Showing posts with label surat pembaca. Show all posts
Showing posts with label surat pembaca. Show all posts

Tuesday, September 28, 2010

Surat Pembaca : Kasta Sudra, Lawang Sewu dan Pahala

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 104/September 2010
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia



Kasta sudra. "Sebagai penulis, saya kecewa dengan media yang tidak memberi konfirmasi tentang nasib tulisan yang telah kita kirim ke redaksinya. Apakah tulisan tersebut dimuat atau tidak dimuat ? Selama ini, hampir semua media tidak melakukan konfirmasi tentang nasib tulisan.

Itu kalau artikel bagaimana dengan surat pembaca. Ya jelas malah lebih parah. Karena surat pembaca adalah kasta sudra dalam media kita. Makanya, saya sendiri ambil justifikasi, surat pembaca boleh dikirimkan ke media lain. Tanpa atau harus diedit dulu…. Apakah kesimpulan saya ini kurang bijak ?"

Itulah uneg-uneg sobat warga EI yang berdomisili di Jombang, Edy Musyadad. Administrator milis Epistoholik Indonesia [epistoholik-indonesia@yahoogroups.com] dalam postingnya tanggal 26 Agustus 2010 itu rupanya terusik kembali oleh hal "kronis" yang selama ini menjadi bahan kasak-kusuk para penulis lepas yang mengirimkan naskahnya ke media massa.

Terima kasih, Mas Mus. "Provokasi ide yang menarik dari sobat E. Musyadad. Lama topo, tahu-tahu jualan ide provokatif," begitu awal balasan saya. Apakah kita para penulis surat pembaca perlu berdemo, bahkan mogok untuk menulis, seperti (foto) aksi para penulis industri film yang mogok di Amerika Serikat beberapa saat lalu ?

Menurut saya, kalau menulis artikel yang ada honornya, maka penulisan artikel yang sama untuk pelbagai media, kebanyakan akan memperoleh kecaman.

Bagaimana kalau hal yang sama dilakukan untuk surat-surat pembaca, yang notabene tidak ada ada honornya ? Tahun 1980-an, saya sudah melakukannya. Tentu tidak persis sama isi teksnya antara satu surat dengan lainnya, karena harus disesuaikan dengan karakter media bersangkutan.Tanpa penyesuaian itu, bisa-bisa surat pembaca saya tidak dimuat, dan saat itu berarti mengorbankan perangko :-)

Kini di era digital, era copy/paste, dengan bantuan surat elektronik, semakin mudah kita untuk melakukan broadcasting, mengirimkan satu surat untuk pelbagai media. Kalau dari kacamata pengirim, tak apa-apa, menurut saya.

Tetapi, ini soal pokoknya : penulis surat pembaca itu ibarat bayi yang tali pusarnya tersambung ke media bersangkutan. Kita bukan sebagai fihak yang menentukan dimuat atau tidaknya. Kita juga tidak tahu policy masing-masing media. Siapa tahu surat pembaca kita dimuat oleh koran A, lalu redaktur koran B yang menerima surat yang sama sudah membaca kolom surat pembaca koran A bersangkutan, dan lalu membuang saja surat kita tersebut ?

Kita tidak tahu isi jeroan tiap-tiap media. Kalau Anda sudah baca isi blog EE saya mutakhir, jadikanlah menulis surat pembaca sebagai kegiatan hard fun, sulit tetapi menyenangkan. Gimana ?

Menurut saya, mentang-mentang menulis SP itu kau (Edy Musyadad) sebut (atau pengelola media sebut) sebagai aktivitas berkasta sudra, menurutku, kita sebaiknya ya jangan berkelakuan sebagai sudra juga.

Melainkan kita bersikap dan bertindak sebagai brahmana, ketika kita menulis SP yang bukan semata ditujukan untuk meraih hal-hal yang duniawi semata. Melainkan untuk menabung enerji kebaikan yang suatu saat, entah kapan, akan berbalik kepada kita juga. Tentang bagaimana berlaku sebagai brahmana itu, silakan Anda menafsirkannya sendiri.

Diskusi semakin diramaikan oleh Nurfita Kusuma Dewi, warga EI yang priyayi Yogya tetapi berkarya di Semarang. Ia mengomentari "nasehat" saya untuk para penulis surat pembaca agar memiliki mindset melempar batu ke dalam kolam. Begitu tombol send dihentak, lupakan saja surat-surat pembaca yang kita tulis itu. Fire and forget, begitu istilah dari dunia peluru kendali.Tembak dan lupakan, karena rudal itu akan mampu menemukan sasarannya sendiri.

Untuk Nurfita, tentang melempar batu, itu bisa dijelaskan kira-kira sebagai berikut : "Karena menulis SP itu tidak dibayar, maka kita harus memperoleh "bayaran" ketika kita sedang menuliskannya.

The reward is IN the doing.

Nikmatilah momen-momen itu, yang bisa disebut sebagai flow. Detil tentang apa itu flow bisa dikaji dengan mengklik Flow di sini. Apabila surat pembaca kita bisa dimuat, anggap saja itu sebagai bonus. Komentar dari pembaca lain, juga bonus."

Bagi Nurfita Kusuma Dewi yang mengelola blog menarik dan bergabung dengan komunitas ini sejak Desember 2009, anjuran a la rudal tadi nampaknya belum memuaskan. Katanya : "Tapi saya jarang lupa dengan tulisan-tulisan saya yang nggak dimuat-muat oleh media."

Syukurlah, salah satu pionir pendirian Epistoholik Indonesia, bapak tercinta dari Musashi dan Kafka asal Kendal, Joko Suprayoga, memberi kabar baik bagi Nurfita. "Mbak Nurfita, tulisan surat pembaca panjenengan sudah dimuat Suara Merdeka hari Selasa, 31 Agustus 2010 ini. Silahkan berbahagia."

Surat pembaca Nurfita itu berjudul menarik "Penampakan Mistis, Semiotika, dan Akhlaq Ramadan," yang oleh penulisnya dikhawatirkan "mungkin karena dianggap terlalu sensitif, jadi tidak dimuat."

Ternyata dimuat. Sehingga niatan Nurfita bahwa menulis sebagai sebuah kegiatan memberi, menulis sebagai wahana berbagi, baik berbagi ide, gagasan, pengetahuan, perasaan sampai keprihatinan, menjadi terealisasi saat itu. Writing is kind of d'art of giving, tegas Nurfita lagi.

Masuk pintu seribu. Topik obrolan mungkin sedikit melebar, ketika saya lemparkan sebuah link tentang berita di Internet mengenai koran di Jawa Tengah, Suara Merdeka, yang mengisi bulan Ramadhan dengan mengadakan pelatihan menulis bagi para santri. Ajakan saya : "Silakan simak berita menarik ini dengan segera mengklik disini.

Harapan saya dan harapan kita : semoga di dalamnya ada pelatihan dalam penulisan surat-surat pembaca. Apakah harapan kita itu akan kesampaian ? Ditunggu komentar Anda."

Kembali muncul reaksi dari Kendal. Joko Suprayoga mengatakan, bahwa dalam pelatihan itu tidak ada modul mengenai seluk-beluk pelatihan penulisan surat-surat pembaca. Balasan yang saya kirimkan tertanggal 4 September 2010 antara lain :

"Aktivitas menulis mungkin dapat diibaratkan sebagai aksi memasuki gedung yang memiliki lawang sewu, pintu seribu. Orang boleh dan halal memasukinya dari pintu yang berbeda-beda.

Kalangan jurnalis, misalnya, tentu melihat pintu terbaik untuk terjun ke dunia tulis-menulis adalah melalui pelatihan jurnalistik. Mazhab ini banyak dilakoni oleh koran-koran, termasuk oleh koran Suara Merdeka yang kita rumpikan di obrolan yang lalu.

Sementara kalangan epistoholik, seperti kita-kita ini, pintu masuk terbaik itu adalah dari aktivitas penulisan surat-surat pembaca. Apalagi dari pengalaman empirik, menulis surat pembaca seringkali diawali dengan "api" yang membara di dada penulisnya. Entah api untuk protes, mengeluarkan uneg-uneg, yang mungkin memberi nilai plus bagi kaum epistoholik ini karena mereka memiliki motivasi menulis dari dalam. Termasuk sadar diri bahwa aktivitas menulis mereka tidaklah untuk memperoleh bayaran.

Apakah nilai-nilai plus semacam ini justru tidak terdeteksi oleh pengelola koran, sehingga mereka tidak tertarik memasukkan ulah kaum epistoholik sebagai bagian dalam gerakan pembelajaran menulis yang mereka lakukan itu ?

Entahlah. Tetapi bila gerakan pembelajaran menulis itu semata didorong sebagai strategi pencitraan oleh koran bersangkutan, sebagai ritus seremonial tahunan, yang penuh gebyar sesaat, mungkin revolusi sunyi oleh kaum epistoholik itu, yang terus menulis dalam kesenyapan, memang tidak tepat untuk berada di tengah barisan penuh hura-hura itu.

John Ciardi pernah bilang, menulis puisi itu adalah "the pleasure of taking pain." Kesenangan ketika terdera oleh kesakitan. Kaum epistoholik mungkin lebih serasi ikut berbaris di kubu yang satu ini. Begitukah ?"


Wonogiri, 28 September 2010

ee

Monday, August 16, 2010

Episto Ergo Sum

Oleh : Wisnu Martha Adiputra
Esai Epistoholica No. 102/Agustus 2010
Blog : Duniaku Dunia Kreatif
Facebook : facebook.com/wisnu.martha
Home : Epistoholik Indonesia


Pengantar : Diundangnya komunitas Epistoholik Indonesia (EI) untuk menampilkan diri dalam acara Jagongan Media Rakyat 2010, di Yogyakarta, 22-25 Juli 2010, masih berbuntut dengan melimpahnya berkah.

Kali ini datang dari Radio Geronimo FM Yogyakarta yang mengundang EI untuk mengisi acara "Angkringan Gayam," Minggu malam, 1 Agustus 2010. Komunitas kita diwakili oleh Tuwarji, warga EI di Yogya yang dihadirkan bersama staf pengajar Ilmu Komunikasi Fisipol Universitas Gajah Mada, Wisnu Martha Adiputra (foto).

Kehormatan dari Radio Geronimo FM membuat saya mampu memutar mesin waktu ke tahun 1970-an. Saat itu saya bersekolah di STM Negeri 2 Yogyakarta. Kalau membaca koran Kedaulatan Rakyat sering memergoki surat pembaca yang ditulis Ir. RM Pradiko Reksopranoto, yang kami kemudian bisa bertemu muka di Solo tahun 2002.

Sedang tentang Radio Geronimo sendiri, saya telah menulis kenangan berjudul "Radio dalam Kehidupan Seorang Epistoholik." Tulisan ini kemudian dimuat di harian Media Indonesia, 10 September 2006, juga mengisi blog Rane Hafied, saat itu penyiar Radio Singapura dan kini menyiar di Radio NHK Jepang.

Seusai bincang-bincang di Radio Geronimo FM yang dipandu oleh host yang charming bernama Gracy Sondang Marpaung, Mas Wisnu Martha Adiputra telah menyisipkan tulisan tentang kaum epistoholik di antara tulisannya tentang musik, film, kreativitas dan media, di blog beliau yang menarik. Dengan rasa bangga, tulisan beliau tersebut saya pajang untuk mengisi blog saya ini.

Terima kasih untuk Widiaji, Sondy, dan juga Mas Wisnu, untuk dukungan dan apresiasi Anda terhadap kiprah warga EI ini. [Bambang Haryanto].


Dengan menulis kita dapat "memindahkan" gunung?
Betulkah demikian?

Jawabannya, benar sekali. Kita tidak hanya dapat "memindahkan" gunung tetapi juga mengubah dunia menjadi lebih baik.

Tentu saja bukan berarti memindahkan gunung dalam pemaknaan kerja fisik tetapi lebih berarti pada perubahan besar yang abstrak dan tidak langsung, baik di level individual dan masyarakat.

Betapa banyak individu yang berubah karena tulisan. Banyak juga kelompok-kelompok masyarakat yang berkembang lebih baik karena tulisan. Tulisan adalah wahana kreativitas dan inspirasi yang mengalir dari satu pihak ke pihak yang lain. Bila hal yang positif, inspirasi dan kreativitas, itu bisa diterima, hal positif itu akan mengalir dengan mudah ke banyak orang.

Beberapa hari yang lalu di program acara radio "Angkringan Gayam" Geronimo FM, Yogyakarta, saya mengenal komunitas yang unik dan bertemu salah satu wakilnya. Mas Tuwarji. Nama komunitas itu adalah Epistoholik Indonesia.

Komunitas ini adalah kumpulan orang yang menulis dengan rutin di surat pembaca media cetak, terutama suratkabar. Mereka menulis tentang kegundahan hati yang terjadi di lingkungan sekitar. Kebanyakan kegundahan hati mereka adalah kegundahan masyarakat umum karena hampir semua kegundahan itu berkaitan dengan pelayanan publik. Perbedaannya, para "epistoholik" ini dengan sukarela dan bahagia menuliskannya ke media.

