Showing posts with label epistoholik. Show all posts
Showing posts with label epistoholik. Show all posts

Thursday, October 06, 2011

Stay Hungry, Stay Foolish : Warga Epistoholik Mengenang Steve Jobs

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 119/Oktober 2011
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia



Supir truk,Walter Raleigh dan Steve Jobs.
Mereka memiliki bahasa dan aksi yang berbeda tentang cinta sejati.

Walter Raleigh (1552-1618), penjelajah dan kerabat Istana Inggris, mengatakan bahwa "true love is a durable fire, in the mind ever burning, never sick, never old, never dead". Cinta sejati adalah api abadi, selalu membara di hati, tanpa pernah sakit, uzur, atau pun mati.

Supir truk memasang slogan di bak truknya : "Aku tunggu jandamu."

Steve Jobs, pendiri perusahaan Apple Corporation., dengan aksi.

"Apple adalah kekasih tercinta Jobs ketika kuliah dan kini mereka bertemu kembali dalam pesta reuni setelah 20 tahun berpisah. Steve Jobs kini telah menikah, mempunyai anak dan hidupnya bahagia.

Ketika bertemu kembali dengan kekasihnya itu, ia lihat gadisnya telah kecanduan berat alkohol, dikelilingi konco-konco yang begundal dan preman serta menghancurkan hidupnya sendiri. Walau pun demikian, nurani Jobs menilai mantan kekasihnya itu adalah seorang gadis cantik yang pernah membuainya dengan kalimat bahwa dialah satu-satunya cintanya di dunia.

Lalu apa yang Jobs kerjakan ? Tentu saja ia tak ingin menikahinya. Tetapi dirinya tidak bisa lepas tangan begitu saja karena ia masih menyayanginya. Maka ia ajak kekasihnya itu ke panti rehabilitasi korban alkohol, membantunya untuk bergaul dengan teman-teman baru yang yang lebih baik, dan mengharap yang terbaik bagi masa depannya."

Demikianlah pelukisan dengan kias yang romantis dari Larry Ellison, CEO Oracle dan sahabat karib Jobs, mengenai hubungan emosional antara Jobs dengan Apple. Cerita itu terdapat dalam artikel "Geger Kisah Cinta Ulang Apple dan Jobs" yang dimuat di harian Media Indonesia, 11 September 1997 : 12.

Dari struk kwitansi honorarium tulisan yang ditandatangani redaktur bidang Wicaksono ("di dunia blogger Indonesia kini ia lebih dikenal sebagai nDoro Kakung”, saya memperoleh honor Rp. 166.700,00. Dipotong pajak 10 persen, Rp. 16.700,00. Honor bersih : Rp. 150.000,00.

Setelah sempat ditendang selama 12 tahun dari kursi direksi Apple, kisah cinta ulang Steve Paul Jobs dan Apple yang diteguhkan kembali di pentas MacWorld di Boston 6 Agustus 1997, akhir ceritanya ibarat dalam dongeng semata.

Apple yang didirikan oleh putra mahasiswa asal Syria yang kemudian menjadi ilmuwan politik, Abdulfattah Jandali dan Joanne Carole Schieble, tetapi diadopsi dan diasuh keluarga Paul dan Clara Jobs di Mountain View, California, kini tersohor menghasilkan produk-produk yang inovatif. Dunia pun kemudian mengenal iTunes, iPods, iPhones, MacBook Air dan lain sebagainya.

Menurut koran Inggris, The Guardian, di bawah komando Jobs yang masa mudanya pernah memadu cinta dengan penyanyi ballada Joan Baez itu, pada tahun 2000 Apple bernilai 5 milyar dollar dan kini senilai 170 milyar dollar.

Artikel ini saya tulis 7 November 2010 dengan judul Like waking up, like coming home. Hampir genap setahun, sore tadi (6/10/2011) saya memperoleh kabar dari televisi, bahwa Steve Jobs telah meninggal dunia.

Kabar itu sungguh menyedihkan, walau pun saya belum pernah memiliki komputer iMac, perangkat musik iPod, telepon canggih iPhone atau pun sabak elektronik iPad. Saya hanya mampu menghimpun beberapa pendapat dan kisah penggal-penggal kisah hidupnya. Sejak 1995 hingga kini.


Termasuk di bulan Agustus 2011 yang lalu tokoh penggerak revolusi mesin, Wael Ghonim melalui akun Twitternya berbagi informasi mengenai pidato Steve Jobs di saat dies natalis ke 114 dari Universitas Stanford, 12 Juni, 2005.

Steve Jobs membagi topik hidupnya dalam tiga subjek. “ The first story is about connecting the dots. My second story is about love and loss. My third story is about death.

Untuk topik yang terakhir ini, ia bilang bahwa ketika di umur 17 tahun ia mendapati sebuah kata mutiara : “Apabila Anda menjalani hidup Anda setiap hari seperti hari itu merupakan hari terakhir hidup Anda, suatu saat hidup Anda pasti berada dalam jalur yang benar.”


Lanjutnya : “Mengingat bahwa saya akan mati suatu saat nanti, hal itu menjadi sarana paling penting yang membantu saya dalam melakukan pilihan-pilihan besar dalam hidup saya. Sebab semua hal, seperti harapan, kebanggaan, ketakutan menanggung malu atau menderita kegagalan, semua hal itu akan rontok dihadapan kematian, dan hanya meninggalkan hal yang paling penting saja.

Ingatlah bahwa Anda akan meninggal merupakan cara terbaik yang saya yakini untuk menghindari perangkap pikiran bahwa Anda akan mengalami kekalahan. Anda sudah benar-benar telanjang. Dan tidak ada alasan lain lagi untuk mengikuti kata hati.

Hampir setahun lalu saya didiagnosa mengidap kanker. Ada tumor di pankreas saya. Saya tidak tahu apa pankreas itu. Dokter mengatakan bahwa tipe kanker ini tidak dapat disembuhkan dan peluang hdup saya hanya tinggal tiga sampai enam bulan.”

Steve Jobs kemudian menjalani operasi. Lalu ia katakan dalam orasi itu bahwa dirinya baik-baik saja. Lanjutnya : “Itu adalah momen terdekat diri saya menghadapi kematian dan saya harap sebagai momen yang terdekat yang akan saya jalani beberapa dekade mendatang. Menjalani hidup seperti itu kini saya dapat berkata kepada Anda dengan yakin bahwa kematian itu berguna sebagai sebuah konsep intelektual :

Tidak seorang pun ingin mati. Bahkan seseorang yang ingin masuk surga juga tidak ingin mati. Tetapi kematian adalah tujuan yang kita semua dapat berbagi. Tak seorang pun mampu menghindarinya. Dan itu merupakan keharusan, karena kematian nampaknya merupakan temuan terbaik dari kehidupan. Ini cara untuk menghilangkan yang tua untuk memberi jalan bagi yang baru. Saat ini yang baru adalah Anda, tetapi tidak lama lagi Anda pelan-pelan menjadi tua dan tersingkirkan. Maaf, mungkin terlalu dramatis, tetapi itulah kebenaran.”

Kepada mahasiswa Universitas Stanford, Steve Jobs memberikan petuah yang kiranya juga patut menjadi renungan kita semua. Ujarnya : “Waktu Anda terbatas, sehingga jangan menghabiskan waktu untuk menjadi budak hidup orang lain. Jangan terperangkap oleh dogma, menjalani hidup hasil pemikiran orang lain. Janganlah kegaduhan opini milik orang lain itu menenggelamkan kata hati Anda. Dan yang paling penting, milikilah keberanian untuk mengikuti suara hati dan intuisi Anda. Suatu saat mereka akan mengetahui apa yang Anda cita-citakan. Hal-hal lainnya hanyalah hal sekunder adanya.

Dalam penutup pidatonya, ia bernostalgia tentang majalah edisi terakhir The Whole Earth Catalog yang diterbitkan oleh Stewart Brand di tahun 1960-an yang menjadi inspirasi hidup Steve Jobs. “Di sampul belakang tersaji foto jalan pedesaan di waktu pagi, jalanan tempat Anda tertarik untuk menjelajahinya bila Anda memiliki jiwa petualang.

Disana tersaji kalimat berbunyi, ‘Stay Hungry. Stay Foolish.’ Itulah kalimat perpisahan majalah itu. Stay Hungry. Stay Foolish. Dan saya tetap berharap hal yang sama untuk hidup saya. Sekarang, ketika diwisuda Anda akan membuka lembaran baru hidup Anda, dan saya berharap hal yang sama juga untuk Anda.

Stay Hungry. Stay Foolish.”

Sugeng tindak, Mas Steve Jobs.
Mugi panjengengan sakpuniko tentrem ing pangayunanipun Gusti Allah.



Wonogiri, 7 Oktober 2011

Thursday, July 21, 2011

Akrobat Anda Di Sirkus Bernama Facebook

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 115/Juli 2011
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia



Rapat kampung. Internet mungkin dapat diibaratkan sebagai arena pasar malam maha akbar. Semua orang, beragam bangsa, jenis kelamin sampai beragam usia, tumplek bleg menjadi satu dalam kemeriahan dunia maya yang mendunia.

Di pasar malam itu tersaji beragam stan. Situs Facebook kalau boleh saya umpamakan, merupakan stan sirkus. Arenanya tertutup dan pemilik akun adalah penjaga pintu masuknya. Seseorang yang diakui sebagai teman, dirinya ibarat memperoleh tiket untuk memasuki arena sirkus bersangkutan.

Siapa yang bermain di dalam tenda atau stan sirkus tersebut ? Di sana memang tidak ada gajah, macan, simpanse, juga tak ada badut-badut atau tukang sulap yang beraksi di dalamnya. Yang beraksi sebagai mereka adalah kita-kita semua ini. Karena dengan tampil di Facebook, idealnya kita selalu berikhtiar mampu menjamu atau menghibur teman-teman dunia maya kita dalam akun kita tersebut.

Ada tamsil lain bahwa Facebook sebagai media sosial senantiasa mensyaratkan agar kita berperangai seperti mengikuti rapat kampung. Kita keluar dari rumah dan dalam rapat kampung tersebut kita menfokuskan diri agar diri kita mampu memberikan kontribusi bagi warga lainnya.

Tetapi di Facebook, mudah dijumpai betapa tidak sedikit dari kita yang tidak mau keluar dari rumah. Dan juga tidak mau berhenti sejenak dari godaan nafsu untuk hanya menceritakan diri-diri kita sendiri. Ini agak ironi. Kita menggunakan media sosial tetapi perangai kita bukan sebagai makhluk sosial.

Anda masuk kasta mana ? Selain ditamsilkan sebagai pasar malam, dalam dunia Internet ternyata juga ada pembagian kasta yang menggelitik. Silakan ketik di mesin pencari Google “ebook linimas(s)a,” dan silakan baca ebook terbitan ICT Watch/Internet Sehat.

Kalau Anda sama sekali belum pernah (kebanyakan kita memang begitu) membaca-baca panduan sebagai bekal tampil Anda di ranah media-media sosial secara benar dan maksimal, maka sajian 16 tulisan menarik di dalamnya mengenai lanskap kontemporer pemanfaatan media sosial di Indonesia, wajib hukumnya untuk Anda baca.

Sementara untuk Anda yang ingin agak lebih canggih, di mana Internet merupakan media untuk mengekspresikan nama Anda sebagai merek diri Anda (“Mulai hari ini Anda adalah sebuah merek. Anda sama hebatnya dengan merek-merek seperti Nike, Coke atau Body Shop.”), simaklah ajaran Tom Peters dalam artikelnya berbahasa Inggris berjudul “The Brand Called You,” di majalah Fast Company, edisi Agutus/September 1997.

Artikel tersebut dalam bahasa Indonesia, “Merek Yang Bernama Anda” bersama 31 judul tulisan pilihan lainnya, telah tersaji dalam buku Fast Company’s Greatest Hits : Sepuluh Tahun Gagasan Paling Inovatif Dalam Dunia Bisnis (2008).

Pada pelbagai tinjauan di toko buku online, buku hebat setebal 411 halaman ini dijual antara 52 sampai 78 ribu. Anda dapat membeli dari saya Rp. 38.000,00. Ditambah ongkos kirim.

