Showing posts with label pilpres 2009. Show all posts
Showing posts with label pilpres 2009. Show all posts

Thursday, June 19, 2008

Golput Gus Dur, Obama dan Mandeknya Demokrasi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 59/Juni 2008
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Ancaman Golput. Kemelut internal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memuncak. Terakhir mencuat pernyataan Ketua Dewan Syuro PKB, Abdurachman Wahid (Gus Dur), yang mengancam memilih menjadi golput bila PKB versinya dikalahkan sehingga gagal mengikuti Pemilu 2009. Sementara itu Kompas (17/6/2008 : 3) memuat pernyataan analis politik Saiful Mujani bahwa potensi golput tetap tinggi tanpa perlu ada ancaman dari Gus Dur di atas. Siapa biang kerok penyebab meruyaknya angka golput itu ?

Barangkali ini jawabnya : budaya broadcast politics !

Mari kita menengok ke belakang, ketika Pemilu 2004 di Indonesia telah menempatkan televisi sebagai primadona. Adagium yang populer saat itu adalah, kuasai televisi. dulu untuk memenangkan pemilu. Umpama saja KPU tidak memberikan batasan waktu dan frekuensi tayang, mungkin tiga hari kampanye Pilpres II (14-16/9/2004), bisa jadi, sejak pagi televisi terisi acara siaran rohani, berita pagi, sinetron siang, kontes nyanyi di malam hari atau talk-show di tengah malam akan hanya memunculkan sosok Megawati-Hasyim dan SBY-Kalla semata. Kuncinya, asal para kandidat memiliki uang bermilyar-milyar guna mendominasi tayangan televisi. Kampanye yang sangat mahal.

Pemilu 2004 di Indonesia, walau pun nampaknya tak ada debat antara kedua capres, peran menonjol televisi sebagai senjata memenangkan pemilu identik dengan suasana Pemilu 1960 di Amerika Serikat yang memunculkan debat televisi Kennedy vs Nixon yang bersejarah. Karena tampil dengan citra yang lebih baik, Kennedy memenangkan pemilu.

Sejak saat itulah publik menyadari keampuhan televisi dalam arena politik dan terutama dalam kampanye presiden. Sekaligus, mulai bertumbuhnya proses alienasi publik sehingga mendorong mayoritas menjadi apatis, pesimistis dan skeptis atau apes, begitu istilah canggih dari Daniel Sparingga, di tengah hiruk pikuk wacana politik yang terjadi.


Kelompok baru. Proses alienasi itu dapat dirunut sejak dua abad lalu. Jay Rosen (2004), profesor politik dari New York University, menyatakan gagasan tentang public yang terbentuk tahun 1760 di Inggris dan Perancis. Ide publik modern menyangkut keadaan masyarakat yang memperoleh informasi mengenai sesuatu kejadian, memiliki suara dalam politik, dan pendapat mereka mendapatkan tempat.

Fenomena baru ini mengenai sejumlah besar rakyat yang berhimpun di luar gedung parlemen, di luar pemegang kekuasaan, di luar istana raja, tetapi faham tentang apa yang terjadi dalam politik, membincangkannya di rumah atau kedai kopi karena mereka memiliki perhatian mengenai apa yang dikerjakan oleh negara. Perkembangan baru ini, tentang kelompok baru orang-orang ini, disebut sebagai publik, sehingga memunculkan apa yang disebut sebagai opini publik sebagai tandingan penguasa, parlemen, kaum ningrat dan kelompok elit.

Ide radikal ini semula hanya berlaku bagi sekelompok kecil orang, tetapi prinsipnya mereka terorganisasi secara egaliter, menganut prinsip universal yaitu keterbukaan, bebas memperoleh informasi, dan punya hak bebas bicara Setiap warga punya hak suara, hak memperoleh informasi, semuanya harus bicara politik, dan berperan sebagai warga untuk terlibat dalam persoalan dunia.

Pada tahun 1860, hadirlah momen penting, lahirnya media massa. Dimulai dari koran recehan dan seiring perkembangan teknologi dalam bisnis media, telah menyebarkan publik kepada semua orang dengan asumsi surat kabar dilanggan oleh semua warga. Berita disirkulasikan kepada setiap orang, mereka merasa saling terhubung satu sama lainnya.

