Showing posts with label menulis. Show all posts
Showing posts with label menulis. Show all posts

Friday, October 23, 2009

Kambing Jantan Mengamuk di STMIK SiNus Surakarta

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 86/Oktober 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Blog yang meledak. Berita itu meledak sebelum Noordin M. Top tewas di MJ9, Mojosongo, Solo. Bahwa Sherina, penyanyi lagu “Cinta Pertama Dan Terakhir,” bintang film cantik dan cerdas itu, kini berpacaran dengan seekor “kambing jantan.”

Anda jangan kaget, kambing jantan itu bukan satwa berkaki empat yang suka mengembik itu. Tetapi sebutan untuk penulis novel Raditya Dika (24 tahun) yang menjadi terkenal gara-gara menulis cerita tentang keseharian dirinya dalam blognya.

Karena isi blognya itu disukai, akhirnya bisa diterbitkan dalam sebuah buku berjudul Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh (2005).

Sukses membuahkan sukses. Buku kedua Radith berjudul Cinta Brontosaurus, diterbitkan pada tahun 2006. Hampir sama dengan buku sebelumnya, cerita-cerita dalam buku ini berasal dari kisah keseharian Radith. Namun, buku kedua ini menggunakan format cerita pendek.

Buku ketiganya yang berjudul Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa terbit pada tanggal 29 Agustus 2007. Buku ke empatnya berjudul Babi Ngesot : Datang Tak Diundang Pulang Tak Berkutang terbit pada bulan April 2008.

Selain menjadi penulis, Radith pun bermain dalam film yang diangkat dari pengalaman hidupnya, Kambing Jantan: The Movie (2009). Ia juga menjadi penulis skenarionya, termasuk untuk calon filmnya yang terbaru : Maling Kutang (2009).

Kini Radith yang masih berkuliah di Jurusan Politik Indonesia pada FISIP UI tersebut punya kegiatan seabrek. Ia punya jabatan sebagai direktur sebuah penerbit buku di bawah Gagas Media. Menulis buku. Menulis skenario dan juga bintang film. Apa yang bisa kita pelajari dari fenomena Radith ini ?

bambang haryanto,stmik sinar nusantara surakarta,menulis,blog,epistoholik indonesia,surat pembaca,kuliah umum
Menyebarkan virus menulis. Bambang Haryanto, pendiri komunitas penulis surat pembaca Epistoholik Indonesia (tengah) bergambar bersama mahasiswa baru STMIK Sinar Nusantara, Surakarta. Dalam presentasinya ia ditemani oleh webmaster asal Solo dan pengelola portal blog PasarSolo, Sadrah Sumariyarso (paling kiri) yang membawakan bahasan mengenai manfaat blog dan Facebook. Mengingat vitalnya beragam media sosial bagi kehidupan, langkah pengenalan terhadap blog sampai Facebook di STMIK Sinar Nusantara ini pantas ditiru oleh PTN-PTS lainnya.


Pertama : dahsyatnya menulis. Kelebihan dan pelbagai talenta istimewa dari Radith itu tetap akan terpendam dan hanya sia-sia, bila saja ia tidak mengomunikasikannya kepada orang lain atau masyarakat luas. Radith pun menulis. Bila ia menulis hanya di buku hariannya saja, tentu uneg-uneg sampai gagasannya itu hanya dia sendiri yang mengetahuinya. Kurang maksimal.

Tetapi Radith menuliskan cerita kesehariannya di blog, yaitu jurnal di Internet yang bisa diakses dari seluruh penjuru dunia. Realitas ini menunjukkan bahwa kegiatan menulis, kegiatan menuangkan pikiran kita ke dalam bahasa, merupakan senjata ampuh untuk berekspresi, untuk mempertajam kinerja otak kita, berguna untuk memperteguh rasa PD/percaya diri bagi kita, juga sebagai andalan untuk menopang kesuksesan kita. Baik ketika masih berkuliah atau pun ketika kita meniti karier di dunia pekerjaan.