Untuk kepentingan obrolan kita kali ini, dari ebook linimas(s)a tadi, silakan buka artikel yang ditulis Nukman Luthfie dengan judul “Bermakna di lautan media sosial.” (Halaman 66). Merujuk hasil kajian dari Forester Research, ia telah memaparkan beragam golongan dalam tangga teknografi sosial.

Urutan dalam tangga tersebut, yang dimulai dari atas, tersaji golongan : Pekarya (creators). Perumpi atau Pengrumpi (conversationalists ), Pengritik (critics), Pengumpul (collectors ), Penggabung (joiners), Pengunjung (spectators ) dan Tidak Aktif (inactive ).

Ciri utama pekarya adalah : memiliki blog atau situs web pribadi yang rajin diperbarui serta membuat dan mengunggah audio atau video karyanya ke situs web (bisa YouTube misalnya). Khusus untuk Indonesia, mengingat beratnya mengunggah video dan audio, ciri ini bisa disederhanakan menjadi : memiliki blog dan rajin memperbaruinya.

Blogger memang tepat digolongkan sebagai pekarya. Mereka berkarya membuat tulisan, apapun kategorinya, ekonomi, bisnis, musik, hiburan, cerita. Apa pun juga bentuknya, bisa dalam bentuk teks, gambar, audio maupun video.

Pada anak tangga kedua hadir golongan pengrumpi. Mereka adalah para pengguna Facebook dan Twitter yang rajin menulis status. Mereka tidak memiliki blog, tapi rajin menulis, meski hanya 140 karakter di Twitter atau 420 karakter di Facebook, atau di media sosial lain seperti Linked-In atau bahkan Friendsters.

Meski bukan pekarya, mereka cukup banal dan cerewet. Apapun mereka tulis di status, mulai dari barang yang mereka konsumsi, diri sendiri, hingga urusan kantor, tak luput dari update di media sosial.

Menariknya, tulisan sebanyak 140 karakter (di Twitter), jika ditulis rutin, membawa pengaruh cukup besar. Sebuah tulisan di blog, dengan seribu karakter lebih, memang memiliki pengaruh besar terhadap pembacanya. Namun 140 karakter di Twitter dan Facebook juga punya pengaruh, jika diulang-ulang atau disebarkan oleh pengguna lainnya sehingga membentu viral.

Di bawah kedua tangga di atas, masih ada anak tangga lain, yang disebut sebagai pengritik. Mereka tak punya blog, tidak meng-update status di Twitter/Facebook, namun gemar mengomentari blog/tulisan orang lain.

Disusul di bawahnya, pengumpul (menggunakan RSS, memanfaatkan tag), penggabung (sekadar bergabung ke jejaring sosial), pengunjung (membaca-baca informasi di berbagai jejaring sosial tapi tak punya akun), dan Tidak Aktif (mereka yang tidak melakukan aktivitas apa pun).

Namun, menurut Nukman Luthfie, hanya dua segmen teratas, yakni pekarya dan pengrumpi, yang berperan besar dalam mempengaruhi publik/konsumen pada umumnya mengambil keputusan.

Oleh karena itu, nasehatnya, jika ingin membangun citra diri dan ingin hadir bermakna di media sosial, syarat utamanya adalah Anda harus berada di tangga teratas. Yakni memiliki blog atau situs web sendiri, yang rajin diperbarui isinya.

Lanjutnya : gunakan Facebook dan Twitter sebagai media untuk penyebarannya. Sekaligus untuk menjalin komunikasi cepat. Tepatnya, jadilah pekarya sekaligus pengrumpi !

Obrolan tingkat satu. Dalam Facebook sebenarnya juga terbuka lahan bagi kita untuk menjadi pekarya. Dengan menulis di catatan. Tetapi barangkali karena aura Facebook lebih condong sebagai arenanya kaum pengrumpi, kiranya itu yang membuat lalu lintas komentar untuk catatan sering tidak sesemarak ketika mengomentari status.

Yang pasti, walau semarak atau pun tidak semarak, namun isi-isi status dan komentar dalam Facebook kiranya dapat kita pilah-pilah. Menurut Lyman Steil, yang dikutip dalam bukunya Jeffrey P.Davidson, Blow Your Own Horn : How To Market Yourself and Your Career (1987), terdapat empat tingkat komunikasi.

Tingkat pertama, omongan basa-basi, percakapan informal. Tanda “jempol” dalam Facebook menyimbolkan hal ini pula. Kedua, curhat, mengeluarkan uneg-uneg. Ketiga, bertukar informasi. Dan yang keempat adalah persuasi.

Dalam Facebook, kiranya yang paling menonjol adalah komunikasi tingkat pertama dan kedua. Karena untuk tampil di saluran ini memang tidak dibutuhkan kerja keras, misalnya dituntut untuk belajar serius atau harus membaca-baca buku tertentu. Kemudahan ini membuat semua orang bisa terjun ke dalamnya dan boleh sebebasnya bermain akrobat di bawah tenda sirkus yang bernama Facebook.

Kini silakan Anda memilih.

Apakah Anda memang ingin dikenal oleh komunitas maya Anda, misalnya sebagai monyet julig, badut atau tukang sulap ? Kalau memang merek pribadi Anda yang seperti itu yang benar-benar Anda inginkan untuk bisa dikenal, dikenang dan rela Anda wariskan kepada peradaban dunia, maka kiranya sebagian besar dari Anda kini sudah melakukannya. Secara sempurna.


Wonogiri, 21/7/2011

Harapan Laron-Laron S-1 Itu Terbunuh Satu Demi Satu

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 114/Juli 2011
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


Dijamin membeludak.

Ribuan para pencari kerja dipastikan senantiasa membanjiri Pameran Bursa Kerja atau Job Career, di mana pun diadakan. Termasuk yang berlangsung di Solo (20-21/7/2011).


Realitas tersebut merupakan cerminan hal buruk tentang kepedulian lembaga pendidikan kita terhadap para lulusannya.

Lembaga pendidikan itu hanya kemaruk merekrut calon mahasiswa, lalu berusaha cepat meluluskannya. Setelah diwisuda, hanya nasib saja yang menuntun mereka.

Membeludaknya pencari kerja yang menerjuni bursa-bursa kerja itu tidak lebih merupakan arena perjudian nasib semata. Sekaligus menunjukkan rendahnya penguasaan metode ilmiah yang mereka reguk di bangku pendidikan untuk diaplikasikan di dunia nyata.

Sebab strategi berburu pekerjaan seharusnya dilakukan secara sistematis. Persis seperti ketika mereka menulis skripsi. Diawali penentuan topik skripsi bersangkutan. Dalam langkah berburu pekerjaan langkah awal itu adalah melakukan self-assessment, menilai secara kritis dirinya sendiri, guna menentukan sasaran yang sesuai bakat, minat, temperamen dirinya.

Juga meriset kualifikasi pekerjaan sampai detil informasi pelbagai perusahaan sasaran, pengumpulan data wawancara dengan karyawan yang pekerjaan atau karirnya ingin diterjuni, menggalang jejaring atau networking, sampai ujian skripsi (tes wawancara kerja).

Metode sistematis yang lebih agresif dan efektif ini tidak berbau untung-untungan. Sarana teknologi komunikasi dan informasi kini melimpah tersedia, sehingga perburuan pekerjaan tidak semata terpaku pada satu metode berbau perjudian, selain terjun dalam bursa kerja, adalah membalas iklan-iklan lowongan.

Rata-rata pencari kerja tidak tahu bahwa sebenarnya lowongan yang muncul dalam iklan senyatanya hanya 15 persen dari seluruh lowongan yang tersedia. Sisanya yang 85 persen tersembunyi, dan hanya pencari kerja yang smart saja yang mampu mengeksploitasinya.

Belum lagi statistik menunjukkan, yang juga telah saya tulis di kolom surat pembaca harian Suara Merdeka (28/8/2003) betapa dengan mengandalkan surat lamaran semata maka pekerjaan tersebut baru akan diperoleh bagi mereka yang telah mengirimkan 1.470 pucuk surat lamaran.

Mari kita belajar matematika. Apabila dirinya setiap hari mengirimkan sepucuk surat lamaran, maka waktu yang dibutuhkan 4 tahun lebih. Kemudian bila satu pucuk surat lamaran itu menghabiskan biaya Rp 10 ribu maka dibutuhkan dana sebesar Rp 14,7 juta.

Berburu pekerjaan bermetode ilmiah seperti dianjurkan oleh para pakar seperti Richard Nelson Bolles, John Crystal, Tom Jackson, Daniel Porot, Caroline Hyatt, Marilyn Moats Kennedy, John Truitt, Jason Robertson sampai Paul Hellman, membekali tiap diri pencari kerja dengan pengetahuan yang rasional, keyakinan baja, dan jauh dari taktik perjudian semata.

Oleh mereka, setiap diri pencari kerja senantiasa diyakinkan bahwa mereka adalah sebagai pemecah persoalan, problem solver, bagi perusahaan yang diincar. Sayang sekali, mayoritas pencari kerja kita lebih suka mendudukkan diri hanya sebagai fihak pencipta persoalan, problem maker, sebagai pengemis pekerjaan.

Mereka tidak mampu mengenali diri mereka sendiri, tidak mengenali kelebihan atau pun kekurangannya, juga tidak tahu menahu tentang tuntutan pekerjaan atau bisnis inti perusahaan sasaran. Meminjam ajaran strategi perangnya Sun Tzu, mereka yang tahu dirinya sendiri dan tahu lawannya, akan senantiasa meraih kemenangan ; mereka tahu dirinya atau lawannya kadang menang dan kadang kalah ; sedang mereka yang tidak tahu tentang dirinya sendiri atau pun lawannya akan ditakdirkan selalu mengalami kekalahan.

Pribadi-pribadi pencari kerja dengan metode usang dan tradisional, adalah mereka yang akan selalu mengalami kekalahan. Yaitu sebagian besar dari mereka yang mengundang iba karena rela terjun dalam hiruk pikuk berburu kerja di tengah bursa tenaga kerja yang heboh itu.

Mereka ibarat laron-laron yang riuh mengerubungi bola lampu yang benderang, tetapi semata mempraktekkan akal-akalan jalan pintas yang sangat sarat aroma perjudian nasib semata. Setiap perjudian senantiasa menimbulkan lebih banyak korban kekalahan.

Mereka yang kalah itu akan lebih banyak diam, dan bunga harapan yang disemai sejak mereka usai wisuda itu akan hanya terkulai satu demi satu.



Wonogiri, 19/7/2011

Thursday, July 14, 2011

Buku, Wartawan dan Impotennya Pustakawan

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 113/Juli 2011
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


Surat kabar The Rocky Mountain News berhenti terbit. Februari 2009. Menjelang usianya yang ke-150 tahun.

“Ketika sebuah surat kabar mati, hanya ada sedikit yang bisa diingat. Koran kami, koran harian. Jurnalisme, seperti banyak kata orang, adalah sejarah yang ditulis secara buru-buru, ketika berita siap dicetak, menjelang jatuhnya tenggat. Surat kabar tidak dimaksudkan menjadi abadi. Ia hadir sebagai kebenaran untuk hari itu, untuk momen itu.”

Tenggorokan saya ikut tercekat ketika membaca tulisan Mike Littwin, wartawannya, yang berjudul “Not just closing doors, but dying” itu. Dan ketika harian Kompas Jawa Tengah berhenti terbit di penghujung tahun 2010, isi tulisan Mike Littwin itu kembali berenang-renang dalam kepala saya.

Ini kabar buruk. Ini kabar menyedihkan. Karena sebagai kaum epistoholik, saya dan kami bakal kehilangan media untuk berekspresi, untuk beropini, untuk berkiprah menyuarakan keluh kesah atau pun kritik warga negara sebagai bagian dari kehidupan berdemokrasi.

