Showing posts with label wonogiri. Show all posts
Showing posts with label wonogiri. Show all posts

Sunday, January 30, 2011

Kompas Jawa Tengah,Epistoholik Indonesia dan Saya, 2004-2010

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 110/Januari 2011
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


"Surat kabar memiliki detak jantung."
Demikian tulis Mark Wolf ketika mengantar koran tempatnya bekerja, Rocky Mountain News, berhenti terbit di tahun 2009.

"Detak jantung ekonomi Rocky memang telah berhenti sekarang ini, tetapi detak jantung jiwanya akan bertahan sepanjang masa, pada orang-orang yang kita tolong, di dada mereka yang kita dorong, pada cerita-cerita yang kita kabarkan dan pada gambar-gambar yang kita sajikan," lanjutnya. Koran Rocky Mountain News itu berhenti terbit di usia 150 tahun.

Gambaran Mark Wolf itu sedikit banyak saya rasakan ketika mendengar kabar pada penghujung tahun lalu bahwa koran Kompas Jawa Tengah tidak bisa kita temui lagi di tahun 2011. Kabar buruk.

Itu kabar menyedihkan. Karena sebagai kaum epistoholik kami bakal kehilangan media untuk berekspresi, untuk beropini, untuk berkiprah menyuarakan keluh kesah atau pun kritik warga negara sebagai bagian dari kehidupan berdemokrasi.

Di bulan Januari 2011 ini detak jantung ekonomi Kompas Jawa Tengah memang telah berhenti. Apakah masih tersisa kenangan dan cerita keteladanan yang bisa digurat dari interaksi antara warga Epistoholik Indonesia, khususnya diri saya, dengan koran satu ini ?

[Kenangan akan berlanjut]


Wonogiri, 31/1/2011

ee

Tuesday, July 27, 2010

Anak Kecil Di Toko Permen Yang Menunggang Mesin Waktu

Warga Epistoholik Indonesia Di Tengah Jagongan Media Rakyat 2010 Yogyakarta-Bagian 1


Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 101/Juli 2010
Email : epistopress@gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia



"Episto ergo sum !"
Saya menulis surat pembaca karena saya ada !

Salam kebanggaan warga EI itu saya lantunkan ketika menutup talkshow "Memindahkan" Himalaya Dengan Surat Pembaca, Jumat, 23 Juli 2010 Malam.

Malam itu merupakan salah satu puncak kehormatan, yang datangnya serba tak terduga-duga, ketika komunitas EI kita diundang ikut berperanserta dalam acara Jagongan Media Rakyat 2010. Bertempat di Jogya National Museum, 22-25 Juli 2010, tempat yang dulunya merupakan kampus ASRI/ISI Yogyakarta.

Atmosfir Yogya segera merayapi sumsum-sumsum memori saya kembali. Tahun 1970-1972, saya bersekolah di sini. STM Negeri 2 Yogyakarta, di Jetis. Tahun-tahun sebelumnya, ketika masih duduk di bangku SD-SMP di Wonogiri, masa liburan adalah masa - masa bermain ke Yogya. Karena ayah saya, Kastanto Hendrowiharso, seorang prajurit TNI-AD, bertugas di Yogya, walau keluarganya masih tetap tinggal di Wonogiri.

Sebelum menutup dengan salam kita tadi, saya sempat menceritakan sebuah lagu, yang pertama kali juga saya dengar di Yogya ini. Melalui Radio Geronimo. Kalau tak salah tahun 1971. Saat itu Perang Vietnam masih berkecamuk. Di AS demontrans makin galak menuntut agar AS segera pergi dari negeri Paman Ho, karena sudah ribuan tentaranya tewas di sana. Protes-protes juga tergores dalam bentuk grafiti, di tembok-tembok kota dan tembok-tembok stasiun kereta api bawah tanah.

Suasana hati rakyat AS dan dunia yang gelisah itu telah dipotret oleh duo legendaris Simon & Garfunkel dalam lagu "Sound of Silence" (Suara Keheningan). Keduanya seolah memberi sasmita, dengan lirik yang indah : "The words of the prophets are written on the subway walls". Nubuat nabi-nabi tertulis di tembok-tembok stasiun trem bawah tanah.

Lalu saya timpali : "Siapa tahu, di era blog dan Internet dewasa ini, akan ada penyanyi lain yang menggubah lagu dengan lirik baru, tentang nubuat nabi-nabi yang tertulis dalam kolom-kolom surat pembaca. Juga pada situs-situs blog masa kini."

Saya memperoleh aplus untuk itu.

Aplus itu pasti juga untuk Anda, untuk semua warga EI, yang dalam keheningan tak berhenti mengguratkan suara-suara kebenaran.

Keajaiban dan fenomena goethendipity pun terjadi. Ini istilah dari pakar mind-mapping Tony Buzan yang menggabungkan antara ajaran Goethe ("Saat seseorang benar-benar melakukan sesuatu, maka takdir juga bergerak : Segala sesuatu terjadi untuk menolong saya, yang bila saya tidak melakukan sesuatu, maka itu tidak akan pernah terjadi") dengan kata serendipity, yaitu kemampuan menemukan sesuatu secara tidak disengaja ketika kita mencari sesuatu yang lain.

Tanggal 24 Juli 2010 malam, saya mengikuti diskusi bertopik "Mengelola Sumber Daya dan Pengetahuan bagi Organisasi Masyarakat Sipil." Menampilkan narasumber Idaman Andarmosoko (Pekerja Pengetahuan), Akhmad Nasir (Combine) dan Shita Laksmi (Hivos). Gara-gara diprovokasi oleh moderator, Yossy Suparyo, saya tampil sebagai penanya pertama dalam sesi itu.

Eksposure ini ternyata menghadirkan momen tak terduga. Ketika acara usai, seorang reporter radio Yogyakarta mengajak saya berbincang. Ajaibnya, ia ditemani seorang pemuda ramah, mengaku bernama Widiaji, alumnus UGM. Lalu Aji bercerita bahwa pada tahun 2002 dirinya merupakan bagian dari tim mahasiswa asal Yogyakarta yang memenangkan The Power of Dreams Contest-nya Honda (2002) di Jakarta. Sekadar info, saya juga memenangkan kontes yang sama untuk kategori peserta umum.

Widiaji, saat itu, tidak ikut dalam tim yang mempresentasikan impiannya dalam final di Jakarta. Timnya diwakili Ardian Permana dan Dular Budi Jatmiko. Sehingga saat itu, sesudah kemenangan mereka, perkenalan saya dengan Aji semata lewat email belaka. Malam itu, setelah delapan tahun, itulah kali pertama kita bertemu muka !

Sedang sang reporter ? Ia menjajaki kemungkinan saya sebagai pengisi acara dalam bincang-bincang tentang Epistoholik Indonesia kita, dua minggu mendatang. Reporter yang charming itu bernama Gracy Sondang Marpaung.

Dari Radio Geronimo !


Wonogiri, Klaten, Rebecca MacKinnon. Saya berangkat dari Wonogiri, 23/7, sekitar jam 14-an. Syukurlah, sebelum berangkat upaya saya "menyembuhkan" flash disk saya yang macet, berstatus write protected, lancar di Warnet Rion. Jadi saya bisa berangkat ke Jogya dengan ringan hati.

Sekedar info : bila flash disk itu macet, akibatnya tidak bisa digunakan untuk menyimpan data. Membuang data yang ada juga tak bisa. Bila parah, sekedar menampilkan isinya saja juga tidak bisa. Sebagai orang non-techie, saya tak tahu apa penyebabnya. Karena virus ?

Syukurlah, di bulan Maret 2010 yang lalu, dengan Google, saya menemukan "obat" untuk sakitnya flash disk saya itu. Silakan klik di sini. Lalu ikuti saja prosesnya. Insya Allah, solusi akan Anda temukan.

Flash disk yang bugar tersebut ternyata bermanfaat sekali ketika kita terjun di tengah pasar informasi yang dijajakan untuk berbagi pada beragam stan di perhelatan Jagongan Media Rakyat 2010 yang unik itu.

Berkumpul. Berbagi. Bergerak.

Dengan semboyan atau tagline yang menggugah itu, membuat spirit open source yang dikembangkan oleh penemu Linux, Linus Tolvalds, benar-benar menjadi roh yang hidup di tengah-tengah acara yang inspiratif tersebut.

Itu di Yogyakarta. Di kota saya, semangat untuk berbagi itu rupanya belum atau tidak tercermin ketika menengok kiri dan kanan jalan, saat bis yang saya tumpangi merayapi jalan raya Wonogiri-Solo, juga Solo-Yogyakarta. Saat ini di jalanan Wonogiri, dan juga di Klaten, mulai banyak dihiasi baliho-baliho besar yang memajang tampang dan janji-janji para calon bupati yang akan terjun dalam pemilihan umum kepala daerah bersangkutan.

Saya bergumam : baliho-baliho itu semangatnya seragam. Tidak mau berbagi. Sekaligus mencerminkan si kandidat sebagai tokoh yang tidak (mau) tersentuh. Terkait hal itu saya pernah menulis surat pembaca di Kompas Jawa Tengah (19/5/2010) tentang baliho-baliho sarat sikap arogansi itu. Berjudul "Pilkada, Google dan Wonogiri."

Petikan isinya : "Jual tampang dan jual gelar-gelar akademis merupakan pemandangan biasa menjelang Pilkada. Saksikan saja isi media kampanye para kandidat yang bertebaran di pinggir jalan raya, di mana di Wonogiri hal serupa mulai terjadi.

Tetapi kebanyakaan modus kampanye mereka bergaya sok artis, sok terkenal, dan selfish, mementingkan diri sendiri, karena tidak membuka peluang dialog dengan konstituen. Tak ada data nomor telepon/HP, email, blog/situs yang bisa mengundang konstituen untuk berinteraksi. Para kandidat pemimpin daerah di Wonogiri nampaknya belum terbuka cakrawalanya untuk memanfaatkan teknologi informasi secara semestinya."

Memanfaatkannya pun masih dengan pola pikir lama. Pagi itu, tiba-tiba sebuah SMS kampanye masuk ke HP saya. Saya tidak tahu bagaimana nomor saya bisa masuk dalam jangkauan si pengirim. Bunyi SMS tim sukses calon yang memperoleh nomor 3 itu sebagai berikut :

"Ingin perubahan ? Lakukan n pengaruhi keluarga, tetangga, handai taulan, n siapa pun termasuk para olahragawan, pemerhati olahraga, pelatih, pemerhati pendidikan, pemerhati kesehatan, pemerhati anak-anak, pejabat, buruh, kuli panggul, sopir, kernet, petani, peternak sampai rakyat profesi apapun utk ingat n coblos MUDY…(mulyadi-edy) : no 1 buka kartu no 2 lht gambarnya ben ora kliru no 3 dicoblos no 4 dilipat trus mskkan kotak suara. Gampang tho. Insya Allah upaya panj semua berkah. Amin." (23 Juli 2010 : 07.03.07).

SMS itu saya balas. "Agar kampanye Anda sukses, saya usulkan : 1. Jangan mengirimkan SMS yang isinya menyuruh-nyuruh orang, 2. Kirimkan SMS yang relevan dengan mindset para penerima dan tidak hanya sekali, dan 3. Ikuti nasehat pakar pemasaran digital Seth Godin yang memiliki formula mengubah orang asing menjadi kenalan, kenalan menjadi teman, dan teman menjadi pengikut."

Produk atau layanan teknologi informasi masa kini merupakan media ideal untuk berkampanye, asal dilandasi semangat yang tulus untuk berbagi. Karena karakter media digital adalah interaktif dan egaliter. Sungguh merupakan strategi yang mencerdaskan bila para kandidat itu tidak menganggap konstituen hanya sebagai botol kosong yang boleh mereka isi dengan citra atau janji muluk-muluk kampanye yang mereka tulis di baliho-baliho, spanduk sampai stiker mereka itu

Melainkan, secara legawa dan bersemangat mendaulat para konstituen untuk berbicara balik kepada dirinya. Baik lewat surat, faks, email, telepon, SMS sampai ke bentuk penulisan surat-surat pembaca. Lalu, para kandidat mencerna semua aspirasi itu, kemudian membalasnya, mendiskusikannya secara bersama.

Surat pembaca saya lainnya, berjudul "Caleg Tidak Mendengar" di harian Kompas Jawa Tengah (20/3/2009) membahas lebih lanjut akan hal itu. Selengkapnya berbunyi :

"Hai rakyat, dengarkanlah dan ikuti kata-kataku. Percayai janji-janjiku, dan pilihlah aku. Begitulah inti pesan dari berderet papan peraga kampanye para caleg yang bertebaran di jalanan. Mereka seolah berada di atas, mengira rakyat itu bodoh dan mudah mengikuti apa saja kata mereka.

Persepsi itu salah besar. Mereka harusnya mau belajar dari ujaran Rebbeca MacKinnon, seorang blogger dan peneliti di Universitas Harvard yang mantan wartawan CNN di Beijing dan Tokyo.

Ia bilang, seseorang lebih mampu menyerap dan mengelaborasi kembali informasi secara lebih mendalam bila yang bersangkutan dilibatkan dalam diskusi mengenai materi tersebut. Bahkan mereka memiliki pemahaman lebih mendalam lagi bila dirinya mampu menuliskan opini tentang hal bersangkutan di ruangan publik.

