Showing posts with label penulis surat pembaca. Show all posts
Showing posts with label penulis surat pembaca. Show all posts

Sunday, January 30, 2011

Kompas Jawa Tengah,Epistoholik Indonesia dan Saya, 2004-2010

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 110/Januari 2011
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


"Surat kabar memiliki detak jantung."
Demikian tulis Mark Wolf ketika mengantar koran tempatnya bekerja, Rocky Mountain News, berhenti terbit di tahun 2009.

"Detak jantung ekonomi Rocky memang telah berhenti sekarang ini, tetapi detak jantung jiwanya akan bertahan sepanjang masa, pada orang-orang yang kita tolong, di dada mereka yang kita dorong, pada cerita-cerita yang kita kabarkan dan pada gambar-gambar yang kita sajikan," lanjutnya. Koran Rocky Mountain News itu berhenti terbit di usia 150 tahun.

Gambaran Mark Wolf itu sedikit banyak saya rasakan ketika mendengar kabar pada penghujung tahun lalu bahwa koran Kompas Jawa Tengah tidak bisa kita temui lagi di tahun 2011. Kabar buruk.

Itu kabar menyedihkan. Karena sebagai kaum epistoholik kami bakal kehilangan media untuk berekspresi, untuk beropini, untuk berkiprah menyuarakan keluh kesah atau pun kritik warga negara sebagai bagian dari kehidupan berdemokrasi.

Di bulan Januari 2011 ini detak jantung ekonomi Kompas Jawa Tengah memang telah berhenti. Apakah masih tersisa kenangan dan cerita keteladanan yang bisa digurat dari interaksi antara warga Epistoholik Indonesia, khususnya diri saya, dengan koran satu ini ?

[Kenangan akan berlanjut]


Wonogiri, 31/1/2011

ee

Sunday, August 22, 2010

Ratapan Anak Tiri, Gandhi dan Penulis Surat Pembaca

Warga Epistoholik Indonesia Di Tengah Jagongan Media Rakyat 2010 Yogyakarta-Bagian 2


Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 103/Agustus 2010
Email : epistopress@gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


Makhluk hibrida yang ganjil.
Itukah profil penulis surat pembaca ?

Penulis surat pembaca boleh jadi merupakan gabungan muskil antara sosok demonstrans yang marah setiap hari, komedian dengan daya observasi jeli, sedikit aliran darah teroris dalam dirinya, secuil karakter dermawan intelektual yang malu-malu, dan sedikit banyak dikaruniai keterampilan mengasah pena bak seorang wartawan.

Barangkali karakter semacam itu yang membuat penulis surat pembaca, utamanya kaum epistoholik, hadir sebagai makhluk yang aneh justru di mata media tempat mereka sering mengekspresikan diri.

Di forum talkshow Jagongan Media Rakyat 2010, 23 Juli 2010, di Yogyakarta, saya sempat melontarkan pertanyaan itu ke forum : penulis surat pembaca itu anak tiri atau anak emas media ? Dalam obrolan yang dipandu Mukhotib MD yang mengelola blog mmdnews.wordpress.com itu saya tidak memperoleh jawaban saat itu. Tak apa-apa.

Bagi saya, yang menulis surat pembaca sejak tahun 1973, penulis surat pembaca adalah anak tiri media massa. Kehadirannya mereka butuhkan, boleh jadi hanya sebagai filler, pengisi ruang kosong semata. Kalau kapling itu dipakai untuk iklan, maka mudah saja kolom itu dikorbankan. Atau diubah, sehingga kaplingnya menjadi pletat-pletot, yang secara visual mereduksi wibawa keberadaannya.

Penulis surat pembaca memang bukan siapa-siapa di mata pengelola media. Walau setiap kali membaca-baca fotokopi kartu tanda penduduk mereka, tetapi pernak-pernik tentang apa dan siapa dirinya, kapasitasnya, latar belakangnya, aspirasinya, sosoknya sebagai manusia, semua itu nampaknya menjadi isu yang tidak begitu penting bagi media bersangkutan. Mereka tidak tertarik untuk membuat semacam bank data tentang para kontributor kolom surat pembaca mereka.