Mungkin penutupan koran itu jauh lebih menyedihkan bagi para wartawan koran bersangkutan. Karena panggung tempat mereka berekspresi telah runtuh dan menghilang. Tetapi arsip-arsip karya mereka, semoga saja, masih dilestarikan di perpustakaan. Mike Littwin masih bisa mengenang hal indah itu, dengan berkisah :

“Saya maniak surat kabar. Newspaper junkie. Saya senantiasa menghabiskan waktu hidup saya untuk menenggelamkan diri di lantai dasar gedung perpustakaan, tempat di mana sering disebut sebagai kuburan koran-koran, karena menghimpun koran-koran yang sudah tidak terbit lagi.

Saya membaca-baca peristiwa yang diliput secara kontemporer tanpa menunggu kemewahan hasil dan waktu yang dihasilkan sebagai kajian para sejarawan.

Ketika Bob Dylan pindah ke New York dari Minnesota, ia menghabiskan seluruh masa musim dingin di Perpustakaan Umum New York. Ia membaca-baca surat kabar, bukan buku-buku, yang berisi peristiwa mengenai Perang Sipil. Dan ketika ia menuliskan lagu-lagunya, isinya terinspirasi dari isi koran-koran lama bersangkutan.”

Di Perpustakaan Wonogiri, koran-koran itu dibundel dan bertumpuk-tumpuk di gudang. Sering juga tidak lengkap. Suatu saat, gudang itu pasti akan penuh. Mungkin koran-koran itu akan diloakkan.

Setiap hari, petugas perpustakaan mencatat berita tentang Wonogiri dalam buku besar. Tulis tangan. Data yang tercatat meliputi judul berita, nama koran, halaman, dan tanggal pemuatan. Untuk pencarian kembali, akses yang paling mungkin adalah Anda harus mengingat tanggal pemuatannya. Persyaratan yang teramat sulit.

Saya pernah mengusulkan, pencatatan itu sebaiknya dilakukan dengan komputer. Jadi relatif mudah ditemukan. Kepada stafnya yang rada melek Internet, saya sarankan daftar itu diunggah sebagai artikel di blog.

“Bisa ditulis dalam bentuk anotasi, atau lebih baik disalin secara lengkap. Jadi informasi ini akan bisa diakses dari seluruh dunia, karena koran-koran kita cenderung menghapus dari pangkalan data mereka sesudah berita itu satu bulan terpajang di situsnya.”

Saran itu saya kirim lewat email. Karena sebagai konsumen perpustakaan (“di Wonogiri sangat sedikit yang mengenal saya sebagai orang yang pernah belajar ilmu perpustakaan :-(. Sebagian mengenal secara keliru saya sebagai wartawan. Tetapi banyak sekali yang mengenal diri saya sebagai orang pengangguran”), rasanya tidak enak menyuruh-nyuruh para pegawai negeri untuk melakukan sesuatu hal. Saya toh bukan atasan mereka. Entah dibaca atau tidak, email saya itu tidak ada tanggapan.

Derita orang kasim. Para wartawan yang korannya tewas, sebenarnya masih terbuka peluang namanya untuk tidak cepat-cepat terkubur dalam sejarah. Dengan menulis buku. Wartawan harian Kompas dari Triyas Kuncahyono sampai Wisnu Nugroho dengan buku yang semula berupa blog (seperti buku saya) berisi cerita-cerita ringan seputar SBY, telah memberikan keteladanan. Wartawan jelas punya keterampilan menulis, mengapa tidak dimanfaatkan secara maksimal ? Tetapi rasanya memang jauh lebih banyak wartawan yang tidak menulis buku.

Pustakawan, idealnya juga mampu menulis buku. Minimal buku tentang dirinya sendiri. Agar jejak sejarah dan kiprahnya pribadi tidak mudah terhapus oleh waktu. Mungkin contoh ini muluk-muluk, lihatlah buku-bukunya Daniel J. Boorstin, sejarawan yang kemudian menjabat sebagai Pustakawan dari Library of Congress, Amerika Serikat.

Dirujuk dari iklan klub buku di majalah-majalah favorit saya di tahun 1980-an seperti The Atlantic Monthly, Discover, Omni, Popular Science sampai Science Digest yang saya baca-baca dan pinjam dari perpustakaan Lembaga Indonesia Amerika (LIA), lalu terantuk dengan salah satu buku karya Daniel J. Boorstin. Buku yang berjudul The Discoverers ajaibnya pula, akhirnya bisa saya pinjam dari perpustakaan PDII-LIPI pada saat-saat itu pula.

Dunia telah berubah.

Termasuk dalam dunia penerbitan buku yang kini bukan sebagai barang mewah lagi. Juga tidak elitis. Teknologi print on demand memungkinkan setiap orang menerbitkan bukunya sendiri, walau hanya satu eksemplar saja. Tokoh pemikir pemasaran digital, Seth Godin, bilang : “Ini eranya pemimpin murahan.” Lalu menurutnya, menerbitkan buku sekarang ini merupakan aktivitas yang murahan pula adanya.

Tetapi penulisan buku dan pustakawan, ada hal yang agak mengusik. Dalam hal ini boleh jadi pustakawan memang kesambit kutukan yang sulit dielakkan ? Posisinya sehari-hari yang berada di tengah jubelan buku-buku dan lautan informasi, justru membuat mereka terancam berat dibekap impotensi ?

Ini bukan kesimpulan saya pribadi. Tetapi simak ujaran John Braine di surat kabar The New York Times (7/10/1962) yang berkata : “Being a writer in a library is rather like being a eunuch in a harem.”

Anda setuju ?


Wonogiri, 15/7/2011

Sunday, January 30, 2011

Kompas Jawa Tengah,Epistoholik Indonesia dan Saya, 2004-2010

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 110/Januari 2011
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


"Surat kabar memiliki detak jantung."
Demikian tulis Mark Wolf ketika mengantar koran tempatnya bekerja, Rocky Mountain News, berhenti terbit di tahun 2009.

"Detak jantung ekonomi Rocky memang telah berhenti sekarang ini, tetapi detak jantung jiwanya akan bertahan sepanjang masa, pada orang-orang yang kita tolong, di dada mereka yang kita dorong, pada cerita-cerita yang kita kabarkan dan pada gambar-gambar yang kita sajikan," lanjutnya. Koran Rocky Mountain News itu berhenti terbit di usia 150 tahun.

Gambaran Mark Wolf itu sedikit banyak saya rasakan ketika mendengar kabar pada penghujung tahun lalu bahwa koran Kompas Jawa Tengah tidak bisa kita temui lagi di tahun 2011. Kabar buruk.

Itu kabar menyedihkan. Karena sebagai kaum epistoholik kami bakal kehilangan media untuk berekspresi, untuk beropini, untuk berkiprah menyuarakan keluh kesah atau pun kritik warga negara sebagai bagian dari kehidupan berdemokrasi.

Di bulan Januari 2011 ini detak jantung ekonomi Kompas Jawa Tengah memang telah berhenti. Apakah masih tersisa kenangan dan cerita keteladanan yang bisa digurat dari interaksi antara warga Epistoholik Indonesia, khususnya diri saya, dengan koran satu ini ?

[Kenangan akan berlanjut]


Wonogiri, 31/1/2011

ee

Tuesday, December 28, 2010

Kaum Epistoholik, Apa Resolusi Anda Di Tahun 2011 ?

Oleh : Bambang Haryanto
Email : epistopress (at) gmail.com


Pergantian tahun telah menjelang.
Charles Lamb. Oprah Winfrey. Edith Lovejoy Pierce.
Mereka mempunyai ucapan menarik tentangnya.

Pengarang Inggris, Charles Lamb (1775–1834), mengatakan : “Tahun baru merupakan tanggal kelahiran bagi setiap orang.” Sementara ratu acara pamer cakap, Oprah Winfrey, berpesan : “Selamat datang untuk tahun yang baru dan peluang terbuka lagi bagi kita semua untuk menjadi (lebih) baik.”

Edith Lovejoy Pierce memiliki ungkapan prnuh taburan sikap optimistis. “Kita akan membuka buku. Halaman-halamannya kosong. Kita akan mengguratkan kata-kata itu di dalamnya. Buku itu disebut sebagai Peluang dan bab pertamanya adalah Tahun Baru.”

Sementara itu ada tokoh anonim ikut pula menyambut tahun baru dengan ucapan menarik. “Banyak orang mengharap kedatangan tahun yang baru agar mereka bisa memulai lagi kebiasaan lamanya selama ini.”

Anda sebagai kaum epistoholik, silakan memilih atau tidak memilih dari ucapan tadi, sebagai bekal Anda untuk menyambut tahun baru 2011 yang segera tiba itu. Tetapi yang segera melintas di benak saya tentang ritus pergantian tahun adalah tentang tiga hal :

Kalkulasi.
Kalkulasi.
Dan kalkulasi.

Membuat neraca. Mendata prestasi. Merinci kekurangan. Lalu disusul janji, tekad atau resolusi, tentang cita-cita atau keinginan yang ingin kita kerjakan di tahun mendatang. Sungguh kebetulan, ketika diwawancarai Fetty Permatasari dari harian Solopos, pertanyaan terkait topik kalkulasi itulah yang juga nampak mengemuka dan muncul.

Sebenarnya bukan kali ini saja. Setiap kali wartawan, sudah ada sekitar 8 kali profil komunitas Epistoholik Indonesia kita tampil di media massa, pertanyaan seputar itung-itungan nampak seperti menjadi obsesi mereka.

Formulanya berupa bidikan pertanyaan, di antaranya : “menulis surat pembaca sudah sejak tahun kapan, sampai saat ini sudah berapa ratus atau ribu surat pembaca yang sudah ditulis,” sampai “dalam sehari mampu menulis berapa surat pembaca.”

Pertanyaan yang kedua itu, sulit untuk bisa saya jawab. Akibat belitan kegeblegan, ketidakacuhan sampai kemiskinan, saya belum pernah mendata angka-angka untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Karena sebagai penulis surat pembaca sejak tahun 1973 atau 1975 (“gebleg yang parah, bukan ?”), saya tidak tahu semua surat pembaca saya yang pernah dimuat.

Kalau pun tahu, juga tidak semuanya telah saya catat, atau saya beli korannya (“faktor kemiskinan :-), bukan ?”), atau pula saya simpan fotokopinya.


[Diteruskan tahun depan...]

Sunday, November 28, 2010

Epistoholik, Effendi Gazali dan Virus Gagasan

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 108/November 2010
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


Anda mengenal Effendi Gazali ?
Kita mengenalnya sebagai pakar ilmu komunikasi.

Ternyata ia juga punya pikiran yang cukup menarik tentang kita. Tentang kaum penulis surat pembaca. Tentang kaum epistoholik.

Suatu kejutan.

Karena saya pribadi selama ini mengenalnya dalam berinteraksi sebagai tokoh komedi. Dalam ranah ini kami saling bertegur sapa dengan cara khas. Ia saya sebut sebagai boss. Dan mungkin karena saya tinggal terpencil :-), di Wonogiri, yang mengesankan sebagai daerah konservasi, ia memanggil saya dengan sebutan yang lajim beredar di kalangan suku Indian : chief.

Interaksi kami tersebut semakin membekas ketika ditabalkan dalam sebuah buku. Pada sampul belakang buku saya yang baru saja terbit di akhir November 2010 ini, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Etera Imania, 2010), Effendi Gazali (foto) yang mantan juara lawak se-Sumatra Barat itu telah menulis endorsement sebagai berikut :

"Dalam dunia 'humor kuliner', Bambang Haryanto jago analisis serta jago masaknya! Indonesia perlu puluhan orang seperti Bambang Haryanto, baru kemudian ada kemajuan di negeri ini. Di sanalah nantinya dunia humor kita akan lebih kaya, pluralis, dan makin cerdas!"

Terima kasih, boss Effendi Gazali.

[Cerita akan berlanjut…]


Wonogiri, 30 November 2010

Sunday, August 22, 2010

Ratapan Anak Tiri, Gandhi dan Penulis Surat Pembaca

Warga Epistoholik Indonesia Di Tengah Jagongan Media Rakyat 2010 Yogyakarta-Bagian 2


Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 103/Agustus 2010
Email : epistopress@gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


Makhluk hibrida yang ganjil.
Itukah profil penulis surat pembaca ?

