semakin banyaknya warga Wonogiri yang melek Internet dan semakin intensif mereka memanfaatkan Internet, hal itu merupakan langkah maju untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Kota Gaplek ini.

Walau kadang agak jengkel ketika mengakses di Warnet SoloNet di tengah berisiknya pengguna seumuran SMP yang memutar lagu-lagu dari Linkin’ Park, saya harus iri terhadap mereka. Ah, kalau saja waktu bisa diputar balik sehingga ketika saya duduk di bangku SMP, tahun 1967-1969, saya sudah bisa mengenal Internet saat itu !

Nalar atau harapan saya itu mungkin saat ini perlu dikoreksi. Warnet SoloNet tutup karena persaingan, akibat peningkatan massa pengguna Internet di Wonogiri memang tidak secepat untuk mampu mengimbangi berdirinya warnat-warnet baru di Wonogiri.

Roti konsumen warnet itu masih tipis di Wonogiri. Ketika mereka memilih warnet baru yang mungkin lebih dekat dengan rumahnya, maka ada penurunan konsumen di warnet tempat sebelumnya mengakses. Kalau dugaan ini benar, barangkali ada sesuatu yang salah dalam pengelolaan warnet-warnet itu di Wonogiri ?


Jurnalisme warga. Untuk sementara ini, mari kita loncat ke topik lain. Tetapi masih ada kaitannya dengan soal akses informasi. Ketika mengumumkan perubahan ukuran korannya, harian Solopos membuka rubrik baru. Iklan yang mereka geber untuk rubrik itu sejak Agustus 2008 memakai label citizen journalism. Jurnalisme warga.

“Dari publik untuk publik” dan “Di ruang publik Andalah wartawannya,” begitulah isi iklannya yang terpajang di bagian kiri atas halaman pertama. Kolom itu akhirnya terpajang di sana, namanya Ruang Publik. Di ruang ini pembaca dapat mengirimkan foto dan berita kejadian di sekitar pembaca melalui SMS/MMS, email atau datang sendiri ke kantor redaksi.

Beberapa bulan lalu, pimpinan teras koran ini pernah bersikukuh bahwa Solopos selama ini telah melaksanakan misi yang mengemban asas-asas jurnalisme warga. Bahkan ia sebut sebagai yang terbaik. Yaitu kolom “Kriing Solopos,” di mana pembaca dapat mengirimkan pelbagai opini, informasi, permintaan bantuan sampai berita kehilangan melalui jasa layanan singkat (SMS). Kaplingnya lumayan leluasa, bahkan menggusur kapling yang semula dialokasikan untuk kolom surat pembaca.

Isi kolom Ruang Publik itu akhirnya hampir sulit dibedakan dengan isi dalam kolom surat pembaca dan kolom SMS itu. Tetapi antara kolom ini, kolom surat pembaca dan kolom yang menampung info pembaca melalui SMS, ada kesamaan : seringkali data nomor telepon seluler pengirim tidak dicantumkan penuh.

Dalam pandangan saya, kebijakan seperti ini membawa dampak terkendalanya diskusi, dialog dan percakapan antarwarga dan antarpembaca itu sendiri. Kolom yang memiliki nama baru dan letak baru itu, tetapi sebenarnya tidak memberi makna baru walau punya label jurnalisme warga sekali pun.


Piramida Maslow. Latar belakang krisis yang melanda warnet-warnet di Wonogiri itu, hemat saya, memiliki kesamaan dengan eksekusi kolom Ruang Publik di koran Solopos ini. Karena keduanya baru memberikan layanan paling dasar dari piramida kebutuhan manusia yang dikembangkan oleh psikolog Abraham Maslow.

Piramida Maslow telah merinci kebutuhan manusia dari yang mendasar, yaitu kebutuhan yang bersifat fisiologis, disusul kebutuhan akan rasa aman dan diperlakukan setara dalam masyarakat, kemudian kebutuhan untuk dicintai-mencintai dan diterima sebagai warga, kebutuhan untuk dihargai, hingga kebutuhan yang paling puncak, yaitu aktualisasi diri.

Piramida Maslow dari dunia nyata itu lalu diejawantahkan oleh Amy Jo Kim untuk diterapkan dalam komunitas di dunia maya. Merujuk isi bukunya yang berjudul Community Building on the Web (2000), maka dapat disebut bahwa warnet-warnet di Wonogiri itu, juga warnet pada umumnya di Indonesia selama ini, kebanyakan hanya baru menyediakan akses Internet semata kepada konsumennya.

Dalam pandangan Amy Jo Kim, layanan semacam ini baru merupakan pencukupan bagi kebutuhan paling mendasar dari manusia a la Maslow tadi. Yaitu pemenuhan kebutuhan yang bersifat fisiologis, yaitu makan-minum, kebutuhan paling primitif dari manusia agar dirinya mampu bertahan hidup.

Warnet-warnet itu, sepanjang pengamatan saya, tidak memperdulikan siapa yang datang. Tidak ada keinginan untuk mengenali satu per satu diri konsumen mereka. Memang ada yang mencoba melakukan pendaftaran anggota, tetapi banyak yang tidak efektif. Selain hanya untuk menetapkan diskon tertentu bagi anggota tersebut, tetapi pengelola warnet kehilangan visi dan kreativitas untuk mengolah data diri anggota-anggota itu agar menjadi embrio sebuah komunitas.

Cita-cita ini mungkin muluk. Karena sebagian pemilik sampai operator warnet itu kebanyakan orang-orang techie, orang-orang piranti keras yang lebih suka mengurusi kabel dan router, maka kiranya tak mudah diharapkan mereka juga mampu luwes untuk mengelola konsumen yang manusia. Semua itu, akhirnya memang kembali ke visi semula : ketika warnet hadir hanya untuk mencari uang lewat jasa akses tentu akan membuat hal-hal di luar itu dianggap tidak penting bagi mereka.

Konsumen yang tidak dirangkul untuk memiliki keterikatan emosional dengan warnet tertentu akan mudah lari bila menemukan layanan warnet lain yang lebih murah atau lebih cepat aksesnya. Warnet SoloNet, yang induk perusahaannya, menurut saya, sebenarnya diawaki oleh orang-orang pintar, akhirnya harus angkat kaki dari Wonogiri.


Dunia jungkir balik. Koran Solopos mungkin dapat belajar dari nasib warnet SoloNet di Wonogiri ini. Paling tidak untuk masa depan pengelolaan kolom baru yang ia sebut sebagai perwujudan mashab jurnalisme warga itu. Pemenuhan kebutuhan pembaca yang dasar saja, dengan menyediakan kolom untuk warga menulis unek-uneknya, tetapi sekaligus mengisolasikan mereka masing-masing, bukan pilihan yang bijaksana.

Tetapi, usul-usil saya, hubungkanlah mereka satu sama lain. Fasilitasi mereka untuk bisa saling bicara satu sama lain – termasuk untuk ngerumpi, membicarakan koran Solopos Anda pula. Jaman telah berubah. Jurnalisme tradisional kini balik jungkir. "We are the traditional journalism model turned upside down," kata Mary Lou Fulton, penerbit Northwest Voice di Bakersfield, California, AS, seperti dikutip Mark Glazer dalam situs Online Journalism Review (17/11/2004).

“Alih-alih kita menjadi penjaga pintu gerbang dan mendoktrin pembaca mengenai apa-apa yang penting bagi mereka, kita justru membuka gerbang dan mempersilakan mereka masuk. Kami menjadi koran komunitas yang lebih baik ketika ribuan pembaca tampil sebagai mata dan telinga untuk koran kami, ketimbang ketika semuanya harus disaring melalui kacamata segelinitir orang, para wartawan dan redaktur kami,” tegas Mary Lou Fulton.

Tentu saja pengejawantahan jurnalisme warga dengan hanya memanfaatkan media atom, koran atau kertas semata, tidak pula maksimal hasilnya. Induk perusahaan yang menaungi koran Solopos mungkin harus meniru “revolusi” di BBC, ketika semua media yang ada, radio, televisi dan Internet, harus terintegrasi. Richard Sambrook, boss BBC, adalah pula pengajur fanatik mashab jurnalisme warga. “ Sambrook feels that inviting readers to contribute content through various platforms has definitely made the BBC a better organization,” simpul John Burke dalam EditorWeblog.org (31/5/2007).

Jadi koran Solopos, Radio Solopos FM dan situs web mereka, juga sebaiknya terintegrasi. Sehingga bukan lagi sebagai kapal-kapal yang saling terpencar di mana masing-masing dikuasai oleh bos-bos yang berbeda-beda.

Dengan orientasi baru demi mewujudkan jurnalisme warga secara paripurna, akan membawa para jurnalis melayani publik dengan cara yang tak terbayangkan sebelumnya. Caranya, seperti tutup Mark Glazer, dengan membantu jurnalis “ become less a community gatekeeper on high in an ivory tower and more of a community enabler and virtual talk show host, with time enough for everyone's voice to be heard.

