Showing posts with label hendro wicaksono. Show all posts
Showing posts with label hendro wicaksono. Show all posts

Wednesday, October 27, 2010

mBah Maridjan, Pustakawan 2.0. dan Pesta Yogya

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 107/Oktober 2010
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia



Kaliurang.
Adakah sesuatu kenangan Anda pernah tertambat di sana ?

Kalau Tonny Bennet pernah terkenal dengan lagu indah, "I left my heart in San Francisco," mungkin hari-hari mendatang pencipta lagu kita harus menelorkan lagu untuk mengenang mBah Maridjan yang berdomisili di Kaliurang itu pula.

Sosok juru kunci Gunung Merapi, yang kemudian semakin terkenal sebagai bintang iklan minuman suplemen, telah ditemukan meninggal dunia sebagai salah satu di antara puluhan korban amukan gunung karismatis yang secara spiritual telah ia "jaga" selama ini.

Sugeng tindak, selamat jalan, mBah Maridjan.

Kalau orang Jawa punya semboyan sakral "sedumuk bathuk, senyari bumi ," cerminan tekad kukuh untuk mempertahankan tanah miliknya sampai titik darah penghabisan, yang konon membuat ide transmigrasi sulit disosialisasikan untuk penduduk etnis Jawa, mBah Maridjan mungkin menjadi ikon ideal untuk keyakinan itu.

Beliau meninggal dunia, di rumahnya. Dalam posisi bersujud. Posisi pasrah, merendahkan diri, ke hadapan Yang Maha Kuasa. Orang besar telah memilih cara kematian yang juga besar, yang mungkin baru dalam jangka waktu yang lama betapa momen heroik, tetapi juga sekaligus tragis itu, akan bisa kita lupakan.

Presentasi wong cilik. Sebagai penulis surat pembaca, saya pernah menulis tentang dirinya. Judulnya, "mBah Maridjan" yang dimuat di harian Suara Merdeka (Sabtu, 27 Oktober 2007). Isinya :

Seorang mantan gubernur yang pagi-pagi sudah kluruk, berkokok, ingin maju sebagai calon Presiden di Pilpres 2009, telah mengunjungi mBah Maridjan. Bagi saya ini seperti sebuah déjà vu, pemutaran kembali adegan yang mirip dengan apa yang pernah dilakukan oleh tokoh-tokoh pemerintahan Orde Baru.

Mereka-mereka ini paling lihai dalam berpropaganda untuk merebut hati rakyat. Antara lain dengan teknik yang disebut sebagai berpura-pura sebagai orang kecil.

Ada cerita tentang mantan menteri penerangan dan ketua partai pro-pemerintah saat itu, ketika melakukan kampanye terselubung di Solo. Ia melakukan aksi atraktif, yaitu menggendong seorang tukang becak Solo. Dengan aksinya itu dirinya membangun citra bahwa dia merakyat dan dirinya merupakan bagian tak terpisahkan dari rakyat kecil.

Menurut Sunu Wasono, Dosen Sastra Indonesia FIB-UI dalam bukunya Sastra Propaganda (2007), lewat aksi itu ingin ia tunjukkan bahwa program partai bersangkutan adalah juga program rakyat kecil. Partai itu kemudian bisa mengaku berasal dari rakyat, untuk rakyat, siap pula berjuang untuk rakyat. Kita semua tahu akhir dari cerita ini semua.

Bercermin dari teknik propaganda di atas, warga Jawa Tengah kini seyogyanya dapat mulai mengasah ketajaman nalarnya bila kelak terpusar dalam atmosfir kampanye pemilihan Gubernur Jawa Tengah yang mulai menghangat. Juga dalam pilpres mendatang. Intinya, Anda jangan sampai terbeli musang dalam karung ketika menetapkan pilihan Anda kelak.

Bambang Haryanto
Wonogiri 57612

mBah di media sosial. Sebagai blogger pustakawan, pagi ini (28/10/2010) mengirim SMS untuk Ahmad Subhan di Yogya :

"Ikut berduka atas wafatnya mBah Maridjan yg heroik. Btw, kira2 adakah perpus/situs perpus yg memajang daftar buku, publikasi, foto2 sd kenangan og2 ttg beliau ?" (Kamis, 28/10/2010 : 07.23.18).