Penulis surat pembaca boleh jadi merupakan gabungan muskil antara sosok demonstrans yang marah setiap hari, komedian dengan daya observasi jeli, sedikit aliran darah teroris dalam dirinya, secuil karakter dermawan intelektual yang malu-malu, dan sedikit banyak dikaruniai keterampilan mengasah pena bak seorang wartawan.

Barangkali karakter semacam itu yang membuat penulis surat pembaca, utamanya kaum epistoholik, hadir sebagai makhluk yang aneh justru di mata media tempat mereka sering mengekspresikan diri.

Di forum talkshow Jagongan Media Rakyat 2010, 23 Juli 2010, di Yogyakarta, saya sempat melontarkan pertanyaan itu ke forum : penulis surat pembaca itu anak tiri atau anak emas media ? Dalam obrolan yang dipandu Mukhotib MD yang mengelola blog mmdnews.wordpress.com itu saya tidak memperoleh jawaban saat itu. Tak apa-apa.

Bagi saya, yang menulis surat pembaca sejak tahun 1973, penulis surat pembaca adalah anak tiri media massa. Kehadirannya mereka butuhkan, boleh jadi hanya sebagai filler, pengisi ruang kosong semata. Kalau kapling itu dipakai untuk iklan, maka mudah saja kolom itu dikorbankan. Atau diubah, sehingga kaplingnya menjadi pletat-pletot, yang secara visual mereduksi wibawa keberadaannya.

Penulis surat pembaca memang bukan siapa-siapa di mata pengelola media. Walau setiap kali membaca-baca fotokopi kartu tanda penduduk mereka, tetapi pernak-pernik tentang apa dan siapa dirinya, kapasitasnya, latar belakangnya, aspirasinya, sosoknya sebagai manusia, semua itu nampaknya menjadi isu yang tidak begitu penting bagi media bersangkutan. Mereka tidak tertarik untuk membuat semacam bank data tentang para kontributor kolom surat pembaca mereka.

Sehingga ikhtiar yang berusaha memanfaatkan data penting itu sebagai bahan ramuan untuk membuat lebih molek dan lebih bernasnya kolom bersangkutan, nampaknya gagasan semacam ini terlalu jauh untuk bisa masuk jangkauan daya pikir pengelola media atau pun kolom bersangkutan.

Maklum, barangkali, karena pengelola kolom itu juga manusia biasa. Boleh jadi dirinya sudah keberatan beban menjalani tugas utamanya sebagai wartawan, sementara timbunan surat-surat pembaca yang ada membuat dirinya hanya mampu bekerja ibarat ulah seekor bajing yang lari-lari berputaran di kandang rotornya sehari-hari.

Pokoknya asal ada surat pembaca yang bisa tampil pada setiap penerbitan, cukup sudah pekerjaan mereka. Bahkan kalau tidak ada, tidak sedikit yang melakukan rekayasa, dengan membuatnya sendiri pula. Karena banyak wartawan muda yang bercerita sendiri, bahwa ketika dalam masa pelatihan mereka selalu mendapat tugas untuk menulis surat-surat pembaca.

Tidak aneh dengan pendekatan business as usual itu kemudian penjaga kolom surat-surat pembaca sering dipercayakan kepada wartawan-wartawan sepuh, mereka yang tidak dituntut lagi untuk menulis, karena mendekati pensiun. Akibatnya, entah mana yang duluan, telor atau ayam (menurut kajian ilmiah, oleh Dr Colin Freeman dari Sheffield University's Department of Engineering Materials, ayam yang duluan !), dalam arti entah karena penulis surat pembacanya atau penjaga rubriknya, isi kolom-kolom surat pembaca di media-media massa kita saat ini, menurut saya, isinya membosankan.

Selain surat-surat pembaca yang generik, tentang kehilangan barang atau surat berharga sampai keluhan konsumen, isinya yang berupa sumbang saran gagasan kebanyakan tidak inspiratif. Isinya seringkali tak lain dari daur ulang pernyataan para pejabat, paparan opini sampai fatwa-fatwa klise, yang kesemuanya kurang menggugah untuk menyeruak cakrawala kepada pemikiran baru, pemahaman yang baru.

Pintu perubahan. Padahal keberadaan kolom itu, menurut saya, merupakan tumpuan eksistensi media cetak dalam berinteraksi dengan audien mereka di tengah berlangsungnya badai revolusi media yang menderu saat ini. Yaitu ketika media-media berbasis atom atau kertas mau tak mau, cepat atau lambat, harus berevolusi atau ber-revolusi menjadi media berbasis digital dengan segala pengorbanan dan peluang yang mungkin terjadi.

Pintu interaksi itu semula hanya kecil di media berbasis atom. Ya kolom surat pembaca itu. Kini, di era digital ini, sudah seharusnya pintu tersebut menjadi membesar adanya. Karena lewat pintu yang membesar itulah arus jaman mengalir dan mengkristal kini menjadi gerakan jurnalisme warga, ketika media hadir digerakkan sendiri oleh para pembacanya. Sampai-sampai seorang Dan Gillmor, pendiri gerakan jurnalisme warga itu, tak sungkan untuk merendahkan diri. Ucapannya yang terkenal adalah : "My readers know more than I do."

Untuk mencerna apa yang terjadi, Stephen Baker dan Heather Green ("yang cantik") dalam laporan utama berjudul "Blog Akan Mengubah Bisnis Anda" di majalah BusinessWeek (11/5/2005), telah menulis : "Dalam era media massa, penerbit seperti BusinessWeek mencetak berita. Sumber-sumber mencoba untuk dikutip. Namun, keputusan tetap di tangan kami. Begitu pula dengan surat-surat kepada redaksi."

"Kini," tulis mereka selanjutnya, "publik tak hanya dapat bicara melalui kami. Mereka dapat menulis cerita mereka dalam blog. Dan, bila mereka menguasai serba-serbi bentuk komunikasi yang baru ini-seperti cara blogger lain dapat terhubung kepada blog mereka-mereka dapat menjangkau khalayak dalam jumlah yang amat besar."

"Dan ini baru permulaan," tegas mereka. "Dengan sistem ini, tembok antara penerbit dan publik runtuh. Fenomena blog membalikkan konsep media massa menjadi menciptakan media untuk massa."

Jin memang telah keluar dari botolnya. Media massa utama sudah tak mampu lagi mengembalikan kendali yang semula berada dalam genggamannya. Mereka sepertinya terlambat menangkap peluang sejarah. Dengan posisi seperti itu, sesungguhnya, menulis surat-surat pembaca di media-media massa menjadi tidak begitu seksi lagi.

Terlebih lagi karena sisa kendali yang masih mereka miliki kebanykan hanya akan membuat penulis surat pembaca terserimpung dalam upayanya memperoleh umpan balik atas karyanya secara seketika. Terhempang pula stimulasi batin yang berpeluang mereka terima sebagai pemacu nyala api kreativitasnya dalam berkarya di hari-hari mendatang.

Penghalang itu adalah : banyak koran menghilangkan data email atau blog Anda, bahkan nomor HP Anda, untuk muncul pada pemuatan surat-surat pembaca Anda. Bahkan juga untuk kolom serupa di media online mereka. Sehingga di era digital dan interaktif ini orang lain yang berniat mengontak Anda harus melakukan upaya yang cumbersome, sekaligus sangat menyiksa.

Mereka harus rela menulis surat di atas sehelai kertas, membeli perangko dan menunggu lama balasan atas snail mail yang mereka kirimkan tersebut. Benar-benar kendali yang sungguh mencekik di jaman digital ini. Belum lagi, Anda tahu, betapa rada kosongnya hidup ini bila teriakan Anda hilang begitu saja tanpa gema.

Burung di genggaman. Dalam acara di Jagongan Media Rakyat 2010 itu saya munculkan ilustrasi tentang topik di atas, ketika seorang mahasiswa, Arham, bertanya. Ia ingin tahu tentang sejauh mana perkembangan yang saya alami secara pribadi sebagai penulis surat pembaca di media cetak dan kini sebagai seorang blogger.

Saya jawab : "Kalau saya hanya menulis di media cetak, pasti nama dan karya tulis saya tidak terekam oleh mesin pencari Google, maka boleh jadi nama saya tidak mungkin terdeteksi oleh LSM Combine (penyelenggara JMR 2010), dan pastilah saya bakal tak bisa hadir di sini untuk menemui Anda semua."

Penulis surat pembaca memang anak tiri media massa. Di tengah gelombang badai media digital, yang kalau Anda menyaksikan video di YouTube berjudul "Social Media Revolution" Anda akan diguncang tuntutan sesuai derak lirik lagunya Fat Boy Slim, "Right here, right now !," ternyata penulis surat pembaca tidak pula di-reken oleh media massa arus utama sebagai mitra untuk bertahan dalam aura denial, pengingkaran, di era digital. Penulis surat pembaca adalah seekor burung dalam genggaman mereka, tetapi lalu dilepaskan begitu saja.

Sebaliknya media-media lama itu malah nampak ngiler melihat sekumpulan burung di awan. Lihatlah, media arus utama kini lagi sibuk saling melakukan copy/paste trik media lainnya dalam upaya mempertahankan oplag mereka. Mereka kini sibuk berusaha menjaring "burung-burung yang terbang di awan " itu, baik anak-anak TK, SD, SMP dan SMA, sampai mahasiswa, untuk dicegah sekuatnya agar tidak meninggalkan koran mereka.

Ada yang melalui trik membuat kelompok fokus, mengadakan kompetisi majalah dinding, pertandingan basket, mengulik gaya hidup anak muda, ramai-ramai naik sepeda, bimbingan jurnalistik ke pelbagai pesantren, dan lain sebagainya. Yang menarik adalah, mereka pula yang kemudian menuliskan semua kegiatan itu di medianya. Bukan ditulis oleh subyek yang mereka jadikan sasaran "pembinaan" bersangkutan.

Penulis surat pembaca, burung yang ada dalam genggaman, tidak pernah masuk dalam layar radar mereka. Akhirnya kita pun sebagai kaum epistoholik hanya bisa tahu diri, dan bersyukur bila posisi sebagai anak tiri itu membuka cakrawala akan hadirnya berkah yang melimpah.

Posisi semacam ini menggembleng kita untuk mampu berusaha menemukan jalan-jalan baru untuk berkreasi, juga mengeksplorasi media-media baru untuk berekspresi. Apalagi bukan sebagai suatu kebetulan bahwa eksistensi komunitas Epistoholik Indonesia ini berusaha saya hidupkan kembali di tahun 2003, ketika fenomena blog muncul di permukaan dan saya terpapar pesonanya saat itu pula.

Tetapi waktu sepanjang hampir sewindu ini ternyata memang tidak mudah memberikan pemahaman mengenai roh sampai potensi kehadiran blog bagi kemajuan asah intelektual rekan-rekan sesama penulis surat pembaca. Boleh jadi karena pemahaman itu akan baru bisa mereka peroleh, untuk dinikmati dan dihayati, apabila semua aksi itu telah mereka jalani dengan cinta, dengan dedikasi sepenuh jiwa dalam waktu yang lama.

Akibatnya, tidak sedikit teman seiring yang kemudian memilih berhenti di tengah jalan. Bosan. Mereka tidak berselera menulis surat-surat pembaca lagi. Sungguh disayangkan, sepertinya mereka terhenti sebelum menemukan rumusan bagaimana kedahsyatan surat-surat pembaca yang mereka tulis itu mampu mendatangkan manfaat secara fokus untuk menunjang sukses karir, bisnis, sampai cita-cita idealnya sebagai sosok manusia istimewa.

Saya tak bisa menghalangi. Sebagai bekal, mungkin petuah dalam kosmologi suku Jawa, "kelakone ngelmu kanthi laku," dapat bermanfaat sebagai cermin. Petuah hebat itu telah dieksplorasi seorang Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers: The Story of Success ( 2008). Inti ajarannya, bercermin dari sukses Mozart, Bill Gates sampai The Beatles, bahwa tanpa lelaku atau yang oleh Robert Sternberg disebut sebagai "practical intelligence" yang gentur, alias menuntut ketekunan serta menghabiskan ribuan jam dalam latihan, janganlah mengharapkan kesaktian atau keberhasilan akan hadir menyatroni yang bersangkutan.