Tetapi muncul akibat samping yang serius. Ketika semua orang masuk dalam publik, peran mereka pun menjadi berkurang Mereka memperoleh status sebagai anggota, tetapi kehilangan peranan karena publik yang terhubung oleh surat kabar bertiras ribuan itu memang memperoleh asupan informasi, tetapi kini mereka tidak dapat bicara. Mereka tidak dapat lagi berpartisipasi.

Publik pun pelahan berubah, bahkan terlembagakan menjadi audiens. Sejak debat Kennedy vs Nixon perkembangan pengalienasian publik semakin jauh ketika televisi mengemuka sebagai senjata politik, yang kemudian dikelola oleh para profesional sampai tukang pelintir (spin doctor), sehingga memunculkan apa yang disebut oleh Joe Trippi sebagai broadcast politics.


Balapan uang di televisi. Joe Trippi, mantan direktur kampanye kandidat Partai Demokrat Howard Dean, menyebutkan bahwa broadcast politics itu secara buruk membuat rakyat dan negara gagal karena meminggirkan debat. Televisi hanya semata arena balapan uang, balapan untuk membeli sarana komunikasi satu arah yang membuat rakyat tersingkir dan tergusur dari proses politik.

Televisi tidak menunjang debat antar warga negara, baik debat tentang Perang Irak sampai Patriot Act. Debat itu tidak berlangsung di negeri ini, katanya, kecuali di Internet. Tegas Trippi dalam bukunya The Revolution Will Not Be Televised : Democracy, the Internet, and the Overthrow of Everything (2004), bahwa Internet merupakan satu-satunya harapan terakhir untuk demokrasi !

Resep sukses kandidat presiden AS dari Partai Demokrat John Kerry menghimpun dana yang memecahkan rekor 186, 2 juta dollar (Kompas, 26/7/2004), tidak lain diilhami oleh ide gemilang Joe Trippi ketika menghimpun dana untuk Howard Dean.

Penggalangan dana dilakukan dengan kartu kredit melalui Internet dengan sasaran konstituen dari lapis paling bawah. Bersenjatakan blog dan meet-up, Trippi bergerilya secara online dalam merekrut massa akar rumput, yang aktif, partisipatif, berpendekatan bawah-atas, sehingga mereka merasa dihargai dan terberdayakan.

Blog adalah jurnal elektronik dimana tim sukses Dean dapat memajang gagasan atau pikiran secara seketika di Internet, baik berisi pesan untuk calon penyumbang dan simpatisan, sehingga merasa mereka dilibatkan secara pribadi. Berbeda dibanding web, melalui blog para simpatisan dapat saling ngerumpi satu sama lain.

Sedang meet-up adalah situs web yang menfasilitasi warga yang memiliki minat atau hobi serupa. untuk berhimpun di lingkungan mereka. Dalam gerak cepat, situs meet-up Howard Dean mampu merekrut 87,985 anggota dari 562 kota di dunia. Dari pertemuan itu, mereka menggalang kampanye mendukung Dean secara mandiri.


Semprot bensin ke api. Berbeda dengan pola kampanye yang umumnya berpendekatan atas-bawah, gelora kampanye Dean justru diserahkan kepada para simpatisannya. Istilahnya, kubu Dean semata memercikkan bensin dan membiarkan api bebas berkobaran daripada berusaha mengendalikan nyala api tersebut. Pendekatan yang mengundang resiko, tetapi sejalan dengan jati diri dan kedahsyatan media Internet. Bebaskan, biarkan konstituen berbicara, tidak hanya kepada kandidat, tetapi juga dengan konstituen lainnnya.

Efek ini kemudian memicu reaksi berantai sehingga menimbulkan dampak yang luar biasa. Kalau tahun 1700, katanya, bisa disebut sebagai Revolusi 1.0 rakyat Amerika, maka kini berkat Internet telah bergulir versi beta Revolusi 2.0 untuk rakyat Amerika Serikat.

Revolusi tersebut kini hal yang mudah dilakukan oleh rakyat. Amerika, menurut Trippi, karena tidak lagi mengandalkan pada sistem yang bersendikan uang dari donor-donor besar seperti yang lajim terjadi pada Partai Republik. Melainkan hanya dibutuhkan 2 juta rakyat Amerika untuk suatu perubahan besar !