Sayang, di dunia pendidikan kita, pentingnya keterampilan menulis lebih sering dipandang sebelah mata. Selama ini kegiatan menulis sering diartikan secara sempit, sebagai kegiatan profesional yang dilakukan semata-mata oleh dosen, peneliti, wartawan, sastrawan, penulis skenario, atau penulis naskah iklan.

Tetapi sebenarnya untuk semua bidang dalam dunia pekerjaan, apa pun itu, semakin tinggi jabatan atau pangkat seseorang PASTI akan dituntut kemampuannya untuk menulis. Dalam kolom “Careers” yang diasuh Anne Fisher di majalah bisnis terkenal, Fortune (7/12/1998 : hal. 129), muncul pertanyaan dari seorang dosen sebuah universitas di AS. Ia mengeluh karena mahasiswanya rata-rata meremehkan pentingnya keterampilan menulis.

Anne Fisher menjawab, dengan mengutip ucapan Dr. Gary Blake yang mengelola situs Writing Workshop bahwa : “Ketika saya berkeliling ke seluruh negeri dan berbicara dengan pelbagai perusahaan klien saya, saya terkejut mendapati kenyataan bahwa banyak manajer yang mengeluhkan fakta betapa tak seorang pun anak buahnya yang mampu menulis sebuah alinea yang sederhana saja. Anda dapat memiliki gagasan yang paling cemerlang di dunia ini, tetapi itu semua tak berguna bagi perusahaan Anda, juga tak ada manfaatnya bagi karier Anda, apabila Anda tidak mampu mengekspresikan gagasan itu secara jelas dan persuasif.”


Pentingnya keterampilan menulis sebagai senjata sukses meniti karier juga diungkapkan Anne Fisher dalam sebuah statistik. Merujuk hasil survei tahun 1997 oleh Robert Half Internasional yang meneliti 1000 perusahaan terbesar di AS dilaporkan bahwa 96 persen menegaskan bahwa karyawan harus memiliki keterampilan berkomunikasi yang bagus untuk kemajuan karier mereka.

Bahkan keterampilan literasi, atau baca tulis, juga terkait dengan penghasilan. Merujuk hasil penelitian Stephen Reder, pakar linguistik dari Portland State University di Oregon (AS) yang bekerja dalam penelitian untuk Depdiknas-nya AS, dapat ia simpulkan : lulusan tingkat diploma dan S-1 yang memiliki keterampilan tinggi dalam hal menulis, rata-rata memiliki tingkat gaji TIGA KALI LEBIH BESAR dibanding mereka yang keterampilan menulisnya jelek.

Kedua : ayo ngeblog. Situs KapanLagi menuliskan profil Radith berikut ini : “Raditya Dika adalah seorang blogger yang akhirnya menjadi seorang penulis buku dan skenario film. Kepiawaian menulis terasah dengan selalu menulis blog yang berada
di : www.kambingjantan.com.

Dalam blognya [yang baru], Radith menuliskan cerita kesehariannya di jurnal Internet tersebut yang bisa diakses dari seluruh penjuru dunia. Merujuk manfaat dan potensi blog tersebut maka di pelbagai perguruan tinggi, banyak diusahakan agar mahasiswanya mengelola blog, seperti di UNS.

Saya usulkan : alangkah baiknya bila di STMIK Sinar Nusantara ini, setiap mahasiswa dan bahkan juga para pengajarnya, diwajibkan mengelola blog. Selain untuk menggembleng sivitas akademika untuk terampil menulis, juga bermanfaat sebagai sarana kehumasan dan promosi perguruan tinggi Anda ini.

Begawan digital dari MIT, Nicholas Negroponte, menyatakan bahwa Internet adalah gempa bumi berskala 10,5 Skala Richter yang mengguncang peradaban manusia. Salah satu fenomena terdahsyat dari Internet adalah kehadiran beragam media sosial, yang dapat hadir dalam beragam bentuk. Misalnya milis, forum, blog, wiki, podcast, album foto dan video di Internet.