Jawaban Subhan : "Smpe hari ini foto beliau, asli maupun modifikasi, sdh trsebar di fb. Kmaren komentar ttg mb marijan ckp panjang di bwh status Gus Muh, bs jd hari ini lbh rame." (Kamis, 28/10/2010 :07.31.27).

Jawaban saya : "Tks Subhan. Power utk menyebarkan sd mmodifikasi info, kini ditangan user. Power itu hrsnya bs diajak msk perpus ut bikin 'pesta' a la marketspace disana:-)" (Kamis, 28/10/2010 : 07.40.48).

Merajang-rajang buah apel. Sehari sebelumnya saya mengirimkan email ke Ahmad Subhan, Hendro Wicaksono, juga Yossy Suparyo. Antara lain berisi rekap lalu lintas SMS tentang media sosial, juga marketspace yang menurut hemat saya, merupakan pintu utama untuk membangun media sosial dalam lingkup Library 2.0.

Inilah email dan rekapitulasi SMS bersangkutan :


Dear Subhan,

Saya kirimkan log obrolan via SMS tiga sudut kemarin : kau, saya dan Hendro. Siapa tahu ada manfaatnya.

Oh ya, bila berpikir secara marketspace, saya bayangkan perpustakaan itu ibarat buah apel. Lalu bisa kita iris-iris, "dijual," dan mungkin nama produk/layanannya bukan dengan nama perpustakaan lagi.

Jadi Senayan sampai katalog online bersama itu "hanya" salah satu faset, di antara puluhan atau ratusan faset, yang bersinggungan langsung atau tak langsung dengan dunia perpustakaan. Sekadar contoh : beberpa hari yang lalu aku kirim usul ke Diana AV Sasa. Agar situs Ibuku-nya buka fitur baru : mengulik judul-judul buku.

Judul buku itu terbuka bagi peselancar untuk dikomentari, diubah, baik untuk membual, menjual, atau menipu sekali pun. Saya yakin dengan pendekatan "user generated content" ini akan ada nilai positif yang muncul. Karena menurutku users itu cerdas dan kini media sosial membuka lebar peluang sehingga "cream of the cream" itu hadir di permukaan.

Mungkin untuk misi "merajah-rajah" (mengiris-iris) buah apel itu media Senayan bukan media yang tepat. Mungkin perlu situs tersendiri, dengan impian-impian besar tersendiri.

Salam,

BH


(AS/Ahmad Subhan->BH/Bambang Haryanto). Message via Facebook, 26 Oktober 2010 Jam 03.47. Re: Tentang Senayan : Ahaa, menarik sekali istilah Pak BH, "sarana manajemen pergudangan", hahaha... saya sepakat sekali Pak, jangan sampai piranti lunak untuk pengetahuan malah jadi seperti istilah Pak BH itu. Saya tunggu ya Pak, artikel tentang Senayan

(BH->AS) Selasa, 26 Oktober 2010 : 11.41.36. Hi Subhan. Sy sd nulis di blog jip, ttg ide ubah Senayan mnjd mediasosial perpus+media libratainment. Ada pendapat ? Btw, buku Komedikus sy siap terbit Nov ini. Tks.


(BH->HW/Hendro Wicaksono) Selasa, 26 Oktober 2010 : 12.20.21. Hi Hendro. Sy sd nulis di blog jip80, usulan ubah Senayan mnjd mediasosial perpus+media libratainment. Ada pendapat ? Btw, buku Komedikus sy siap terbit Nov ini. Tks.

(AS->BH) Selasa, 26 Oktober 2010 : 11.46.20. Wah, mantap skali pak, nanti sy baca dan beritahukan ke teman2 pengembang Senayan. Btw, buku pak BH perlu dikoleksi oleh Jojon Center tuh, lembaga dokumentasi komedi indonesia, kantornya di jogja, teman sy yg mendirikan.

(BH->AS) Selasa, 26 Oktober 2010 : 12.15.15. Siplah. Wah, rumus "jenis mencari jenis" trjadi diantara qta lg :-). Kan bos Jojoncenter pernah nraktir sy nasi padang Okt 2009 krn kafe blm buka ? Salam utk rekan2.

(HW/Hendo Wicaksono->BH) Selasa, 26 Oktober 2010 : 16.27.55. Mas, memang itu ide yg ingin saya kembangkan dalam next step pengembangan senayan. Sialnya ada tantangan baru berupa standar baru pengganti aacr (saya lupa namanya). Mau tdk mau perhatian jd terpecah kesana juga.