Untuk mensosialisasikan pemilu dan individu caleg bersangkutan, kalau saja saya seorang birokrat KPU/KPUD atau caleg dan birokrat partai, akan saya ajari rakyat untuk menulis di beragam media. Baik artikel atau surat-surat pembaca di media massa, atau pun di blog-blog di Internet. Termasuk membebaskan mereka untuk menuliskan kritik untuk para caleg bersangkutan.

Dengan demikian maka papan peraga kampanye di jalanan itu bukan sebagai media indoktrinasi, searah, yang membodohi rakyat. Tetapi lebih merupakan undangan awal bahwa caleg bersangkutan bersedia membuka telinga untuk mendengar aspirasi rakyat."

Saya bersemangat berangkat ke Yogya, antara lain untuk berupaya mengampanyekan bagaimana kolom surat-surat pembaca dapat didaulat sebagai media rakyat untuk berbicara. Ternyata, di tengah perhelatan Jagongan Media Rakyat 2010 itu mata saya semakin terbuka terhadap kehadiran beragam media lainnya sebagai sarana rakyat untuk berbicara. Terjun di tengah keragaman itu maka rasanya petualangan seorang anak kecil yang kecebur di tengah-tengah toko permen,merangsang untuk segera dimulai !


(Bersambung)


Wonogiri, 26-27/7/2010

ee

Tuesday, July 20, 2010

Perpustakaan Sampah

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 99/Juli 2010
Email : epistopress@gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


Di kolom surat pembaca sering termuat aktivitas sekelompok mahasiswa yang sedang melakukan kuliah kerja nyata (KKN) yang berniat membangun perpustakaan di desa tempat mereka mengabdikan diri. Untuk niatan itu, mereka kemudian meminta sumbangan bahan-bahan pustaka.

Ide dan niat itu sungguh mulia.

Tetapi sering mereka lupakan, bahwa perpustakaan buatan mereka itu harus terus tumbuh, bahkan ketika mereka selesai melangsungkan KKN itu. Bahan-bahan pustaka yang terbatas, hanya itu-itu saja dan tak ada yang baru, justru akan mematikan minat warga untuk membaca.

Salah satu cara membuat perpustakaan bertumbuh adalah menjamin adanya aliran dana untuk membeli buku-buku baru. Bagaimana bila dana itu dicoba dihasilkan melalui penjualan sampah-sampah di desa bersangkutan ?

Kita dapat belajar dari solusi kreatif yang muncul dari gerakan akar rumput di Dusun Badegan, Trirenggo, Bantul, Yogyakarta. Berawal dari kesadaran individu, warga mulai mengumpulkan sampah di rumahnya.

Sampah tersebut lalu disetorkan ke Bengkel Kerja Kesehatan Lingkungan (foto) atau yang kini lebih dikenal dengan nama Bank Sampah Gemah Ripah yang dipelopori oleh Bambang Suwerda.

Di tempat ini sampah ditimbang, dicatat dan kemudian harganya ditentukan ketika sampah tersebut dibeli oleh pengepul sampah. Disinilah letak fungsi bank karena pencairannya kepada warga dilakukan setiap tiga bulan sekali.

Ternyata, jika sampah dikelola dengan baik bisa mendatangkan manfaat, membawa berkah bagi warganya. Perpustakaan desa yang dibangun dari hasil sampah pun, kiranya pantas pula untuk kita coba.


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia
Wonogiri 57612

*)Surat pembaca ini dengan penyuntingan telah dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, Senin, 19 Juli 2010 : Halaman D.

Friday, June 25, 2010

Sepak Bola Dalam Surat Pembaca 2006-2010

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 97/Juni 2010
Email : epistopress@gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


"Splendid Entrepreneur"
Dikirimkan ke Harian Kompas Jawa Tengah, 25/6/2010


Sebagian wilayah Wonogiri, termasuk kotanya, tergolong sebagai area blank spot. Alias area yang tidak terjangkau siaran televisi. Utamanya karena topografinya yang terkepung gunung. Kondisi kronis semacam ini nampaknya tidak pernah menjadi perhatian serius pemerintah kabupaten setempat, boleh jadi karena warga sudah menemukan solusinya sendiri. Yaitu dengan menggunakan jasa operator televisi kabel.

Operator semacam ini ini oleh bos media raksasa Rupert Murdoch ia sebut sebagai splendid entrepreneur. Seperti diceritakan di majalah Business Week (edisi "The Technology Paradox," 6/3/1995) saat siaran televisi satelitnya Star TV dicuri oleh penduduk di India dan dijual kembali melalui jaringan kabel, Murdoch justru membiarkan hal itu.

Para pencuri siarannya tersebut justru ia sebut sebagai wiraswastawan yang cerdas, splendid entrepreneur. Karena dengan semakin meluasnya jangkauan siaran bagi Star TV membuka peluang Murdoch untuk menaikkan biaya pemasangan iklan di stasiunnya tersebut.

Kiat cerdas Murdoch itu di dalam negeri ini justru disingkiri oleh stasiun televisi RCTI, GlobalTV dan Trans7, yang masing-masing memiliki hak eksklusif menyiarkan Piala Dunia Sepakbola 2010 dan Turnamen Bulutangkis Indonesia Terbuka 2010. Karena untuk acara sepakbola dan bulutangkis pada pelbagai stasiun itu telah dilakukan pengacakan, yang membuat kami di daerah blank spot ini tidak bisa menonton acara olahraga penting tersebut.

Bisakah pelbagai stasiun televisi tersebut segera membangun stasiun penguat di sekitar Wonogiri sehingga membuka akses warga kota kami untuk bisa nonton siaran olahraga kelas dunia yang mereka pancarkan ?

Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia

Artikel terkait : Ora Nonton Piala Dunia, Ora Pateken !.

Sepak Bola Kita
Dimuat di Harian Suara Merdeka, Sabtu, 29 Desember 2007 : L


Novelis, dramawan dan esais Perancis Albert Camus (1913-1960) pernah berujar bahwa sepanjang keyakinannya mengenai moralitas dan tanggung jawab, ia berhutang dari sepakbola. Umpama dirinya sekarang masih hidup dan melihat drama yang terjadi di organisasi sepakbola Indonesia, PSSI, mungkin ia akan mati mendadak.

Kita lihat, ketua umumnya Nurdin Halid harus masuk penjara tersangkut perkara korupsi. Kemudian badan tertinggi sepakbola dunia FIFA memerintahkan dilakukan pemilihan ulang ketua umum. Tetapi kalangan petinggi PSSI itu justru ramai-ramai ingkar demi mempertahankan kursi ketua umumnya itu. Kalau sudah begini, dimana moral dan tanggung jawab dari roh sepakbola itu di mata mereka ?

Dalam kemelut yang menyedihkan dari wajah sepakbola kita, di mana pula suara suporter sepakbola Indonesia ? Di antara ratusan ribu atau bahkan jutaan penggila bola di tanah air itu apa benar-benar tidak ada sosok yang cerdas, punya nurani, punya moral dan juga aksi yang bertanggung jawab untuk ikut menyelamatkan sepak bola Indonesia ?

Jock Stein pernah bilang, sepak bola itu omong kosong apabila tanpa suporter. Maka sepak bola Indonesia juga hanya omong kosong apabila para suporter kita di tengah melambungnya arogansi petinggi PSSI yang melecehkan moral dan tanggung jawab itu, memutuskan sepakat untuk libur sementara waktu dalam menonton semua pertandingan sepakbola Indonesia !


Bambang Haryanto
Wonogiri 57612


Moral Sepak Bola
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, Kamis, 8 November 2007 : D.


Novelis, dramawan dan esais Perancis Albert Camus (1913-1960) pernah berujar bahwa sepanjang keyakinannya mengenai moralitas dan tanggung jawab ia merasa berhutang dari sepakbola. Umpama dirinya sekarang masih hidup dan melihat drama yang terjadi di organisasi sepakbola Indonesia, PSSI, mungkin ia akan mati mendadak.

Kita lihat, ketua umumnya Nurdin Halid harus masuk penjara tersangkut perkara korupsi. Kemudian badan tertinggi sepakbola dunia FIFA memerintahkan dilakukan pemilihan ulang ketua umum. Tetapi kalangan petinggi PSSI itu ramai-ramai ingkar demi mempertahankan kursi ketua umumnya itu. Kalau sudah begini, dimana moral dan tanggung jawab dari roh sepakbola itu di mata mereka ?

Dalam kemelut yang menyedihkan dari wajah sepakbola kita, di mana suara suporter sepakbola Indonesia ? Di antara ratusan ribu atau bahkan jutaan penggila bola di tanah air itu apa benar-benar tidak ada sosok yang cerdas, punya nurani, punya moral dan juga aksi yang bertanggung jawab untuk ikut menyelamatkan sepak bola Indonesia ?

Jock Stein pernah bilang, sepak bola itu omong kosong apabila tanpa suporter. Maka sepak bola Indonesia juga hanya omong kosong apabila para suporter kita untuk sementara ini, di tengah melambungnya sikap arogansi petinggi PSSI yang melecehkan moral dan tanggung jawab itu, memutuskan sepakat untuk libur sementara waktu dalam menonton semua pertandingan sepakbola Indonesia !


Bambang Haryanto
Pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli (2000)
Warga Epistoholik Indonesia


PSSI, Organisasi Narkoba
Dikirimkan ke Harian Kompas Jawa Tengah, 16 September 2007


Nurdin Halid, Ketua Umum PSSI dan politisi Golkar yang terlibat perkara korupsi minyak goring, kembali harus masuk bui lagi. Lucunya, banyak petinggi PSSI beranggapan kasus hukum yang melilit Nurdin Halid itu merupakan bagian terpisah dari kedudukannya sebagai ketua umum organisasi pengelola sepakbola di Indonesia. Dengan demikian, dirinya tetap saja sah untuk tetap menduduki jabatan sebagai Ketua Umum PSSI walau yang bersangkutan berada di balik jeruji penjara.

Alasan hukum di atas itu menjadi kontroversial. Walau pun secara hukum mungkin benar, tetapi secara moral bangsa dan negara ini sungguh menjadi tercoreng martabatnya di muka dunia karena PSSI kita dipimpin seorang terpidana yang berada di dalam penjara.

Kita bisa bercermin dari fakta yang sering kita temui, jalan organisasi semacam itu banyak dilakoni oleh organisasi sindikat pengedar narkoba. Bisnis benda haram dan merusak itu tetap bisa berjalan karena dimungkinkan terus dikendalikan para bos yang walau meringkuk di penjara, tetapi tetap saja hidup mewah, serta memiliki akses untuk mengatur para anak buahnya.

Itukah wajah organisasi PSSI kita selama Nurdin Halid masuk penjara ? Kita para pencinta sepakbola, para suporter, apa hanya bisa diam dan pasrah melihat situasi yang begitu menyedihkan terjadi dalam organisasi sepakbola kita ? Mana suaramu dan aksimu, bung ?


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia


Citra Suporter Sepakbola Kita
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, Rabu, 11 Juli 2007

Piala Dunia 2002 Korea-Jepang memunculkan sejarah ketika tim Korea Selatan mampu masuk semifinal. Di luar lapangan pun, kehadiran suporter mereka yang berjulukan Red Devil atau Setan Merah tak kalah dahsyat. Mereka mendukung timnasnya dengan dinamis dan sportif, memerahkan kota Seoul, sekaligus secara ksatria menerima kekalahan ketika Song Chong-gug dkk takluk dari tim Jerman. Sportivitas tinggi itu mereka wujudkan dengan tiadanya kerusuhan.

Para suporter tim Korea Selatan itu, konon 5.000 orang kini juga hadir di Jakarta, guna mendukung timnasnya bertanding dalam Piala Asia 2007. Tetapi dikabarkan mereka memutuskan untuk tidak datang ke Stadion Gelora Bung Karno (18/7) saat timnas mereka berlaga melawan timnas Indonesia. Mereka sengaja "menghindari" bertemu suporter Indonesia. Alasannya, tidak lain, karena mereka telah mendengar reputasi negatif dari suporter sepakbola Indonesia selama ini.

Realitas tersebut merupakan cermin, sekaligus tamparan bagi suporter sepakbola kita. Kalau sudah begini, kemana wajah kita dan citra kita yang begitu suram itu hendak kita sembunyikan ?

Bambang Haryanto
Pemegang Rekor Muri Sebagai Pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli
Warga Epistoholik Indonesia


Nasib Sepakbola Plat Merah
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, Kamis, 8 Februari 2007


Tahun depan, mudah-mudahan peraturan yang melarang digunakannya anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk membiayai klub sepakbola benar-benar ditegakkan. [Sudah terlalu lama klub sepakbola menjadi objek bisnis, baik yang bermotifkan uang, pengaruh mau pun kepentingan politik birokrat daerah setempat yang lajimnya tampil sebagai ketua umum. Sementara anak atau pun menantu, menjadi manajernya. Secara faktual, pembinaan semacam terbukti juga tidak memberikan andil apa-apa terhadap prestasi persepakbolaan nasional dalam belasan tahun terakhir.- diedit oleh redaksi].

Selamat tinggal sepakbola plat merah. Pola pencarian beaya model-model birokrat, harus pula diakhiri. Pencarian dana sepakbola selama ini, kalau tidak menyusu kepada APBD, yang tanpa transparansi dan akuntabilitas, pastilah gagasan yang dangkal, dengan konsekuensi pasti membebani rakyat banyak. Gagasan seperti itu muncul di kota Solo yang mewacanakan pungutan bagi semua warga. Pungutan itu akan disatukan saat penarikan rekening listrik dan air.

