Showing posts with label media sosial. Show all posts
Showing posts with label media sosial. Show all posts

Saturday, August 13, 2011

Sri Mulyani Indrawati Harus Menyeberang Jurang

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 116/Agustus 2011
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


Tanggal 14 Agustus 1998, Sri Mulyani Indrawati hadir di Solo sebagai pembicara utama dalam seminar ekonomi. Solo saat itu mencoba bangkit setelah huru-hara Mei 1998.

Seminar ekonomi yang diadakan oleh Forum Bisnis Surakarta (Forbis) itu juga didukung oleh PPK Bimo International, perusahaan mebel kayu milik pengusaha Jokowi, kini walikota Surakarta.

Ada momen yang menarik saat Jaya Suprana, sebagai moderator, memberikan pengantar diskusi yang berbau “nujum.” Ia katakan saat itu bahwa sosok Sri Mulyani Indrawati merupakan kandidat presiden Republik Indonesia masa depan.

Tiga belas tahun kemudian, rupanya “nujum” Mas Jaya itu terbukti. Minimal lanskap dunia politik Indonesia kini diramaikan dengan hadirnya partai baru, Partai SRI (Serikat Rakyat Independen) yang berproklamasi mengusung mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) terjun dalam kontes perebutan kursi RI-1 dalam Pilpres 2014 mendatang.

Elitis. Kehadiran Partai SRI dan misinya itu yang oleh koran Solopos ini diangkat sebagai “isu yang seksi,” jelas kemudian tidak sepi dari komentar. Yang menonjol adalah pendapat mengenai betapa beratnya perjuangan SMI untuk memenangi Pemilu 2014. Pendapat itu untuk menggarisbawahi realitas bahwa sosok SMI sulit dijual di kalangan bawah yang mayoritas pemilih.

Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta, Gun Gun Heryanto, seperti dikutip Kompas (8/8/2011) menegaskan figur SMI sebagai basis kekuatan utama SMI bersifat elitis, hanya dikenal di kalangan kelas menengah ke atas. Terutama kalangan terdidik seperti kaum intelektual, akademisi, mahasiswa dan aktivis LSM.

Diagram Kura Bell : Menyeberang Jurang Geoffrey A Moore

Merujuk analogi dari tesis konsultan pemasaran teknologi dari Lembah Silikon, Geoffrey A. Moore, kita dapat memperoleh gambaran yang menarik. Dalam buku terkenalnya, Crossing The Chasm : Marketing and Selling Technology Products to Mainstream Customers (1999), ia menggambarkan perilaku publik dalam mengonsumsi teknologi dalam bentuk kurva bel atau genta.

Pada sisi ekstrim kiri kurva, dikenal sedikit golongan yang ia sebut sebagai kelompok orang-orang yang memicu sebuah tren. Dalam kelompok ini tergabung para inovator dan pemakai awal (I-PA, innovators dan early adopters). Mereka adalah orang yang memiliki visi, mau membeli teknologi terbaru sebelum teknologi itu cukup sempurna, atau ketika harganya masih mahal.

Kelompok elit ini bersedia menanggung resiko. Orang-orang jenis ini memang kecanduan teknologi baru dan mau beresiko mengeluarkan uang untuk memiliki gadget teknologi informasi garda depan.

Pada sisi kurva ekstrim kanan, adalah kelompok terbelakang laggards) sebagai konsumen teknologi yang juga sedikit jumlahnya. Sementara itu kue paling besar adalah konsumen yang berada di tengah kurva genta, yang disebut sebagai mayoritas awal (MA, early majority) dan mayoritas terlambat (MT, late majority). Kelompok ini dia gambarkan sebagai mereka yang kuatir terhadap sesuatu perubahan yang mereka nilai akan merusak keseimbangan dalam tatanan kompleks yang sudah mapan dalam hidup mereka.

Moore menjelaskan bahwa perilaku kelompok inovator dan pemakai awal (I-PA) pada satu sisi dan kelompok mayoritas awal (MA) di sisi sebelah kanannya, walau berdekatan, tetapi sebenarnya saling tidak bersesesuaian. Akibatnya inovasi tidak berpindah begitu saja dari kelompok I-PA ke kelompok MA, karena di antara kedua kubu itu terdapat jurang (chasm) yang cukup lebar antara keduanya.

Apabila ada sebuah produk teknologi tinggi tidak berhasil menyebar keluar dari kelompok I-PA, hal itu terjadi karena perusahaan pembuatnya tidak menemukan cara untuk mengubah gagasan yang mudah diterima oleh I-PA untuk menjadi gagasan lain yang mudah diterima oleh anggota MA.

Media sosial. Sri Mulyani Indrawati yang kiranya dapat kita ibaratkan sebagai produk yang diterima oleh kelompok I-PA, tetapi seperti dikatakan oleh banyak pengamat diri dan partainya akan sulit diterima oleh kelompok mayoritas awal (MA) yang kuantitasnya jauh lebih besar. Apa solusinya ?

Kunci SRI dan SMI untuk menembus kelompok mayoritas awal (MA) itu kini sebenarnya telah tersedia. Yaitu media-media sosial, yang dapat hadir dalam beragam bentuk, misalnya milis, forum, blog, wiki, podcast, album foto dan video di Internet. Primadonanya saat ini adalah Facebook dan Twitter di mana profil Radio BBC tentang Indonesia terbaru memuat angka menarik. Penduduk Indonesia 232 juta. Pemakai Internet 30 juta. Pemakai Facebook : 37 juta. Pengguna Twitter : 5 juta. Pengguna Blackberry : 3 juta.


Lihatlah, partai-partai politik lalu tidak melewatkan untuk berusaha menubruknya. Misalnya strategi yang ditempuh Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sebagaimana dikutip situs Politikana.com (1/3/2011), dalam meraih ambisinya menjadi partai terbesar ke-3 dalam Pemilu 2014, PKS mewajibkan 500 ribu kadernya untuk memiliki akun Twitter, blog, Facebook, dan situs pribadi.

Tidak ketinggalan Partai Golkar. Masa depan sukses memenangkan pemilu kuncinya berada di Facebook dan Twitter. Demikian kata Sharif Cicip Sutarjo, Wakil Ketua Partai Golkar, sebagaimana dikutip situs The Jakarta Globe (25/7/2011). Ia tandaskan, Partai Golkar menargetkan minimal 60 juta suara dalam Pemilu 2014. Dengan memanfaatkan meda-media sosial, ia bahkan yakin akan mampu menarik lebih dari 100 juta pemilih.

Partai Golkar tidak main-main. Kini mereka sedang gencar menggembleng kadernya untuk terampil memanfaatkan Facebook dan Twitter, di mana ambisi ini kemudian menjadi bahan satir buku Komedikus Erektus 2 : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau (2011).

Diungkap bahwa ketika Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie membuka akun Twitter ia langsung memperoleh pengikut sebanyak 300 juta. Jumlahnya bahkan melebihi jumlah penduduk Indonesia. Tetapi jangan bangga dulu. Angka ini terdiri para korban, keluarga dan mereka yang menaruh simpati terhadap rakyat yang menderita akibat luapan lumpur panas Lapindo. Dari seluruh dunia !

geoffrey e moore,crossing the chasm,bambang haryanto,sri mulyani indrawati,pilpres 2014

Profil mayoritas pengguna media-media sosial itu adalah anak-anak muda. Dibanding para calon presiden lainnya seperti misalnya Aburizal Bakrie, Ani Yudhoyono, Jusuf Kalla, Wiranto, Prabowo Subianto, sosok Sri Mulyani Indrawati jelas tampil lebih fresh di antara yang lainnya dan lebih dekat kohornya dengan para pengguna media sosial di Indonesia tersebut.

Kini tinggal terpulang kepada para pendukungnya bagaimana agar keuntungan digital ini menjadi modal SMI dan SRI agar mampu bersama-sama meloncati jurang untuk meraih kemenangan fenomenal dalam Pilpres 2014 mendatang. Sekaligus membuktikan apakah ramalan seorang Jaya Suprana di Solo 13 tahun lalu itu akan menjadi kenyataan.