Saat ini yg bisa dilakukan adalah hibrid senayan dg layanan web 2.0 yg memang pas dg kebutuhan perpust. Misalnya dg menempelkan fitus diskusi/komentar dr disqus.com. Contoh implementasinya ada di http://perpustakaan.kemdiknas.go.id/bse. Coba lihat record detail dari tiap buku, dibawahnya ada fitur komentar yg di grab dari disqus. Jadi tdk hrs kita semua yg coding, tinggal pinjam dari layanan yg lain. Itulah yg namanya library 2.0 :D nh skrg mencari layanan lain apa yg pas buat dihibrid ke senayan. Karena layanan web 2.0 banyak banget.

(BH->HW) Selasa, 26 Oktober 2010 : 16.43.47. Tks. Spt Toyota Prius yg hibrid ya? Sy stuju. Visi sy, buku2,pinjam-kembali sd lokasi hny 1 faset dr makrokosmos Library 2.0. Yg utama bgmn mengelola man & his mind.

(HW->BH) Selasa, 26 Oktober 2010 : 16.48.09. Setuju mas. Hanya saja saya lebih suka dg pendapat, we cannot control man and his mind. What we can do is to inspire them, sehingga mereka terdorong utk belajar dan berbagi. Library 2.0 adalah implementasi web 2.0 agar pengelola perpustakaan mudah dlm mencapai impian tsb.

(BH->HW) Selasa, 26 Oktober 2010 : 16.58.19. Tks. Manage bkn=kontrol. Di planet Library 2.0, pustakawan adl mitra 'menari' para user,menfasilitasi minat2, aspirasi sd impian2 mereka. Qta sama kok mimpi2nya :-).

(HW->BH) 26 Oktober 2010 : 17.01.27. Betul mas. Proses manajemen pengetahuan sdh terbukti jalan di media sosial Internet. Nah skrg tantangan bagaimana memindahkannya dlm lingkup perpustakaan.

(HW->BH) 26 Oktober 2010 : 17.01.08.Mas maaf kalo ada sms atau pesan di FB blm sempat dibales. Hape saya hilang dicopet, lenyap beserta info kontak dll. Belakangan saya sibuk ngurusi cpns online diknas. Benar2 menguras energi sampae saya sakit. Mudah2an skrg saya siap berdiskusi kembali :).

(BH->HW). Selasa, 26 Oktober 2010 : 17.10.19. Tks. Santai sj, Hendro. Kyk di JMR dulu, kl nurutin nafsu bs smlaman ga tidur :-(. Hp yg ilang yg BB itu ? Copetnya jg ahli coding kali. Mg sehat2,nnti kita obrol2 lg.

Pustakawan dunia maya. JMR adalah Jagongan Media Rakyat 2010, perhelatan yang telah mempertemukan saya dengan Hendro Wicaksono, 22-25 Juli 2010, di Yogyakarta. Pada acara itu pula saya menemukan nama Erik Qualman yang video Youtube-nya berjudul "Social Media Revolution"" diputar dalam acara JMR 2010 itu pula.

Dalam artikelnya Statistics Show Social Media Is Bigger Than You Think, mengutip data videonya itu, ia memberikan data menarik.

Antara lain ia menulis bahwa di tahun 2010 Gen Y jumlahnya akan melebihi generasi Baby Boomers….dimana 96% dari mereka bergabung dalam jaringan sosial di dunia maya. Media sosial telah menggusur posisi situs-situs pornografi ("hallo Pak Tifatul Sembiring, apa ini kabar baik bagi Anda ?") sebagai aktivitas nomor satu di Internet. Di Amerika Serikat tahun lalu, satu dari 8 perkawinan yang terjadi proses pacarannya adalah melalui media sosial.

Untuk para pelajar yang aktif di dunia maya, berbanggalah. Erik Qualman mengatakan, hasil kajian Departemen Pendidikan Amerika Serikat di tahun 2009 menunjukkan bahwa secara rata-rata pelajar yang belajar melalui sarana online lebih berprestasi dibanding pelajar yang menerima instruksi secara tatap muka.

