Showing posts with label facebook. Show all posts
Showing posts with label facebook. Show all posts

Saturday, August 13, 2011

Sri Mulyani Indrawati Harus Menyeberang Jurang

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 116/Agustus 2011
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


Tanggal 14 Agustus 1998, Sri Mulyani Indrawati hadir di Solo sebagai pembicara utama dalam seminar ekonomi. Solo saat itu mencoba bangkit setelah huru-hara Mei 1998.

Seminar ekonomi yang diadakan oleh Forum Bisnis Surakarta (Forbis) itu juga didukung oleh PPK Bimo International, perusahaan mebel kayu milik pengusaha Jokowi, kini walikota Surakarta.

Ada momen yang menarik saat Jaya Suprana, sebagai moderator, memberikan pengantar diskusi yang berbau “nujum.” Ia katakan saat itu bahwa sosok Sri Mulyani Indrawati merupakan kandidat presiden Republik Indonesia masa depan.

Tiga belas tahun kemudian, rupanya “nujum” Mas Jaya itu terbukti. Minimal lanskap dunia politik Indonesia kini diramaikan dengan hadirnya partai baru, Partai SRI (Serikat Rakyat Independen) yang berproklamasi mengusung mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) terjun dalam kontes perebutan kursi RI-1 dalam Pilpres 2014 mendatang.

Elitis. Kehadiran Partai SRI dan misinya itu yang oleh koran Solopos ini diangkat sebagai “isu yang seksi,” jelas kemudian tidak sepi dari komentar. Yang menonjol adalah pendapat mengenai betapa beratnya perjuangan SMI untuk memenangi Pemilu 2014. Pendapat itu untuk menggarisbawahi realitas bahwa sosok SMI sulit dijual di kalangan bawah yang mayoritas pemilih.

Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta, Gun Gun Heryanto, seperti dikutip Kompas (8/8/2011) menegaskan figur SMI sebagai basis kekuatan utama SMI bersifat elitis, hanya dikenal di kalangan kelas menengah ke atas. Terutama kalangan terdidik seperti kaum intelektual, akademisi, mahasiswa dan aktivis LSM.

Diagram Kura Bell : Menyeberang Jurang Geoffrey A Moore

Merujuk analogi dari tesis konsultan pemasaran teknologi dari Lembah Silikon, Geoffrey A. Moore, kita dapat memperoleh gambaran yang menarik. Dalam buku terkenalnya, Crossing The Chasm : Marketing and Selling Technology Products to Mainstream Customers (1999), ia menggambarkan perilaku publik dalam mengonsumsi teknologi dalam bentuk kurva bel atau genta.

Pada sisi ekstrim kiri kurva, dikenal sedikit golongan yang ia sebut sebagai kelompok orang-orang yang memicu sebuah tren. Dalam kelompok ini tergabung para inovator dan pemakai awal (I-PA, innovators dan early adopters). Mereka adalah orang yang memiliki visi, mau membeli teknologi terbaru sebelum teknologi itu cukup sempurna, atau ketika harganya masih mahal.

Kelompok elit ini bersedia menanggung resiko. Orang-orang jenis ini memang kecanduan teknologi baru dan mau beresiko mengeluarkan uang untuk memiliki gadget teknologi informasi garda depan.

Pada sisi kurva ekstrim kanan, adalah kelompok terbelakang laggards) sebagai konsumen teknologi yang juga sedikit jumlahnya. Sementara itu kue paling besar adalah konsumen yang berada di tengah kurva genta, yang disebut sebagai mayoritas awal (MA, early majority) dan mayoritas terlambat (MT, late majority). Kelompok ini dia gambarkan sebagai mereka yang kuatir terhadap sesuatu perubahan yang mereka nilai akan merusak keseimbangan dalam tatanan kompleks yang sudah mapan dalam hidup mereka.

Moore menjelaskan bahwa perilaku kelompok inovator dan pemakai awal (I-PA) pada satu sisi dan kelompok mayoritas awal (MA) di sisi sebelah kanannya, walau berdekatan, tetapi sebenarnya saling tidak bersesesuaian. Akibatnya inovasi tidak berpindah begitu saja dari kelompok I-PA ke kelompok MA, karena di antara kedua kubu itu terdapat jurang (chasm) yang cukup lebar antara keduanya.

Apabila ada sebuah produk teknologi tinggi tidak berhasil menyebar keluar dari kelompok I-PA, hal itu terjadi karena perusahaan pembuatnya tidak menemukan cara untuk mengubah gagasan yang mudah diterima oleh I-PA untuk menjadi gagasan lain yang mudah diterima oleh anggota MA.

Media sosial. Sri Mulyani Indrawati yang kiranya dapat kita ibaratkan sebagai produk yang diterima oleh kelompok I-PA, tetapi seperti dikatakan oleh banyak pengamat diri dan partainya akan sulit diterima oleh kelompok mayoritas awal (MA) yang kuantitasnya jauh lebih besar. Apa solusinya ?

Kunci SRI dan SMI untuk menembus kelompok mayoritas awal (MA) itu kini sebenarnya telah tersedia. Yaitu media-media sosial, yang dapat hadir dalam beragam bentuk, misalnya milis, forum, blog, wiki, podcast, album foto dan video di Internet. Primadonanya saat ini adalah Facebook dan Twitter di mana profil Radio BBC tentang Indonesia terbaru memuat angka menarik. Penduduk Indonesia 232 juta. Pemakai Internet 30 juta. Pemakai Facebook : 37 juta. Pengguna Twitter : 5 juta. Pengguna Blackberry : 3 juta.


Lihatlah, partai-partai politik lalu tidak melewatkan untuk berusaha menubruknya. Misalnya strategi yang ditempuh Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sebagaimana dikutip situs Politikana.com (1/3/2011), dalam meraih ambisinya menjadi partai terbesar ke-3 dalam Pemilu 2014, PKS mewajibkan 500 ribu kadernya untuk memiliki akun Twitter, blog, Facebook, dan situs pribadi.

Tidak ketinggalan Partai Golkar. Masa depan sukses memenangkan pemilu kuncinya berada di Facebook dan Twitter. Demikian kata Sharif Cicip Sutarjo, Wakil Ketua Partai Golkar, sebagaimana dikutip situs The Jakarta Globe (25/7/2011). Ia tandaskan, Partai Golkar menargetkan minimal 60 juta suara dalam Pemilu 2014. Dengan memanfaatkan meda-media sosial, ia bahkan yakin akan mampu menarik lebih dari 100 juta pemilih.

Partai Golkar tidak main-main. Kini mereka sedang gencar menggembleng kadernya untuk terampil memanfaatkan Facebook dan Twitter, di mana ambisi ini kemudian menjadi bahan satir buku Komedikus Erektus 2 : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau (2011).

Diungkap bahwa ketika Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie membuka akun Twitter ia langsung memperoleh pengikut sebanyak 300 juta. Jumlahnya bahkan melebihi jumlah penduduk Indonesia. Tetapi jangan bangga dulu. Angka ini terdiri para korban, keluarga dan mereka yang menaruh simpati terhadap rakyat yang menderita akibat luapan lumpur panas Lapindo. Dari seluruh dunia !

geoffrey e moore,crossing the chasm,bambang haryanto,sri mulyani indrawati,pilpres 2014

Profil mayoritas pengguna media-media sosial itu adalah anak-anak muda. Dibanding para calon presiden lainnya seperti misalnya Aburizal Bakrie, Ani Yudhoyono, Jusuf Kalla, Wiranto, Prabowo Subianto, sosok Sri Mulyani Indrawati jelas tampil lebih fresh di antara yang lainnya dan lebih dekat kohornya dengan para pengguna media sosial di Indonesia tersebut.

Kini tinggal terpulang kepada para pendukungnya bagaimana agar keuntungan digital ini menjadi modal SMI dan SRI agar mampu bersama-sama meloncati jurang untuk meraih kemenangan fenomenal dalam Pilpres 2014 mendatang. Sekaligus membuktikan apakah ramalan seorang Jaya Suprana di Solo 13 tahun lalu itu akan menjadi kenyataan.

*Artikel ini dengan penyuntingan telah dimuat di harian Solopos, Sabtu, 13 Agustus 2011, Halaman 6.



Wonogiri, 14/8/2011

Thursday, July 21, 2011

Akrobat Anda Di Sirkus Bernama Facebook

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 115/Juli 2011
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia



Rapat kampung. Internet mungkin dapat diibaratkan sebagai arena pasar malam maha akbar. Semua orang, beragam bangsa, jenis kelamin sampai beragam usia, tumplek bleg menjadi satu dalam kemeriahan dunia maya yang mendunia.

Di pasar malam itu tersaji beragam stan. Situs Facebook kalau boleh saya umpamakan, merupakan stan sirkus. Arenanya tertutup dan pemilik akun adalah penjaga pintu masuknya. Seseorang yang diakui sebagai teman, dirinya ibarat memperoleh tiket untuk memasuki arena sirkus bersangkutan.

Siapa yang bermain di dalam tenda atau stan sirkus tersebut ? Di sana memang tidak ada gajah, macan, simpanse, juga tak ada badut-badut atau tukang sulap yang beraksi di dalamnya. Yang beraksi sebagai mereka adalah kita-kita semua ini. Karena dengan tampil di Facebook, idealnya kita selalu berikhtiar mampu menjamu atau menghibur teman-teman dunia maya kita dalam akun kita tersebut.

Ada tamsil lain bahwa Facebook sebagai media sosial senantiasa mensyaratkan agar kita berperangai seperti mengikuti rapat kampung. Kita keluar dari rumah dan dalam rapat kampung tersebut kita menfokuskan diri agar diri kita mampu memberikan kontribusi bagi warga lainnya.

Tetapi di Facebook, mudah dijumpai betapa tidak sedikit dari kita yang tidak mau keluar dari rumah. Dan juga tidak mau berhenti sejenak dari godaan nafsu untuk hanya menceritakan diri-diri kita sendiri. Ini agak ironi. Kita menggunakan media sosial tetapi perangai kita bukan sebagai makhluk sosial.