Sehingga ikhtiar yang berusaha memanfaatkan data penting itu sebagai bahan ramuan untuk membuat lebih molek dan lebih bernasnya kolom bersangkutan, nampaknya gagasan semacam ini terlalu jauh untuk bisa masuk jangkauan daya pikir pengelola media atau pun kolom bersangkutan.

Maklum, barangkali, karena pengelola kolom itu juga manusia biasa. Boleh jadi dirinya sudah keberatan beban menjalani tugas utamanya sebagai wartawan, sementara timbunan surat-surat pembaca yang ada membuat dirinya hanya mampu bekerja ibarat ulah seekor bajing yang lari-lari berputaran di kandang rotornya sehari-hari.

Pokoknya asal ada surat pembaca yang bisa tampil pada setiap penerbitan, cukup sudah pekerjaan mereka. Bahkan kalau tidak ada, tidak sedikit yang melakukan rekayasa, dengan membuatnya sendiri pula. Karena banyak wartawan muda yang bercerita sendiri, bahwa ketika dalam masa pelatihan mereka selalu mendapat tugas untuk menulis surat-surat pembaca.

Tidak aneh dengan pendekatan business as usual itu kemudian penjaga kolom surat-surat pembaca sering dipercayakan kepada wartawan-wartawan sepuh, mereka yang tidak dituntut lagi untuk menulis, karena mendekati pensiun. Akibatnya, entah mana yang duluan, telor atau ayam (menurut kajian ilmiah, oleh Dr Colin Freeman dari Sheffield University's Department of Engineering Materials, ayam yang duluan !), dalam arti entah karena penulis surat pembacanya atau penjaga rubriknya, isi kolom-kolom surat pembaca di media-media massa kita saat ini, menurut saya, isinya membosankan.

Selain surat-surat pembaca yang generik, tentang kehilangan barang atau surat berharga sampai keluhan konsumen, isinya yang berupa sumbang saran gagasan kebanyakan tidak inspiratif. Isinya seringkali tak lain dari daur ulang pernyataan para pejabat, paparan opini sampai fatwa-fatwa klise, yang kesemuanya kurang menggugah untuk menyeruak cakrawala kepada pemikiran baru, pemahaman yang baru.

Pintu perubahan. Padahal keberadaan kolom itu, menurut saya, merupakan tumpuan eksistensi media cetak dalam berinteraksi dengan audien mereka di tengah berlangsungnya badai revolusi media yang menderu saat ini. Yaitu ketika media-media berbasis atom atau kertas mau tak mau, cepat atau lambat, harus berevolusi atau ber-revolusi menjadi media berbasis digital dengan segala pengorbanan dan peluang yang mungkin terjadi.

Pintu interaksi itu semula hanya kecil di media berbasis atom. Ya kolom surat pembaca itu. Kini, di era digital ini, sudah seharusnya pintu tersebut menjadi membesar adanya. Karena lewat pintu yang membesar itulah arus jaman mengalir dan mengkristal kini menjadi gerakan jurnalisme warga, ketika media hadir digerakkan sendiri oleh para pembacanya. Sampai-sampai seorang Dan Gillmor, pendiri gerakan jurnalisme warga itu, tak sungkan untuk merendahkan diri. Ucapannya yang terkenal adalah : "My readers know more than I do."

Untuk mencerna apa yang terjadi, Stephen Baker dan Heather Green ("yang cantik") dalam laporan utama berjudul "Blog Akan Mengubah Bisnis Anda" di majalah BusinessWeek (11/5/2005), telah menulis : "Dalam era media massa, penerbit seperti BusinessWeek mencetak berita. Sumber-sumber mencoba untuk dikutip. Namun, keputusan tetap di tangan kami. Begitu pula dengan surat-surat kepada redaksi."