Merujuk pendapat Erik Qualman itu, hemat saya, media sosial adalah tambang emas untuk digali, juga untuk para pustakawan. Mau tak mau, agar profesi ini tetap eksis, walau mungkin dengan nama yang berbeda-beda, juga baru, dirinya harus tampil dan segera membuka warung-warung yang inovatif dan dibutuhkan konsumen di dunia maya.

Erik Qualman telah memberikan tip untuk sukses : "Perusahaan-perusahaan yang sukses memanfaatkan media sosial berlaku lebih sebagai panitia pelaksana pesta, agregator informasi dan penyedia informasi, ketimbang sebagai pemasang iklan tradisional."

Terima kasih, Pak Erik. Hallo, pustakawan 2.0., mari kita segera berpesta di dunia maya. Blog ini juga saya daftarkan sebagai salah satu pesertanya, karena pustakawan 2.0. idealnya adalah juga sebagai produser informasi.

Kaliurang. Gara-gara Merapi meletus, saya tidak jadi mengunjunginya lagi. Karena undangan pesta intelektual yang dikirimkan Widiaji dan semula direncanakan di Kaliurang, dipindahkan ke Yogyakarta.

Perhelatan yang diselenggarakan oleh Stube-Hemat telah mendaulat saya untuk menjadi nara sumber pelatihan bagi mahasiswa bertopik "Berdaya Di Era Banjir Informasi" (6/11/2010) dan "Belajar Menjadi Komunikator Positif" (7/11/2010).

Hallo Yogya, saya akan mengunjungi Anda lagi.
Kita bisa ketemu ?


Wonogiri, 28 Oktober 2010

ee

Sunday, October 24, 2010

Ajaran Ibu Soma,Gus Doerr dan Katalog Yang Menari

Warga Epistoholik Indonesia Di Tengah Jagongan Media Rakyat 2010 Yogyakarta-Bagian 3


Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 106/Oktober 2010
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


Kinokuniya.
Mencari-cari buku di sana saya merasa seperti sedang berlatih karate di dalamnya.

Biang keroknya adalah fasilitas antarmuka dari anjungan elektronik yang disediakan toko buku itu. Dengan alat itu konsumen dibantu untuk menemukan buku-buku yang mereka cari di toko buku bersangkutan. Layanan serupa bisa kita temui di pelbagai toko buku terkenal di Indonesia, berupa komputer, sementara di Kinokuniya itu wujudnya seperti kios ATM.

Ini bukan toko buku Kinokuniya yang berada di Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta. Ini toko buku jaringan yang sama tetapi luasnya hampir sebesar lapangan sepakbola. Hamparan belukar buku yang menggairahkan itu membuat saya harus mengandalkan anjungan tadi untuk menemukan buku yang saya incar. Buku tentang manajemen ilmu pengetahuan.

Muncul masalah. Keypad-nya kurang begitu ramah. Ketika telunjuk menekan terlalu lemah, huruf tidak muncul. Tetapi ketika tekanan ditingkatkan ekstra, huruf yang muncul menjadi dobel. Saya membayangkan sedang berlatih karate, melakukan exercise guna memperkuat daya tohok jari-jemari saya.

Jadi sungguh perjuangan tersendiri untuk bisa menuliskan lema yang kita cari. Baik nama pengarang, judul atau subjek buku. Sementara pengguna lain dari toko buku megah di bilangan Orchard Road, Singapura itu, sudah pula nampak mengantri.

Buku yang saya cari itu, tidak saya temukan. Saya berandai-andai, alangkah menariknya bila terminal itu bisa agak "bercanda" dengan saya. Misalnya, bila buku itu tidak ada, ia dapat menyarankan saya untuk mengunjungi toko buku terdekat yang masih menyediakannya. Bahkan melalui Internet, sambungan itu bisa bercakupan dunia pula.

Jadi antar toko buku itu data koleksinya tersambung secara elektronik, 24/7. Diperkaya pula sambungannya dengan penerbit buku dan pengarang buku bersangkutan. Bahkan terintegrasi dengan data para pembaca buku tersebut, genap dengan segala komentar yang mereka tuliskan. Mengambil jargon dari ranah ilmu perpustakaan, ijinkanlah saya menyebut gambaran itu sebagai panorama tentang katalog yang menari.