Kini tiba saatnya sepakbola dikelola secara profesional, sebagai bisnis. Kalau daerah atau pun pengelolanya tidak mampu, sebagai konsekuensi logis dan berdasar seleksi alamiah, maka klub bersangkutan harus dilikuidasi. Tantangan baru ini semoga justru memacu otak-otak brilyan untuk tampil ke depan, menggali solusi-solusi baru dan revolusioner yang tidak membebani rakyat.

Inovasi itu pasti ada, tetapi saat ini sulit terjangkau oleh mereka yang pola pikirnya selalu berpendekatan dari kacamata birokrat.


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia



Useful Idiot
Dikirimkan ke Harian Kompas Jawa Tengah, 5 Oktober 2006


Sepakbola "plat merah" di Indonesia terus ramai digugat. Tim-tim itu hanya bisa menyusu anggaran pemerintah, hidup-matinya pun berada di tangan dan minat sang birokrat. Tak ayal, silakan mendata berapa banyak pimpinan daerah yang menjadi ketua umumnya, sementara anak atau menantu menjadi manajer tim bersangkutan. KKN yang nyata-nyata di depan mata itu, dengan segenap efek sampingnya, sayangnya justru jauh dari sorotan kritis kalangan suporter sepakbola.

Di Inggris dikenal The National Federation of Football Supporters' Clubs (NFFSC), organisasi independen kelompok suporter yang didirikan 3 September 1927. Filosofi NFFSC bersikukuh bahwa suporter harus mampu membentuk organisasinya sendiri sebagai kelompok sukarela, independen dan demokratis, dengan satu-satunya interes adalah dukungan bagi keberhasilan tim yang mereka dukung dengan sepenuh hati. Independensi ini membuat mereka mampu kritis, dan kalau perlu harus menentang perilaku eksekutif sepakbola yang korup.

Di Indonesia, kelompok suporter suka lucu. Mereka tidak mampu menjadi independen, kadang ikut "menyusu" kepada tim yang didukung. Sekadar contoh, menjelang putaran Babak 8 Besar Liga Indonesia 2006, kelompok suporter di kota-kota Jawa Tengah dimobilisasikan guna membentuk organisasi kekerabatan. Salah satu misinya mendukung tim PSIS (Semarang), yang wakil Jawa Tengah, agar mampu meraih juara. Kemudian dipilihlah ketuanya, Yoyok Sukawi, anak walikota Semarang dan manajer PSIS Semarang.

Bagi saya, dari contoh di atas, suporter sepakbola Indonesia pantas disebut sebagai useful idiot, sosok-sosok naif yang mudah dimanfaatkan, mudah dimanipulasi, sehingga tidak mampu kritis terhadap jalannya pengelolaan tim-tim yang mereka dukung. Terutama menyangkut akuntabilitas penggunaan uang rakyat yang bermilyar-milyar dibandingkan dengan manfaatnya secara nasional. Sampai kapan hal menyedihkan ini berlangsung ? Ayo suporter Indonesia, bangkitkan intelektualitasmu, asah ketajaman daya kritismu !


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia


Republik Suporter Sepakbola
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, Kamis, 21 Desember 2006


"Sepakbola merupakan salah satu aktivitas yang paling mampu mempersatukan umat manusia," demikian pendapat Nelson Mandela. Di tengah mabuk dan demam Piala Dunia 2006 saat ini, tentulah pendapat pejuang kemanusiaan asal Afrika Selatan yang sering berpakaian batik itu tentu tak bisa dipungkiri kebenarannya.

Tetapi di Indonesia, muncul gambar lain. Setiap kali mengamati siaran langsung pertandingan sepakbola lokal melalui televisi, saya mencatat spanduk-spanduk suporter sepakbola yang "memproklamasikan" kelompok mereka dengan sebutan republik. Hitung saja berapa banyak "negara suporter" yang mendukung timnya di divisi utama, divisi satu dan dua, yang ada di negara kesatuan RI ini.

Memproklamasikan kelompok suporternya dengan sebutan semacam itu mungkin bermaksud sebagai lelucon. Tetapi mungkin juga tidak. Apalagi bila dikaitkan dengan militansi buta kelompok-kelompok suporter di Tanah Air selama ini, terutama fenomena tawuran antarmereka, yang selalu merambah fihak-fihak lain di luar stadion pertandingan. Baik sebagai pelaku kerusuhan atau pun sebagai korban. Betapa mengerikan bahwa tawuran antarmereka kini telah diberi label baru, ibaratnya sebagai perang antar negara !

Fenomena maraknya label republik suporter dan potensinya yang semakin memicu sengitnya perang antarmereka, mengingatkan saya akan tesisnya Nicholas Negroponte tentang negara bangsa. Menurutnya, negara bangsa itu ibarat kapur barus, dari benda padat yang segera tergerus habis menjadi uap. Timor Leste yang kecil itu saja kini terbelah menjadi dua.

Lalu, bagaimana Indonesia kita ? Terserah kita. Melalui sepakbola kita bisa meneladani ucapan Nelson Mandela atau melalui sepakbola pula bisa kita tanamkan embrio militansi sampai fanatisme buta sehingga mampu menjurus kepada terpecah-belahnya bangsa ini pula.

Selamat nonton Piala Dunia 2006 dan jangan lupa, untuk memikirkan masa depan bangsa dan negara tercinta ini pula.


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia


Sepakbola Orang Jawa
Dikirimkan ke Harian Kompas Jawa Tengah, Rabu, 22 Maret 2006

Untuk mengetahui jati diri orang Jawa yang mutakhir, menontonlah sepakbola. Kerusuhan dan amuk massa yang terjadi di Jepara (12/3) antara suporter PSIS Semarang melawan suporter Persijap Jepara, hingga bereskalasi dengan aksi sweeping dan perusakan kendaraan, merupakan potret jelas pribadi orang Jawa masa kini.

Kalau menurut budayawan Darmanto Jatman, amuk massa dan tawuran di gelanggang yang seharusnya beratmosfir tingkah laku dan semangat menjunjung tinggi sportivitas, adalah sikap pengingkaran orang Jawa yang suka damai (Kompas, 23/1/2006 : 12).

Bentrok suporter Semarang vs. Jepara, bukan hanya terjadi kali ini. Maka tak ayal bila fihak manajemen PSIS berniat meminta PSSI agar di musim-musim mendatang kedua tim itu dipisahkan dalam wilayah yang berbeda. Pilihan yang nampak logis, tetapi sebenarnya ibarat hanya menyapu kotoran ke bawah karpet. Persoalan intinya tidak terpecahkan. Belum lagi ancaman tindak amuk orang Jawa di ajang sepakbola juga berpotensi meledak di pelbagai kota di Jawa Tengah lainnya.

Sebagai suporter sepakbola, sekadar contoh, saya bisa membuka arsip perseteruan antarsuporter. Misalnya Semarang vs Solo, Solo vs Yogya, Yogya vs Semarang, Sleman vs Yogya, sampai Solo yang tidak tak begitu akur banget sama Jepara. Belum lagi Bantul, yang seperti Solo kini lagi berjuang di Divisi I yang bisa memanaskan persaingan dengan Sleman atau Yogya bila kelak sama-sama hadir di divisi utama.

Masalah di atas kelak bakal tak bisa diselesaikan dengan hanya memisahkan wilayah kompetisi. Itu solusi yang bersifat menghindar. Bersifat sementara. Mungkin itu pula solusi khas orang Jawa, di mana kita selalu berfilsafat wegah rame, menghindari konflik, pada hal sepakbola adalah konflik. Kita lebih suka memilih solusi semu, menyimpan bara yang pasti kelak akan kembali meledak !


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia



Suporter Hilang Akal
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, Jumat, 10 Maret 2006

Sebagai suporter sepakbola, saya merasakan kehilangan akal sehat sebagai makanan wajib sehari-hari. Sebagai suporter, kita selalu beranggapan bahwa tim yang kita bela selalu benar. Semua keputusan wasit, walau menurut aturan benar tetapi merugikan tim kita, akan selalu pula kita anggap sebagai keputusan yang tidak benar.

Sebagai suporter sepakbola yang lebur dalam keriuhan orang yang seragamnya sama dengan diri kita, memang sangat mudah membakar emosi kita. Dalam kerumunan itu akal sehat dan logika mengalami erosi berat. Gerak-gerik pemain tim lawan atau ulah suporter tim lawan, yang remeh-temeh tetapi bila kita rasakan sebagai tindak penghinaan, mudah menyulut kemarahan.

Kerumunan orang memang punya hukum sendiri. Tewasnya puluhan orang akibat terinjak-injak di stadion Manila ketika hendak ambil karcis gratis mengikuti acara televisi, berkali-kali tragedi lempar jumrah di Mina, peristiwa penjarahan toko ketika Peristiwa Mei 1998, ibu-ibu miskin yang meninggal ketika antrian pembagian beras zakat atau uang kompensasi BBM, sampai sekaratnya polisi Perancis Daniel Nivel yang dikeroyok brandal sepakbola Jerman di Piala Dunia 1998, adalah sekadar contoh.

Mari kita mengambil hikmah. Apa pun latar belakang status pekerjaan Anda, pendidikan Anda, bahkan kesalehan Anda sebagai umat beragama yang ditandai dengan simbol pakaian sampai penutup kepala, semua itu mudah sirna apabila Anda tak mampu mengekang diri kuat-kuat ketika lebur dalam kerumunan.

Saya sebagai suporter sepakbola bolehlah hilang akal sehat saat di stadion saja. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, dengan peran sebagai kaum epistoholik yang getol menulis surat-surat pembaca semacam ini, dalam kesendirian harus berusaha memelihara logika, akal sehat, dan berjuang untuk tidak terpengaruh dogma-dogma. Upaya yang juga tidak mudah.

Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia


Wonogiri, 25 Juni 2010

ee

Tuesday, May 25, 2010

Gesang, Jejaring Sosial dan Dana Megawati

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 96/Mei 2010
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia



Saya punya kebiasaan jelek.
Tidak rajin menonton televisi.
Jadi seringkali banyak ketinggalan berita.

Hari Jumat 22 Mei 2010 lalu, ketika diundang Republik Aeng-Aeng untuk ke Solo guna menonton konser pelajar di rumahnya maestro keroncong Gesang, saya tidak ngeh tentang apa yang terjadi. Baru ketika naik bis dan penjaja koran menawarkan koran JogloSemar yang diobral seribuan, saya baru tahu dari tajuk beritanya bahwa Gesang telah meninggal dunia.

Jadi perjalanan saya ini adalah perjalanan layatan. Sayang, bis Raya yang saya tumpangi mengalami gangguan kopling menjelang Nguter. Menunggu, dan lalu harus ganti bis Ismo, membuat saya terlambat tiba di rumah Gesang.

Acara pun telah usai. Para kerabat dan hansip kampung membenahi kursi-kursi. Para pelajar yang bernyanyi, sudah tak ada lagi. Saya hanya bertukar senyum dengan seorang pria berwajah Jepang yang sedang memotret-motret ruang tamu maestro keroncong itu.

Sudah telanjur sampai di Solo, saya memutuskan dari Kemlayan itu untuk jalan kaki ke Toko Buku Gramedia. Di deretan buku-buku baru saya takjub menemukan bukunya Nicholas Christakis dan James H. Fowler, Connected : Dahsyatnya Kekuatan Jejaring Sosial Mengubah Hidup Kita/" (Gramedia, Mei 2010). Sebuah serendipity yang menyenangkan.

Takjub karena pada tanggal 13 Mei 2010 lalu saya telah mengakses tayangan video Nicholas Christakis ketika berbicara dalam forum konferensi TED (Technology, Entertainment, Design).

Forum TED ini cikal-bakalnya digagas oleh Richard Saur Wurman dan pernah diliput oleh majalah Fortune tahun 1980-an. Dari liputan itu saya lalu menyontek istilah intellectual hedonist yang kemudian saya pakai untuk label atau brand diri sendiri. Termasuk untuk deskripsi diri pada akun FB saya ini. Label itu saya pakai sebagai tabir atau bom asap bagi kondisi nyata diri saya selama ini, sebagai seorang pengangguran.

Organisasi nirlaba ini punya slogan jenial : ideas worth spreading. Klik. Sebagai seseorang yang suka bergulat dan berkebun gagasan, saya pun memutuskan bergabung sebagai warga jaringan global untuk forum ini sejak bulan Juli 2009. Walau kebanyakan masih sebagai seorang lurker belaka.

Kembali ke buku Connected tadi. Dalam forum TED itu Nicholas Christakis, yang profesor di Universitas Harvard itu, bertutur terkait pengalamannya sebagai dokter yang mengurusi pasien yang menjelang ajal dan juga para keluarganya, sekitar 15 tahun lalu di Universitas Chicago.

Ia mengkaji apa yang disebut sebagai widower effect, menurutnya sebagai gagasan lama dalam ilmu-ilmu sosial sejak 150 tahun lalu, yang dikenal sebagai kondsi "kematian akibat patah hati." Ia bilang, kalau saya meninggal dunia, resiko yang sama menjadi berganda untuk istri saya dalam tahun pertama.

Ia lalu merujuk contoh pasien yang sakaratul maut akibat sakit pikun, yang dirawat oleh putrinya. Si anak itu mengalami kelelahan, jasmani and rohani, karenanya. Suami sang anak itu kemudian juga ikut tertular sakit istrinya. Nicholas Christakis, lanjut cerita, pernah menerima telepon dari teman sang suami tadi, bahwa dirinya ikut terimbas penderitaan depresi yang diderita kawannya itu. Ia pun secara acak menelpon rekan sang suami itu, dan dalam fase tertentu teman-teman itu juga mengalami depresi serupa.