"Kini," tulis mereka selanjutnya, "publik tak hanya dapat bicara melalui kami. Mereka dapat menulis cerita mereka dalam blog. Dan, bila mereka menguasai serba-serbi bentuk komunikasi yang baru ini-seperti cara blogger lain dapat terhubung kepada blog mereka-mereka dapat menjangkau khalayak dalam jumlah yang amat besar."

"Dan ini baru permulaan," tegas mereka. "Dengan sistem ini, tembok antara penerbit dan publik runtuh. Fenomena blog membalikkan konsep media massa menjadi menciptakan media untuk massa."

Jin memang telah keluar dari botolnya. Media massa utama sudah tak mampu lagi mengembalikan kendali yang semula berada dalam genggamannya. Mereka sepertinya terlambat menangkap peluang sejarah. Dengan posisi seperti itu, sesungguhnya, menulis surat-surat pembaca di media-media massa menjadi tidak begitu seksi lagi.

Terlebih lagi karena sisa kendali yang masih mereka miliki kebanykan hanya akan membuat penulis surat pembaca terserimpung dalam upayanya memperoleh umpan balik atas karyanya secara seketika. Terhempang pula stimulasi batin yang berpeluang mereka terima sebagai pemacu nyala api kreativitasnya dalam berkarya di hari-hari mendatang.

Penghalang itu adalah : banyak koran menghilangkan data email atau blog Anda, bahkan nomor HP Anda, untuk muncul pada pemuatan surat-surat pembaca Anda. Bahkan juga untuk kolom serupa di media online mereka. Sehingga di era digital dan interaktif ini orang lain yang berniat mengontak Anda harus melakukan upaya yang cumbersome, sekaligus sangat menyiksa.

Mereka harus rela menulis surat di atas sehelai kertas, membeli perangko dan menunggu lama balasan atas snail mail yang mereka kirimkan tersebut. Benar-benar kendali yang sungguh mencekik di jaman digital ini. Belum lagi, Anda tahu, betapa rada kosongnya hidup ini bila teriakan Anda hilang begitu saja tanpa gema.

Burung di genggaman. Dalam acara di Jagongan Media Rakyat 2010 itu saya munculkan ilustrasi tentang topik di atas, ketika seorang mahasiswa, Arham, bertanya. Ia ingin tahu tentang sejauh mana perkembangan yang saya alami secara pribadi sebagai penulis surat pembaca di media cetak dan kini sebagai seorang blogger.

Saya jawab : "Kalau saya hanya menulis di media cetak, pasti nama dan karya tulis saya tidak terekam oleh mesin pencari Google, maka boleh jadi nama saya tidak mungkin terdeteksi oleh LSM Combine (penyelenggara JMR 2010), dan pastilah saya bakal tak bisa hadir di sini untuk menemui Anda semua."

Penulis surat pembaca memang anak tiri media massa. Di tengah gelombang badai media digital, yang kalau Anda menyaksikan video di YouTube berjudul "Social Media Revolution" Anda akan diguncang tuntutan sesuai derak lirik lagunya Fat Boy Slim, "Right here, right now !," ternyata penulis surat pembaca tidak pula di-reken oleh media massa arus utama sebagai mitra untuk bertahan dalam aura denial, pengingkaran, di era digital. Penulis surat pembaca adalah seekor burung dalam genggaman mereka, tetapi lalu dilepaskan begitu saja.

Sebaliknya media-media lama itu malah nampak ngiler melihat sekumpulan burung di awan. Lihatlah, media arus utama kini lagi sibuk saling melakukan copy/paste trik media lainnya dalam upaya mempertahankan oplag mereka. Mereka kini sibuk berusaha menjaring "burung-burung yang terbang di awan " itu, baik anak-anak TK, SD, SMP dan SMA, sampai mahasiswa, untuk dicegah sekuatnya agar tidak meninggalkan koran mereka.