Berdasarkan pemaparan blog Epistoholik Indonesia, www.episto.blogspot.com, kita dapat mengetahui bahwa kaum epistoholik adalah orang-orang yang kecanduan menulis surat pembaca.

Kata epistoholik berasal dari kata epistle yang berarti surat dan oholik yang berarti kecanduan. Bila imbuhan oholik pada alkoholik dan warkoholic bermakna negatif, tidak demikian halnya dengan epistoholik yang berarti positif.

Di dalam blog Epistoholik Indonesia sudah digambarkan dengan sangat bagus aktivitas mereka oleh pendirinya, Bambang Haryanto. Mereka menulis hal-hal yang tidak sesuai yang terjadi di sekitar mereka. Tidak jarang keluhan mereka yang dimuat di media massa membuat perubahan yang positif. Pihak-pihak yang tidak memberi pelayanan atau menjalankan kewajibannya dengan baik memang biasanya akan berbenah bila terpantau oleh publik yang lebih luas.

Bambang Haryanto sendiri sudah menulis surat pembaca sejak 1973 dan setelah itu dia kecanduan menulis surat pembaca di suratkabar. Dalam perkembangan selanjutnya, Bambang Haryanto bisa mengajak beberapa individu yang memiliki hobi sama untuk membentuk komunitas.

Kini komunitas Epistoholik Indonesia memiliki keanggotaan yang bersifat cair di beberapa kota. Perkembangan ini juga meluaskan komunitas, bukan hanya jumlah anggota yang bertambah banyak. Seperti yang dilakukan mas Ajie, ia kemudian membentuk komunitas donor darah yang bersiap 24 jam untuk membantu sesama lewat jaringan di media dan kaum epistoholik yang dikenalinya.


Bermedia tertinggi. Lalu, bagaimana meninjau fenomena ini dari sudut pandang kajian media? Hal yang agak mudah diamati dari komunitas epistoholik ini adalah bahwa komunitas ini berada dalam wilayah kecakapan bermedia yang "tertinggi".

Aktivitas menulis di media massa memerlukan pemahaman yang tinggi atas media. Selain itu, keinginan untuk memberikan kontribusi sosial melalui media adalah indikator tertinggi dari kecakapan bermedia. Kecakapan tertinggi ini mengindikasikan mereka tidak lagi kritis memandang media dan aktivitasnya, melainkan juga sudah berbuat sesuatu, yaitu dengan berkontribusi pada pesan media.

Kajian media bila diinteraksikan dengan demokrasi menunjukkan bahwa kaum epistoholik memperkuat demokrasi bermedia. Epistoholik atau audiens ini sedikit banyak juga berperan dalam produksi pesan media. Rubrik surat pembaca di sebuah suratkabar adalah salah satu rubrik yang paling diburu untuk dibaca. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh "keaslian" dari surat pembaca yang berasal dari masyarakat secara langsung. Kemungkinan rubrik surat pembaca adalah perwujudan yang paling riil dari ruang publik.

Suratkabar bisa dianggap sebagai jenis media yang paling demokratis karena suratkabar adalah media yang secara rutin menyediakan ruang bagi masyarakat. Hal ini berbeda dengan jenis media lain, terutama media penyiaran, atau media interaktif yang secara natural memang tertuju untuk masyarakat. Dengan demikian, media cetak merupakan kombinasi dari pihak media dan masyarakat.

Coba kita lihat ruang dan waktu yang diberikan media televisi sebagai contohnya. Hampir tidak ada ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan aspirasi melalui media. Hanya ada sedikit ruang dan waktu bagi audiens untuk menyuarakan kepentingan masyarakat. Audiens juga tidak bisa memberikan masukan atau kritik untuk stasiun televisi.

Ini adalah contoh untuk menunjukkan betapa rubrik surat pembaca beserta "aktivis" pengisinya, komunitas epistoholik, adalah bagian yang penting bagi demokrasi media. Memang setelah internet berkembang pesat dan menjadi bagian dari masyarakat, demokrasi media semakin mungkin terjadi, tetapi pada kenyataannya internet belum sekuat media cetak aksesnya di masyarakat.

Sebagai penutup, komunitas ini memiliki slogan episto ergo sum, yaitu aku menulis (surat pembaca) maka aku ada. Manifesto yang cantik dan terus membuat komunitas ini untuk terus menulis di surat pembaca, untuk memerdekakan diri dan berkontribusi sosial.

Komentar : bambang mengatakan...

Dear Mas Wisnu, salam episto ergo sum. Terima kasih untuk dorongan dan apresiasi Anda terhadap komunitas Epistoholik Indonesia, seperti yang Anda tunjukkan saat menjadi host di Radio Geronimo Yogya dan teman saya Tuwarji, menjadi tamu mewakili EI. Surprise, baru kali ini EI dapat tinjauan dari seorang akademisi. Selama ini banyak rekan wartawan yang sudi menyelisiknya.

Suatu kebetulan yang hadir di Geronimo adalah Mas Ajie. Kalau saya, mungkin acaranya jadi bubar,tidak fokus, karena saya pasti tergerak untuk selfish :-). Karena bernafsu ngomongin nostalgia musik tahun 70-an (Deep Purple, Led Zepp, Uriah Heep, Carpenters, Black Sabbath, Grand Funk Railroad, etc :-) ) yang saya dengarkan dari Radio Geronimo ini, saat saya jadi murid STM Negeri 2 Yogyakarta. Mungkin hal ini akan membuat Sondy, yang beda generasi, jadi tak enak posisinya saat memandu acara.

BTW, artikel Anda yang inspiratif ini akan saya pajang di blog EE saya (esaiei.blogspot.com), sebagai penulis tamu. Salam untuk Mas Ana Nadhya Abrar. Sukses selalu untuk Mas Wisnu !


Wonogiri, 16/8/2010

Tuesday, July 27, 2010

Anak Kecil Di Toko Permen Yang Menunggang Mesin Waktu

Warga Epistoholik Indonesia Di Tengah Jagongan Media Rakyat 2010 Yogyakarta-Bagian 1


Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 101/Juli 2010
Email : epistopress@gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia



"Episto ergo sum !"
Saya menulis surat pembaca karena saya ada !

Salam kebanggaan warga EI itu saya lantunkan ketika menutup talkshow "Memindahkan" Himalaya Dengan Surat Pembaca, Jumat, 23 Juli 2010 Malam.

Malam itu merupakan salah satu puncak kehormatan, yang datangnya serba tak terduga-duga, ketika komunitas EI kita diundang ikut berperanserta dalam acara Jagongan Media Rakyat 2010. Bertempat di Jogya National Museum, 22-25 Juli 2010, tempat yang dulunya merupakan kampus ASRI/ISI Yogyakarta.

Atmosfir Yogya segera merayapi sumsum-sumsum memori saya kembali. Tahun 1970-1972, saya bersekolah di sini. STM Negeri 2 Yogyakarta, di Jetis. Tahun-tahun sebelumnya, ketika masih duduk di bangku SD-SMP di Wonogiri, masa liburan adalah masa - masa bermain ke Yogya. Karena ayah saya, Kastanto Hendrowiharso, seorang prajurit TNI-AD, bertugas di Yogya, walau keluarganya masih tetap tinggal di Wonogiri.

Sebelum menutup dengan salam kita tadi, saya sempat menceritakan sebuah lagu, yang pertama kali juga saya dengar di Yogya ini. Melalui Radio Geronimo. Kalau tak salah tahun 1971. Saat itu Perang Vietnam masih berkecamuk. Di AS demontrans makin galak menuntut agar AS segera pergi dari negeri Paman Ho, karena sudah ribuan tentaranya tewas di sana. Protes-protes juga tergores dalam bentuk grafiti, di tembok-tembok kota dan tembok-tembok stasiun kereta api bawah tanah.

Suasana hati rakyat AS dan dunia yang gelisah itu telah dipotret oleh duo legendaris Simon & Garfunkel dalam lagu "Sound of Silence" (Suara Keheningan). Keduanya seolah memberi sasmita, dengan lirik yang indah : "The words of the prophets are written on the subway walls". Nubuat nabi-nabi tertulis di tembok-tembok stasiun trem bawah tanah.

Lalu saya timpali : "Siapa tahu, di era blog dan Internet dewasa ini, akan ada penyanyi lain yang menggubah lagu dengan lirik baru, tentang nubuat nabi-nabi yang tertulis dalam kolom-kolom surat pembaca. Juga pada situs-situs blog masa kini."

Saya memperoleh aplus untuk itu.

Aplus itu pasti juga untuk Anda, untuk semua warga EI, yang dalam keheningan tak berhenti mengguratkan suara-suara kebenaran.

Keajaiban dan fenomena goethendipity pun terjadi. Ini istilah dari pakar mind-mapping Tony Buzan yang menggabungkan antara ajaran Goethe ("Saat seseorang benar-benar melakukan sesuatu, maka takdir juga bergerak : Segala sesuatu terjadi untuk menolong saya, yang bila saya tidak melakukan sesuatu, maka itu tidak akan pernah terjadi") dengan kata serendipity, yaitu kemampuan menemukan sesuatu secara tidak disengaja ketika kita mencari sesuatu yang lain.

Tanggal 24 Juli 2010 malam, saya mengikuti diskusi bertopik "Mengelola Sumber Daya dan Pengetahuan bagi Organisasi Masyarakat Sipil." Menampilkan narasumber Idaman Andarmosoko (Pekerja Pengetahuan), Akhmad Nasir (Combine) dan Shita Laksmi (Hivos). Gara-gara diprovokasi oleh moderator, Yossy Suparyo, saya tampil sebagai penanya pertama dalam sesi itu.

Eksposure ini ternyata menghadirkan momen tak terduga. Ketika acara usai, seorang reporter radio Yogyakarta mengajak saya berbincang. Ajaibnya, ia ditemani seorang pemuda ramah, mengaku bernama Widiaji, alumnus UGM. Lalu Aji bercerita bahwa pada tahun 2002 dirinya merupakan bagian dari tim mahasiswa asal Yogyakarta yang memenangkan The Power of Dreams Contest-nya Honda (2002) di Jakarta. Sekadar info, saya juga memenangkan kontes yang sama untuk kategori peserta umum.

Widiaji, saat itu, tidak ikut dalam tim yang mempresentasikan impiannya dalam final di Jakarta. Timnya diwakili Ardian Permana dan Dular Budi Jatmiko. Sehingga saat itu, sesudah kemenangan mereka, perkenalan saya dengan Aji semata lewat email belaka. Malam itu, setelah delapan tahun, itulah kali pertama kita bertemu muka !

Sedang sang reporter ? Ia menjajaki kemungkinan saya sebagai pengisi acara dalam bincang-bincang tentang Epistoholik Indonesia kita, dua minggu mendatang. Reporter yang charming itu bernama Gracy Sondang Marpaung.

Dari Radio Geronimo !


Wonogiri, Klaten, Rebecca MacKinnon. Saya berangkat dari Wonogiri, 23/7, sekitar jam 14-an. Syukurlah, sebelum berangkat upaya saya "menyembuhkan" flash disk saya yang macet, berstatus write protected, lancar di Warnet Rion. Jadi saya bisa berangkat ke Jogya dengan ringan hati.

Sekedar info : bila flash disk itu macet, akibatnya tidak bisa digunakan untuk menyimpan data. Membuang data yang ada juga tak bisa. Bila parah, sekedar menampilkan isinya saja juga tidak bisa. Sebagai orang non-techie, saya tak tahu apa penyebabnya. Karena virus ?

Syukurlah, di bulan Maret 2010 yang lalu, dengan Google, saya menemukan "obat" untuk sakitnya flash disk saya itu. Silakan klik di sini. Lalu ikuti saja prosesnya. Insya Allah, solusi akan Anda temukan.

Flash disk yang bugar tersebut ternyata bermanfaat sekali ketika kita terjun di tengah pasar informasi yang dijajakan untuk berbagi pada beragam stan di perhelatan Jagongan Media Rakyat 2010 yang unik itu.

Berkumpul. Berbagi. Bergerak.

Dengan semboyan atau tagline yang menggugah itu, membuat spirit open source yang dikembangkan oleh penemu Linux, Linus Tolvalds, benar-benar menjadi roh yang hidup di tengah-tengah acara yang inspiratif tersebut.

Itu di Yogyakarta. Di kota saya, semangat untuk berbagi itu rupanya belum atau tidak tercermin ketika menengok kiri dan kanan jalan, saat bis yang saya tumpangi merayapi jalan raya Wonogiri-Solo, juga Solo-Yogyakarta. Saat ini di jalanan Wonogiri, dan juga di Klaten, mulai banyak dihiasi baliho-baliho besar yang memajang tampang dan janji-janji para calon bupati yang akan terjun dalam pemilihan umum kepala daerah bersangkutan.

Saya bergumam : baliho-baliho itu semangatnya seragam. Tidak mau berbagi. Sekaligus mencerminkan si kandidat sebagai tokoh yang tidak (mau) tersentuh. Terkait hal itu saya pernah menulis surat pembaca di Kompas Jawa Tengah (19/5/2010) tentang baliho-baliho sarat sikap arogansi itu. Berjudul "Pilkada, Google dan Wonogiri."