Hanya dibutuhkan kurang dari satu persen dari seluruh penduduk Amerika Serikat, di mana mereka masing-masing menyumbang seratus dollar, sehingga jumlah dana yang terhimpun sebesar 200 juta dollar, sudah mampu mengubah apa pun di negeri tersebut.

Menjelang Pilpres AS 2008, strategi model Joe Trippi itu dipakai juga oleh kandidat presiden dari Partai Demokrat, Barrack Obama. Sebagaimana ditulis peneliti CSIS, Philips J. Vermonte dalam artikel berjudul “Fenomena Obama dan Internet” di Kompas (12/6/2008), Obama menegaskan bahwa politik itu harus bersifat bottom up dan bukan top-down dan untuk itu ia memanfaatkan Internet secara cerdas. Melalui strategi penggalangan dana secara online, Obama mampu meraup donasi dari 1,3 juta penyumbang.

Kampanye Howard Dean, menurut Trippi, dan yang kini diteruskan jejaknya oleh Obama, telah mengembalikan partainya dan demokrasi kepada massa akar rumput, rakyat kebanyakan. Inilah momen bersejarah dalam kampanye presiden di Amerika Serikat, kampanye pertama yang benar-benar dimiliki oleh rakyat Amerika.

Semua itu terjadi berkat Internet, yang mampu merontokkan broadcast politics, sehingga membuat rakyat memiliki kekuasaan untuk bersatu sebagai komunitas yang kembali menjadi pemilik sah negerinya sendiri.

Apakah keteladanan dan inspirasi dari Howard Dean, Joe Trippi sampai Barrack Obama yang sukses meletuskan revolusi demokrasi bersenjatakan Internet itu, mampu juga menjadi inspirasi bagi kita, terutama menunjang kebangkitan orang muda, dalam Pilpres 2009 mendatang ? Apa pendapat Anda ?


Wonogiri, 19/6/2008

ee

Sunday, May 25, 2008

Internet, Pilpres 2009 dan Kebangkitan Anak Muda

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 58/Mei 2008
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Koneksi yang terputus. Aktivitas seremonial yang kini jadi mode dan semakin sering dilakukan birokrat adalah meresmikan situs web. Baik itu situs web institusi pemerintahan, lembaga sosial kemasyarakatan, atau pun situs untuk menyambut peristiwa tertentu, seperti situs-situs calon gubernur Jateng yang sedang berpromosi. Harian Kompas Jawa Tengah (9/5/08) misalnya, juga telah melaporkan Pemkot Solo yang meluncurkan situs World Heritage Cities.

Upaya memanfaatkan media dunia maya merupakan kemajuan. Tetapi seringkali pemanfaaatannya tidak disertai perubahan pola pikir pengelolanya untuk sejalan dengan karakter media berbasis Internet itu. Kekurangan yang mendasar dan mencolok, pengelola situs itu banyak menganggap peselancar yang mengunjungi situs bersangkutan sudah cukup dipuaskan dengan membaca-baca saja.

Dikiranya paparan visi-misi sudah afdol sebagai informasi yang menarik. Atau teks pidato, foto-foto pejabat dan kegiatannya yang terpajang di situs bersangkutan sudah dianggap memiliki nilai informasi tinggi. Isi seperti itu hanyalah umpan tekak, appetizer, pembuka belaka.

Internet adalah media interaktif. Mimbar bebas. Roh media internet adalah cerita, cerita dan cerita. Lalu interaksi. Pengunjung harus difasilitasi menjadi bagian utama isi situs. Bahasa gaulnya, user generated content. Mereka dirangsang berbicara, mengeluarkan uneg-uneg, tidak hanya kepada pengelola, tetapi juga dengan pengunjung lainnya. Terjadilah diskusi, termasuk diskusi mengeritik situs bersangkutan dan bahkan kebijakan pejabatnya sekaligus.

Semua isi tersebut harus terpajang, karena dialog-dialog itulah yang membuat situs bersangkutan menjadi hidup. Fungsi situs web yang terbaik adalah sebagai kepanjangan telinga para birokrat untuk mendengarkan suara rakyat. Tanpa fungsi itu dan tanpa lalu lintas dialog membuat situs yang molek sekali pun hanya pantas bernasib sebagai rumah hantu di dunia maya.