Dramawan Amerika Serikat, Arthur Miller, pernah bilang bahwa surat kabar yang baik, menurut pendapatnya, merupakan bangsa yang berbicara kepada dirinya sendiri. Jurnalisme warga, dengan ditopang media-media baru, jelas membuka untuk itu pula. Agar sesama warga bisa saling berbicara, juga sebagai sebuah bangsa.



Wonogiri, 27/9-22/10/2008

Friday, February 29, 2008

Ketika Media Massa Mengancam Demokrasi

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 55/Februari 2008
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia




Cakar Clurit Si Raptor. FADE-IN : Dennis Nedry nasibnya mengenaskan. Ketika mobil jipnya terguling di sungai kecil, kacamatanya hilang. Hujan turun dengan lebat. Ia kehilangan orientasi di tengah hutan lebat. Ia berteriak-teriak mencari kacamatanya. Sia-sia. Sejurus kemudian, dengan pandangan yang kabur, ahli komputer bertubuh tambun, lamban dan digambarkan korup itu, menatap ke depan. Ia pun panik !

Karena pandangannya terantuk pada sosok makhluk yang sedang mengawasi dirinya. Saat ia melotot, makhluk itu juga balas melotot. Sejurus kemudian terdengar lolongan Nedry yang menyayat hati. Aliran sungai kecil itu pun segera menjadi merah. Banjir darah. Darah milik Dennis Nedry.

Anda masih ingat adegan di atas, dari film Jurassic Park (1993), garapan Steven Spielberg ? Film yang berasal dari karya novelis techno-thriller Michael Chrichton itu telah menyabet 3 Oscar.

Tokoh Dennis Nedry (Wayne Knight) dalam kutipan cerita di atas telah menjadi korban keganasan dinosaurus jenis velociraptor yang punya julukan sebagai the quick plunderer. Penjarah kilat. Dinosaurus satu ini jari tengah cakarnya mirip gerakan roda depan pesawat terbang, dapat ditariknya ke dalam. Bentuknya seperti clurit sepanjang enam inci, dengan ketajaman seperti silet.

“Bayangkan Anda terlempar ke Jaman Cretaceous. Tiba-tiba Anda melihat kalkun setinggi enam kaki. Gerakannya seperti burung, ringan, kepalanya nongol ke atas. Tatkala Anda diam, sambil mengira ketajaman pandangannya berdasar gerakan seperti halnya dinosaurus jenis T-Rex, Anda lalu mengira ia tak akan melihat Anda apabila Anda tidak bergerak. Tetapi tidak untuk si Velociraptor ini.

Ketika Anda memelototinya, ia akan balas memelototi Anda. Sejurus kemudian, serangan ganasnya terjadi. Bukan dari raptor bersangkutan, melainkan dari sisi kanan dan kiri Anda. Dari raptor-raptor lainnya yang Anda tidak tahu di mana mereka saat itu berada,” demikian tutur Dr. Alan Grant (Sam Neill). Ia bersama sekelompok ilmuwan lainnya didatangkan oleh jutawan eksentrik John Hammond (Richard Attenborough) ke Taman Jurassic miliknya, tempat eksotis dilakukannya eksperimen pengembangbiakan kembali binatang dinosaurus yang sudah punah 65 juta tahun yang lalu.

Photobucket

Ketika mengikuti silang pendapat dalam seminar nasional bertopik “Jurnalisme Warga : Ancaman Bagi Media Massa ?” di kampus UNS Sebelas Maret Solo, 28 Februari 2008 (foto : Kompas Jawa Tengah, 28/2/2008), saya membayangkan Dennis Nedry adalah media massa masa kini. Yang gemuk, lamban, pandangannya buram, dan digambarkan korup. Tetapi siapakah sebenarnya raptor-raptor ganas yang akan mencabik-cabiknya tersebut ? CUT.



Wartawan Milyarder. “Media massa dewasa ini sudah menjadi lembaga yang birokratis, sebuah industri yang banyak duitnya ketika informasi sudah menjadi komoditas” tutur pengantar Ana Nadhya Abrar (foto), dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UGM, pembicara pertama dalam seminar. Ia menceritakan pengalamannya ketika hendak bertemu redaktur pelaksana sebuah koran besar di Jepang. “Saya harus menunggu empat hari hanya untuk bisa bertemu selama 10 menit,” keluh kandidat penyandang Ph.D dari Universiti Malaya itu.

Untuk meneguhkan realitas di atas, penulis 13 buku bacaan dan 4 novel sejak 1992 itu dalam makalahnya yang berjudul Nilai Esensial Jurnalisme Warga telah ia perkaya dengan ilustrasi yang mengentak : dengan menceritakan “prestasi” seorang wartawan koran nasional yang istimewa. Tuturnya, “nama dan lokasinya tidak akan saya sebutkan, tetapi wartawan yang umurnya belum mencapai 50 tahun itu sanggup memiliki rumah mewah untuk tetirah di Yogya, senilai 4 milyar !”

Realitas semacam itu, katanya, membuat masyarakat mudah tergoda untuk bertanya-tanya. Bercuriga berat. Apakah gaji seorang wartawan cukup untuk memiliki rumah seharga milyaran rupiah tersebut ? Kalau tidak cukup, dari mana ia memperolehnya ?

Dalam ilustrasinya yang lain, ia tandaskan bahwa media massa di Indonesia kini kepemilikannya terkonsentrasi pada beberapa kelompok saja. “Pada awal sejarah hadirnya televisi swasta di Indonesia, hampir semuanya dimiliki mereka-mereka yang dekat dengan keluarga Cendana.”


Kecenderungan itu nampaknya berskala global. Konsolidasi media akhir-akhir ini telah menciptakan struktur industri yang terpusat pada sejumlah konglomerat media. Sehingga seorang Danny Schechter, blogger, kritikus media, produser televisi dan pembuat film independen, telah lama menguatirkan fenomena tersebut. Dalam bukunya The Death of Media : And the Fight to Save Democracy (2005) yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai Matinya Media : Perjuangan Menyelamatkan Demokrasi (Obor, 2007) ia menegaskan bahwa perkembangan media massa dewasa ini dikhawatirkan mulai mengancam masa depan demokrasi.

Mike Whitney dalam artikelnya berjudul “It's Time To Break Up The Media,” menyatakan bahwa media yang dikuasai swasta beroperasi untuk mengkonter terjaganya cita-cita publik untuk melek informasi sebagai pilar perwujudan demokrasi partisipatoris. Model operasi mereka atas-bawah (top-down), mencengkeram kendali informasi di tangan beberapa gelintir fihak sebagai gatekeeper korporat, di mana pengambilan keputusan mereka senantiasa dibayangi motif dan tujuan untuk mengeruk keuntungan maksimal. Modus operandinya adalah mengendalikan siklus berita sehingga peristiwa dapat diorkestrasi demi keuntungan kelompok bisnisnya. Masyarakat luas pun harus dihindarkan untuk mampu melihat adanya tindak perselingkuhan yang terjadi antara negara dan kalangan industri.

Untuk meraih tujuan itu media massa harus nampak berfungsi secara independen, berbicara dengan suara beragam, tetapi faktanya hanya sekadar mengulang-ulang pesan yang sama dari pelbagai sudut pandang yang menguntungkan mereka. Dalam suguhan berita di media massa mainstream tersebut tidak ada keragaman opini. Semuanya serba diatur dan seragam. Media semacam senyatanya dirancang semata untuk merangsang peningkatan konsumsi masyarakat dan menghindari informasi yang mampu menghasut tuntutan keterlibatan publik yang lebih besar dalam proses politik.

Bahkan akhirnya Brian Martin, Associate Professor Bidang Sains, Teknologi dan Masyarakat dari Universitas Wollongong, Australia, menyimpulkan “pada dasarnya media massa itu memang korup. Karena sejumlah kecil pemilik dan redaktur telah mengangkangi kekuasaan yang sangat besar terhadap segala hal yang akan disampaikan kepada masyarakat luas.” Oleh karena itu, begitu pendapatnya, media massa sudah saatnya digantikan oleh media partisipatoris sebagaimana layaknya sebuah jaringan, sebagaimana jaringan telepon dan jaringan komputer.”

Photobucket

Seminar JogloSemar. Dengan dipandu moderator Anissa (mahasiswa UNS) secara kebetulan ketiga pembicara merepresentasikan Joglosemar. (Ki-ka) Ana Nadhya Abrar (Yogyakarta), Bambang Haryanto (Wonogiri/Solo) dan Aulia A. Muhammad (Semarang).


Fajar era pergeseran telah terbit di ufuk berkat kehadiran Internet. Internet merupakan model sempurna yang paling demokratis dalam pendistribusian informasi. Masyarakat atau publik menjadi bebas dalam memperoleh informasi yang mereka butuhkan dari beragam opsi yang ada. Pergeseran itu lebih menjanjikan banyak manfaat bagi masyarakat. Juga bagi demokrasi. Ana Nadhya Abrar sesudah mempertajam pemakaian istilah jurnalisme warga sebagai jurnalisme online yang berbasiskan Internet, kemudian menjajar pelbagai keuntungan hadirnya jurnalisme warga yang berbasis media digital bersangkutan.