Ada yang melalui trik membuat kelompok fokus, mengadakan kompetisi majalah dinding, pertandingan basket, mengulik gaya hidup anak muda, ramai-ramai naik sepeda, bimbingan jurnalistik ke pelbagai pesantren, dan lain sebagainya. Yang menarik adalah, mereka pula yang kemudian menuliskan semua kegiatan itu di medianya. Bukan ditulis oleh subyek yang mereka jadikan sasaran "pembinaan" bersangkutan.

Penulis surat pembaca, burung yang ada dalam genggaman, tidak pernah masuk dalam layar radar mereka. Akhirnya kita pun sebagai kaum epistoholik hanya bisa tahu diri, dan bersyukur bila posisi sebagai anak tiri itu membuka cakrawala akan hadirnya berkah yang melimpah.

Posisi semacam ini menggembleng kita untuk mampu berusaha menemukan jalan-jalan baru untuk berkreasi, juga mengeksplorasi media-media baru untuk berekspresi. Apalagi bukan sebagai suatu kebetulan bahwa eksistensi komunitas Epistoholik Indonesia ini berusaha saya hidupkan kembali di tahun 2003, ketika fenomena blog muncul di permukaan dan saya terpapar pesonanya saat itu pula.

Tetapi waktu sepanjang hampir sewindu ini ternyata memang tidak mudah memberikan pemahaman mengenai roh sampai potensi kehadiran blog bagi kemajuan asah intelektual rekan-rekan sesama penulis surat pembaca. Boleh jadi karena pemahaman itu akan baru bisa mereka peroleh, untuk dinikmati dan dihayati, apabila semua aksi itu telah mereka jalani dengan cinta, dengan dedikasi sepenuh jiwa dalam waktu yang lama.

Akibatnya, tidak sedikit teman seiring yang kemudian memilih berhenti di tengah jalan. Bosan. Mereka tidak berselera menulis surat-surat pembaca lagi. Sungguh disayangkan, sepertinya mereka terhenti sebelum menemukan rumusan bagaimana kedahsyatan surat-surat pembaca yang mereka tulis itu mampu mendatangkan manfaat secara fokus untuk menunjang sukses karir, bisnis, sampai cita-cita idealnya sebagai sosok manusia istimewa.

Saya tak bisa menghalangi. Sebagai bekal, mungkin petuah dalam kosmologi suku Jawa, "kelakone ngelmu kanthi laku," dapat bermanfaat sebagai cermin. Petuah hebat itu telah dieksplorasi seorang Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers: The Story of Success ( 2008). Inti ajarannya, bercermin dari sukses Mozart, Bill Gates sampai The Beatles, bahwa tanpa lelaku atau yang oleh Robert Sternberg disebut sebagai "practical intelligence" yang gentur, alias menuntut ketekunan serta menghabiskan ribuan jam dalam latihan, janganlah mengharapkan kesaktian atau keberhasilan akan hadir menyatroni yang bersangkutan.

Boleh jadi karena beratnya tuntutan itu maka banyak teman sesama kaum epistoholik dalam hadir di dunia maya tidak banyak yang mengelola blog secara tekun, fokus dan konsisten. Mereka lebih terpesona pada Facebook, media murah meriah untuk mengekspresikan diri. Utamanya untuk menulis status semata, dan bukan untuk memberikan kontribusi secara lebih serius dalam kanal blog yang ada, yaitu kolom My Note yang tersedia. Dan di dalam kubangan Facebook itu, kita tahu, betapa sulitnya untuk menjadi konsisten dalam menghadirkan jati diri kita sebagai insan unik di persada dunia ini.

Sebagai klangenan. Bagi saya kini, di tengah media-media digital yang baru itu, aktivitas menulis surat pembaca di media cetak kini terasa sebagai aktivitas yang antik. Seperti orang-orang yang setiap hari bermobil, kemudian di akhir pekan mereka ramai-ramai bersepeda. Kolom surat pembaca dulu ibarat sebagai media perjuangan, kini barangkali bisa disebut sebagai wahana klangenan belaka, sebagai kegiatan ringan yang mengasyikkan untuk mengisi waktu senggang.