Anda masuk kasta mana ? Selain ditamsilkan sebagai pasar malam, dalam dunia Internet ternyata juga ada pembagian kasta yang menggelitik. Silakan ketik di mesin pencari Google “ebook linimas(s)a,” dan silakan baca ebook terbitan ICT Watch/Internet Sehat.

Kalau Anda sama sekali belum pernah (kebanyakan kita memang begitu) membaca-baca panduan sebagai bekal tampil Anda di ranah media-media sosial secara benar dan maksimal, maka sajian 16 tulisan menarik di dalamnya mengenai lanskap kontemporer pemanfaatan media sosial di Indonesia, wajib hukumnya untuk Anda baca.

Sementara untuk Anda yang ingin agak lebih canggih, di mana Internet merupakan media untuk mengekspresikan nama Anda sebagai merek diri Anda (“Mulai hari ini Anda adalah sebuah merek. Anda sama hebatnya dengan merek-merek seperti Nike, Coke atau Body Shop.”), simaklah ajaran Tom Peters dalam artikelnya berbahasa Inggris berjudul “The Brand Called You,” di majalah Fast Company, edisi Agutus/September 1997.

Artikel tersebut dalam bahasa Indonesia, “Merek Yang Bernama Anda” bersama 31 judul tulisan pilihan lainnya, telah tersaji dalam buku Fast Company’s Greatest Hits : Sepuluh Tahun Gagasan Paling Inovatif Dalam Dunia Bisnis (2008).

Pada pelbagai tinjauan di toko buku online, buku hebat setebal 411 halaman ini dijual antara 52 sampai 78 ribu. Anda dapat membeli dari saya Rp. 38.000,00. Ditambah ongkos kirim.

Untuk kepentingan obrolan kita kali ini, dari ebook linimas(s)a tadi, silakan buka artikel yang ditulis Nukman Luthfie dengan judul “Bermakna di lautan media sosial.” (Halaman 66). Merujuk hasil kajian dari Forester Research, ia telah memaparkan beragam golongan dalam tangga teknografi sosial.

Urutan dalam tangga tersebut, yang dimulai dari atas, tersaji golongan : Pekarya (creators). Perumpi atau Pengrumpi (conversationalists ), Pengritik (critics), Pengumpul (collectors ), Penggabung (joiners), Pengunjung (spectators ) dan Tidak Aktif (inactive ).

Ciri utama pekarya adalah : memiliki blog atau situs web pribadi yang rajin diperbarui serta membuat dan mengunggah audio atau video karyanya ke situs web (bisa YouTube misalnya). Khusus untuk Indonesia, mengingat beratnya mengunggah video dan audio, ciri ini bisa disederhanakan menjadi : memiliki blog dan rajin memperbaruinya.

Blogger memang tepat digolongkan sebagai pekarya. Mereka berkarya membuat tulisan, apapun kategorinya, ekonomi, bisnis, musik, hiburan, cerita. Apa pun juga bentuknya, bisa dalam bentuk teks, gambar, audio maupun video.

Pada anak tangga kedua hadir golongan pengrumpi. Mereka adalah para pengguna Facebook dan Twitter yang rajin menulis status. Mereka tidak memiliki blog, tapi rajin menulis, meski hanya 140 karakter di Twitter atau 420 karakter di Facebook, atau di media sosial lain seperti Linked-In atau bahkan Friendsters.

Meski bukan pekarya, mereka cukup banal dan cerewet. Apapun mereka tulis di status, mulai dari barang yang mereka konsumsi, diri sendiri, hingga urusan kantor, tak luput dari update di media sosial.

Menariknya, tulisan sebanyak 140 karakter (di Twitter), jika ditulis rutin, membawa pengaruh cukup besar. Sebuah tulisan di blog, dengan seribu karakter lebih, memang memiliki pengaruh besar terhadap pembacanya. Namun 140 karakter di Twitter dan Facebook juga punya pengaruh, jika diulang-ulang atau disebarkan oleh pengguna lainnya sehingga membentu viral.

Di bawah kedua tangga di atas, masih ada anak tangga lain, yang disebut sebagai pengritik. Mereka tak punya blog, tidak meng-update status di Twitter/Facebook, namun gemar mengomentari blog/tulisan orang lain.

Disusul di bawahnya, pengumpul (menggunakan RSS, memanfaatkan tag), penggabung (sekadar bergabung ke jejaring sosial), pengunjung (membaca-baca informasi di berbagai jejaring sosial tapi tak punya akun), dan Tidak Aktif (mereka yang tidak melakukan aktivitas apa pun).

Namun, menurut Nukman Luthfie, hanya dua segmen teratas, yakni pekarya dan pengrumpi, yang berperan besar dalam mempengaruhi publik/konsumen pada umumnya mengambil keputusan.

Oleh karena itu, nasehatnya, jika ingin membangun citra diri dan ingin hadir bermakna di media sosial, syarat utamanya adalah Anda harus berada di tangga teratas. Yakni memiliki blog atau situs web sendiri, yang rajin diperbarui isinya.

Lanjutnya : gunakan Facebook dan Twitter sebagai media untuk penyebarannya. Sekaligus untuk menjalin komunikasi cepat. Tepatnya, jadilah pekarya sekaligus pengrumpi !

Obrolan tingkat satu. Dalam Facebook sebenarnya juga terbuka lahan bagi kita untuk menjadi pekarya. Dengan menulis di catatan. Tetapi barangkali karena aura Facebook lebih condong sebagai arenanya kaum pengrumpi, kiranya itu yang membuat lalu lintas komentar untuk catatan sering tidak sesemarak ketika mengomentari status.

Yang pasti, walau semarak atau pun tidak semarak, namun isi-isi status dan komentar dalam Facebook kiranya dapat kita pilah-pilah. Menurut Lyman Steil, yang dikutip dalam bukunya Jeffrey P.Davidson, Blow Your Own Horn : How To Market Yourself and Your Career (1987), terdapat empat tingkat komunikasi.

Tingkat pertama, omongan basa-basi, percakapan informal. Tanda “jempol” dalam Facebook menyimbolkan hal ini pula. Kedua, curhat, mengeluarkan uneg-uneg. Ketiga, bertukar informasi. Dan yang keempat adalah persuasi.

Dalam Facebook, kiranya yang paling menonjol adalah komunikasi tingkat pertama dan kedua. Karena untuk tampil di saluran ini memang tidak dibutuhkan kerja keras, misalnya dituntut untuk belajar serius atau harus membaca-baca buku tertentu. Kemudahan ini membuat semua orang bisa terjun ke dalamnya dan boleh sebebasnya bermain akrobat di bawah tenda sirkus yang bernama Facebook.

Kini silakan Anda memilih.

Apakah Anda memang ingin dikenal oleh komunitas maya Anda, misalnya sebagai monyet julig, badut atau tukang sulap ? Kalau memang merek pribadi Anda yang seperti itu yang benar-benar Anda inginkan untuk bisa dikenal, dikenang dan rela Anda wariskan kepada peradaban dunia, maka kiranya sebagian besar dari Anda kini sudah melakukannya. Secara sempurna.


Wonogiri, 21/7/2011

Sunday, March 27, 2011

BIN Kita Yang Katrok ?

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 112/Maret 2011
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


Acara itu konon bertajuk "Recycle BIN."

Itulah acara televisi "Provocative Proactive" yang akan membincangkan keputusan BIN (Badan Intelijen Nasional) yang kontroversial.

Betapa lembaga yang dibiayai dengan pajak rakyat yang justru akan memata-matai isi komunikasi rakyat di media sosial, seperti Facebook dan Twitter.

Pilihan judul yang tepat. Karena alur pikiran BIN itu sebaiknya memang pantas masuk kotak sampah. Minimal bila dibandingkan dengan apa yang terjadi di Departemen Pertahanan Amerika Serikat.

Inilah potongan cerita dari Price Floyd dalam artikelnya berjudul "In defense of social media : How public and private sectors of DOD opened doors to the network" di The Washington Times (21/3/2011),yang bertutur bagaimana media sosial justru dimanfaatkan oleh Departemen Pertahanan AS secara produktif.

Salah satu manfaat terbesar dari media sosial,katanya, adalah peluang untuk merangkul kerjasama secara penuh dengan rakyat Amerika dalam membincangkan kebijakan dan sasaran. Sebagaimana dalam perusahaan swasta dan organisasi, sektor publik dapat secara aktif mendengar suara konstituen, bahkan pada banyak kasus, mengubah kebijakan berdasarkan umpan balik.

"Keberhasilan dalam melibatkan media sosial dalam pertahanan tidak terbatas pada sektor publik semata, cerita sukses yang sama juga melimpah di sektor-sektor swasta, utamanya pada perusahaan yang stafnya terpencar-pencar melalui jalur komunikasi "khusus" pada perusahaan bersangkutan."

"Media sosial, pada intinya, merupakan sarana komunikasi,pengembangan, kolaborasi dan keterbukaan. Bagian terbaik dari platform media sosial adalah betapa semua tenaga kerja AS telah mengambil peran dalam berkomunikasi dengan cara baru ini. Kami yang bergerak di bidang isdustri pertahanan mengejar ketertinggalan itu bersama para karyawan kami."

Tokoh yang menjadi inspirasi kebijakan diatas karena wawasannya mampu memahami manfaat platform media sosial sebagai sarana komunikasi secara langsung dan efektif dengan masyarakat adalah mantan rektor Texas A&M University dan kini menjabat sebagai menteri pertahanan AS.

Robert M. Gates.

Ayo bangun Mr. Bean, eh, Mr.BIN !


Wonogiri, 27/3/2011

Tuesday, July 20, 2010

Demokrasi, Facebook dan Eksistensi Maya Anda

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 100/Juli 2010
Email : epistopress@gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


"Seperti taman kanak-kanak."
Anda masih ingat julukan seperti itu yang dilontarkan oleh almarhum Gus Dur ketika menggambarkan profil dan perangai para wakil rakyat kita ?