Antara lain : (a) audience control, di mana masyarakat bisa leluasa memilih berita yang ingin mereka peroleh, (2) nonlinearity, memungkinkan setiap berita dapat berdiri sendiri sehingga masyarakat tidak harus membaca secara berurutan untuk memahaminya, (c) storage and retrieval, berita dapat disimpan dan bisa diakses kembali secara mudah oleh masayakat, (d) unlimited space, berita jauh lebih lengkap ketimbang media lainnya karena tidak terbatasnya ruang yang tersedia, (e) immediacy, berita bisa mampu segera disampaikan secara langsung kepada masyarakat, (f) multimedia capability, berita dapat disampaikan berupa teks, suara, gambar, video dan komponen lainnya, dan (g) interactivity, terbukanya peningkatan partisipasi masyarakat dalam penyajian setiap berita.

Dalam posisi seperti itu, tegas Abrar, pelaku jurnalisme warga tidak usah mempertimbangkan etika jurnalistik, obyektivitas, akurasi berita dan sebagainya. Bukankah mereka orang-orang yang menafikan pelembagaan profesionalisme jurnalistik ? Bukankah mereka berniat melawan kemapanan jurnalisme as usual yang dipraktekkan media pers mainstream ? Justru “kebebasan” itulah yang menjadi tumpuan perkembangan jurnalisme warga. Pendeknya : ada info, sampaikan !

Dengan demikian, jurnalisme warga memberikan peluang lebih luas kepada masyarakat untuk memperoleh informasi, dengan pilihan beragam. Kelebihan inilah, menurut Abrar, jurnalisme warga memiliki potensi menyediakan informasi publik untuk penguatan masyarakat madani, memfasilitasi diskusi politik, dan membangun pangkalan data untuk kepentingan pendidikan politik publik.

Agar potensi tersebut benar-benar mampu terwujud, maka jurnalisme warga perlu memperhatikan tiga hal penting : (a) menyiarkan informasi publik, di mana menurut Ashadi Siregar informasi publik adalah informasi tentang masalah yang berasal dari masyarakat dan respons masyarakat terhadap kekuasaan umum dan kekuasaan negara, (b) menjadi forum atau wahana tempat pertukaran pikiran pelbagai komponen masyarakat, dan (c) menciptakan proses perubahan sikap dan perilaku individu dalam usaha memberdayakan dirinya dalam bidang politik.

Akhirnya, menurut penulis yang buku terbarunya berjudul Kebijakan Komunikasi : Konsep, Hakekat dan Praktek (Gava Media, 2008) baru saja terbit, jurnalisme warga mengandung empat nilai esesial. Pertama, bisa dilakukan siapa saja yang ingin menyampaikan informasi yang dimilikinya kepada masyarakat tanpa harus memiliki keterampilan jurnalistik yang memadai. Kedua, sebaiknya menggunakan sumber daya Internet untuk menciptakan efisiensi pelaksanaannya. Ketiga, mampu memberikan segala informasi yang penting, relevan dan bermanfaat bagi masyarakat. Keempat, menciptakan alternatif pilihan untuk memberdayakan masyarakat.

Apakah jurnalisme warga menjadi ancaman bagi media massa ? Anna Nadhya Abrar menulis, “jawabannya tegas : tidak dan tidak akan pernah” dan karena “jurnalisme warga melengkapi jurnalisme konvensional yang dipraktekkan media massa.” Sebab, katanya, tidak semua individu betah mengakses berita jurnalisme warga. Bagi mereka yang tidak kritis dan skepstis terhadap informasi yang dihasilkan jurnalisme warga, mengakses media massa akan terasa lebih nyaman. Lebih dari itu masyarakat yang mengakses media massa punya karakteristik yang berbeda dengan mereka yang mengakses berita yang dihasilkan jurnalisme warga.


Ironi Jurnalisme Warga ? Jurnalisme warga yang dinilai bukan sebagai ancaman bagi media massa juga ditandaskan oleh Aulia A. Muhammad (AAM) (foto), pembicara ketiga. Pemimpin Redaksi Suara Merdeka CyberNews yang juga seorang blogger itu awalnya memberi ilustrasi yang menyentuh ketika menceritakan kembali karya jurnalisme warga seorang Cut Putri ketika memvideokan bencana tsunami yang meluluhlantakkan Aceh, 26 Desember 2004.

“Aceh lebur, tapi media tak bisa mewartakannya. Wartawan sibuk menyelamatkan diri dan atau mencari keluarganya yang hilang. Tak ada gambaran yang jernih bagaimana sebenarnya muasal penderitaan tsunami itu. Media, karena keterbatasan data, sibuk menduga, berspekulasi, dan hanya bercerita tentang korban. Awal kejadian, tak tergambarkan. Lalu, mucullah video dokumenter itu,” cerita Aulia.

Cut Putri yang berada di belakang kamera itu. Dia bukan wartawan, cuma warga, yang ingin merekam sejak getar (gempa) pertama yang dirasakan keluarganya. Menurut Aulia, pengalaman personal Cut Putri di tengah peristiwa dahsyat itu kemudian ternyata mampu menjadi pengalaman publik tanpa ia menyadarinya sejak awal peristiwa.

Menurutnya, kiprah Cut Putri yang tidak lain merupakan manifestasi jurnalisme warga itu diharapkan menjadi “teladan” bagi kiprah jurnalisme warga (di Indonesia) selanjutnya. “Karena dari warga, seharusnya menangkap secara utuh denyut urat nadi warga, yang mampu membangun jalinan emosi, dan kalau bisa menggerakkan warga,” lanjutnya.

Aulia A. Muhammad meringkas kisah Cut Putri dalam tiga ciri jurnalisme warga, yaitu lokalitas, subjektivitas dan ketakberjarakan, di mana kesemuanya diogahi jurnalisme mainstream tetapi mendapat tempat dalam jurnalisme warga. Tetapi, tanya lanjutnya, manakah situs atau media yang secara ketat mengadopsi tiga hal itu ?

Bahkan mungkin untuk membuat ironi semakin nampak kontras, ia pun menceritakan betapa video jurnalisme warga karya warga Aceh itu jadi membuncah karena semata ditayangkan di media massa mainstream, yaitu MetroTV. Ironi dari Aulia itu patut dicatat dan dihargai. Tetapi saya juga senang mengutip tulisan Stephen Baker dan Heather Green (“setiap kali saya mengetik nama ini pasti akan saya tambahi kata-kata : yang cantik”) di Business Week (11/5/2008) di mana saat berseminar itu sempat saya tunjukkan juga ke AAM dan audiens, karena memuat laporan utama berjudul “Blog akan Mengubah Bisnis Anda.”

“Para reporter blog berhasil unjuk gigi ketika badai tsunami menerpa Asia pada Desember silam. Ribuan blog memuat foto, tayangan video, dan artikel tentang bencana tersebut jauh sebelum jurnalis ternama pertama muncul di layar kaca. MSNBC, yang menayangkan tayangan tsunami selama berjam-jam pada situs internetnya, kemudian membuat satu halaman khusus, dinamakan entire page yang dipersembahkan kepada fenomena ’jurnalisme warga,’” tulis Baker dan Green.

Termasuk juga menarik mendengarkan gugatan AAM lainnya. Misalnya terkait beberapa situs jurnalisme warga yang ada di Indonesia saat ini, misalnya seperti ia sebut Bale Bengong sampai Panyingkul, bila dibandingkan dengan layanan serupa yang dikelola oleh media mainstream, seperti kolom “Citizen Journalism” (di situs http://www.kompas.com/ ) dan “Suara Warga” (di situs http://www.suaramerdeka.com/ ), meliputi topik bergerigi : darimana sumber pembiayaan mereka ? Sudahkah dilirik pengiklan ? Apakah “percakapan” terjadi secara alamiah, dengan keterlibatan yang intens ?

“Ramalan Phillip Meyer dalam bukunya The Vanishing Newspaper bahwa tahun 2043 surat kabar akan mati di AS, mungkin hal itu baru terjadi di tahun 2080 di Indonesia,” simpulnya. Mengunci makalah yang berjudul Citizen Journalism : Keamatiran, Bukan Ancaman, AAM mengatakan bahwa “harus kita akui, Internet justru belum menjadi bagian dari kehidupan kita. Karena itu, citizen journalism belum akan menjadi ancaman bagi media mainstream. Kita mungkin lebih baik menyetiainya, mengembangkannya, merayakannya, karena warga memang punya kuasa atas produksi dan distribusi berita.”


Masa Depan Itu Masih Jauh ? Albert Einstein (1879–1955), fisikawan kelahiran Jerman dan penemu teori relativitas pernah berujar, “I never think of the future. It comes soon enough.” Saya tidak pernah memikirkan masa depan. Karena ia pun segera datang. Siapa bisa membantah ?