Tetapi bagi saya, memburu klangenan itu pun ternyata bukan persoalan mudah. Ada pengalaman pribadi, ketika di bulan Juli 2010 yang lalu saya telah mengirimkan email berisi sejumlah surat pembaca. Alamat yang saya tuju adalah alamat email yang tertera di koran itu pula. Beberapa hari kemudian, saya memperoleh balasan. Antara lain berisi teks berbunyi : The email account that you tried to reach does not exist. Akun email itu dinyatakan tidak ada.

Artinya : email berisi surat pembaca saya itu tidak "tembus." Satu-dua bulan sebelumnya, saya mengirimkan surat pembaca ke media lainnya. Mendapat balasan serupa. Email saya tidak "nembus" pula. Saya pikir ini hanya merupakan persoalan teknis, suatu online glitch, maka saya mengirimkannya lagi dengan akun email yang berbeda. Ternyata, tidak lagi "nembus" untuk kedua kalinya.

Sudahlah. Mungkin bencana saya ini semata kebetulan belaka. Atau sebut saja sebagai "karma," karena di blog saya pernah menulis kritikan untuk koran-koran tersebut dalam mengelola kolom-kolom surat pembacanya.

"Para blogger senang menyebarkan kesalahan-kesalahan kami. Mereka hendak menjatuhkan kami dari posisi penting yang kami duduki sejak surat kabar pertama dijual," begitu tutur lanjut Stephen Baker dan Heather Green dalam majalah BusinessWeek edisi yang sama. Saya sudah melakukan perbuatan "menyebarkan kesalahan-kesalahan" itu, dan rupanya kini saya memperoleh balasan balik dari mereka. Terima kasih.

Hanya saja, semoga pengelola media massa yang menghukum saya juga mau menyimaki pernyataan kedua wartawan majalah bisnis terkemuka itu, yang terasa lebih manusiawi, tahu diri, dan mengharukan. Dengan jujur keduanya berkata : "Kami, media tradisional, menyadari sepenuhnya bahwa kami hanya mengontrol bagian yang semakin kecil dari pengetahuan manusia."


Menari sendiri. Dunia sudah berubah, kawan. Kalau dulu, dan berulang kali saya tulis di blog ini pula, penulis surat pembaca ibarat bayi yang tali pusarnya selalu tersambung dengan media massa bersangkutan. Tetapi di era digital kini, ketika sang ibu itu sendiri kini juga lagi kelimpungan dalam mempertahankan hidupnya sendiri, keputusan penting harus dijatuhkan.

Landasannya, simak pesan video di YouTube yang berjudul Prometeus - The Media Revolution, yang inspiratif ini. Di situ Anda akan memperoleh informasi yang sebenarnya tidak lagi mengagetkan, tetapi di negeri ini banyak diingkari. Bunyinya : "Blogs become more influential than the old media" sampai "24 of 25 largest newspaper are experiencing record declines in circulation."

Hidup media-media baru.
Selamat tinggal galaksi Gutenberg, media-media lama.

Tiba saatnya sang anak tiri itu untuk memutus tali pusarnya sendiri. Karena dirinya sudah besar. Sudah mampu mandiri. Dan dengan blognya pula dirinya mampu menari, dengan irama yang ia pilih sendiri pula.

Meminjam tamsil seorang Stephen R. Covey, media-media untuk massa itu merupakan sarana setiap insan untuk menemukan suara-suara otentik mereka sendiri. Mereka-mereka itu tak ubahnya Sokrates atau Gandhi, yang perjuangannya mampu mengubah dunia semata dipandu kehendak menuruti suara-suara otentik mereka sendiri !



Wonogiri, 21-22 Agustus 2010

Wednesday, January 13, 2010

Moegono Dalam Kenangan : Berjuang dan Melawan Melalui Tulisan

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 91/Januari 2010
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


“Moegono SH tidak jemu bicara lagi tentang pemberantasan korupsi.”