Diagram kambing. Mengilas balik ke tahun 1980, mata kuliah tentang katalog, dengan label katalogisasi dan klasifikasi, bukan mata kuliah yang saya sukai. Pengampunya adalah Ibu Lily K. Somadikarta, yang saat itu adalah juga ketua jurusan Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Cara mengajarnya yang tegas dan direct, membuat kami yang belum mengenal akrab beliau menjadi cepat-cepat ciut nyali. Apalagi ini mata kuliah yang menentukan, apakah di tahun pertama kami langsung drop out atau berlanjut. Kuis atau tes pertama untuk mata kuliah ini saya mendapatkan nilai nyaris mendekati ambang batas kegagalan : 62.

Saat kuis, saya memang tidak menyangka diagram tentang alur proses penyimpanan dan penemuan kembali bahan pustaka itu muncul di kertas ulangan. Rupanya saya telah meremehkan jantung alur kerja perpustakaan ini. Sebab ketika mencatatnya saya telah membingkai diagram tersebut dengan garis kontur berwujud binatang kambing.

Teman sekelas saya, Subagyo Ramelan, tertawa-tawa melihat "diagram kambing" buatan saya itu.Bahkan ia mengomentari, "itu cara mencatat yang jenius." Ia yang kini membuka gerai "Safir Andaru" dan bergerak dalam bisnis batu mulia di Ciledug, Tangerang, ketika menjadi book officer di Asia Foundation pernah membantu saya memperoleh hibah puluhan buku-buku bermutu terbitan manca negara. Terima kasih, Bag.

Saya bayangkan, ke dalam mulut kambing itu masuk satu judul buku. Buku itu dikunyah, untuk diekstraksi. Wujud fisiknya disimpan di rak tertentu. Kalau jumlahnya puluhan atau ratusan, mungkin ingatan kita masih kuat mengingat sampul atau tempatnya untuk bisa ditemukan kembali ketika dibutuhkan. Tetapi ingatan manusia ada batasnya. Bila jumlah buku itu sudah mencapai ribuan, masalah muncul. Menyimpan sih gampang, tetapi saat untuk menemukan kembali, secara cepat dan akurat ?

Solusinya, data buku itu harus dicatat. Secara sistematis. Ada ilmunya. Dalam buku besar, ia dicatat berdasarkan nomor urut, tanggal pembelian/hadiah, dan sumber buku tersebut. Ini untuk administrasi internal. Sedang untuk layanan bagi pemakai perpustakaan, isi buku dianalisis dulu, diklasifikasikan menurut subjek atau perihal, dengan merujuk panduan yang baku, seperti tabel DDC, Dewey Decimal Classification dan sarana bantu lainnya.

Kemudian tergabung di dalamnya pernak-pernik data buku lainnya, yang disajikan secara sistematis dalam bentuk kartu-kartu katalog. Pengunjung dapat mengakses koleksi perpustakaan melalui bantuan katalog tersebut berdasarkan nama abjad pengarang, judul buku, sampai subjek buku.

Pemahaman publik terhadap katalog sebagai sarana temu kembali bahan pustaka di perpustakaan, bukan hal yang otomatis. Bahkan juga di kalangan intelektual. Di kolom surat pembaca majalah Tempo (16/1/1982), saya pernah mengomentari isi acara "Dunia Pustaka" di TVRI (29/11/1981). Saat itu hadir bintang tamu seperti Harsja W. Bachtiar, Tuti Indra Malaon dan Toeti Adhitama.

Protes saya adalah : mahasiswa dan dosen (!) harus dilatih agar mampu memahami fungsi katalog dan mahir memanfaatkannya dalam menemukan informasi yang relevan. Keterampilan serupa sekarang ini yang juga harus dilatih pada mereka, adalah pemanfaatan mesin pencari Google di Internet. Semua orang bisa menggunakan, tetapi tetap ada perbedaan signifikan antara mereka yang tidak terlatih vs mereka yang berpengetahuan tentangnya !

Konsumen adalah matahari. Itulah teori dasar dan praksis pengelolaan bahan pustaka yang jadul, yang saya pelajari di dekade awal 1980-an. Kini katalog-katalog kertas itu semakin banyak digantikan dengan sinyal-sinyal elektronik. Otomasi. Komputerisasi.

Tetapi sebagai seorang renegade, yang terciprat DNA ilmu perpustakaan tetapi tidak pernah bekerja sebagai pustakawan sejak 1985, saya tidak tahu seberapa jauh, juga seberapa sukses otomasi itu telah berjalan di pelbagai perpustakaan dunia dan Indonesia.