Apalagi bila masa depan tersebut terkait revolusi Internet, utamanya fenomena Web 2.0. dewasa ini. Revolusi itu sebenarnya sedang terjadi, tetapi yang satu ini mudah sekali untuk dicuekkan. Karena ini revolusi sunyi. Revolusi Internet satu ini terjadi di pinggiran, bukan di tengah-tengah. Akibatnya ?

”The media titans still don't get it,” tulis kesal Scott Rosenberg, redaktur pelaksana situs Salon yang terkenal. Raja-raja media itu, menurutnya, masih engga ngeh terhadap kehadiran Internet. Konsekuensinya, korporat Amerika bobol koceknya hingga milyaran dollar ketika secara geradakan menerjuni bisnis Internet. Bukan berarti medium Internet tersebut tidak bernilai, tetapi para mogul media bersangkutan memang belum mampu menemukan jejak dimana nilai itu berada.

Untuk konteks serupa di dalam negeri, saya pernah menulis surat pembaca yang berjudul “Angket dan Sup Batu” yang dimuat di harian Suara Merdeka (Kamis, 29 November 2007 : L) :

“Mencermati Angket Pembaca 2007 Suara Merdeka, saya teringat dongeng sup batu. Dikisahkan, seseorang sedang menyalakan tungku di tengah lapangan. Di atas tungku ditaruh gentong berisi air dan ia masukkan sebungkah batu. Ia pun dengan riang mengaduk-aduknya. Aksinya itu menarik perhatian orang untuk datang dan bertanya-tanya. Si orang pertama itu berkata, ia sedang memasak sup yang lezat. Tetapi ia kekurangan garam.

Orang kedua yang datang segera pulang, ambil garam, dan kembali ke lapangan untuk memasukkannya ke gentong. Orang-orang berikutnya berlaku pula demikian. Ada yang menyumbangkan irisan daun bawang, kaldu, merica, daging, bumbu penyedap dan mereka bergantian mengaduknya. Akhirnya, memang tersaji masakan sup yang lezat dan semua orang dapat secara adil menikmatinya secara bersama-sama.

Dongeng sup batu itu di era Internet sering dipakai untuk menggambarkan resep suksesnya toko buku online Amazon.com sampai ensiklopedi online Wikipedia. Kedua bisnis itu mengandalkan partisipasi massa penggunanya, bukan kalangan ahli, dalam menghimpun dan menyajikan isi situsnya. Istilah kerennya : user generated content. (UGC). Strategi ini kini lajim diaplikasikan dalam pelbagai strategi bisnis di Internet.

Lalu apa kaitannya sop batu, UGC dan Suara Merdeka ? Dalam pertemuan saya dengan Mas Kukrit Suryo Wicaksono, Managing Director Suara Merdeka Group (8/11/2007), saya agak protes karena keberadaan media maya Suara Merdeka tidak masuk dalam angket. Dan sebagai pendiri komunitas Epistoholik Indonesia (EI), saya juga heran berat mengapa kolom surat pembaca tidak ditonjolkan secara signifikan dalam angket yang sama.

Padahal menurut saya, sembari merujuk kesimpulan World Editors Forum (WEF) 2007, situs web media dan eksistensi kolom surat pembaca merupakan cikal bakal manifestasi filosofi UGC, user generated content. Inilah gerbang utama semua media mainstream, termasuk Suara Merdeka, dalam melangkah menuju masa depan.”


Koran pun sekarat ! Masa depan itu antara lain harus mencakup langkah segera pengintegrasian media cetak dengan media digitalnya. Kemudian membuka pintu untuk berinteraksi dengan pembaca. Dua langkah awal penting tersebut selama ini nampak tidak dilakukan oleh media-media mainstream di Indonesia. Media cetak dan media digital mereka diparkir pada pulau yang berbeda. Juga tidak ada jembatan di antara keduanya.

Sehingga tidak atau belum ngeh-nya Suara Merdeka dalam surat pembaca saya di atas, seebnarnya juga cerminan potret diri media-media mainstream Indonesia lainnya dalam bergulat dengan binatang baru yang bernama Internet itu. Kolom forma@t harian Kompas (6/2/2006 : hal. 33), yang sepertinya ditulis wartawan TI-nya, Rene L. Pattirajawane, pernah menyajikan tulisan berjudul “Matinya Koran ?” dengan isi yang provokatif.

Ia kutipkan hasil sebuah penelitian yang dilakukan Clark, Martire & Batolomeo, bahwa pada tahun 2010 akan semakin sedikit orang muda yang membaca koran di Amerika Serikat. Edisi cetak majalah dan surat kabar akan menjadi tidak relevan dan kurang populer dalam kehidupan orang di masa mendatang. Hanya akan ada 9 persen orang berusia 20-29 tahun yang membaca koran pada hari kerja pada tahun 2010. Koran menjadi tidak penting dan hanya ada sedikit waktu yang diluangkan untuk membacanya.

Berkat kemajuan teknologi komunikasi informasi (TKI), membuat informasi yang tercetak di surat kabar mau pun majalah sekarang ini ibarat setitik pasir di lautan, menjadi tidak bermakna dan condong dilupakan sebagai satu-satunya penyedia informasi. Berbagai peristiwa dunia dan local sekarang ini dalam sekejap merambah ke jutaan pengguna telepon seluler melalui SMS. Pesannya singkat dan jelas, “Koran dan majalah sekarat.” Institusi tradisional media massa sekarang hanya tinggal menunggu waktu dan sering kali bingung sendiri antara redesign dan resizing.

Orang muda sekarang mengandalkan berbagai perangkat TKI seperti ponsel untuk mengakses berita. Fitur SMS adalah bentuk dasar diseminasi informasi. Kemajuan ponsel pun sekarang mampu menghadirkan informasi selengkap, seluas, dan seakurat surat kabar atau majalah. Orang mengandalkan detik.com, Yahoo, Google, dan media online lainnya untuk diseminasi informasi. Surat kabar mengikuti langkah untuk meng-online-kan isi beritanya, secara gratis. Tidak banyak kemajuan dalam 10 tahun terakhir ini, bahkan tidak ada model bisnis yang bisa dijadikan acuan.


Dekonstruksi bikin ngeri. Ketiadaan atau rancunya model bisnis mereka itu tidak lain sebagai akibat tidak difahaminya bahwa, sesuai tesis Philip Evans dan Thomas S. Wuster dalam bukunya Blown to Bits : How the New Economics of Information Transforms Strategy (Harvard Business School Press, 2004), ekonomi benda-benda fisik dan ekonomi informasi itu secara fundamental berbeda.

Selama ini, sebagai ilustrasi, kita tahu koran cetak menjual nilai dengan mem-bundle pelbagai ragam berita (the media) dengan iklan (the message) dalam satu produk. Model bisnis serupa, lucunya, kemudian juga mereka terapkan secara mentah-mentah dalam media digitalnya.

Barangkali mereka berkeyakinan bahwa hanya dengan menambahkan akhiran “.com” atau “.co.id” pada nama edisi cetaknya, media digital mereka itu sudah dianggap afdol tampil tanpa perubahan paradigma dalam pengelolaannya. Jadilah media digital yang dikelola dengan mindset media cetak !

Mereka tak sadar bahwa audiens digital mereka memiliki kekuatan, karakter sampai kebutuhan yang tidak sama dengan pembaca edisi cetaknya. Atau bahkan audiens itu sebenarnya juga berbeda komposisi ramuan “otak” mereka. Seperti kata Gerard Van der Leun dan Thomas Mandel dalam bukunya Rules of The Net (1996) bahwa, “simple minds are not attracted to the Net.” Kasarnya : otak udang itu tidak tertarik dengan Internet.

Mereka mengingkari hukum media digital bahwa semua isi dan distribusinya bisa dengan sangat mudah dipisah-pisahkan.Istilahnya dalam bahasa Jawa, bisa di-juwing-juwing, dicerai-beraikan, ibarat fenomena balkanisasi yang melanda negeri-negeri Eropa Timur selepas ambruknya Uni Sovyet.

Seperti diungkap Ana Nadya Abrar di atas, ciri nonlinearity dalam media media digital memungkinkan konsumen memilih informasi, baik topik berita yang paling khusus pun atau iklan-iklan yang mereka nilai paling relevan dengan kebutuhannya. “Daily Me,” demikian impian Nicholas Negroponte tentang surat kabar personal yang ingin ia baca seperti terungkap dalam bukunya Being Digital (1996) yang terkenal.

Dekonstruksi itu mungkin menimbulkan kengerian mencekam bagi pengelola media massa mainstream di mana saja. Oleh karena itu hingga sepuluh tahun terakhir ini mereka gamang melakukannya. Dapat dimaklumi, berkompetisi di ranah ekonomi informasi baru sering mensyaratkan terjadinya kanibalisasi. Atau bahkan tindakan penghancuran semua sendi-sendi bisnisnya semula. Para inkumben itu jelas enggan melakukannya, apalagi bila bisnis tersebut masih mengalirkan keuntungan.