Ujar Nicholas bahwa dirinya memperoleh dua fakta nyata. Pertama, efek kehilangan suami/istri itu tidak hanya mendera suami atau istri yang kehilangan itu. Yang kedua, hal itu ternyata juga tidak hanya terbatas pada pasangan beberapa orang dekat, tetapi terus melebar sampai ke lingkaran pergaulan selanjutnya. "Koneksi-koneksi itu begitu luas, dan kita semua melengket pada jaringan hubungan satu dengan yang lain," simpulnya.

Ia pun memberi contoh lain : kalau Anda gemuk, teman-teman Anda pun akan kecenderungan "tertular" ikut gemuk pula. Demikian pula kebiasaan merokok, termasuk juga mengenai kebahagiaan. Malcolm Gladwell dalam bukunya The Tipping Point (2000) pernah menggaris bawahi realitas pentingnya lingkar pergaulan. Menurutnya, lebih baik anak berasal dari keluarga yang bobrok tetapi memiliki lingkar pertemanan yang baik, dibanding anak-anak berasal dari keluarga baik-baik tetapi terbenam dalam lingkaran pergaulan yang bobrok.

Buku itu juga menarik bagi kita para Facebookers. Kajiannya juga menunjukkan bahwa pola jejaring sosial di dunia maya (Internet) ternyata mirip dengan pola jejaring di dunia nyata. Jadi, setelah membaca buku ini Anda akan tahu bahwa Facebook bukan sekadar Facebook, tapi itu adalah duplikat pola jejaring soial kita di dunia nyata.

Terima kasih, Pak Nicholas.

Buku yang menggoda. Termasuk pula bukunya John Hagel III dkk., The Power of Pull: How Small Moves, Smartly Made, Can Set Big Things in Motion (2010). Godaan lain, tetapi bukan buku, melainkan perangkat keras USB Wifi. Sarana untuk akses Internet melalui hotspot yang beberapa hari ini sudah dinikmati oleh keponakan saya yang SD sampai lulusan SMA, Yasika, Yuko dan Yudhis, di rumah.

USB Wifi itu akan memberdayakan komputer tua saya sehingga dapat terkoneksi tanpa kabel dengan dunia maya. Di lantai bawah toko itu, tempat menjual periferal komputer, ternyata alat ini tidak saya temukan.


Komedi dan epistoholik. Dari toko buku Gramedia, saya mampir ke gedung sebelahnya. Studio Radio Ria FM, karena daya tarik baliho yang mewartakan adanya lomba lawak se-Solo Raya bulan Juni 2010 mendatang. Ngobrol dengan Mas YBF Embun Hendrojati, Station Manager. Saya yang ingin memperoleh informasi lebih detil tentang lomba lawak itu dan ingin saya pajang di blog Komedikus Erektus, ia justru meminta data email saya. Kartu nama pun saya berikan.

Ia selanjutnya banyak bercerita mengenai kiat mengintegrasikan acara radionya berupa kuis yang melibatkan pengunjung toko buku Gramedia di Solo. Ketika saya memberikan kartu nama saya, ia ingin tahu apa itu "epistoholik" yang tercantum di dalamnya. Sambil menjelaskan sekadarnya, saya juga merujuk isi surat pembaca saya yang dimuat di harian Kompas Jawa Tengah, Rabu, 19 Mei 2010 di bawah ini. Sayang, sampai hari ini email dia tentang lomba lawak radionya itu belum saya terima.


Pilkada, Google dan Wonogiri

Jual tampang dan jual gelar-gelar akademis merupakan pemandangan biasa menjelang Pilkada. Saksikan saja isi media kampanye para kandidat yang bertebaran di pinggir jalan raya, di mana di Wonogiri hal serupa mulai terjadi.

Tetapi kebanyakaan modus kampanye mereka bergaya sok artis, sok terkenal, dan selfish, mementingkan diri sendiri karena tidak membuka peluang dialog dengan konstituen. Tak ada data nomor telepon/HP, email, blog/situs yang bisa mengundang konstituen untuk berinteraksi. Para kandidat pemimpin daerah di Wonogiri nampaknya belum terbuka cakrawalanya untuk memanfaatkan teknologi informasi secara semestinya.

Boleh jadi hal tersebut juga mewakili gambaran tentang tingkat ke-gaptek-an masyarakat Kota Gaplek ini, seperti tercermin dari hasil riset kecil-kecilan tanggal 15 Mei 2010. Melalui bantuan mesin pencari Google, saya masukkan nama-nama kabupaten di eks Karesidenan Surakarta.

Hasilnya : Klaten, 1, 32 juta lema/entri, Sragen, 947 ribu, Boyolali, 897 ribu, Karanganyar, 872 ribu, Sukoharjo, 870 ribu dan yang paling buncit, Wonogiri, 772 ribu lema. Tambahan, untuk Surakarta tersaji 2 juta lema.

Para calon bupati dan calon wakil bupati Wonogiri yang kelak akan terpilih, silakan saja Anda terus mengembangkan wayang, keris, batu karst, ketek ogleng, sampai campursari.

Tetapi mesin penggerak kemajuan sesuatu bangsa tetaplah kiprah karunia Allah yang demokratis dan berada di antara dua kuping masing-masing warga, dengan dibantu sarana imperatif dunia modern saat ini : teknologi informasi.


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia


Melepas Gesang. Acara berikutnya, meluncur ke Pendapi Gedhe, balairung dari Balai Kota Surakarta. Gedung sudah penuh sesak para pelayat yang ingin mengantar Gesang ke peristirahatannya yang terakhir, di TPU Pracimoloyo, Makamhaji, Sukoharjo. Selama upacara berlangsung, entah kenapa, juga tidak satu pun diperdengarkan lagu-lagu karya Gesang.

Di dekat keranda yang berbalut bendera Merah Putih, terdapat layar untuk memproyeksikan tayangan visual. Sarana itu hanya teronggok bisu. Mayor Haristanto menyeletuk : "Alangkah baiknya, saat menunggu upacara, di layar tersebut dapat ditayangkan klip-klip visual berupa biodata Gesang semasa hidupnya."

Saya pun membalas : "Jadi untuk upacara pemakaman seseorang tokoh harus melibatkan campur tangan EO (event organizer) ya ? Begitu sang tokoh bersangkutan sakit keras, maka sang EO segera meneken kontrak dan langsung bekerja mempersiapkan segala rupa untuk pemakamannya ?"

Upacara melepas jenazah Gesang pada hari Jumat siang itu dilakukan dengan upacara militer. Inspektur upacaranya adalah Walikota Solo, Joko Widodo.

gesang,bambang haryanto,ngarsopuro,24 mei 2010,mengenang jasa gesang,sd muhammadiyah 1 solo,tk primagama solo

Fast Forward : Senin, 24 Mei 2010. Hari ini saya ke Solo lagi. Menyaksikan anak-anak dan pelajar Solo melakukan kegiatan mengenang Gesang. Mereka itu adalah murid TK Primagama dan murid SD Muhammadiyah 1 Solo. Mereka menyanyikan lagu "Bengawan Solo," pembacaan puisi oleh Anni, musikalisasi puisi diiringi gesekan biola Intan dari SMA St. Yosef dan petikan gitar Agus S. Dhukun, dan juga cerita guru tentang keteladanan Gesang selama hidupnya.

Aktivitas itu berlangsung di Ngarsopuro, di depan lukisan Gesang yang terpampang di tembok pinggir jalan. Lukisan karya pelukis Sugeng Riyanto itu berjudul "Sang Maestro" (2009), berukuran 1,6 x 2,5 meter , dibuat dengan bahan cat besi di atas plat alumunium.

Setelah ikut mengantar barisan anak-anak itu mengunjungi rumahnya Gesang, saya ikut ke Nayu, ke studio Republik Aeng-Aeng. Ketika membaca-baca isi koran JogloSemar hari itu, terdapat berita yang membuat dahi rada berkerinyut.

Berita itu berjudul, "Megawati Hadiri Pemakaman Mertua Jokowi." Mertua Walikota Solo itu, bernama Ngadiyo (78), wafat pada hari Sabtu malam. Dimakamkan hari Minggu. Pada baris berita selanjutnya tertulis, "Istri almarhum, Hj. Sri Sunarni, telah meninggal dunia tanggal 28 September tahun lalu."

Apakah ini hanya kebetulan ?
Ataukah tesis Nicholas Christakis itu terbukti ?
Saya tidak tahu.

Tetapi terkait kehadiran Megawati dan putri mahkotanya, Puan Maharani di Solo dan sekitarnya, yang antara lain untuk berkampanye mendukung kadernya bertarung di Pilkada Sukoharjo (3/6/2010), terdapat kabar yang cukup menggelitik.

Hari Sabtu malam Megawati sempat mendatangi pasar malam tiban di Ngarsopuro. Ia dengan arahan Pak Jokowi menghampiri rombongan paduan suara UNS Sebelas Maret, Voca Erudita, yang lagi mengamen. Mereka mengamen guna menghimpun dana untuk membiayai tur mereka bulan Juni 2010 mendatang ke China. Lintang Rembulan, putrinya Mayor yang kini kuliah di jurusan Arsitektur, juga bergabung di dalamnya.

Saat itu, secara spontan, diceritakan bahwa mantan Presiden Republik Indonesia itu menyumbang Voca Erudita. Langsung dari dompetnya sebanyak 10 ribu dollar Amerika Serikat !

Sebagai penonton televisi yang jelek, apakah peristiwa ini sudah masuk sebagai berita atau tidak, saya benar-benar tidak tahu.


Wonogiri, 25 Mei 2010


ee

Monday, April 12, 2010

Harta Karun Tersembunyi Di Perpustakaan

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 94/April 2010
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia



Hari ini, apakah Anda memiliki kartu anggota perpustakaan ? Saya sama sekali tidak memiliki, walau dalam seminggu sebenarnya saya selalu mengunjungi 2-3 kali perpustakaan umum di Wonogiri.

Mengapa ? Karena dalam mengunjungi perpustakaan itu, tujuan utama saya adalah untuk membaca-baca 4 buah koran yang ada. Antara lain koran Kompas, Jawapos, Suara Merdeka dan Solopos. Sebelumnya ada tabloid BOLA, tetapi langganannya dihentikan. Majalahnya juga ada, Intisari dan juga Femina.. Di perpustakaan ini saya juga bisa membaca-baca bukunya Stephen R. Covey, ada pula puluhan buku-buku baru bertopik komputer dan Internet, sampai buku 90 Menit Mengenal Frank Kafka.

Mengenang masa jadul, pada tahun 1980-an saya memiliki beberapa kartu anggota perpustakaan. Selain perpustakaan jurusan, fakultas (FSUI), PDII-LIPI, Lembaga Indonesia-Amerika (LIA), , dan juga American Cultural Center (ACC). Kedua lembaga yang terakhir adalah tempat nongkrong favorit, karena belasan judul majalah-majalah terbitan Amerika Serikat yang top-top terpajang disana. Seperti Atlantic Monthly, Harvard Business Review sampai Psychology Today. Sayang, majalah gaya hidup digital seperti Wired saat itu belum ikut terpajang di rak majalah mereka.

Kepemilikan kartu anggota itu barangkali sebagai suatu kewajaran, bila merujuk fakta bahwa saya memang pernah berkuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Tetapi ijinkanlah saya mengaku dosa, bahwa begitu selesai saya tidak berminat untuk menjadi pustakawan. Akibatnya, boleh jadi, subsidi negara yang diberikan kepada saya saat berkuliah itu, menjadi sia-sia adanya.

Tetapi saya punya alasan tersendiri. Memang jauh dari kiprah gagah berani a la pustakawan Flynn Carsen dalam film The Librarian: Curse of the Judas Chalice (2008) yang memerangi pasukan drakula yang berkehendak menegakkan kembali kejayaan imperium Rusia, saya juga masih ingin hadir sebagai insan yang berguna.

Memang benar saya tidak tertarik menjadi pustakawan dalam arti sebagai petugas konservasi dan administrasi informasi (bahan pustaka), tetapi saya tertarik sebagai pustakawan yang berkiprah dalam aksi penyebarluasan informasi. Lewat pena. Termasuk melalui surat-surat pembaca. Sekarang lewat blog pula. Dan itulah yang saya kerjakan, hingga kini. Semoga dengan pengakuan itu membuat dosa-dosa saya kepada negara Republik Indonesia, kini bisa agak dikurangi.

Manfaat magis membaca. Sekarang, ketika saya tinggal di Wonogiri, jelas membuat kemewahan memperoleh akses informasi yang gratisan dan “mewah-mewah” di atas itu hanya tinggal kenangan. Tetapi syukurlah, dengan hadirnya Internet, kemewahan masa lalu yang hilang itu tak perlu lagi ditangisi. Justru dengan adanya Internet yang maha luas menyimpan khasanah informasi itu seringkali saya terpapar dengan informasi-informasi yang menarik secara serendipity, secara kebetulan yang menyenangkan.

Kabar terakhir yang menarik, saya peroleh dari Technorati. Antara lain berupa artikel dari Maggie Hoomes, berjudul ”Reading Activates Your Brain” yang inspiratif. Menurutnya, aktivitas membaca membuat lebih aktif bagian bahasa dalam otak kita. Percobaan untuk meningkatkan kemampuan membaca pada anak-anak penyandang disleksia terbukti menunjukkan adanya peningkatan aktivasi pada otak mereka.