Boleh jadi karena beratnya tuntutan itu maka banyak teman sesama kaum epistoholik dalam hadir di dunia maya tidak banyak yang mengelola blog secara tekun, fokus dan konsisten. Mereka lebih terpesona pada Facebook, media murah meriah untuk mengekspresikan diri. Utamanya untuk menulis status semata, dan bukan untuk memberikan kontribusi secara lebih serius dalam kanal blog yang ada, yaitu kolom My Note yang tersedia. Dan di dalam kubangan Facebook itu, kita tahu, betapa sulitnya untuk menjadi konsisten dalam menghadirkan jati diri kita sebagai insan unik di persada dunia ini.

Sebagai klangenan. Bagi saya kini, di tengah media-media digital yang baru itu, aktivitas menulis surat pembaca di media cetak kini terasa sebagai aktivitas yang antik. Seperti orang-orang yang setiap hari bermobil, kemudian di akhir pekan mereka ramai-ramai bersepeda. Kolom surat pembaca dulu ibarat sebagai media perjuangan, kini barangkali bisa disebut sebagai wahana klangenan belaka, sebagai kegiatan ringan yang mengasyikkan untuk mengisi waktu senggang.

Tetapi bagi saya, memburu klangenan itu pun ternyata bukan persoalan mudah. Ada pengalaman pribadi, ketika di bulan Juli 2010 yang lalu saya telah mengirimkan email berisi sejumlah surat pembaca. Alamat yang saya tuju adalah alamat email yang tertera di koran itu pula. Beberapa hari kemudian, saya memperoleh balasan. Antara lain berisi teks berbunyi : The email account that you tried to reach does not exist. Akun email itu dinyatakan tidak ada.

Artinya : email berisi surat pembaca saya itu tidak "tembus." Satu-dua bulan sebelumnya, saya mengirimkan surat pembaca ke media lainnya. Mendapat balasan serupa. Email saya tidak "nembus" pula. Saya pikir ini hanya merupakan persoalan teknis, suatu online glitch, maka saya mengirimkannya lagi dengan akun email yang berbeda. Ternyata, tidak lagi "nembus" untuk kedua kalinya.

Sudahlah. Mungkin bencana saya ini semata kebetulan belaka. Atau sebut saja sebagai "karma," karena di blog saya pernah menulis kritikan untuk koran-koran tersebut dalam mengelola kolom-kolom surat pembacanya.

"Para blogger senang menyebarkan kesalahan-kesalahan kami. Mereka hendak menjatuhkan kami dari posisi penting yang kami duduki sejak surat kabar pertama dijual," begitu tutur lanjut Stephen Baker dan Heather Green dalam majalah BusinessWeek edisi yang sama. Saya sudah melakukan perbuatan "menyebarkan kesalahan-kesalahan" itu, dan rupanya kini saya memperoleh balasan balik dari mereka. Terima kasih.

Hanya saja, semoga pengelola media massa yang menghukum saya juga mau menyimaki pernyataan kedua wartawan majalah bisnis terkemuka itu, yang terasa lebih manusiawi, tahu diri, dan mengharukan. Dengan jujur keduanya berkata : "Kami, media tradisional, menyadari sepenuhnya bahwa kami hanya mengontrol bagian yang semakin kecil dari pengetahuan manusia."


Menari sendiri. Dunia sudah berubah, kawan. Kalau dulu, dan berulang kali saya tulis di blog ini pula, penulis surat pembaca ibarat bayi yang tali pusarnya selalu tersambung dengan media massa bersangkutan. Tetapi di era digital kini, ketika sang ibu itu sendiri kini juga lagi kelimpungan dalam mempertahankan hidupnya sendiri, keputusan penting harus dijatuhkan.

Landasannya, simak pesan video di YouTube yang berjudul Prometeus - The Media Revolution, yang inspiratif ini. Di situ Anda akan memperoleh informasi yang sebenarnya tidak lagi mengagetkan, tetapi di negeri ini banyak diingkari. Bunyinya : "Blogs become more influential than the old media" sampai "24 of 25 largest newspaper are experiencing record declines in circulation."

Hidup media-media baru.
Selamat tinggal galaksi Gutenberg, media-media lama.

Tiba saatnya sang anak tiri itu untuk memutus tali pusarnya sendiri. Karena dirinya sudah besar. Sudah mampu mandiri. Dan dengan blognya pula dirinya mampu menari, dengan irama yang ia pilih sendiri pula.

Meminjam tamsil seorang Stephen R. Covey, media-media untuk massa itu merupakan sarana setiap insan untuk menemukan suara-suara otentik mereka sendiri. Mereka-mereka itu tak ubahnya Sokrates atau Gandhi, yang perjuangannya mampu mengubah dunia semata dipandu kehendak menuruti suara-suara otentik mereka sendiri !



Wonogiri, 21-22 Agustus 2010

Monday, August 16, 2010

Episto Ergo Sum

Oleh : Wisnu Martha Adiputra
Esai Epistoholica No. 102/Agustus 2010
Blog : Duniaku Dunia Kreatif
Facebook : facebook.com/wisnu.martha
Home : Epistoholik Indonesia


Pengantar : Diundangnya komunitas Epistoholik Indonesia (EI) untuk menampilkan diri dalam acara Jagongan Media Rakyat 2010, di Yogyakarta, 22-25 Juli 2010, masih berbuntut dengan melimpahnya berkah.

Kali ini datang dari Radio Geronimo FM Yogyakarta yang mengundang EI untuk mengisi acara "Angkringan Gayam," Minggu malam, 1 Agustus 2010. Komunitas kita diwakili oleh Tuwarji, warga EI di Yogya yang dihadirkan bersama staf pengajar Ilmu Komunikasi Fisipol Universitas Gajah Mada, Wisnu Martha Adiputra (foto).

Kehormatan dari Radio Geronimo FM membuat saya mampu memutar mesin waktu ke tahun 1970-an. Saat itu saya bersekolah di STM Negeri 2 Yogyakarta. Kalau membaca koran Kedaulatan Rakyat sering memergoki surat pembaca yang ditulis Ir. RM Pradiko Reksopranoto, yang kami kemudian bisa bertemu muka di Solo tahun 2002.

Sedang tentang Radio Geronimo sendiri, saya telah menulis kenangan berjudul "Radio dalam Kehidupan Seorang Epistoholik." Tulisan ini kemudian dimuat di harian Media Indonesia, 10 September 2006, juga mengisi blog Rane Hafied, saat itu penyiar Radio Singapura dan kini menyiar di Radio NHK Jepang.

Seusai bincang-bincang di Radio Geronimo FM yang dipandu oleh host yang charming bernama Gracy Sondang Marpaung, Mas Wisnu Martha Adiputra telah menyisipkan tulisan tentang kaum epistoholik di antara tulisannya tentang musik, film, kreativitas dan media, di blog beliau yang menarik. Dengan rasa bangga, tulisan beliau tersebut saya pajang untuk mengisi blog saya ini.

Terima kasih untuk Widiaji, Sondy, dan juga Mas Wisnu, untuk dukungan dan apresiasi Anda terhadap kiprah warga EI ini. [Bambang Haryanto].


Dengan menulis kita dapat "memindahkan" gunung?
Betulkah demikian?

Jawabannya, benar sekali. Kita tidak hanya dapat "memindahkan" gunung tetapi juga mengubah dunia menjadi lebih baik.

Tentu saja bukan berarti memindahkan gunung dalam pemaknaan kerja fisik tetapi lebih berarti pada perubahan besar yang abstrak dan tidak langsung, baik di level individual dan masyarakat.

Betapa banyak individu yang berubah karena tulisan. Banyak juga kelompok-kelompok masyarakat yang berkembang lebih baik karena tulisan. Tulisan adalah wahana kreativitas dan inspirasi yang mengalir dari satu pihak ke pihak yang lain. Bila hal yang positif, inspirasi dan kreativitas, itu bisa diterima, hal positif itu akan mengalir dengan mudah ke banyak orang.

Beberapa hari yang lalu di program acara radio "Angkringan Gayam" Geronimo FM, Yogyakarta, saya mengenal komunitas yang unik dan bertemu salah satu wakilnya. Mas Tuwarji. Nama komunitas itu adalah Epistoholik Indonesia.

Komunitas ini adalah kumpulan orang yang menulis dengan rutin di surat pembaca media cetak, terutama suratkabar. Mereka menulis tentang kegundahan hati yang terjadi di lingkungan sekitar. Kebanyakan kegundahan hati mereka adalah kegundahan masyarakat umum karena hampir semua kegundahan itu berkaitan dengan pelayanan publik. Perbedaannya, para "epistoholik" ini dengan sukarela dan bahagia menuliskannya ke media.

Berdasarkan pemaparan blog Epistoholik Indonesia, www.episto.blogspot.com, kita dapat mengetahui bahwa kaum epistoholik adalah orang-orang yang kecanduan menulis surat pembaca.

Kata epistoholik berasal dari kata epistle yang berarti surat dan oholik yang berarti kecanduan. Bila imbuhan oholik pada alkoholik dan warkoholic bermakna negatif, tidak demikian halnya dengan epistoholik yang berarti positif.

Di dalam blog Epistoholik Indonesia sudah digambarkan dengan sangat bagus aktivitas mereka oleh pendirinya, Bambang Haryanto. Mereka menulis hal-hal yang tidak sesuai yang terjadi di sekitar mereka. Tidak jarang keluhan mereka yang dimuat di media massa membuat perubahan yang positif. Pihak-pihak yang tidak memberi pelayanan atau menjalankan kewajibannya dengan baik memang biasanya akan berbenah bila terpantau oleh publik yang lebih luas.

Bambang Haryanto sendiri sudah menulis surat pembaca sejak 1973 dan setelah itu dia kecanduan menulis surat pembaca di suratkabar. Dalam perkembangan selanjutnya, Bambang Haryanto bisa mengajak beberapa individu yang memiliki hobi sama untuk membentuk komunitas.

Kini komunitas Epistoholik Indonesia memiliki keanggotaan yang bersifat cair di beberapa kota. Perkembangan ini juga meluaskan komunitas, bukan hanya jumlah anggota yang bertambah banyak. Seperti yang dilakukan mas Ajie, ia kemudian membentuk komunitas donor darah yang bersiap 24 jam untuk membantu sesama lewat jaringan di media dan kaum epistoholik yang dikenalinya.


Bermedia tertinggi. Lalu, bagaimana meninjau fenomena ini dari sudut pandang kajian media? Hal yang agak mudah diamati dari komunitas epistoholik ini adalah bahwa komunitas ini berada dalam wilayah kecakapan bermedia yang "tertinggi".

Aktivitas menulis di media massa memerlukan pemahaman yang tinggi atas media. Selain itu, keinginan untuk memberikan kontribusi sosial melalui media adalah indikator tertinggi dari kecakapan bermedia. Kecakapan tertinggi ini mengindikasikan mereka tidak lagi kritis memandang media dan aktivitasnya, melainkan juga sudah berbuat sesuatu, yaitu dengan berkontribusi pada pesan media.

Kajian media bila diinteraksikan dengan demokrasi menunjukkan bahwa kaum epistoholik memperkuat demokrasi bermedia. Epistoholik atau audiens ini sedikit banyak juga berperan dalam produksi pesan media. Rubrik surat pembaca di sebuah suratkabar adalah salah satu rubrik yang paling diburu untuk dibaca. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh "keaslian" dari surat pembaca yang berasal dari masyarakat secara langsung. Kemungkinan rubrik surat pembaca adalah perwujudan yang paling riil dari ruang publik.

Suratkabar bisa dianggap sebagai jenis media yang paling demokratis karena suratkabar adalah media yang secara rutin menyediakan ruang bagi masyarakat. Hal ini berbeda dengan jenis media lain, terutama media penyiaran, atau media interaktif yang secara natural memang tertuju untuk masyarakat. Dengan demikian, media cetak merupakan kombinasi dari pihak media dan masyarakat.

Coba kita lihat ruang dan waktu yang diberikan media televisi sebagai contohnya. Hampir tidak ada ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan aspirasi melalui media. Hanya ada sedikit ruang dan waktu bagi audiens untuk menyuarakan kepentingan masyarakat. Audiens juga tidak bisa memberikan masukan atau kritik untuk stasiun televisi.