Yang pasti, versi digital dari media bersangkutan yang dikelola sebagaimana layaknya media cetak itu, sebagaimana penilaian William Davidow dalam artikelnya “Online Advertisers Must Beware” (Forbes ASAP, 7/4/1997), berpotensi tertakdir menuai kegagalan. ”Efforts to make electronic media mimic traditional media will fail, producing ridiculous business models,” lanjut penulis buku bersama Michael S. Malone, The Virtual Corporation : Structuring and Revitalizing the Corporation for the 21st Century (1992).

Rentetannya kemudian, kolom-kolom jurnalisme warga dalam media digital mereka pun menjadi ridiculous juga. Aneh. Karena dikelola tidak ubahnya kolom Surat Pembaca pada edisi cetaknya. Bahkan kolom ini pun terpisah dari sajian berita mereka, nyaris menjadi sebuah asylum dimana para pembaca dapat berbincang atau berdiskusi semau mereka, sepanjang media bersangkutan tidak terlibat di dalamnya.

Sampai di sini, kiranya wacana memimpikan atau mengandalkan media massa mainstream untuk tampil sebagai kampiun jurnalisme warga hanya mimpi di siang bolong belaka. Karena mereka masing-masing memiliki DNA yang berbeda. Berdasar pertimbangan semacam itulah, mungkin, yang membuat Dan Gillmor keluar dari koran San Jose Mercury News, mengumpulkan investor dan membentuk perusahaan baru, Grassroots Media. Atau seorang wartawan bernama Budi Putra, tetapi demi alasan yang lebih pragmatis, memutuskan keluar dari posisinya yang mapan di Koran Tempo untuk menjadi blogger purna waktu.

Secara guyonan fenomena serupa kemudian saya tanyakan kepada Aulia A. Muhammad : kapan ia memberanikan diri keluar dari jabatannya sekarang, untuk berpetualang di dunia digital yang menantang ini ? Waktu baginya, saya yakin, akan tiba.

Sebab kalau boleh saya menilai dirinya, AAM adalah profil seseorang yang oleh John Battelle, pendiri majalah Wired, disebut sebagai talent dan bukan sebagai reporter. Penjelasannya, selama ini media tradisional bergerak dalam bisnis “mempulaukan” atau “mengucilkan” bakat-bakat sumber daya manusianya. Sebagai wartawan surat kabar, mereka tidak berbicara kepada pembacanya, mereka berbicara dengan sumber-sumber berita. Secara kelembagaan, organisasi media tumbuh mengelola reporter, bukan talent.

“Ketika saya menjadi redaktur di Wired, tugas saya adalah menghasilkan penulis dan mengelola 50-150 penulis berbakat, juga penulis bebas yang setengah sableng kelakuannya. Mereka yang mengelola blog-blog berpengaruh adalah para talent dan mereka tidak perlu diberitahu tentang apa saja yang harus mereka tulis,” tuturnya.

Sebagai pembaca majalah Wired ala kadarnya, kredo Battelle itu mengingatkan saya akan artikel atau buku-buku wartawannya yang cemerlang. Selain ia sendiri yang menulis buku The Search: How Google and Its Rivals Rewrote the Rules of Business and Transformed Our Culture (2006), juga ada Kevin Kelly dengan artikel landmark-, “New Rules for the New Economy : Twelve Dependable Principle for Thriving in a Turbulent World” (Wired, 9/1997). Ada pula Jeff Howe yang lagi merampungkan buku mengenai crowdsourcing, dan tentu saja Chris Anderson dengan the long tail-nya yang didaulat majalah TIME (14/5/2007) sebagai salah satu dari 100 Tokoh Berpengaruh Di Dunia 2007.



Kuda liar jurnalisme warga. Kembali ke seminar di UNS Solo tersebut di mana saya memperoleh kenangan berupa trofi (foto) yang diserahkan oleh Pemimpin Umum Lembaga Pers Mahasiswa Visi FISIP UNS, Nur Heni Widyastuti, menurut saya, cakupan topiknya kurang berimbang. Sebaiknya, selain membicarakan ancaman, akan lebih membukakan cakrawala bila juga mengupas sisi-sisi positif, manfaat jurnalisme warga bagi media massa itu sendiri. Ketiadaan balans tersebut, sepanjang pengamatan saya terhadap mayoritas pertanyaan dari mahasiswa saat itu, mungkin telah menggiring mereka untuk cenderung menguatirkan terbukanya kebebasan warga dalam berekspresi melalui jurnalisme warga.

Antara lain mereka sebut bahwa kebebasan itu nantinya ibarat kuda yang berlarian tanpa arah. Pendapat lain yang senada mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara yang bermoral. Untuk itu, menurutnya, diperlukan peran pemerintah terhadap jurnalisme warga. “Jurnalisme warga akan berbahaya bila tidak dipagari oleh moral yang baik,” cetusnya.

Ah, mindset Orde Baru itu masih saja menjadi kerak dalam kenangan kolektif kita semua. Ucapan Henry David Thoreau (1817–1862) bahwa pemerintah yang terbaik adalah yang paling sedikit memerintah, atau sama sekali tidak memerintah, nampaknya belum punya akar kuat dalam nurani bangsa ini. Akibatnya kita terbiasa berilusi bahwa pemerintah merupakan bapak besar terbaik bagi kita semua.

Kita pun, terutama selama Orde Baru berkuasa, menjadi terbiasa dicekoki dan bulat-bulat menelan tentang apa yang baik atau buruk secara seragam dari pemerintah. Kita tidak terbiasa mempertanyakannya. Perbedaan kemudian dinilai sebagai sumber kekacauan. Kita mudah mengingkari pluralitas, dimana berkat jurnalisme warga yang bersenjatakan Web 2.0. justru memperoleh aksentuasi yang tidak bisa kita hindari. Berpotensikah semua itu memunculkan anarki ?

”The new media age of Web 2.0 is threatening only if you believe that an excess of democracy is the road to anarchy. I don't.” Media-media baru berbasis Web 2.0. akan menjadi ancaman bila Anda memiliki keyakinan bahwa ekses demokrasi akan menimbulkan anarki. Saya tidak mempercayainya. Itulah kesimpulan Richard Stengel, Redaktur Pelaksana Majalah TIME dalam edisi khusus yang menobatkan pembacanya (“YOU”) sebagai Tokoh Majalah TIME Tahun 2006.

Para mahasiswa peserta seminar yang “berburuk sangka” itu, boleh jadi, belum pernah mengenal atau bahkan menikmati media Web 2.0. Data berikut memperkuat dugaan itu. Saat tampil sebagai pembicara kedua saya bertanya kepada hadirin : berapa banyak di antara mereka yang memiliki blog. Dari sekitar 100 audiens, hanya ada satu atau dua jari yang terangkat ke atas. Sayang, saya lupa menanyakan seberapa banyak di antara mereka yang pernah menulis surat-surat pembaca di media massa.

Yang pasti, menurut saya, tanpa pernah mengalami baik sebagai penulis surat pembaca atau sebagai blogger, akan sulit bagi tiap orang untuk mampu menghayati realitas bahwa dirinya memiliki kekuatan untuk ikut terlibat dalam perbincangan publik. Sekadar contoh, di bawah ini surat pembaca saya yang menggugat kegiatan Pemkab Wonogiri beberapa waktu lalu.


Parodi Parade Penjor
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, Sabtu, 2 September 2006


Manajer MURI, Paulus Pangka, pernah setengah mengeluh karena rekor-rekor yang diajukan ke lembaganya kebanyakan hanya bertumpu pada pencapaian prestasi yang bersifat superlatif. Rekor-rekor superlatif itu seperti X terpanjang, Y terbanyak sampai Z terbesar dan sejenisnya. Menurutnya, rekor semacam itu seringkali tidak unik, tidak berkelas dunia, karena mudah sekali untuk dipecahkan oleh fihak lain. Kasarnya, selama UUD (ujung-ujungnya duit) ditegakkan, maka membuat rekor atau menumbangkan rekor MURI semacam itu menjadi hal yang mudah sekali dilakukan !

Rekor-rekor kelas superlatif dan menjunjung tinggi “UUD” itulah yang kini digandrungi unsur-unsur birokrat pemerintah daerah. Mereka getol memobilisasi massa, mungkin dengan unsur setengah paksaan, terkait acara seremonial seperti HUT Kemerdekan atau Hari Jadi Pemda/Pemkot, dengan mengadakan acara-acara artifisial untuk tujuan meraih rekor MURI.

Sebuah kabupaten di Jawa Tengah pernah mengadakan acara Kirab 1000 Keris, pesertanya membeludak hingga lebih dari 2000. Tetapi konon dari cek acak tim MURI ternyata banyak peserta yang terdiri para pelajar itu membawa keris-keris palsu (birokrat sengaja mengajarkan budaya dusta atau perilaku korup pada generasi muda ?), mengakibatkan piagam MURI batal diserahterimakan. Acara artifisial yang sungguh memboroskan moral dan material !