Ilmuwan dari Universitas Carnegie Mellon menemukan bukti bahwa volume otak pada area bahasa seseorang mampu meningkat setelah partisipan memperoleh bimbingan membaca selama enam bulan. Hasil kajian itu menunjukkan betapa struktur otak dapat ditingkatkan melalui pelatihan bagi mereka yang lemah membaca untuk menjadi pembaca yang lebih baik.

Bagi Anda dan saya yang sudah setengah umur ini, hasil penelitian yang diselenggarakan oleh Klinik Mayo (2009) bertajuk kajian mengenai penuaan memberi kabar bagus. Menurut kajian itu, membaca buku dan aktif dalam pelbagai kegiatan kognitif lainnya mampu menurunkan resiko kecacatan kognitif ringan (MCI), di mana gejala ini sering dikaitkan dengan penyakit Alzheimer.

Bila otak Anda itu merupakan otot, bagaimana caranya untuk menguatkannya ? Rangsangan dan tantangan merupakan jawabnya. Membaca jelas akan merangsang aktivitas otak Anda. Membaca-baca beragam jenis buku atau majalah akan menantang otak untuk mampu berfikir ke pelbagai arah baru dan mampu menyerap konsep atau pun informasi-informasi baru yang mutakhir.

Anak-anak juga memperoleh manfaat besar dari kegiatan membaca. Para orang tua yang aktif akan mampu merangsang anak-anak mereka dalam kegiatan membaca secara bersama. Kegiatan membaca secara interaktif itu akan membentuk ikatan cinta antara orang tua dan anak, sekaligus menumbuhsuburkan rasa ingin tahu anak yang alamiah terhadap dunia dan lingkungan sekitarnya.

Memberi peluang bagi anak untuk mengajukan pertanyaan, mengutarakan minat terhadap topik tertentu, sampai mendengarkan kosakata baru atau pun gagasan tertentu akan membentuk kesan positif di benak anak yang tergores abadi pada sepanjang hidupnya. Anak-anak dengan kemampuan membaca yang rendah cenderung lebih gelisah dan mudah merasa sedih.

Ilham dari Amerika. Artikel Maggie Hoomes itu ditutup dengan imbauan bahwa solusi mudah dalam memromosikan minat baca dan aktvitas merangsang otak kita, pembaca (di AS) diajak untuk menjadi anggota perpustakaan umum di kota masing-masing selama Pekan Perpustakaan Nasional (National Library Week) yang berlangsung tanggal 11-17 April 2010.

Kegiatan itu disponsori oleh The American Library Association (ALA) sejak tahun 1958, merujuk keprihatinan bahwa semakin banyak warga Amerika yang tidak membaca secara cukup, tetapi lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar televisi.

Aktifkan otak Anda minggu ini, dan ingatlah semboyan yang diambil dari tema penyelenggaraan Pekan Perpustakaan Nasional yang pertama : “Ayo Bangun dan Membaca.”

Apakah ajakan dan inspirasi dari Amerika Serikat itu bisa berdering di telinga Anda ? Juga sampai kepada keluarga, sampai putra-putri Anda ? Silakan Anda yang menentukannya sendiri.

Sebagai penutup, saya kutipkan isi sebuah buku mengenai panduan hidup sukses karya Peter Spann, The Little Pot of Gold : 100 Keys to Success and Wealth (2003). Pada kunci yang ke-24, ia menulis :

“Apa yang Anda butuhkan untuk menjadi kaya itu seringkali gratisan.
Semua orang mampu memiliki kartu anggota perpustakaan.”


Catatan : Artikel ini juga saya pajang di Facebook saya, dan suatu kejutan, telah memperoleh komentar dari teman-teman kuliah saya di JIP-FSUI Angkatan 1980. Semoga bermanfaat.

Bakhuri Jamaluddin : He he he BH itu memang bukan Pustakawan Ruang Baca, tidak perlu minta maaf, Anda justru Pustakawan Global tanpa gaji dan pensiun !

Oh ya, aku dulu sekolah olahraga, tapi tak sempat mengajar olahraga, tapi di tiap lingkungan perumahan anak asuhku sering juara bolavoli dan futsal antar RT. Sebagai jebolan JIP-FSUI aku sdh menjadi Pustakawan Ruang Baca 18 th, lalu pindah sebagai Auditor, juga 18 th, belakangan ketika usia pensiun aku mengelola majalah Itjen Depkes dan berlanjut sebagai Verifikator Jamkesmas.

Di tempat terakhir itulah naluriku sebagai mantan Pustakawan muncul melalui BJ-Pinjam, yaitu Bakhuri Jamaluddin - Peduli Info Jamkesmas. Tiap ada info baru tentang hal ihwal Jamkesmas, aku infokan ke temen-temen Verifikator Independen Jamkesmas yg tersebar di nusantara (1.500 orang lebih) melalui Facebook. Alhamdulillah tiap malam selama 2 jam jelang tidur, aku sempatkan diri menjawab pelbagai info Jamkesmas. Semoga itu tergolong pekerjaan Pustakawan juga.

Ayo Bung Bambang Haryanto, kita lanjutkan "pengabdian" kita dengan cara kita sendiri ! [Minggu, 12/4/2010 : 08.40 pm].

Hartadi Wibowo : Sepakat utk mengatakan BH adalah PUSTAKAWAN GLOBAL. Bahkan, BH itu levelnya di atas kita-kita yg jadi "penjaga & penjaja (gudang) informasi".

Bicara pengalaman, saya merasa hidup saya penuh dng NDILALAH KERSANE GUSTI ALLAH !!. Dulu saya tdk tahu sama sekali apa itu JIP. Tujuan saya ke Jkt (UI) adalah utk kuliah lagi (setelah lulus dari ABA di Yogya), apapun jurusannya, yg penting kuliah di Univ Negeri dan jadi sarjana (karena daftar/test di UGM 3 thn berturut-turut tidak diterima !). Akhirnya saya daftar di JIP dan JIF (Filsafat). Alhamdulillah diterima dua-duanya, dan disuruh pilih. Entah kenapa, dan ndilalah, saya pilih JIP, dan akhirnya mulai menyukai dunia pustaka.

Ketika Bapindo butuh pustakawan, pak Sulistyo Basuki nyuruh saya dan (alm) Haris Nasution utk mencoba nglamar. Ndilalah lagi, yang diterima saya. Ketika disuruh langsung kerja, saya menolak, dan minta izin utk menyelesaikan kuliah dulu, dan minta dibiayai (beasiswa). Ndilalah disetujui, dan dpt beasiswa sampai selesai. Dan selama kuliah saya juga nyambi kerja paruh waktu di Perpust TEMPO dan LPEM UI.

Awal 1985 saya resmi masuk sbg peg Bapindo. ditempatkan di Perpust. Setelah hampir 10 thn di Perpust, thn 1995 mulailah saya pindah ke Bag/Dept lain. Ketika Bapindo merger ke dalam Bank Mandiri (1999), tiba-tiba (ndilalah) saya dipercaya & ditunjuk sbg Ketua (Dirut) Dana Pensiun Bank Mandiri IV (ex DP Bapindo). Tugas utamanya adalah mengelola dana ratusan milyar) utk dikembangkan guna membayar uang pensiun bulanan para pensiunan. Berbekal ilmu yang saya pelajari dari buku-buku di Perpust, dan "bergaul" dng dunia pasar modal, alhamdulillah selama 7 tahun di DP saya bisa mengembangkan asset DP meningkat sekitar 80%.

Menjelang pensiun, ndilalah lagi, saya masih dipercaya untuk mengelola Yayasan Kesehatan Bank Mandiri. Tugasnya hampir sama, mengelola dana utk digunakan membantu biaya kesehatan para pensiunan.

Jadi semenjak keluar dari dunia Perpustakaan, saya betul-betul meninggalkan profesi pustakawan. Namun sesekali masih menyempatkan berkunjung ke Perpustakaan, minimal utk nostalgia, merenungi perjalanan hidup yang tidak bisa ditebak, dan mensyukuri NDILALAH KERSANE GUSTI ALLAH. Wass, HW. [Selasa, 13/4/2010 : 10:41am].


Subagyo Ramelan : Ini namanya nostalgia, acara kangen-kangenan, dengan berbagi pengalaman lewat tulisan, baik dari penulis maupun para komentatornya. Kiat teman2 memanfaatkan ilmu yg didpt dari JIP, dan pengalaman yg diperoleh dari gudang buku, yg diejawantahkan ke bidang lain, kelihatan banyak kontribusinya untuk menuju ke arah sukses. Syokur alhamdulillah.

Klo bagiku, BH ini sosok yg unik karena di otaknya penuh dgn gagasan2 yg akan selalu dituangkan, baik dlm karya nyata maupun dlm bentuk tulisan. Aku masih ingat, ketika belum 1 bulan kita bertemu di JIP, BH sdh berani maju ke depan kelas dan mengajak teman2 untuk menerjemahkan 1 literatur bhs Inggris ke bhs Indonesia.

Ajakan ini diajukan dgn serius tapi jenaka. Ditanggapi atau tidak oleh teman2, bagiku itu soal lain. Yg jelas anak muda ini (waktu itu BH masih tergolong muda) punya kelebihan lain, berani tampil dengan ide2nya. Saluut untuk BH. Ide2 mu pasti akan menghasilkan sesuatu untuk Indonesia. [Selasa, 13/4/2010 : 2:09pm via Facebook Mobile].

Bambang Haryanto : Thanks, BJ, HW dan SBR. Saya senang tujuan kita kangen-2an via FB bisa terjadi. Bener juga "kyai akik sakti" :-) dalam ngunandiko, betapa ilmu yang kita dot dari ban dan knalpot JIP itu bisa diejawantahkan dalam pelbagai medan bakti. Senang sekali mendengar kisah-kisah penuh teladan dan sukses dari teman-teman. Siapa menyusul untuk rela berbagi cerita ? [Rabu, 14/4/2010 : 11:39am].

Zul Herman : Mas BH, tulisan anda menarik sekali. Anda sungguh beruntung terbiasa menulis dan dengan menulis terbiasa membaca. Dua aktivitas yang saling berkaitan.

Seorang pustakawan yang tidak membaca ibarat ayam mati di lumbung padi.Ke dalam kategori ini mungkin saya termasuk pula. Walupun saya juga seperti Mas BH, adalah pustakawan yang tidak pernah benar-benar jadi pustakawan dan juga tidak membaca (lagi) apalagi menulis. Walaupun dalam hati saya selalu gemas ingin menulis. Tapi selalu saya gagalkan dengan tidak mau berlatih diri. Saya ingin mendapatkan resep dari Mas BH soal ini. [Rabu, 14/4/2010: 12:14pm].


Bakhuri Jamaluddin : BH sudah memancing kwartet mantan pustakawan (kurang sejati), kini telah bertautan "pandawa" alumni JIP-FSUI angkatan 1980. Wah, ternyata sudah S3 semua, artinya ya tentu saja "Sampun Sepuh Sedanten" alias "Sudah Sepuh Semua" tapi masih rajin fb-an. Ayo, mana Srikandi JIP-FSUI, mari bergabung. [Kamis, 15/4/2010 : 8:36pm].

Zul Herman : Hallo pak BJ. Sorry saya sangat tidak rajin Fb-an. Tidak selalu update. [11 hours ago].

Bakhuri Jamaluddin : He he he ......wajar donk..........dulu di JIP-FSUI belum ada SKS-nya !!!!!!!!! [11 hours ago ].

Subagyo Ramelan : Betul kata BJ, kita sdh S3. Bahkan saya sdh naik (klo jenjang pendidikan, turun ngkale) jadi M.ec atau Momong enam cucu. Makanya klo di Fb saya sering dipanggil mbah Yo oleh anak, mantu, keponakan atau bahkan oleh teman2 yg lain. Uhuk...uhuk...uhuk (tuuh, mbah Yo batuk2 lagi) [11 hours ago via Facebook Mobile ].

Bambang Haryanto : @Zul Herman : Thanks sudah gabung. Tulis saja pengalaman Anda, termasuk saat berkuliah di Leeds (? ya),spt mendongeng kpd anak-anak. Dinantikan My Notenya. Bg saya menulis,hmm,smg dapat sebagai "ibadah" ya ? Menular-nularkan apa yang saya kebetulan punya. Salam. [10 hours ago ].

Zul Herman : Saya senang sekali dapat 'berjumpa lagi' dengan teman-teman lama walaupun bukan di dunia nyata, dunia virtual. Tentang menulis, terima kasih atas sarannya. Saya lagi mencoba melatih diri dan saran Anda itu menarik untuk dicoba. [6 hours ago ].

Hartadi Wibowo : "Rasanya tambah kangen ingin jumpa Mbah YO, Oom BH, pakde BJ, bung ZH, (uda Saiful Haq kemana ???) Kapan ngumpul ? Utk yg domisili di Jabodetabek, utk pra-reuni kita bisa ngobrol di kantor saya, di Mampang. Silakan, tentukan hari apa, mau siang (jam istirahat) atau sesudah jam kantor. OK ?

Bicara soal tulis menulis, ada pengalaman yg tidak bisa saya lupakan. Tahun 90-an saya agak rajin menulis artikel utk majalah internal (Buletin Ekonomi Bapindo, dan Warta KORPRI Bapindo). Yang saya tulis adalah rangkuman data & informasi dari berbagai sumber, saya kemas dng bahasa yang ringan, saya ulas sedikit, kasih kesimpulan. Juga ada Wawancara Imajiner antara saya dengan tokoh rekaan, Si Cemplon. Soal informasi & data, (waktu itu) pustakawan adalah jagonya (di tempat saya, lho,).