*Artikel ini dengan penyuntingan telah dimuat di harian Solopos, Sabtu, 13 Agustus 2011, Halaman 6.



Wonogiri, 14/8/2011

Sunday, March 27, 2011

BIN Kita Yang Katrok ?

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 112/Maret 2011
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


Acara itu konon bertajuk "Recycle BIN."

Itulah acara televisi "Provocative Proactive" yang akan membincangkan keputusan BIN (Badan Intelijen Nasional) yang kontroversial.

Betapa lembaga yang dibiayai dengan pajak rakyat yang justru akan memata-matai isi komunikasi rakyat di media sosial, seperti Facebook dan Twitter.

Pilihan judul yang tepat. Karena alur pikiran BIN itu sebaiknya memang pantas masuk kotak sampah. Minimal bila dibandingkan dengan apa yang terjadi di Departemen Pertahanan Amerika Serikat.

Inilah potongan cerita dari Price Floyd dalam artikelnya berjudul "In defense of social media : How public and private sectors of DOD opened doors to the network" di The Washington Times (21/3/2011),yang bertutur bagaimana media sosial justru dimanfaatkan oleh Departemen Pertahanan AS secara produktif.

Salah satu manfaat terbesar dari media sosial,katanya, adalah peluang untuk merangkul kerjasama secara penuh dengan rakyat Amerika dalam membincangkan kebijakan dan sasaran. Sebagaimana dalam perusahaan swasta dan organisasi, sektor publik dapat secara aktif mendengar suara konstituen, bahkan pada banyak kasus, mengubah kebijakan berdasarkan umpan balik.

"Keberhasilan dalam melibatkan media sosial dalam pertahanan tidak terbatas pada sektor publik semata, cerita sukses yang sama juga melimpah di sektor-sektor swasta, utamanya pada perusahaan yang stafnya terpencar-pencar melalui jalur komunikasi "khusus" pada perusahaan bersangkutan."

"Media sosial, pada intinya, merupakan sarana komunikasi,pengembangan, kolaborasi dan keterbukaan. Bagian terbaik dari platform media sosial adalah betapa semua tenaga kerja AS telah mengambil peran dalam berkomunikasi dengan cara baru ini. Kami yang bergerak di bidang isdustri pertahanan mengejar ketertinggalan itu bersama para karyawan kami."

Tokoh yang menjadi inspirasi kebijakan diatas karena wawasannya mampu memahami manfaat platform media sosial sebagai sarana komunikasi secara langsung dan efektif dengan masyarakat adalah mantan rektor Texas A&M University dan kini menjabat sebagai menteri pertahanan AS.

Robert M. Gates.

Ayo bangun Mr. Bean, eh, Mr.BIN !


Wonogiri, 27/3/2011

Wednesday, October 27, 2010

mBah Maridjan, Pustakawan 2.0. dan Pesta Yogya

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 107/Oktober 2010
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia



Kaliurang.
Adakah sesuatu kenangan Anda pernah tertambat di sana ?

Kalau Tonny Bennet pernah terkenal dengan lagu indah, "I left my heart in San Francisco," mungkin hari-hari mendatang pencipta lagu kita harus menelorkan lagu untuk mengenang mBah Maridjan yang berdomisili di Kaliurang itu pula.

Sosok juru kunci Gunung Merapi, yang kemudian semakin terkenal sebagai bintang iklan minuman suplemen, telah ditemukan meninggal dunia sebagai salah satu di antara puluhan korban amukan gunung karismatis yang secara spiritual telah ia "jaga" selama ini.

Sugeng tindak, selamat jalan, mBah Maridjan.

Kalau orang Jawa punya semboyan sakral "sedumuk bathuk, senyari bumi ," cerminan tekad kukuh untuk mempertahankan tanah miliknya sampai titik darah penghabisan, yang konon membuat ide transmigrasi sulit disosialisasikan untuk penduduk etnis Jawa, mBah Maridjan mungkin menjadi ikon ideal untuk keyakinan itu.

Beliau meninggal dunia, di rumahnya. Dalam posisi bersujud. Posisi pasrah, merendahkan diri, ke hadapan Yang Maha Kuasa. Orang besar telah memilih cara kematian yang juga besar, yang mungkin baru dalam jangka waktu yang lama betapa momen heroik, tetapi juga sekaligus tragis itu, akan bisa kita lupakan.

Presentasi wong cilik. Sebagai penulis surat pembaca, saya pernah menulis tentang dirinya. Judulnya, "mBah Maridjan" yang dimuat di harian Suara Merdeka (Sabtu, 27 Oktober 2007). Isinya :

Seorang mantan gubernur yang pagi-pagi sudah kluruk, berkokok, ingin maju sebagai calon Presiden di Pilpres 2009, telah mengunjungi mBah Maridjan. Bagi saya ini seperti sebuah déjà vu, pemutaran kembali adegan yang mirip dengan apa yang pernah dilakukan oleh tokoh-tokoh pemerintahan Orde Baru.

Mereka-mereka ini paling lihai dalam berpropaganda untuk merebut hati rakyat. Antara lain dengan teknik yang disebut sebagai berpura-pura sebagai orang kecil.

Ada cerita tentang mantan menteri penerangan dan ketua partai pro-pemerintah saat itu, ketika melakukan kampanye terselubung di Solo. Ia melakukan aksi atraktif, yaitu menggendong seorang tukang becak Solo. Dengan aksinya itu dirinya membangun citra bahwa dia merakyat dan dirinya merupakan bagian tak terpisahkan dari rakyat kecil.

Menurut Sunu Wasono, Dosen Sastra Indonesia FIB-UI dalam bukunya Sastra Propaganda (2007), lewat aksi itu ingin ia tunjukkan bahwa program partai bersangkutan adalah juga program rakyat kecil. Partai itu kemudian bisa mengaku berasal dari rakyat, untuk rakyat, siap pula berjuang untuk rakyat. Kita semua tahu akhir dari cerita ini semua.

Bercermin dari teknik propaganda di atas, warga Jawa Tengah kini seyogyanya dapat mulai mengasah ketajaman nalarnya bila kelak terpusar dalam atmosfir kampanye pemilihan Gubernur Jawa Tengah yang mulai menghangat. Juga dalam pilpres mendatang. Intinya, Anda jangan sampai terbeli musang dalam karung ketika menetapkan pilihan Anda kelak.

Bambang Haryanto
Wonogiri 57612

mBah di media sosial. Sebagai blogger pustakawan, pagi ini (28/10/2010) mengirim SMS untuk Ahmad Subhan di Yogya :

"Ikut berduka atas wafatnya mBah Maridjan yg heroik. Btw, kira2 adakah perpus/situs perpus yg memajang daftar buku, publikasi, foto2 sd kenangan og2 ttg beliau ?" (Kamis, 28/10/2010 : 07.23.18).

Jawaban Subhan : "Smpe hari ini foto beliau, asli maupun modifikasi, sdh trsebar di fb. Kmaren komentar ttg mb marijan ckp panjang di bwh status Gus Muh, bs jd hari ini lbh rame." (Kamis, 28/10/2010 :07.31.27).

Jawaban saya : "Tks Subhan. Power utk menyebarkan sd mmodifikasi info, kini ditangan user. Power itu hrsnya bs diajak msk perpus ut bikin 'pesta' a la marketspace disana:-)" (Kamis, 28/10/2010 : 07.40.48).

Merajang-rajang buah apel. Sehari sebelumnya saya mengirimkan email ke Ahmad Subhan, Hendro Wicaksono, juga Yossy Suparyo. Antara lain berisi rekap lalu lintas SMS tentang media sosial, juga marketspace yang menurut hemat saya, merupakan pintu utama untuk membangun media sosial dalam lingkup Library 2.0.

Inilah email dan rekapitulasi SMS bersangkutan :


Dear Subhan,

Saya kirimkan log obrolan via SMS tiga sudut kemarin : kau, saya dan Hendro. Siapa tahu ada manfaatnya.