Itulah intro surat pembaca yang ditulis Bapak Soeroyo di harian ini, Senin, 17 Mei 2004. Beliau mengomentari surat pembaca Pak Moegono, juga di kolom yang sama (25/4/2004).

Walau ditulis hampir enam tahun lalu, isinya tetap relevan sampai saat ini. Utamanya terkait wacana pemberantasan mafia hukum yang kini digencarkan Presiden SBY. Dalam tulisan itu Pak Soeroyo secara tajam memberi garis bawah pernyataan Pak Moegono tentang mengapa pemberantasan korupsi berjalan kelot-kelot, lamban. Karena “penggusur KKN sekarang justru belepotan dengan KKN dan ini ada di mana-mana.”

Sungguh suatu rahmat, saya bisa memiliki catatan curah pendapat dari kedua beliau yang tersaji dalam kolom surat pembaca. Karena sebagai sesama kaum epistoholik, kaum pencandu penulisan surat-surat pembaca di media massa, saya pun bisa mengenal kedua beliau.

Ketika saya mendirikan komunitas Epistoholik Indonesia, Pak Moegono malah pernah berkunjung ke rumah saya di Wonogiri. Obrolan kita terkait upaya memanfaatkan kolom surat pembaca sebagai sarana menyebarkan budaya baca tulis, melek hukum, dan tentu saja wacana pemberantasan korupsi.

Kalau Pak Soeroyo semata menulis surat pembaca sehingga sukses meraih Anugerah Solopos Award 2005, Pak Moegono yang juga menjadi pengajar di Fakultas Hukum UNS itu banyak menulis artikel. Bahkan bersama pengacara Solo lainnya, M. Taufik, telah membukukan artikel-artikel yang mereka tulis dalam buku berjudul Moralitas Penegak Hukum dan Advokat Profesi Sampah.

moegono,obituari,bambang haryanto,31 desember 2009,epistoholik indonesia

Perampok Surat Kabar. Sebagai kolumnis beliau memiliki gang, berdiri 28 Desember 1989 yang beliau istilahkan sebagai kelompok perampok surat kabar. Kelompok ini bahkan sudah pula dikenal Prof. Daniel S. Lev, indonesianis dari Universitas Washington, Seattle, USA.

Seperti tertuang di surat pembaca Solopos (6/11/2003), ia tulis : “Di Solo ada satu organisasi tanpa bentuk namanya KPS. Secara konvensional, KPS singkatan dari Kelompok Pengamat Sosial, tetapi secara inkonvensional KPS itu singkatan dari Kelompok Perampok Surat Kabar.

Anggota KPS ini terdiri 9 dosen UNS yang inisialnya di antaranya 3J, 3S dan 3M. Bahwa kesembilan orang tersebut adalah orang-orang yang masih mempunyai sisa-sisa idealisme, kaya konsep dan mempunyai forecasting outlook. Intelektualitas dan kredibilitasnya tidak diragukan. Misi KPS sangat mulia, yaitu mengisi kemerdekaan dan ikut serta meningkatkan kecerdasan bangsa.

Bentuk konkretnya adalah menyampaikan gagasan alternatif lewat surat kabar. Jadi, surat kabar oleh sembilan orang tersebut dijadikan arena dari drama of the intellectual frictions. Sekaligus surat kabar dijadikan sumber devisa tersembunyi. Dengan menyampaikan gagasan alternatif/artikel lewat surat kabar, mereka jelas dapat duit. Inilah arti kedua dari KPS.”

Alasan beliau gencar menulis, termasuk menulis surat pembaca, seperti dalam surat yang beliau kirimkan kepada saya adalah keinginan mendobrak budaya feodalis yang beku. Tulisnya, “Saya jengkel dengan budaya yang sedang berkembang; yaitu: “father can do no wrong, father knows everything, what the master's voice dan the singer not the song.”