Petikan isinya : "Jual tampang dan jual gelar-gelar akademis merupakan pemandangan biasa menjelang Pilkada. Saksikan saja isi media kampanye para kandidat yang bertebaran di pinggir jalan raya, di mana di Wonogiri hal serupa mulai terjadi.

Tetapi kebanyakaan modus kampanye mereka bergaya sok artis, sok terkenal, dan selfish, mementingkan diri sendiri, karena tidak membuka peluang dialog dengan konstituen. Tak ada data nomor telepon/HP, email, blog/situs yang bisa mengundang konstituen untuk berinteraksi. Para kandidat pemimpin daerah di Wonogiri nampaknya belum terbuka cakrawalanya untuk memanfaatkan teknologi informasi secara semestinya."

Memanfaatkannya pun masih dengan pola pikir lama. Pagi itu, tiba-tiba sebuah SMS kampanye masuk ke HP saya. Saya tidak tahu bagaimana nomor saya bisa masuk dalam jangkauan si pengirim. Bunyi SMS tim sukses calon yang memperoleh nomor 3 itu sebagai berikut :

"Ingin perubahan ? Lakukan n pengaruhi keluarga, tetangga, handai taulan, n siapa pun termasuk para olahragawan, pemerhati olahraga, pelatih, pemerhati pendidikan, pemerhati kesehatan, pemerhati anak-anak, pejabat, buruh, kuli panggul, sopir, kernet, petani, peternak sampai rakyat profesi apapun utk ingat n coblos MUDY…(mulyadi-edy) : no 1 buka kartu no 2 lht gambarnya ben ora kliru no 3 dicoblos no 4 dilipat trus mskkan kotak suara. Gampang tho. Insya Allah upaya panj semua berkah. Amin." (23 Juli 2010 : 07.03.07).

SMS itu saya balas. "Agar kampanye Anda sukses, saya usulkan : 1. Jangan mengirimkan SMS yang isinya menyuruh-nyuruh orang, 2. Kirimkan SMS yang relevan dengan mindset para penerima dan tidak hanya sekali, dan 3. Ikuti nasehat pakar pemasaran digital Seth Godin yang memiliki formula mengubah orang asing menjadi kenalan, kenalan menjadi teman, dan teman menjadi pengikut."

Produk atau layanan teknologi informasi masa kini merupakan media ideal untuk berkampanye, asal dilandasi semangat yang tulus untuk berbagi. Karena karakter media digital adalah interaktif dan egaliter. Sungguh merupakan strategi yang mencerdaskan bila para kandidat itu tidak menganggap konstituen hanya sebagai botol kosong yang boleh mereka isi dengan citra atau janji muluk-muluk kampanye yang mereka tulis di baliho-baliho, spanduk sampai stiker mereka itu

Melainkan, secara legawa dan bersemangat mendaulat para konstituen untuk berbicara balik kepada dirinya. Baik lewat surat, faks, email, telepon, SMS sampai ke bentuk penulisan surat-surat pembaca. Lalu, para kandidat mencerna semua aspirasi itu, kemudian membalasnya, mendiskusikannya secara bersama.

Surat pembaca saya lainnya, berjudul "Caleg Tidak Mendengar" di harian Kompas Jawa Tengah (20/3/2009) membahas lebih lanjut akan hal itu. Selengkapnya berbunyi :

"Hai rakyat, dengarkanlah dan ikuti kata-kataku. Percayai janji-janjiku, dan pilihlah aku. Begitulah inti pesan dari berderet papan peraga kampanye para caleg yang bertebaran di jalanan. Mereka seolah berada di atas, mengira rakyat itu bodoh dan mudah mengikuti apa saja kata mereka.

Persepsi itu salah besar. Mereka harusnya mau belajar dari ujaran Rebbeca MacKinnon, seorang blogger dan peneliti di Universitas Harvard yang mantan wartawan CNN di Beijing dan Tokyo.

Ia bilang, seseorang lebih mampu menyerap dan mengelaborasi kembali informasi secara lebih mendalam bila yang bersangkutan dilibatkan dalam diskusi mengenai materi tersebut. Bahkan mereka memiliki pemahaman lebih mendalam lagi bila dirinya mampu menuliskan opini tentang hal bersangkutan di ruangan publik.

Untuk mensosialisasikan pemilu dan individu caleg bersangkutan, kalau saja saya seorang birokrat KPU/KPUD atau caleg dan birokrat partai, akan saya ajari rakyat untuk menulis di beragam media. Baik artikel atau surat-surat pembaca di media massa, atau pun di blog-blog di Internet. Termasuk membebaskan mereka untuk menuliskan kritik untuk para caleg bersangkutan.

Dengan demikian maka papan peraga kampanye di jalanan itu bukan sebagai media indoktrinasi, searah, yang membodohi rakyat. Tetapi lebih merupakan undangan awal bahwa caleg bersangkutan bersedia membuka telinga untuk mendengar aspirasi rakyat."

Saya bersemangat berangkat ke Yogya, antara lain untuk berupaya mengampanyekan bagaimana kolom surat-surat pembaca dapat didaulat sebagai media rakyat untuk berbicara. Ternyata, di tengah perhelatan Jagongan Media Rakyat 2010 itu mata saya semakin terbuka terhadap kehadiran beragam media lainnya sebagai sarana rakyat untuk berbicara. Terjun di tengah keragaman itu maka rasanya petualangan seorang anak kecil yang kecebur di tengah-tengah toko permen,merangsang untuk segera dimulai !


(Bersambung)


Wonogiri, 26-27/7/2010

ee

Tuesday, July 20, 2010

Demokrasi, Facebook dan Eksistensi Maya Anda

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 100/Juli 2010
Email : epistopress@gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


"Seperti taman kanak-kanak."
Anda masih ingat julukan seperti itu yang dilontarkan oleh almarhum Gus Dur ketika menggambarkan profil dan perangai para wakil rakyat kita ?

"Demokrasi kita masih berumur 2-3 tahun."
Begitu kata begawan lingkungan hidup dan negarawan kita, Emil Salim.

Di buku saya yang akan segera terbit, Komedikus Erektus, sambil merujuk "huru-hara" para wakil rakyat kita ketika bersidang melakukan pemungutan suara terkait kasus skandal Bank Century yang kini sayup-sayup telah kita lupakan (?), saya menuliskan pendapat : mereka berhura-hura itu sebagai kompensasi karena mereka hanya memiliki penis yang kecil-kecil belaka.

Sumber rujukan :
ucapan Gus Dur di atas.

Sumber segala kegaduhan seperti di atas itu, oleh "nabi" media digital dari MIT, Nicholas Negroponte, penulis buku Being Digital (1995) (foto), disebutnya karena kita masih dalam situasi eforia dalam mengelola kondisi-kondisi baru. Ketika terbebas dari cengkeraman rejim Soeharto dan Orde Barunya yang represif, kita mabuk untuk melakukan pesta pora. Mabuk demo, gugat-menggugat, aksi teror untuk mengancam pejuang demokrasi, bahkan termasuk pesta pora dalam melakukan korupsi pula !

Mabuk tombol. Nicholas Negroponte, punya tamsil jitu untuk itu. Fenomena eforia atau bahkan mabuk kita saat ini ibarat kita ketika memiliki sebuah kamera handycam yang baru. Karena kegirangan, semua tombol akan kita eksploitasi. Semua gerakan kamera dan teknik syuting dipakai sekaligus. Saat ditayangkan, walhasil, gambarnya jelas membikin pusing penontonnya.

Dengan berjalannya waktu, ketika penguasaan terhadap beragam tombol dan teknik penggunaan kamera itu sudah memadai, maka hasil syutingnya menjadi tidak memusingkan lagi. Kehidupan demokrasi di negara kita akan seperti itu juga kiranya.

Eforia a la pemakaian kamera handycam itu juga berlaku dan marak di dunia jaringan sosial, Facebook. Banyak dari kita yang selama ini belum terbiasa, atau belum memiliki tradisi kokoh dalam mengungkapkan pikiran atau berekspresi dengan kata-kata melalui media, tiba-tiba terbuka peluang untuk hal itu.

Hasilnya ?
Silakan Anda sendiri yang menilainya.

Halaman Facebook memang kuat menggoda kita untuk menjadi selfish, ketika menulis tentang apa saja. Apalagi tulisan-tulisan status yang engga usah mikir pun bisa. Godaan serupa juga pernah saya alami sebagai kaum epistoholik, kaum pemabuk dalam kiprah penulisan surat-surat pembaca di media massa. Kaum epistoholik terbiasa tergoda untuk mengomentari segala hal. Menulis topik segala hal.

Nasehat David Parrish. Memang itu bukan penyakit yang berbahaya. Tetapi dalam bingkai terkait ciri wanci, identitas, jati diri, atau kerennya personal brand, pilihan menjadi makhluk renaisans yang memiliki beragam minat dan keahlian di era melimpahruahnya informasi ini jelas merupakan suatu kemustahilan.

Menurut Henri Jenkins, salah satu pendiri Comparative Media Studies Program di Massachusetts Institute of Technology, dalam artikelnya "The Future of Teenagers: My Interview in O Globo" (14/6/2010), kita kini tercebur dalam era intelijen kolektif, sebuah dunia di mana tidak ada seorang pun mengetahui segala hal. Sehingga apa yang diketahui oleh seseorang harus dibagikan kepada kelompok yang membutuhkannya.

Henri Jenkins berpendapat bahwa anak-anak muda masa kini dituntut belajar untuk mengetahui keahlian masing-masing dari teman mereka, juga orang lain dalam jaringan mereka, untuk belajar bekerja sama guna menyelesaikan masalah kompleks yang tidak mampu mereka pecahkan secara sendirian. Hal itu juga berlaku dalam dunia pekerjaan, juga dalam kehidupan bermasyarakat.

Berekspresi dalam berbagai topik di media maya, juga di Facebook, bila menurut pakar ekonomi kreatif dari Inggris, David Parrish, ibarat kita seorang diri yang menerjunkan diri dalam pelbagai fron sekaligus. Dalam satu waktu kita memilih untuk memiliki banyak musuh. Banyak kompetitor. Tidak kita sadari, pilihan ini merupakan salah satu penyebab kegagalan.

Nasehat David Parrish : "Semakin Anda terspesialisasi, semakin sedikit kompetitor nyata Anda. Memang benar, pangsa pasar Anda akan menjadi mengecil juga, tetapi demikian pula jumlah pemasoknya. Lebih baik menjadi ikan yang terbesar, walau pun kolamnya lebih kecil."

Terima kasih, Henry Jenkins.
Terima kasih, David Parrish.

Blog spesialis. Masih berat juga bagi saya untuk saat ini secara ketat mengikuti nasehat keduanya. Tetapi saya memiliki solusi sendiri. Di Facebook dan kolom-kolom surat pembaca, saya akan tetap menulis tentang segala hal. Tetapi tulisan yang sama juga akan saya pilah-pilah untuk dipajang pada blog yang khusus topiknya.

Sejauh ini, sepertinya, tidak jelek-jelek amat hasilnya. Sebagai perbandingan, di Facebook sebagai ranah maya the walled garden di mana tercatat data sekitar 400-an orang bernama "Bambang Haryanto," hal itu membuat saya tersesat. Justru dalam fasilitas "Search" saya dan teman-teman rasanya kesulitan menemukan akun diri saya di Facebook, walau saya sudah menulis 100 catatan di sana ! Tetapi syukurlah, Google masih berbaik hati dalam menampilkan eksistensi diri saya di antara nama yang sama pada kiprah di pelataran dunia maya lainnya.

Dampak baiknya, sebagai contoh, blog komedi saya, Insya Allah, akan menjadi buku. Blog suporter sepak bola saya beberapa kali menjadi rujukan media, juga menghasilkan naskah buku Hari-Hari Sepak Bola Indonesia Mati yang saya tulis tahun 2003-2004 yang lewat.

Blog tentang keluarga besar saya, Trah Martowirono, pernah diliput di harian Solopos (16/6/2007), lucu juga, mampu mengenalkan kami dengan pemilik keturunan Martowirono yang tersebar di Amerika Serikat, Suriname, Belanda dan Irlandia. Walau ternyata kami hanya memiliki kesamaan nama untuk nenek moyang kita belaka, tetapi toh hubungan antarkita yang antarbenua itu tetap baik adanya.

Sedang blog penulisan surat pembaca rupanya membuat LSM Combine dari Yogyakarta tergelitik untuk mengundang saya dalam acara mereka akhir bulan Juli 2010 ini. Acara mereka itu disebut Jagongan Media Rakyat 2010, di Jogja National Museum, 22-25 Juli 2010. Rinciannya adalah sebuah perhelatan akbar 4 hari, persembahan dari 40 komunitas, menggelar 40 pelatihan/diskusi, 40 stand, dimeriahkan 40 pertunjukan, dan dihadiri lebih dari 4.000 pengunjung.

Saya kebagian untuk bercerita tentang kiprah kaum epistoholik dalam workshop: "Memindahkan" Himalaya Melalui Surat Pembaca. Waktunya : Jumat, 23 Juli 2010, Jam 19.30 - 21.00.