Tokoh-tokoh alergi dialog. Paparan di atas merupakan isi surat pembaca yang saya kirimkan ke harian Kompas Jawa Tengah, Jumat, 23 Mei 2008. Topik serupa juga pernah saya kirimkan ke koran yang sama, terkait dengan bentuk kampanye awal para kandidat yang bersiap-siap terjun dalam pemilihan gubernur di Jawa Tengah tahun 2008 ini. Secara lengkapnya terpajang berikut ini dengan judul surat pembaca, “Tokoh-Tokoh Tak Tersentuh.”

Kampanye pemilihan gubernur Jawa Tengah diam-diam mulai bergulir. Di Wonogiri, mulai sering terpasang spanduk yang isinya menyambut kehadiran para kandidat di kota Gaplek ini. Selainnya berupa tempelan stiker di tiang-tiang listrik dan juga baliho yang terpajang, ironisnya, justru terletak di bagian kota yang tidak strategis.

Selain foto kandidat, nama, juga termuat janji-janjinya walau mereka belum secara eksplisit menyatakan diri sebagai kandidat gubernur. Mereka mungkin merasa percaya diri bahwa khalayak telah tahu motif di balik pemasangan sarana kampanye semacam itu.

Satu hal yang sangat mengherankan saya, para tokoh itu seperti memilih sikap untuk tidak mau disentuh oleh calon konstituennya. Sebagai warga Wonogiri pada umumnya, mereka itu hanya menonjol sebagai orang-orang asing, tidak kami kenal, yang tidak terbuka, apalagi ramah, untuk terjadinya dialog atau interaksi lebih lanjut.

Pasalnya, dalam pelbagai spanduk, baliho sampai posternya, sama sekali tidak ada data alamat yang bisa dikirimi surat, juga tidak ada nomor telepon, faks, HP, email sampai situs blog/web yang bisa dikontak atau diakses.

Apakah ini justru tanda awal bahwa mereka, ketika masih berstatus sebagai kandidat pun, nyata-nyata telah alergi untuk mau mendengar suara, sapaan dan bahkan teguran dari rakyat ? (Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, Sabtu, 29 September 2007).


Kandidat gubernur gaptek. Ilustrasi di atas mungkin bisa menunjukkan betapa masih gapteknya para calon pemimpin dan pemimpin kita mengenai perkembangan terbaru di bidang informasi dan teknologi komunikasi. Dalam artikel saya sebelumnya, di blog ini pula, gaptek itu bahkan merambah kepada pimpinan tertinggi departemen yang mengurus bidang bersangkutan.

Pemanfaatan media Internet sebagai senjata kampanye, menarik perhatian saya. Saya pernah menulis artikel berjudul "Internet Sebagai Senjata Kampanye Presiden” di harian Kompas (8 Maret 2004), yang memperbandingkan eksekusi situs web calon presiden AS dari Partai Demokrat, John Kerry dan situs Amien Rais dari Partai Amanat Nasional (PAN) di Indonesia.


Bagaimana pemanfaatan Internet untuk Pilgub Jawa Tengah 2008 dan bahkan untuk pemilihan presiden kita di tahun 2009 mendatang ? Mari Anda saja ajak berwisata gagasan, dengan paparan di bawah ini.

Kampanye Pemilu terbaik Megawati terjadi tahun 1999. Ketika reformasi masih menggelora, ia yang terangkat sebagai simbol perlawanan terhadap rezim Soeharto dan Orde Baru, membangkitkan prakarsa akar rumput untuk mendukungnya. Pendirian posko-posko PDIP secara swakarsa jadi bukti bahwa mesin politik paling ampuh apabila muncul dari bawah. Menurut ahli pemasaran digital, Seth Godin, Mega saat itu menjadi ideavirus, virus ide, yang secara ajaib berbiak dan meluas dengan sendirinya di kalangan konstituen.

Tetapi ketika Mega menjadi incumbent dalam Pemilu 2004, prakarsa akar rumputnya praktis habis. Mungkin karena kalangan bawah kecewa dengan kinerja PDIP. Atau merasa ditinggalkan para kadernya, yang setelah menjadi anggota legislatif atau eksekutif mereka melupakan wong cilik dengan segala polah dan deviasinya.