Oh ya, bila berpikir secara marketspace, saya bayangkan perpustakaan itu ibarat buah apel. Lalu bisa kita iris-iris, "dijual," dan mungkin nama produk/layanannya bukan dengan nama perpustakaan lagi.

Jadi Senayan sampai katalog online bersama itu "hanya" salah satu faset, di antara puluhan atau ratusan faset, yang bersinggungan langsung atau tak langsung dengan dunia perpustakaan. Sekadar contoh : beberpa hari yang lalu aku kirim usul ke Diana AV Sasa. Agar situs Ibuku-nya buka fitur baru : mengulik judul-judul buku.

Judul buku itu terbuka bagi peselancar untuk dikomentari, diubah, baik untuk membual, menjual, atau menipu sekali pun. Saya yakin dengan pendekatan "user generated content" ini akan ada nilai positif yang muncul. Karena menurutku users itu cerdas dan kini media sosial membuka lebar peluang sehingga "cream of the cream" itu hadir di permukaan.

Mungkin untuk misi "merajah-rajah" (mengiris-iris) buah apel itu media Senayan bukan media yang tepat. Mungkin perlu situs tersendiri, dengan impian-impian besar tersendiri.

Salam,

BH


(AS/Ahmad Subhan->BH/Bambang Haryanto). Message via Facebook, 26 Oktober 2010 Jam 03.47. Re: Tentang Senayan : Ahaa, menarik sekali istilah Pak BH, "sarana manajemen pergudangan", hahaha... saya sepakat sekali Pak, jangan sampai piranti lunak untuk pengetahuan malah jadi seperti istilah Pak BH itu. Saya tunggu ya Pak, artikel tentang Senayan

(BH->AS) Selasa, 26 Oktober 2010 : 11.41.36. Hi Subhan. Sy sd nulis di blog jip, ttg ide ubah Senayan mnjd mediasosial perpus+media libratainment. Ada pendapat ? Btw, buku Komedikus sy siap terbit Nov ini. Tks.


(BH->HW/Hendro Wicaksono) Selasa, 26 Oktober 2010 : 12.20.21. Hi Hendro. Sy sd nulis di blog jip80, usulan ubah Senayan mnjd mediasosial perpus+media libratainment. Ada pendapat ? Btw, buku Komedikus sy siap terbit Nov ini. Tks.

(AS->BH) Selasa, 26 Oktober 2010 : 11.46.20. Wah, mantap skali pak, nanti sy baca dan beritahukan ke teman2 pengembang Senayan. Btw, buku pak BH perlu dikoleksi oleh Jojon Center tuh, lembaga dokumentasi komedi indonesia, kantornya di jogja, teman sy yg mendirikan.

(BH->AS) Selasa, 26 Oktober 2010 : 12.15.15. Siplah. Wah, rumus "jenis mencari jenis" trjadi diantara qta lg :-). Kan bos Jojoncenter pernah nraktir sy nasi padang Okt 2009 krn kafe blm buka ? Salam utk rekan2.

(HW/Hendo Wicaksono->BH) Selasa, 26 Oktober 2010 : 16.27.55. Mas, memang itu ide yg ingin saya kembangkan dalam next step pengembangan senayan. Sialnya ada tantangan baru berupa standar baru pengganti aacr (saya lupa namanya). Mau tdk mau perhatian jd terpecah kesana juga.

Saat ini yg bisa dilakukan adalah hibrid senayan dg layanan web 2.0 yg memang pas dg kebutuhan perpust. Misalnya dg menempelkan fitus diskusi/komentar dr disqus.com. Contoh implementasinya ada di http://perpustakaan.kemdiknas.go.id/bse. Coba lihat record detail dari tiap buku, dibawahnya ada fitur komentar yg di grab dari disqus. Jadi tdk hrs kita semua yg coding, tinggal pinjam dari layanan yg lain. Itulah yg namanya library 2.0 :D nh skrg mencari layanan lain apa yg pas buat dihibrid ke senayan. Karena layanan web 2.0 banyak banget.

(BH->HW) Selasa, 26 Oktober 2010 : 16.43.47. Tks. Spt Toyota Prius yg hibrid ya? Sy stuju. Visi sy, buku2,pinjam-kembali sd lokasi hny 1 faset dr makrokosmos Library 2.0. Yg utama bgmn mengelola man & his mind.

(HW->BH) Selasa, 26 Oktober 2010 : 16.48.09. Setuju mas. Hanya saja saya lebih suka dg pendapat, we cannot control man and his mind. What we can do is to inspire them, sehingga mereka terdorong utk belajar dan berbagi. Library 2.0 adalah implementasi web 2.0 agar pengelola perpustakaan mudah dlm mencapai impian tsb.

(BH->HW) Selasa, 26 Oktober 2010 : 16.58.19. Tks. Manage bkn=kontrol. Di planet Library 2.0, pustakawan adl mitra 'menari' para user,menfasilitasi minat2, aspirasi sd impian2 mereka. Qta sama kok mimpi2nya :-).

(HW->BH) 26 Oktober 2010 : 17.01.27. Betul mas. Proses manajemen pengetahuan sdh terbukti jalan di media sosial Internet. Nah skrg tantangan bagaimana memindahkannya dlm lingkup perpustakaan.

(HW->BH) 26 Oktober 2010 : 17.01.08.Mas maaf kalo ada sms atau pesan di FB blm sempat dibales. Hape saya hilang dicopet, lenyap beserta info kontak dll. Belakangan saya sibuk ngurusi cpns online diknas. Benar2 menguras energi sampae saya sakit. Mudah2an skrg saya siap berdiskusi kembali :).

(BH->HW). Selasa, 26 Oktober 2010 : 17.10.19. Tks. Santai sj, Hendro. Kyk di JMR dulu, kl nurutin nafsu bs smlaman ga tidur :-(. Hp yg ilang yg BB itu ? Copetnya jg ahli coding kali. Mg sehat2,nnti kita obrol2 lg.

Pustakawan dunia maya. JMR adalah Jagongan Media Rakyat 2010, perhelatan yang telah mempertemukan saya dengan Hendro Wicaksono, 22-25 Juli 2010, di Yogyakarta. Pada acara itu pula saya menemukan nama Erik Qualman yang video Youtube-nya berjudul "Social Media Revolution"" diputar dalam acara JMR 2010 itu pula.

Dalam artikelnya Statistics Show Social Media Is Bigger Than You Think, mengutip data videonya itu, ia memberikan data menarik.

Antara lain ia menulis bahwa di tahun 2010 Gen Y jumlahnya akan melebihi generasi Baby Boomers….dimana 96% dari mereka bergabung dalam jaringan sosial di dunia maya. Media sosial telah menggusur posisi situs-situs pornografi ("hallo Pak Tifatul Sembiring, apa ini kabar baik bagi Anda ?") sebagai aktivitas nomor satu di Internet. Di Amerika Serikat tahun lalu, satu dari 8 perkawinan yang terjadi proses pacarannya adalah melalui media sosial.

Untuk para pelajar yang aktif di dunia maya, berbanggalah. Erik Qualman mengatakan, hasil kajian Departemen Pendidikan Amerika Serikat di tahun 2009 menunjukkan bahwa secara rata-rata pelajar yang belajar melalui sarana online lebih berprestasi dibanding pelajar yang menerima instruksi secara tatap muka.

Merujuk pendapat Erik Qualman itu, hemat saya, media sosial adalah tambang emas untuk digali, juga untuk para pustakawan. Mau tak mau, agar profesi ini tetap eksis, walau mungkin dengan nama yang berbeda-beda, juga baru, dirinya harus tampil dan segera membuka warung-warung yang inovatif dan dibutuhkan konsumen di dunia maya.

Erik Qualman telah memberikan tip untuk sukses : "Perusahaan-perusahaan yang sukses memanfaatkan media sosial berlaku lebih sebagai panitia pelaksana pesta, agregator informasi dan penyedia informasi, ketimbang sebagai pemasang iklan tradisional."

Terima kasih, Pak Erik. Hallo, pustakawan 2.0., mari kita segera berpesta di dunia maya. Blog ini juga saya daftarkan sebagai salah satu pesertanya, karena pustakawan 2.0. idealnya adalah juga sebagai produser informasi.