Ini adalah contoh untuk menunjukkan betapa rubrik surat pembaca beserta "aktivis" pengisinya, komunitas epistoholik, adalah bagian yang penting bagi demokrasi media. Memang setelah internet berkembang pesat dan menjadi bagian dari masyarakat, demokrasi media semakin mungkin terjadi, tetapi pada kenyataannya internet belum sekuat media cetak aksesnya di masyarakat.

Sebagai penutup, komunitas ini memiliki slogan episto ergo sum, yaitu aku menulis (surat pembaca) maka aku ada. Manifesto yang cantik dan terus membuat komunitas ini untuk terus menulis di surat pembaca, untuk memerdekakan diri dan berkontribusi sosial.

Komentar : bambang mengatakan...

Dear Mas Wisnu, salam episto ergo sum. Terima kasih untuk dorongan dan apresiasi Anda terhadap komunitas Epistoholik Indonesia, seperti yang Anda tunjukkan saat menjadi host di Radio Geronimo Yogya dan teman saya Tuwarji, menjadi tamu mewakili EI. Surprise, baru kali ini EI dapat tinjauan dari seorang akademisi. Selama ini banyak rekan wartawan yang sudi menyelisiknya.

Suatu kebetulan yang hadir di Geronimo adalah Mas Ajie. Kalau saya, mungkin acaranya jadi bubar,tidak fokus, karena saya pasti tergerak untuk selfish :-). Karena bernafsu ngomongin nostalgia musik tahun 70-an (Deep Purple, Led Zepp, Uriah Heep, Carpenters, Black Sabbath, Grand Funk Railroad, etc :-) ) yang saya dengarkan dari Radio Geronimo ini, saat saya jadi murid STM Negeri 2 Yogyakarta. Mungkin hal ini akan membuat Sondy, yang beda generasi, jadi tak enak posisinya saat memandu acara.

BTW, artikel Anda yang inspiratif ini akan saya pajang di blog EE saya (esaiei.blogspot.com), sebagai penulis tamu. Salam untuk Mas Ana Nadhya Abrar. Sukses selalu untuk Mas Wisnu !


Wonogiri, 16/8/2010

Tuesday, July 20, 2010

Demokrasi, Facebook dan Eksistensi Maya Anda

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 100/Juli 2010
Email : epistopress@gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


"Seperti taman kanak-kanak."
Anda masih ingat julukan seperti itu yang dilontarkan oleh almarhum Gus Dur ketika menggambarkan profil dan perangai para wakil rakyat kita ?

"Demokrasi kita masih berumur 2-3 tahun."
Begitu kata begawan lingkungan hidup dan negarawan kita, Emil Salim.

Di buku saya yang akan segera terbit, Komedikus Erektus, sambil merujuk "huru-hara" para wakil rakyat kita ketika bersidang melakukan pemungutan suara terkait kasus skandal Bank Century yang kini sayup-sayup telah kita lupakan (?), saya menuliskan pendapat : mereka berhura-hura itu sebagai kompensasi karena mereka hanya memiliki penis yang kecil-kecil belaka.

Sumber rujukan :
ucapan Gus Dur di atas.

Sumber segala kegaduhan seperti di atas itu, oleh "nabi" media digital dari MIT, Nicholas Negroponte, penulis buku Being Digital (1995) (foto), disebutnya karena kita masih dalam situasi eforia dalam mengelola kondisi-kondisi baru. Ketika terbebas dari cengkeraman rejim Soeharto dan Orde Barunya yang represif, kita mabuk untuk melakukan pesta pora. Mabuk demo, gugat-menggugat, aksi teror untuk mengancam pejuang demokrasi, bahkan termasuk pesta pora dalam melakukan korupsi pula !

Mabuk tombol. Nicholas Negroponte, punya tamsil jitu untuk itu. Fenomena eforia atau bahkan mabuk kita saat ini ibarat kita ketika memiliki sebuah kamera handycam yang baru. Karena kegirangan, semua tombol akan kita eksploitasi. Semua gerakan kamera dan teknik syuting dipakai sekaligus. Saat ditayangkan, walhasil, gambarnya jelas membikin pusing penontonnya.

Dengan berjalannya waktu, ketika penguasaan terhadap beragam tombol dan teknik penggunaan kamera itu sudah memadai, maka hasil syutingnya menjadi tidak memusingkan lagi. Kehidupan demokrasi di negara kita akan seperti itu juga kiranya.

Eforia a la pemakaian kamera handycam itu juga berlaku dan marak di dunia jaringan sosial, Facebook. Banyak dari kita yang selama ini belum terbiasa, atau belum memiliki tradisi kokoh dalam mengungkapkan pikiran atau berekspresi dengan kata-kata melalui media, tiba-tiba terbuka peluang untuk hal itu.

Hasilnya ?
Silakan Anda sendiri yang menilainya.

Halaman Facebook memang kuat menggoda kita untuk menjadi selfish, ketika menulis tentang apa saja. Apalagi tulisan-tulisan status yang engga usah mikir pun bisa. Godaan serupa juga pernah saya alami sebagai kaum epistoholik, kaum pemabuk dalam kiprah penulisan surat-surat pembaca di media massa. Kaum epistoholik terbiasa tergoda untuk mengomentari segala hal. Menulis topik segala hal.

Nasehat David Parrish. Memang itu bukan penyakit yang berbahaya. Tetapi dalam bingkai terkait ciri wanci, identitas, jati diri, atau kerennya personal brand, pilihan menjadi makhluk renaisans yang memiliki beragam minat dan keahlian di era melimpahruahnya informasi ini jelas merupakan suatu kemustahilan.

Menurut Henri Jenkins, salah satu pendiri Comparative Media Studies Program di Massachusetts Institute of Technology, dalam artikelnya "The Future of Teenagers: My Interview in O Globo" (14/6/2010), kita kini tercebur dalam era intelijen kolektif, sebuah dunia di mana tidak ada seorang pun mengetahui segala hal. Sehingga apa yang diketahui oleh seseorang harus dibagikan kepada kelompok yang membutuhkannya.

Henri Jenkins berpendapat bahwa anak-anak muda masa kini dituntut belajar untuk mengetahui keahlian masing-masing dari teman mereka, juga orang lain dalam jaringan mereka, untuk belajar bekerja sama guna menyelesaikan masalah kompleks yang tidak mampu mereka pecahkan secara sendirian. Hal itu juga berlaku dalam dunia pekerjaan, juga dalam kehidupan bermasyarakat.

Berekspresi dalam berbagai topik di media maya, juga di Facebook, bila menurut pakar ekonomi kreatif dari Inggris, David Parrish, ibarat kita seorang diri yang menerjunkan diri dalam pelbagai fron sekaligus. Dalam satu waktu kita memilih untuk memiliki banyak musuh. Banyak kompetitor. Tidak kita sadari, pilihan ini merupakan salah satu penyebab kegagalan.

Nasehat David Parrish : "Semakin Anda terspesialisasi, semakin sedikit kompetitor nyata Anda. Memang benar, pangsa pasar Anda akan menjadi mengecil juga, tetapi demikian pula jumlah pemasoknya. Lebih baik menjadi ikan yang terbesar, walau pun kolamnya lebih kecil."

Terima kasih, Henry Jenkins.
Terima kasih, David Parrish.

Blog spesialis. Masih berat juga bagi saya untuk saat ini secara ketat mengikuti nasehat keduanya. Tetapi saya memiliki solusi sendiri. Di Facebook dan kolom-kolom surat pembaca, saya akan tetap menulis tentang segala hal. Tetapi tulisan yang sama juga akan saya pilah-pilah untuk dipajang pada blog yang khusus topiknya.

Sejauh ini, sepertinya, tidak jelek-jelek amat hasilnya. Sebagai perbandingan, di Facebook sebagai ranah maya the walled garden di mana tercatat data sekitar 400-an orang bernama "Bambang Haryanto," hal itu membuat saya tersesat. Justru dalam fasilitas "Search" saya dan teman-teman rasanya kesulitan menemukan akun diri saya di Facebook, walau saya sudah menulis 100 catatan di sana ! Tetapi syukurlah, Google masih berbaik hati dalam menampilkan eksistensi diri saya di antara nama yang sama pada kiprah di pelataran dunia maya lainnya.

Dampak baiknya, sebagai contoh, blog komedi saya, Insya Allah, akan menjadi buku. Blog suporter sepak bola saya beberapa kali menjadi rujukan media, juga menghasilkan naskah buku Hari-Hari Sepak Bola Indonesia Mati yang saya tulis tahun 2003-2004 yang lewat.

Blog tentang keluarga besar saya, Trah Martowirono, pernah diliput di harian Solopos (16/6/2007), lucu juga, mampu mengenalkan kami dengan pemilik keturunan Martowirono yang tersebar di Amerika Serikat, Suriname, Belanda dan Irlandia. Walau ternyata kami hanya memiliki kesamaan nama untuk nenek moyang kita belaka, tetapi toh hubungan antarkita yang antarbenua itu tetap baik adanya.

Sedang blog penulisan surat pembaca rupanya membuat LSM Combine dari Yogyakarta tergelitik untuk mengundang saya dalam acara mereka akhir bulan Juli 2010 ini. Acara mereka itu disebut Jagongan Media Rakyat 2010, di Jogja National Museum, 22-25 Juli 2010. Rinciannya adalah sebuah perhelatan akbar 4 hari, persembahan dari 40 komunitas, menggelar 40 pelatihan/diskusi, 40 stand, dimeriahkan 40 pertunjukan, dan dihadiri lebih dari 4.000 pengunjung.

Saya kebagian untuk bercerita tentang kiprah kaum epistoholik dalam workshop: "Memindahkan" Himalaya Melalui Surat Pembaca. Waktunya : Jumat, 23 Juli 2010, Jam 19.30 - 21.00.

Teman-teman saya di Yogya dan sekitarnya, bisakah kita ketemuan di sana ?


Wonogiri, 20 Juli 2010


ee

Monday, January 04, 2010

Gus Dur, Surat-Surat Pembaca Saya 1990-2007

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 90/Januari 2010
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


Gus Dur dan Komedi
Dikirimkan ke kolom Surat Pembaca – Harian Suara Merdeka
Senin, 12 November 2007

Salah satu buku kumpulan lelucon yang saya miliki, saya beli pada tanggal istimewa : 25 Oktober 1986. Di toko buku Gramedia Blok M, Jakarta Selatan. Buku itu karya Mildred Meiers dan Jack Knapp, berjudul 5600 Jokes For All Occasions (1980).

Istimewa karena saat itu saya ketemu Gus Dur dan saya memberanikan diri untuk memperlihatkan buku yang baru saya beli kepadanya. Melihat kesamaan sebagai penikmat humor, setelah saling bertukar koleksi lelucon, Gus Dur mengeluarkan pernyataan yang saat itu berupa misteri.

“Hanya kita-kita saja yang masih waras,” cetusnya.

Belasan tahun kemudian teka-teki Gus Dur itu baru bisa saya mengerti. Hal itu terjadi di akhir 2001 ketika saya membaca-baca bukunya Judy Carter, The Comedy Bible (2001). Asumsi dan bahkan paradigma saya tentang komedi yang sudah saya anggap benar selama ini, bahkan karatan, berurat dan berakar, harus diruntuhkan.

Pemahaman bahwa menjadi komedian itu sekadar tampil di panggung menceritakan lelucon tentang orang lain atau karya orang lain, ternyata menurut Judy Carter hal itu merupakan kekeliruan yang sangat fundamental. Karena menurutnya, setiap komedian wajib dituntut orisinalitasnya.

Di panggung dirinya harus berani dan jujur dalam membeberkan otobiografi mereka masing-masing. Tambah Judy Carter, kalau sebagian besar orang cenderung menyembunyikan cacat dan cela dirinya, para jenakawan justru mempertontonkannya semua itu kepada dunia.

Seorang Gus Dur, seperti diungkap Moh. Mahfud M.D. dalam artikelnya “Politik Humor Gus Dur” (JawaPos,15/3/2006), memiliki kepiawaian tinggi dalam menghumori dirinya sendiri. Keikhlasan Gus Dur mengolok kekurangan diri sendiri, self-deprecating, merupakan ujud kewarasan dirinya sebagai pribadi.

