Showing posts with label pustakawan. Show all posts
Showing posts with label pustakawan. Show all posts

Wednesday, October 27, 2010

mBah Maridjan, Pustakawan 2.0. dan Pesta Yogya

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 107/Oktober 2010
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia



Kaliurang.
Adakah sesuatu kenangan Anda pernah tertambat di sana ?

Kalau Tonny Bennet pernah terkenal dengan lagu indah, "I left my heart in San Francisco," mungkin hari-hari mendatang pencipta lagu kita harus menelorkan lagu untuk mengenang mBah Maridjan yang berdomisili di Kaliurang itu pula.

Sosok juru kunci Gunung Merapi, yang kemudian semakin terkenal sebagai bintang iklan minuman suplemen, telah ditemukan meninggal dunia sebagai salah satu di antara puluhan korban amukan gunung karismatis yang secara spiritual telah ia "jaga" selama ini.

Sugeng tindak, selamat jalan, mBah Maridjan.

Kalau orang Jawa punya semboyan sakral "sedumuk bathuk, senyari bumi ," cerminan tekad kukuh untuk mempertahankan tanah miliknya sampai titik darah penghabisan, yang konon membuat ide transmigrasi sulit disosialisasikan untuk penduduk etnis Jawa, mBah Maridjan mungkin menjadi ikon ideal untuk keyakinan itu.

Beliau meninggal dunia, di rumahnya. Dalam posisi bersujud. Posisi pasrah, merendahkan diri, ke hadapan Yang Maha Kuasa. Orang besar telah memilih cara kematian yang juga besar, yang mungkin baru dalam jangka waktu yang lama betapa momen heroik, tetapi juga sekaligus tragis itu, akan bisa kita lupakan.

Presentasi wong cilik. Sebagai penulis surat pembaca, saya pernah menulis tentang dirinya. Judulnya, "mBah Maridjan" yang dimuat di harian Suara Merdeka (Sabtu, 27 Oktober 2007). Isinya :

Seorang mantan gubernur yang pagi-pagi sudah kluruk, berkokok, ingin maju sebagai calon Presiden di Pilpres 2009, telah mengunjungi mBah Maridjan. Bagi saya ini seperti sebuah déjà vu, pemutaran kembali adegan yang mirip dengan apa yang pernah dilakukan oleh tokoh-tokoh pemerintahan Orde Baru.

Mereka-mereka ini paling lihai dalam berpropaganda untuk merebut hati rakyat. Antara lain dengan teknik yang disebut sebagai berpura-pura sebagai orang kecil.

Ada cerita tentang mantan menteri penerangan dan ketua partai pro-pemerintah saat itu, ketika melakukan kampanye terselubung di Solo. Ia melakukan aksi atraktif, yaitu menggendong seorang tukang becak Solo. Dengan aksinya itu dirinya membangun citra bahwa dia merakyat dan dirinya merupakan bagian tak terpisahkan dari rakyat kecil.

Menurut Sunu Wasono, Dosen Sastra Indonesia FIB-UI dalam bukunya Sastra Propaganda (2007), lewat aksi itu ingin ia tunjukkan bahwa program partai bersangkutan adalah juga program rakyat kecil. Partai itu kemudian bisa mengaku berasal dari rakyat, untuk rakyat, siap pula berjuang untuk rakyat. Kita semua tahu akhir dari cerita ini semua.

Bercermin dari teknik propaganda di atas, warga Jawa Tengah kini seyogyanya dapat mulai mengasah ketajaman nalarnya bila kelak terpusar dalam atmosfir kampanye pemilihan Gubernur Jawa Tengah yang mulai menghangat. Juga dalam pilpres mendatang. Intinya, Anda jangan sampai terbeli musang dalam karung ketika menetapkan pilihan Anda kelak.

Bambang Haryanto
Wonogiri 57612

mBah di media sosial. Sebagai blogger pustakawan, pagi ini (28/10/2010) mengirim SMS untuk Ahmad Subhan di Yogya :

"Ikut berduka atas wafatnya mBah Maridjan yg heroik. Btw, kira2 adakah perpus/situs perpus yg memajang daftar buku, publikasi, foto2 sd kenangan og2 ttg beliau ?" (Kamis, 28/10/2010 : 07.23.18).

Jawaban Subhan : "Smpe hari ini foto beliau, asli maupun modifikasi, sdh trsebar di fb. Kmaren komentar ttg mb marijan ckp panjang di bwh status Gus Muh, bs jd hari ini lbh rame." (Kamis, 28/10/2010 :07.31.27).

Jawaban saya : "Tks Subhan. Power utk menyebarkan sd mmodifikasi info, kini ditangan user. Power itu hrsnya bs diajak msk perpus ut bikin 'pesta' a la marketspace disana:-)" (Kamis, 28/10/2010 : 07.40.48).

Merajang-rajang buah apel. Sehari sebelumnya saya mengirimkan email ke Ahmad Subhan, Hendro Wicaksono, juga Yossy Suparyo. Antara lain berisi rekap lalu lintas SMS tentang media sosial, juga marketspace yang menurut hemat saya, merupakan pintu utama untuk membangun media sosial dalam lingkup Library 2.0.

Inilah email dan rekapitulasi SMS bersangkutan :


Dear Subhan,

Saya kirimkan log obrolan via SMS tiga sudut kemarin : kau, saya dan Hendro. Siapa tahu ada manfaatnya.

Oh ya, bila berpikir secara marketspace, saya bayangkan perpustakaan itu ibarat buah apel. Lalu bisa kita iris-iris, "dijual," dan mungkin nama produk/layanannya bukan dengan nama perpustakaan lagi.

Jadi Senayan sampai katalog online bersama itu "hanya" salah satu faset, di antara puluhan atau ratusan faset, yang bersinggungan langsung atau tak langsung dengan dunia perpustakaan. Sekadar contoh : beberpa hari yang lalu aku kirim usul ke Diana AV Sasa. Agar situs Ibuku-nya buka fitur baru : mengulik judul-judul buku.

Judul buku itu terbuka bagi peselancar untuk dikomentari, diubah, baik untuk membual, menjual, atau menipu sekali pun. Saya yakin dengan pendekatan "user generated content" ini akan ada nilai positif yang muncul. Karena menurutku users itu cerdas dan kini media sosial membuka lebar peluang sehingga "cream of the cream" itu hadir di permukaan.

Mungkin untuk misi "merajah-rajah" (mengiris-iris) buah apel itu media Senayan bukan media yang tepat. Mungkin perlu situs tersendiri, dengan impian-impian besar tersendiri.

Salam,

BH


(AS/Ahmad Subhan->BH/Bambang Haryanto). Message via Facebook, 26 Oktober 2010 Jam 03.47. Re: Tentang Senayan : Ahaa, menarik sekali istilah Pak BH, "sarana manajemen pergudangan", hahaha... saya sepakat sekali Pak, jangan sampai piranti lunak untuk pengetahuan malah jadi seperti istilah Pak BH itu. Saya tunggu ya Pak, artikel tentang Senayan

(BH->AS) Selasa, 26 Oktober 2010 : 11.41.36. Hi Subhan. Sy sd nulis di blog jip, ttg ide ubah Senayan mnjd mediasosial perpus+media libratainment. Ada pendapat ? Btw, buku Komedikus sy siap terbit Nov ini. Tks.


(BH->HW/Hendro Wicaksono) Selasa, 26 Oktober 2010 : 12.20.21. Hi Hendro. Sy sd nulis di blog jip80, usulan ubah Senayan mnjd mediasosial perpus+media libratainment. Ada pendapat ? Btw, buku Komedikus sy siap terbit Nov ini. Tks.

(AS->BH) Selasa, 26 Oktober 2010 : 11.46.20. Wah, mantap skali pak, nanti sy baca dan beritahukan ke teman2 pengembang Senayan. Btw, buku pak BH perlu dikoleksi oleh Jojon Center tuh, lembaga dokumentasi komedi indonesia, kantornya di jogja, teman sy yg mendirikan.