Kaliurang. Gara-gara Merapi meletus, saya tidak jadi mengunjunginya lagi. Karena undangan pesta intelektual yang dikirimkan Widiaji dan semula direncanakan di Kaliurang, dipindahkan ke Yogyakarta.

Perhelatan yang diselenggarakan oleh Stube-Hemat telah mendaulat saya untuk menjadi nara sumber pelatihan bagi mahasiswa bertopik "Berdaya Di Era Banjir Informasi" (6/11/2010) dan "Belajar Menjadi Komunikator Positif" (7/11/2010).

Hallo Yogya, saya akan mengunjungi Anda lagi.
Kita bisa ketemu ?


Wonogiri, 28 Oktober 2010

ee

Sunday, October 24, 2010

Ajaran Ibu Soma,Gus Doerr dan Katalog Yang Menari

Warga Epistoholik Indonesia Di Tengah Jagongan Media Rakyat 2010 Yogyakarta-Bagian 3


Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 106/Oktober 2010
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


Kinokuniya.
Mencari-cari buku di sana saya merasa seperti sedang berlatih karate di dalamnya.

Biang keroknya adalah fasilitas antarmuka dari anjungan elektronik yang disediakan toko buku itu. Dengan alat itu konsumen dibantu untuk menemukan buku-buku yang mereka cari di toko buku bersangkutan. Layanan serupa bisa kita temui di pelbagai toko buku terkenal di Indonesia, berupa komputer, sementara di Kinokuniya itu wujudnya seperti kios ATM.

Ini bukan toko buku Kinokuniya yang berada di Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta. Ini toko buku jaringan yang sama tetapi luasnya hampir sebesar lapangan sepakbola. Hamparan belukar buku yang menggairahkan itu membuat saya harus mengandalkan anjungan tadi untuk menemukan buku yang saya incar. Buku tentang manajemen ilmu pengetahuan.

Muncul masalah. Keypad-nya kurang begitu ramah. Ketika telunjuk menekan terlalu lemah, huruf tidak muncul. Tetapi ketika tekanan ditingkatkan ekstra, huruf yang muncul menjadi dobel. Saya membayangkan sedang berlatih karate, melakukan exercise guna memperkuat daya tohok jari-jemari saya.

Jadi sungguh perjuangan tersendiri untuk bisa menuliskan lema yang kita cari. Baik nama pengarang, judul atau subjek buku. Sementara pengguna lain dari toko buku megah di bilangan Orchard Road, Singapura itu, sudah pula nampak mengantri.

Buku yang saya cari itu, tidak saya temukan. Saya berandai-andai, alangkah menariknya bila terminal itu bisa agak "bercanda" dengan saya. Misalnya, bila buku itu tidak ada, ia dapat menyarankan saya untuk mengunjungi toko buku terdekat yang masih menyediakannya. Bahkan melalui Internet, sambungan itu bisa bercakupan dunia pula.

Jadi antar toko buku itu data koleksinya tersambung secara elektronik, 24/7. Diperkaya pula sambungannya dengan penerbit buku dan pengarang buku bersangkutan. Bahkan terintegrasi dengan data para pembaca buku tersebut, genap dengan segala komentar yang mereka tuliskan. Mengambil jargon dari ranah ilmu perpustakaan, ijinkanlah saya menyebut gambaran itu sebagai panorama tentang katalog yang menari.

Diagram kambing. Mengilas balik ke tahun 1980, mata kuliah tentang katalog, dengan label katalogisasi dan klasifikasi, bukan mata kuliah yang saya sukai. Pengampunya adalah Ibu Lily K. Somadikarta, yang saat itu adalah juga ketua jurusan Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Cara mengajarnya yang tegas dan direct, membuat kami yang belum mengenal akrab beliau menjadi cepat-cepat ciut nyali. Apalagi ini mata kuliah yang menentukan, apakah di tahun pertama kami langsung drop out atau berlanjut. Kuis atau tes pertama untuk mata kuliah ini saya mendapatkan nilai nyaris mendekati ambang batas kegagalan : 62.

Saat kuis, saya memang tidak menyangka diagram tentang alur proses penyimpanan dan penemuan kembali bahan pustaka itu muncul di kertas ulangan. Rupanya saya telah meremehkan jantung alur kerja perpustakaan ini. Sebab ketika mencatatnya saya telah membingkai diagram tersebut dengan garis kontur berwujud binatang kambing.

Teman sekelas saya, Subagyo Ramelan, tertawa-tawa melihat "diagram kambing" buatan saya itu.Bahkan ia mengomentari, "itu cara mencatat yang jenius." Ia yang kini membuka gerai "Safir Andaru" dan bergerak dalam bisnis batu mulia di Ciledug, Tangerang, ketika menjadi book officer di Asia Foundation pernah membantu saya memperoleh hibah puluhan buku-buku bermutu terbitan manca negara. Terima kasih, Bag.

Saya bayangkan, ke dalam mulut kambing itu masuk satu judul buku. Buku itu dikunyah, untuk diekstraksi. Wujud fisiknya disimpan di rak tertentu. Kalau jumlahnya puluhan atau ratusan, mungkin ingatan kita masih kuat mengingat sampul atau tempatnya untuk bisa ditemukan kembali ketika dibutuhkan. Tetapi ingatan manusia ada batasnya. Bila jumlah buku itu sudah mencapai ribuan, masalah muncul. Menyimpan sih gampang, tetapi saat untuk menemukan kembali, secara cepat dan akurat ?

Solusinya, data buku itu harus dicatat. Secara sistematis. Ada ilmunya. Dalam buku besar, ia dicatat berdasarkan nomor urut, tanggal pembelian/hadiah, dan sumber buku tersebut. Ini untuk administrasi internal. Sedang untuk layanan bagi pemakai perpustakaan, isi buku dianalisis dulu, diklasifikasikan menurut subjek atau perihal, dengan merujuk panduan yang baku, seperti tabel DDC, Dewey Decimal Classification dan sarana bantu lainnya.

Kemudian tergabung di dalamnya pernak-pernik data buku lainnya, yang disajikan secara sistematis dalam bentuk kartu-kartu katalog. Pengunjung dapat mengakses koleksi perpustakaan melalui bantuan katalog tersebut berdasarkan nama abjad pengarang, judul buku, sampai subjek buku.

Pemahaman publik terhadap katalog sebagai sarana temu kembali bahan pustaka di perpustakaan, bukan hal yang otomatis. Bahkan juga di kalangan intelektual. Di kolom surat pembaca majalah Tempo (16/1/1982), saya pernah mengomentari isi acara "Dunia Pustaka" di TVRI (29/11/1981). Saat itu hadir bintang tamu seperti Harsja W. Bachtiar, Tuti Indra Malaon dan Toeti Adhitama.

Protes saya adalah : mahasiswa dan dosen (!) harus dilatih agar mampu memahami fungsi katalog dan mahir memanfaatkannya dalam menemukan informasi yang relevan. Keterampilan serupa sekarang ini yang juga harus dilatih pada mereka, adalah pemanfaatan mesin pencari Google di Internet. Semua orang bisa menggunakan, tetapi tetap ada perbedaan signifikan antara mereka yang tidak terlatih vs mereka yang berpengetahuan tentangnya !

Konsumen adalah matahari. Itulah teori dasar dan praksis pengelolaan bahan pustaka yang jadul, yang saya pelajari di dekade awal 1980-an. Kini katalog-katalog kertas itu semakin banyak digantikan dengan sinyal-sinyal elektronik. Otomasi. Komputerisasi.

Tetapi sebagai seorang renegade, yang terciprat DNA ilmu perpustakaan tetapi tidak pernah bekerja sebagai pustakawan sejak 1985, saya tidak tahu seberapa jauh, juga seberapa sukses otomasi itu telah berjalan di pelbagai perpustakaan dunia dan Indonesia.