Dari pribadi beliau seperti itu, kita bisa bercermin sekarang : berapa banyak pemimpin dan pejabat negeri ini yang masih waras, berani jujur mengakui dan berani menertawai kekurangan diri mereka sendiri ?

Bambang Haryanto (EI/081329306300)
Wonogiri 57612


Humornya Pendosa
Dikirimkan ke kolom Surat Pembaca Harian Suara Merdeka,
Kamis, 26 Januari 2006


Anne Bancroft (73), artis Hollywood yang terkenal memainkan Mrs. Robinson dalam film The Graduate (1967), meninggal dunia 7/6/2005 yang lalu. Sebagai penghormatan, lampu-lampu di Broadway diredupkan. Ia meninggal karena sakit kanker rahim.

Ia dinominasikan meraih Oscar lima kali dan sekali memenangkannya ketika bermain sebagai guru tokoh tuna netra terkenal, Helen Keller ketika masih muda, dalam film The Miracle Worker (1963). Istri komedian Mel Brooks ini terkenal memiliki selera humor tinggi dan menganggap tertawa merupakan harta penting yang berharga.

Tanggal 21/6/2005, Kardinal Jaime Sin dari Filipina, juga meninggal dunia dalam usia 76 tahun. Ia tokoh sentral yang ikut menumbangkan diktator Marcos (1986) dan pula Presiden Josep Estrada yang korup (2001). Beliau punya selera humor yang tinggi pula.

Konon, kepada para tamu yang mengunjungi kediamannya akan disambut dengan ucapannya yang khas, yaitu : Selamat Datang di House of Sin. Lelucon yang cerdas. Karena rumah beliau dalam konteks lelucon dapat diartikan sebagai rumahnya pendosa.

Mungkin karena kejelian wartawan, tetapi sungguh mengharukan, banyak catatan yang ditorehkan untuk mengenang beberapa tokoh besar yang wafat adalah justru mengenai selera humor mereka. Hal ini menyiratkan betapa penting selera humor. Gus Dur pernah bilang, mereka yang memiliki selera humor adalah mereka yang masih waras. Artinya, masih mampu menertawakan kekurangan dirinya tanpa merasa terluka atau terhina.

Masalahnya, kalau kini Indonesia lagi boom tokoh-tokoh yang diindikasikan melakukan korupsi atau melanggar HAM, tetapi sementara mereka terus bersibuk mungkir demi mempertahankan diri, sebenarnya berapa banyak pribadi yang masih waras di republik kita dewasa ini ?

Bambang Haryanto
Wonogiri 57612


Komedian Islam Vs Ustadz Gaul
Diemailkan ke majalah Gatra, Kamis, 27 Oktober 2005


Fenomena ustadz gaul seperti dilaporkan GATRA (29/10/2005) sungguh menarik. Mereka melakukan syiar agama Islam bermediakan kesenian, seperti nyanyian dan humor, mengingatkan kiprah Wali Songo, terutama Sunan Kalijaga, yang melakukan syiar Islam bermediakan wayang. Pendekatan budaya ini terbukti ampuh ketimbang pendekatan kekerasan atau penaklukan.

Di Amerika Serikat, syiar Islam kontemporer lebih radikal lagi. Bermediakan humor. Syiar Islam ini secara intensif dilakukan pasca serangan teroris 11 September 2001 yang menimbulkan ketegangan hebat antara Islam vs Barat, seperti disebut oleh Samuel Huntington sebagai benturan peradaban.

Oleh kalangan komedian muslim Amerika seperti Azhar Usman, Preacher Moss, Azeem, Ahmed Ahmed, Maysoon Zayid sampai Tissa Hami, benturan peradaban itu diwujudkan dalam perang bermediakan lawakan. Tidak untuk saling mengejek, melainkan untuk menumbuhkan saling pemahaman.

Tahun 2004, Azhar Usman, Preacher Moss dan Azeem menggagas tur pentas komedi keliling Amerika bertajuk Allah Made Me Funny Tour untuk mempromosikan Islam sebagai agama cinta damai dan anti tindak kekerasan.

“Gagasan tur ini adalah menyediakan bagi kalangan muslim dan non-muslim wahana gaul dalam zona aman, relevan, inklusif, di mana humor dimanfaatkan untuk menjembatani jurang bias, sikap tidak toleran dan penyakit sosial lainnya”, kata Preacher Moss, penggagasnya.

Orang tidak suka dikhotbahi, kata Moss, sehingga lelucon dia anggap lebih efektif dalam memberikan edukasi bagi kalangan muslim atau pun non-muslim. Berbeda dibanding khotbah, lelucon mampu mengajak penonton berpikir, beperanserta dan melangsungkan dialog dengan para penampil.

Di front lain ada pula aksi komedian Ahmed Ahmed, muslim Amerika kelahiran Mesir bersama Bob Alper, komedian dan juga seorang rabbi Yahudi, melakukan tur komedi berdua. Dengan tema “Satu Arab, Satu Yahudi, Satu Panggung” mereka menggotong misi untuk meredakan ketegangan dan prasangka hubungan antarbangsa melalui humor. Pentasnya di Denver dipenuhi penonton, baik dari kalangan Islam, Kristen dan juga Yahudi.

Bagaimana di Indonesia ? Kita kenal humoris muslim yang ulung seperti Gus Dur, Mustofa Bisri sampai Emha Ainun Nadjib. Sebagai pengelola situs blog berisi kajian seputar masalah komedi, saya ingin bertanya : setelah ustadz gaul, kapankah komunitas muslim kita mampu menghadirkan komedian muslim sekaliber Azhar Usman yang leluconnya cerdas, toleran, tidak ada pornonya sama sekali dan sekaligus tajam, di Indonesia ?


Bambang Haryanto
Komedikus Erektus ! (http://komedian.blogspot.com)
Wonogiri 57612


Tak Ada Dusta Di Antara Kita
Dimuat di kolom Redaksi Yth – Harian Kompas Jawa Tengah
Kamis, 20 Januari 2005.


Di tengah hiruk-pikuk pemilihan umum 2004 yang baru lalu, banyak para pelaku politik menjajakan diri dengan beramai-ramai menerbitkan biografi. Boleh dikatakan, semua biografi itu ditulis oleh orang lain. Rendahnya budaya menulis di kalangan elit kita membuat kita sulit menemui terbitan otobiografi yang ditulis oleh pelakunya sendiri.

Pelbagai biografi para tokoh politik tersebut, diakui atau tidak diakui, diterbitkan sebagai sarana mempromosikan diri guna memenangi Pemilu. Motif itulah yang membuat isinya, tentu saja, lebih indah daripada warna aslinya. Kecenderungan demikian sampai mendorong seorang Humphrey Carpenter memberikan definisi sinis bahwa buku biografi merupakan wahana terhormat untuk berdusta.

Kini Pemilu telah usai. Alangkah baiknya, bila tokoh-tokoh yang tersingkir, kalah dalam Pemilu, justru tergerak untuk menuliskan pengalaman hidupnya secara lebih genuine, apa adanya, kini. Terlebih karena mereka relatif tidak lagi digandoli motif-motif untuk berpromosi.

Silakan mencontoh Wimar Witular, pembantu dekat Presiden Gus Dur, yang menuliskan catatan pergulatannya justru setelah presiden cerdas dan jenaka itu tersungkur dari istana. No Regret, seru Wimar Witoelar.

Amien Rais, Hamzah Haz, Megawati, Siswono Yudhohusodo, Wiranto dan lainnya, silakan Anda kini menulis tanpa embel-embel pretensi untuk berpromosi. Indonesia tidak hanya butuh contoh dari tokoh-tokoh yang berhasil, tetapi juga contoh dari mereka yang telah berjuang walau pun pada ujungnya tidak meraih keberhasilan.

Sebab seperti kata filsuf Cina, Konfusius, orang besar bukanlah orang yang tidak pernah jatuh, melainkan mereka yang setiap kali terjatuh segera bangun untuk tegak kembali.

Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia
Wonogiri 57612


Gran Final Indonesian Idol 2004 !
Dikirimkan ke kolom Mimbar Demokrasi, Harian Kompas,
Sabtu, 4 September 2004


Selamat datang di gran final Indonesian Idol 2004 !

Kontestan pertama, Megawati, akan membawakan lagu favorit yang entah kenapa lagu indah ini justru ogah ia nyanyikan selama pemilu. Yaitu, My Way (Frank Sinatra) :

“And now, the end is near,
and so I face the final curtain....”.

Berikutnya, SBY dengan Pelangi di Matamu (Jamrud) :

“Tiga puluh dua tahun,
rakyat tanpa bicara,
kini mereka pun resah menunggu lama
janji dariku...”

Sebagai penyanyi latar, kita tampilkan Indonesian Idle 2004 (yes, idle dan bukan idol). Mereka adalah Wiranto, Salahuddin Wahid, Amien Rais, Siswono Yudhohusodo, Hamzah Haz dan Agum Gumelar, akan koor menyanyikan Ticket to Ride (The Beatles/Carpenters) :

“The girl (boy) that driving me mad
Is going away/She’s (he’s) got a ticket to ride
She’s (he’s) got a ticket to ride.”

Sebagai bintang tamu Akbar Tanjung akan tetap membawakan lagu I Will Survive (Gloria Gaynor) dan Gus Dur (64) yang walau punya lagu favorit Me and Bobby McGee (Janis Joplin),kali ini dengan irama slow khasnya membawakan hit The Beatles :
“Will you still need me,
will you still feed me,
when I’m sixty four ?”
(When I’m Sixty Four).

Rakyat Indonesia pun semoga akan koor mengiringi dengan lagu indahnya Carpenters, We’ve Only Just Begun :

“We’ve only just begun to live
White lace and promises
A kiss for luck and we’re on our way
So many roads to choose
We start out walking and learn to run.”


(Bambang Haryanto, Wonogiri 57612)


Keindahan Sepak Bola
Dimuat di kolom Redaksi Harian Harian Kompas,
Sabtu, 30 Juni 1990

Kejuaraan sepak bola Piala Eropa 1988 telah dua tahun berlalu, tetapi ia belum terlupakan. Ia bukan Gullit. Bukan pula Koeman atau Marco van Basten, walau pun sama-sama memamerkan keindahan sepak bola.

Gullit menggelar kegarangan dalam menanduk bola. Koeman meragakan konsentrasi energi dengan tendangan geledeknya. Tetapi ia dengan ujung pena yang dituntun kecintaan terhadap sepak bola, riset literatur yang luas, wawasan yang dalam, ketajaman pikir dan keindahan optimal ekspresi dalam bahasa.

Kini dalam Piala Dunia Italia 1990, ia kembali. Anak bajang kembali menggiring bola, serangkaian laporan dan analisis yang indah dan dalam, kembali disajikan oleh wartawan “khusus” Kompas, Sindhunata. Pasti saya hanya salah satu di antara banyak sekali pembaca yang menyukai tulisannya yang memeragakan keindahan sepak bola.

Tetapi saat ini saya masih punya harapan tersembunyi. Sebab selama ini media massa kita nampak lupa menampilkan komentar atau ulasan sepak bola dari seorang pengamat sepak bola yang tidak kalah tajam wawasan atau pun inteligensianya.

Beliau yang saya maksud adalah K.H. Abdurrachman Wahid. Bagaimana, kiai ?


Bambang Haryanto
Job-Hunting Consultant
Dept. KS-VI
PO Box 55/Jatra
Jakarta 13220 B


Wonogiri, 5 Januari 2010

ee

Wednesday, August 19, 2009

Sumbu Pendek, Ekor Panjang dan Benturan Peradaban

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 80/Agustus 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Jebakan persepsi. Gambar perempuan mampu memicu pertengkaran. Satu gambar perempuan muda dan jelita, dan satunya lagi gambar perempuan tua renta.

Satu kelompok akan bersikukuh bahwa gambar yang mereka lihat itu sosok perempuan muda dan jelita. Kelompok lainnya, melihat gambar yang sama sebagai wajah perempuan tua dan pendiriannya itu akan mereka bela mati-matian pula.