Dalam memperingati HUT Kemerdekaan RI 2006, jajaran birokrat kabupaten yang sama baru saja mengadakan acara pawai/parade umbul-umbul (bahasa Balinya penjor), juga dengan semangat untuk meraih Piagam MURI. Mereka memobilisasi para pelajar lagi. Adakah makna penting dari fenomena bambu-bambu berujung bengkok, berhias kain warna-warni itu, sehingga harus diparadekan oleh generasi muda kita ?

Saya teringat lelucon pengamat ekonomi Hartoyo Wignyowiyoto yang berlidah tajam dan cerdas itu. Dalam acara televisi di masa Orde Baru ia berkata bahwa budaya Indonesia dapat diibaratkan sebagai sosok penjor atau umbul-umbul itu. Karena selama ini di Indonesia, katanya, mereka yang bengkok-bengkok selalu berada di atas, selalu dihormati, juga dielu-elukan, sementara mereka yang lurus dan di bawah, justru dikubur dan selalu dibenamkan !

Bambang Haryanto
Pemegang Dua Rekor MURI
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri 57612
Warga Epistoholik Indonesia


Setelah surat pembaca saya ini dimuat, entah kebetulan atau tidak, satu-dua tahun terakhir ini tidak ada lagi acara Kirab Seribu Keris atau Seribu Penjor di Wonogiri. Sayangnya saya agak lupa bercerita kepada audiens bahwa kehadiran saya sebagai pembicara dalam seminar itu bisa terjadi karena saya mudah ditemukan oleh panitia, (“Terima kasih Haris Firdaus dan Lia yang banyak “mendoakan” agar saya tidak lolos audisi API-4 :-) ke Jakarta hingga bisa ikut seminarnya ini) berkat blog-blog saya. Juga saya kurang eksplisit dalam berpesan bahwa mengelola blog dan menulis surat-surat pembaca sebenarnya tidak lain merupakan exercise bagi kemampuan intelektual tiap orang. Menjalani proses belajar seumur hidup. Itu menyehatkan. Bikin awet muda.

Saya hanya bisa menyampaikan pendapat Rebecca MacKinnon, mantan kepala biro CNN di Tokyo. Mudah-mudahan pesannya bisa dicamkan dan mampu menginspirasi para mahasiswa. “Seseorang akan mampu menyerap dan mengelaborasi kembali informasi secara lebih mendalam bila yang bersangkutan dilibatkan dalam diskusi mengenai materi tersebut, dan bahkan dirinya mampu memiliki pemahaman lebih mendalam lagi bila dia menuliskan opini tentangnya di ruangan publik,” tandas Rebecca MacKinnon.



Plastik komunikasi. Merujuk manfaat besar nasehat Rebecca MacKinnon di atas, maka dalam setiap kesempatan bertemu atau pun berkorespondensi dengan kenalan baru, juga dalam seminar itu, sebagai seorang epistoholik dan seorang blogger saya senantiasa mengajak kenalan baru itu untuk menulis surat-surat pembaca dan mengelola blog-blog mereka.

Juga secara tersirat, ketika mempopulerkan peluang-peluang tak terbatas dari dunia digital yang melimpah ruah sesuai tesis buntut panjangnya Chris Anderson, saya (foto) berpamrih akan banyaknya mahasiswa yang mau tergerak terjun sebagai netpreneurs baru di tengah revolusi Web 2.0. yang bergolak secara sunyi sekaligus membuka peluang-peluang bisnis baru bagi mereka.

“Internet adalah plastik dan tanah lempung komunikasi yang luwes,” simpul Paul Saffo dari Institute for the Future seperti dikutip US News & World Report (27/5/1996), “bila berada di tangan sekelompok kecil kaum entrepreneur yang memiliki ide-ide besar, anggaran cekak dan jauh dari supervisi kaum dewasa.”

Bermodalkan gagasan, komputer dan akses Internet, kaum muda dan para mahasiswa berpeluang mampu mengikuti jejak (“ah, ini cerita jadul”) David Filo dan Jerry Yang saat pertama kali melahirkan dan kemudian membesarkan embrio Yahoo : dari kamar asrama mahasiswa mereka. Cobalah, dengan membuka koran hari ini, dengan membawa pisau analisis yang tajam dan dibekali pemahaman mendalam perbedaan antara media berbasis atom vs media digital, maka kapling bisnis baru itu teramat mudah untuk ditemukan.

Sekadar ilustrasi, setelah seminar usai saya diboncengkan Haris Firdaus, mahasiswa yang panitia seminar, blogger dan kolumnis kolom Teroka di Kompas, ke shelter terdekat yang dilewati bis menuju Wonogiri. Bis yang saya tunggu ternyata terasa lama datangnya. Untuk membunuh waktu, saya mengeluarkan kamera dan jepret sana-sini. Persis di depan mata saya terletak bangunan rumah duka Thiong Ting, Jebres, Solo. Saya kemudian masuk kompleks bangunan untuk menfasilitasi upacara pemakaman dan kremasi bagi warga keturunan Tionghoa itu. Saya memasuki pula ruang upacara. Kemudian memotret sebagian susunan karangan bunga yang hampir memenuhi seluruh dinding ruangan sebesar dua atau tiga kali lapangan bulutangkis itu.



Dengan memakai mindset dunia digital, beragam ucapan dalam karangan bunga itu tidak lain merupakan berita atau informasi. Dengan pendekatan modus operandi jurnalisme warga bahwa berita adalah percakapan, maka bagi kita terbuka untuk menghadirkan situs blog yang dapat memfasilitasi semua percakapan seputar diri pribadi yang meninggal dunia. Tentu saja juga termasuk percakapan dengan segenap keluarganya, handai taulan, dan kenalan mereka.


Kebetulan pula akhir-akhir ini blog mengenai kampung saya, Kajenku, Kampungku, Kebanggaanku, lebih banyak memuat data warga kampung saya yang meninggal dunia. Akibatnya, selain sebagai tetangga dan merangkap “wartawan kampung,” di pekuburan itu sering terlibat dalam adegan tidak terduga. Misalnya bertemu kembali teman satu Sekolah Dasar atau SMP yang tak pernah bertemu belasan atau bahkan puluhan tahun.

Ah, sebagaimana Sitor Situmorang memiliki puisi mencekam, “malam lebaran/bulan di atas kuburan,” sebenarnya peristiwa pemakaman pun sangat kaya dengan cerita menarik yang bisa disampaikan. Itulah bukti dari jurnalisme warga. Berpendekatan hiperlokal, personal, memiliki tekstur yang kaya dengan sentuhan manusiawi, tetapi sering tidak memiliki tempat atau nilai di mata media massa mainstream selama ini.

Sudahlah. Mereka-mereka itu, pelaku media massa mainstream itu, memang sepertinya, menurut kolumnis majalah TIME, James Poniewozik, sudah mengidap deficit passion yang kronis. “Para wartawan media-media besar itu berhati-hati, kaum konformis bergaji tinggi yang menjauh dari pembacanya, mereka pun lebih responsif terhadap kaum elit urban, tokoh-tokoh berkuasa dan perusahaan-perusahaan raksasa, terutama tempat diri mereka bekerja.” Akibatnya, menurutnya, pembawa acara berita banyak yang tampil hambar, sajian majalah yang tak ubahnya katalog, jurnalisme malu-malu atau takut-takut merajalela, tetapi liputan tentang selebritis porsinya sangat berlebih-lebihan adanya.

Kini, di era Web 2.0, mereka didera kebingungan. Seperti bingungnya tokoh Dennis Nedry yang terdampar di hutan yang asing, menakutkan, sementara pandangannya kabur karena kacamatanya hilang, sebelum para Velociraptor menyerang dirinya. Tutur lanjut Dr. Alan Grant, “Velociraptor tidak menyerang urat lehermu seperti halnya terkaman singa. Ia mencabik-cabikmu, juga di perut, sehingga isinya terburai. Intinya adalah, kamu masih dalam keadaan hidup ketika mereka mulai memakanmu.”

Media massa mainstream juga masih merasa hidup ketika para raptor dari dunia digital mulai berpesta, memakan kerat demi kerat isi atau bagian tubuh mereka. Karena aksi raptor satu ini memang tidak mudah kelihatan dan jumlahnya pun tidak mudah diperkirakan. Belum termasuk penggerogotan yang dilakukan oleh wartawan-wartawan mereka sendiri yang gatal meluncurkan blognya pribadi, di luar ranah situs media tempatnya bekerja, tetapi mempromosikan keberadaan blognya tersebut di media cetak bersangkutan.

Di luar tikaman dari dalam itu, sekarang ini berlaksa-laksa cakar clurit setajam silet sedang rakus mencabik-cabik diri mereka. Dalam kesunyian. Sasaran akhirnya jelas : runtuhnya hegemoni oligarki media menjanjikan kabar baik bagi demokrasi dan kemanusiaan.