Teman-teman saya di Yogya dan sekitarnya, bisakah kita ketemuan di sana ?


Wonogiri, 20 Juli 2010


ee

Perpustakaan Sampah

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 99/Juli 2010
Email : epistopress@gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


Di kolom surat pembaca sering termuat aktivitas sekelompok mahasiswa yang sedang melakukan kuliah kerja nyata (KKN) yang berniat membangun perpustakaan di desa tempat mereka mengabdikan diri. Untuk niatan itu, mereka kemudian meminta sumbangan bahan-bahan pustaka.

Ide dan niat itu sungguh mulia.

Tetapi sering mereka lupakan, bahwa perpustakaan buatan mereka itu harus terus tumbuh, bahkan ketika mereka selesai melangsungkan KKN itu. Bahan-bahan pustaka yang terbatas, hanya itu-itu saja dan tak ada yang baru, justru akan mematikan minat warga untuk membaca.

Salah satu cara membuat perpustakaan bertumbuh adalah menjamin adanya aliran dana untuk membeli buku-buku baru. Bagaimana bila dana itu dicoba dihasilkan melalui penjualan sampah-sampah di desa bersangkutan ?

Kita dapat belajar dari solusi kreatif yang muncul dari gerakan akar rumput di Dusun Badegan, Trirenggo, Bantul, Yogyakarta. Berawal dari kesadaran individu, warga mulai mengumpulkan sampah di rumahnya.

Sampah tersebut lalu disetorkan ke Bengkel Kerja Kesehatan Lingkungan (foto) atau yang kini lebih dikenal dengan nama Bank Sampah Gemah Ripah yang dipelopori oleh Bambang Suwerda.

Di tempat ini sampah ditimbang, dicatat dan kemudian harganya ditentukan ketika sampah tersebut dibeli oleh pengepul sampah. Disinilah letak fungsi bank karena pencairannya kepada warga dilakukan setiap tiga bulan sekali.

Ternyata, jika sampah dikelola dengan baik bisa mendatangkan manfaat, membawa berkah bagi warganya. Perpustakaan desa yang dibangun dari hasil sampah pun, kiranya pantas pula untuk kita coba.


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia
Wonogiri 57612

*)Surat pembaca ini dengan penyuntingan telah dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, Senin, 19 Juli 2010 : Halaman D.

Tuesday, May 25, 2010

Gesang, Jejaring Sosial dan Dana Megawati

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 96/Mei 2010
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia



Saya punya kebiasaan jelek.
Tidak rajin menonton televisi.
Jadi seringkali banyak ketinggalan berita.

Hari Jumat 22 Mei 2010 lalu, ketika diundang Republik Aeng-Aeng untuk ke Solo guna menonton konser pelajar di rumahnya maestro keroncong Gesang, saya tidak ngeh tentang apa yang terjadi. Baru ketika naik bis dan penjaja koran menawarkan koran JogloSemar yang diobral seribuan, saya baru tahu dari tajuk beritanya bahwa Gesang telah meninggal dunia.

Jadi perjalanan saya ini adalah perjalanan layatan. Sayang, bis Raya yang saya tumpangi mengalami gangguan kopling menjelang Nguter. Menunggu, dan lalu harus ganti bis Ismo, membuat saya terlambat tiba di rumah Gesang.

Acara pun telah usai. Para kerabat dan hansip kampung membenahi kursi-kursi. Para pelajar yang bernyanyi, sudah tak ada lagi. Saya hanya bertukar senyum dengan seorang pria berwajah Jepang yang sedang memotret-motret ruang tamu maestro keroncong itu.

Sudah telanjur sampai di Solo, saya memutuskan dari Kemlayan itu untuk jalan kaki ke Toko Buku Gramedia. Di deretan buku-buku baru saya takjub menemukan bukunya Nicholas Christakis dan James H. Fowler, Connected : Dahsyatnya Kekuatan Jejaring Sosial Mengubah Hidup Kita/" (Gramedia, Mei 2010). Sebuah serendipity yang menyenangkan.

Takjub karena pada tanggal 13 Mei 2010 lalu saya telah mengakses tayangan video Nicholas Christakis ketika berbicara dalam forum konferensi TED (Technology, Entertainment, Design).

Forum TED ini cikal-bakalnya digagas oleh Richard Saur Wurman dan pernah diliput oleh majalah Fortune tahun 1980-an. Dari liputan itu saya lalu menyontek istilah intellectual hedonist yang kemudian saya pakai untuk label atau brand diri sendiri. Termasuk untuk deskripsi diri pada akun FB saya ini. Label itu saya pakai sebagai tabir atau bom asap bagi kondisi nyata diri saya selama ini, sebagai seorang pengangguran.

Organisasi nirlaba ini punya slogan jenial : ideas worth spreading. Klik. Sebagai seseorang yang suka bergulat dan berkebun gagasan, saya pun memutuskan bergabung sebagai warga jaringan global untuk forum ini sejak bulan Juli 2009. Walau kebanyakan masih sebagai seorang lurker belaka.

Kembali ke buku Connected tadi. Dalam forum TED itu Nicholas Christakis, yang profesor di Universitas Harvard itu, bertutur terkait pengalamannya sebagai dokter yang mengurusi pasien yang menjelang ajal dan juga para keluarganya, sekitar 15 tahun lalu di Universitas Chicago.

Ia mengkaji apa yang disebut sebagai widower effect, menurutnya sebagai gagasan lama dalam ilmu-ilmu sosial sejak 150 tahun lalu, yang dikenal sebagai kondsi "kematian akibat patah hati." Ia bilang, kalau saya meninggal dunia, resiko yang sama menjadi berganda untuk istri saya dalam tahun pertama.

Ia lalu merujuk contoh pasien yang sakaratul maut akibat sakit pikun, yang dirawat oleh putrinya. Si anak itu mengalami kelelahan, jasmani and rohani, karenanya. Suami sang anak itu kemudian juga ikut tertular sakit istrinya. Nicholas Christakis, lanjut cerita, pernah menerima telepon dari teman sang suami tadi, bahwa dirinya ikut terimbas penderitaan depresi yang diderita kawannya itu. Ia pun secara acak menelpon rekan sang suami itu, dan dalam fase tertentu teman-teman itu juga mengalami depresi serupa.

Ujar Nicholas bahwa dirinya memperoleh dua fakta nyata. Pertama, efek kehilangan suami/istri itu tidak hanya mendera suami atau istri yang kehilangan itu. Yang kedua, hal itu ternyata juga tidak hanya terbatas pada pasangan beberapa orang dekat, tetapi terus melebar sampai ke lingkaran pergaulan selanjutnya. "Koneksi-koneksi itu begitu luas, dan kita semua melengket pada jaringan hubungan satu dengan yang lain," simpulnya.

Ia pun memberi contoh lain : kalau Anda gemuk, teman-teman Anda pun akan kecenderungan "tertular" ikut gemuk pula. Demikian pula kebiasaan merokok, termasuk juga mengenai kebahagiaan. Malcolm Gladwell dalam bukunya The Tipping Point (2000) pernah menggaris bawahi realitas pentingnya lingkar pergaulan. Menurutnya, lebih baik anak berasal dari keluarga yang bobrok tetapi memiliki lingkar pertemanan yang baik, dibanding anak-anak berasal dari keluarga baik-baik tetapi terbenam dalam lingkaran pergaulan yang bobrok.

Buku itu juga menarik bagi kita para Facebookers. Kajiannya juga menunjukkan bahwa pola jejaring sosial di dunia maya (Internet) ternyata mirip dengan pola jejaring di dunia nyata. Jadi, setelah membaca buku ini Anda akan tahu bahwa Facebook bukan sekadar Facebook, tapi itu adalah duplikat pola jejaring soial kita di dunia nyata.

Terima kasih, Pak Nicholas.

Buku yang menggoda. Termasuk pula bukunya John Hagel III dkk., The Power of Pull: How Small Moves, Smartly Made, Can Set Big Things in Motion (2010). Godaan lain, tetapi bukan buku, melainkan perangkat keras USB Wifi. Sarana untuk akses Internet melalui hotspot yang beberapa hari ini sudah dinikmati oleh keponakan saya yang SD sampai lulusan SMA, Yasika, Yuko dan Yudhis, di rumah.

USB Wifi itu akan memberdayakan komputer tua saya sehingga dapat terkoneksi tanpa kabel dengan dunia maya. Di lantai bawah toko itu, tempat menjual periferal komputer, ternyata alat ini tidak saya temukan.


Komedi dan epistoholik. Dari toko buku Gramedia, saya mampir ke gedung sebelahnya. Studio Radio Ria FM, karena daya tarik baliho yang mewartakan adanya lomba lawak se-Solo Raya bulan Juni 2010 mendatang. Ngobrol dengan Mas YBF Embun Hendrojati, Station Manager. Saya yang ingin memperoleh informasi lebih detil tentang lomba lawak itu dan ingin saya pajang di blog Komedikus Erektus, ia justru meminta data email saya. Kartu nama pun saya berikan.

Ia selanjutnya banyak bercerita mengenai kiat mengintegrasikan acara radionya berupa kuis yang melibatkan pengunjung toko buku Gramedia di Solo. Ketika saya memberikan kartu nama saya, ia ingin tahu apa itu "epistoholik" yang tercantum di dalamnya. Sambil menjelaskan sekadarnya, saya juga merujuk isi surat pembaca saya yang dimuat di harian Kompas Jawa Tengah, Rabu, 19 Mei 2010 di bawah ini. Sayang, sampai hari ini email dia tentang lomba lawak radionya itu belum saya terima.


Pilkada, Google dan Wonogiri

Jual tampang dan jual gelar-gelar akademis merupakan pemandangan biasa menjelang Pilkada. Saksikan saja isi media kampanye para kandidat yang bertebaran di pinggir jalan raya, di mana di Wonogiri hal serupa mulai terjadi.

Tetapi kebanyakaan modus kampanye mereka bergaya sok artis, sok terkenal, dan selfish, mementingkan diri sendiri karena tidak membuka peluang dialog dengan konstituen. Tak ada data nomor telepon/HP, email, blog/situs yang bisa mengundang konstituen untuk berinteraksi. Para kandidat pemimpin daerah di Wonogiri nampaknya belum terbuka cakrawalanya untuk memanfaatkan teknologi informasi secara semestinya.

Boleh jadi hal tersebut juga mewakili gambaran tentang tingkat ke-gaptek-an masyarakat Kota Gaplek ini, seperti tercermin dari hasil riset kecil-kecilan tanggal 15 Mei 2010. Melalui bantuan mesin pencari Google, saya masukkan nama-nama kabupaten di eks Karesidenan Surakarta.

Hasilnya : Klaten, 1, 32 juta lema/entri, Sragen, 947 ribu, Boyolali, 897 ribu, Karanganyar, 872 ribu, Sukoharjo, 870 ribu dan yang paling buncit, Wonogiri, 772 ribu lema. Tambahan, untuk Surakarta tersaji 2 juta lema.

Para calon bupati dan calon wakil bupati Wonogiri yang kelak akan terpilih, silakan saja Anda terus mengembangkan wayang, keris, batu karst, ketek ogleng, sampai campursari.

Tetapi mesin penggerak kemajuan sesuatu bangsa tetaplah kiprah karunia Allah yang demokratis dan berada di antara dua kuping masing-masing warga, dengan dibantu sarana imperatif dunia modern saat ini : teknologi informasi.


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia


Melepas Gesang. Acara berikutnya, meluncur ke Pendapi Gedhe, balairung dari Balai Kota Surakarta. Gedung sudah penuh sesak para pelayat yang ingin mengantar Gesang ke peristirahatannya yang terakhir, di TPU Pracimoloyo, Makamhaji, Sukoharjo. Selama upacara berlangsung, entah kenapa, juga tidak satu pun diperdengarkan lagu-lagu karya Gesang.

Di dekat keranda yang berbalut bendera Merah Putih, terdapat layar untuk memproyeksikan tayangan visual. Sarana itu hanya teronggok bisu. Mayor Haristanto menyeletuk : "Alangkah baiknya, saat menunggu upacara, di layar tersebut dapat ditayangkan klip-klip visual berupa biodata Gesang semasa hidupnya."

Saya pun membalas : "Jadi untuk upacara pemakaman seseorang tokoh harus melibatkan campur tangan EO (event organizer) ya ? Begitu sang tokoh bersangkutan sakit keras, maka sang EO segera meneken kontrak dan langsung bekerja mempersiapkan segala rupa untuk pemakamannya ?"

Upacara melepas jenazah Gesang pada hari Jumat siang itu dilakukan dengan upacara militer. Inspektur upacaranya adalah Walikota Solo, Joko Widodo.

gesang,bambang haryanto,ngarsopuro,24 mei 2010,mengenang jasa gesang,sd muhammadiyah 1 solo,tk primagama solo

Fast Forward : Senin, 24 Mei 2010. Hari ini saya ke Solo lagi. Menyaksikan anak-anak dan pelajar Solo melakukan kegiatan mengenang Gesang. Mereka itu adalah murid TK Primagama dan murid SD Muhammadiyah 1 Solo. Mereka menyanyikan lagu "Bengawan Solo," pembacaan puisi oleh Anni, musikalisasi puisi diiringi gesekan biola Intan dari SMA St. Yosef dan petikan gitar Agus S. Dhukun, dan juga cerita guru tentang keteladanan Gesang selama hidupnya.