Akibatnya yang mencolok, jalanan tidak lagi atau jarang ditemui posko-posko PDIP yang hidup dan semarak. Apalagi sebagai penguasa PDIP lebih memilih menggerakkan mesin politiknya dari atas. Selain membentuk koalisi, bahkan dengan seterunya selama ini, yaitu Golkar, PDIP tidak luput dari terkaman penyakit yang biasa diderita partai politik mapan.

Seperti simpul Carol Darr, Direktur Institut Politik, Demokrasi dan Internet dari Universitas Washington, kebanyakan kampanye partai politik mapan dilakukan dengan kontrol atas-bawah yang ketat. Staying on message adalah kredonya.

Karena mereka menguatirkan keterlibatan gerakan kelompok swadaya atau akar rumput yang lepas dari kendali hirarki partai, di mana mereka melakukan kampanye secara mandiri, menyebar brosur dan bahkan menjadi sumber liputan media. Kalangan politisi PDIP ibarat terserang paranoia, justru menghalangi warga untuk ikut bicara dalam kampanye karena ketakutan mereka akan salah ngomong yang berakibat rusaknya citra siang kandidat presidennya.

Model kampanye secara top-down dan monolitis itu kini juga nampak kental dalam masa pra-kampanye Pemilihan Gubernur Jawa Tengah 2008 dewasa ini. Kalau Anda sedikit jeli mengamati, para bakal calon itu mengeksekusi pesannya seperti memilih sikap untuk tidak mau disentuh konstituennya.

Karena dalam pelbagai peraga kampanye itu sama sekali tidak ada data alamat mereka yang bisa dikirimi surat. Tidak ada nomor telepon, faks, HP, email sampai situs blog/web yang bisa dikontak atau diakses. Apakah semua ini justru tanda awal bahwa mereka, ketika masih berstatus sebagai kandidat pun, nyata-nyata alergi untuk mau mendengar suara, sapaan dan bahkan teguran dari rakyat ?


Rakyat ibarat botol kosong. Dalam bahasa komunikasi politik, kampanye model di atas diberi label sebagai broadcast politics, komunikasi satu arah. Cirinya adalah terjadinya jor-joran memasang papan peraga kampanye, iklan-iklan dan memperbanyak liputan televisi. Konstituen hanya dianggap sebagai botol kosong yang harus siap menelan pesan-pesan politik mereka. Inilah pula kampanye yang mengandalkan tersedianya banyak uang tetapi sekaligus mempersempit keterlibatan rakyat untuk berperanserta.

Kini sebenarnya telah hadir strategi kampanye yang mampu memberdayakan kalangan akar rumput untuk bergerak secara swadaya dan mandiri : bersenjatakan Internet. Karena senyatanya strategi kampanye model broadcast politics tidak kompatibel dengan budaya Internet yang interaktif dan egaliter.

Di Amerika Serikat, kandidat presiden dari Partai Demokrat, Howard Dean, adalah pelopor pemanfaatan Internet sebagai senjata kampanye pemilihan presiden. Walau tersingkir oleh John Kerry, tetapi ide cemerlang manajer kampanyenya, Joe Trippi, banyak diadopsi John Kerry dalam menantang Bush di Pemilu 2004 yang lalu.

Joe Trippi dalam merancang strategi kampanyenya Howard Dean ibarat menyediakan bensin, memercikkan ke dalam nyala api dan lalu menyingkir. Ia membiarkan api itu mengamuk, berkobaran, ketimbang mencoba melakukan kontrol terhadapnya. Bersenjatakan blog dan meet-up di Internet, Trippi bergerilya secara online untuk merekrut massa akar rumput, yang aktif, partisipatif, berpendekatan bawah-atas, sehingga mereka merasa dihargai dan terberdayakan.

Blog adalah jurnal elektronik dimana tim sukses Dean dapat memajang gagasan atau pikiran secara seketika di Internet, baik berisi pesan untuk calon penyumbang dan simpatisan, sehingga merasa mereka dilibatkan secara pribadi. Berbeda dibanding web, melalui blog para simpatisan dapat saling ngerumpi satu sama lain.