"Demokrasi kita masih berumur 2-3 tahun."
Begitu kata begawan lingkungan hidup dan negarawan kita, Emil Salim.

Di buku saya yang akan segera terbit, Komedikus Erektus, sambil merujuk "huru-hara" para wakil rakyat kita ketika bersidang melakukan pemungutan suara terkait kasus skandal Bank Century yang kini sayup-sayup telah kita lupakan (?), saya menuliskan pendapat : mereka berhura-hura itu sebagai kompensasi karena mereka hanya memiliki penis yang kecil-kecil belaka.

Sumber rujukan :
ucapan Gus Dur di atas.

Sumber segala kegaduhan seperti di atas itu, oleh "nabi" media digital dari MIT, Nicholas Negroponte, penulis buku Being Digital (1995) (foto), disebutnya karena kita masih dalam situasi eforia dalam mengelola kondisi-kondisi baru. Ketika terbebas dari cengkeraman rejim Soeharto dan Orde Barunya yang represif, kita mabuk untuk melakukan pesta pora. Mabuk demo, gugat-menggugat, aksi teror untuk mengancam pejuang demokrasi, bahkan termasuk pesta pora dalam melakukan korupsi pula !

Mabuk tombol. Nicholas Negroponte, punya tamsil jitu untuk itu. Fenomena eforia atau bahkan mabuk kita saat ini ibarat kita ketika memiliki sebuah kamera handycam yang baru. Karena kegirangan, semua tombol akan kita eksploitasi. Semua gerakan kamera dan teknik syuting dipakai sekaligus. Saat ditayangkan, walhasil, gambarnya jelas membikin pusing penontonnya.

Dengan berjalannya waktu, ketika penguasaan terhadap beragam tombol dan teknik penggunaan kamera itu sudah memadai, maka hasil syutingnya menjadi tidak memusingkan lagi. Kehidupan demokrasi di negara kita akan seperti itu juga kiranya.

Eforia a la pemakaian kamera handycam itu juga berlaku dan marak di dunia jaringan sosial, Facebook. Banyak dari kita yang selama ini belum terbiasa, atau belum memiliki tradisi kokoh dalam mengungkapkan pikiran atau berekspresi dengan kata-kata melalui media, tiba-tiba terbuka peluang untuk hal itu.

Hasilnya ?
Silakan Anda sendiri yang menilainya.

Halaman Facebook memang kuat menggoda kita untuk menjadi selfish, ketika menulis tentang apa saja. Apalagi tulisan-tulisan status yang engga usah mikir pun bisa. Godaan serupa juga pernah saya alami sebagai kaum epistoholik, kaum pemabuk dalam kiprah penulisan surat-surat pembaca di media massa. Kaum epistoholik terbiasa tergoda untuk mengomentari segala hal. Menulis topik segala hal.

Nasehat David Parrish. Memang itu bukan penyakit yang berbahaya. Tetapi dalam bingkai terkait ciri wanci, identitas, jati diri, atau kerennya personal brand, pilihan menjadi makhluk renaisans yang memiliki beragam minat dan keahlian di era melimpahruahnya informasi ini jelas merupakan suatu kemustahilan.

Menurut Henri Jenkins, salah satu pendiri Comparative Media Studies Program di Massachusetts Institute of Technology, dalam artikelnya "The Future of Teenagers: My Interview in O Globo" (14/6/2010), kita kini tercebur dalam era intelijen kolektif, sebuah dunia di mana tidak ada seorang pun mengetahui segala hal. Sehingga apa yang diketahui oleh seseorang harus dibagikan kepada kelompok yang membutuhkannya.

Henri Jenkins berpendapat bahwa anak-anak muda masa kini dituntut belajar untuk mengetahui keahlian masing-masing dari teman mereka, juga orang lain dalam jaringan mereka, untuk belajar bekerja sama guna menyelesaikan masalah kompleks yang tidak mampu mereka pecahkan secara sendirian. Hal itu juga berlaku dalam dunia pekerjaan, juga dalam kehidupan bermasyarakat.

Berekspresi dalam berbagai topik di media maya, juga di Facebook, bila menurut pakar ekonomi kreatif dari Inggris, David Parrish, ibarat kita seorang diri yang menerjunkan diri dalam pelbagai fron sekaligus. Dalam satu waktu kita memilih untuk memiliki banyak musuh. Banyak kompetitor. Tidak kita sadari, pilihan ini merupakan salah satu penyebab kegagalan.

Nasehat David Parrish : "Semakin Anda terspesialisasi, semakin sedikit kompetitor nyata Anda. Memang benar, pangsa pasar Anda akan menjadi mengecil juga, tetapi demikian pula jumlah pemasoknya. Lebih baik menjadi ikan yang terbesar, walau pun kolamnya lebih kecil."

Terima kasih, Henry Jenkins.
Terima kasih, David Parrish.

Blog spesialis. Masih berat juga bagi saya untuk saat ini secara ketat mengikuti nasehat keduanya. Tetapi saya memiliki solusi sendiri. Di Facebook dan kolom-kolom surat pembaca, saya akan tetap menulis tentang segala hal. Tetapi tulisan yang sama juga akan saya pilah-pilah untuk dipajang pada blog yang khusus topiknya.

Sejauh ini, sepertinya, tidak jelek-jelek amat hasilnya. Sebagai perbandingan, di Facebook sebagai ranah maya the walled garden di mana tercatat data sekitar 400-an orang bernama "Bambang Haryanto," hal itu membuat saya tersesat. Justru dalam fasilitas "Search" saya dan teman-teman rasanya kesulitan menemukan akun diri saya di Facebook, walau saya sudah menulis 100 catatan di sana ! Tetapi syukurlah, Google masih berbaik hati dalam menampilkan eksistensi diri saya di antara nama yang sama pada kiprah di pelataran dunia maya lainnya.

Dampak baiknya, sebagai contoh, blog komedi saya, Insya Allah, akan menjadi buku. Blog suporter sepak bola saya beberapa kali menjadi rujukan media, juga menghasilkan naskah buku Hari-Hari Sepak Bola Indonesia Mati yang saya tulis tahun 2003-2004 yang lewat.

Blog tentang keluarga besar saya, Trah Martowirono, pernah diliput di harian Solopos (16/6/2007), lucu juga, mampu mengenalkan kami dengan pemilik keturunan Martowirono yang tersebar di Amerika Serikat, Suriname, Belanda dan Irlandia. Walau ternyata kami hanya memiliki kesamaan nama untuk nenek moyang kita belaka, tetapi toh hubungan antarkita yang antarbenua itu tetap baik adanya.

Sedang blog penulisan surat pembaca rupanya membuat LSM Combine dari Yogyakarta tergelitik untuk mengundang saya dalam acara mereka akhir bulan Juli 2010 ini. Acara mereka itu disebut Jagongan Media Rakyat 2010, di Jogja National Museum, 22-25 Juli 2010. Rinciannya adalah sebuah perhelatan akbar 4 hari, persembahan dari 40 komunitas, menggelar 40 pelatihan/diskusi, 40 stand, dimeriahkan 40 pertunjukan, dan dihadiri lebih dari 4.000 pengunjung.

Saya kebagian untuk bercerita tentang kiprah kaum epistoholik dalam workshop: "Memindahkan" Himalaya Melalui Surat Pembaca. Waktunya : Jumat, 23 Juli 2010, Jam 19.30 - 21.00.

Teman-teman saya di Yogya dan sekitarnya, bisakah kita ketemuan di sana ?


Wonogiri, 20 Juli 2010


ee

Friday, November 06, 2009

Facebook, Surat Keong dan Blunder Presiden SBY

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 87/November 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia


Déjà vu, 1998. “Untuk pribadi yang memiliki naluri luar biasa dalam mengeksploitasi kekurangan fihak lain, secara mengejutkan ternyata Suharto terbukti tidak mampu mencermati kekurangan yang terdapat dalam dirinya sendiri. Barangkali karena ia terpancang pada masa lalu.”

Itulah awal tulisan Tim Healy berjudul “Kings Don’t Fall Lightly” di majalah AsiaWeek, 5 Juni 1998. Majalah itu memuat laporan utamanya mengenai kejatuhan rezim Suharto ketika diterjang badai reformasi dan naiknya Habibie, yang digugat dalam sampulnya berbunyi : Presiden atau Pion ?

“Momen itu pasti mengejutkannya. Setelah kembali dari sebuah konferensi di Mesir dan mendapati Indonesia dicekam aksi kerusuhan, Suharto mencoba memulihkan kembali kekuasaannya. Tetapi segera saja ia mendapati dirinya dalam posisi yang aneh : dirinya hanyalah sosok pion dalam permainan kekuasaan di antara fihak lainnya dibanding sebagai seorang ahli strategi,” lanjut Tim Healy.

Gambaran betapa seorang presiden dapat diibaratkan sebagai sosok “bebek lumpuh” di tahun 1998 itu sepertinya berulang kembali pada awal November 2009 ini. Kali ini menimpa Presiden SBY yang baru terpilih. Ketika menanggapi tindakan polisi yang menahan Wakil Ketua KPK (nonaktif) Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah, dalam jumpa pers Jumat malam (30/10/2009), nampak SBY seperti kehilangan kontak dengan realitas. Ia hadir seperti makhluk asing di tengah lautan nurani keadilan publik bangsa ini yang terkoyak.

Saat itu SBY secara normatif mengatakan bahwa penahanan kedua petinggi KPK itu merupakan hal yang biasa. Ada ratusan dan ribuah kejadian yang sama telah terjadi, begitu simpul SBY. Di bagian lain ia malah condong mengecam aksi penyadapan yang legal dilakukan oleh KPK sembari menguatirkan betapa aksi serupa akan dilakukan oleh orang-orang yang mampu membeli peralatan yang sama sehingga terjadi “lautan aksi penyadapan,” ujar SBY seperti dilanda paranoia.