(BH->AS) Selasa, 26 Oktober 2010 : 12.15.15. Siplah. Wah, rumus "jenis mencari jenis" trjadi diantara qta lg :-). Kan bos Jojoncenter pernah nraktir sy nasi padang Okt 2009 krn kafe blm buka ? Salam utk rekan2.

(HW/Hendo Wicaksono->BH) Selasa, 26 Oktober 2010 : 16.27.55. Mas, memang itu ide yg ingin saya kembangkan dalam next step pengembangan senayan. Sialnya ada tantangan baru berupa standar baru pengganti aacr (saya lupa namanya). Mau tdk mau perhatian jd terpecah kesana juga.

Saat ini yg bisa dilakukan adalah hibrid senayan dg layanan web 2.0 yg memang pas dg kebutuhan perpust. Misalnya dg menempelkan fitus diskusi/komentar dr disqus.com. Contoh implementasinya ada di http://perpustakaan.kemdiknas.go.id/bse. Coba lihat record detail dari tiap buku, dibawahnya ada fitur komentar yg di grab dari disqus. Jadi tdk hrs kita semua yg coding, tinggal pinjam dari layanan yg lain. Itulah yg namanya library 2.0 :D nh skrg mencari layanan lain apa yg pas buat dihibrid ke senayan. Karena layanan web 2.0 banyak banget.

(BH->HW) Selasa, 26 Oktober 2010 : 16.43.47. Tks. Spt Toyota Prius yg hibrid ya? Sy stuju. Visi sy, buku2,pinjam-kembali sd lokasi hny 1 faset dr makrokosmos Library 2.0. Yg utama bgmn mengelola man & his mind.

(HW->BH) Selasa, 26 Oktober 2010 : 16.48.09. Setuju mas. Hanya saja saya lebih suka dg pendapat, we cannot control man and his mind. What we can do is to inspire them, sehingga mereka terdorong utk belajar dan berbagi. Library 2.0 adalah implementasi web 2.0 agar pengelola perpustakaan mudah dlm mencapai impian tsb.

(BH->HW) Selasa, 26 Oktober 2010 : 16.58.19. Tks. Manage bkn=kontrol. Di planet Library 2.0, pustakawan adl mitra 'menari' para user,menfasilitasi minat2, aspirasi sd impian2 mereka. Qta sama kok mimpi2nya :-).

(HW->BH) 26 Oktober 2010 : 17.01.27. Betul mas. Proses manajemen pengetahuan sdh terbukti jalan di media sosial Internet. Nah skrg tantangan bagaimana memindahkannya dlm lingkup perpustakaan.

(HW->BH) 26 Oktober 2010 : 17.01.08.Mas maaf kalo ada sms atau pesan di FB blm sempat dibales. Hape saya hilang dicopet, lenyap beserta info kontak dll. Belakangan saya sibuk ngurusi cpns online diknas. Benar2 menguras energi sampae saya sakit. Mudah2an skrg saya siap berdiskusi kembali :).

(BH->HW). Selasa, 26 Oktober 2010 : 17.10.19. Tks. Santai sj, Hendro. Kyk di JMR dulu, kl nurutin nafsu bs smlaman ga tidur :-(. Hp yg ilang yg BB itu ? Copetnya jg ahli coding kali. Mg sehat2,nnti kita obrol2 lg.

Pustakawan dunia maya. JMR adalah Jagongan Media Rakyat 2010, perhelatan yang telah mempertemukan saya dengan Hendro Wicaksono, 22-25 Juli 2010, di Yogyakarta. Pada acara itu pula saya menemukan nama Erik Qualman yang video Youtube-nya berjudul "Social Media Revolution"" diputar dalam acara JMR 2010 itu pula.

Dalam artikelnya Statistics Show Social Media Is Bigger Than You Think, mengutip data videonya itu, ia memberikan data menarik.

Antara lain ia menulis bahwa di tahun 2010 Gen Y jumlahnya akan melebihi generasi Baby Boomers….dimana 96% dari mereka bergabung dalam jaringan sosial di dunia maya. Media sosial telah menggusur posisi situs-situs pornografi ("hallo Pak Tifatul Sembiring, apa ini kabar baik bagi Anda ?") sebagai aktivitas nomor satu di Internet. Di Amerika Serikat tahun lalu, satu dari 8 perkawinan yang terjadi proses pacarannya adalah melalui media sosial.

Untuk para pelajar yang aktif di dunia maya, berbanggalah. Erik Qualman mengatakan, hasil kajian Departemen Pendidikan Amerika Serikat di tahun 2009 menunjukkan bahwa secara rata-rata pelajar yang belajar melalui sarana online lebih berprestasi dibanding pelajar yang menerima instruksi secara tatap muka.

Merujuk pendapat Erik Qualman itu, hemat saya, media sosial adalah tambang emas untuk digali, juga untuk para pustakawan. Mau tak mau, agar profesi ini tetap eksis, walau mungkin dengan nama yang berbeda-beda, juga baru, dirinya harus tampil dan segera membuka warung-warung yang inovatif dan dibutuhkan konsumen di dunia maya.

Erik Qualman telah memberikan tip untuk sukses : "Perusahaan-perusahaan yang sukses memanfaatkan media sosial berlaku lebih sebagai panitia pelaksana pesta, agregator informasi dan penyedia informasi, ketimbang sebagai pemasang iklan tradisional."

Terima kasih, Pak Erik. Hallo, pustakawan 2.0., mari kita segera berpesta di dunia maya. Blog ini juga saya daftarkan sebagai salah satu pesertanya, karena pustakawan 2.0. idealnya adalah juga sebagai produser informasi.

Kaliurang. Gara-gara Merapi meletus, saya tidak jadi mengunjunginya lagi. Karena undangan pesta intelektual yang dikirimkan Widiaji dan semula direncanakan di Kaliurang, dipindahkan ke Yogyakarta.

Perhelatan yang diselenggarakan oleh Stube-Hemat telah mendaulat saya untuk menjadi nara sumber pelatihan bagi mahasiswa bertopik "Berdaya Di Era Banjir Informasi" (6/11/2010) dan "Belajar Menjadi Komunikator Positif" (7/11/2010).

Hallo Yogya, saya akan mengunjungi Anda lagi.
Kita bisa ketemu ?


Wonogiri, 28 Oktober 2010

ee

Sunday, October 24, 2010

Ajaran Ibu Soma,Gus Doerr dan Katalog Yang Menari

Warga Epistoholik Indonesia Di Tengah Jagongan Media Rakyat 2010 Yogyakarta-Bagian 3


Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 106/Oktober 2010
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


Kinokuniya.
Mencari-cari buku di sana saya merasa seperti sedang berlatih karate di dalamnya.

Biang keroknya adalah fasilitas antarmuka dari anjungan elektronik yang disediakan toko buku itu. Dengan alat itu konsumen dibantu untuk menemukan buku-buku yang mereka cari di toko buku bersangkutan. Layanan serupa bisa kita temui di pelbagai toko buku terkenal di Indonesia, berupa komputer, sementara di Kinokuniya itu wujudnya seperti kios ATM.

Ini bukan toko buku Kinokuniya yang berada di Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta. Ini toko buku jaringan yang sama tetapi luasnya hampir sebesar lapangan sepakbola. Hamparan belukar buku yang menggairahkan itu membuat saya harus mengandalkan anjungan tadi untuk menemukan buku yang saya incar. Buku tentang manajemen ilmu pengetahuan.

Muncul masalah. Keypad-nya kurang begitu ramah. Ketika telunjuk menekan terlalu lemah, huruf tidak muncul. Tetapi ketika tekanan ditingkatkan ekstra, huruf yang muncul menjadi dobel. Saya membayangkan sedang berlatih karate, melakukan exercise guna memperkuat daya tohok jari-jemari saya.

