Showing posts with label komunikasi politik. Show all posts
Showing posts with label komunikasi politik. Show all posts

Monday, August 16, 2010

Episto Ergo Sum

Oleh : Wisnu Martha Adiputra
Esai Epistoholica No. 102/Agustus 2010
Blog : Duniaku Dunia Kreatif
Facebook : facebook.com/wisnu.martha
Home : Epistoholik Indonesia


Pengantar : Diundangnya komunitas Epistoholik Indonesia (EI) untuk menampilkan diri dalam acara Jagongan Media Rakyat 2010, di Yogyakarta, 22-25 Juli 2010, masih berbuntut dengan melimpahnya berkah.

Kali ini datang dari Radio Geronimo FM Yogyakarta yang mengundang EI untuk mengisi acara "Angkringan Gayam," Minggu malam, 1 Agustus 2010. Komunitas kita diwakili oleh Tuwarji, warga EI di Yogya yang dihadirkan bersama staf pengajar Ilmu Komunikasi Fisipol Universitas Gajah Mada, Wisnu Martha Adiputra (foto).

Kehormatan dari Radio Geronimo FM membuat saya mampu memutar mesin waktu ke tahun 1970-an. Saat itu saya bersekolah di STM Negeri 2 Yogyakarta. Kalau membaca koran Kedaulatan Rakyat sering memergoki surat pembaca yang ditulis Ir. RM Pradiko Reksopranoto, yang kami kemudian bisa bertemu muka di Solo tahun 2002.

Sedang tentang Radio Geronimo sendiri, saya telah menulis kenangan berjudul "Radio dalam Kehidupan Seorang Epistoholik." Tulisan ini kemudian dimuat di harian Media Indonesia, 10 September 2006, juga mengisi blog Rane Hafied, saat itu penyiar Radio Singapura dan kini menyiar di Radio NHK Jepang.

Seusai bincang-bincang di Radio Geronimo FM yang dipandu oleh host yang charming bernama Gracy Sondang Marpaung, Mas Wisnu Martha Adiputra telah menyisipkan tulisan tentang kaum epistoholik di antara tulisannya tentang musik, film, kreativitas dan media, di blog beliau yang menarik. Dengan rasa bangga, tulisan beliau tersebut saya pajang untuk mengisi blog saya ini.

Terima kasih untuk Widiaji, Sondy, dan juga Mas Wisnu, untuk dukungan dan apresiasi Anda terhadap kiprah warga EI ini. [Bambang Haryanto].


Dengan menulis kita dapat "memindahkan" gunung?
Betulkah demikian?

Jawabannya, benar sekali. Kita tidak hanya dapat "memindahkan" gunung tetapi juga mengubah dunia menjadi lebih baik.

Tentu saja bukan berarti memindahkan gunung dalam pemaknaan kerja fisik tetapi lebih berarti pada perubahan besar yang abstrak dan tidak langsung, baik di level individual dan masyarakat.

Betapa banyak individu yang berubah karena tulisan. Banyak juga kelompok-kelompok masyarakat yang berkembang lebih baik karena tulisan. Tulisan adalah wahana kreativitas dan inspirasi yang mengalir dari satu pihak ke pihak yang lain. Bila hal yang positif, inspirasi dan kreativitas, itu bisa diterima, hal positif itu akan mengalir dengan mudah ke banyak orang.

Beberapa hari yang lalu di program acara radio "Angkringan Gayam" Geronimo FM, Yogyakarta, saya mengenal komunitas yang unik dan bertemu salah satu wakilnya. Mas Tuwarji. Nama komunitas itu adalah Epistoholik Indonesia.

Komunitas ini adalah kumpulan orang yang menulis dengan rutin di surat pembaca media cetak, terutama suratkabar. Mereka menulis tentang kegundahan hati yang terjadi di lingkungan sekitar. Kebanyakan kegundahan hati mereka adalah kegundahan masyarakat umum karena hampir semua kegundahan itu berkaitan dengan pelayanan publik. Perbedaannya, para "epistoholik" ini dengan sukarela dan bahagia menuliskannya ke media.

Berdasarkan pemaparan blog Epistoholik Indonesia, www.episto.blogspot.com, kita dapat mengetahui bahwa kaum epistoholik adalah orang-orang yang kecanduan menulis surat pembaca.

Kata epistoholik berasal dari kata epistle yang berarti surat dan oholik yang berarti kecanduan. Bila imbuhan oholik pada alkoholik dan warkoholic bermakna negatif, tidak demikian halnya dengan epistoholik yang berarti positif.