Media sosial berbeda dibanding media industri seperti surat kabar, televisi dan film. Kalau media industri membutuhkan biaya besar dan sumber daya mahal untuk menerbitkan informasi, media sosial menyediakan sarana murah bagi setiap orang untuk menjadi produser informasi.

Fenomena ini membalikkan konsep media massa menjadi menciptakan media untuk massa. Setiap orang kini dengan bersenjatakan sarana penerbitan berbasis web yang murah, mudah dikelola, dengan koneksi yang selalu tersambung dan semakin canggihnya sarana komunikasi bergerak, mendaulat mereka menjadi partisipan yang aktif dalam menciptakan berita atau informasi, sekaligus berperan dalam penyebarannya.

Chris Anderson dalam bukunya The Long Tail : Bagaimana Pilihan Tak Terbatas Menciptakan Permintaan Tak Terbatas (2007), mengungkapkan ketika semua orang kini berpotensi menjadi produser informasi. Anda semua, mahasiswa di sini juga harus berperanserta, sebagai produser informasi.

Realitas ini akan menghadirkan fenomena the long tail, si ekor panjang. Dalam fenomena itu pilihan kita hampir tidak terbatas dan ketika segala sesuatunya menjadi tersedia bagi setiap orang. Keragaman benar-benar menjadi raja.


Ketiga : vitalnya berwawasan global. Ketika di masa-masa awal penulisan blognya, Radith masih berkuliah di Australia. Jadi dari Australia secara tidak ia sadari telah merintis untuk menghimpun penggemar di Indonesia, yang kemudian menjadi pengikut setianya saat Radith kembali ke Indonesia. Konon dalam akun Twitternya kini Adith memiliki 60.000 pengikut, mereka yang berlangganan cerita-cerita atau berita terbaru darinya.

Bersenjatakan blog dan memiliki wawasan global, semua orang kini berpeluang menjadi “bintang,” yang oleh pakar ekonomi atensi Michael Goldhaber disebut sebagai micro-celebrities selebritis kelas mikro. Walau mungkin hanya sekitar belasan atau puluhan orang, tetapi potensi penggemar secara online ini bila dikelola dengan baik akan berdampak dahsyat.

Sekadar ilustrasi, ada cerita berikut ini. Saya memiliki keluarga besar, dari keturunan kakek-nenek saya, yang berasal dari Kedunggudel, Sukoharjo. Untuk mengomunikasikan kabar keluarga, sejak lima tahun lalu diluncurkan blog Trah Martowirono yang saya kelola.

Suatu kejadian unik sempat mencuat : ketika warga keturunan asal Indonesia yang leluhurnya dulu diangkut sebagai buruh pada era kolonial (1930-an) ke Suriname, yang kebetulan memiliki nama leluhur Martowirono, melakukan kontak. Mereka itu kini tinggal di Suriname, New York, Irlandia dan bahkan Belanda. Akhirnya, memang hanya kebetulan bahwa leluhur (kita) memiliki nama yang sama, tetapi kontak sesama keturunan Martowirono yang tanpa hubungan darah itu tetaplah berlanjut.

Contoh lain, saya mengelola blog komedi, Komedikus Erektus ! Gara-gara blog ini saya didaulat menjadi nara sumber perbincangan seputar dunia komedi Indonesia oleh Radio BBC Siaran Indonesia yang berpusat di London, Inggris.

Kemudian seorang profesional pajak di Jakarta, penyuka buku-buku komedi terbitan luar negeri, yang tidak saya kenal, tiba-tiba mengajak kenalan. Kemudian 10 judul buku kajian humor dan komedi terbitan luar negeri ia kirimkan kepada saya yang tinggal di Wonogiri ini !

Inti ajarannya : dengan Internet, kita benar-benar menjadi warga dunia.


Keempat : berkuliah, juga berwiraswasta. Radith kini berkuliah, juga bekerja, sekaligus berwiraswasta. Gambaran itu menegaskan realita baru dewasa ini : manfaatkan masa berkuliah Anda, jangan hanya untuk berkuliah semata. Itu mahasiswa jadul, jaman dulu.