Jadi sungguh perjuangan tersendiri untuk bisa menuliskan lema yang kita cari. Baik nama pengarang, judul atau subjek buku. Sementara pengguna lain dari toko buku megah di bilangan Orchard Road, Singapura itu, sudah pula nampak mengantri.

Buku yang saya cari itu, tidak saya temukan. Saya berandai-andai, alangkah menariknya bila terminal itu bisa agak "bercanda" dengan saya. Misalnya, bila buku itu tidak ada, ia dapat menyarankan saya untuk mengunjungi toko buku terdekat yang masih menyediakannya. Bahkan melalui Internet, sambungan itu bisa bercakupan dunia pula.

Jadi antar toko buku itu data koleksinya tersambung secara elektronik, 24/7. Diperkaya pula sambungannya dengan penerbit buku dan pengarang buku bersangkutan. Bahkan terintegrasi dengan data para pembaca buku tersebut, genap dengan segala komentar yang mereka tuliskan. Mengambil jargon dari ranah ilmu perpustakaan, ijinkanlah saya menyebut gambaran itu sebagai panorama tentang katalog yang menari.

Diagram kambing. Mengilas balik ke tahun 1980, mata kuliah tentang katalog, dengan label katalogisasi dan klasifikasi, bukan mata kuliah yang saya sukai. Pengampunya adalah Ibu Lily K. Somadikarta, yang saat itu adalah juga ketua jurusan Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Cara mengajarnya yang tegas dan direct, membuat kami yang belum mengenal akrab beliau menjadi cepat-cepat ciut nyali. Apalagi ini mata kuliah yang menentukan, apakah di tahun pertama kami langsung drop out atau berlanjut. Kuis atau tes pertama untuk mata kuliah ini saya mendapatkan nilai nyaris mendekati ambang batas kegagalan : 62.

Saat kuis, saya memang tidak menyangka diagram tentang alur proses penyimpanan dan penemuan kembali bahan pustaka itu muncul di kertas ulangan. Rupanya saya telah meremehkan jantung alur kerja perpustakaan ini. Sebab ketika mencatatnya saya telah membingkai diagram tersebut dengan garis kontur berwujud binatang kambing.

Teman sekelas saya, Subagyo Ramelan, tertawa-tawa melihat "diagram kambing" buatan saya itu.Bahkan ia mengomentari, "itu cara mencatat yang jenius." Ia yang kini membuka gerai "Safir Andaru" dan bergerak dalam bisnis batu mulia di Ciledug, Tangerang, ketika menjadi book officer di Asia Foundation pernah membantu saya memperoleh hibah puluhan buku-buku bermutu terbitan manca negara. Terima kasih, Bag.

Saya bayangkan, ke dalam mulut kambing itu masuk satu judul buku. Buku itu dikunyah, untuk diekstraksi. Wujud fisiknya disimpan di rak tertentu. Kalau jumlahnya puluhan atau ratusan, mungkin ingatan kita masih kuat mengingat sampul atau tempatnya untuk bisa ditemukan kembali ketika dibutuhkan. Tetapi ingatan manusia ada batasnya. Bila jumlah buku itu sudah mencapai ribuan, masalah muncul. Menyimpan sih gampang, tetapi saat untuk menemukan kembali, secara cepat dan akurat ?

Solusinya, data buku itu harus dicatat. Secara sistematis. Ada ilmunya. Dalam buku besar, ia dicatat berdasarkan nomor urut, tanggal pembelian/hadiah, dan sumber buku tersebut. Ini untuk administrasi internal. Sedang untuk layanan bagi pemakai perpustakaan, isi buku dianalisis dulu, diklasifikasikan menurut subjek atau perihal, dengan merujuk panduan yang baku, seperti tabel DDC, Dewey Decimal Classification dan sarana bantu lainnya.

Kemudian tergabung di dalamnya pernak-pernik data buku lainnya, yang disajikan secara sistematis dalam bentuk kartu-kartu katalog. Pengunjung dapat mengakses koleksi perpustakaan melalui bantuan katalog tersebut berdasarkan nama abjad pengarang, judul buku, sampai subjek buku.

Pemahaman publik terhadap katalog sebagai sarana temu kembali bahan pustaka di perpustakaan, bukan hal yang otomatis. Bahkan juga di kalangan intelektual. Di kolom surat pembaca majalah Tempo (16/1/1982), saya pernah mengomentari isi acara "Dunia Pustaka" di TVRI (29/11/1981). Saat itu hadir bintang tamu seperti Harsja W. Bachtiar, Tuti Indra Malaon dan Toeti Adhitama.

Protes saya adalah : mahasiswa dan dosen (!) harus dilatih agar mampu memahami fungsi katalog dan mahir memanfaatkannya dalam menemukan informasi yang relevan. Keterampilan serupa sekarang ini yang juga harus dilatih pada mereka, adalah pemanfaatan mesin pencari Google di Internet. Semua orang bisa menggunakan, tetapi tetap ada perbedaan signifikan antara mereka yang tidak terlatih vs mereka yang berpengetahuan tentangnya !

Konsumen adalah matahari. Itulah teori dasar dan praksis pengelolaan bahan pustaka yang jadul, yang saya pelajari di dekade awal 1980-an. Kini katalog-katalog kertas itu semakin banyak digantikan dengan sinyal-sinyal elektronik. Otomasi. Komputerisasi.

Tetapi sebagai seorang renegade, yang terciprat DNA ilmu perpustakaan tetapi tidak pernah bekerja sebagai pustakawan sejak 1985, saya tidak tahu seberapa jauh, juga seberapa sukses otomasi itu telah berjalan di pelbagai perpustakaan dunia dan Indonesia.

Ketika di tahun 1996, awal kali menggunakan Internet di stan pameran USI-IBM di Wisma Bapindo dengan memposkan email di situs Olimpiade Atlanta untuk Susi Susanti, Alan Budikusuma dan kawan-kawan (juga adik saya) di Atlanta, lalu mengenal katalog raksasa di Internet berupa direktori Yahoo ! saat itu, dan kini mesin pencari Google, saya merasa ilmu perpustakaan (pola jaman saya) dan juga institusi perpustakaan sedang menuju senjakala. Minimal, relevansinya terancam semakin terus menyurut.

Di harian Suara Karya saat itu saya pernah menulis surat pembaca, berpendapat bahwa dulu lanskapnya perpustakaan sebagai matahari dan para pemakai merupakan planet-planet yang mengelilinginya. Kini di era Internet, posisinya terbalik. Pemakai informasi adalah matahari dan pelbagai jasa layanan informasi yang ada saat ini, termasuk perpustakaan, merupakan planet-planet yang mengelilinginya.

Dalam dunia korporasi, meminjam pendapat pustakawan yang kini menjadi konsultan bisnis Internet tingkat dunia, Mary J. Cronin dalam bukunya The Internet Strategy Handbok : Lessons from the New Frontier of Business (Harvard Business School Press, 1996), pelanggan adalah matahari yang dikelilingi pelbagai unsur-unsur fungsi inti perusahaan. Tidak hanya terkait dengan bagian pelayanan pelanggan dan komunikasi korporat, tetapi juga merengkuh kepada bagian pengembangan produk, riset, sistem, personalia, manajemen informasi,penjualan, pemasaran sampai distribusi produk.

"Interaksi secara konstan dengan basis konsumen, memperoleh umpan balik untuk setiap fase pengembangan produk, dan kemampuan mengorkestrasi beragam bagian untuk hadir sebagai customer support dan tim umpan balik, menunjukkan bahwa pelanggan hadir sebagai komponen sentral semua aplikasi berbasis Internet," demikian tegas professor Carroll School of Management dari Boston College tersebut.

Revolusi media sosial. Para pustakawan dan pegiat otomasi perpustakaan di Indonesia kiranya pantas mendengar nasehat Ibu Mary yang anggun dan karismatis itu. Konsumen adalah matahari. Sudahkah pola pikir itu terintegrasi dalam layanan perpustakaan, yang sudah menggunakan layanan secara otomasi ?