Wonogiri, 29/2-10/3/2008

ee

Tuesday, January 29, 2008

Surat Pembaca, Si Buntut Panjang dan Jurnalisme Warga

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 54/Januari 2008
Email : humorliner at yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia




Membrangus Suara Warga ! Penulis surat pembaca, waspadalah. Terlebih lagi bila Anda menekuni panggilan hidup sebagai seorang epistoholik alias pencandu penulisan surat-surat pembaca, berhati-hatilah terus. Karena Anda dapat tersandung kasus yang bersifat anomali di Indonesia. Termasuk ancaman gugatan milyaran rupiah !

Simak kisah Abidin Taher, Ketua BPD Desa Kanibungan, Pulau Sebuku, Kabupaten Kotabaru. Ia menulis surat pembaca dan dimuat di Banjarmasin Pos, 2 Oktober 2003. Isinya berupa keluhan terhadap penambangan batu bara oleh PT BCS. Ia tuliskan, PT bersangkutan melakukan perusakan sungai dan hutan mangrove desanya. Hal itu bisa dikatakan sebagai tindakan kejahatan lingkungan karena tanpa perijinan atau dokumen seperti AMDAL dan dokumen lainya. Buntut surat pembaca itu Abidin Taher harus menjalani pemeriksaan polisi, dituduh PT BCS melakukan pencemaran nama baik. Bahkan dirinya ditetapkan jadi tersangka.

Kasus kedua, situs berita detik.com (23/8/2007) mewartakan "Penulis Surat Pembaca Digugat PT Duta Pertiwi Rp 17 Miliar.” Gara-garanya, Khoe Seng Seng, penulis surat pembaca bersangkutan, telah menulis surat pembaca di Kompas, Suara Pembaruan dan Warta Kota. Dalam surat pembaca itu ia mengaku tertipu oleh pengembang karena harga dan kondisi kios yang dibelinya tidak sesuai dengan perjanjian awal.

Dalam emailnya kepada saya (21/1/2008) Khoe Seng Seng menceritakan, “tujuan utama dari gugatan atau pun mempidanakan penulis surat pembaca umumnya agar konsumen yang lain selain penulis surat pembaca menjadi takut dan tidak berani mengkorek-korek kecurangannya. Hal diatas lah yang saya tangkap dari kasus saya ini dan ternyata memang benar di mana dari 3000-an orang yang dirugikan yang berani bicara hanya beberapa orang (19 orang) dan ke 19 orang ini semua diperdatakan dengan gugatan berkisar 11 m - 17 m rupiah.

Dan yang menulis surat pembaca ada 4 orang yang salah satunya adalah saya. Cerita dari 4 orang ini berbeda-beda. Masing masing menceritakan lingkungannya sendiri-sendiri. Karena pelaku usaha ini punya banyak produk yang sebagian besar bermasalah, inilah yang diceritakan ke 4 orang tersebut. Akibat cerita di surat pembaca inilah yang kemudian menyeret 4 orang ini ke pengadilan dengan nilai gugatan miliaran rupiah.”

Kalau Anda ingin memberikan dukungan moral kepada Bapak Khoe Seng Seng, silakan kontak via email ke : surat_sengseng@yahoo.co.id.

Kasus ketiga, termuat penuturan Lim Ping Kiat di Seputar Indonesia, 9/10/2007. Gara-gara menulis surat pembaca berisi keluhannya memakai jasa perantara properti Era Indonesia, pada September 2005 ia dilaporkan secara pidana oleh perusahaan itu. Kasus dihentikan polisi karena bukan merupakan kasus pidana. Lim Ping Kiat sekarang melaporkan balik secara pidana fihak Era Indonesia karena telah membuat laporan tidak benar tentang dirinya melalui laporan kepolisian tahun 2007 ini.


Intimidasi Kepada Penulis Surat Pembaca. Ketiga kasus di atas merupakan contoh buruk betapa partisipasi warga dalam ikut menegakkan kehadiran pers sebagai pilar keempat demokrasi, mengundang resiko bagi dirinya. Cerita sejenis tak kurang banyaknya dialami kaum epistoholik. Dilempari surat kaleng, pesan pendek bernada cemoohan sampai didatangi fihak yang kena kritik dengan alasan untuk memperoleh verifikasi, bisa diartikan sebagai bentuk-bentuk halus intimidasi untuk penulis surat pembaca.

Resiko-resiko itu disadari para penulis surat pembaca yang oleh Emanuel Rosen dalam The Anatomy of Buzz : How To Create Word-of-Mouth Marketing (2000) disebutkan merupakan golongan berpengaruh di Amerika Serikat. Mereka dianggap sebagai warga negara pilihan karena keterlibatannya dalam kegiatan publik, politik atau pun sosial.

Warga negara pilihan itu dalam merentangkan otot-otot hak demokrasinya, menurut saya, sebenarnya lebih mempunyai masalah dengan media tempat mereka ingin menunjukkan partisipasinya. Karena idealisasi Triyono Lukmantoro di artikel berjudul “Rubrik Partisipatoris, Akses bagi Publik Lokal,” (Kompas Jawa Tengah, 8/10/2007) bahwa tulisan di kolom Surat Pembaca dan Suara Warga (melalui SMS) merupakan cikal bakal berita-berita partisipatoris, masih jauh panggang dari api.

Kendala utamanya, terletak pada keterbatasan fisik koran yang berbasis atom, alias kertas. Selain itu karena topiknya beragam, sulit up to date (akibat kelamaan antri menunggu pemuatan ?) dan juga akibat kekurangan visi para penulis surat pembaca sehingga tidak mampu menulis topik hangat dan relevan, menjadikan surat pembaca kurang berkilat untuk diangkat sebagai berita partisipatoris.

Topik-topik keluhan terhadap produk/layanan lembaga pemerintah/swasta, kritik terhadap kebijakan pemerintah di daerah tertentu, permintaan sumbangan buku perpustakaan, sampai permintaan bantuan agar bisa kuliah atau memperoleh pekerjaan, merupakan topik –topik sempit yang kurang “seksi,” jauh dari nilai heboh sebagai berita. Belum lagi kecenderungan “abadi” pemberitaan media yang lebih bersifat searah, dari atas ke bawah (top down) dan dari elite politik ke masyarakat luas (one-to-many).


Fenomena Si Buntut Panjang. Beragam kendala di atas kini bisa didobrak berkat teknologi. Gregory P. Gerdy, pakar Internet Dow Jones, dikutip Mary J. Cronin (ed.) dalam The Internet Strategy Handbook : Lessons from the New Frontier of Business (Harvard Business School Press, 1996) menjabarkan bahwa media cetak membuat aktivitas penciptaan informasi, produksi, distribusi dan konsumsi informasi, terjadi terpisah-pisah.

Kini berkat kehadiran Internet, semua proses tersebut terintegrasi dalam satu sistem. Terutama harus didaulatnya informasi dari konsumen sebagai bagian integral isi situs itu sendiri. Perubahan konteks maha vital inilah yang banyak tidak disadari para pengelola media cetak dan situs di Indonesia.

Chris Anderson, editor majalah gaya hidup Internet, Wired, dalam bukunya The Long Tail: Why the Future of Business is Selling Less of More (Hyperion : 2006), menyajikan gambaran menarik mengenai lanskap bisnis (termasuk media) masa depan (kini sudah terjadi), di mana saya ingin menempatkan kedudukan para penulis surat pembaca dalam konstelasi bisnis masa depan tersebut.

Photobucket

Dalam grafik di atas, media cetak berada di ranah kepala, head (merah), yang merupakan potret diri dunia kelangkaan, the world of scarcity. Para pengelola media dalam bahasanya Anderson, melaksanakan apa yang disebut prinsip hit-driven economics, ekonomi pembuat hit, dengan memfokuskan bisnisnya hanya menggarap sajian-sajian informasi yang menurut mereka memiliki potensi jual.

Ekonomi pembuat hit merupakan kreasi di mana tidak cukup ruang untuk menampung segala hal dan tidak mampu memenuhi kebutuhan setiap orang pula. Karena tidak cukup kolom di media cetak untuk memuat segala berita yang ada. Tidak cukup ruang di rak-rak toko untuk menampung semua CD, DVD atau games yang diproduksi. Tidak cukup layar bioskop untuk menayangkan semua film yang ada. Tidak cukup saluran untuk menyiarkan semua acara televisi yang ada. Tidak cukup pula gelombang radio untuk mengudarakan seluruh ciptaan musik yang ada, dan tidak cukup jam setiap harinya bagi kita untuk menyapu semuanya itu di pelbagai slot-slot yang tersedia.

Dewasa ini, berkat Internet yang membuka distribusi dan eceran secara online, kita memasuki jaman limpah ruah, a world of abundance. Dan perbedaannya sangatlah dahsyat. Chris Anderson menunjukkan bahwa masa depan dunia bisnis bukan bertumpu pada produk-produk best seller, alias pembuat hit di bagian kepala, head, bagian paling tebal dalam kurva permintaan tradisional. Melainkan pada produk-produk yang sampai belum lama ini dianggap gagal atau sampah, yaitu produk-produk di bagian buntut panjang, the long tail, yang tak ada habisnya, pada kurva yang sama.