Saya pernah nulis mengenai Bisnis (Industri) Taksi di Jakarta. Dengan data lengkap, termasuk Perda, dan ulasan prospek bisnis, maka kesimpulannya adalah bahwa (waktu itu) bisnis taksi di DKI sudah mulai jenuh. Sebulan setelah tulisan tsb dimuat, saya ditelpon oleh seseorang yang mengaku nasabah/debitur Bapindo.

Dia mengatakan punya rencana akan mengajukan kredit ke Bapindo utk usaha taksi. Namun setelah baca tulisan saya, dia jadi ragu2 utk usaha taksi. Akhirnya minta konsultasi ttg pertaksian. Saya sarankan prospek usaha taksi masih terbuka luas utk daerah penyangga, yaitu Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi. Akhirnya dia berniat melanjutkan rencananya, dan akan memindahkan "base camp"-nya di Bekasi. Maka saat itu jadilah saya seorang "konsultan" pertaksian. He he he.

Dan satu tahun kemudian seorang senior saya di Bapindo yang sdg ambil studi S2," meminang" taksi saya utk dijadikan topik tesis S2-nya. Bukan hanya saya izinkan, tapi malah saya lengkapi dengan data & informasi terbaru ttg bisnis pertaksian. Betapa bangga dan bahagianya jadi pustakawan. Dan sampai sekarang jiwa "pustakawan kuno" saya masih ada, yaitu masih suka ngumpulin artikel koran. Wass, HW. "

Zul Herman : "Mas HW, wah ini kreasi yang harus terus dipupuk dan diteruskan. Saya dulu saat bekerja di organisasi antar pemerintah Asia pacific (APCC) selain sibuk urusan proyek jaringan informasi, saya juga berperan sebagai managing editor majalah "Cocoinfo" atau coconut information berbahasa Inggris mengenai industri kelapa di Asia Pasifik. Majalah ini beredar global. Sayang saya tidak banyak menulis, tetapi lebih banyak sebagai editornya.

Di lembaga ini selama 5 tahun, sebagai editor, saya berhasil menerbitkan kurang lebih 40 buku tentang kelapa dan industri kelapa Asia Pasifik. Kelapa adalah tumbuhan yang seluruh bagiannya berguna, mulai dari akar sampai lidinya. Makanya kelapa disebut orang sebagai Tree of Life. Industri kelapa berkembang pesat di Filipina, India dan Sri langka. Indonesia sebagai penghasil kelapa terbesar di kawasan Asia dan Pasifik, industri kelapanya jauh, jauh ketinggalan. Untuk tulis menulis kita harus banyak belajar dari Mas BH. Beliau dari dulu memang produktif di bidang ini. "


Bambang Haryanto : BJ benar. Angkatan JIP 1980 sudah “S-3” semuanya. Di akun FB-ku ini, saya pajang tanggal, bulan dan tahun kelahiranku. Tahun 2010 ini, Insya Allah, umur saya 57 tahun. Itu umur biologis, karunia Illahi yang tak bisa dipungkiri.

Tetapi selain umur biologis ada juga umur psikologis. Di sini umur dimaknai bukan berdasar angka, tetapi berdasar perspektif yang bersangkutan dalam memandang dan menjalani kehidupan. Saya pernah menonton acara bincang-bincang di tv manca negara yang memunculkan istilah “umur 30 tahun adalah umur 20 yang diperbarui,” dan begitu selanjutnya, seperti “umur 60 tahun adalah umur 50 yang diperbarui.”

Berdasar umur psikologis itu sebenarnya orang dapat mengerem laju jarum jam hidupnya, antara lain ketika meninjau masa lalu kita masing-masing. Menulis buku harian (saya lakukan setiap hari), menulis otobiografi dan menulis blog, merupakan cara bagus untuk menyortir kekaburan masa-masa lalu. Sehingga masa lalu tidak lagi hanya berupa satu gumpal campur aduk segala hal tanpa makna.

Masa-masa lalu tersebut dapat Anda urai untuk membentuk pola tertentu yang membahagiakan, membanggakan, baik susunan yang terdiri dari kejadian atau pun prestasi-prestasi tertentu.

Hmm, maukah sobat-sobat “S-3” JIP-FSUI 1980 melakukannya ? Bukan untuk saya, tetapi untuk anak keturunan Anda sendiri. Sebagai legacy, catatan warisan bahwa Anda pernah hadir istimewa di dunia ini. Syukur-syukur, bila ditulis di blog, FB atau buku, sejarah hidup Anda tersebut bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Kalau bukan Anda sendiri yang menuliskannya, siapa lagi ? [Diunggah : Jumat, 16 April 2010, jam 12.40].

Subagyo Ramelan : "Wah, teman2 JIP telah mampu menjadi pustakawan yg berhasil dan berpengalaman di bidang tulis menulis. Kepustakawanan (librarianship) memang mengemban tugas sbg jembatan yg menghubungkan antara informasi dgn yg membutuhkan. Dlm hal ini, teman2 yg aktif pasti, paling tidak, akan (terpaksa?) menulis/menghidangkan informasi kepada users, atau potensial-users. Karya ini, walau tdk dipublikasikan, toh juga merupakan karya tulis yg bermanfaat. Lebih2 lagi jika disebarluaskan melalui media lain. Angkat topi untuk mereka.

Lain lagi dgn pengalaman mbah Yo. Tak ada hasil yg berupa karya tulis (tak mampu menulis, kali). Pernah sekali waktu dulu menulis beberapa cerpen, dikirim ke KOMPAS. Eeh, semuanya dikembalikan, alias ditolak. Maka mbah Yo ga jadi penulis cerpen tapi terdampar dikancah per-akik-an.

Jadilah mbah Yo tukang gosok akik. Tapi mbah Yo tetap mantab dengan kondisi ini. Paling tidak, mbah Yo bisa ikut andil mengurangi pengangguran di Indonesia, walau hanya beberapa gelintir."

Hartadi Wibowo : "Tulisan Oom BH dan semangat mbah YO membuat saya (seolah) mengerem laju jarum usia psikologis saya. Tiba-tiba, usia saya yang sekarang 55+ terasa menjadi 45, karena tulisan Oom BH dan semangat mbah YO tadi membangkitkan gairah hidup saya (yang menjelang pensiun ini) menjadi lebih menyala. Komunikasi ini menjadikan saya merasa muda lagi, seperti sdg ngobrol dng teman-teman kuliah saya dulu sambil makan somay di Taman Sastra. He he he nostalgia.

Oh ya sobatku, ada satu hal dalam kehidupan saya yang agak bersifat "menurun" kpd anak perempuan saya. Dulu, saya masuk JIP setelah dapat Sarmud. Kemudian sambil kuliah saya kerja part timer di LPEM FEUI, dan TEMPO.

Empat tahun yl anak perempuan saya (yg tertua) masuk ke Fak Ilmu Budaya UI (dulu FSUI), progr D3 Jurusan Manajemen Informasi dan Dokumentasi (MID). Ternyata ini jurusan gabungan antara ilmu perpust dng kearsipan. Dan dosennyapun masih ada yg sama dng yng mengajar kita dulu, a.l. Ibu Kalangie, Pak Zulfikar, dan mbak Ining. Jadi seharusnya kepada ibu Kalangie anak saya tidak memanggil ibu dosen, tetapi nenek dosen. Ha ha ha opo tumon ??

Setelah selesai D3 MID, anak saya meneruskan S1, pindah jurusan ke Kriminologi, sesuai keinginan awal. Dan ndilalah, dia sekarang nyambi kerja di Perpustakaan FEUI. Rupanya sejarah berulang. Terimakasih sobat-sobatku, ternyata saya masih punya semangat utk menulis "cerpen" ini. Wass, HW.

Errie Reno T : "Wah thanks ya....saya setuju banget tuh..hal membaca...walaupun dulu seperti itu...sering disindir suami pustakawan kok gak senang baca...karena suami sering sekali menganjurkan anak2 untuk membaca....kapan2 kalau ke wonogiri mampir ah....he3x gak janji ya n salam bwt kel"


Rizal Saiful-haq : Baru bisa kasi komentar ! Saya kagum banget loh sama Mas Bambang. Ingatan pertama saya terhadap beliau, takkan bisa terlupakan. Langsung jadi imej saya terhadap beliau.

Ceritanya begini.Ketika tes masuk JIP FS UI di Rawamangun, saya mendapat waktu wawancara berdekatan dangan Bambang. Sehabis wawancara kami bertukar informasi. Saya bertanya pada Bambang, "Tadi ditanya apa?"

"Kenapa Anda masuk JIP?", jawab Bambang menirukan pewawancara (kalau nggak salah Bu Kalangi.

"Apa jawab Anda?", tanya saya.

Tanpa jeda, Bambang langsung jawab tenang, "Nggak kenapa-kenapa!"
Saya kaget dan tercenung. Saya ketika itu merasa Bambang tak akan lulus.

Eeee ternyata lulus dan jadi mahasiswa "paforit" JIP. Bahkan saking senangnya Buk Soma sering mengulang nama Bambang menjadi Bengbeng. Saya kira eh, saya yakin Bu Soma tidak bermaksud "mengejek", bahkan sebaliknya itulah cara khas Bu Soma mengekspresikan kesenangannya pada Bambang.

Saya juga kagum pada Catatan Bambang. Dia masih ingat ketika saya bilang kelompok dia yang biasa mojok, sebagai Bursa ide. Saya juga selalu ingat selalu terbayang peristiwa itu. Cuma saya bdoh sekali baru tau bahwa "Geng Bursa Ide" inilah yang punya andil besar merancang Perpustakaan UI Jasa Anda tak akan hilang walau mungkin sekarang masih tersembunyi.

Tentang Wonogiri kon saya jadi ingat kuliah KK-2 dengan Pak Sulis, ya. ? Pak Sulis sering memberi contoh atau soal tentang Wonogiri .... eee sekarang Bambang di situ. Apa ada hubungannya ya?


Rizal Saiful-haq : Tentang sejarah berulang, saya juga punya cerpen nih Pak Teddy.Sebelum ke Jakarta saya sekolah di Padang. Tempat sekolah saya namanya Jati dan Gunung Pangilun. Saya tinggal di daerah yang bernama Alay yang terletak antara Jati dan Gunung Pangilun.

Nah, tahun 2002 saya dipindahkan Bulog kerja di Padang. Eee rumah dinas saya itu di Gunung Pangilun (bukan benar-benar gunung loh). Dari rumah ke kantor saya selalu melewati jalan yang dulu saya gunakan setiap hari pergi/pulang sekolah.

Bedanya, dulu saya melewati jalan itu dengan sepeda butut, pada tahun 2002 itu saya melewati jalan itu dengan Kijang........ plat merah! he he he. Iya ya sejarah berulang dengan cara lain.

Sekarang saya merasa lebih banyak hidup (mengulang kembal)i di uadara yang pernah saya hirup selama 7 tahun (1973-1980 yang sudah lama berlalu). Yaitu, Pasar Jumat dan Ciputat. Udaranya dah beda kali ya ?


Wonogiri, 11-12/4/2010

ee

Monday, January 04, 2010

Gus Dur, Surat-Surat Pembaca Saya 1990-2007

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 90/Januari 2010
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


Gus Dur dan Komedi
Dikirimkan ke kolom Surat Pembaca – Harian Suara Merdeka
Senin, 12 November 2007

Salah satu buku kumpulan lelucon yang saya miliki, saya beli pada tanggal istimewa : 25 Oktober 1986. Di toko buku Gramedia Blok M, Jakarta Selatan. Buku itu karya Mildred Meiers dan Jack Knapp, berjudul 5600 Jokes For All Occasions (1980).

Istimewa karena saat itu saya ketemu Gus Dur dan saya memberanikan diri untuk memperlihatkan buku yang baru saya beli kepadanya. Melihat kesamaan sebagai penikmat humor, setelah saling bertukar koleksi lelucon, Gus Dur mengeluarkan pernyataan yang saat itu berupa misteri.

“Hanya kita-kita saja yang masih waras,” cetusnya.

Belasan tahun kemudian teka-teki Gus Dur itu baru bisa saya mengerti. Hal itu terjadi di akhir 2001 ketika saya membaca-baca bukunya Judy Carter, The Comedy Bible (2001). Asumsi dan bahkan paradigma saya tentang komedi yang sudah saya anggap benar selama ini, bahkan karatan, berurat dan berakar, harus diruntuhkan.

Pemahaman bahwa menjadi komedian itu sekadar tampil di panggung menceritakan lelucon tentang orang lain atau karya orang lain, ternyata menurut Judy Carter hal itu merupakan kekeliruan yang sangat fundamental. Karena menurutnya, setiap komedian wajib dituntut orisinalitasnya.

Di panggung dirinya harus berani dan jujur dalam membeberkan otobiografi mereka masing-masing. Tambah Judy Carter, kalau sebagian besar orang cenderung menyembunyikan cacat dan cela dirinya, para jenakawan justru mempertontonkannya semua itu kepada dunia.

Seorang Gus Dur, seperti diungkap Moh. Mahfud M.D. dalam artikelnya “Politik Humor Gus Dur” (JawaPos,15/3/2006), memiliki kepiawaian tinggi dalam menghumori dirinya sendiri. Keikhlasan Gus Dur mengolok kekurangan diri sendiri, self-deprecating, merupakan ujud kewarasan dirinya sebagai pribadi.