Untuk mencoba mencari tahu hal itu, hari Sabtu (23/10/2010), sebagai hari wajib kunjung ke Perpustakaan Umum Wonogiri, saya bertanya kepada petugasnya, mBak Wening. Apa nama peranti lunak untuk organisasi koleksi perpustakaannya. Dia jawab : Limas. Lalu saya tanya, apakah ada fitur yang memberi peluang bagi peminjam untuk menulis sesuatu tentang buku (yang dibacanya) itu ? Ia jawab lagi : tidak ada.

Sebelum berangkat, saya sempat kirim SMS ke Ahmad Subhan, pustakawan dan aktivis literasi di Yogya. Semula kami hanya bisa saling kenal melalui Internet, lalu bisa ketemuan secara serendipity pada acara Jagongan Media Rakyat (JMR) 2010, 24 Juli 2010 di Jogja National Museum, Yogyakarta. Beberapa saat sebelumnya ia baru ngeh kalau kita sama-sama memiliki DNA ilmu perpustakaan.

Isi SMS saya : Pagi Subhan. Di "Senayan" ssudah data buku apa ada kolom komentar user ttgnya, spt @ Amazon.com ? Sdh bc blog "Expired but still Wired" di blogroll jipfsui80-ku ? Tks. (Sabtu, 23 Oktober 2010 : 06.51.23).

Ia membalas : Pagi jg pak. Senayan blm ada fitur komen. Tp itu ide bagus, prlu diusulkn ke m'hendro. Sy prnah bc blog itu, isinya bgs, khususnya tlsn ttg fenomena pola membaca "F" (Sabtu, 23 Oktober 2010 : 07.19.26).

Hendro yang ia maksud adalah Hendro Wicaksono, Head Developer Senayan Library Automation. Inilah "Senayan" yang saya maksud di SMS di atas tadi. Senayan adalah perangkat lunak perpustakaan milik Departeman Pendidikan Nasional (Depdiknas). Bahkan karya cipta anak negeri ini telah memenangkan kategori Open Source System dalam Indonesia ICT Awards 2009 yang baru lalu.

Hendro yang alumnus JIP-FSUI 1992 ini, secara ajaib dan mungkin sudah tergaris di kosmis, tiba-tiba menghuni satu kamar bersama diri saya di wisma Jogja National Museum, 23-25 Juli 2010. Dia dari Jakarta dan saya dari Wonogiri, saat itu jualan Epistoholik Indonesia, kami sama-sama diundang menjadi nara sumber pada helat pertemuan aktivis media akar rumput di Jagongan Media Rakyat (JMR) 2010 Yogyakarta.

Sesudah sowang-sowang saya merasa kurang beruntung. Presentasi Hendro Wicaksono waktunya bersamaan dengan penampilan teman yang saya kenal melalui Internet, pegiat budaya Internet Sehat, Donny Budi Utoyo, dari ICT Watch. Menempati pendopo, yang sehari sebelumnya tempat saya menjual komunitas EI saya, pengunjung sudah disihir dengan sajian video dari YouTube yang berkisah mengenai "Social Media Revolution"" yang menggelegak. Di mana kita segera dihentak oleh lagu hip-hop Fat Boy Slim yang tak henti-hentinya berteriak : "Right here, right now ; right here, right now ; right here, right now !".

Revolusi media sosial memang telah terjadi sekarang ini. Merujuk hal itu saya memutuskan untuk mengikuti sesi presentasi dari Donny B.U. ini, dan tentang Senayan-nya Hendro, terpaksa saya tinggalkan. Dalam konteks kepentingan komunitas EI saya, inspirasi tentang media sosial saya rasa lebih sedikit relevan dibanding bercerita tentang perpustakaan. Utamanya, hemat saya, karena yang pertama lebih banyak menyimpan cerita sebagai bahan eksekusi pendekatan yang inside out, yang berorientasi kepada khalayak, pembaca atau konsumen, dibanding wacana yang kedua saat itu.

Saya memang sempat menyelinap masuk ke ruangan Hendro tempat ia melakukan presentasi. Saat itu berlangsung sesi tanya jawab. Nampak moderator, Yossy Suparyo, sepertinya rada kesulitan menemukan audiens yang mau tampil untuk berkomentar. Jumlah audiensnya lebih banyak daripada yang hadir di pendopo tadi.

Membanggakan juga melihat generasi muda pustakawan yang begitu antusias untuk menguasai perangkat lunak otomasi ini. Bahkan di Yogyakarta ini, komunitas untuk belajar bersama sudah terbentuk, dan boleh dibilang Hendro sudah menaiki tahta sebagai "raja" di antara mereka dengan bersenjatakan keris sakti berwujud peranti lunak Senayan itu pula.

Sayang, ketidakberuntungan saya masih berlanjut. Unduhan peranti lunak Senayan dari Hendro tersebut kini masih "terkunci" di flashdisk saya yang bermasalah berat. Tidak bisa diakses. Padahal belum pernah saya baca-baca isinya, minimal sejarah proses perjalanan Senayan sampai kini. Mungkin itu penyebab :-( sms saya ke Hendro, belum ia jawab. Saya bertanya :

Siang, Hend. Minta info : 1. Apa perpus2 user Senayan saling terkonek scr online, 24/7 ? 2.Ada fitur utk interaksi peminjam2 buku dg pustakawannya scr online pula ? Tks. (Sabtu, 23 Oktober 2010 : 13.42.28).

Marketplace vs marketspace. Di perpustakaan Wonogiri, dengan akses Internet yang selama proses loading bisa saya gunakan waktunya untuk baca-baca koran, saya juga mengirim pertanyaan di akun Facebooknya Hendro Wicaksono.

"Apakah Senayan menomor satukan functionality dari bahan pustaka, pinjam-kembali semata, tetapi belum mengeksploitasi sisi-sisi interaksi antara user/peminjam dengan bahan pustakanya, and beyond ?"

Senayan adalah katalog elektronik. Kalau katalog-katalog kertas yang berukuran 3 x 5 inci itu sangat terbatas untuk diutak-atik, maka katalog elektronik menurut hemat saya membuka peluang maha lebar untuk dieksploitasi. Tidak hanya terbatas sebagai sarana temu kembali bahan-bahan pustaka belaka.

Meminjam pendapat Jeffrey F. Rayport, yang dulu adalah dosen di Harvard itu, kartu-kartu katalog kertas dan koleksi buku itu bisa dijuluki sebagai marketplace, wahana fisik. Sementara katalog elektronik adalah marketspace, suatu lingkungan maya tempat berlangsungnya transaksi dan interaksi secara elektronik. Lingkungan ini ibarat lempung, tanah liat komunikasi yang membuka peluang untuk dieksplorasi sejauh batas-batas imajinasi.

Saya bertanya-tanya : apakah eksekusi katalog elektronik Senayan itu masih memakai kerangka pikir marketplace ? Atau kah sudah merambah ke kerangka pikir yang revolusioner dan benar, yaitu sebagai marketspace ? Bahkan sudah pula dirancang untuk ikut menggelincir sebagai pelaku dalam badai revolusi media sosial yang sedang terjadi ?

Gus Doerr menjawab. Gara-gara mencari info terbaru tentang Pak Jeffrey F. Rayport tadi (saya mengagumi saat membaca artikelnya "Managing in the Marketspace" di majalah Harvard Business Review, Nov/Dec 1994, foto paling atas) dengan memanfaatkan Google, bukan melalui sarana bantu katalog kertas di perpustakaan Wonogiri (yang tidak ada) atau katalog online yang belum dioperasikan untuk pengunjung ("menunggu lengkap," kata mBak Wening), saya ketemu artikel menarik.