Isilah masa indah sebagai mahasiswa itu dengan kegiatan yang beragam, yang menarik bagi minat Anda. Kalau bisa, mulailah berwiraswasta. Apalagi sekarang ini adalah era komputer, era Internet, era dimana keterampilan mereka yang berkuliah di kampus STMIK Sinar Nusantara ini sangat dibutuhkan.

Padukan apa yang Anda pelajari di bangku kuliah, dan praktekkan segera. Baik untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, menajamkan wawasan dan pengetahuan, dan bahkan untuk merintis usaha yang mampu menghasilkan pemasukan selama masih di bangku kuliah.

Sebagai gambaran, saya cantumkan di bawah ini cerita mengenai kiprah Ashley Qualls, cewek SMA, yang mampu menjadi jutawan berkat bisnis onlinenya di Internet. Ia memulai bisnisnya saat berusia 14 tahun, dengan meluncurkan situs Whateverlife dengan modal delapan dollar yang ia pinjam dari ibunya.

Sebagaimana dikutip oleh YahooNews, Ashley merancang desain-desain grafis cantik, unik dan warna-warni, yang biasa dipajang untuk menghias situs jaringan sosial seperti MySpace oleh pelanggan yang rata-rata juga seusia dirinya.

Tiga tahun kemudian, bisnisnya itu meraih penghasilan kotor lebih dari satu juta dollar setahun. Kini ia mampu membeli rumah dengan empat kamar, dan ruang bawahnya ia jadikan sebagai kantor. Ibunya, Linda LaBrecque, ia angkat sebagai direkturnya.

Mahasiswa STMIK Sinar Nusantara juga bisa ! Kisah menarik Raditya Dika sampai Ashley Qualls di atas, semoga dapat menjadi ilham bagi kita semua dalam mengarungi masa depan. Langkah itu harus kita ayunkan mulai saat ini.

Ajakan saya adalah : mulai menulislah. Tuliskan cita-cita masa depan Anda di kertas. Tempelkan di meja atau dinding tempat Anda belajar. Setiap kali membaca cita-cita Anda itu, serukan tekad sebagaimana slogan dahsyat Barack Obama saat bertarung hingga sukses menuju kursi presiden AS :

Yes, we can !
Yes, we can !
Yes, we can !

Tuliskan pula cita-cita Anda itu di buku harian. Menulis di blog. Sebagai pendiri komunitas penulis surat pembaca, Epistoholik Indonesia, saya mengajak Anda semua mencoba menulis surat-surat pembaca di pelbagai media massa. Begitu dimuat, Anda akan merasakan getaran untuk menulis dan menulis lagi.

Langkah praktis : milikilah bloknote. Yang bisa disimpan di saku, ia harus menyertai Anda sebagaimana HP Anda. Juga selalulah membawa bolpoin. Lalu tirulah gaya turis Jepang dalam cerita berikut ini :

Nilai 4 dan Turis Jepang
Dimuat di kolom Surat Pembaca,Harian Suara Merdeka
Senin, 12 November 2007 : Hal. L

Ada nilai empat di rapor SMP saya. Untuk pelajaran Administrasi, ketika saya duduk di klas 1 SMP Negeri 1 Wonogiri, 1967. Rapor saya merah karena saya ketahuan menyontek. Sejak kejadian memalukan itu saya mengubah kebiasaan belajar saya. Semua mata pelajaran hari itu, begitu tiba dari sekolah, segera saya ubah dalam bentuk tanya-jawab. Semuanya tertulis.

Dengan menulis maka apa yang diajarkan oleh guru dan segala hal yang saya baca dari buku pelajaran, otomatis kini menjadi milik saya. Kalau hanya mendengarkan saja, atau membaca-baca saja, daya lengketnya dalam ingatan terbatas. Dua hari, sudah mengabur dan lalu hilang. Tetapi dengan menuliskannya, info-info baru itu akan lebih lama tergores dalam otak kita, bahkan bisa terus teringat dalam jangka waktu lama.