Dari pribadi beliau seperti itu, kita bisa bercermin sekarang : berapa banyak pemimpin dan pejabat negeri ini yang masih waras, berani jujur mengakui dan berani menertawai kekurangan diri mereka sendiri ?

Bambang Haryanto (EI/081329306300)
Wonogiri 57612


Humornya Pendosa
Dikirimkan ke kolom Surat Pembaca Harian Suara Merdeka,
Kamis, 26 Januari 2006


Anne Bancroft (73), artis Hollywood yang terkenal memainkan Mrs. Robinson dalam film The Graduate (1967), meninggal dunia 7/6/2005 yang lalu. Sebagai penghormatan, lampu-lampu di Broadway diredupkan. Ia meninggal karena sakit kanker rahim.

Ia dinominasikan meraih Oscar lima kali dan sekali memenangkannya ketika bermain sebagai guru tokoh tuna netra terkenal, Helen Keller ketika masih muda, dalam film The Miracle Worker (1963). Istri komedian Mel Brooks ini terkenal memiliki selera humor tinggi dan menganggap tertawa merupakan harta penting yang berharga.

Tanggal 21/6/2005, Kardinal Jaime Sin dari Filipina, juga meninggal dunia dalam usia 76 tahun. Ia tokoh sentral yang ikut menumbangkan diktator Marcos (1986) dan pula Presiden Josep Estrada yang korup (2001). Beliau punya selera humor yang tinggi pula.

Konon, kepada para tamu yang mengunjungi kediamannya akan disambut dengan ucapannya yang khas, yaitu : Selamat Datang di House of Sin. Lelucon yang cerdas. Karena rumah beliau dalam konteks lelucon dapat diartikan sebagai rumahnya pendosa.

Mungkin karena kejelian wartawan, tetapi sungguh mengharukan, banyak catatan yang ditorehkan untuk mengenang beberapa tokoh besar yang wafat adalah justru mengenai selera humor mereka. Hal ini menyiratkan betapa penting selera humor. Gus Dur pernah bilang, mereka yang memiliki selera humor adalah mereka yang masih waras. Artinya, masih mampu menertawakan kekurangan dirinya tanpa merasa terluka atau terhina.

Masalahnya, kalau kini Indonesia lagi boom tokoh-tokoh yang diindikasikan melakukan korupsi atau melanggar HAM, tetapi sementara mereka terus bersibuk mungkir demi mempertahankan diri, sebenarnya berapa banyak pribadi yang masih waras di republik kita dewasa ini ?

Bambang Haryanto
Wonogiri 57612


Komedian Islam Vs Ustadz Gaul
Diemailkan ke majalah Gatra, Kamis, 27 Oktober 2005


Fenomena ustadz gaul seperti dilaporkan GATRA (29/10/2005) sungguh menarik. Mereka melakukan syiar agama Islam bermediakan kesenian, seperti nyanyian dan humor, mengingatkan kiprah Wali Songo, terutama Sunan Kalijaga, yang melakukan syiar Islam bermediakan wayang. Pendekatan budaya ini terbukti ampuh ketimbang pendekatan kekerasan atau penaklukan.

Di Amerika Serikat, syiar Islam kontemporer lebih radikal lagi. Bermediakan humor. Syiar Islam ini secara intensif dilakukan pasca serangan teroris 11 September 2001 yang menimbulkan ketegangan hebat antara Islam vs Barat, seperti disebut oleh Samuel Huntington sebagai benturan peradaban.

Oleh kalangan komedian muslim Amerika seperti Azhar Usman, Preacher Moss, Azeem, Ahmed Ahmed, Maysoon Zayid sampai Tissa Hami, benturan peradaban itu diwujudkan dalam perang bermediakan lawakan. Tidak untuk saling mengejek, melainkan untuk menumbuhkan saling pemahaman.

Tahun 2004, Azhar Usman, Preacher Moss dan Azeem menggagas tur pentas komedi keliling Amerika bertajuk Allah Made Me Funny Tour untuk mempromosikan Islam sebagai agama cinta damai dan anti tindak kekerasan.

“Gagasan tur ini adalah menyediakan bagi kalangan muslim dan non-muslim wahana gaul dalam zona aman, relevan, inklusif, di mana humor dimanfaatkan untuk menjembatani jurang bias, sikap tidak toleran dan penyakit sosial lainnya”, kata Preacher Moss, penggagasnya.

Orang tidak suka dikhotbahi, kata Moss, sehingga lelucon dia anggap lebih efektif dalam memberikan edukasi bagi kalangan muslim atau pun non-muslim. Berbeda dibanding khotbah, lelucon mampu mengajak penonton berpikir, beperanserta dan melangsungkan dialog dengan para penampil.

Di front lain ada pula aksi komedian Ahmed Ahmed, muslim Amerika kelahiran Mesir bersama Bob Alper, komedian dan juga seorang rabbi Yahudi, melakukan tur komedi berdua. Dengan tema “Satu Arab, Satu Yahudi, Satu Panggung” mereka menggotong misi untuk meredakan ketegangan dan prasangka hubungan antarbangsa melalui humor. Pentasnya di Denver dipenuhi penonton, baik dari kalangan Islam, Kristen dan juga Yahudi.

Bagaimana di Indonesia ? Kita kenal humoris muslim yang ulung seperti Gus Dur, Mustofa Bisri sampai Emha Ainun Nadjib. Sebagai pengelola situs blog berisi kajian seputar masalah komedi, saya ingin bertanya : setelah ustadz gaul, kapankah komunitas muslim kita mampu menghadirkan komedian muslim sekaliber Azhar Usman yang leluconnya cerdas, toleran, tidak ada pornonya sama sekali dan sekaligus tajam, di Indonesia ?


Bambang Haryanto
Komedikus Erektus ! (http://komedian.blogspot.com)
Wonogiri 57612


Tak Ada Dusta Di Antara Kita
Dimuat di kolom Redaksi Yth – Harian Kompas Jawa Tengah
Kamis, 20 Januari 2005.


Di tengah hiruk-pikuk pemilihan umum 2004 yang baru lalu, banyak para pelaku politik menjajakan diri dengan beramai-ramai menerbitkan biografi. Boleh dikatakan, semua biografi itu ditulis oleh orang lain. Rendahnya budaya menulis di kalangan elit kita membuat kita sulit menemui terbitan otobiografi yang ditulis oleh pelakunya sendiri.

Pelbagai biografi para tokoh politik tersebut, diakui atau tidak diakui, diterbitkan sebagai sarana mempromosikan diri guna memenangi Pemilu. Motif itulah yang membuat isinya, tentu saja, lebih indah daripada warna aslinya. Kecenderungan demikian sampai mendorong seorang Humphrey Carpenter memberikan definisi sinis bahwa buku biografi merupakan wahana terhormat untuk berdusta.

Kini Pemilu telah usai. Alangkah baiknya, bila tokoh-tokoh yang tersingkir, kalah dalam Pemilu, justru tergerak untuk menuliskan pengalaman hidupnya secara lebih genuine, apa adanya, kini. Terlebih karena mereka relatif tidak lagi digandoli motif-motif untuk berpromosi.

Silakan mencontoh Wimar Witular, pembantu dekat Presiden Gus Dur, yang menuliskan catatan pergulatannya justru setelah presiden cerdas dan jenaka itu tersungkur dari istana. No Regret, seru Wimar Witoelar.

Amien Rais, Hamzah Haz, Megawati, Siswono Yudhohusodo, Wiranto dan lainnya, silakan Anda kini menulis tanpa embel-embel pretensi untuk berpromosi. Indonesia tidak hanya butuh contoh dari tokoh-tokoh yang berhasil, tetapi juga contoh dari mereka yang telah berjuang walau pun pada ujungnya tidak meraih keberhasilan.

Sebab seperti kata filsuf Cina, Konfusius, orang besar bukanlah orang yang tidak pernah jatuh, melainkan mereka yang setiap kali terjatuh segera bangun untuk tegak kembali.

Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia
Wonogiri 57612


Gran Final Indonesian Idol 2004 !
Dikirimkan ke kolom Mimbar Demokrasi, Harian Kompas,
Sabtu, 4 September 2004


Selamat datang di gran final Indonesian Idol 2004 !

Kontestan pertama, Megawati, akan membawakan lagu favorit yang entah kenapa lagu indah ini justru ogah ia nyanyikan selama pemilu. Yaitu, My Way (Frank Sinatra) :

“And now, the end is near,
and so I face the final curtain....”.

Berikutnya, SBY dengan Pelangi di Matamu (Jamrud) :

“Tiga puluh dua tahun,
rakyat tanpa bicara,
kini mereka pun resah menunggu lama
janji dariku...”

Sebagai penyanyi latar, kita tampilkan Indonesian Idle 2004 (yes, idle dan bukan idol). Mereka adalah Wiranto, Salahuddin Wahid, Amien Rais, Siswono Yudhohusodo, Hamzah Haz dan Agum Gumelar, akan koor menyanyikan Ticket to Ride (The Beatles/Carpenters) :

“The girl (boy) that driving me mad
Is going away/She’s (he’s) got a ticket to ride
She’s (he’s) got a ticket to ride.”

Sebagai bintang tamu Akbar Tanjung akan tetap membawakan lagu I Will Survive (Gloria Gaynor) dan Gus Dur (64) yang walau punya lagu favorit Me and Bobby McGee (Janis Joplin),kali ini dengan irama slow khasnya membawakan hit The Beatles :
“Will you still need me,
will you still feed me,
when I’m sixty four ?”
(When I’m Sixty Four).

Rakyat Indonesia pun semoga akan koor mengiringi dengan lagu indahnya Carpenters, We’ve Only Just Begun :

“We’ve only just begun to live
White lace and promises
A kiss for luck and we’re on our way
So many roads to choose
We start out walking and learn to run.”


(Bambang Haryanto, Wonogiri 57612)


Keindahan Sepak Bola
Dimuat di kolom Redaksi Harian Harian Kompas,
Sabtu, 30 Juni 1990

Kejuaraan sepak bola Piala Eropa 1988 telah dua tahun berlalu, tetapi ia belum terlupakan. Ia bukan Gullit. Bukan pula Koeman atau Marco van Basten, walau pun sama-sama memamerkan keindahan sepak bola.

Gullit menggelar kegarangan dalam menanduk bola. Koeman meragakan konsentrasi energi dengan tendangan geledeknya. Tetapi ia dengan ujung pena yang dituntun kecintaan terhadap sepak bola, riset literatur yang luas, wawasan yang dalam, ketajaman pikir dan keindahan optimal ekspresi dalam bahasa.

Kini dalam Piala Dunia Italia 1990, ia kembali. Anak bajang kembali menggiring bola, serangkaian laporan dan analisis yang indah dan dalam, kembali disajikan oleh wartawan “khusus” Kompas, Sindhunata. Pasti saya hanya salah satu di antara banyak sekali pembaca yang menyukai tulisannya yang memeragakan keindahan sepak bola.

Tetapi saat ini saya masih punya harapan tersembunyi. Sebab selama ini media massa kita nampak lupa menampilkan komentar atau ulasan sepak bola dari seorang pengamat sepak bola yang tidak kalah tajam wawasan atau pun inteligensianya.

Beliau yang saya maksud adalah K.H. Abdurrachman Wahid. Bagaimana, kiai ?


Bambang Haryanto
Job-Hunting Consultant
Dept. KS-VI
PO Box 55/Jatra
Jakarta 13220 B


Wonogiri, 5 Januari 2010

ee

Gus Dur, Bis Beethoven dan Masa Depan Bangsa

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 89/Januari 2010
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


Tahun Baru 2010 saya rayakan bersama Bach.

Bukan Bakhuri, Bachtiar atau Bachrudin. Juga bukan Bacharah. Tetapi Bach. Komponis Jerman. Johann Sebastian Bach (1685–1750).

“Ketika para malaikat melantunkan puja-puji kepada Tuhan barangkali mereka hanya memainkan karya-karya Bach. Tetapi bila mereka berkumpul bersama antarmereka sendiri dan keluarganya, saya yakin mereka akan memainkan Mozart,” tulis seorang teolog Protestan Swiss, Karl Barth (1886–1968) yang membandingkan Bach dengan Mozart.

Komparasi yang menarik. Walau saya tidak tahu apakah Tuhan akan menjadi murka atau tersinggung apabila Dia dipuji, misalnya dengan suguhan permainan “A Musikal Joke”-nya Mozart yang glenyengan bin selengekan itu ?

Yang saya tahu, merujuk karya-karya Bach itu seorang Sting, pentolan kelompok musik punk rock The Police yang sohor tahun 80-an, pernah berujar : “Kalau saya mendengarkan Bach, saya seperti sedang mendengarkan arsitektur.” Tangan Sting saat itu yang saya tonton di saluran National Geographic, nampak terentang ke atas.

Katedral.

Begitulah gambaran spontan yang segera muncul di kepala saya. Termasuk pula ketika pagi tanggal 1 Januari 2010 itu saya mendengarkan nomor “Jesu..Joy of Maria Dancing” yang salah satu karya Bach tersebut.

Manusia setengah dewa. Pagi itu, nampaknya saya diusik agar mendengarkan Bach secara naluriah. Mungkin sebagai cerminan dorongan kata hati, bawah sadar, untuk mau mendengar suara-suara pujian bagi Illahi. Boleh jadi sebagai manifestasi ucapan bersyukur karena saya masih bisa menjejaki tahun 2010 ini.

Sebab pagi itu sebenarnya saya ingin sekali mendengarkan karya Ludwig van Beethoven (1770–1827). Utamanya nomor Simfoni No. 9 yang pernah dipopkan oleh penyanyi Spanyol di tahun 70-an, Miguel Rios.