Dalam bahasa industri musik, bagian kepala adalah ranahnya major label dan bagian buntut merupakan lahan kiprahnya kaum indie, kaum yang berkarya sesuai kata hati mereka. Dan tidak sedikit dari mereka yang menuai sukses besar pula.

Pendobrakan media, dengan tersedianya media ekspresi bagi semua orang melalui fasilitas blog (weblog) di Internet dewasa ini, yang berada di ranah “buntut panjang” (kuning) menghadirkan heboh praksis jurnalisme warga atau jurnalisme partisipatoris. Karena di ranah ini warga dibuka selebar-lebarnya akses untuk memainkan peran aktif dalam proses menghimpun informasi, melaporkan, menganalisis sampai menyebarkan berita dan informasi. Kalau penulis Amerika Serikat, A. J. Liebling (1904–1963) pernah berkata bahwa “freedom of the press is guaranteed only to those who own one,” kini berkat hadirnya media blog (weblog), atau fasilitas jurnal di Internet, membuat setiap orang mampu memiliki kebebasan pers, dengan menjadi penerbit di muka dunia.


Berita Adalah Dialog. Saya mengenal blog pada tahun 2003 yang membangkitkan niat kembali untuk mendirikan komunitas penulis surat pembaca, Epistoholik Indonesia. Saya yakin, kegetolan menulis surat pembaca bila dipadukan dengan teknologi blog di Internet akan mampu memberi otot dan bobot yang hebat bagi eksistensi Epistoholik Indonesia sebagai salah satu pilar demokrasi.

Dalam berinteraksi dengan media cetak, di tengah revolusi dunia digital yang terjadi, kami sedang berusaha mencari peran yang lebih progresif untuk menyuarakan aspirasi pembaca. Mengingat media cetak selama ini juga terlalu journalist-centered, berpendekatan top-down, kini kami sedang mengetuk-etuk pintu digital mereka. Seru kami, “libatkan kami, jadikan kami sebagai sumber diskusi koran Anda, karena itu bermakna bagi masyarakat kami !”, sesuai tesis dari Dan Gillmor, pelopor citizen journalism yang kini marak di Amerika Serikat.

Sinergi antara peran kaum epistoholik dengan media-media baru berbasis digital berpeluang merombak eksistensi isi media secara revolusioner. Kita tahu, orang-orang media yang belum mempunyai mindset dunia digital pasti berpikir bahwa berita sampai iklan di media berbasis atom, alias kertas, merupakan terminal akhir suatu informasi. Padahal, agar pesan informasi tersebut makin komprehensif dan tidak bias, pemuatan itu hanyalah awal.

Sedang lanjutannya merupakan percakapan, interaksi langsung, antara pencetus dengan konsumen informasi. Di sinilah dunia digital kemudian tampil mengambil peran vital. “Markets are conversations”, begitu kredo Rick Levine, Christopher Locke , Doc Searls dan David Weinberger dalam Cluetrain Manifesto : The End of Business as Usual (1999), manifesto baru dan radikal untuk dunia bisnis dalam era digital.

“News are conversations, too ! ” begitulah juga yang seharusnya terjadi dalam lanskap media. Percakapan itu tidak hanya terjadi antara wartawan dan pembaca (sementara di Indonesia kebanyakan wartawan ogah berdiskusi, ogah membalas email yang dikirimkan pembaca !), tetapi juga antarpara pembaca itu sendiri. Dinamika interaksi antarpembaca atau antarwarga itu belum disadari pentingnya oleh kebanyakan para pengambil keputusan dan pemilik media.

Di ranah buntut panjang yang tak terbatas itu, Epistoholik Indonesia bercita-cita memberdayakan setiap insan sebagai sumber pengetahuan dan kearifan yang terintegrasi dalam jaringan untuk kesejahteraan kehidupan bersama. Saya impikan, EI kelak akan seperti amuba, yang membelah dan terus membelah. Saya impikan, misalnya si A akan mandiri untuk menghimpun para penulis surat pembaca khusus topik X, si B melakukan hal sama dengan spesialisasi topik Y, dan begitulah seterusnya.

Memanglah, di Internet warga EI tersebut ibarat hadir sebagai pulau-pulau cendekia, yang kecil-kecil, banyak sekali, meronai isi bagian “buntut panjang”-nya Chris Anderson. Tetapi antarmereka mudah sekali bisa saling tersambung dan tanpa hirarki. Pulau-pulau cendekia itu diharapkan membentuk gugus-gugus cendekia yang memiliki minat sama. Semua gugus itu, juga gugus minat yang lainnya, saling terhubung dalam suatu jaringan maya.

Sehingga bila seseorang yang membutuhkan informasi sampai bimbingan tertentu akan dirujuk kepada ahlinya, sekaligus “kebun-kebun” tulisannya, atau bahkan berdiskusi dengan yang bersangkutan beserta komunitasnya. Inilah aplikasi dari manajemen ilmu pengetahuan (knowledge management) yang diterapkan untuk masyarakat luas.

Kalau dalam konstelasi media cetak kita terbiasa untuk tergantung kepada opini yang ditulis satu-dua orang pakar, di Internet pakar itu bisa banyak sekali. Hal ini jelas memberikan lebih banyak sudut pandang, karena seringkali pencari solusi lebih mencari perspektif dibanding solusi yang baku.


Mutiara Yang Hilang. Epistoholik Indonesia berkeyakinan bahwa tulisan surat pembaca hanyalah puncak dari gunung es harta karun si penulisnya. Di bawah puncak itu sebenarnya tersembunyi khasanah ilmu pengetahuan, pengalaman dan kearifan tiap-tiap individu yang dapat digali dan dikomunikasikan.

Hanya karena selama ini mereka dibatasi oleh media yang ada, membuat mereka sulit berekspresi, membuat gembolan atau ilmu simpanan, baik pengetahuan, pengalaman sampai wisdom milik mereka, sulit keluar atau diaktualisasikan. Mutiara-mutiara ilmu pengetahuan itu banyak sekali terpendam, sulit untuk diketahui orang lain. Mungkin hanya jadi sekadar bahan omongan, secara lisan, juga tidak terdokumentasikan, sehingga akhirnya mudah sekali hilang ditelan jaman.

Dalam World Summit on Information Society (WSIS) II di Tunisia (16-19/11/2005) telah tercetus kredo, “apabila Anda tidak dapat berekspresi maka eksistensi Anda dianggap tidak ada” Merujuk hal eksistensial itu maka semua warga EI saya dorong untuk memulai hal yang sama : mengelola blog masing-masing di Internet sebagai sarana berekspresi, menulis, mengaktualisasikan diri dan mempublikasikannya sehingga karya olah budi mereka mampu memberikan kontribusi kepada sesama.

Kalau selama ini para penulis surat pembaca ibarat tali pusarnya, umbilical cord, selalu tersambung kepada media massa cetak, maka kehadiran blog mampu membuat penulis-penulis surat pembaca memutus tali pusar tersebut. Ibarat bayi, terputusnya tali pusar tersebut merupakan prasyarat untuk menuju kedewasaan, kemandirian dan kemerdekaan.

Wartawati Deborah Branscum (Newsweek, 12/3/2001 : hal. 53) telah mengutip pendapat Dave Wiener tentang blog. Wiener adalah seorang veteran entrepreneur Lembah Silikon dan pendiri perusahaan peranti lunak Userland Software yang mengutak-atik situs blog Scripting.com miliknya sejak 1997.

Wiener mengibaratkan, blog baginya merupakan suatu perang suci. Katanya, saya tertarik menciptakan bentuk jurnalisme baru. Saya tidak mempercayai sumber-sumber media, seperti jaringan televisi dan majalah-majalah. Kita butuh memperoleh kesadaran sebagai sebuah masyarakat dan salah satu cara terbaik untuk hal penting tersebut kita harus mulai bicara dan juga mendengar. Kini terdapat 6 milyar penghuni dunia dan bila mereka semua memiliki blog, dunia bakal menjadi lebih baik karenanya.

Di tahun 1970-an duo legendaris Simon & Garfunkel dalam lagu “Sound of Silence” tergurat lirik menarik, berbunyi : the words of the prophets are written on the subway walls. Nubuat para nabi-nabi tertulis di tembok-tembok stasiun trem bawah tanah.

Siapa tahu, di era blog dewasa ini, akan ada penyanyi lain yang menggubah lagu dengan lirik baru, tentang nubuat nabi-nabi yang tertulis dalam kolom-kolom surat pembaca. Juga pada situs-situs blog masa kini.

Siapkah koran-koran kita segera merealisasikan praksis jurnalisme warga yang menggairahkan itu ? Kalau siap, usul saya : urusi dulu baik-baik para penulis surat pembaca koran Anda. Karena merekalah pionir dan praktisi jurnalisme warga !


*) Artikel ini merupakan makalah untuk diajukan dalam Seminar Nasional mengenai “Jurnalisme Warga : Ancaman Bagi Media Massa?” yang diselenggarkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Visi FISIP UNS, di Kampus UNS Sebelas Maret, 28 Februari 2008.


Wonogiri, 30 Januari 2008


ee