Untuk terus mampu menyalakan api menulis itu, sebuah bloknot dan bolpoin selalu menemani saya, ke mana pun pergi. Juga di sisi tempat saya tidur. Ketika menemui hal-hal yang menarik di jalanan, di koran, buku, atau munculnya gagasan tertentu, langsung ditulis di bloknot tersebut.

Seperti saya tulis di kolom ini (23/2/2006), Harry Davis, Wakil Direktur Program MBA di Sekolah Bisnis Universitas Chicago, Amerika Serikat, mengatakan bahwa turis-turis Jepang juga membawa-bawa bloknot ketika keliling dunia. Mereka mencatat hal-hal khusus yang dapat mereka amati dari pelbagai penjuru dunia yang mereka kunjungi.

Mereka melakukan tindak intelijen secara legal, mengumpulkan data. Pelbagai data itu diolah dan dijadikan pertimbangan dalam menghasilkan produk yang diekspor Jepang ke seluruh dunia. Itulah cara Jepang menguasai ekonomi dunia.

Menurut Harry Davis, kebiasaan model turis Jepang itu harus dimiliki setiap insan yang produktif, utamanya dalam mengembangkan dan mengasah keterampilan melakukan observasi. Kepada mahasiswa MBA-nya, seperti dikutip koran USA Today (12/2/1992), ia anjurkan untuk membawa-bawa bloknot sepanjang waktu.

Dengan demikian mereka setiap saat dapat menulis dan mengawetkan hasil observasi dan ide-ide seputarnya, yang sangat bermanfaat bagi pekerjaan atau pun kehidupan pribadinya.

Kalangan wartawan sudah terbiasa melakukan hal tersebut, dan kini bisa diadopsi sebagai bagian gaya hidup produktif sehari-hari kita. Kepada sesama kaum epistoholik, saya anjurkan untuk melakukannya. Anda, apa pun profesinya, pasti bisa pula memperoleh manfaat dari anjuran yang sama ! [Bambang Haryanto Jl.Kajen Timur 72 Wonogiri 57612].


Semoga cerita-cerita ini bermanfaat bagi Anda semua.
Terima kasih.


*) Artikel ini merupakan makalah untuk kuliah umum dalam Workshop Jurnalistik, Salam Kampus bagi Mahasiswa Baru Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Sinar Nusantara Surakarta tahun akademik 2009/2010, di Solo, 29 - 30 September 2009.

Wonogiri, 24 Oktober 2009

ee

Saturday, September 12, 2009

Lima Tahun Kepergian Aktivis HAM, Munir

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 82/September 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia

Kehilangan besar. “Human Rights Watch hari ini berduka atas meninggalnya Munir, salah satu tokoh penegakan hak-hak asasi manusia Indonesia. Pengacara berusia 38 tahun itu meninggal secara tak terduga ketika dalam perjalanan dari Indonesia menuju Belanda untuk melanjutkan kuliah pasca sarjananya.”

Itulah awal berita yang dilansir oleh organisasi Human Right Watch (HRC) yang berpusat di New York, 8 September 2004. “Ini merupakan kehilangan besar bagi saya pribadi, karena Munir adalah sahabat dan rekan seperjuangan,” kata Joe Saunders, wakil direktur program HRC.

“Juga kehilangan besar bagi gerakan penegakan hak-hak asasi manusia sebab Munir tak pernah lelah berjuang dan merupakan sosok yang unik sebagai periset, ahli strategi dan juru bicara yang efektif. Rasa duka cita saya teruntuk keluarga dan kawan-kawannya.”

“Munir memiliki klas tersendiri. Ia memiliki kecerdasan listrik dan ingatan ensiklopedis. Dalam rapat ia mampu menggelar data yang mendetil secara kaleidoskop, wawasan serta analisis tajam untuk menjelaskan gambaran aktual guna menentukan tindak lanjut kemudian,” papar lanjut Joe Saunders.

Menagih janji SBY. Lima tahun kemudian, ingatan ensiklopedis tentang kasus terbunuhnya Munir rupanya tidak dimiliki oleh petinggi negeri ini. Kasus hitam ini cenderung menjadi terkatung-katung. Setelah SBY terpilih untuk kedua kalinya, kalangan aktivis penegakan HAM kini menunggu aksi SBY untuk menuntaskan kasus besar yang mencoreng nama Indonesia di mata dunia ini.