Dengan judul “Song of Joy.”

Saya ingin mendengarnya, karena nomor itu merupakan nomor kesayangan Gus Dur. Guru bangsa, guru humoris dan bapak pluralisme itu baru saja wafat, Rabu, 30 Desember 2009.

Diwartakan pula, sebelum mencapai masa kritis pada tanggal 30 Desember 2009 petang, Gus Dur ingin mendengarkan buku audio. Sampai saat ini saya dan kita semua tidak tahu tentang judul-judul buku audio apa saja yang menemani beliau saat sakit hingga wafatnya itu.


Terkait buku audio itu seorang warga Indonesia yang menempuh gelar doktor di Jerman, Poltak Partogi Nainggolan pernah menulis di koran Seputar Indonesia, 2-3 April 2008 yang lalu.

Judul artikelnya, “Manusia Setengah Dewa.”

Untuk keperluan disertasinya di Universiteit Freiburg, Jerman, ia mewawancarai Gus Dur, yang kebetulan saat itu sedang sakit.

Dalam artikelnya itu ia bercerita, walau dalam keadaan sakit dan praktis tidak mampu lagi membaca, Gus Dur tetap mengasupi otaknya dengan sumber-sumber pengetahuan mutakhir melalui buku-buku audio itu. Kegetolan Gus Dur untuk terus belajar, barangkali sebagai penyebab mengapa seorang kerabatnya yang kini tinggal di Belanda, Musayin, di depan corong Radio Hilversum (1/1/2010) pagi, menjelaskan betapa jauhnya perbedaan visi antara Gus Dur dengan “seteru” sekaligus keponakannya sendiri, Muhaimin Iskandar.

“Antarkeduanya berbeda 20 tahun,” kata Musayin. Apalagi beliau dengan kita-kita yang rakyat biasa ini. Kelebihan Gus Dur tersebut barangkali pula justru membuat interaksinya dengan orang kebanyakan menjadi seperti yang digambarkan oleh John Naisbitt dalam bukunya Mind Set ! (2006).

Futuris itu telah mengutip visi kepemimpinan seorang Al Smith, gubernur New York yang pernah berkampanye untuk kursi presiden AS pada tahun 1928. Katanya, “Jangan terlalu jauh di depan parade sampai-sampai orang tidak tahu kalau kau termasuk di dalamnya.”

Gus Dur, pastinya, juga berada jauh di depan parade untuk urusan humor pula di Indonesia. Untuk berusaha ikut mendekatkan, saya pernah menulis usul-usil dalam bentuk surat pembaca berjudul “Komedian Islam Vs Ustadz Gaul” yang saya kirimkan ke Majalah Gatra, 25 Oktober 2005. Saya tidak tahu dimuat atau tidak. Isinya :

“Fenomena ustadz gaul seperti dilaporkan GATRA (29/10/2005) sungguh menarik. Mereka melakukan syiar agama Islam bermediakan kesenian, seperti nyanyian dan humor, mengingatkan kiprah Wali Songo, terutama Sunan Kalijaga, yang melakukan syiar Islam bermediakan wayang. Pendekatan budaya ini terbukti ampuh ketimbang pendekatan kekerasan atau penaklukan.

Di Amerika Serikat, syiar Islam kontemporer lebih radikal lagi. Bermediakan humor. Syiar Islam ini secara intensif dilakukan pasca serangan teroris 11 September 2001 yang menimbulkan ketegangan hebat antara Islam vs Barat, seperti disebut oleh Samuel Huntington sebagai benturan peradaban.

Oleh kalangan komedian muslim Amerika seperti Azhar Usman, Preacher Moss, Azeem, Ahmed Ahmed, Maysoon Zayid sampai Tissa Hami, benturan peradaban itu diwujudkan dalam perang bermediakan lawakan. Tidak untuk saling mengejek, melainkan untuk menumbuhkan saling pemahaman.

Tahun 2004, Azhar Usman, Preacher Moss dan Azeem menggagas tur pentas komedi keliling Amerika bertajuk Allah Made Me Funny Tour untuk memromosikan Islam sebagai agama cinta damai dan anti tindak kekerasan.

“Gagasan tur ini adalah menyediakan bagi kalangan muslim dan non-muslim wahana gaul dalam zona aman, relevan, inklusif, di mana humor dimanfaatkan untuk menjembatani jurang bias, sikap tidak toleran dan penyakit sosial lainnya”, kata Preacher Moss, penggagasnya.

Orang tidak suka dikhotbahi, kata Moss, sehingga lelucon dia anggap lebih efektif dalam memberikan edukasi bagi kalangan muslim atau pun non-muslim. Berbeda dibanding khotbah, lelucon mampu mengajak penonton berpikir, beperanserta dan melangsungkan dialog dengan para penampil.

Di fron lain ada pula aksi komedian Ahmed Ahmed, muslim Amerika kelahiran Mesir bersama Bob Alper, komedian dan juga seorang rabbi Yahudi, melakukan tur komedi berdua. Dengan tema “Satu Arab, Satu Yahudi, Satu Panggung” mereka menggotong misi untuk meredakan ketegangan dan prasangka hubungan antarbangsa melalui humor. Pentasnya di Denver dipenuhi penonton, baik dari kalangan Islam, Kristen dan juga Yahudi.

Bagaimana di Indonesia ? Kita kenal humoris muslim yang ulung seperti Gus Dur, Mustofa Bisri sampai Emha Ainun Nadjib. Sebagai pengelola situs blog berisi kajian seputar masalah komedi, saya ingin bertanya : setelah ustadz gaul, kapankah komunitas muslim kita mampu menghadirkan komedian muslim sekaliber Azhar Usman yang leluconnya cerdas, toleran, tidak ada pornonya sama sekali dan sekaligus tajam, di Indonesia ?”


Dahsyat di dunia maya. Gus Dur sebagai sosok “manusia setengah dewa” memang sulit bagi kita untuk menahannya untuk tidak berlari dalam parade penciptaan humor-humor cerdas sampai sebagai pionir proses demokratisasi di Indonesia. Status yang sama, tetapi dalam ranah yang tak terduga, nampak juga dikukuhkan sehari sesudah beliau meninggal dunia.

Radio BBC Siaran Indonesia, Kamis 31 Desember 2009, malam hari, mewartakan berita menarik. Diucapkan oleh penyiar BBC yang sering mengkaji masalah teknologi informasi, Muhammad Susilo, bahwa tercatat prestasi luar biasa untuk kata “gus dur” pada Twitter.com, situs jaringan sosial dan microblogging yang populer itu.

Menurutnya, kata “gus dur” hari itu meroket dan menempati peringkat ke-4 di antara jutaan istilah yang berseliweran, yang diposting oleh jutaan pemakai Twitter dari seluruh dunia. Bahkan para pemilik akun Twitter dari manca negara sampai-sampai bertanya-tanya tentang apa dan siapa “gus dur” tersebut.

Fakta itu menunjukkan, begitu Muhammad Susilo menyimpulkan, betapa nama Gus Dur juga memiliki kharisma yang dahsyat di dunia maya. Kebetulan, sebagai pemakai akun Twitter sejak 17 Juli 2009, saat itu saya juga telah memposkan 3 tweets, komentar saya terkait warisan luhur humoris dari Gus Dur bagi kita bangsa Indonesia dan dunia.


Bis-bis Beethoven. Terkait Gus Dur dan kota saya Wonogiri, secara guyon dapat dikatakan bila dirinya lebih mudah diingat bila dikaitkan dengan beberapa bis yang berseliweran di kota saya itu pula. Klaim sefihak saya ini mungkin terdengar muskil. Atau cerminan sikap arogan.

Photobucket

Tetapi, lihatlah beberapa bis mini (foto di atas) yang berseliweran di Wonogiri. Wajah, nama Beethoven beserta judul karya agungnya yang disukai Gus Dur itu, menghiasi dinding bis angkutan rakyat kota gaplek yang warganya rata-rata menggemari musik campur sari ini.

Namun terus terang, saya belum pernah menaiki bis-bis Beethoven tersebut. Jadi saya juga belum tahu apakah selama perjalanan dengan bis ini kita akan disuguhi musik dengan lirik, ”come sing a song of joy and freedom tell story ; sing sing a song of joy for mankind in his glory “ dari nomor “Song of Joy” tersebut. Atau justru suguhan musik campur sari ?

Blues dan obat bius. Selain nomor Beethoven di atas, seingat saya Gus Dur juga menyukai lagu “Me and Bobby McGee” dari penyanyi blues perempuan asal AS, Janis Joplin (1943-1970). Penyanyi ini telah diprofilkan oleh Gillian G. Gaar dalam bukunya, She's a Rebel: The History of Women in Rock & Roll (1992).

Janis Joplin mati muda karena heroin. Penyanyi cewek binal dengan gelar “sexually aggressive rock icon yang pada tahun 70-an saya nikmati foto-fotonya di majalah Aktuil, kebetulan pernah juga berurusan dengan presiden. Bukan dengan Gus Dur, tetapi dengan Dwight D. Eisenhower (1890–1969), presiden ke-34 Amerika Serikat.

Sebagaimana dilansir New Musical Express (12/4/1969), Joplin meluapkan kejengkelannya : “Empat belas kali terkena serangan jantung dan dia meninggal di minggu saya. Di Newsweek saya !” Pasal kejengkelannya itu gara-gara Eisenhower meninggal membuat foto dirinya gagal dipajang di sampul depan majalah Newsweek pekan itu !

Merujuk gambaran tentang Janis Joplin itu, bagi kalangan tradisionalis akan terasa nyleneh sekali saat mendapati seorang kiai NU, yang Islamnya cekek itu, tetapi menyukai lagu blues dari penyanyi yang mati muda akibat obat bius.

Itulah keunikan Gus Dur. Sebagai seorang pluralis, pejuang demokrasi, yang dirinya menghargai harkat kebebasan manusia, mungkin ia justru terinspirasi akan pesan dari lirik ”freedom's just another word ; for nothin' left to lose ; nothin', it ain't nothin' ; honey, if it ain't free” dari lagunya Janis Joplin tersebut.

Itu dugaan dangkal saya. Sekaligus merupakan pertanyaan pada diri saya yang belum tuntas terjawab. Bahkan sampai saat Gus Dur wafat.

“Bung Wimar,
Saya baru saja menulis sosok Gus Dur sebagai humoris yang pantas diteladani oleh para komediwan di Indonesia, karena menu "self-deprecating"-nya bersifat universal. Artikel itu berjudul "Dosa-Dosa Komedi Kita" di blog saya, Komedikus Erektus ! Saya ingin tanya : mengapa Gus Dur suka sama lagunya Janis Joplin, Me and Bobby McGee ? Makasih.”

Tiga tahun lalu, pada tanggal 4 Oktober 2006 (#21) saya telah menulis pertanyaan di atas pada blognya Wimar Witoelar. Setahu saya, Bang Wimar juga menggemari lagunya Janis Joplin tersebut. Dirinya pernah pula menjadi juru bicara saat Gus Dur menjadi presiden RI. Tetapi pertanyaan saya itu tidak memperoleh jawaban darinya.

Tak apa-apa. Itu tak begitu penting.

A Nation in Waiting, Again ? Karena banyak pertanyaan yang jauh lebih besar, lebih penting, adalah bagaimana Indonesia sepeninggal Gus Dur. Kaum minoritas, kaum yang selama ini kadang disingkirkan oleh negara, merasa seperti ayam kehilangan induk dengan wafatnya Gus Dur.

Juga tentang perjalanan demokratisasi di negeri ini. Di jaman Orde Baru, militer yang saat itu menjadi kepanjangan tangan tiran Soeharto memiliki ketakutan baru terhadap apa yang disebut oleh Adam Schwartz dalam bukunya A Nation in Waiting : Indonesia in the 1990s (1994) sebagai the extreme centrist, yaitu golongan yang mendorong demokratisasi dan penghargaan yang lebih terhadap hak asasi manusia.

Dalam buku yang di masa Orde Baru dilarang beredar dan dihadiahkan oleh warga Wonogiri di Jakarta, Mas Bambang Setiawan kepada saya tahun 2006 itu, Gus Dur tentu termasuk sebagai aktor pendorong dan motor vital dari gerakan ekstrim tengah itu. Soeharto pun tumbang di tahun 1998.

Tetapi di era reformasi yang sudah berjalan mendekati 12 tahun ini, perjuangan kaum ekstrim tengah itu memang boleh dibilang belum selesai. Tetapi daya gedornya, seiring meluasnya penggunaan media-media sosial di Internet, membuat rejim penguasa yang sebagian ditengarai berkomplot dengan konglomerat hitam untuk memperkaya diri sendiri, kini nampak hanya mampu bersikap defensif.

Termasuk menjulurkan tangan-tangan silumannya untuk menghambat rakyat memperoleh cerita tentang suara-suara kebebasan dan suara-suara kebenaran.

Upaya yang sia-sia.

Selamat jalan, Gus Dur. Suatu ketika rakyat Indonesia, termasuk penumpang bis-bis Beethoven di Wonogiri, akan menyanyi dengan suara agung sekaligus meresapi makna lagu “Song of Joy”-nya Beethoven ini :

Come sing a song of joy and freedom tell story
Sing sing a song of joy for mankind in his glory
Once mighty voice that will bring a sound
that will ring forever more
Then sing a song of joy for love
and understanding.


Wonogiri, 3-4 Januari 2010

ee