Ketika di tahun 1996, awal kali menggunakan Internet di stan pameran USI-IBM di Wisma Bapindo dengan memposkan email di situs Olimpiade Atlanta untuk Susi Susanti, Alan Budikusuma dan kawan-kawan (juga adik saya) di Atlanta, lalu mengenal katalog raksasa di Internet berupa direktori Yahoo ! saat itu, dan kini mesin pencari Google, saya merasa ilmu perpustakaan (pola jaman saya) dan juga institusi perpustakaan sedang menuju senjakala. Minimal, relevansinya terancam semakin terus menyurut.

Di harian Suara Karya saat itu saya pernah menulis surat pembaca, berpendapat bahwa dulu lanskapnya perpustakaan sebagai matahari dan para pemakai merupakan planet-planet yang mengelilinginya. Kini di era Internet, posisinya terbalik. Pemakai informasi adalah matahari dan pelbagai jasa layanan informasi yang ada saat ini, termasuk perpustakaan, merupakan planet-planet yang mengelilinginya.

Dalam dunia korporasi, meminjam pendapat pustakawan yang kini menjadi konsultan bisnis Internet tingkat dunia, Mary J. Cronin dalam bukunya The Internet Strategy Handbok : Lessons from the New Frontier of Business (Harvard Business School Press, 1996), pelanggan adalah matahari yang dikelilingi pelbagai unsur-unsur fungsi inti perusahaan. Tidak hanya terkait dengan bagian pelayanan pelanggan dan komunikasi korporat, tetapi juga merengkuh kepada bagian pengembangan produk, riset, sistem, personalia, manajemen informasi,penjualan, pemasaran sampai distribusi produk.

"Interaksi secara konstan dengan basis konsumen, memperoleh umpan balik untuk setiap fase pengembangan produk, dan kemampuan mengorkestrasi beragam bagian untuk hadir sebagai customer support dan tim umpan balik, menunjukkan bahwa pelanggan hadir sebagai komponen sentral semua aplikasi berbasis Internet," demikian tegas professor Carroll School of Management dari Boston College tersebut.

Revolusi media sosial. Para pustakawan dan pegiat otomasi perpustakaan di Indonesia kiranya pantas mendengar nasehat Ibu Mary yang anggun dan karismatis itu. Konsumen adalah matahari. Sudahkah pola pikir itu terintegrasi dalam layanan perpustakaan, yang sudah menggunakan layanan secara otomasi ?

Untuk mencoba mencari tahu hal itu, hari Sabtu (23/10/2010), sebagai hari wajib kunjung ke Perpustakaan Umum Wonogiri, saya bertanya kepada petugasnya, mBak Wening. Apa nama peranti lunak untuk organisasi koleksi perpustakaannya. Dia jawab : Limas. Lalu saya tanya, apakah ada fitur yang memberi peluang bagi peminjam untuk menulis sesuatu tentang buku (yang dibacanya) itu ? Ia jawab lagi : tidak ada.

Sebelum berangkat, saya sempat kirim SMS ke Ahmad Subhan, pustakawan dan aktivis literasi di Yogya. Semula kami hanya bisa saling kenal melalui Internet, lalu bisa ketemuan secara serendipity pada acara Jagongan Media Rakyat (JMR) 2010, 24 Juli 2010 di Jogja National Museum, Yogyakarta. Beberapa saat sebelumnya ia baru ngeh kalau kita sama-sama memiliki DNA ilmu perpustakaan.

Isi SMS saya : Pagi Subhan. Di "Senayan" ssudah data buku apa ada kolom komentar user ttgnya, spt @ Amazon.com ? Sdh bc blog "Expired but still Wired" di blogroll jipfsui80-ku ? Tks. (Sabtu, 23 Oktober 2010 : 06.51.23).

Ia membalas : Pagi jg pak. Senayan blm ada fitur komen. Tp itu ide bagus, prlu diusulkn ke m'hendro. Sy prnah bc blog itu, isinya bgs, khususnya tlsn ttg fenomena pola membaca "F" (Sabtu, 23 Oktober 2010 : 07.19.26).

Hendro yang ia maksud adalah Hendro Wicaksono, Head Developer Senayan Library Automation. Inilah "Senayan" yang saya maksud di SMS di atas tadi. Senayan adalah perangkat lunak perpustakaan milik Departeman Pendidikan Nasional (Depdiknas). Bahkan karya cipta anak negeri ini telah memenangkan kategori Open Source System dalam Indonesia ICT Awards 2009 yang baru lalu.