Lima tahun lalu, kepergian mendadak Munir itu memantik saya sebagai seorang epistoholik untuk menulis surat pembaca. Pada tanggal 8 September 2004, sehari setelah meninggalnya Munir, saya menulis surat pembaca dengan judul “Selamat Jalan Pejuang HAM Sejati” ke harian Bali Pos, Pikiran Rakyat, Republika, Solopos, Suara Merdeka, dan Wawasan. Saya tidak tahu apakah surat pembaca saya itu dimuat atau tidak.

Dengan judul “Perginya Layang-Layang,” surat pembaca dengan isi serupa juga saya kirimkan ke harian Kompas Jawa Tengah. Surat yang saya emailkan 8 September 2004 itu baru muncul, dengan penyuntingan, tanggal 30 September 2004. Saya tidak tahu mengapa harus begitu lama menunggu untuk pemuatannya.

Surat pembaca saya yang asli berikut di bawah ini. Juga terdapat dua surat pembaca lainnya, menyangkut sosok Munir sebagai sumber inspirasi.

Perginya Layang-Layang
Dimuat di kolom Surat Pembaca
Harian Kompas Jawa Tengah, 30 September 2004


Tanggal 8 September 2004 di warung soto Terminal Angkuta Wonogiri, kau menjadi bahan pembicaraan. Seorang berkata, Munir telah meninggal. Lainnya menyahut, ya, Munir yang banyak omong itu telah meninggal. Saya mencatat dialog jujur rakyat itu.

Bagi awam, omongan atau isu tentang orang hilang, hak-hak asasi manusia (HAM), kebebasan pers, penegakan hukum, sampai superioritas sipil atas militer dan sejenisnya yang kau ungkapkan bertahun-tahun terakhir, memang mengesankan dirimu sebagai sosok yang banyak bicara.

Tetapi banyak omong senyatanya adalah kelebihanmu, senjata utamamu. Terutama di saat terlalu banyak orang bungkam, takut bicara hal-hal yang benar. Menurutku, semua omonganmu itu tidaklah sia-sia. Sebab selain omongan, di tengah angin perubahan dan banyak orang suka tiarap, kau juga menjadi teladan banyak anak muda.

Seperti kata Hamilton Mabie, jangan takut terhadap deraan angin hambatan dan kesengsaraaan. Ingatlah layang-layang, yang membubung naik bila diterpa angin daripada bila terbang bersama angin. Itulah sosokmu. Selama ini, semakin angin keras menerpamu, terbang mu pun semakin meninggi.

Saya dan kita semua, sungguh tidak tahu rencana Tuhan. Tetapi kau telah dijemput kembali ke haribaan-Nya saat kau mengapung di atas mega-mega dalam penerbangan dari Jakarta menuju Belanda, mudah-mudahan itu pertanda baik.

Bahwa Tuhan menyayangimu. Seperti halnya mereka-mereka yang selama ini telah tersentuh oleh mulianya niatmu, omonganmu, juga tindakanmu.

Saya secara pribadi tidak mengenalmu, tetapi ijinkan saya ikut berdoa semoga Tuhan memberimu tempat yang layak di sisiNya. Selamat jalan, Munir. Terbanglah sang layang-layang, dalam damai, menuju keabadian.


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia
Wonogiri


Bangsa Yang Dihukum
Dimuat di kolom Surat Pembaca
Harian Kompas Jawa Tengah, 28 September 2007


Penegakan hukum di Indonesia ibarat gerakan tari poco-poco. Kita senang melihat adanya kemajuan, tapi ternyata disusul gerakan memutar dan bahkan mundur sama sekali. Sepertinya bergerak tetapi nyatanya hanya berjalan di tempat.

Contoh yang mencolok adalah kasus terbunuhnya aktivis HAM, Munir, yang tetap misterius sejak kejadian tiga tahun lalu. Demikian pula kasus korupsi mantan Presiden Soeharto.