Terdapat di situs majalah Fast Company yang bergengsi. Versi cetaknya selalu bikin ngiler saat terpajang di toko buku QB World Books, Jl. Sunda, Jakarta Pusat. Artikel dari majalah itu bercerita tentang Gus Doerr.

Nama lengkapnya John Doerr, dari perusahaan Kleiner Perkins Caulfield & Byers yang teramat amat sohor di bidang dunia teknologi informasi. Perusahaan venture capital raksasa ini telah membidani lahirnya perusahaan-perusahaan Internet kelas dunia. Misalnya, Google, Amazon, Sun Microsystems, juga Electronic Arts, Symantec, sampai Netscape.

Gus Doerr bilang : terjunlah kini ke media sosial atau Anda akan keteteran. Menurutnya, media-media sosial seperti blog, Facebook dan Twitter dan ribuan jenis lainnya, merupakan gelombang ketiga dari disrupsi Internet. Gelombang pertama adalah terciptanya Internet itu sendiri ("terima kasih banyak, Pak Tim Berners-Lee").

Gelombang kedua adalah penemuan peramban, browser, yang membuat semua orang mampu menjelajahi web. Dan sekarang menurut Gus Doerr, Internet sedang berubah lagi. Dari "Internet lama yang berbasis dokumen dan situs menuju sosok baru yang meliput semuanya tentang manusia, tempat dan hubungan."

Terima kasih Gus Doerr, untuk wawasan Anda.

Tohokan keras. Terakhir : dalam konstelasi perubahan besar yang sedang terjadi ini, di manakah sosok dan krida pustakawan Indonesia berada ? Barangkali secara guyon kita bisa bercermin dengan menghitung-hitung karakter dari istilah "pustakawan" itu sendiri.

Kata "pustakawan" terdiri atas 10 huruf. Kata "pustaka," terdiri dari tujuh huruf, 70 persen. Merujuk benda. Kata atau imbuhan "wan," terdiri tiga huruf, 30 persen. Merujuk manusia. Jadi pustakawan Indonesia proporsinya jauh lebih suka dan lebih berfokus untuk mengurus benda-benda, tetapi abai untuk melayani manusia ? Lihatlah pula pesan dalam logo organisasi profesi Ikatan Pustakawan Indonesia. Barangkali Anda juga telah memperoleh jawab yang sama dari sana.

Bila memang semua itu yang terjadi, tak ayal bila profesi ini akan segera menjadi tidak relevan lagi di tengah badai perubahan.

Kinokuniya.

Dengan meminjam kenangan saat menotok tombol-tombol keypad anjungan informasi di toko buku itu, apakah kira-kira gugatan seorang renegade ini merupakan tohokan keras ? Atau hanya gelitikan yang tidak dianggap penting bagi masa depan dunia perpustakaan dan kepustakawanan kontemporer di Indonesia ?


Wonogiri, 24 Oktober 2010

ee

Monday, April 12, 2010

Harta Karun Tersembunyi Di Perpustakaan

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 94/April 2010
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia



Hari ini, apakah Anda memiliki kartu anggota perpustakaan ? Saya sama sekali tidak memiliki, walau dalam seminggu sebenarnya saya selalu mengunjungi 2-3 kali perpustakaan umum di Wonogiri.

Mengapa ? Karena dalam mengunjungi perpustakaan itu, tujuan utama saya adalah untuk membaca-baca 4 buah koran yang ada. Antara lain koran Kompas, Jawapos, Suara Merdeka dan Solopos. Sebelumnya ada tabloid BOLA, tetapi langganannya dihentikan. Majalahnya juga ada, Intisari dan juga Femina.. Di perpustakaan ini saya juga bisa membaca-baca bukunya Stephen R. Covey, ada pula puluhan buku-buku baru bertopik komputer dan Internet, sampai buku 90 Menit Mengenal Frank Kafka.

Mengenang masa jadul, pada tahun 1980-an saya memiliki beberapa kartu anggota perpustakaan. Selain perpustakaan jurusan, fakultas (FSUI), PDII-LIPI, Lembaga Indonesia-Amerika (LIA), , dan juga American Cultural Center (ACC). Kedua lembaga yang terakhir adalah tempat nongkrong favorit, karena belasan judul majalah-majalah terbitan Amerika Serikat yang top-top terpajang disana. Seperti Atlantic Monthly, Harvard Business Review sampai Psychology Today. Sayang, majalah gaya hidup digital seperti Wired saat itu belum ikut terpajang di rak majalah mereka.

Kepemilikan kartu anggota itu barangkali sebagai suatu kewajaran, bila merujuk fakta bahwa saya memang pernah berkuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Tetapi ijinkanlah saya mengaku dosa, bahwa begitu selesai saya tidak berminat untuk menjadi pustakawan. Akibatnya, boleh jadi, subsidi negara yang diberikan kepada saya saat berkuliah itu, menjadi sia-sia adanya.

Tetapi saya punya alasan tersendiri. Memang jauh dari kiprah gagah berani a la pustakawan Flynn Carsen dalam film The Librarian: Curse of the Judas Chalice (2008) yang memerangi pasukan drakula yang berkehendak menegakkan kembali kejayaan imperium Rusia, saya juga masih ingin hadir sebagai insan yang berguna.

Memang benar saya tidak tertarik menjadi pustakawan dalam arti sebagai petugas konservasi dan administrasi informasi (bahan pustaka), tetapi saya tertarik sebagai pustakawan yang berkiprah dalam aksi penyebarluasan informasi. Lewat pena. Termasuk melalui surat-surat pembaca. Sekarang lewat blog pula. Dan itulah yang saya kerjakan, hingga kini. Semoga dengan pengakuan itu membuat dosa-dosa saya kepada negara Republik Indonesia, kini bisa agak dikurangi.

Manfaat magis membaca. Sekarang, ketika saya tinggal di Wonogiri, jelas membuat kemewahan memperoleh akses informasi yang gratisan dan “mewah-mewah” di atas itu hanya tinggal kenangan. Tetapi syukurlah, dengan hadirnya Internet, kemewahan masa lalu yang hilang itu tak perlu lagi ditangisi. Justru dengan adanya Internet yang maha luas menyimpan khasanah informasi itu seringkali saya terpapar dengan informasi-informasi yang menarik secara serendipity, secara kebetulan yang menyenangkan.

Kabar terakhir yang menarik, saya peroleh dari Technorati. Antara lain berupa artikel dari Maggie Hoomes, berjudul ”Reading Activates Your Brain” yang inspiratif. Menurutnya, aktivitas membaca membuat lebih aktif bagian bahasa dalam otak kita. Percobaan untuk meningkatkan kemampuan membaca pada anak-anak penyandang disleksia terbukti menunjukkan adanya peningkatan aktivasi pada otak mereka.

Ilmuwan dari Universitas Carnegie Mellon menemukan bukti bahwa volume otak pada area bahasa seseorang mampu meningkat setelah partisipan memperoleh bimbingan membaca selama enam bulan. Hasil kajian itu menunjukkan betapa struktur otak dapat ditingkatkan melalui pelatihan bagi mereka yang lemah membaca untuk menjadi pembaca yang lebih baik.

Bagi Anda dan saya yang sudah setengah umur ini, hasil penelitian yang diselenggarakan oleh Klinik Mayo (2009) bertajuk kajian mengenai penuaan memberi kabar bagus. Menurut kajian itu, membaca buku dan aktif dalam pelbagai kegiatan kognitif lainnya mampu menurunkan resiko kecacatan kognitif ringan (MCI), di mana gejala ini sering dikaitkan dengan penyakit Alzheimer.

Bila otak Anda itu merupakan otot, bagaimana caranya untuk menguatkannya ? Rangsangan dan tantangan merupakan jawabnya. Membaca jelas akan merangsang aktivitas otak Anda. Membaca-baca beragam jenis buku atau majalah akan menantang otak untuk mampu berfikir ke pelbagai arah baru dan mampu menyerap konsep atau pun informasi-informasi baru yang mutakhir.