Meledak di Dunia Maya. Pendekatan normatif model SBY itu, esok harinya, menuai badai. Kemarahan rakyat atas tindakan polisi yang dinilai sewenang-wenang dengan menahan Bibit dan Chandra tidak mampu ditentramkan dengan pernyataan presiden itu. Akhirnya kegusaran itu antara lain juga meledak beramuniskan media jaringan sosial Facebook di dunia maya.

Ujudnya berupa gerakan solidaritas, cause, perjuangan, untuk mendukung Bibit dan Chandra dalam memperoleh keadilan. Para facebookers ini mewakili sebagian suara rakyat. Siapa sesungguhnya di balik ”gerakan” ini? ”Saya rakyat biasa yang marah dengan kemungkaran di negeri ini,” kata Usman Yasin, yang membuat dan menjadi pengelola ”Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Rianto”.

Usman Yasin adalah dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jambi yang juga mahasiswa program doktor di Institut Pertanian Bogor. Kamis siang itu dia baru saja mengikuti ujian doktoral.

”Saya menyalakan televisi untuk melepas lelah setelah ujian. Namun, saya justru melihat berita Pak Bibit dan Chandra ditahan. Hati saya tak tahan lagi dengan ulah lembaga penegak hukum. Saya pikir mereka sewenang-wenang,” katanya.

Lalu, secara spontan, Usman Yasin pun membuat akun gerakan dukungan di jejaring sosial Facebook. ”Saya bukan anggota partai, juga bukan politisi. Saya juga tidak kenal dengan Pak Bibit dan Chandra, tetapi hati saya mengatakan mereka berani dan benar,” ujarnya lagi.

Tanggal (2/11/2009), sekitar jam 10-an, saya berbulat hati untuk ikut berbaris dalam akun cause, perjuangan, di situs jejaring sosial Facebook itu. Saya merasa punya makna sebagai warga negara ketika terjun di tengah gelegak gerakan moral di dunia maya tersebut. Saat itu saya menemukan logo parodi KPK (foto) karya sahabat seaspirasi di Facebook tersebut dan kini telah menghias kaos kebanggaan saya.

Sebelumnya, dalam menyikapi kemelut KPK vs Polri itu saya telah menulis di blog saya, The Funny Business, sebuah fake news a la Andy Borowitz. Saya ceritakan bahwa asal muasal ricuh itu dipicu oleh keberadaan telepon genggam cerdas baru Breakberry buatan Cayman Island. Anda dapat juga menyimak tulisan berjudul KPK, Polisi dan Goyang Buaya dalam blog yang sama.

Selebihnya, saya bangga bisa masuk dalam barisan cause di Facebook itu, walau mungkin saya berada pada nomor sekitar 321.380. Tak apa. Malamnya, sekitar jam 21-an, dukungan itu sudah mencapai angka 423 ribuan. Saat ini (7/11/2009, Jam 11.40) dukungan itu sudah mencapai angka :1.016.038. Rekor satu juta telah terpecahkan !

Blunder SBY Berlanjut. Angka itu bagi SBY dan para menterinya mungkin hanya dianggap hanya sebagai angka yang tak punya makna apa-apa. Setelah meraih kemenangan yang fenomenal dalam Pilpres 2009, setelah merasa mampu berbuat adil dalam membagi-bagi kue kekuasaan kepada partai koalisinya, ketika merasa oposisi mungkin ia nilai tak punya gigi, SBY seperti terbuai dalam menikmati zona nyaman dalam masa bulan madunya itu.

Tetapi ia lupa. Seperti kata Tjipta Lesmana sebagaimana dikutip BBC (31/10/2009) bahwa penahanan Bibit dan Chandra itu menyangkut the biggest human virtue, yaitu rasa keadilan, keadilan dan keadilan pada diri rakyat, membuat pendekatan normatif a la SBY, seperti dilakukan saat Suharto dilanda krisis, yaitu semata mengandalkan masa lalu itu tidak manjur lagi.

Walau sebenarnya masa lalu itu hanya beberapa bulan yang lewat, tetapi di mata rakyat langkah semacam itu akan dinilai sebagai suatu pencederaan. Sehingga dikuatirkan hanya mendorong dirinya menuju tepian jurang. Jurang krisis kepercayaan !

“Tidak ada satu pun kekuasaan yang mampu bertahan melawan gerakan dan suara masyarakat. Mereka akan terlindas,” tegas Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, setelah memperdengarkan rekaman hasil penyadapan KPK di lembaganya itu. SBY kini tinggal menyandarkan efektivitas pemerintahannya kepada hasil kerja Tim 8 di bawah pimpinan Adnan Buyung Nasution. Mereka merupakan bemper presiden kita.

Tetapi toh blunder SBY itu berlanjut. Untuk itu saya telah mengirimkan surat pembaca ke harian Suara Merdeka, 6 November 2009, sebagai berikut :

SBY, PO Box vs Facebook

Fisiknya lumpuh, tetapi isi surat pembacanya senantiasa jernih dan tajam. Mantan agen koran yang sudah berhaji itu bahkan ingin menyumbangkan gagasan tentang bagaimana republik ini dijalankan secara langsung ke SBY. Untuk itu ia juga ingin suratnya memperoleh balasan secara langsung pula dari presiden. Tetapi si penulis surat itu harus kecewa. Jawaban normatif yang ia terima berupa surat dari kantor kepresidenan, tidak membuatnya puas. Surat dari kantor presiden itu kemudian ia kembalikan, ia kirim balik ke Jakarta.

Penulis surat itu adalah Bapak H. Erlangga Chandra dari Banyudono, Boyolali. Keluh-kesah beliau itu disiarkan oleh jaringan Radio 68 H (6/11/2006) se-Indonesia. Nara sumber lainnya adalah Dr. F. Pudiyanto Suradibroto (Jakarta), FX Triyas Hadi Prihantoro (Solo), Soeroyo (Solo) dan saya sendiri dari Wonogiri. Siaran khusus itu, diputar ulang 11/11/2006, memang membedah mengenai krida para penulis surat pembaca yang tergabung dalam komunitas Epistoholik Indonesia (EI).

Spirit seorang warga negara yang bergairah ingin menyumbangkan gagasan tetapi harus menelan kecewa, seperti dicontohkan Bapak Erlangga Chandra itu, sepertinya harus terulang kembali tepat tiga tahun di bulan November ini pula.

Di tengah tekanan masyarakat terkait kasus kriminalisasi dua pimpinan non-aktif KPK yang patut diduga dilakukan komplotan terdiri cukong dan oknum-oknum penegak hukum yang busuk, Presiden SBY meluncurkan program kerja 100 hari pemerintahannya. Program pertama yang ia sebut adalah upaya memberantas, mengganyang mafia hukum. Untuk itu SBY menyediakan fasilitas Kotakpos 9949 Jakarta 10000, guna menampung surat-surat keluhan dan aduan dari masyarakat.

SBY adalah seorang doktor, dan disekelilingnya juga banyak para cerdik pandai. Tetapi di era Internet ini, di kala keputusannya harus senantiasa tepat dan cepat, manajemen komunikasinya nampak dieksekusi sebagai orang yang berasal dari jaman baheula.

Ketika gelora gerakan anti kriminalisasi KPK yang digalang warga negara Indonesia bermediakan jaringan sosial seperti Facebook dimana tiap hari bertambah ratusan ribu pendukungnya, SBY hanya mampu merespons gelombang tuntutan dahsyat itu dengan membuka kotak pos. Tak ubahnya mengulang trik untuk meredam frustrasi rakyat a la era Orde Baru.

Ia hanya nampak bersedia menerima surat-surat kertas yang di era digital ini disebut dengan ejekan sebagai snail mail, surat keong, karena lambannya. Sebagai ilustrasi, bila surat semacam itu saya kirim dari Wonogiri, mungkin baru akan sampai di Jakarta 2-3 hari kemudian. Memakan waktu 172800-259200 detik. Kalau dikirimkan lewat email, hanya butuh waktu sekitar 15-30 detik. Bayangkan perbedaanya !

Belajarlah sedikit dari Obama, yang tak pernah lepas dari telepon genggamnya, sehingga ia mengetahui denyut nadi dan suara rakyat yang diperintahnya. Setiap saat. Saran usil saya : bukalah akun Facebook, Pak SBY. Lalu pertama-tama, bergabunglah bersama kami dalam barisan yang membela keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Maaf, dalam situasi genting di mana rasa ketidakpercayaan rakyat terhadap penegak hukum sedemikian anjlok saat ini, rakyat Indonesia menunggu : kini Anda harus tampil tegas, sebenarnya Anda sekarang berada di fihak yang mana ?


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia


Wonogiri, 7/11/2009

ee

Sunday, June 21, 2009

Solo Batik Carnival dan Publikasi Dunia Maya

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 76/Juni 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia


Pebisnis batik Solo, pelajari fenomena kasus Prita Mulyasari. Satu email curhat-nya atas layanan RS Rumah Sakit Internasional Omni, membuat ia ditahan selama 20 hari.

Tetapi segera kasus kontroversial yang menyinggung rasa keadilan itu memicu gelombang protes yang dahsyat. Semula hanya berupa bisik-bisik di dunia maya, tetapi akhirnya menggelembung, hingga mampu menghasilkan efek publikasi yang luar biasa.

Ribuan orang menulis di blog, bertukar komentar di forum, milis, dan bahkan ratusan ribu orang sengaja bergabung dalam cause di Facebook untuk menuntut pembebasan Prita. Ibaratnya mereka berdemo dan ber-gethok tular di dunia maya yang akhirnya mendorong kasus tersebut dapat dibedah dan diletakkan dalam proporsinya.

Kasus Prita vs Omni di atas menunjukkan kedahsyatan media sosial, yang dapat hadir dalam beragam bentuk, misalnya milis, forum, blog, wiki, podcast, album foto dan video di Internet. Media sosial berbeda dibanding media industri seperti surat kabar, televisi dan film.

Kalau media industri membutuhkan biaya besar dan sumber daya mahal untuk menerbitkan informasi, media sosial menyediakan sarana murah bagi setiap orang untuk menjadi produser informasi.