Aktivitas itu berlangsung di Ngarsopuro, di depan lukisan Gesang yang terpampang di tembok pinggir jalan. Lukisan karya pelukis Sugeng Riyanto itu berjudul "Sang Maestro" (2009), berukuran 1,6 x 2,5 meter , dibuat dengan bahan cat besi di atas plat alumunium.

Setelah ikut mengantar barisan anak-anak itu mengunjungi rumahnya Gesang, saya ikut ke Nayu, ke studio Republik Aeng-Aeng. Ketika membaca-baca isi koran JogloSemar hari itu, terdapat berita yang membuat dahi rada berkerinyut.

Berita itu berjudul, "Megawati Hadiri Pemakaman Mertua Jokowi." Mertua Walikota Solo itu, bernama Ngadiyo (78), wafat pada hari Sabtu malam. Dimakamkan hari Minggu. Pada baris berita selanjutnya tertulis, "Istri almarhum, Hj. Sri Sunarni, telah meninggal dunia tanggal 28 September tahun lalu."

Apakah ini hanya kebetulan ?
Ataukah tesis Nicholas Christakis itu terbukti ?
Saya tidak tahu.

Tetapi terkait kehadiran Megawati dan putri mahkotanya, Puan Maharani di Solo dan sekitarnya, yang antara lain untuk berkampanye mendukung kadernya bertarung di Pilkada Sukoharjo (3/6/2010), terdapat kabar yang cukup menggelitik.

Hari Sabtu malam Megawati sempat mendatangi pasar malam tiban di Ngarsopuro. Ia dengan arahan Pak Jokowi menghampiri rombongan paduan suara UNS Sebelas Maret, Voca Erudita, yang lagi mengamen. Mereka mengamen guna menghimpun dana untuk membiayai tur mereka bulan Juni 2010 mendatang ke China. Lintang Rembulan, putrinya Mayor yang kini kuliah di jurusan Arsitektur, juga bergabung di dalamnya.

Saat itu, secara spontan, diceritakan bahwa mantan Presiden Republik Indonesia itu menyumbang Voca Erudita. Langsung dari dompetnya sebanyak 10 ribu dollar Amerika Serikat !

Sebagai penonton televisi yang jelek, apakah peristiwa ini sudah masuk sebagai berita atau tidak, saya benar-benar tidak tahu.


Wonogiri, 25 Mei 2010


ee

Monday, January 04, 2010

Gus Dur, Surat-Surat Pembaca Saya 1990-2007

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 90/Januari 2010
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


Gus Dur dan Komedi
Dikirimkan ke kolom Surat Pembaca – Harian Suara Merdeka
Senin, 12 November 2007

Salah satu buku kumpulan lelucon yang saya miliki, saya beli pada tanggal istimewa : 25 Oktober 1986. Di toko buku Gramedia Blok M, Jakarta Selatan. Buku itu karya Mildred Meiers dan Jack Knapp, berjudul 5600 Jokes For All Occasions (1980).

Istimewa karena saat itu saya ketemu Gus Dur dan saya memberanikan diri untuk memperlihatkan buku yang baru saya beli kepadanya. Melihat kesamaan sebagai penikmat humor, setelah saling bertukar koleksi lelucon, Gus Dur mengeluarkan pernyataan yang saat itu berupa misteri.

“Hanya kita-kita saja yang masih waras,” cetusnya.

Belasan tahun kemudian teka-teki Gus Dur itu baru bisa saya mengerti. Hal itu terjadi di akhir 2001 ketika saya membaca-baca bukunya Judy Carter, The Comedy Bible (2001). Asumsi dan bahkan paradigma saya tentang komedi yang sudah saya anggap benar selama ini, bahkan karatan, berurat dan berakar, harus diruntuhkan.

Pemahaman bahwa menjadi komedian itu sekadar tampil di panggung menceritakan lelucon tentang orang lain atau karya orang lain, ternyata menurut Judy Carter hal itu merupakan kekeliruan yang sangat fundamental. Karena menurutnya, setiap komedian wajib dituntut orisinalitasnya.

Di panggung dirinya harus berani dan jujur dalam membeberkan otobiografi mereka masing-masing. Tambah Judy Carter, kalau sebagian besar orang cenderung menyembunyikan cacat dan cela dirinya, para jenakawan justru mempertontonkannya semua itu kepada dunia.

Seorang Gus Dur, seperti diungkap Moh. Mahfud M.D. dalam artikelnya “Politik Humor Gus Dur” (JawaPos,15/3/2006), memiliki kepiawaian tinggi dalam menghumori dirinya sendiri. Keikhlasan Gus Dur mengolok kekurangan diri sendiri, self-deprecating, merupakan ujud kewarasan dirinya sebagai pribadi.

Dari pribadi beliau seperti itu, kita bisa bercermin sekarang : berapa banyak pemimpin dan pejabat negeri ini yang masih waras, berani jujur mengakui dan berani menertawai kekurangan diri mereka sendiri ?

Bambang Haryanto (EI/081329306300)
Wonogiri 57612


Humornya Pendosa
Dikirimkan ke kolom Surat Pembaca Harian Suara Merdeka,
Kamis, 26 Januari 2006


Anne Bancroft (73), artis Hollywood yang terkenal memainkan Mrs. Robinson dalam film The Graduate (1967), meninggal dunia 7/6/2005 yang lalu. Sebagai penghormatan, lampu-lampu di Broadway diredupkan. Ia meninggal karena sakit kanker rahim.

Ia dinominasikan meraih Oscar lima kali dan sekali memenangkannya ketika bermain sebagai guru tokoh tuna netra terkenal, Helen Keller ketika masih muda, dalam film The Miracle Worker (1963). Istri komedian Mel Brooks ini terkenal memiliki selera humor tinggi dan menganggap tertawa merupakan harta penting yang berharga.

Tanggal 21/6/2005, Kardinal Jaime Sin dari Filipina, juga meninggal dunia dalam usia 76 tahun. Ia tokoh sentral yang ikut menumbangkan diktator Marcos (1986) dan pula Presiden Josep Estrada yang korup (2001). Beliau punya selera humor yang tinggi pula.

Konon, kepada para tamu yang mengunjungi kediamannya akan disambut dengan ucapannya yang khas, yaitu : Selamat Datang di House of Sin. Lelucon yang cerdas. Karena rumah beliau dalam konteks lelucon dapat diartikan sebagai rumahnya pendosa.

Mungkin karena kejelian wartawan, tetapi sungguh mengharukan, banyak catatan yang ditorehkan untuk mengenang beberapa tokoh besar yang wafat adalah justru mengenai selera humor mereka. Hal ini menyiratkan betapa penting selera humor. Gus Dur pernah bilang, mereka yang memiliki selera humor adalah mereka yang masih waras. Artinya, masih mampu menertawakan kekurangan dirinya tanpa merasa terluka atau terhina.

Masalahnya, kalau kini Indonesia lagi boom tokoh-tokoh yang diindikasikan melakukan korupsi atau melanggar HAM, tetapi sementara mereka terus bersibuk mungkir demi mempertahankan diri, sebenarnya berapa banyak pribadi yang masih waras di republik kita dewasa ini ?

Bambang Haryanto
Wonogiri 57612


Komedian Islam Vs Ustadz Gaul
Diemailkan ke majalah Gatra, Kamis, 27 Oktober 2005


Fenomena ustadz gaul seperti dilaporkan GATRA (29/10/2005) sungguh menarik. Mereka melakukan syiar agama Islam bermediakan kesenian, seperti nyanyian dan humor, mengingatkan kiprah Wali Songo, terutama Sunan Kalijaga, yang melakukan syiar Islam bermediakan wayang. Pendekatan budaya ini terbukti ampuh ketimbang pendekatan kekerasan atau penaklukan.

Di Amerika Serikat, syiar Islam kontemporer lebih radikal lagi. Bermediakan humor. Syiar Islam ini secara intensif dilakukan pasca serangan teroris 11 September 2001 yang menimbulkan ketegangan hebat antara Islam vs Barat, seperti disebut oleh Samuel Huntington sebagai benturan peradaban.

Oleh kalangan komedian muslim Amerika seperti Azhar Usman, Preacher Moss, Azeem, Ahmed Ahmed, Maysoon Zayid sampai Tissa Hami, benturan peradaban itu diwujudkan dalam perang bermediakan lawakan. Tidak untuk saling mengejek, melainkan untuk menumbuhkan saling pemahaman.

Tahun 2004, Azhar Usman, Preacher Moss dan Azeem menggagas tur pentas komedi keliling Amerika bertajuk Allah Made Me Funny Tour untuk mempromosikan Islam sebagai agama cinta damai dan anti tindak kekerasan.

“Gagasan tur ini adalah menyediakan bagi kalangan muslim dan non-muslim wahana gaul dalam zona aman, relevan, inklusif, di mana humor dimanfaatkan untuk menjembatani jurang bias, sikap tidak toleran dan penyakit sosial lainnya”, kata Preacher Moss, penggagasnya.

Orang tidak suka dikhotbahi, kata Moss, sehingga lelucon dia anggap lebih efektif dalam memberikan edukasi bagi kalangan muslim atau pun non-muslim. Berbeda dibanding khotbah, lelucon mampu mengajak penonton berpikir, beperanserta dan melangsungkan dialog dengan para penampil.

Di front lain ada pula aksi komedian Ahmed Ahmed, muslim Amerika kelahiran Mesir bersama Bob Alper, komedian dan juga seorang rabbi Yahudi, melakukan tur komedi berdua. Dengan tema “Satu Arab, Satu Yahudi, Satu Panggung” mereka menggotong misi untuk meredakan ketegangan dan prasangka hubungan antarbangsa melalui humor. Pentasnya di Denver dipenuhi penonton, baik dari kalangan Islam, Kristen dan juga Yahudi.

Bagaimana di Indonesia ? Kita kenal humoris muslim yang ulung seperti Gus Dur, Mustofa Bisri sampai Emha Ainun Nadjib. Sebagai pengelola situs blog berisi kajian seputar masalah komedi, saya ingin bertanya : setelah ustadz gaul, kapankah komunitas muslim kita mampu menghadirkan komedian muslim sekaliber Azhar Usman yang leluconnya cerdas, toleran, tidak ada pornonya sama sekali dan sekaligus tajam, di Indonesia ?


Bambang Haryanto
Komedikus Erektus ! (http://komedian.blogspot.com)
Wonogiri 57612


Tak Ada Dusta Di Antara Kita
Dimuat di kolom Redaksi Yth – Harian Kompas Jawa Tengah
Kamis, 20 Januari 2005.


Di tengah hiruk-pikuk pemilihan umum 2004 yang baru lalu, banyak para pelaku politik menjajakan diri dengan beramai-ramai menerbitkan biografi. Boleh dikatakan, semua biografi itu ditulis oleh orang lain. Rendahnya budaya menulis di kalangan elit kita membuat kita sulit menemui terbitan otobiografi yang ditulis oleh pelakunya sendiri.

Pelbagai biografi para tokoh politik tersebut, diakui atau tidak diakui, diterbitkan sebagai sarana mempromosikan diri guna memenangi Pemilu. Motif itulah yang membuat isinya, tentu saja, lebih indah daripada warna aslinya. Kecenderungan demikian sampai mendorong seorang Humphrey Carpenter memberikan definisi sinis bahwa buku biografi merupakan wahana terhormat untuk berdusta.

Kini Pemilu telah usai. Alangkah baiknya, bila tokoh-tokoh yang tersingkir, kalah dalam Pemilu, justru tergerak untuk menuliskan pengalaman hidupnya secara lebih genuine, apa adanya, kini. Terlebih karena mereka relatif tidak lagi digandoli motif-motif untuk berpromosi.

Silakan mencontoh Wimar Witular, pembantu dekat Presiden Gus Dur, yang menuliskan catatan pergulatannya justru setelah presiden cerdas dan jenaka itu tersungkur dari istana. No Regret, seru Wimar Witoelar.

Amien Rais, Hamzah Haz, Megawati, Siswono Yudhohusodo, Wiranto dan lainnya, silakan Anda kini menulis tanpa embel-embel pretensi untuk berpromosi. Indonesia tidak hanya butuh contoh dari tokoh-tokoh yang berhasil, tetapi juga contoh dari mereka yang telah berjuang walau pun pada ujungnya tidak meraih keberhasilan.

Sebab seperti kata filsuf Cina, Konfusius, orang besar bukanlah orang yang tidak pernah jatuh, melainkan mereka yang setiap kali terjatuh segera bangun untuk tegak kembali.

Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia
Wonogiri 57612


Gran Final Indonesian Idol 2004 !
Dikirimkan ke kolom Mimbar Demokrasi, Harian Kompas,
Sabtu, 4 September 2004


Selamat datang di gran final Indonesian Idol 2004 !