Anak-anak juga memperoleh manfaat besar dari kegiatan membaca. Para orang tua yang aktif akan mampu merangsang anak-anak mereka dalam kegiatan membaca secara bersama. Kegiatan membaca secara interaktif itu akan membentuk ikatan cinta antara orang tua dan anak, sekaligus menumbuhsuburkan rasa ingin tahu anak yang alamiah terhadap dunia dan lingkungan sekitarnya.

Memberi peluang bagi anak untuk mengajukan pertanyaan, mengutarakan minat terhadap topik tertentu, sampai mendengarkan kosakata baru atau pun gagasan tertentu akan membentuk kesan positif di benak anak yang tergores abadi pada sepanjang hidupnya. Anak-anak dengan kemampuan membaca yang rendah cenderung lebih gelisah dan mudah merasa sedih.

Ilham dari Amerika. Artikel Maggie Hoomes itu ditutup dengan imbauan bahwa solusi mudah dalam memromosikan minat baca dan aktvitas merangsang otak kita, pembaca (di AS) diajak untuk menjadi anggota perpustakaan umum di kota masing-masing selama Pekan Perpustakaan Nasional (National Library Week) yang berlangsung tanggal 11-17 April 2010.

Kegiatan itu disponsori oleh The American Library Association (ALA) sejak tahun 1958, merujuk keprihatinan bahwa semakin banyak warga Amerika yang tidak membaca secara cukup, tetapi lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar televisi.

Aktifkan otak Anda minggu ini, dan ingatlah semboyan yang diambil dari tema penyelenggaraan Pekan Perpustakaan Nasional yang pertama : “Ayo Bangun dan Membaca.”

Apakah ajakan dan inspirasi dari Amerika Serikat itu bisa berdering di telinga Anda ? Juga sampai kepada keluarga, sampai putra-putri Anda ? Silakan Anda yang menentukannya sendiri.

Sebagai penutup, saya kutipkan isi sebuah buku mengenai panduan hidup sukses karya Peter Spann, The Little Pot of Gold : 100 Keys to Success and Wealth (2003). Pada kunci yang ke-24, ia menulis :

“Apa yang Anda butuhkan untuk menjadi kaya itu seringkali gratisan.
Semua orang mampu memiliki kartu anggota perpustakaan.”


Catatan : Artikel ini juga saya pajang di Facebook saya, dan suatu kejutan, telah memperoleh komentar dari teman-teman kuliah saya di JIP-FSUI Angkatan 1980. Semoga bermanfaat.

Bakhuri Jamaluddin : He he he BH itu memang bukan Pustakawan Ruang Baca, tidak perlu minta maaf, Anda justru Pustakawan Global tanpa gaji dan pensiun !

Oh ya, aku dulu sekolah olahraga, tapi tak sempat mengajar olahraga, tapi di tiap lingkungan perumahan anak asuhku sering juara bolavoli dan futsal antar RT. Sebagai jebolan JIP-FSUI aku sdh menjadi Pustakawan Ruang Baca 18 th, lalu pindah sebagai Auditor, juga 18 th, belakangan ketika usia pensiun aku mengelola majalah Itjen Depkes dan berlanjut sebagai Verifikator Jamkesmas.

Di tempat terakhir itulah naluriku sebagai mantan Pustakawan muncul melalui BJ-Pinjam, yaitu Bakhuri Jamaluddin - Peduli Info Jamkesmas. Tiap ada info baru tentang hal ihwal Jamkesmas, aku infokan ke temen-temen Verifikator Independen Jamkesmas yg tersebar di nusantara (1.500 orang lebih) melalui Facebook. Alhamdulillah tiap malam selama 2 jam jelang tidur, aku sempatkan diri menjawab pelbagai info Jamkesmas. Semoga itu tergolong pekerjaan Pustakawan juga.

Ayo Bung Bambang Haryanto, kita lanjutkan "pengabdian" kita dengan cara kita sendiri ! [Minggu, 12/4/2010 : 08.40 pm].

Hartadi Wibowo : Sepakat utk mengatakan BH adalah PUSTAKAWAN GLOBAL. Bahkan, BH itu levelnya di atas kita-kita yg jadi "penjaga & penjaja (gudang) informasi".

Bicara pengalaman, saya merasa hidup saya penuh dng NDILALAH KERSANE GUSTI ALLAH !!. Dulu saya tdk tahu sama sekali apa itu JIP. Tujuan saya ke Jkt (UI) adalah utk kuliah lagi (setelah lulus dari ABA di Yogya), apapun jurusannya, yg penting kuliah di Univ Negeri dan jadi sarjana (karena daftar/test di UGM 3 thn berturut-turut tidak diterima !). Akhirnya saya daftar di JIP dan JIF (Filsafat). Alhamdulillah diterima dua-duanya, dan disuruh pilih. Entah kenapa, dan ndilalah, saya pilih JIP, dan akhirnya mulai menyukai dunia pustaka.

Ketika Bapindo butuh pustakawan, pak Sulistyo Basuki nyuruh saya dan (alm) Haris Nasution utk mencoba nglamar. Ndilalah lagi, yang diterima saya. Ketika disuruh langsung kerja, saya menolak, dan minta izin utk menyelesaikan kuliah dulu, dan minta dibiayai (beasiswa). Ndilalah disetujui, dan dpt beasiswa sampai selesai. Dan selama kuliah saya juga nyambi kerja paruh waktu di Perpust TEMPO dan LPEM UI.

Awal 1985 saya resmi masuk sbg peg Bapindo. ditempatkan di Perpust. Setelah hampir 10 thn di Perpust, thn 1995 mulailah saya pindah ke Bag/Dept lain. Ketika Bapindo merger ke dalam Bank Mandiri (1999), tiba-tiba (ndilalah) saya dipercaya & ditunjuk sbg Ketua (Dirut) Dana Pensiun Bank Mandiri IV (ex DP Bapindo). Tugas utamanya adalah mengelola dana ratusan milyar) utk dikembangkan guna membayar uang pensiun bulanan para pensiunan. Berbekal ilmu yang saya pelajari dari buku-buku di Perpust, dan "bergaul" dng dunia pasar modal, alhamdulillah selama 7 tahun di DP saya bisa mengembangkan asset DP meningkat sekitar 80%.

Menjelang pensiun, ndilalah lagi, saya masih dipercaya untuk mengelola Yayasan Kesehatan Bank Mandiri. Tugasnya hampir sama, mengelola dana utk digunakan membantu biaya kesehatan para pensiunan.

Jadi semenjak keluar dari dunia Perpustakaan, saya betul-betul meninggalkan profesi pustakawan. Namun sesekali masih menyempatkan berkunjung ke Perpustakaan, minimal utk nostalgia, merenungi perjalanan hidup yang tidak bisa ditebak, dan mensyukuri NDILALAH KERSANE GUSTI ALLAH. Wass, HW. [Selasa, 13/4/2010 : 10:41am].


Subagyo Ramelan : Ini namanya nostalgia, acara kangen-kangenan, dengan berbagi pengalaman lewat tulisan, baik dari penulis maupun para komentatornya. Kiat teman2 memanfaatkan ilmu yg didpt dari JIP, dan pengalaman yg diperoleh dari gudang buku, yg diejawantahkan ke bidang lain, kelihatan banyak kontribusinya untuk menuju ke arah sukses. Syokur alhamdulillah.

Klo bagiku, BH ini sosok yg unik karena di otaknya penuh dgn gagasan2 yg akan selalu dituangkan, baik dlm karya nyata maupun dlm bentuk tulisan. Aku masih ingat, ketika belum 1 bulan kita bertemu di JIP, BH sdh berani maju ke depan kelas dan mengajak teman2 untuk menerjemahkan 1 literatur bhs Inggris ke bhs Indonesia.