Kesannya kebenaran itu, tulis Pak Moegono, merupakan monopoli orang tua dan para penguasa saja. Lebih dari itu bapak menganggap tahu segala-galanya. Menurut falsafah kebenaran, orang muda dan tidak berjabatan juga punya kebenaran.

Maka saya ingin mendobraknya, dengan mengatakan bahwa kebenaran bukan monopoli orang tua dan para penguasa. Bertolak dari hal tersebut saya ingin menyampaikan gagasan alternatif lewat media cetak.

Paspor universal. Selain menulis, topik pemberantasan korupsi, juga demokratisasi, nampak juga menjadi obsesi beliau. Dalam surat pembacanya (Solopos, 16/2/1999) ia tulis bahwa budaya korupsi merajalela di negeri kita akibat faktor “balas dendam.”

Karena sejak anak-anak mengenal dunia pendidikan sekaligus pula mereka kita kenalkan dengan “budaya celurit.” Sewaktu masuk SD sudah “dicelurit”, masuk SMP “dicelurit”, masuk SMA “dicelurit”, masuk perguruan tinggi atau akademi “dicelurit” lagi. Ujian carik, bayan, lurah juga “dicelurit”. Mendapatkan pekerjaan “dicelurit” lagi.Pindah pekerjaan dari daerah kering ke daerah basah katanya juga “dicelurit” dan lain-lain.

Pertanyaan yang timbul kemudian adalah : Bagaimana mereka yang pernah “dicelurit” itu, apakah mereka tidak melakukan balas dendam ? Waktu masih menuntut ilmu sudah kehilangan sekian juta, dan waktu mendapat pekerjaan masih ada pengeluaran lagi. Maka logislah jika kemudian semuanya dikalkulasi untuk cari ulih-ulihan.

Keprihatinan Pak Moegono terhadap mengguritanya budaya suap, upeti dan pemerasan di atas ia ulang lagi pada tahun 2003. Dengan judul provokatif, “Budaya Celurit Makin Menggila” (Solopos, 10/11/2003), kali ini menembak dunia wakil rakyat.

Tulis beliau, bahwa untuk menjadi anggota legislatif kabarnya juga “dicelurit.” Untuk legislatif pusat Rp. 200 juta, provinsi Rp. 150 juta, dan kabupaten Rp. 100 juta. Jika itu yang terjadi maka kita tinggal menunggu bagaimana kiprah para anggota legislatif yang pernah “dicelurit” itu. Mereka pasti berpikir : pertama peras otak untuk balik modal, selanjutnya cari untung. Terakhir, baru mikir rakyat. Solusi radikal dari beliau untuk memberantas gurita korupsi, yang kini juga dianut di Cina, adalah : pidana mati untuk pelaku korupsi !

Pengacara kritis, kolumnis, pengajar dan seorang epistoholik itu, kini tidak bersama kita lagi. Pak Moegono telah dipanggil Sang Khalik, Kamis, 31 Desember 2009, dalam usia 74 tahun. Beliau beritirahat damai di TPU Pracimoloyo, Makam Haji, Kartosuro.

“Kejujuran itu paspor universal, sehingga harus dikibarkan sepanjang masa,” tutup beliau dalam surat yang mudah saya ingat. Sebagai penanda warga Epistoholik Indonesia, pada tahun 2004 surat-surat pembaca beliau telah saya pajang dalam blog Moegono, SH. Sebagai bukti keteladanan beliau selalu ada di dalam hati kami. Dan buah pikir beliau terus pula kami kibarkan yang dapat diakses dari seluruh penjuru dunia.


Sugeng tindak, Pak Moegono, untuk bersemayam sejahtera di sisi Tuhan Yang Maha Adil.


Wonogiri, 14 Januari 2010

Catatan : Tulisan ini dengan penyuntingan redaksi telah dimuat di harian Solopos, Kamis, 14 Januari 2010.

ee