Fenomena ini membalikkan konsep media massa menjadi menciptakan media untuk massa. Setiap orang kini dengan bersenjatakan sarana penerbitan berbasis web yang murah, mudah dikelola, dengan koneksi yang selalu tersambung dan semakin canggihnya sarana komunikasi bergerak, mendaulat mereka menjadi partisipan yang aktif dalam menciptakan berita atau informasi, sekaligus berperan dalam penyebarannya.

sbc,solopos,bambang haryanto,media sosial

Warga terlibat. Merujuk kepada kemampuan media sosial tersebut, pebisnis batik Solo, Pemkot Solo dan semua pemangku kepentingan terkait penyelenggaraan acara tahunan Solo Batik Carnival (SBC) yang tahun ini akan digelar 26-28 Juni 2009, kini saatnya membuat terobosan baru.

Yaitu secara terencana sengaja melibatkan warga untuk menjadi corong suara ke persada dunia dengan memanfaatkan media-media sosial yang ada. Aktivitas SBC kemudian tidak hanya terpusat kepada persiapan bagi peserta arak-arakannya semata.

Melainkan harus juga menjangkau kepada warga yang dimotivasi sampai dilatih secara cerdas untuk tampil menjadi penerbit informasi di dunia maya tentang semua aspek SBC yang terjadi.

Untuk aksi satu ini kita dapat meneladani langkah yang ditempuh oleh UNS Sebelas Maret. Ketika cita-cita UNS ingin masuk dalam jajaran universitas kelas dunia, yang antara lain dinilai dari frekuensi dan akumulasi penerbitan sivitas akademikanya di dunia maya yang tercatat dalam mesin pencari Google, UNS telah memacu seluruh warganya untuk menjadi blogger, alias menjadi penerbit di dunia maya.

Terus berdengung. Para pemangku kepentingan terkait SBC harus melakukan strategi serupa. Bahkan gerakan memobilisasi publikasi itu harus dilakukan secara sinambung. Sebelum, selama dan sesudah peristiwa budaya tersebut paripurna dilaksanakan. Sehingga peristiwa ini selalu menjadi buzz, berdengung senantiasa di dunia maya.

Ketika karnaval SBC berjalan, saya membayangkan kejadian menakjubkan seperti dikisahkan oleh ahli strategi Internet, John Blossom, asal AS. Dalam situs yang menyertai penerbitan bukunya, Content Nation : Surviving and Thriving as Social Media Changes Our Work, Our Lives, and Our Future (2009), ia bercerita tentang suasana peristiwa olah raga terakbar di Amerika Serikat, yaitu final kejuaraan Super Bowl XLIII awal Februari 2009 yang lalu.

Kiprah ribuan penonton yang sekaligus “wartawan” itu, dengan bersenjatakan media jaringan sosial Facebook dan microblogging Twitter, menjadi fenomenal adanya.

John Blossom menulis : “Di tengah kerumunan itu stadion riuh berhias pendar-pendar nyala layar telepon genggam. Puluhan ribu warga biasa mengirimkan video, audio, foto dan pesan-pesan pendek kepada rekan-rekan mereka sebagai bagian integral peristiwa itu melalui sarana telepon genggam mereka. (Fenomena ini) menegaskan betapa penerbitan melalui media sosial telah menjadi bagian dari selebrasi diri kita sebagai umat manusia.”

Solo Batik Carnival pasti juga merupakan bagian dari selebrasi warga Solo atas batik sebagai karya kebanggaan budaya mereka. Saya memimpikan dan membayangkan betapa dahsyat bila rasa bangga itu, baik sebagai pelaku sampai sebagai saksi dari arak-arakan megah yang mempertontonkan karya kreatif dalam karnaval SBC itu, dapat secara masif mereka ceritakan secara bersama-sama kepada dunia.

Tujuan akhirnya : Solo yang lebih kuncoro bukankah mampu mendatangkan maslahat bagi seluruh warganya ?


[Catatan : Tulisan ini dengan penyuntingan oleh redaksi telah dimuat di Harian Solopos, Senin, 22 Juni 2009].


Wonogiri, 20-22 Juni 2009

ee

Friday, April 17, 2009

Facebook : Meraba Teman Dalam Kegelapan

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 71/April 2009
Email : humor liner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Anjing Obama. The Beatles punya “With a Little Help From My Friends.” Dionne Warwick menyenandungkan suara indahnya, “In good times and bad times / I'll be on your side forever more /That's what friends are for.”

Sementara James Taylor yang lagu-lagunya dominan berwarna kelabu, putus asa dan kesepian, mengandalkan persahabatan para teman agar mampu bangkit dari keterpurukan : “Winter, spring, summer, or fall /all you've got to do is call/and I'll be there, yeah yeah yeah/you've got a friend.”

Semua lagu-lagu menawan itu bicara mengenai makna teman. Manusia sebagai makhluk sosial butuh teman. Dan konon, teman manusia yang paling setia, paling jujur, karena dirinya tidak memandang harta, status atau kecantikan, kualitas semacam itu hanya terdapat pada sosok seekor anjing.

Bicara tentang anjing, Anda kenal Bo ? Itulah anjing air Portugis yang baru-baru saja ini dimiliki keluarga orang nomor satu di AS, Barack Obama. Memiliki anjing memang menjadi salah satu janji kampanyenya, untuk putrinya Sasha dan Malia. Ketika dijamu komedian Jay Leno (19/3/2009), Obama mengatakan : ”Listen, this is Washington, that was a campaign promise… I think I'm going to have a lot of fun with it. You know, they say if you want a friend in Washington, get a dog.”

Lelucon cerdas, Mr. Obama. Langsung saja si Bo itu menjadi bulan-bulanan komedian negeri Paman Sam yang lidahnya tajam-tajam. Inilah cuap-cuap Jay Leno : “Benar-benar hal ini menjadi tradisi keluarga presiden kita. Semua mereka memiliki anjing keluarga. Keluarga Obama punya anjing yang diberi nama Bo. Keluarga Bush memiliki Barney. Keluarga Clinton juga memiliki, tentu saja, namanya Bill.”

"Bo hadir tepat waktu, sebab anak-anak Obama, Sasha dan Malia merasa kecapekan melempar-lemparkan cakram frisbee kearah Joe Biden,” celetuk komedian Jimmy Fallon.

Bayangkan bila lelucon semacam di atas diluncurkan di Indonesia.Pasti Jay Leno dan Jimmy Falon terancam masuk penjara. Dengan tuduhan melakukan pencemaran nama baik. Moga Anda masih ingat, majalah Tempo memperoleh gugatan serupa dari seorang menteri yang mungkin menggemari dan mempercayai cerita film The Omen. Ia menggugat Tempo karena foto dirinya di sampul majalah yang berupa mosaik angka-angka itu mengandung angka “666.” Dalam film The Omen angka itu diartikan sebagai simbol setan. Di Solo, angka itu sebagai merek teh !

Cerita anjing juga bisa terkait dengan koran. Apalagi anjing sering disuruh tuannya untuk mengambilkan koran di pagi hari. Dalam konteks ini, Bo bakal mengalami kesulitan. Pasalnya, kalau Anda wartawan Indonesia, silakan dulu melongoki situs Newspaper Death Watch : Chronicling the Decline of Newspapers and the Rebirth of Journalism.

Anda akan menemui daftar koran-koran di AS yang baru-baru saja ini berhenti terbit. Rocky Mountain News, Baltimore Examiner, Kentucky Post, Cincinnati Post, King County Journal, Union City Register-Tribune, Halifax Daily News, Albuquerque Tribune, South Idaho Press, San Juan Star dan masih banyak lagi yang berganti terbit sebagai edisi online semata..

Anjing Bo dan bertumbangannya koran-koran itu juga menjadi bahan lelucon. Kembali Jay Leno ngocol : “Hal paling sulit (bagi Obama) saat ini adalah bagaimana melatih anjing tersebut agar tiap pagi mampu membawakan koran untuknya ketika Bo kesulitan menemukan penerbit koran yang masih operasional.”


Kuatnya hubungan terlemah. Sudahlah. Mari lupakan koran-koran itu. Lupakan juga si Bo. Kembali kita mengobrolkan masalah utama kita : teman. Semoga Anda masih ingat (kalau Anda membaca di My Notes dalam Facebook saya), dalam postingan yang lalu, berjudul “Facebook, Putri Solo dan Malcolm Gladwell,” saya sempat menceritakan adanya teman, friend, dan juga acquaintance, kenalan, dalam lingkaran pertemanan dalam akun Facebook kita. Mana dari keduanya yang lebih mampu memberi manfaat bagi kehidupan sosial kita ?

Mungkin secara naluriah kita akan segera menyebutkan teman. Tetapi jangan remehkan kenalan. Malcolm Gladwell dalam The Tipping Point : How Little Things Can Make a Big Difference (2000), memajang cerita yang menarik tentang kenalan. Ia mengutip hasil kajian sosiolog Mark Gravonetter (1974) yang menyimpulkan bahwa, “orang tidak mendapatkan pekerjaan melalui teman. Mereka mendapatkan pekerjaan melalui kenalan.”

Mengapa begitu ? Gravonetter berpendapat bahwa ketika seseorang perlu mencari tahu tentang pekerjaan baru, atau dalam hal ini juga informasi atau gagasan-gagasan baru, koneksi lemah selalu lebih penting daripada koneksi kuat. Kenalan lebih unggul dibanding teman.

Bagaimana pun juga, teman-teman kita, koneksi kuat kita itu, adalah orang-orang yang sedunia dengan kita. Mereka mungkin sepekerjaan dengan kita, tinggal dekat kita, pergi ke tempat ibadah yang sama, belajar di sekolah yang sama, atau bergabung dengan kelompok pesta yang sama. Maka berapa banyak pengetahuan mereka yang belum kita ketahui ?

Sebaliknya, seorang kenalan, sesuai definisinya berada di dunia yang sangat berbeda dari dunia kita. Mereka mungkin sekali tahu lebih banyak tentang sesuatu yang belum kita ketahui. Para kenalan itu lebih berpeluang memiliki “suara-suara baru” yang kita perlukan. Hal serupa juga berlaku bagi perusahaan.