Ketika di tahun 1996, awal kali menggunakan Internet di stan pameran USI-IBM di Wisma Bapindo dengan memposkan email di situs Olimpiade Atlanta untuk Susi Susanti, Alan Budikusuma dan kawan-kawan (juga adik saya) di Atlanta, lalu mengenal katalog raksasa di Internet berupa direktori Yahoo ! saat itu, dan kini mesin pencari Google, saya merasa ilmu perpustakaan (pola jaman saya) dan juga institusi perpustakaan sedang menuju senjakala. Minimal, relevansinya terancam semakin terus menyurut.

Di harian Suara Karya saat itu saya pernah menulis surat pembaca, berpendapat bahwa dulu lanskapnya perpustakaan sebagai matahari dan para pemakai merupakan planet-planet yang mengelilinginya. Kini di era Internet, posisinya terbalik. Pemakai informasi adalah matahari dan pelbagai jasa layanan informasi yang ada saat ini, termasuk perpustakaan, merupakan planet-planet yang mengelilinginya.

Dalam dunia korporasi, meminjam pendapat pustakawan yang kini menjadi konsultan bisnis Internet tingkat dunia, Mary J. Cronin dalam bukunya The Internet Strategy Handbok : Lessons from the New Frontier of Business (Harvard Business School Press, 1996), pelanggan adalah matahari yang dikelilingi pelbagai unsur-unsur fungsi inti perusahaan. Tidak hanya terkait dengan bagian pelayanan pelanggan dan komunikasi korporat, tetapi juga merengkuh kepada bagian pengembangan produk, riset, sistem, personalia, manajemen informasi,penjualan, pemasaran sampai distribusi produk.

"Interaksi secara konstan dengan basis konsumen, memperoleh umpan balik untuk setiap fase pengembangan produk, dan kemampuan mengorkestrasi beragam bagian untuk hadir sebagai customer support dan tim umpan balik, menunjukkan bahwa pelanggan hadir sebagai komponen sentral semua aplikasi berbasis Internet," demikian tegas professor Carroll School of Management dari Boston College tersebut.

Revolusi media sosial. Para pustakawan dan pegiat otomasi perpustakaan di Indonesia kiranya pantas mendengar nasehat Ibu Mary yang anggun dan karismatis itu. Konsumen adalah matahari. Sudahkah pola pikir itu terintegrasi dalam layanan perpustakaan, yang sudah menggunakan layanan secara otomasi ?

Untuk mencoba mencari tahu hal itu, hari Sabtu (23/10/2010), sebagai hari wajib kunjung ke Perpustakaan Umum Wonogiri, saya bertanya kepada petugasnya, mBak Wening. Apa nama peranti lunak untuk organisasi koleksi perpustakaannya. Dia jawab : Limas. Lalu saya tanya, apakah ada fitur yang memberi peluang bagi peminjam untuk menulis sesuatu tentang buku (yang dibacanya) itu ? Ia jawab lagi : tidak ada.

Sebelum berangkat, saya sempat kirim SMS ke Ahmad Subhan, pustakawan dan aktivis literasi di Yogya. Semula kami hanya bisa saling kenal melalui Internet, lalu bisa ketemuan secara serendipity pada acara Jagongan Media Rakyat (JMR) 2010, 24 Juli 2010 di Jogja National Museum, Yogyakarta. Beberapa saat sebelumnya ia baru ngeh kalau kita sama-sama memiliki DNA ilmu perpustakaan.

Isi SMS saya : Pagi Subhan. Di "Senayan" ssudah data buku apa ada kolom komentar user ttgnya, spt @ Amazon.com ? Sdh bc blog "Expired but still Wired" di blogroll jipfsui80-ku ? Tks. (Sabtu, 23 Oktober 2010 : 06.51.23).

Ia membalas : Pagi jg pak. Senayan blm ada fitur komen. Tp itu ide bagus, prlu diusulkn ke m'hendro. Sy prnah bc blog itu, isinya bgs, khususnya tlsn ttg fenomena pola membaca "F" (Sabtu, 23 Oktober 2010 : 07.19.26).

Hendro yang ia maksud adalah Hendro Wicaksono, Head Developer Senayan Library Automation. Inilah "Senayan" yang saya maksud di SMS di atas tadi. Senayan adalah perangkat lunak perpustakaan milik Departeman Pendidikan Nasional (Depdiknas). Bahkan karya cipta anak negeri ini telah memenangkan kategori Open Source System dalam Indonesia ICT Awards 2009 yang baru lalu.

Hendro yang alumnus JIP-FSUI 1992 ini, secara ajaib dan mungkin sudah tergaris di kosmis, tiba-tiba menghuni satu kamar bersama diri saya di wisma Jogja National Museum, 23-25 Juli 2010. Dia dari Jakarta dan saya dari Wonogiri, saat itu jualan Epistoholik Indonesia, kami sama-sama diundang menjadi nara sumber pada helat pertemuan aktivis media akar rumput di Jagongan Media Rakyat (JMR) 2010 Yogyakarta.

Sesudah sowang-sowang saya merasa kurang beruntung. Presentasi Hendro Wicaksono waktunya bersamaan dengan penampilan teman yang saya kenal melalui Internet, pegiat budaya Internet Sehat, Donny Budi Utoyo, dari ICT Watch. Menempati pendopo, yang sehari sebelumnya tempat saya menjual komunitas EI saya, pengunjung sudah disihir dengan sajian video dari YouTube yang berkisah mengenai "Social Media Revolution"" yang menggelegak. Di mana kita segera dihentak oleh lagu hip-hop Fat Boy Slim yang tak henti-hentinya berteriak : "Right here, right now ; right here, right now ; right here, right now !".

Revolusi media sosial memang telah terjadi sekarang ini. Merujuk hal itu saya memutuskan untuk mengikuti sesi presentasi dari Donny B.U. ini, dan tentang Senayan-nya Hendro, terpaksa saya tinggalkan. Dalam konteks kepentingan komunitas EI saya, inspirasi tentang media sosial saya rasa lebih sedikit relevan dibanding bercerita tentang perpustakaan. Utamanya, hemat saya, karena yang pertama lebih banyak menyimpan cerita sebagai bahan eksekusi pendekatan yang inside out, yang berorientasi kepada khalayak, pembaca atau konsumen, dibanding wacana yang kedua saat itu.

Saya memang sempat menyelinap masuk ke ruangan Hendro tempat ia melakukan presentasi. Saat itu berlangsung sesi tanya jawab. Nampak moderator, Yossy Suparyo, sepertinya rada kesulitan menemukan audiens yang mau tampil untuk berkomentar. Jumlah audiensnya lebih banyak daripada yang hadir di pendopo tadi.

Membanggakan juga melihat generasi muda pustakawan yang begitu antusias untuk menguasai perangkat lunak otomasi ini. Bahkan di Yogyakarta ini, komunitas untuk belajar bersama sudah terbentuk, dan boleh dibilang Hendro sudah menaiki tahta sebagai "raja" di antara mereka dengan bersenjatakan keris sakti berwujud peranti lunak Senayan itu pula.

Sayang, ketidakberuntungan saya masih berlanjut. Unduhan peranti lunak Senayan dari Hendro tersebut kini masih "terkunci" di flashdisk saya yang bermasalah berat. Tidak bisa diakses. Padahal belum pernah saya baca-baca isinya, minimal sejarah proses perjalanan Senayan sampai kini. Mungkin itu penyebab :-( sms saya ke Hendro, belum ia jawab. Saya bertanya :

Siang, Hend. Minta info : 1. Apa perpus2 user Senayan saling terkonek scr online, 24/7 ? 2.Ada fitur utk interaksi peminjam2 buku dg pustakawannya scr online pula ? Tks. (Sabtu, 23 Oktober 2010 : 13.42.28).

Marketplace vs marketspace. Di perpustakaan Wonogiri, dengan akses Internet yang selama proses loading bisa saya gunakan waktunya untuk baca-baca koran, saya juga mengirim pertanyaan di akun Facebooknya Hendro Wicaksono.

"Apakah Senayan menomor satukan functionality dari bahan pustaka, pinjam-kembali semata, tetapi belum mengeksploitasi sisi-sisi interaksi antara user/peminjam dengan bahan pustakanya, and beyond ?"