Ajakan ini diajukan dgn serius tapi jenaka. Ditanggapi atau tidak oleh teman2, bagiku itu soal lain. Yg jelas anak muda ini (waktu itu BH masih tergolong muda) punya kelebihan lain, berani tampil dengan ide2nya. Saluut untuk BH. Ide2 mu pasti akan menghasilkan sesuatu untuk Indonesia. [Selasa, 13/4/2010 : 2:09pm via Facebook Mobile].

Bambang Haryanto : Thanks, BJ, HW dan SBR. Saya senang tujuan kita kangen-2an via FB bisa terjadi. Bener juga "kyai akik sakti" :-) dalam ngunandiko, betapa ilmu yang kita dot dari ban dan knalpot JIP itu bisa diejawantahkan dalam pelbagai medan bakti. Senang sekali mendengar kisah-kisah penuh teladan dan sukses dari teman-teman. Siapa menyusul untuk rela berbagi cerita ? [Rabu, 14/4/2010 : 11:39am].

Zul Herman : Mas BH, tulisan anda menarik sekali. Anda sungguh beruntung terbiasa menulis dan dengan menulis terbiasa membaca. Dua aktivitas yang saling berkaitan.

Seorang pustakawan yang tidak membaca ibarat ayam mati di lumbung padi.Ke dalam kategori ini mungkin saya termasuk pula. Walupun saya juga seperti Mas BH, adalah pustakawan yang tidak pernah benar-benar jadi pustakawan dan juga tidak membaca (lagi) apalagi menulis. Walaupun dalam hati saya selalu gemas ingin menulis. Tapi selalu saya gagalkan dengan tidak mau berlatih diri. Saya ingin mendapatkan resep dari Mas BH soal ini. [Rabu, 14/4/2010: 12:14pm].


Bakhuri Jamaluddin : BH sudah memancing kwartet mantan pustakawan (kurang sejati), kini telah bertautan "pandawa" alumni JIP-FSUI angkatan 1980. Wah, ternyata sudah S3 semua, artinya ya tentu saja "Sampun Sepuh Sedanten" alias "Sudah Sepuh Semua" tapi masih rajin fb-an. Ayo, mana Srikandi JIP-FSUI, mari bergabung. [Kamis, 15/4/2010 : 8:36pm].

Zul Herman : Hallo pak BJ. Sorry saya sangat tidak rajin Fb-an. Tidak selalu update. [11 hours ago].

Bakhuri Jamaluddin : He he he ......wajar donk..........dulu di JIP-FSUI belum ada SKS-nya !!!!!!!!! [11 hours ago ].

Subagyo Ramelan : Betul kata BJ, kita sdh S3. Bahkan saya sdh naik (klo jenjang pendidikan, turun ngkale) jadi M.ec atau Momong enam cucu. Makanya klo di Fb saya sering dipanggil mbah Yo oleh anak, mantu, keponakan atau bahkan oleh teman2 yg lain. Uhuk...uhuk...uhuk (tuuh, mbah Yo batuk2 lagi) [11 hours ago via Facebook Mobile ].

Bambang Haryanto : @Zul Herman : Thanks sudah gabung. Tulis saja pengalaman Anda, termasuk saat berkuliah di Leeds (? ya),spt mendongeng kpd anak-anak. Dinantikan My Notenya. Bg saya menulis,hmm,smg dapat sebagai "ibadah" ya ? Menular-nularkan apa yang saya kebetulan punya. Salam. [10 hours ago ].

Zul Herman : Saya senang sekali dapat 'berjumpa lagi' dengan teman-teman lama walaupun bukan di dunia nyata, dunia virtual. Tentang menulis, terima kasih atas sarannya. Saya lagi mencoba melatih diri dan saran Anda itu menarik untuk dicoba. [6 hours ago ].

Hartadi Wibowo : "Rasanya tambah kangen ingin jumpa Mbah YO, Oom BH, pakde BJ, bung ZH, (uda Saiful Haq kemana ???) Kapan ngumpul ? Utk yg domisili di Jabodetabek, utk pra-reuni kita bisa ngobrol di kantor saya, di Mampang. Silakan, tentukan hari apa, mau siang (jam istirahat) atau sesudah jam kantor. OK ?

Bicara soal tulis menulis, ada pengalaman yg tidak bisa saya lupakan. Tahun 90-an saya agak rajin menulis artikel utk majalah internal (Buletin Ekonomi Bapindo, dan Warta KORPRI Bapindo). Yang saya tulis adalah rangkuman data & informasi dari berbagai sumber, saya kemas dng bahasa yang ringan, saya ulas sedikit, kasih kesimpulan. Juga ada Wawancara Imajiner antara saya dengan tokoh rekaan, Si Cemplon. Soal informasi & data, (waktu itu) pustakawan adalah jagonya (di tempat saya, lho,).

Saya pernah nulis mengenai Bisnis (Industri) Taksi di Jakarta. Dengan data lengkap, termasuk Perda, dan ulasan prospek bisnis, maka kesimpulannya adalah bahwa (waktu itu) bisnis taksi di DKI sudah mulai jenuh. Sebulan setelah tulisan tsb dimuat, saya ditelpon oleh seseorang yang mengaku nasabah/debitur Bapindo.

Dia mengatakan punya rencana akan mengajukan kredit ke Bapindo utk usaha taksi. Namun setelah baca tulisan saya, dia jadi ragu2 utk usaha taksi. Akhirnya minta konsultasi ttg pertaksian. Saya sarankan prospek usaha taksi masih terbuka luas utk daerah penyangga, yaitu Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi. Akhirnya dia berniat melanjutkan rencananya, dan akan memindahkan "base camp"-nya di Bekasi. Maka saat itu jadilah saya seorang "konsultan" pertaksian. He he he.

Dan satu tahun kemudian seorang senior saya di Bapindo yang sdg ambil studi S2," meminang" taksi saya utk dijadikan topik tesis S2-nya. Bukan hanya saya izinkan, tapi malah saya lengkapi dengan data & informasi terbaru ttg bisnis pertaksian. Betapa bangga dan bahagianya jadi pustakawan. Dan sampai sekarang jiwa "pustakawan kuno" saya masih ada, yaitu masih suka ngumpulin artikel koran. Wass, HW. "

Zul Herman : "Mas HW, wah ini kreasi yang harus terus dipupuk dan diteruskan. Saya dulu saat bekerja di organisasi antar pemerintah Asia pacific (APCC) selain sibuk urusan proyek jaringan informasi, saya juga berperan sebagai managing editor majalah "Cocoinfo" atau coconut information berbahasa Inggris mengenai industri kelapa di Asia Pasifik. Majalah ini beredar global. Sayang saya tidak banyak menulis, tetapi lebih banyak sebagai editornya.

Di lembaga ini selama 5 tahun, sebagai editor, saya berhasil menerbitkan kurang lebih 40 buku tentang kelapa dan industri kelapa Asia Pasifik. Kelapa adalah tumbuhan yang seluruh bagiannya berguna, mulai dari akar sampai lidinya. Makanya kelapa disebut orang sebagai Tree of Life. Industri kelapa berkembang pesat di Filipina, India dan Sri langka. Indonesia sebagai penghasil kelapa terbesar di kawasan Asia dan Pasifik, industri kelapanya jauh, jauh ketinggalan. Untuk tulis menulis kita harus banyak belajar dari Mas BH. Beliau dari dulu memang produktif di bidang ini. "


Bambang Haryanto : BJ benar. Angkatan JIP 1980 sudah “S-3” semuanya. Di akun FB-ku ini, saya pajang tanggal, bulan dan tahun kelahiranku. Tahun 2010 ini, Insya Allah, umur saya 57 tahun. Itu umur biologis, karunia Illahi yang tak bisa dipungkiri.

Tetapi selain umur biologis ada juga umur psikologis. Di sini umur dimaknai bukan berdasar angka, tetapi berdasar perspektif yang bersangkutan dalam memandang dan menjalani kehidupan. Saya pernah menonton acara bincang-bincang di tv manca negara yang memunculkan istilah “umur 30 tahun adalah umur 20 yang diperbarui,” dan begitu selanjutnya, seperti “umur 60 tahun adalah umur 50 yang diperbarui.”