Alexis Rice, peneliti masalah blog dari Universitas John Hopkins menyimpulkan bahwa blog merupakan inovasi komunikasi terbesar untuk Pemilu AS 2004. Blog telah mentransformasi komunikasi dalam kampanye dan tidak hanya penting dalam Pemilu Presiden (AS), tetapi juga dalam pemilihan di negara bagian dan pemilu lokal di masa depan.

Sedang meet-up adalah situs web yang menfasilitasi warga yang memiliki minat atau hobi serupa. untuk berhimpun di lingkungan mereka masing-masing. Dalam gerak cepat, situs meet-up Howard Dean mampu merekrut 87,985 anggota dari 562 kota di dunia. Dari pertemuan-pertemuan antar simpatisan itu, mereka menggalang kampanye mendukung Dean secara mandiri. Strategi Joe Trippi ini intinya adalah : bebaskan, biarkan konstituen berbicara, tidak hanya kepada kandidat, tetapi juga dengan konstituen lainnnya.

Efek gethok tular tersebut kemudian memicu reaksi berantai sehingga menimbulkan dampak yang luar biasa. Dalam strateginya Trippi itu, kedigdayaan Internet mampu menyelipkan pesan politik yang luhur. Bahwa keberhasilan kandidat dalam memanfaatkannya untuk kampanye justru harus memberi peluang dan mendorong konstituennya buka suara. Bukan justru membisukannya. Sementara para kandidat harus pula membuka lebar-lebar telinganya guna menyerap aspirasi dan suara rakyatnya.


Senjata bangkitnya anak muda Indonesia ? Sekadar contoh aktual, Hillary Clinton dalam kampanye menuju Pilpres AS 2008 bahkan menggunakan situs media sosial Friendster untuk menyapa pemilih dari generasi muda. Dalam konteks Indonesia, dimana populasi pengguna Internet didominasi anak muda, adaptasi strategi model Hillary Clinton dalam kampanye Pilgub Jateng 2008 dan Pilpres 2009 berpotensi membangkitkan anak-anak muda terdidik kita untuk tidak lagi apatis berpolitik. Karena mereka memperoleh saluran yang egaliter untuk bersuara dan berperanserta.

Sehingga diharapkan, berkat Internet pula, mereka mampu memperoleh dan memiliki kekuasaan untuk bersatu sebagai komunitas yang kembali menjadi pemilik sah masa depan negerinya sendiri. Termasuk berpeluang menggolkan tokoh-tokoh muda yang akibat kekangan budaya broadcast politics, yang melibatkan banyak uang itu, senantiasa termarginalkan selama ini.

Untuk ikut serta dan ikut andil menanam embrio gagasan guna membangkitkan anak-anak muda Indonesia dalam merencanakan masa depan negara dan bangsanya melalui jalur politik, bersenjatakan Internet, saya telah menulis surat pembaca berjudul Revolusi Facebook Pilpres 2009.


Surat itu saya kirimkan ke Totot “Pakde” Indrarto selaku pemimpin redaksi majalah periklanan Ad-Diction, 14 Desember 2007. Juga saya “cc”-kan ke Antyo Rentjoko, Aulia A. Muhammad, Boy Syahbana, Budi Putra, Donny BU, Effendi Gazali, Enda Nasution, Onno W. Purbo, Sigit Widodo, Wimar Witoelar, dan sahabat maya saya lainnya.

Saya tahu, embrio gagasan semacam ini tidak mudah secara serta merta mampu tumbuh cepat, besar, menyebar dan menular. Bahkan di komunitas yang melek Internet sekali pun. Di tengah eforia memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional saat ini, nampak sepi-sepi saja wacana mengeksplorasi Internet sebagai senjata bagi kebangkitan bangsa ini, terutama bagi kaum mudanya dalam memvisualisasikan masa depan.

Sekadar contoh : politikus muda Sutrisno Bachir, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), dalam memanfaatkan momentum 100 Tahun Kebangkitan Nasional, nampak juga beriklan tetapi tetap menggunakan “model lama.” Ditukangi oleh Fox Indonesia, biro spin doctor, sebutan untuk biro iklan politik, di bawah komandan Rizal Mallarangeng, iklan-iklannya membanjiri ruang kita baik di koran, radio dan iklan-iklan di gedung bioskop. Tetapi simaklah, sudahkah Anda temui URL situs web atau blog dari tokoh bersangkutan ?