Senayan adalah katalog elektronik. Kalau katalog-katalog kertas yang berukuran 3 x 5 inci itu sangat terbatas untuk diutak-atik, maka katalog elektronik menurut hemat saya membuka peluang maha lebar untuk dieksploitasi. Tidak hanya terbatas sebagai sarana temu kembali bahan-bahan pustaka belaka.

Meminjam pendapat Jeffrey F. Rayport, yang dulu adalah dosen di Harvard itu, kartu-kartu katalog kertas dan koleksi buku itu bisa dijuluki sebagai marketplace, wahana fisik. Sementara katalog elektronik adalah marketspace, suatu lingkungan maya tempat berlangsungnya transaksi dan interaksi secara elektronik. Lingkungan ini ibarat lempung, tanah liat komunikasi yang membuka peluang untuk dieksplorasi sejauh batas-batas imajinasi.

Saya bertanya-tanya : apakah eksekusi katalog elektronik Senayan itu masih memakai kerangka pikir marketplace ? Atau kah sudah merambah ke kerangka pikir yang revolusioner dan benar, yaitu sebagai marketspace ? Bahkan sudah pula dirancang untuk ikut menggelincir sebagai pelaku dalam badai revolusi media sosial yang sedang terjadi ?

Gus Doerr menjawab. Gara-gara mencari info terbaru tentang Pak Jeffrey F. Rayport tadi (saya mengagumi saat membaca artikelnya "Managing in the Marketspace" di majalah Harvard Business Review, Nov/Dec 1994, foto paling atas) dengan memanfaatkan Google, bukan melalui sarana bantu katalog kertas di perpustakaan Wonogiri (yang tidak ada) atau katalog online yang belum dioperasikan untuk pengunjung ("menunggu lengkap," kata mBak Wening), saya ketemu artikel menarik.

Terdapat di situs majalah Fast Company yang bergengsi. Versi cetaknya selalu bikin ngiler saat terpajang di toko buku QB World Books, Jl. Sunda, Jakarta Pusat. Artikel dari majalah itu bercerita tentang Gus Doerr.

Nama lengkapnya John Doerr, dari perusahaan Kleiner Perkins Caulfield & Byers yang teramat amat sohor di bidang dunia teknologi informasi. Perusahaan venture capital raksasa ini telah membidani lahirnya perusahaan-perusahaan Internet kelas dunia. Misalnya, Google, Amazon, Sun Microsystems, juga Electronic Arts, Symantec, sampai Netscape.

Gus Doerr bilang : terjunlah kini ke media sosial atau Anda akan keteteran. Menurutnya, media-media sosial seperti blog, Facebook dan Twitter dan ribuan jenis lainnya, merupakan gelombang ketiga dari disrupsi Internet. Gelombang pertama adalah terciptanya Internet itu sendiri ("terima kasih banyak, Pak Tim Berners-Lee").

Gelombang kedua adalah penemuan peramban, browser, yang membuat semua orang mampu menjelajahi web. Dan sekarang menurut Gus Doerr, Internet sedang berubah lagi. Dari "Internet lama yang berbasis dokumen dan situs menuju sosok baru yang meliput semuanya tentang manusia, tempat dan hubungan."

Terima kasih Gus Doerr, untuk wawasan Anda.

Tohokan keras. Terakhir : dalam konstelasi perubahan besar yang sedang terjadi ini, di manakah sosok dan krida pustakawan Indonesia berada ? Barangkali secara guyon kita bisa bercermin dengan menghitung-hitung karakter dari istilah "pustakawan" itu sendiri.

Kata "pustakawan" terdiri atas 10 huruf. Kata "pustaka," terdiri dari tujuh huruf, 70 persen. Merujuk benda. Kata atau imbuhan "wan," terdiri tiga huruf, 30 persen. Merujuk manusia. Jadi pustakawan Indonesia proporsinya jauh lebih suka dan lebih berfokus untuk mengurus benda-benda, tetapi abai untuk melayani manusia ? Lihatlah pula pesan dalam logo organisasi profesi Ikatan Pustakawan Indonesia. Barangkali Anda juga telah memperoleh jawab yang sama dari sana.

Bila memang semua itu yang terjadi, tak ayal bila profesi ini akan segera menjadi tidak relevan lagi di tengah badai perubahan.

Kinokuniya.

Dengan meminjam kenangan saat menotok tombol-tombol keypad anjungan informasi di toko buku itu, apakah kira-kira gugatan seorang renegade ini merupakan tohokan keras ? Atau hanya gelitikan yang tidak dianggap penting bagi masa depan dunia perpustakaan dan kepustakawanan kontemporer di Indonesia ?


Wonogiri, 24 Oktober 2010

ee

Thursday, February 25, 2010

Penjiplakan, Budaya Menulis, Buku Biru dan EI Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 92/Februari 2010
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia



Salam episto ergo sum !

Membaca Harian Kompas (18/2/2010), isi hati saya teraduk-aduk. Di halaman depan terpampang judul, “Penjiplakan makin mewabah.” Laporan itu membeber bagaimana bisnis pembuatan skripsi merajalela, di mana-mana.

Wacana ini merebak sebagai buntut tertangkapnya seorang guru besar suatu perguruan tinggi di Bandung yang menulis artikel di koran The Jakarta Post, dan karya itu merupakan plagiasi karya ilmuwan dari manca negara. Konon ia kemudian di-PHK, mengundurkan diri dari perguruan tinggi bersangkutan.

Tahun 1984, kebetulan saya menulis skripsi tentang skripsi. Ketika meriset literatur, saya menemukan catatan menarik tentang skripsi yang diungkap oleh majalah satir Rusia, Krokodil.

Katanya, “skripsi itu karya ilmiah yang dangkal, penulisannya menghabiskan biaya dan umur, akhirnya hanya karya yang langsung dilupakan ketika si penulisnya merayakan wisuda di restoran, musnah karena dikerat oleh gigi-gigi tikus di gudang perpustakaan, sekaligus sebagai karya yang hanya akan diingat oleh sang penulis, sementara si penulisnya tersebut sudah meninggal dunia.”

Kasihan bener nasib skripsi. Umpama saya menjadi seorang komedian (cita-cita yang belum kesampaian), saya akan memanggungkan kisah satir dari Rusia itu.

Kisah tentang skripsi masuk radar saya lagi di tahun 1999. Saat itu saya menginap di Red Top Hotel, Petamburan, Jakarta Pusat. Sebagai finalis LKT3I (Lomba Karya Tulis Teknologi Telekomunikasi dan Informasi) III/1999, acara dua tahunan yang diadakan oleh PT Indosat, saya diinapkan di hotel bintang 4 itu. Cita-cita saya sih juara I kelompok umum, agar dapat hadiah komputer. Gagal.

Ngobrol punya ngobrol, teman dan pesaing saya, baik dari kelompok umum, wartawan dan mahasiswa, ternyata mengikuti lomba tulis itu sudah menjadi “industri” mereka. Ada yang cerita bisa bikin rumah gara-gara ikut lomba itu. Sebagai wong Wonogiri, yang baru kali itu bisa lolos sampai final dalam lomba karya tulis, membuat saya merasa ngeri.

Ternyata saya dapat Harapan 1. Dapat cek. Setelah turun dari pesawat, uang itu antara lain saya belikan : kompor. Kompor minyak itu masih ada, tetapi statusnya kini menganggur. Hadiah itu juga untuk membiayai kursus MS Word, awal tahun 2000.

Kembali ke hal skripsi. Di hotel itu malam-malam saya menonton televisi, saluran manca negara. Kalau tak salah MSNBC. Ada acara mengenai dunia TI, antara lain mengupas penemuan peranti lunak yang mampu mendeteksi penjiplakan karya-karya ilmiah. Kuncinya antara lain : semua karya ilmiah itu disimpan dalam bank data digital. Jadi di masa depan, mahasiswa selain menyerahkan skripsi dalam bentuk tercetak, juga harus menyerahkan dalam bentuk CD.