Berdasar umur psikologis itu sebenarnya orang dapat mengerem laju jarum jam hidupnya, antara lain ketika meninjau masa lalu kita masing-masing. Menulis buku harian (saya lakukan setiap hari), menulis otobiografi dan menulis blog, merupakan cara bagus untuk menyortir kekaburan masa-masa lalu. Sehingga masa lalu tidak lagi hanya berupa satu gumpal campur aduk segala hal tanpa makna.

Masa-masa lalu tersebut dapat Anda urai untuk membentuk pola tertentu yang membahagiakan, membanggakan, baik susunan yang terdiri dari kejadian atau pun prestasi-prestasi tertentu.

Hmm, maukah sobat-sobat “S-3” JIP-FSUI 1980 melakukannya ? Bukan untuk saya, tetapi untuk anak keturunan Anda sendiri. Sebagai legacy, catatan warisan bahwa Anda pernah hadir istimewa di dunia ini. Syukur-syukur, bila ditulis di blog, FB atau buku, sejarah hidup Anda tersebut bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Kalau bukan Anda sendiri yang menuliskannya, siapa lagi ? [Diunggah : Jumat, 16 April 2010, jam 12.40].

Subagyo Ramelan : "Wah, teman2 JIP telah mampu menjadi pustakawan yg berhasil dan berpengalaman di bidang tulis menulis. Kepustakawanan (librarianship) memang mengemban tugas sbg jembatan yg menghubungkan antara informasi dgn yg membutuhkan. Dlm hal ini, teman2 yg aktif pasti, paling tidak, akan (terpaksa?) menulis/menghidangkan informasi kepada users, atau potensial-users. Karya ini, walau tdk dipublikasikan, toh juga merupakan karya tulis yg bermanfaat. Lebih2 lagi jika disebarluaskan melalui media lain. Angkat topi untuk mereka.

Lain lagi dgn pengalaman mbah Yo. Tak ada hasil yg berupa karya tulis (tak mampu menulis, kali). Pernah sekali waktu dulu menulis beberapa cerpen, dikirim ke KOMPAS. Eeh, semuanya dikembalikan, alias ditolak. Maka mbah Yo ga jadi penulis cerpen tapi terdampar dikancah per-akik-an.

Jadilah mbah Yo tukang gosok akik. Tapi mbah Yo tetap mantab dengan kondisi ini. Paling tidak, mbah Yo bisa ikut andil mengurangi pengangguran di Indonesia, walau hanya beberapa gelintir."

Hartadi Wibowo : "Tulisan Oom BH dan semangat mbah YO membuat saya (seolah) mengerem laju jarum usia psikologis saya. Tiba-tiba, usia saya yang sekarang 55+ terasa menjadi 45, karena tulisan Oom BH dan semangat mbah YO tadi membangkitkan gairah hidup saya (yang menjelang pensiun ini) menjadi lebih menyala. Komunikasi ini menjadikan saya merasa muda lagi, seperti sdg ngobrol dng teman-teman kuliah saya dulu sambil makan somay di Taman Sastra. He he he nostalgia.

Oh ya sobatku, ada satu hal dalam kehidupan saya yang agak bersifat "menurun" kpd anak perempuan saya. Dulu, saya masuk JIP setelah dapat Sarmud. Kemudian sambil kuliah saya kerja part timer di LPEM FEUI, dan TEMPO.

Empat tahun yl anak perempuan saya (yg tertua) masuk ke Fak Ilmu Budaya UI (dulu FSUI), progr D3 Jurusan Manajemen Informasi dan Dokumentasi (MID). Ternyata ini jurusan gabungan antara ilmu perpust dng kearsipan. Dan dosennyapun masih ada yg sama dng yng mengajar kita dulu, a.l. Ibu Kalangie, Pak Zulfikar, dan mbak Ining. Jadi seharusnya kepada ibu Kalangie anak saya tidak memanggil ibu dosen, tetapi nenek dosen. Ha ha ha opo tumon ??

Setelah selesai D3 MID, anak saya meneruskan S1, pindah jurusan ke Kriminologi, sesuai keinginan awal. Dan ndilalah, dia sekarang nyambi kerja di Perpustakaan FEUI. Rupanya sejarah berulang. Terimakasih sobat-sobatku, ternyata saya masih punya semangat utk menulis "cerpen" ini. Wass, HW.

Errie Reno T : "Wah thanks ya....saya setuju banget tuh..hal membaca...walaupun dulu seperti itu...sering disindir suami pustakawan kok gak senang baca...karena suami sering sekali menganjurkan anak2 untuk membaca....kapan2 kalau ke wonogiri mampir ah....he3x gak janji ya n salam bwt kel"


Rizal Saiful-haq : Baru bisa kasi komentar ! Saya kagum banget loh sama Mas Bambang. Ingatan pertama saya terhadap beliau, takkan bisa terlupakan. Langsung jadi imej saya terhadap beliau.

Ceritanya begini.Ketika tes masuk JIP FS UI di Rawamangun, saya mendapat waktu wawancara berdekatan dangan Bambang. Sehabis wawancara kami bertukar informasi. Saya bertanya pada Bambang, "Tadi ditanya apa?"

"Kenapa Anda masuk JIP?", jawab Bambang menirukan pewawancara (kalau nggak salah Bu Kalangi.

"Apa jawab Anda?", tanya saya.

Tanpa jeda, Bambang langsung jawab tenang, "Nggak kenapa-kenapa!"
Saya kaget dan tercenung. Saya ketika itu merasa Bambang tak akan lulus.

Eeee ternyata lulus dan jadi mahasiswa "paforit" JIP. Bahkan saking senangnya Buk Soma sering mengulang nama Bambang menjadi Bengbeng. Saya kira eh, saya yakin Bu Soma tidak bermaksud "mengejek", bahkan sebaliknya itulah cara khas Bu Soma mengekspresikan kesenangannya pada Bambang.

Saya juga kagum pada Catatan Bambang. Dia masih ingat ketika saya bilang kelompok dia yang biasa mojok, sebagai Bursa ide. Saya juga selalu ingat selalu terbayang peristiwa itu. Cuma saya bdoh sekali baru tau bahwa "Geng Bursa Ide" inilah yang punya andil besar merancang Perpustakaan UI Jasa Anda tak akan hilang walau mungkin sekarang masih tersembunyi.

Tentang Wonogiri kon saya jadi ingat kuliah KK-2 dengan Pak Sulis, ya. ? Pak Sulis sering memberi contoh atau soal tentang Wonogiri .... eee sekarang Bambang di situ. Apa ada hubungannya ya?


Rizal Saiful-haq : Tentang sejarah berulang, saya juga punya cerpen nih Pak Teddy.Sebelum ke Jakarta saya sekolah di Padang. Tempat sekolah saya namanya Jati dan Gunung Pangilun. Saya tinggal di daerah yang bernama Alay yang terletak antara Jati dan Gunung Pangilun.

Nah, tahun 2002 saya dipindahkan Bulog kerja di Padang. Eee rumah dinas saya itu di Gunung Pangilun (bukan benar-benar gunung loh). Dari rumah ke kantor saya selalu melewati jalan yang dulu saya gunakan setiap hari pergi/pulang sekolah.

Bedanya, dulu saya melewati jalan itu dengan sepeda butut, pada tahun 2002 itu saya melewati jalan itu dengan Kijang........ plat merah! he he he. Iya ya sejarah berulang dengan cara lain.

Sekarang saya merasa lebih banyak hidup (mengulang kembal)i di uadara yang pernah saya hirup selama 7 tahun (1973-1980 yang sudah lama berlalu). Yaitu, Pasar Jumat dan Ciputat. Udaranya dah beda kali ya ?


Wonogiri, 11-12/4/2010

ee