Sekadar bukti kecil lainnya : email saya di atas juga tidak memperoleh sambutan yang berarti. Hanya seorang Aulia A. Muhammad yang berbaik hati memberikan tanggapan. Terima kasih, Mas Aulia.

Secuplik bukti-bukti di atas nampaknya memaksa kita untuk setengah memahami mengapa kampanye politik yang memanfaatkan Internet belum terdengar sebagai wacana yang gencar dalam atmosfir dunia politik kita. Juga dalam masa-masa pra-kampanye Pilgub Jawa Tengah 2008 dewasa ini.

Apakah karena calon-calon gubernur kita, calon-calon pemimpin masa depan Indonesia, masih begitu kronis didera penyakit gaptek, gagap teknologi semuanya ? Atau justru memusuhi Internet ? Atau kah kemampuan Internet sebagai corong aspirasi rakyat yang maha dahsyat itu justru yang membuat mereka ketakutan untuk memanfaatkannya secara sepenuh tenaga ?



Wonogiri, 26 Mei 2008


ee

Sunday, December 16, 2007

Revolusi Facebook Pilpres 2009

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 52/Desember 2007
Email : humorliner at yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia




Hillary Pun Pakai ! Paparan Enda Nasution mengenai Facebook (“On-Line,” AdDiction, 10/10/07) mengingatkan pujian Paul Allen, pendiri Microsoft, terhadapnya. Katanya, Facebook merupakan jaringan sosial nyata untuk setiap orang dan adanya kemudahan tiap warga untuk menambahkan aplikasi-aplikasi baru membuat pertumbuhannya meloncat-loncat. Saking fenomenalnya, sampai Hillary Clinton atau Barack Obama dan pendukungnya menggunakannya sebagai senjata terbaru memenangkan kampanye Pilpres AS 2008 mendatang.

Saya bermimpi : apakah pelbagai situs Web 2.0, baik blog sampai situs jaringan sosial semacam Facebook tidak bisa dimanfaatkan oleh anak-anak muda Indonesia untuk berbuat sesuatu yang revolusioner dalam Pilpres 2009 ? Laporan Akhir Tahun Kompas (11/12/07 : 5) menyimpulkan bahwa masyarakat tidak yakin mereka yang akan ikut Pemilu mampu menyelesaikan masalah yang ada. Nama-nama yang sudah muncul, baik itu SBY, Megawati, Wiranto sampai Sutiyoso, disebutkan “sudah diketahui kapasitas, karakter dan dosa-dosanya.”

Kita tahu, mereka dapat “naik” karena selama ini lanskap komunikasi politik kita dikuasai wacana broadcast politics, politik dengan pola komunikasi satu arah, mendikte, mahal, satu ke banyak orang dan dari-atas-ke-bawah. Kini media Web 2.0. mampu mematahkan itu semua. Karena Web 2.0. membuka pintu semua orang untuk berekspresi dengan bebas, tidak lagi bisu, dialog, mampu mengangkat isu-isu yang relevan dengan realitas hidup kita yang nyata (inti gerakan jurnalisme warga), berbiaya murah dan mampu membuat jaringan untuk memobilisasi gerakan tersendiri. Memanglah, “Internet merupakan gempa bumi 10,5 skala Richter yang mengguncangkan segi-segi peradaban,” tegas Nicholas Negroponte, nabi media digital dari Massachusetts Institute of Technology (AS).

Kita bertanya : bisakah mantra dahsyat Negroponte itu digunakan sebagai awal pijak untuk berpikir bagi kaum blogger dan kaum visioner Indonesia, bahwa dengan Web 2.0. kita berpeluang berbuat sesuatu yang besar ? Untuk memenangkan darah-darah baru pemimpin Indonesia, pembawa impian baru, visi baru dan sekaligus harapan baru bagi Indonesia ke depan, dalam Pilpres 2009 mendatang ?

Mari berpikir, anak muda !



Bambang Haryanto
esaiei.blogspot.com
humorliner at yahoo.com
Blogger, tinggal di Wonogiri


Wonogiri, 16 Desember 2007

ee