Begitu semua karya ilmiah tersaji dalam bentuk digital, maka berlakulah Hukum Linus. Apa itu Hukum Linus, Anda bisa melanjutkan baca bukunya Eric Steven Raymond, The Cathedral and the Bazaar atau Hukum Linus Pertama di Wikipedia.

Anda tahu kan link-link itu berwarna biru ? Ini saya sebut sebagai warna keberuntungan, warna untuk meraih uang, ketenaran dan keagungan. Saya saat ini sedang menghimpun literatur, untuk dijadikan sebagai buku.

Anda tahu mengapa wabah penjiplakan skripsi itu terjadi ? Menurut saya, antara lain karena rendahnya keterampilan menulis pada insan-insan cendekia kita. Salah satu misi EI adalah untuk mengeradikasi budaya mohtulis (pinjam istilah dari almarhum budayawan Dr. Sudjoko dari ITB) itu.

Tetapi, ini kesan subjektif, ketika saya berada di depan mahasiswa baru suatu PTS di Solo dan mengenalkan apa saja kesaktian keterampilan menulis, kok rasanya “tak ada kilatan bergairah” pada mata para mahasiswa itu. Kali cara saya berbicara masih jauh dari memikat.

Di Kompas yang sama, pada halaman 13, ada berita : “Menulis Untuk Kepuasan.” Melaporkan profil para penulis, yang berproklamasi seperti judul di atas. Kepuasan itu katanya tidak bisa dibeli atau ditukar dengan uang. Tetapi alinea selanjutnya, ia bercerita dengan bangga betapa buku yang ia tulis segera mengalami cetak ulang.

Bagi saya, bila slogan “menulis untuk kepuasan” itu bener-bener ingin ditegakkan, jadilah warga Epistoholik Indonesia. Lalu menulislah surat pembaca. Mengamuklah. Dengan isi kepala Anda bakal bersih dan tidak akan diganggu atau dicemari (?) oleh motif ingin memperoleh uang.

Apalagi bila Anda bisa menjalaninya bertahun-tahun. Hmm, hmmm, kiranya kalkulator paling canggih pun, yang memiliki digit sampai 24 pun, barangkali akan segera jebol bila dipakai untuk menghitung-hitung berkah bagi para pengamuk surat-surat pembaca tersebut. Ini harapan terlalu muluk. Insya Allah.

Cerita saya yang terakhir, bersumber dari majalah Femina (23-29 Januari 2010). Pada artikel berjudul, “Narsis Itu Menguntungkan.” Ini cerita mengenai fenomena dahsyat maraknya media-media sosial di Internet. Tentu saja, termasuk membahas Facebook dan Twitter. Akun saya keduanya adalah : www.facebook.com/bbharyanto dan www.twitter.com/bambangharyanto.

Tetapi maafkan saya, saya bukan “pemabuk” untuk keduanya. Saya belum mampu menggunakannya dengan kecepatan penuh. Menurut saya, di Facebook itu sering terjadi “penggelembungan isu.” Ada beberapa teman yang saya pikir memiliki minat khusus bidang A, dimana saya harapkan ia selalu menulis tentang bidang A tersebut, ternyata tidak. Minat yang ia tulis, mungkin malah beranak-pinak, terentang dari A1, A2, A3, sampai Z1 sd Z99.

Merujuk hal itu, pada artikel Femina itu ada dosen sosiologi UGM, Arie Sudjito, bilang : “Di media sosial, masih banyak yang narsis tidak jelas tujuannya. Asal bisa tampil, mendapat komentar dari teman, mendapat banyak follower, tetapi tidak ada isinya.”

Sementara online strategist, Nukman Luthfie memberi usul : Agar selain punya facebook atau twitter, kita juga perlu punya blog. Karena blog membuka kapling lebih leluasa untuk menulis. Ia juga memberi nasehat, agar jangan menilai orang hanya dari status-nya saja, tetapi juga pada notes-nya, blog-nya dan karya-karya di luar dunia maya/offline.

Terima kasih, Mas Nukman. Notes saya di Facebook sudah melebihi 60 !
Apakah Anda warga EI juga akan mengucapkan hal yang sama kepada beliau ?

Tetap semangat, sobat-sobat. Tetap dan tetap menulis. Untuk dopingnya, silakan cek saran dari motivator dan penulis buku-buku laris, Andrias Harefa.


Moga bermanfaat.
Salam episto ergo sum !



Wonogiri, 26/2/2010

ee

Sunday, June 21, 2009

Solo Batik Carnival dan Publikasi Dunia Maya

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 76/Juni 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia


Pebisnis batik Solo, pelajari fenomena kasus Prita Mulyasari. Satu email curhat-nya atas layanan RS Rumah Sakit Internasional Omni, membuat ia ditahan selama 20 hari.

Tetapi segera kasus kontroversial yang menyinggung rasa keadilan itu memicu gelombang protes yang dahsyat. Semula hanya berupa bisik-bisik di dunia maya, tetapi akhirnya menggelembung, hingga mampu menghasilkan efek publikasi yang luar biasa.

Ribuan orang menulis di blog, bertukar komentar di forum, milis, dan bahkan ratusan ribu orang sengaja bergabung dalam cause di Facebook untuk menuntut pembebasan Prita. Ibaratnya mereka berdemo dan ber-gethok tular di dunia maya yang akhirnya mendorong kasus tersebut dapat dibedah dan diletakkan dalam proporsinya.

Kasus Prita vs Omni di atas menunjukkan kedahsyatan media sosial, yang dapat hadir dalam beragam bentuk, misalnya milis, forum, blog, wiki, podcast, album foto dan video di Internet. Media sosial berbeda dibanding media industri seperti surat kabar, televisi dan film.

Kalau media industri membutuhkan biaya besar dan sumber daya mahal untuk menerbitkan informasi, media sosial menyediakan sarana murah bagi setiap orang untuk menjadi produser informasi.

Fenomena ini membalikkan konsep media massa menjadi menciptakan media untuk massa. Setiap orang kini dengan bersenjatakan sarana penerbitan berbasis web yang murah, mudah dikelola, dengan koneksi yang selalu tersambung dan semakin canggihnya sarana komunikasi bergerak, mendaulat mereka menjadi partisipan yang aktif dalam menciptakan berita atau informasi, sekaligus berperan dalam penyebarannya.

sbc,solopos,bambang haryanto,media sosial

Warga terlibat. Merujuk kepada kemampuan media sosial tersebut, pebisnis batik Solo, Pemkot Solo dan semua pemangku kepentingan terkait penyelenggaraan acara tahunan Solo Batik Carnival (SBC) yang tahun ini akan digelar 26-28 Juni 2009, kini saatnya membuat terobosan baru.

Yaitu secara terencana sengaja melibatkan warga untuk menjadi corong suara ke persada dunia dengan memanfaatkan media-media sosial yang ada. Aktivitas SBC kemudian tidak hanya terpusat kepada persiapan bagi peserta arak-arakannya semata.

Melainkan harus juga menjangkau kepada warga yang dimotivasi sampai dilatih secara cerdas untuk tampil menjadi penerbit informasi di dunia maya tentang semua aspek SBC yang terjadi.

Untuk aksi satu ini kita dapat meneladani langkah yang ditempuh oleh UNS Sebelas Maret. Ketika cita-cita UNS ingin masuk dalam jajaran universitas kelas dunia, yang antara lain dinilai dari frekuensi dan akumulasi penerbitan sivitas akademikanya di dunia maya yang tercatat dalam mesin pencari Google, UNS telah memacu seluruh warganya untuk menjadi blogger, alias menjadi penerbit di dunia maya.

Terus berdengung. Para pemangku kepentingan terkait SBC harus melakukan strategi serupa. Bahkan gerakan memobilisasi publikasi itu harus dilakukan secara sinambung. Sebelum, selama dan sesudah peristiwa budaya tersebut paripurna dilaksanakan. Sehingga peristiwa ini selalu menjadi buzz, berdengung senantiasa di dunia maya.