Gary Hamel dalam artikelnya di majalah Fortune, “Reinvent Your Company : 10 Rules for Making Billion-Dollars Business Ideas Bubble Up from Below” (12/6/2000), dalam hukum nomor ke-4 ia menandaskan pentingnya perusahaan membuka lebar-lebar telinganya guna mendengarkan suara-suara baru itu. Anda harus mencamkan, betapa ide-ide bisnis baru itu bernilai milyaran dollar dan suara-suara baru tersebut utamanya berasal dari anak-anak muda. Tepatnya, mereka yang memiliki perspektif anak muda.

Kemudian, menurut Hamel, juga suara-suara yang diunduh dari tepian peta geografis perusahaan. Kapasitas untuk hadirnya inovasi radikal meningkat sejalan dengan semakin jauhnya suara-suara baru itu dari kantor pusat perusahaan. Orang-orang dari pinggiran itu (dalam The Power of the Marginal, Paul Graham menyebut pelopor Apple Computers, yaitu Steve Jobs dan Steve Wozniak, juga sebagai kaum pinggiran) umumnya memiliki sumber daya terbatas, sehingga mereka dipaksa untuk bertindak kreatif.

Saya punya sedikit cerita pribadi. Gara-gara menulis surat pembaca, saya pernah diundang oleh pimpinan puncak kelompok media di Jawa Tengah. Ia mengeluh, ide dari anak buahnya untuk pengembangan masa depan medianya hanya normatif-normatif saja. Ia menginginkan ide dari luar kotak. Setelah menderetkan hasil kajian dari Nielsen mengenai makin merosotnya koran bagi pembaca muda, naiknya pamor Internet dan juga televisi, ia meminta pendapat saya.

Dengan membawa contoh koran The London Lite dan The London Paper (“makasih Niz, untuk oleh-olehmu ini”), saya mengusulkan agar perusahaannya menerbitkan koran secara gratisan seperti kedua koran negerinya Pangeran Charles itu. Well, sebelum berkicau mengenai segi-segi positif ikhtiar ini, rupanya diskusi harus diakhiri. Suara “the power of the marginal” dari Wonogiri sudah harus dihentikan di sini.

Kedahsyatan dari paradoks semacam ini, yaitu potensi dibalik kenalan dan suara-suara dari pinggiran dalam memacu inovasi baru, membuat Gravonetter melontarkan sebuah ungkapan yang menurut Malcolm Gladwell disebutnya bagus sekali : kekuatan di balik koneksi lemah, strength of weak ties. Pendek kata, ujarnya, kenalan, hubungan terlemah itu, justru sebagai sumber kekuatan sosial, sehingga makin banyak kenalan kita, makin besar kekuatan atau kekuasaan kita.


Teman dalam kegelapan. Kenalan ternyata sangat-sangat penting. Selamat untuk Anda yang memiliki banyak kenalan di Facebook Anda. Tetapi ngomong-ngomong, seberapa dekat Anda telah merasa mengenal kenalan-kenalan itu sampai saat ini ? Seberapa intensif dan maksimal diri Anda dalam memelihara per-kenalan-an ini ?

Jangan-jangan Anda bahkan tidak pernah melihat-lihat data profil mereka. Anda pun barangkali sudah merasa cukup hanya mengenal nama mereka, yang satu atau dua kali menulis komentar di wall Anda, dan sesudahnya Anda tidak merasa perlu mengenal lebih dekat mereka lagi ? Jangan-jangan, angka puluhan, ratusan dan bahkan ribuan nama yang terjalin dalam lingkaran pertemanan Facebook Anda itu bukan sebagai sesuatu yang penting dan punya arti untuk digali. Semua itu hanya statistik dan bukan mewakili sosok-sosok pribadi yang unik.

Saya belum pernah membaca cerita tentang hal ini di Facebook.

Mungkin karena saya masih sebagai warga baru. Saya baru bergabung dalam Facebook sejak 19 Juli 2008. Jadi mungkin terlalu dini dan terlalu ambisius bila saya mengharapkan pendapatnya Mark Gravonetter dan Gary Hamel di atas, dalam upaya menukarkan, menyemaikan dan atau memperoleh gagasan-gagasan baru, akan segera menjadi kenyataan dalam hidup saya.

Dalam beberapa obrolan, sesuatu yang bagi saya serius, ternyata ketika selesai digurat di dinding Facebook hanya bernasib seperti kapur barus. Wanginya cepat menguap habis tergerus angin lalu. Kata-kata mudah segera tidak memiliki makna.

Baiklah. Mungkin dalam menjalin pertemanan yang lebih serasi dan khas dalam konstelasi Facebook saat ini saya sebaiknya justru harus mengikuti ujaran esais dan novelis kelahiran Skotlandia, Norman Douglas (1868–1952). Saya memaknainya sebagai situasi pertemanan dalam kegelapan. Ia berkata :

To find a friend one must close one eye.
To keep him—two.


Wonogiri, 16-17/4/2009

Tuesday, March 17, 2009

Media Sosial dan Masa Depan BOLA

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 69/Maret 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Photobucket

Tabloid BOLA punya tagline baru. Membawa Anda ke Arena. Take you to arena. Menandai ulang tahunnya yang ke-25, selain dijanjikan adanya perubahan wajah dan gaya sajian isinya, tagline tersebut tentunya diharapkan sebagai frasa yang mudah diingat guna menonjolkan nada positif dan premis brand Tabloid BOLA di benak para konsumennya. Sekaligus merupakan kristalisasi dari visi dan misi tabloid olahraga satu ini dalam mengarungi masa depan.

Tagline itu dapat mengundang jebakan tidak terduga. Slogan itu sepertinya tetap mengasumsikan hubungan antara media, wartawan dan pembaca dewasa ini tidak mengalami perubahan. Wartawan tetap saja berstatus sebagai mata dan telinga yang mewakili pembaca dalam menikmati atau “mengalami” suatu peristiwa olah raga. Wartawan melaporkannya, pembaca menikmatinya. Hubungan semacam merupakan tipikal hubungan yang terjalin dalam konstelasi media cetak tradisional yang berbasis atom atau kertas. Dalam penerbitan cetak tradisional itu aktivitas penciptaan informasi, produksi, distribusi dan konsumsi informasi, memang terjadi secara terpisah-pisah.

Sayangnya, berkat Internet, konstelasi semacam itu kini semakin tergerus dan menunggu rubuh. Di Internet, penerbitan berbasis digital, semua proses itu mampu terintegrasi dalam satu sistem. Terutama semakin kuatnya tuntutan harus didaulatnya informasi dari para konsumen untuk menjadi bagian integral isi media itu sendiri. Perubahan konteks maha vital inilah yang tidak disadari oleh mayoritas pengelola media Internet di Indonesia selama ini. Sampailah kemudian hadirnya media sosial di tengah hidup kita.

Media sosial dapat hadir dalam beragam bentuk, misalnya forum di Internet, blog, wiki, podcast, album foto dan video. Media sosial berbeda dari media industri seperti surat kabar, televisi dan film. Kalau media industri membutuhkan biaya besar dan sumber daya mahal untuk menerbitkan informasi, media sosial menyediakan sarana murah bagi setiap orang untuk menjadi produser informasi. Tembok antara penerbit dan publik runtuh. Fenomena media sosial ini membalikkan konsep media massa menjadi menciptakan media untuk massa.

Akibat seriusnya, kini profesi wartawan dalam momen sejarah yang langka, ketika untuk pertama kali hegemoninya sebagai penjaga gawang informasi terancam. Tidak hanya oleh teknologi dan pesaing, tetapi utamanya dari diri para pembaca mereka sendiri. Para pembaca itu dengan bersenjatakan sarana penerbitan berbasis web yang murah dan mudah dikelola, dengan koneksi yang selalu tersambung dan semakin canggihnya sarana komunikasi bergerak, mendaulat mereka menjadi partisipan yang aktif dalam menciptakan berita atau informasi, sekaligus penyebarannya. “Anda tidak dapat pergi kemana saja atau berbuat apa saja dengan mengira tidak pernah ketahuan, karena sekarang ini semua orang adalah wartawan,” tegas Steve Patterson, pengelola situs olah raga Universitas Georgia, Amerika Serikat.

Dalam lanskap yang terbaru, ketika berlangsung peristiwa olah raga terakbar di Amerika Serikat, yaitu final kejuaraan Super Bowl XLIII awal Februari 2009 yang lalu, kiprah penonton yang sekaligus wartawan bersenjatakan media sosial jaringan sosial Facebook dan microblogging Twitter, menjadi fenomenal. Dalam blog (http://contentnation.com/news) untuk menyertai penerbitan bukunya, Content Nation : Surviving and Thriving as Social Media Changes Our Work, Our Lives, and Our Future (2009), John Blossom mengatakan “jika penonton mengirimkan informasi kepada sesama teman ketika ia duduk di depan televisi, hal itu menegaskan betapa kehadiran media sosial menjadi suara yang berpengaruh dalam event olahraga berskala nasional itu.”

Sekadar contoh konkrit, harian sohor The New York Times sampai-sampai menerbitkan peta menit demi menit kata-kata populer yang muncul dalam pesan pendek (SMS) yang dipancarkan melalui media sosial Twitter dari seluruh penjuru Amerika Serikat. Terpapar fakta bahwa disamping menonton siaran langsung lewat televisi, penonton juga tergerak menciptakan informasi, membaginya dengan orang lain, sehingga menambahkan suara mereka sendiri ke tengah gemuruh kerumunan penonton yang hadir langsung di stadion.

Ketika musikus rock Bruce Springsteen hadir di panggung mengisi saat jeda pertandingan, John Blossom menulis : “Di tengah kerumunan itu stadion riuh dihiasi pendar-pendar nyala layar telepon genggam mereka…Puluhan ribu warga biasa mengirimkan video, audio, foto dan pesan-pesan pendek kepada rekan-rekan mereka sebagai bagian integral peristiwa itu melalui sarana telepon genggamnya, yang menegaskan betapa penerbitan melalui media sosial telah menjadi bagian selebrasi diri kita sebagai umat manusia.”