Kontestan pertama, Megawati, akan membawakan lagu favorit yang entah kenapa lagu indah ini justru ogah ia nyanyikan selama pemilu. Yaitu, My Way (Frank Sinatra) :

“And now, the end is near,
and so I face the final curtain....”.

Berikutnya, SBY dengan Pelangi di Matamu (Jamrud) :

“Tiga puluh dua tahun,
rakyat tanpa bicara,
kini mereka pun resah menunggu lama
janji dariku...”

Sebagai penyanyi latar, kita tampilkan Indonesian Idle 2004 (yes, idle dan bukan idol). Mereka adalah Wiranto, Salahuddin Wahid, Amien Rais, Siswono Yudhohusodo, Hamzah Haz dan Agum Gumelar, akan koor menyanyikan Ticket to Ride (The Beatles/Carpenters) :

“The girl (boy) that driving me mad
Is going away/She’s (he’s) got a ticket to ride
She’s (he’s) got a ticket to ride.”

Sebagai bintang tamu Akbar Tanjung akan tetap membawakan lagu I Will Survive (Gloria Gaynor) dan Gus Dur (64) yang walau punya lagu favorit Me and Bobby McGee (Janis Joplin),kali ini dengan irama slow khasnya membawakan hit The Beatles :
“Will you still need me,
will you still feed me,
when I’m sixty four ?”
(When I’m Sixty Four).

Rakyat Indonesia pun semoga akan koor mengiringi dengan lagu indahnya Carpenters, We’ve Only Just Begun :

“We’ve only just begun to live
White lace and promises
A kiss for luck and we’re on our way
So many roads to choose
We start out walking and learn to run.”


(Bambang Haryanto, Wonogiri 57612)


Keindahan Sepak Bola
Dimuat di kolom Redaksi Harian Harian Kompas,
Sabtu, 30 Juni 1990

Kejuaraan sepak bola Piala Eropa 1988 telah dua tahun berlalu, tetapi ia belum terlupakan. Ia bukan Gullit. Bukan pula Koeman atau Marco van Basten, walau pun sama-sama memamerkan keindahan sepak bola.

Gullit menggelar kegarangan dalam menanduk bola. Koeman meragakan konsentrasi energi dengan tendangan geledeknya. Tetapi ia dengan ujung pena yang dituntun kecintaan terhadap sepak bola, riset literatur yang luas, wawasan yang dalam, ketajaman pikir dan keindahan optimal ekspresi dalam bahasa.

Kini dalam Piala Dunia Italia 1990, ia kembali. Anak bajang kembali menggiring bola, serangkaian laporan dan analisis yang indah dan dalam, kembali disajikan oleh wartawan “khusus” Kompas, Sindhunata. Pasti saya hanya salah satu di antara banyak sekali pembaca yang menyukai tulisannya yang memeragakan keindahan sepak bola.

Tetapi saat ini saya masih punya harapan tersembunyi. Sebab selama ini media massa kita nampak lupa menampilkan komentar atau ulasan sepak bola dari seorang pengamat sepak bola yang tidak kalah tajam wawasan atau pun inteligensianya.

Beliau yang saya maksud adalah K.H. Abdurrachman Wahid. Bagaimana, kiai ?


Bambang Haryanto
Job-Hunting Consultant
Dept. KS-VI
PO Box 55/Jatra
Jakarta 13220 B


Wonogiri, 5 Januari 2010

ee

Friday, October 23, 2009

Kambing Jantan Mengamuk di STMIK SiNus Surakarta

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 86/Oktober 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Blog yang meledak. Berita itu meledak sebelum Noordin M. Top tewas di MJ9, Mojosongo, Solo. Bahwa Sherina, penyanyi lagu “Cinta Pertama Dan Terakhir,” bintang film cantik dan cerdas itu, kini berpacaran dengan seekor “kambing jantan.”

Anda jangan kaget, kambing jantan itu bukan satwa berkaki empat yang suka mengembik itu. Tetapi sebutan untuk penulis novel Raditya Dika (24 tahun) yang menjadi terkenal gara-gara menulis cerita tentang keseharian dirinya dalam blognya.

Karena isi blognya itu disukai, akhirnya bisa diterbitkan dalam sebuah buku berjudul Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh (2005).

Sukses membuahkan sukses. Buku kedua Radith berjudul Cinta Brontosaurus, diterbitkan pada tahun 2006. Hampir sama dengan buku sebelumnya, cerita-cerita dalam buku ini berasal dari kisah keseharian Radith. Namun, buku kedua ini menggunakan format cerita pendek.

Buku ketiganya yang berjudul Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa terbit pada tanggal 29 Agustus 2007. Buku ke empatnya berjudul Babi Ngesot : Datang Tak Diundang Pulang Tak Berkutang terbit pada bulan April 2008.

Selain menjadi penulis, Radith pun bermain dalam film yang diangkat dari pengalaman hidupnya, Kambing Jantan: The Movie (2009). Ia juga menjadi penulis skenarionya, termasuk untuk calon filmnya yang terbaru : Maling Kutang (2009).

Kini Radith yang masih berkuliah di Jurusan Politik Indonesia pada FISIP UI tersebut punya kegiatan seabrek. Ia punya jabatan sebagai direktur sebuah penerbit buku di bawah Gagas Media. Menulis buku. Menulis skenario dan juga bintang film. Apa yang bisa kita pelajari dari fenomena Radith ini ?

bambang haryanto,stmik sinar nusantara surakarta,menulis,blog,epistoholik indonesia,surat pembaca,kuliah umum
Menyebarkan virus menulis. Bambang Haryanto, pendiri komunitas penulis surat pembaca Epistoholik Indonesia (tengah) bergambar bersama mahasiswa baru STMIK Sinar Nusantara, Surakarta. Dalam presentasinya ia ditemani oleh webmaster asal Solo dan pengelola portal blog PasarSolo, Sadrah Sumariyarso (paling kiri) yang membawakan bahasan mengenai manfaat blog dan Facebook. Mengingat vitalnya beragam media sosial bagi kehidupan, langkah pengenalan terhadap blog sampai Facebook di STMIK Sinar Nusantara ini pantas ditiru oleh PTN-PTS lainnya.


Pertama : dahsyatnya menulis. Kelebihan dan pelbagai talenta istimewa dari Radith itu tetap akan terpendam dan hanya sia-sia, bila saja ia tidak mengomunikasikannya kepada orang lain atau masyarakat luas. Radith pun menulis. Bila ia menulis hanya di buku hariannya saja, tentu uneg-uneg sampai gagasannya itu hanya dia sendiri yang mengetahuinya. Kurang maksimal.

Tetapi Radith menuliskan cerita kesehariannya di blog, yaitu jurnal di Internet yang bisa diakses dari seluruh penjuru dunia. Realitas ini menunjukkan bahwa kegiatan menulis, kegiatan menuangkan pikiran kita ke dalam bahasa, merupakan senjata ampuh untuk berekspresi, untuk mempertajam kinerja otak kita, berguna untuk memperteguh rasa PD/percaya diri bagi kita, juga sebagai andalan untuk menopang kesuksesan kita. Baik ketika masih berkuliah atau pun ketika kita meniti karier di dunia pekerjaan.

Sayang, di dunia pendidikan kita, pentingnya keterampilan menulis lebih sering dipandang sebelah mata. Selama ini kegiatan menulis sering diartikan secara sempit, sebagai kegiatan profesional yang dilakukan semata-mata oleh dosen, peneliti, wartawan, sastrawan, penulis skenario, atau penulis naskah iklan.

Tetapi sebenarnya untuk semua bidang dalam dunia pekerjaan, apa pun itu, semakin tinggi jabatan atau pangkat seseorang PASTI akan dituntut kemampuannya untuk menulis. Dalam kolom “Careers” yang diasuh Anne Fisher di majalah bisnis terkenal, Fortune (7/12/1998 : hal. 129), muncul pertanyaan dari seorang dosen sebuah universitas di AS. Ia mengeluh karena mahasiswanya rata-rata meremehkan pentingnya keterampilan menulis.

Anne Fisher menjawab, dengan mengutip ucapan Dr. Gary Blake yang mengelola situs Writing Workshop bahwa : “Ketika saya berkeliling ke seluruh negeri dan berbicara dengan pelbagai perusahaan klien saya, saya terkejut mendapati kenyataan bahwa banyak manajer yang mengeluhkan fakta betapa tak seorang pun anak buahnya yang mampu menulis sebuah alinea yang sederhana saja. Anda dapat memiliki gagasan yang paling cemerlang di dunia ini, tetapi itu semua tak berguna bagi perusahaan Anda, juga tak ada manfaatnya bagi karier Anda, apabila Anda tidak mampu mengekspresikan gagasan itu secara jelas dan persuasif.”


Pentingnya keterampilan menulis sebagai senjata sukses meniti karier juga diungkapkan Anne Fisher dalam sebuah statistik. Merujuk hasil survei tahun 1997 oleh Robert Half Internasional yang meneliti 1000 perusahaan terbesar di AS dilaporkan bahwa 96 persen menegaskan bahwa karyawan harus memiliki keterampilan berkomunikasi yang bagus untuk kemajuan karier mereka.

Bahkan keterampilan literasi, atau baca tulis, juga terkait dengan penghasilan. Merujuk hasil penelitian Stephen Reder, pakar linguistik dari Portland State University di Oregon (AS) yang bekerja dalam penelitian untuk Depdiknas-nya AS, dapat ia simpulkan : lulusan tingkat diploma dan S-1 yang memiliki keterampilan tinggi dalam hal menulis, rata-rata memiliki tingkat gaji TIGA KALI LEBIH BESAR dibanding mereka yang keterampilan menulisnya jelek.

Kedua : ayo ngeblog. Situs KapanLagi menuliskan profil Radith berikut ini : “Raditya Dika adalah seorang blogger yang akhirnya menjadi seorang penulis buku dan skenario film. Kepiawaian menulis terasah dengan selalu menulis blog yang berada
di : www.kambingjantan.com.

Dalam blognya [yang baru], Radith menuliskan cerita kesehariannya di jurnal Internet tersebut yang bisa diakses dari seluruh penjuru dunia. Merujuk manfaat dan potensi blog tersebut maka di pelbagai perguruan tinggi, banyak diusahakan agar mahasiswanya mengelola blog, seperti di UNS.

Saya usulkan : alangkah baiknya bila di STMIK Sinar Nusantara ini, setiap mahasiswa dan bahkan juga para pengajarnya, diwajibkan mengelola blog. Selain untuk menggembleng sivitas akademika untuk terampil menulis, juga bermanfaat sebagai sarana kehumasan dan promosi perguruan tinggi Anda ini.

Begawan digital dari MIT, Nicholas Negroponte, menyatakan bahwa Internet adalah gempa bumi berskala 10,5 Skala Richter yang mengguncang peradaban manusia. Salah satu fenomena terdahsyat dari Internet adalah kehadiran beragam media sosial, yang dapat hadir dalam beragam bentuk. Misalnya milis, forum, blog, wiki, podcast, album foto dan video di Internet.

Media sosial berbeda dibanding media industri seperti surat kabar, televisi dan film. Kalau media industri membutuhkan biaya besar dan sumber daya mahal untuk menerbitkan informasi, media sosial menyediakan sarana murah bagi setiap orang untuk menjadi produser informasi.

Fenomena ini membalikkan konsep media massa menjadi menciptakan media untuk massa. Setiap orang kini dengan bersenjatakan sarana penerbitan berbasis web yang murah, mudah dikelola, dengan koneksi yang selalu tersambung dan semakin canggihnya sarana komunikasi bergerak, mendaulat mereka menjadi partisipan yang aktif dalam menciptakan berita atau informasi, sekaligus berperan dalam penyebarannya.

Chris Anderson dalam bukunya The Long Tail : Bagaimana Pilihan Tak Terbatas Menciptakan Permintaan Tak Terbatas (2007), mengungkapkan ketika semua orang kini berpotensi menjadi produser informasi. Anda semua, mahasiswa di sini juga harus berperanserta, sebagai produser informasi.

Realitas ini akan menghadirkan fenomena the long tail, si ekor panjang. Dalam fenomena itu pilihan kita hampir tidak terbatas dan ketika segala sesuatunya menjadi tersedia bagi setiap orang. Keragaman benar-benar menjadi raja.


Ketiga : vitalnya berwawasan global. Ketika di masa-masa awal penulisan blognya, Radith masih berkuliah di Australia. Jadi dari Australia secara tidak ia sadari telah merintis untuk menghimpun penggemar di Indonesia, yang kemudian menjadi pengikut setianya saat Radith kembali ke Indonesia. Konon dalam akun Twitternya kini Adith memiliki 60.000 pengikut, mereka yang berlangganan cerita-cerita atau berita terbaru darinya.

Bersenjatakan blog dan memiliki wawasan global, semua orang kini berpeluang menjadi “bintang,” yang oleh pakar ekonomi atensi Michael Goldhaber disebut sebagai micro-celebrities selebritis kelas mikro. Walau mungkin hanya sekitar belasan atau puluhan orang, tetapi potensi penggemar secara online ini bila dikelola dengan baik akan berdampak dahsyat.