Di dalam blog Epistoholik Indonesia sudah digambarkan dengan sangat bagus aktivitas mereka oleh pendirinya, Bambang Haryanto. Mereka menulis hal-hal yang tidak sesuai yang terjadi di sekitar mereka. Tidak jarang keluhan mereka yang dimuat di media massa membuat perubahan yang positif. Pihak-pihak yang tidak memberi pelayanan atau menjalankan kewajibannya dengan baik memang biasanya akan berbenah bila terpantau oleh publik yang lebih luas.

Bambang Haryanto sendiri sudah menulis surat pembaca sejak 1973 dan setelah itu dia kecanduan menulis surat pembaca di suratkabar. Dalam perkembangan selanjutnya, Bambang Haryanto bisa mengajak beberapa individu yang memiliki hobi sama untuk membentuk komunitas.

Kini komunitas Epistoholik Indonesia memiliki keanggotaan yang bersifat cair di beberapa kota. Perkembangan ini juga meluaskan komunitas, bukan hanya jumlah anggota yang bertambah banyak. Seperti yang dilakukan mas Ajie, ia kemudian membentuk komunitas donor darah yang bersiap 24 jam untuk membantu sesama lewat jaringan di media dan kaum epistoholik yang dikenalinya.


Bermedia tertinggi. Lalu, bagaimana meninjau fenomena ini dari sudut pandang kajian media? Hal yang agak mudah diamati dari komunitas epistoholik ini adalah bahwa komunitas ini berada dalam wilayah kecakapan bermedia yang "tertinggi".

Aktivitas menulis di media massa memerlukan pemahaman yang tinggi atas media. Selain itu, keinginan untuk memberikan kontribusi sosial melalui media adalah indikator tertinggi dari kecakapan bermedia. Kecakapan tertinggi ini mengindikasikan mereka tidak lagi kritis memandang media dan aktivitasnya, melainkan juga sudah berbuat sesuatu, yaitu dengan berkontribusi pada pesan media.

Kajian media bila diinteraksikan dengan demokrasi menunjukkan bahwa kaum epistoholik memperkuat demokrasi bermedia. Epistoholik atau audiens ini sedikit banyak juga berperan dalam produksi pesan media. Rubrik surat pembaca di sebuah suratkabar adalah salah satu rubrik yang paling diburu untuk dibaca. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh "keaslian" dari surat pembaca yang berasal dari masyarakat secara langsung. Kemungkinan rubrik surat pembaca adalah perwujudan yang paling riil dari ruang publik.

Suratkabar bisa dianggap sebagai jenis media yang paling demokratis karena suratkabar adalah media yang secara rutin menyediakan ruang bagi masyarakat. Hal ini berbeda dengan jenis media lain, terutama media penyiaran, atau media interaktif yang secara natural memang tertuju untuk masyarakat. Dengan demikian, media cetak merupakan kombinasi dari pihak media dan masyarakat.

Coba kita lihat ruang dan waktu yang diberikan media televisi sebagai contohnya. Hampir tidak ada ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan aspirasi melalui media. Hanya ada sedikit ruang dan waktu bagi audiens untuk menyuarakan kepentingan masyarakat. Audiens juga tidak bisa memberikan masukan atau kritik untuk stasiun televisi.

Ini adalah contoh untuk menunjukkan betapa rubrik surat pembaca beserta "aktivis" pengisinya, komunitas epistoholik, adalah bagian yang penting bagi demokrasi media. Memang setelah internet berkembang pesat dan menjadi bagian dari masyarakat, demokrasi media semakin mungkin terjadi, tetapi pada kenyataannya internet belum sekuat media cetak aksesnya di masyarakat.

Sebagai penutup, komunitas ini memiliki slogan episto ergo sum, yaitu aku menulis (surat pembaca) maka aku ada. Manifesto yang cantik dan terus membuat komunitas ini untuk terus menulis di surat pembaca, untuk memerdekakan diri dan berkontribusi sosial.

Komentar : bambang mengatakan...

Dear Mas Wisnu, salam episto ergo sum. Terima kasih untuk dorongan dan apresiasi Anda terhadap komunitas Epistoholik Indonesia, seperti yang Anda tunjukkan saat menjadi host di Radio Geronimo Yogya dan teman saya Tuwarji, menjadi tamu mewakili EI. Surprise, baru kali ini EI dapat tinjauan dari seorang akademisi. Selama ini banyak rekan wartawan yang sudi menyelisiknya.