Ketika karnaval SBC berjalan, saya membayangkan kejadian menakjubkan seperti dikisahkan oleh ahli strategi Internet, John Blossom, asal AS. Dalam situs yang menyertai penerbitan bukunya, Content Nation : Surviving and Thriving as Social Media Changes Our Work, Our Lives, and Our Future (2009), ia bercerita tentang suasana peristiwa olah raga terakbar di Amerika Serikat, yaitu final kejuaraan Super Bowl XLIII awal Februari 2009 yang lalu.

Kiprah ribuan penonton yang sekaligus “wartawan” itu, dengan bersenjatakan media jaringan sosial Facebook dan microblogging Twitter, menjadi fenomenal adanya.

John Blossom menulis : “Di tengah kerumunan itu stadion riuh berhias pendar-pendar nyala layar telepon genggam. Puluhan ribu warga biasa mengirimkan video, audio, foto dan pesan-pesan pendek kepada rekan-rekan mereka sebagai bagian integral peristiwa itu melalui sarana telepon genggam mereka. (Fenomena ini) menegaskan betapa penerbitan melalui media sosial telah menjadi bagian dari selebrasi diri kita sebagai umat manusia.”

Solo Batik Carnival pasti juga merupakan bagian dari selebrasi warga Solo atas batik sebagai karya kebanggaan budaya mereka. Saya memimpikan dan membayangkan betapa dahsyat bila rasa bangga itu, baik sebagai pelaku sampai sebagai saksi dari arak-arakan megah yang mempertontonkan karya kreatif dalam karnaval SBC itu, dapat secara masif mereka ceritakan secara bersama-sama kepada dunia.

Tujuan akhirnya : Solo yang lebih kuncoro bukankah mampu mendatangkan maslahat bagi seluruh warganya ?


[Catatan : Tulisan ini dengan penyuntingan oleh redaksi telah dimuat di Harian Solopos, Senin, 22 Juni 2009].


Wonogiri, 20-22 Juni 2009

ee

Tuesday, March 17, 2009

Media Sosial dan Masa Depan BOLA

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 69/Maret 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Photobucket

Tabloid BOLA punya tagline baru. Membawa Anda ke Arena. Take you to arena. Menandai ulang tahunnya yang ke-25, selain dijanjikan adanya perubahan wajah dan gaya sajian isinya, tagline tersebut tentunya diharapkan sebagai frasa yang mudah diingat guna menonjolkan nada positif dan premis brand Tabloid BOLA di benak para konsumennya. Sekaligus merupakan kristalisasi dari visi dan misi tabloid olahraga satu ini dalam mengarungi masa depan.

Tagline itu dapat mengundang jebakan tidak terduga. Slogan itu sepertinya tetap mengasumsikan hubungan antara media, wartawan dan pembaca dewasa ini tidak mengalami perubahan. Wartawan tetap saja berstatus sebagai mata dan telinga yang mewakili pembaca dalam menikmati atau “mengalami” suatu peristiwa olah raga. Wartawan melaporkannya, pembaca menikmatinya. Hubungan semacam merupakan tipikal hubungan yang terjalin dalam konstelasi media cetak tradisional yang berbasis atom atau kertas. Dalam penerbitan cetak tradisional itu aktivitas penciptaan informasi, produksi, distribusi dan konsumsi informasi, memang terjadi secara terpisah-pisah.

Sayangnya, berkat Internet, konstelasi semacam itu kini semakin tergerus dan menunggu rubuh. Di Internet, penerbitan berbasis digital, semua proses itu mampu terintegrasi dalam satu sistem. Terutama semakin kuatnya tuntutan harus didaulatnya informasi dari para konsumen untuk menjadi bagian integral isi media itu sendiri. Perubahan konteks maha vital inilah yang tidak disadari oleh mayoritas pengelola media Internet di Indonesia selama ini. Sampailah kemudian hadirnya media sosial di tengah hidup kita.

Media sosial dapat hadir dalam beragam bentuk, misalnya forum di Internet, blog, wiki, podcast, album foto dan video. Media sosial berbeda dari media industri seperti surat kabar, televisi dan film. Kalau media industri membutuhkan biaya besar dan sumber daya mahal untuk menerbitkan informasi, media sosial menyediakan sarana murah bagi setiap orang untuk menjadi produser informasi. Tembok antara penerbit dan publik runtuh. Fenomena media sosial ini membalikkan konsep media massa menjadi menciptakan media untuk massa.

Akibat seriusnya, kini profesi wartawan dalam momen sejarah yang langka, ketika untuk pertama kali hegemoninya sebagai penjaga gawang informasi terancam. Tidak hanya oleh teknologi dan pesaing, tetapi utamanya dari diri para pembaca mereka sendiri. Para pembaca itu dengan bersenjatakan sarana penerbitan berbasis web yang murah dan mudah dikelola, dengan koneksi yang selalu tersambung dan semakin canggihnya sarana komunikasi bergerak, mendaulat mereka menjadi partisipan yang aktif dalam menciptakan berita atau informasi, sekaligus penyebarannya. “Anda tidak dapat pergi kemana saja atau berbuat apa saja dengan mengira tidak pernah ketahuan, karena sekarang ini semua orang adalah wartawan,” tegas Steve Patterson, pengelola situs olah raga Universitas Georgia, Amerika Serikat.

Dalam lanskap yang terbaru, ketika berlangsung peristiwa olah raga terakbar di Amerika Serikat, yaitu final kejuaraan Super Bowl XLIII awal Februari 2009 yang lalu, kiprah penonton yang sekaligus wartawan bersenjatakan media sosial jaringan sosial Facebook dan microblogging Twitter, menjadi fenomenal. Dalam blog (http://contentnation.com/news) untuk menyertai penerbitan bukunya, Content Nation : Surviving and Thriving as Social Media Changes Our Work, Our Lives, and Our Future (2009), John Blossom mengatakan “jika penonton mengirimkan informasi kepada sesama teman ketika ia duduk di depan televisi, hal itu menegaskan betapa kehadiran media sosial menjadi suara yang berpengaruh dalam event olahraga berskala nasional itu.”

Sekadar contoh konkrit, harian sohor The New York Times sampai-sampai menerbitkan peta menit demi menit kata-kata populer yang muncul dalam pesan pendek (SMS) yang dipancarkan melalui media sosial Twitter dari seluruh penjuru Amerika Serikat. Terpapar fakta bahwa disamping menonton siaran langsung lewat televisi, penonton juga tergerak menciptakan informasi, membaginya dengan orang lain, sehingga menambahkan suara mereka sendiri ke tengah gemuruh kerumunan penonton yang hadir langsung di stadion.

Ketika musikus rock Bruce Springsteen hadir di panggung mengisi saat jeda pertandingan, John Blossom menulis : “Di tengah kerumunan itu stadion riuh dihiasi pendar-pendar nyala layar telepon genggam mereka…Puluhan ribu warga biasa mengirimkan video, audio, foto dan pesan-pesan pendek kepada rekan-rekan mereka sebagai bagian integral peristiwa itu melalui sarana telepon genggamnya, yang menegaskan betapa penerbitan melalui media sosial telah menjadi bagian selebrasi diri kita sebagai umat manusia.”

Di tengah lanskap media yang berubah itu, hemat saya, tagline BOLA yang baru tersebut haruslah diberi konteks yang baru pula. Arena yang dimaksud bukan lagi berupa lokasi atau venues pertandingan semata, melainkan arena yang lebih besar lagi : arena di mana di mana semua pencinta olahraga dapat saling bersosialisasi.

Online dan offline.

Wartawan BOLA tidak lagi sekadar menjadi penjaga gawang informasi, melainkan sebagai sahabat yang sejajar untuk pembacanya. Pengalaman BOLA mampu bertahan selama 25 tahun dalam melayani pembacanya menjadi modal berharga untuk menjalin hubungan next level, yang semakin kaya makna untuk kemaslahatan bersama. Dirgahayu, BOLA !


Catatan : tulisan ini dengan penyuntingan telah dimuat di Tabloid BOLA No. 1912, 13 Maret 2009.

Wonogiri, 18/3/2009