Kalau Anda pernah membaca bukunya Stephen R. Covey, 7 Habits of Highly Effective People (1989), Anda akan menemukan ilustrasi yang mengejutkan itu. Sementara dalam bukunya yang lebih baru, The 8th Habit (2006), sosok kontroversi itu berupa gambar perempuan muda dan sosok pemain saksofon.

Inti dari kasus perselisihan ini adalah : betapa dua orang dapat melihat obyek yang sama, saling tidak bersepakat, tetapi keduanya sekaligus sama-sama benar. Simpul Covey adalah : ini semua terjadi bukan terkait dengan logika, melainkan terkait erat dengan hal-hal psikologis.

Gedor Covey kepada pemahaman kita selama ini : “Kalau kejadian 10 detik saja memiliki dampak begitu dahsyat bagi pemahaman kita terhadap dunia, bagaimana bila pengkondisian itu terjadi terus-menerus dalam sepanjang hidup kita ?”

Kita ekstrapolasi : bagaimana bila pengkondisian itu ternyata sudah berlangsung ribuan tahun, berlabelkan hal yang kita nilai sebagai sesuatu yang tinggi, sakral, sekaligus sangat peka, yaitu agama ? Bagaimana pula bila pengkondisian dalam agama tersebut, agama apa saja, senantiasa sangat kental diwarnai dengan upaya penyeragaman, uniformitas, yang sekaligus menegasikan keberagaman, pluralitas ?

Dunia kiranya hanya akan mencatat pelbagai perang dan perang semata. Juga potret-potret tindak kekejaman. Itulah yang terjadi bila ada sebagian umat bersikukuh mendukung doktrin keseragaman, baik agama, ras, budaya, politik sampai ekonomi. Contohnya, adalah Hitler dengan Nazinya, yang mengagungkan ras Arya, telah melahirkan peristiwa Holocaust yang mengerikan. Faham fasis serupa belumlah mati.


Seragam bila mati. Kita tahu, upaya penyeragaman selalu mengalami kegagalan. “Life is plurality,” begitu kata Octavio Paz (1914-1998), diplomat, penulis dan penyair asal Meksiko. Dan hanya, “death is uniformity,” lanjutnya. Hidup itu beragam, sedang kematian adalah seragam. Apa yang mampu membuat dunia ini berputar, tutur Paz, adalah terjadinya saling memengaruhi antara pelbagai perbedaan, yaitu daya tarik dan daya tolaknya.

Bila terjadi penindasan terhadap perbedaan dan beragam keunikan, dengan mengenyahkan peradaban dan budaya yang berbeda, kedepannya semua itu semata melemahkan kehidupan karena lebih memilih kepada kematian. Keseragaman sesuatu yang mustahil. Kalau Allah memang menghendaki keseragaman itu sejak semula, niscaya kita semua sekarang ini telah dijadikan dalam satu umat sejak manusia diciptakan olehNya.


Gempa bumi dahsyat. Keberagaman dalam pelbagai sendi kehidupan umat manusia itu kini semakin mengemuka ketika Internet semakin berperan penting dalam kehidupan umat manusia. “Internet adalah gempa bumi berkekuatan 10,5 Skala Richter yang mengguncang sendi-sendi kehidupan umat manusia,” tegas “nabi digital” Nicholas Negroponte dari Media Lab, MIT, Amerika Serikat.

Salah satu fenomena terdahsyat dari Internet adalah kehadiran beragam media sosial, yang dapat hadir dalam beragam bentuk. Misalnya milis, forum, blog, wiki, podcast, album foto dan video di Internet. Media sosial berbeda dibanding media industri seperti surat kabar, televisi dan film. Kalau media industri membutuhkan biaya besar dan sumber daya mahal untuk menerbitkan informasi, media sosial menyediakan sarana murah bagi setiap orang untuk menjadi produser informasi.

Fenomena ini membalikkan konsep media massa menjadi menciptakan media untuk massa. Setiap orang kini dengan bersenjatakan sarana penerbitan berbasis web yang murah, mudah dikelola, dengan koneksi yang selalu tersambung dan semakin canggihnya sarana komunikasi bergerak, mendaulat mereka menjadi partisipan yang aktif dalam menciptakan berita atau informasi, sekaligus berperan dalam penyebarannya.

Chris Anderson dalam bukunya The Long Tail : Bagaimana Pilihan Tak Terbatas Menciptakan Permintaan Tak Terbatas (2007), mengungkap ketika semua orang kini berpotensi menjadi produser informasi, maka akan hadir fenomena the long tail, si ekor panjang. Dalam fenomena itu pilihan kita hampir tidak terbatas dan ketika segala sesuatunya menjadi tersedia bagi setiap orang. Keragaman benar-benar menjadi raja.

Simak ilustrasi di bawah ini :



Chris Anderson menunjukkan bahwa selama ini dunia bisnis bertumpu pada produk-produk best seller, alias pembuat hit di bagian kepala (head), bagian paling tebal dalam kurva permintaan tradisional. Ekonomi pembuat hit ini memfokuskan bisnisnya hanya menggarap produk atau talenta yang menurut mereka potensial untuk dijual. Ekonomi pembuat hit merupakan kreasi di mana TIDAK CUKUP RUANG untuk menampung segala hal dan tidak mampu memenuhi kebutuhan setiap orang pula.

Rinciannya : tidak cukup ruang di rak-rak toko buku untuk mampu menampung semua buku yang diterbitkan, dan juga semua CD, DVD atau games yang diproduksi. Tidak cukup layar bioskop untuk menayangkan semua film yang ada. Tidak cukup saluran untuk menyiarkan semua acara televisi yang ada. Tidak cukup pula gelombang radio untuk mengudarakan seluruh ciptaan musik yang ada, dan tidak cukup jam setiap harinya bagi kita untuk menyapu semuanya itu di pelbagai slot-slot yang tersedia. Itulah potret diri dunia kelangkaan, the world of scarcity.

Sementara itu dewasa ini, berkat Internet yang membuka distribusi dan eceran secara online, kita memasuki jaman limpah ruah, the world of abundance. Dan perbedaannya sangatlah dahsyat. Menurut Chris Anderson, dunia bisnis masa depan tidaklah bertumpu pada produk-produk best seller, alias pembuat hit di bagian kepala (head) itu, melainkan pada produk-produk yang sampai belum lama ini dianggap gagal atau sampah, yaitu produk-produk di bagian ekor panjang (the long tail) yang tak ada habisnya, pada kurva yang sama.

Sekadar contoh dalam bahasa industri musik, bagian kepala adalah ranahnya major label dan bagian buntut merupakan lahan kiprahnya kaum indie, kaum yang berkarya sesuai kata hati mereka. Dalam dunia apparel, bagian kepala adalah porsi untuk supermarket atau toko fashion besar, sementara pada bagian buntut adalah lahan kiprah bisnisnya beragam distro. Dan tidak sedikit dari mereka yang berkiprah di ranah buntut panjang ini menuai sukses besar pula.

Chris Anderson memiliki tamsil menarik untuk menggambarkan perubahan dahsyat ini. Dalam ekonomi pembuat hit atau produk-produk top, baik buku, lagu sampai film, ibarat pulau-pulau yang menyembul di atas permukaan air. Tetapi ketika air itu surut dan mengering, di bawah puncak-puncak itu akan kita temukan beragam obyek yang selama ini tidak terlihat dalam pandangan kita.

“Yang mulai kita lihat, ketika pengecer online mulai menyambut peluang untuk memanfaatkan jalur distribusi yang sangat efisien dan murah ini adalah gunung raksasa sangat dahsyat yang sebelumnya hanya nampak puncaknya,” tegas Chris Anderson. Untuk itu, kita harus juga angkat topi kepada Larry Page dan Sergei Brin, berkat bantuan mesin pencari Google kreasi mereka, membuat produk atau informasi apa pun di Internet sekarang ini mudah sekali Anda temukan !

Dalam konteks diskusi kita saat ini, dengan merujuk tema pengaruh Internet dan blog terhadap perkembangan kehidupan beragama dan budaya bertoleransi di Soloraya, maka kita, hemat saya, harus mempersiapkan diri menghadapi maraknya fenomena si buntut panjang tersebut. Apalagi Solo masih belum luntur memiliki stigma sebagai kota bersumbu pendek, dimana perbedaan pendapat atau faham seringkali diselesaikan dengan adu fisik dan bukan dengan adu visi.

Fenomena si buntut panjang, seperti lajimnya suatu temuan teknologi, senantiasa memiliki sisi baik dan sisi buruk. Maraknya pemanfaatan media-media sosial, membuka potensi semua orang untuk berbicara, berekspresi, dan meluaskan pengaruh. Tetapi juga sekaligus mampu memicu persaingan dan bahkan benturan.

Khusus benturan yang terkait dengan agama saya, agama Islam, ada beberapa ilustrasi yang mengemuka akhir-akhir ini. Misalnya, baru saja sebagian umat Islam Solo menyambut kedatangan jasad Air Setiawan dan Eko Peang, dengan dielu-elukan sebagai martir atau syuhada, setelah keduanya tewas di Bekasi terkait aksi aparat dalam menumpas terorisme di Jakarta.

Sementara itu di Jalur Gaza, saat menguping siaran BBC (14/15/2009), diwartakan bahwa penguasa kawasan itu, yaitu Hamas, terlibat bentrokan bersenjata di sebuah masjid melawan kelompok Islam radikal yang menamakan diri sebagai pendiri keemiratan di Gaza, berjulukan Tentara Tuhan. Kelompok itu menyebutkan bahwa Hamas dituduh tidak cukup Islami dibandingkan diri mereka. Pemimpinnya, Abdul Lateef Mhousa, akhirnya tewas. Ia meledakkan dirinya sendiri dengan rompi bom. Korban tewas dalam bentrokan itu, 22 orang.

Di Nigeria, umat muslim juga saling berperang antarmereka. Di Irak, perang antara Sunii vs Syiah, masih membara. Di Pakistan dan Afghanistan, pemerintahan muslimnya juga memerangi kelompok muslim yang radikal, Taliban.

samuel huntington,the age of muslim wars,benturan peradaban,newsweek januari 2002

Samuel Huntington dalam artikelnya “The Age of Muslim Wars” di Newsweek, Des 2001-Feb 2002 (ditunjukkan dalam foto) menyebutkan bahwa pentas politik global kontemporer dewasa ini diisi era peperangan kaum muslim. Baik perang antarkaum muslim sendiri dan juga perang kaum muslim melawan kaum non-muslim. Tetapi ia optimistis, ketika menyimpulkan bahwa peperangan ini akan surut pada tahun 2020-an, ketika gelembung penduduk muda muslim (muslim youth bulge) mengempis.

Sebelum era 2020-an itu datang maka Internet dan blog akan menjadi ajang perang dan benturan budaya itu. Juga di Solo kita ini. Tetapi, hemat saya, selama benturan itu masih berupa kata-kata di layar komputer, di layar televisi dan radio atau dalam bentuk demo di jalanan, bukan sabetan pedang atau ledakan bom, kita tak usah terlalu risau. James Buchanan (1791-1868), presiden AS ke-15, menyatakan : “Saya suka gaduhnya demokrasi.”

Mudah-mudahan obrolan kita ini juga menjadi gaduh dalam upaya membangun budaya dialog yang produktif dan inklusif, untuk memanjangkan sumbu wawasan dan kreatitivitas warga Solo dalam mengarungi masa depan. Saya bangga bisa bersama Anda dalam momen bersejarah ini.


Catatan : Makalah ini disampaikan dalam diskusi bertema “Pengaruh Internet dan Blog Terhadap Perkembangan Kehidupan Beragama dan Budaya Bertoleransi di Soloraya” yang diselenggarakan oleh LSM Commitment Solo, 19 Agustus 2009.

Diskusi yang juga membicarakan peranan surat pembaca itu diselenggarakan sejalan dengan peluncuran blog Mediakeberagaman.com. Pembawa makalah lainnya adalah juga warga Epistoholik Indonesia, FX Triyas Hadi Prihantoro, guru SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta, yang aktif menulis di blog dan media massa.


Wonogiri, 19 Agustus 2009


ee