Hendro yang alumnus JIP-FSUI 1992 ini, secara ajaib dan mungkin sudah tergaris di kosmis, tiba-tiba menghuni satu kamar bersama diri saya di wisma Jogja National Museum, 23-25 Juli 2010. Dia dari Jakarta dan saya dari Wonogiri, saat itu jualan Epistoholik Indonesia, kami sama-sama diundang menjadi nara sumber pada helat pertemuan aktivis media akar rumput di Jagongan Media Rakyat (JMR) 2010 Yogyakarta.

Sesudah sowang-sowang saya merasa kurang beruntung. Presentasi Hendro Wicaksono waktunya bersamaan dengan penampilan teman yang saya kenal melalui Internet, pegiat budaya Internet Sehat, Donny Budi Utoyo, dari ICT Watch. Menempati pendopo, yang sehari sebelumnya tempat saya menjual komunitas EI saya, pengunjung sudah disihir dengan sajian video dari YouTube yang berkisah mengenai "Social Media Revolution"" yang menggelegak. Di mana kita segera dihentak oleh lagu hip-hop Fat Boy Slim yang tak henti-hentinya berteriak : "Right here, right now ; right here, right now ; right here, right now !".

Revolusi media sosial memang telah terjadi sekarang ini. Merujuk hal itu saya memutuskan untuk mengikuti sesi presentasi dari Donny B.U. ini, dan tentang Senayan-nya Hendro, terpaksa saya tinggalkan. Dalam konteks kepentingan komunitas EI saya, inspirasi tentang media sosial saya rasa lebih sedikit relevan dibanding bercerita tentang perpustakaan. Utamanya, hemat saya, karena yang pertama lebih banyak menyimpan cerita sebagai bahan eksekusi pendekatan yang inside out, yang berorientasi kepada khalayak, pembaca atau konsumen, dibanding wacana yang kedua saat itu.

Saya memang sempat menyelinap masuk ke ruangan Hendro tempat ia melakukan presentasi. Saat itu berlangsung sesi tanya jawab. Nampak moderator, Yossy Suparyo, sepertinya rada kesulitan menemukan audiens yang mau tampil untuk berkomentar. Jumlah audiensnya lebih banyak daripada yang hadir di pendopo tadi.

Membanggakan juga melihat generasi muda pustakawan yang begitu antusias untuk menguasai perangkat lunak otomasi ini. Bahkan di Yogyakarta ini, komunitas untuk belajar bersama sudah terbentuk, dan boleh dibilang Hendro sudah menaiki tahta sebagai "raja" di antara mereka dengan bersenjatakan keris sakti berwujud peranti lunak Senayan itu pula.

Sayang, ketidakberuntungan saya masih berlanjut. Unduhan peranti lunak Senayan dari Hendro tersebut kini masih "terkunci" di flashdisk saya yang bermasalah berat. Tidak bisa diakses. Padahal belum pernah saya baca-baca isinya, minimal sejarah proses perjalanan Senayan sampai kini. Mungkin itu penyebab :-( sms saya ke Hendro, belum ia jawab. Saya bertanya :

Siang, Hend. Minta info : 1. Apa perpus2 user Senayan saling terkonek scr online, 24/7 ? 2.Ada fitur utk interaksi peminjam2 buku dg pustakawannya scr online pula ? Tks. (Sabtu, 23 Oktober 2010 : 13.42.28).

Marketplace vs marketspace. Di perpustakaan Wonogiri, dengan akses Internet yang selama proses loading bisa saya gunakan waktunya untuk baca-baca koran, saya juga mengirim pertanyaan di akun Facebooknya Hendro Wicaksono.

"Apakah Senayan menomor satukan functionality dari bahan pustaka, pinjam-kembali semata, tetapi belum mengeksploitasi sisi-sisi interaksi antara user/peminjam dengan bahan pustakanya, and beyond ?"

Senayan adalah katalog elektronik. Kalau katalog-katalog kertas yang berukuran 3 x 5 inci itu sangat terbatas untuk diutak-atik, maka katalog elektronik menurut hemat saya membuka peluang maha lebar untuk dieksploitasi. Tidak hanya terbatas sebagai sarana temu kembali bahan-bahan pustaka belaka.