Sekadar ilustrasi, ada cerita berikut ini. Saya memiliki keluarga besar, dari keturunan kakek-nenek saya, yang berasal dari Kedunggudel, Sukoharjo. Untuk mengomunikasikan kabar keluarga, sejak lima tahun lalu diluncurkan blog Trah Martowirono yang saya kelola.

Suatu kejadian unik sempat mencuat : ketika warga keturunan asal Indonesia yang leluhurnya dulu diangkut sebagai buruh pada era kolonial (1930-an) ke Suriname, yang kebetulan memiliki nama leluhur Martowirono, melakukan kontak. Mereka itu kini tinggal di Suriname, New York, Irlandia dan bahkan Belanda. Akhirnya, memang hanya kebetulan bahwa leluhur (kita) memiliki nama yang sama, tetapi kontak sesama keturunan Martowirono yang tanpa hubungan darah itu tetaplah berlanjut.

Contoh lain, saya mengelola blog komedi, Komedikus Erektus ! Gara-gara blog ini saya didaulat menjadi nara sumber perbincangan seputar dunia komedi Indonesia oleh Radio BBC Siaran Indonesia yang berpusat di London, Inggris.

Kemudian seorang profesional pajak di Jakarta, penyuka buku-buku komedi terbitan luar negeri, yang tidak saya kenal, tiba-tiba mengajak kenalan. Kemudian 10 judul buku kajian humor dan komedi terbitan luar negeri ia kirimkan kepada saya yang tinggal di Wonogiri ini !

Inti ajarannya : dengan Internet, kita benar-benar menjadi warga dunia.


Keempat : berkuliah, juga berwiraswasta. Radith kini berkuliah, juga bekerja, sekaligus berwiraswasta. Gambaran itu menegaskan realita baru dewasa ini : manfaatkan masa berkuliah Anda, jangan hanya untuk berkuliah semata. Itu mahasiswa jadul, jaman dulu.

Isilah masa indah sebagai mahasiswa itu dengan kegiatan yang beragam, yang menarik bagi minat Anda. Kalau bisa, mulailah berwiraswasta. Apalagi sekarang ini adalah era komputer, era Internet, era dimana keterampilan mereka yang berkuliah di kampus STMIK Sinar Nusantara ini sangat dibutuhkan.

Padukan apa yang Anda pelajari di bangku kuliah, dan praktekkan segera. Baik untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, menajamkan wawasan dan pengetahuan, dan bahkan untuk merintis usaha yang mampu menghasilkan pemasukan selama masih di bangku kuliah.

Sebagai gambaran, saya cantumkan di bawah ini cerita mengenai kiprah Ashley Qualls, cewek SMA, yang mampu menjadi jutawan berkat bisnis onlinenya di Internet. Ia memulai bisnisnya saat berusia 14 tahun, dengan meluncurkan situs Whateverlife dengan modal delapan dollar yang ia pinjam dari ibunya.

Sebagaimana dikutip oleh YahooNews, Ashley merancang desain-desain grafis cantik, unik dan warna-warni, yang biasa dipajang untuk menghias situs jaringan sosial seperti MySpace oleh pelanggan yang rata-rata juga seusia dirinya.

Tiga tahun kemudian, bisnisnya itu meraih penghasilan kotor lebih dari satu juta dollar setahun. Kini ia mampu membeli rumah dengan empat kamar, dan ruang bawahnya ia jadikan sebagai kantor. Ibunya, Linda LaBrecque, ia angkat sebagai direkturnya.

Mahasiswa STMIK Sinar Nusantara juga bisa ! Kisah menarik Raditya Dika sampai Ashley Qualls di atas, semoga dapat menjadi ilham bagi kita semua dalam mengarungi masa depan. Langkah itu harus kita ayunkan mulai saat ini.

Ajakan saya adalah : mulai menulislah. Tuliskan cita-cita masa depan Anda di kertas. Tempelkan di meja atau dinding tempat Anda belajar. Setiap kali membaca cita-cita Anda itu, serukan tekad sebagaimana slogan dahsyat Barack Obama saat bertarung hingga sukses menuju kursi presiden AS :

Yes, we can !
Yes, we can !
Yes, we can !

Tuliskan pula cita-cita Anda itu di buku harian. Menulis di blog. Sebagai pendiri komunitas penulis surat pembaca, Epistoholik Indonesia, saya mengajak Anda semua mencoba menulis surat-surat pembaca di pelbagai media massa. Begitu dimuat, Anda akan merasakan getaran untuk menulis dan menulis lagi.

Langkah praktis : milikilah bloknote. Yang bisa disimpan di saku, ia harus menyertai Anda sebagaimana HP Anda. Juga selalulah membawa bolpoin. Lalu tirulah gaya turis Jepang dalam cerita berikut ini :

Nilai 4 dan Turis Jepang
Dimuat di kolom Surat Pembaca,Harian Suara Merdeka
Senin, 12 November 2007 : Hal. L

Ada nilai empat di rapor SMP saya. Untuk pelajaran Administrasi, ketika saya duduk di klas 1 SMP Negeri 1 Wonogiri, 1967. Rapor saya merah karena saya ketahuan menyontek. Sejak kejadian memalukan itu saya mengubah kebiasaan belajar saya. Semua mata pelajaran hari itu, begitu tiba dari sekolah, segera saya ubah dalam bentuk tanya-jawab. Semuanya tertulis.

Dengan menulis maka apa yang diajarkan oleh guru dan segala hal yang saya baca dari buku pelajaran, otomatis kini menjadi milik saya. Kalau hanya mendengarkan saja, atau membaca-baca saja, daya lengketnya dalam ingatan terbatas. Dua hari, sudah mengabur dan lalu hilang. Tetapi dengan menuliskannya, info-info baru itu akan lebih lama tergores dalam otak kita, bahkan bisa terus teringat dalam jangka waktu lama.

Untuk terus mampu menyalakan api menulis itu, sebuah bloknot dan bolpoin selalu menemani saya, ke mana pun pergi. Juga di sisi tempat saya tidur. Ketika menemui hal-hal yang menarik di jalanan, di koran, buku, atau munculnya gagasan tertentu, langsung ditulis di bloknot tersebut.

Seperti saya tulis di kolom ini (23/2/2006), Harry Davis, Wakil Direktur Program MBA di Sekolah Bisnis Universitas Chicago, Amerika Serikat, mengatakan bahwa turis-turis Jepang juga membawa-bawa bloknot ketika keliling dunia. Mereka mencatat hal-hal khusus yang dapat mereka amati dari pelbagai penjuru dunia yang mereka kunjungi.

Mereka melakukan tindak intelijen secara legal, mengumpulkan data. Pelbagai data itu diolah dan dijadikan pertimbangan dalam menghasilkan produk yang diekspor Jepang ke seluruh dunia. Itulah cara Jepang menguasai ekonomi dunia.

Menurut Harry Davis, kebiasaan model turis Jepang itu harus dimiliki setiap insan yang produktif, utamanya dalam mengembangkan dan mengasah keterampilan melakukan observasi. Kepada mahasiswa MBA-nya, seperti dikutip koran USA Today (12/2/1992), ia anjurkan untuk membawa-bawa bloknot sepanjang waktu.

Dengan demikian mereka setiap saat dapat menulis dan mengawetkan hasil observasi dan ide-ide seputarnya, yang sangat bermanfaat bagi pekerjaan atau pun kehidupan pribadinya.

Kalangan wartawan sudah terbiasa melakukan hal tersebut, dan kini bisa diadopsi sebagai bagian gaya hidup produktif sehari-hari kita. Kepada sesama kaum epistoholik, saya anjurkan untuk melakukannya. Anda, apa pun profesinya, pasti bisa pula memperoleh manfaat dari anjuran yang sama ! [Bambang Haryanto Jl.Kajen Timur 72 Wonogiri 57612].


Semoga cerita-cerita ini bermanfaat bagi Anda semua.
Terima kasih.


*) Artikel ini merupakan makalah untuk kuliah umum dalam Workshop Jurnalistik, Salam Kampus bagi Mahasiswa Baru Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Sinar Nusantara Surakarta tahun akademik 2009/2010, di Solo, 29 - 30 September 2009.

Wonogiri, 24 Oktober 2009

ee

Friday, September 18, 2009

Lebaran 2009, Buku dan Kunang-Kunang Terbang

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 83/September 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Perfect strangers. Semoga Anda sehat-sehat adanya. Bagaimana suasana kota Anda, mendekati hari Lebaran ? Di jalanan kota saya, Wonogiri, rasanya semakin sesak oleh orang. Pasar penuh orang. Antrean ATM penuh orang. Toko penuh orang.

Sementara Perpustakaan Wonogiri, yang mudah ditemui, tetap saja wajah-wajah yang sama. Familiar strangers.

Wajah-wajah yang lalu lalang di luar perpustakaan itu adalah wajah-wajah asing. Perfect strangers. Juga kendaraan mereka yang bernomor bukan aseli Wonogiri. “Selamat pulang kampung sobat, saudara-saudara saya yang di hari-hari normal berkiprah, berkarya dan berkrida di luar Wonogiri.”

Adakah acara khusus bagi Anda, apabila Anda ikut merayakan Hari Kemenangan, di hari Fitri nanti ? Tahun ini saya akan merayakannya bersama kunang-kunang.

Ceritanya, ada seorang nenek yang mendongeng kepada cucu-cucunya. Tentang serpih-serpih tulang rawan hasil guntingan kuku-kuku jari dan kaki. Ia katakan, sebaiknya serpihan itu dipendam di pojok rumah. Bila malam, serpihan itu akan berubah menjadi kunang-kunang yang beterbangan menghiasi malam..

Cucu-cucu itu, walau takjub atas dongengan itu, tetap saja memendam rasa tidak percaya. Tetapi mereka tetap saja mengingatnya. Bahkan setelah berpuluh tahun kemudian.

Ada orang bilang, ucapan guru atau orang tua itu melesat dalam kecepatan cahaya untuk sampai ke telinga anak didik atau seseorang anak. Tetapi makna dari ucapan itu sampai ke hati atau pemahaman, akan berjalan dengan kecepatan suara. Jauh lebih lambat dibanding kecepatan cahaya.

Tetapi pesan itu tetap akan sampai. Entah beberapa bulan, beberapa puluh tahun kemudian, atau bahkan ketika sang anak, si penerima pesan itu, sudah berada di tepi kematian.

Dongeng tentang kunang-kunang itu, yang secara ilmu biologi atau fisika sebagai tak mungkin, mungkin dirancang sebagai sebuah metafora. Kiasan. Saya memaknainya kini, betapa bagian sekecil apa pun dari diri kita bila ditanam akan menumbuhkan cahaya, kebaikan, keindahan. Apalagi bila ia menari dalam kegelapan.

Kebetulan ketika saya mengetikkan kata firefly, kunang-kunang, dalam peranti lunak The Oxford Dictionary of Quotations (2002), muncul lema/entri menarik :

Kepala suku Indian Kaki Hitam, Cakar Gagak (c. 1830–1890), sebelum meninggal dunia pada tanggal 25 April 1890, seperti dikutip oleh John Peter Turner dalam bukunya The North-West Mounted Police: 1873–93 (1950), antara lain sempat mengatakan :

What is life? It is a flash of a firefly in the night.
Apakah hidup itu ? Ia adalah pendar nyala kunang-kunang di waktu malam.

Surat pembaca kunang-kunang. Nenek yang mendongeng tentang kunang-kunang itu berasal dari Kedunggudel, Sukoharjo. Namanya Jiah Martowirono.

Ia nenek saya dan dongeng tentang kunang-kunang itu menjadi salah satu tema Reuni Trah Martowirono XXIII/2009, yang akan dilangsungkan 23 September 2009.

Lokasi : Museum Benteng Vredeburg, Djokdjakarta. Anak cucu-cicit Trah Martowirono, dari seantero Nusantara, bersiap melakukan Serangan Oemoem guna mendoedoeki selama Enam Djam di Djokdja. Cerita terkait dapat Anda klik di blog Trah Martowirono.

Surat-surat pembaca yang kita tulis, saya ibaratkan juga sebagai nyala kunang-kunang. Tidak semua orang akan merasa takjub atau mampu memahami sinar yang ia pancarkan. Tetapi bagi orang tertentu, bila terjadi “klik,” surat pembaca itu dapat menjadi cahaya yang bermakna bagi banyak orang.

Apalagi bila cahaya itu memiliki voltase yang tinggi. Misalnya memiliki relevansi, nilai-nilai moral, bukan slogan, tetapi ketukan yang mampu menyapa hati. Bagi saya, agar mampu menulis surat pembaca yang bervoltase tinggi itu, seringkali, mau tak mau harus merujuk kepada sumber-sumber cahaya yang tertentu. Utamanya : buku.

Sedikit bicara tentang kaitan buku dan surat pembaca. Maaf, sebagai pembaca surat-surat pembaca, saya kadang merasa kurang nyaman bila memergoki surat pembaca atau artikel yang merujuk kepada sumber buku tertentu tetapi ditulis dengan data bibliografi yang pincang. Misalnya data judul buku rujukan tidak ditulis, nama pengarang dikaburkan, dan tahun terbit disepelekan karena tidak dicantumkan.