Di tengah lanskap media yang berubah itu, hemat saya, tagline BOLA yang baru tersebut haruslah diberi konteks yang baru pula. Arena yang dimaksud bukan lagi berupa lokasi atau venues pertandingan semata, melainkan arena yang lebih besar lagi : arena di mana di mana semua pencinta olahraga dapat saling bersosialisasi.

Online dan offline.

Wartawan BOLA tidak lagi sekadar menjadi penjaga gawang informasi, melainkan sebagai sahabat yang sejajar untuk pembacanya. Pengalaman BOLA mampu bertahan selama 25 tahun dalam melayani pembacanya menjadi modal berharga untuk menjalin hubungan next level, yang semakin kaya makna untuk kemaslahatan bersama. Dirgahayu, BOLA !


Catatan : tulisan ini dengan penyuntingan telah dimuat di Tabloid BOLA No. 1912, 13 Maret 2009.

Wonogiri, 18/3/2009

Sunday, May 25, 2008

Internet, Pilpres 2009 dan Kebangkitan Anak Muda

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 58/Mei 2008
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Koneksi yang terputus. Aktivitas seremonial yang kini jadi mode dan semakin sering dilakukan birokrat adalah meresmikan situs web. Baik itu situs web institusi pemerintahan, lembaga sosial kemasyarakatan, atau pun situs untuk menyambut peristiwa tertentu, seperti situs-situs calon gubernur Jateng yang sedang berpromosi. Harian Kompas Jawa Tengah (9/5/08) misalnya, juga telah melaporkan Pemkot Solo yang meluncurkan situs World Heritage Cities.

Upaya memanfaatkan media dunia maya merupakan kemajuan. Tetapi seringkali pemanfaaatannya tidak disertai perubahan pola pikir pengelolanya untuk sejalan dengan karakter media berbasis Internet itu. Kekurangan yang mendasar dan mencolok, pengelola situs itu banyak menganggap peselancar yang mengunjungi situs bersangkutan sudah cukup dipuaskan dengan membaca-baca saja.

Dikiranya paparan visi-misi sudah afdol sebagai informasi yang menarik. Atau teks pidato, foto-foto pejabat dan kegiatannya yang terpajang di situs bersangkutan sudah dianggap memiliki nilai informasi tinggi. Isi seperti itu hanyalah umpan tekak, appetizer, pembuka belaka.

Internet adalah media interaktif. Mimbar bebas. Roh media internet adalah cerita, cerita dan cerita. Lalu interaksi. Pengunjung harus difasilitasi menjadi bagian utama isi situs. Bahasa gaulnya, user generated content. Mereka dirangsang berbicara, mengeluarkan uneg-uneg, tidak hanya kepada pengelola, tetapi juga dengan pengunjung lainnya. Terjadilah diskusi, termasuk diskusi mengeritik situs bersangkutan dan bahkan kebijakan pejabatnya sekaligus.

Semua isi tersebut harus terpajang, karena dialog-dialog itulah yang membuat situs bersangkutan menjadi hidup. Fungsi situs web yang terbaik adalah sebagai kepanjangan telinga para birokrat untuk mendengarkan suara rakyat. Tanpa fungsi itu dan tanpa lalu lintas dialog membuat situs yang molek sekali pun hanya pantas bernasib sebagai rumah hantu di dunia maya.

Tokoh-tokoh alergi dialog. Paparan di atas merupakan isi surat pembaca yang saya kirimkan ke harian Kompas Jawa Tengah, Jumat, 23 Mei 2008. Topik serupa juga pernah saya kirimkan ke koran yang sama, terkait dengan bentuk kampanye awal para kandidat yang bersiap-siap terjun dalam pemilihan gubernur di Jawa Tengah tahun 2008 ini. Secara lengkapnya terpajang berikut ini dengan judul surat pembaca, “Tokoh-Tokoh Tak Tersentuh.”

Kampanye pemilihan gubernur Jawa Tengah diam-diam mulai bergulir. Di Wonogiri, mulai sering terpasang spanduk yang isinya menyambut kehadiran para kandidat di kota Gaplek ini. Selainnya berupa tempelan stiker di tiang-tiang listrik dan juga baliho yang terpajang, ironisnya, justru terletak di bagian kota yang tidak strategis.

Selain foto kandidat, nama, juga termuat janji-janjinya walau mereka belum secara eksplisit menyatakan diri sebagai kandidat gubernur. Mereka mungkin merasa percaya diri bahwa khalayak telah tahu motif di balik pemasangan sarana kampanye semacam itu.

Satu hal yang sangat mengherankan saya, para tokoh itu seperti memilih sikap untuk tidak mau disentuh oleh calon konstituennya. Sebagai warga Wonogiri pada umumnya, mereka itu hanya menonjol sebagai orang-orang asing, tidak kami kenal, yang tidak terbuka, apalagi ramah, untuk terjadinya dialog atau interaksi lebih lanjut.

Pasalnya, dalam pelbagai spanduk, baliho sampai posternya, sama sekali tidak ada data alamat yang bisa dikirimi surat, juga tidak ada nomor telepon, faks, HP, email sampai situs blog/web yang bisa dikontak atau diakses.

Apakah ini justru tanda awal bahwa mereka, ketika masih berstatus sebagai kandidat pun, nyata-nyata telah alergi untuk mau mendengar suara, sapaan dan bahkan teguran dari rakyat ? (Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, Sabtu, 29 September 2007).


Kandidat gubernur gaptek. Ilustrasi di atas mungkin bisa menunjukkan betapa masih gapteknya para calon pemimpin dan pemimpin kita mengenai perkembangan terbaru di bidang informasi dan teknologi komunikasi. Dalam artikel saya sebelumnya, di blog ini pula, gaptek itu bahkan merambah kepada pimpinan tertinggi departemen yang mengurus bidang bersangkutan.

Pemanfaatan media Internet sebagai senjata kampanye, menarik perhatian saya. Saya pernah menulis artikel berjudul "Internet Sebagai Senjata Kampanye Presiden” di harian Kompas (8 Maret 2004), yang memperbandingkan eksekusi situs web calon presiden AS dari Partai Demokrat, John Kerry dan situs Amien Rais dari Partai Amanat Nasional (PAN) di Indonesia.


Bagaimana pemanfaatan Internet untuk Pilgub Jawa Tengah 2008 dan bahkan untuk pemilihan presiden kita di tahun 2009 mendatang ? Mari Anda saja ajak berwisata gagasan, dengan paparan di bawah ini.

Kampanye Pemilu terbaik Megawati terjadi tahun 1999. Ketika reformasi masih menggelora, ia yang terangkat sebagai simbol perlawanan terhadap rezim Soeharto dan Orde Baru, membangkitkan prakarsa akar rumput untuk mendukungnya. Pendirian posko-posko PDIP secara swakarsa jadi bukti bahwa mesin politik paling ampuh apabila muncul dari bawah. Menurut ahli pemasaran digital, Seth Godin, Mega saat itu menjadi ideavirus, virus ide, yang secara ajaib berbiak dan meluas dengan sendirinya di kalangan konstituen.

Tetapi ketika Mega menjadi incumbent dalam Pemilu 2004, prakarsa akar rumputnya praktis habis. Mungkin karena kalangan bawah kecewa dengan kinerja PDIP. Atau merasa ditinggalkan para kadernya, yang setelah menjadi anggota legislatif atau eksekutif mereka melupakan wong cilik dengan segala polah dan deviasinya.

Akibatnya yang mencolok, jalanan tidak lagi atau jarang ditemui posko-posko PDIP yang hidup dan semarak. Apalagi sebagai penguasa PDIP lebih memilih menggerakkan mesin politiknya dari atas. Selain membentuk koalisi, bahkan dengan seterunya selama ini, yaitu Golkar, PDIP tidak luput dari terkaman penyakit yang biasa diderita partai politik mapan.

Seperti simpul Carol Darr, Direktur Institut Politik, Demokrasi dan Internet dari Universitas Washington, kebanyakan kampanye partai politik mapan dilakukan dengan kontrol atas-bawah yang ketat. Staying on message adalah kredonya.

Karena mereka menguatirkan keterlibatan gerakan kelompok swadaya atau akar rumput yang lepas dari kendali hirarki partai, di mana mereka melakukan kampanye secara mandiri, menyebar brosur dan bahkan menjadi sumber liputan media. Kalangan politisi PDIP ibarat terserang paranoia, justru menghalangi warga untuk ikut bicara dalam kampanye karena ketakutan mereka akan salah ngomong yang berakibat rusaknya citra siang kandidat presidennya.

Model kampanye secara top-down dan monolitis itu kini juga nampak kental dalam masa pra-kampanye Pemilihan Gubernur Jawa Tengah 2008 dewasa ini. Kalau Anda sedikit jeli mengamati, para bakal calon itu mengeksekusi pesannya seperti memilih sikap untuk tidak mau disentuh konstituennya.

Karena dalam pelbagai peraga kampanye itu sama sekali tidak ada data alamat mereka yang bisa dikirimi surat. Tidak ada nomor telepon, faks, HP, email sampai situs blog/web yang bisa dikontak atau diakses. Apakah semua ini justru tanda awal bahwa mereka, ketika masih berstatus sebagai kandidat pun, nyata-nyata alergi untuk mau mendengar suara, sapaan dan bahkan teguran dari rakyat ?


Rakyat ibarat botol kosong. Dalam bahasa komunikasi politik, kampanye model di atas diberi label sebagai broadcast politics, komunikasi satu arah. Cirinya adalah terjadinya jor-joran memasang papan peraga kampanye, iklan-iklan dan memperbanyak liputan televisi. Konstituen hanya dianggap sebagai botol kosong yang harus siap menelan pesan-pesan politik mereka. Inilah pula kampanye yang mengandalkan tersedianya banyak uang tetapi sekaligus mempersempit keterlibatan rakyat untuk berperanserta.