Meminjam pendapat Jeffrey F. Rayport, yang dulu adalah dosen di Harvard itu, kartu-kartu katalog kertas dan koleksi buku itu bisa dijuluki sebagai marketplace, wahana fisik. Sementara katalog elektronik adalah marketspace, suatu lingkungan maya tempat berlangsungnya transaksi dan interaksi secara elektronik. Lingkungan ini ibarat lempung, tanah liat komunikasi yang membuka peluang untuk dieksplorasi sejauh batas-batas imajinasi.

Saya bertanya-tanya : apakah eksekusi katalog elektronik Senayan itu masih memakai kerangka pikir marketplace ? Atau kah sudah merambah ke kerangka pikir yang revolusioner dan benar, yaitu sebagai marketspace ? Bahkan sudah pula dirancang untuk ikut menggelincir sebagai pelaku dalam badai revolusi media sosial yang sedang terjadi ?

Gus Doerr menjawab. Gara-gara mencari info terbaru tentang Pak Jeffrey F. Rayport tadi (saya mengagumi saat membaca artikelnya "Managing in the Marketspace" di majalah Harvard Business Review, Nov/Dec 1994, foto paling atas) dengan memanfaatkan Google, bukan melalui sarana bantu katalog kertas di perpustakaan Wonogiri (yang tidak ada) atau katalog online yang belum dioperasikan untuk pengunjung ("menunggu lengkap," kata mBak Wening), saya ketemu artikel menarik.

Terdapat di situs majalah Fast Company yang bergengsi. Versi cetaknya selalu bikin ngiler saat terpajang di toko buku QB World Books, Jl. Sunda, Jakarta Pusat. Artikel dari majalah itu bercerita tentang Gus Doerr.

Nama lengkapnya John Doerr, dari perusahaan Kleiner Perkins Caulfield & Byers yang teramat amat sohor di bidang dunia teknologi informasi. Perusahaan venture capital raksasa ini telah membidani lahirnya perusahaan-perusahaan Internet kelas dunia. Misalnya, Google, Amazon, Sun Microsystems, juga Electronic Arts, Symantec, sampai Netscape.

Gus Doerr bilang : terjunlah kini ke media sosial atau Anda akan keteteran. Menurutnya, media-media sosial seperti blog, Facebook dan Twitter dan ribuan jenis lainnya, merupakan gelombang ketiga dari disrupsi Internet. Gelombang pertama adalah terciptanya Internet itu sendiri ("terima kasih banyak, Pak Tim Berners-Lee").

Gelombang kedua adalah penemuan peramban, browser, yang membuat semua orang mampu menjelajahi web. Dan sekarang menurut Gus Doerr, Internet sedang berubah lagi. Dari "Internet lama yang berbasis dokumen dan situs menuju sosok baru yang meliput semuanya tentang manusia, tempat dan hubungan."

Terima kasih Gus Doerr, untuk wawasan Anda.

Tohokan keras. Terakhir : dalam konstelasi perubahan besar yang sedang terjadi ini, di manakah sosok dan krida pustakawan Indonesia berada ? Barangkali secara guyon kita bisa bercermin dengan menghitung-hitung karakter dari istilah "pustakawan" itu sendiri.

Kata "pustakawan" terdiri atas 10 huruf. Kata "pustaka," terdiri dari tujuh huruf, 70 persen. Merujuk benda. Kata atau imbuhan "wan," terdiri tiga huruf, 30 persen. Merujuk manusia. Jadi pustakawan Indonesia proporsinya jauh lebih suka dan lebih berfokus untuk mengurus benda-benda, tetapi abai untuk melayani manusia ? Lihatlah pula pesan dalam logo organisasi profesi Ikatan Pustakawan Indonesia. Barangkali Anda juga telah memperoleh jawab yang sama dari sana.

Bila memang semua itu yang terjadi, tak ayal bila profesi ini akan segera menjadi tidak relevan lagi di tengah badai perubahan.

Kinokuniya.

Dengan meminjam kenangan saat menotok tombol-tombol keypad anjungan informasi di toko buku itu, apakah kira-kira gugatan seorang renegade ini merupakan tohokan keras ? Atau hanya gelitikan yang tidak dianggap penting bagi masa depan dunia perpustakaan dan kepustakawanan kontemporer di Indonesia ?


Wonogiri, 24 Oktober 2010

ee