Mungkin bangsa lain di dunia saat ini merasa gemas melihat ulah kita. Entah kebetulan atau tidak, tapi dengan memakai ilmu otak-atik gathuk, mencocok-cocokkan fakta yang terjadi, kita boleh merasa bahwa dunia sedang menghukum kita. Misalnya, gara-gara kasus Munir dan bertepatan dengan rentetan kecelakaan yang terjadi, membuat maskapai penerbangan kita dilarang terbang ke Eropa.

Demikian pula ketika MA justru menghukum majalah TIME untuk membayar uang trilyunan karena membeberkan data korupsi Soeharto, kita pun segera dapat “balasan” yang setimpal. Yaitu ketika PBB dan Bank Dunia meluncurkan program global untuk mengembalikan aset rakyat yang dicuri mantan penguasanya. Bahkan secara tegas dinyatakan bahwa mantan presiden Soeharto merupakan penguasa nomor wahid sejagat dalam melakukan korupsi besar-besaran ketika memerintah.

Terakhir : siapa tahu, bencana alam yang beruntun menimpa kita akhir-akhir juga merupakan isyarat, sebagaimana ditamsilkan oleh Ebiet G. Ade, “mungkinkah Tuhan sudah bosan melihat tingkah kita, yang banyak salah dan dosa-dosa ?”


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia


Gelar Tong Kosong
Dikirimkan ke kolom Surat Pembaca
Harian Kompas Yogyakarta, 22 Oktober 2004


Di tengah hiruk-pikuk Pilpres Putaran Kedua, capres Susilo Bambang Yudhoyono menempuh ujian doktornya di Institut Pertanian Bogor. Sementara itu Munir, tokoh pembela hak asasi manusia dipanggil kembali oleh Sang Chalik ketika sedang dalam penerbangan dengan Garuda dari Jakarta menuju Belanda. Munir menuju Belanda guna meneruskan studinya. Kabar terakhir mengenai Amien Rais, mantan ketua MPR, adalah pulang kandang ke Universitas Gajah Mada untuk menjadi dosen kembali.

Kisah ketiga tokoh tadi pantas menjadi tauladan. Mereka tidak berhenti belajar. Kembali menjadi dosen, seperti yang dipilih Amien Rais, juga merupakan pilihan untuk kembali belajar. Di sekitar kita tidak sedikit birokrat sampai guru yang kembali ke kampus untuk menempuh program lanjutan S2 dan S3.

Lalu bagaimana dengan mereka yang tak punya biaya atau waktu untuk menempuh program lanjutan ? Belajar untuk meningkatkan diri yang tidak berpamrih disemati gelar akademis ketika usai, masih banyak jalan yang dapat ditempuh.

Cara terbaik adalah dengan membaca. dan menulis. Membaca dapat mengandalkan sumber-sumber ilmu yang terhimpun di perpustakaan, toko buku atau Internet. Berorganisasi, menjadi relawan atau aktivis, adalah juga wahana untuk belajar. Sedang menulis itu penting, karena mempribadikan segala asupan informasi untuk menjadi milik kita sendiri.

Dengan menulis, baik di media massa cetak atau pun Internet, dirinya berbagi ilmu dengan orang lain sekaligus mampu memperkaya khasanah ilmu dirinya pribadi. Tanpa menulis, gelar-gelar akademis itu ibarat tong kosong karena ilmu yang ia peroleh segera terlupakan dan khasanah ilmu pengetahuan tidak mendapatkan tambahan dari pemilik gelar-gelar akademis bersangkutan.

Di sini kita dapat meneladani perjuangan seorang yang pernah bekerja di perusahaan sound system sebagai juru servis, lalu jualan antene TV kelilingan, jualan sepatu dan antena parabola, tetapi semangatnya untuk belajar tanpa henti sampai terpilih menjadi satu di antara 20 Pemimpin Politik Asia Pada Millenium Baru oleh majalah AsiaWeek 1999. Orang tersebut adalah : Munir.


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia


Wonogiri, 13/9/2009

ee