Kini sebenarnya telah hadir strategi kampanye yang mampu memberdayakan kalangan akar rumput untuk bergerak secara swadaya dan mandiri : bersenjatakan Internet. Karena senyatanya strategi kampanye model broadcast politics tidak kompatibel dengan budaya Internet yang interaktif dan egaliter.

Di Amerika Serikat, kandidat presiden dari Partai Demokrat, Howard Dean, adalah pelopor pemanfaatan Internet sebagai senjata kampanye pemilihan presiden. Walau tersingkir oleh John Kerry, tetapi ide cemerlang manajer kampanyenya, Joe Trippi, banyak diadopsi John Kerry dalam menantang Bush di Pemilu 2004 yang lalu.

Joe Trippi dalam merancang strategi kampanyenya Howard Dean ibarat menyediakan bensin, memercikkan ke dalam nyala api dan lalu menyingkir. Ia membiarkan api itu mengamuk, berkobaran, ketimbang mencoba melakukan kontrol terhadapnya. Bersenjatakan blog dan meet-up di Internet, Trippi bergerilya secara online untuk merekrut massa akar rumput, yang aktif, partisipatif, berpendekatan bawah-atas, sehingga mereka merasa dihargai dan terberdayakan.

Blog adalah jurnal elektronik dimana tim sukses Dean dapat memajang gagasan atau pikiran secara seketika di Internet, baik berisi pesan untuk calon penyumbang dan simpatisan, sehingga merasa mereka dilibatkan secara pribadi. Berbeda dibanding web, melalui blog para simpatisan dapat saling ngerumpi satu sama lain.

Alexis Rice, peneliti masalah blog dari Universitas John Hopkins menyimpulkan bahwa blog merupakan inovasi komunikasi terbesar untuk Pemilu AS 2004. Blog telah mentransformasi komunikasi dalam kampanye dan tidak hanya penting dalam Pemilu Presiden (AS), tetapi juga dalam pemilihan di negara bagian dan pemilu lokal di masa depan.

Sedang meet-up adalah situs web yang menfasilitasi warga yang memiliki minat atau hobi serupa. untuk berhimpun di lingkungan mereka masing-masing. Dalam gerak cepat, situs meet-up Howard Dean mampu merekrut 87,985 anggota dari 562 kota di dunia. Dari pertemuan-pertemuan antar simpatisan itu, mereka menggalang kampanye mendukung Dean secara mandiri. Strategi Joe Trippi ini intinya adalah : bebaskan, biarkan konstituen berbicara, tidak hanya kepada kandidat, tetapi juga dengan konstituen lainnnya.

Efek gethok tular tersebut kemudian memicu reaksi berantai sehingga menimbulkan dampak yang luar biasa. Dalam strateginya Trippi itu, kedigdayaan Internet mampu menyelipkan pesan politik yang luhur. Bahwa keberhasilan kandidat dalam memanfaatkannya untuk kampanye justru harus memberi peluang dan mendorong konstituennya buka suara. Bukan justru membisukannya. Sementara para kandidat harus pula membuka lebar-lebar telinganya guna menyerap aspirasi dan suara rakyatnya.


Senjata bangkitnya anak muda Indonesia ? Sekadar contoh aktual, Hillary Clinton dalam kampanye menuju Pilpres AS 2008 bahkan menggunakan situs media sosial Friendster untuk menyapa pemilih dari generasi muda. Dalam konteks Indonesia, dimana populasi pengguna Internet didominasi anak muda, adaptasi strategi model Hillary Clinton dalam kampanye Pilgub Jateng 2008 dan Pilpres 2009 berpotensi membangkitkan anak-anak muda terdidik kita untuk tidak lagi apatis berpolitik. Karena mereka memperoleh saluran yang egaliter untuk bersuara dan berperanserta.

Sehingga diharapkan, berkat Internet pula, mereka mampu memperoleh dan memiliki kekuasaan untuk bersatu sebagai komunitas yang kembali menjadi pemilik sah masa depan negerinya sendiri. Termasuk berpeluang menggolkan tokoh-tokoh muda yang akibat kekangan budaya broadcast politics, yang melibatkan banyak uang itu, senantiasa termarginalkan selama ini.

Untuk ikut serta dan ikut andil menanam embrio gagasan guna membangkitkan anak-anak muda Indonesia dalam merencanakan masa depan negara dan bangsanya melalui jalur politik, bersenjatakan Internet, saya telah menulis surat pembaca berjudul Revolusi Facebook Pilpres 2009.


Surat itu saya kirimkan ke Totot “Pakde” Indrarto selaku pemimpin redaksi majalah periklanan Ad-Diction, 14 Desember 2007. Juga saya “cc”-kan ke Antyo Rentjoko, Aulia A. Muhammad, Boy Syahbana, Budi Putra, Donny BU, Effendi Gazali, Enda Nasution, Onno W. Purbo, Sigit Widodo, Wimar Witoelar, dan sahabat maya saya lainnya.

Saya tahu, embrio gagasan semacam ini tidak mudah secara serta merta mampu tumbuh cepat, besar, menyebar dan menular. Bahkan di komunitas yang melek Internet sekali pun. Di tengah eforia memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional saat ini, nampak sepi-sepi saja wacana mengeksplorasi Internet sebagai senjata bagi kebangkitan bangsa ini, terutama bagi kaum mudanya dalam memvisualisasikan masa depan.

Sekadar contoh : politikus muda Sutrisno Bachir, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), dalam memanfaatkan momentum 100 Tahun Kebangkitan Nasional, nampak juga beriklan tetapi tetap menggunakan “model lama.” Ditukangi oleh Fox Indonesia, biro spin doctor, sebutan untuk biro iklan politik, di bawah komandan Rizal Mallarangeng, iklan-iklannya membanjiri ruang kita baik di koran, radio dan iklan-iklan di gedung bioskop. Tetapi simaklah, sudahkah Anda temui URL situs web atau blog dari tokoh bersangkutan ?

Sekadar bukti kecil lainnya : email saya di atas juga tidak memperoleh sambutan yang berarti. Hanya seorang Aulia A. Muhammad yang berbaik hati memberikan tanggapan. Terima kasih, Mas Aulia.

Secuplik bukti-bukti di atas nampaknya memaksa kita untuk setengah memahami mengapa kampanye politik yang memanfaatkan Internet belum terdengar sebagai wacana yang gencar dalam atmosfir dunia politik kita. Juga dalam masa-masa pra-kampanye Pilgub Jawa Tengah 2008 dewasa ini.

Apakah karena calon-calon gubernur kita, calon-calon pemimpin masa depan Indonesia, masih begitu kronis didera penyakit gaptek, gagap teknologi semuanya ? Atau justru memusuhi Internet ? Atau kah kemampuan Internet sebagai corong aspirasi rakyat yang maha dahsyat itu justru yang membuat mereka ketakutan untuk memanfaatkannya secara sepenuh tenaga ?



Wonogiri, 26 Mei 2008


ee

Sunday, December 16, 2007

Revolusi Facebook Pilpres 2009

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 52/Desember 2007
Email : humorliner at yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia




Hillary Pun Pakai ! Paparan Enda Nasution mengenai Facebook (“On-Line,” AdDiction, 10/10/07) mengingatkan pujian Paul Allen, pendiri Microsoft, terhadapnya. Katanya, Facebook merupakan jaringan sosial nyata untuk setiap orang dan adanya kemudahan tiap warga untuk menambahkan aplikasi-aplikasi baru membuat pertumbuhannya meloncat-loncat. Saking fenomenalnya, sampai Hillary Clinton atau Barack Obama dan pendukungnya menggunakannya sebagai senjata terbaru memenangkan kampanye Pilpres AS 2008 mendatang.

Saya bermimpi : apakah pelbagai situs Web 2.0, baik blog sampai situs jaringan sosial semacam Facebook tidak bisa dimanfaatkan oleh anak-anak muda Indonesia untuk berbuat sesuatu yang revolusioner dalam Pilpres 2009 ? Laporan Akhir Tahun Kompas (11/12/07 : 5) menyimpulkan bahwa masyarakat tidak yakin mereka yang akan ikut Pemilu mampu menyelesaikan masalah yang ada. Nama-nama yang sudah muncul, baik itu SBY, Megawati, Wiranto sampai Sutiyoso, disebutkan “sudah diketahui kapasitas, karakter dan dosa-dosanya.”

Kita tahu, mereka dapat “naik” karena selama ini lanskap komunikasi politik kita dikuasai wacana broadcast politics, politik dengan pola komunikasi satu arah, mendikte, mahal, satu ke banyak orang dan dari-atas-ke-bawah. Kini media Web 2.0. mampu mematahkan itu semua. Karena Web 2.0. membuka pintu semua orang untuk berekspresi dengan bebas, tidak lagi bisu, dialog, mampu mengangkat isu-isu yang relevan dengan realitas hidup kita yang nyata (inti gerakan jurnalisme warga), berbiaya murah dan mampu membuat jaringan untuk memobilisasi gerakan tersendiri. Memanglah, “Internet merupakan gempa bumi 10,5 skala Richter yang mengguncangkan segi-segi peradaban,” tegas Nicholas Negroponte, nabi media digital dari Massachusetts Institute of Technology (AS).

Kita bertanya : bisakah mantra dahsyat Negroponte itu digunakan sebagai awal pijak untuk berpikir bagi kaum blogger dan kaum visioner Indonesia, bahwa dengan Web 2.0. kita berpeluang berbuat sesuatu yang besar ? Untuk memenangkan darah-darah baru pemimpin Indonesia, pembawa impian baru, visi baru dan sekaligus harapan baru bagi Indonesia ke depan, dalam Pilpres 2009 mendatang ?

Mari berpikir, anak muda !



Bambang Haryanto
esaiei.blogspot.com
humorliner at yahoo.com
Blogger, tinggal di Wonogiri


Wonogiri, 16 Desember 2007

ee