Maaf lagi, iritasi ringan ini memang dipicu cara berpikir model digital. Karena dalama paradigma digital, semua ilmu pengetahuan itu harus tersambung, connected, sehingga dapat dicek dan di-ricek oleh orang lain, untuk sama-sama diuji kebenaran atau validitasnya. Jalan pikiran ini pula yang mendasari raksasa internet, Google, meluncurkan proyek gigantik : The Google Books Library Project yang berusaha mendigitalkan semua buku-buku di dunia, sehingga bisa diakses oleh sesama umat manusia.

Syukurlah, ketidaknyamanan saya tentang data bibliografi itu masih kelas ringan kok. Karena dalam surat-surat pembaca, yang sering isinya menyangkut isu-isu aktual dan kurang dituntut adanya pendalaman, sehingga tidak terlalu menuntut hadirnya parade atau obral kutipan dari buku-buku (baru ?) tertentu.

Tetapi realitas semacam ini juga bisa sebagai tabir, untuk menutupi hal yang bisa (bila mau) diperdebatkan : apakah seorang penulis surat pembaca juga seorang maniak, pembaca buku, atau justru tidak menyukai buku ? Mungkin ini penilaian subyektif : bagi saya, rasanya selama ini, tidak mudah menemukan obrolan tentang sesuatu buku dalam surat-surat pembaca.

Book buzzer. Akibatnya, salah satu cita-cita saya sebagai pendiri komunitas Epistoholik Indonesia, sepertinya masih di awan. Gerakan menjadikan surat pembaca sebagai salah satu media untuk mem-buzzing info dan isi buku-buku (baru ?), kiranya masih belum memancarkan daya tarik optimal untuk memantik minat sesama warga komunitas EI ini.

Minimal untuk semakin meminati, mencintai buku. Sehingga sumber info, asupan bagi gelegak kawah intelektual kita, bukan kliping-kliping koran semata. Anda punya pendapat ? Saya tunggu.

Untuk menggelorakan cinta buku itu, walau seorang Jeff Gomez menerbitkan buku Print Is Dead : Books in Our Digital Age (2007), saya kini mencoba menghidupkan lagi blog buku saya yang lama terbengkalai.


Sekian dulu, obrolan dari Wonogiri. Setelah hiruk-pikuk Lebaran usai, saya punya PR. Menyiapkan makalah guna merayu mahasiswa baru agar memiliki wawasan baru betapa keterampilan menulis (surat pembaca, blog, artikel, surat cinta, sd surat lamaran) adalah senjata survival mereka dalam percaturan dunia datar yang mengglobal ini.

Sekolah Tinggi Manajemen dan Ilmu Komputer Sinar Nusantara, Solo, tanggal 30 September 2009, memberi saya podium untuk berbagi wawasan dengan mereka. Terima kasih untuk Sadrah Sumariyarso dari PasarSolo yang telah memberi saya kepercayaan yang mulia ini.

Bocoran : di depan mahasiswa itu saya akan bercerita tentang kisah sukses non-linear dari pacarnya Sherina, yang menulis buku berjudul Babi Ngesot : Datang Tak Diundang, Pulang Tanpa Kutang.

Hal lain : saya memimpikan bisa membaca buku baru, terbitan Harvard (2009), karya John Mullins dan Randy Komisar, Getting The Plan B : Breaking Through to a Better Business Model.

Isinya membahas rahasia dibalik sukses iPod-nya Apple, Skype sampai Paypal. Siapa tahu, dengan ditulis akan membuat impian ini lebih mudah direalisasikan.

Terakhir : Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin. Sejahtera bagi Anda semua dan keluarga.


Wonogiri, 18 September 2009

ee

Saturday, September 12, 2009

Lima Tahun Kepergian Aktivis HAM, Munir

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 82/September 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia

Kehilangan besar. “Human Rights Watch hari ini berduka atas meninggalnya Munir, salah satu tokoh penegakan hak-hak asasi manusia Indonesia. Pengacara berusia 38 tahun itu meninggal secara tak terduga ketika dalam perjalanan dari Indonesia menuju Belanda untuk melanjutkan kuliah pasca sarjananya.”

Itulah awal berita yang dilansir oleh organisasi Human Right Watch (HRC) yang berpusat di New York, 8 September 2004. “Ini merupakan kehilangan besar bagi saya pribadi, karena Munir adalah sahabat dan rekan seperjuangan,” kata Joe Saunders, wakil direktur program HRC.

“Juga kehilangan besar bagi gerakan penegakan hak-hak asasi manusia sebab Munir tak pernah lelah berjuang dan merupakan sosok yang unik sebagai periset, ahli strategi dan juru bicara yang efektif. Rasa duka cita saya teruntuk keluarga dan kawan-kawannya.”

“Munir memiliki klas tersendiri. Ia memiliki kecerdasan listrik dan ingatan ensiklopedis. Dalam rapat ia mampu menggelar data yang mendetil secara kaleidoskop, wawasan serta analisis tajam untuk menjelaskan gambaran aktual guna menentukan tindak lanjut kemudian,” papar lanjut Joe Saunders.

Menagih janji SBY. Lima tahun kemudian, ingatan ensiklopedis tentang kasus terbunuhnya Munir rupanya tidak dimiliki oleh petinggi negeri ini. Kasus hitam ini cenderung menjadi terkatung-katung. Setelah SBY terpilih untuk kedua kalinya, kalangan aktivis penegakan HAM kini menunggu aksi SBY untuk menuntaskan kasus besar yang mencoreng nama Indonesia di mata dunia ini.

Lima tahun lalu, kepergian mendadak Munir itu memantik saya sebagai seorang epistoholik untuk menulis surat pembaca. Pada tanggal 8 September 2004, sehari setelah meninggalnya Munir, saya menulis surat pembaca dengan judul “Selamat Jalan Pejuang HAM Sejati” ke harian Bali Pos, Pikiran Rakyat, Republika, Solopos, Suara Merdeka, dan Wawasan. Saya tidak tahu apakah surat pembaca saya itu dimuat atau tidak.

Dengan judul “Perginya Layang-Layang,” surat pembaca dengan isi serupa juga saya kirimkan ke harian Kompas Jawa Tengah. Surat yang saya emailkan 8 September 2004 itu baru muncul, dengan penyuntingan, tanggal 30 September 2004. Saya tidak tahu mengapa harus begitu lama menunggu untuk pemuatannya.

Surat pembaca saya yang asli berikut di bawah ini. Juga terdapat dua surat pembaca lainnya, menyangkut sosok Munir sebagai sumber inspirasi.

Perginya Layang-Layang
Dimuat di kolom Surat Pembaca
Harian Kompas Jawa Tengah, 30 September 2004


Tanggal 8 September 2004 di warung soto Terminal Angkuta Wonogiri, kau menjadi bahan pembicaraan. Seorang berkata, Munir telah meninggal. Lainnya menyahut, ya, Munir yang banyak omong itu telah meninggal. Saya mencatat dialog jujur rakyat itu.

Bagi awam, omongan atau isu tentang orang hilang, hak-hak asasi manusia (HAM), kebebasan pers, penegakan hukum, sampai superioritas sipil atas militer dan sejenisnya yang kau ungkapkan bertahun-tahun terakhir, memang mengesankan dirimu sebagai sosok yang banyak bicara.

Tetapi banyak omong senyatanya adalah kelebihanmu, senjata utamamu. Terutama di saat terlalu banyak orang bungkam, takut bicara hal-hal yang benar. Menurutku, semua omonganmu itu tidaklah sia-sia. Sebab selain omongan, di tengah angin perubahan dan banyak orang suka tiarap, kau juga menjadi teladan banyak anak muda.

Seperti kata Hamilton Mabie, jangan takut terhadap deraan angin hambatan dan kesengsaraaan. Ingatlah layang-layang, yang membubung naik bila diterpa angin daripada bila terbang bersama angin. Itulah sosokmu. Selama ini, semakin angin keras menerpamu, terbang mu pun semakin meninggi.

Saya dan kita semua, sungguh tidak tahu rencana Tuhan. Tetapi kau telah dijemput kembali ke haribaan-Nya saat kau mengapung di atas mega-mega dalam penerbangan dari Jakarta menuju Belanda, mudah-mudahan itu pertanda baik.

Bahwa Tuhan menyayangimu. Seperti halnya mereka-mereka yang selama ini telah tersentuh oleh mulianya niatmu, omonganmu, juga tindakanmu.

Saya secara pribadi tidak mengenalmu, tetapi ijinkan saya ikut berdoa semoga Tuhan memberimu tempat yang layak di sisiNya. Selamat jalan, Munir. Terbanglah sang layang-layang, dalam damai, menuju keabadian.


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia
Wonogiri


Bangsa Yang Dihukum
Dimuat di kolom Surat Pembaca
Harian Kompas Jawa Tengah, 28 September 2007


Penegakan hukum di Indonesia ibarat gerakan tari poco-poco. Kita senang melihat adanya kemajuan, tapi ternyata disusul gerakan memutar dan bahkan mundur sama sekali. Sepertinya bergerak tetapi nyatanya hanya berjalan di tempat.

Contoh yang mencolok adalah kasus terbunuhnya aktivis HAM, Munir, yang tetap misterius sejak kejadian tiga tahun lalu. Demikian pula kasus korupsi mantan Presiden Soeharto.

Mungkin bangsa lain di dunia saat ini merasa gemas melihat ulah kita. Entah kebetulan atau tidak, tapi dengan memakai ilmu otak-atik gathuk, mencocok-cocokkan fakta yang terjadi, kita boleh merasa bahwa dunia sedang menghukum kita. Misalnya, gara-gara kasus Munir dan bertepatan dengan rentetan kecelakaan yang terjadi, membuat maskapai penerbangan kita dilarang terbang ke Eropa.

Demikian pula ketika MA justru menghukum majalah TIME untuk membayar uang trilyunan karena membeberkan data korupsi Soeharto, kita pun segera dapat “balasan” yang setimpal. Yaitu ketika PBB dan Bank Dunia meluncurkan program global untuk mengembalikan aset rakyat yang dicuri mantan penguasanya. Bahkan secara tegas dinyatakan bahwa mantan presiden Soeharto merupakan penguasa nomor wahid sejagat dalam melakukan korupsi besar-besaran ketika memerintah.

Terakhir : siapa tahu, bencana alam yang beruntun menimpa kita akhir-akhir juga merupakan isyarat, sebagaimana ditamsilkan oleh Ebiet G. Ade, “mungkinkah Tuhan sudah bosan melihat tingkah kita, yang banyak salah dan dosa-dosa ?”


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia


Gelar Tong Kosong
Dikirimkan ke kolom Surat Pembaca
Harian Kompas Yogyakarta, 22 Oktober 2004


Di tengah hiruk-pikuk Pilpres Putaran Kedua, capres Susilo Bambang Yudhoyono menempuh ujian doktornya di Institut Pertanian Bogor. Sementara itu Munir, tokoh pembela hak asasi manusia dipanggil kembali oleh Sang Chalik ketika sedang dalam penerbangan dengan Garuda dari Jakarta menuju Belanda. Munir menuju Belanda guna meneruskan studinya. Kabar terakhir mengenai Amien Rais, mantan ketua MPR, adalah pulang kandang ke Universitas Gajah Mada untuk menjadi dosen kembali.

Kisah ketiga tokoh tadi pantas menjadi tauladan. Mereka tidak berhenti belajar. Kembali menjadi dosen, seperti yang dipilih Amien Rais, juga merupakan pilihan untuk kembali belajar. Di sekitar kita tidak sedikit birokrat sampai guru yang kembali ke kampus untuk menempuh program lanjutan S2 dan S3.

Lalu bagaimana dengan mereka yang tak punya biaya atau waktu untuk menempuh program lanjutan ? Belajar untuk meningkatkan diri yang tidak berpamrih disemati gelar akademis ketika usai, masih banyak jalan yang dapat ditempuh.

Cara terbaik adalah dengan membaca. dan menulis. Membaca dapat mengandalkan sumber-sumber ilmu yang terhimpun di perpustakaan, toko buku atau Internet. Berorganisasi, menjadi relawan atau aktivis, adalah juga wahana untuk belajar. Sedang menulis itu penting, karena mempribadikan segala asupan informasi untuk menjadi milik kita sendiri.

Dengan menulis, baik di media massa cetak atau pun Internet, dirinya berbagi ilmu dengan orang lain sekaligus mampu memperkaya khasanah ilmu dirinya pribadi. Tanpa menulis, gelar-gelar akademis itu ibarat tong kosong karena ilmu yang ia peroleh segera terlupakan dan khasanah ilmu pengetahuan tidak mendapatkan tambahan dari pemilik gelar-gelar akademis bersangkutan.

Di sini kita dapat meneladani perjuangan seorang yang pernah bekerja di perusahaan sound system sebagai juru servis, lalu jualan antene TV kelilingan, jualan sepatu dan antena parabola, tetapi semangatnya untuk belajar tanpa henti sampai terpilih menjadi satu di antara 20 Pemimpin Politik Asia Pada Millenium Baru oleh majalah AsiaWeek 1999. Orang tersebut adalah : Munir.


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia


Wonogiri, 13/9/2009

ee