Suatu kebetulan yang hadir di Geronimo adalah Mas Ajie. Kalau saya, mungkin acaranya jadi bubar,tidak fokus, karena saya pasti tergerak untuk selfish :-). Karena bernafsu ngomongin nostalgia musik tahun 70-an (Deep Purple, Led Zepp, Uriah Heep, Carpenters, Black Sabbath, Grand Funk Railroad, etc :-) ) yang saya dengarkan dari Radio Geronimo ini, saat saya jadi murid STM Negeri 2 Yogyakarta. Mungkin hal ini akan membuat Sondy, yang beda generasi, jadi tak enak posisinya saat memandu acara.

BTW, artikel Anda yang inspiratif ini akan saya pajang di blog EE saya (esaiei.blogspot.com), sebagai penulis tamu. Salam untuk Mas Ana Nadhya Abrar. Sukses selalu untuk Mas Wisnu !


Wonogiri, 16/8/2010

Monday, March 30, 2009

Caleg Narsistik, Untouchable dan Surat Pembaca

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 70/Maret 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia


Caleg-Caleg Kita Yang Narsistik. “Pemasaran diri sendiri,” kata ahli pemasaran Al Ries dan Jack Trout dalam bukunya Horse Sense : The Key to Success Is Finding a Horse to Ride (1991), “merupakan aktivitas pemasaran yang terpenting sekaligus yang paling sulit.”

Ketika melakukan perjalanan darat Wonogiri-Tasikmalaya pulang-pergi (17-18/1/2009), sambil mengamati dan memotret beragam papan peraga kampanye para calon legislatif kita, kiranya pendapat Ries dan Trout itu benar adanya.

Katakanlah, bisa saya simpulkan, bahwa sebagian besar para caleg itu tidak memahami strategi komunikasi pemasaran. Sehingga yang menonjol adalah sikap narsis, nafsu pemujaan terhadap diri mereka sendiri dan partai mereka. Yang mereka tonjolkan adalah nama partai, nomor partai, daerah pemilihan, nomor urut dirinya, foto, lalu janji-janji dan slogan kampanye mereka.

Tak ada data nomor telepon/HP atau email yang bisa mengundang konstituen untuk berinetraksi. Pesan-pesan mereka justru kebanyakan tidak berorientasi kepada sudut pandang sasaran kampanye mereka, yaitu para konstituen. Konstituen hanya diminta maklum akan janji-janji atau mantra-mantra “jual kecap” mereka. Pendekatan tersebut berakibat fatal.

Dalam dunia komunikasi dikenal rumus WIIFM (What’s In It For Me). Sekadar contoh, etika menerima surat, sebelum membuka amplop, di benak Anda secara naluriah segera muncul pertanyaan WIIFM itu : adakah isi surat ini yang penting dan bermanfaat bagiku ?

Isi surat yang tidak memenuhi harapan itu, tentu saja mengecewakan penerimanya. Rumus ini berlaku universal. Kesimpulan saya : dalam berkomunikasi saja para caleg itu nampak kemaruk mementingkan diri mereka sendiri, apalagi bila kelak telah terpilih ? (Surat pembaca ini telah dimuat di Kompas Jawa Tengah, Sabtu, 24 Januari 2009, dengan memperoleh penyuntingan).


Obama vs Caleg-Caleg Kita. Sukses Obama menjadi presiden Amerika Serikat ke-44 ditunjang pemanfaatan sarana teknologi komunikasi dan informasi (TKI) yang cerdas dalam kampanyenya. Intinya, sarana TKI itu digunakan untuk mendengar, menyerap aspirasi konstituen, dan lalu mensosialisasikannya sebagai isu bersama. Meminjam kata-kata Bung Karno, Obama sukses sebagai penyambung lidah rakyat.

Bagaimana wajah kampanye para caleg kita ? Mereka sangat elitis, egois, untouchable dan tidak merakyat, karena tidak mau membuka dialog dengan konstituennya. Simak saja peraga kampanye mereka, isinya lebih banyak mementingkan diri mereka sendiri. Memuji-muji diri sendiri.

Dalam sarana itu tidak terpajang data alamat, situs web/blog, email, telepon/HP (apalagi yang bebas pulsa) sebagai gestur kesediaan mereka membuka akses guna bersosialisasi dan berinteraksi dengan rakyat banyak yang mereka wakili. Pemilih kini benar-benar ibarat dipaksa untuk memilih kucing dalam karung ! (Dimuat di Kompas Jawa Tengah, Selasa, 3 Februari 2009, dengan memperoleh penyuntingan).


Mendadak Sok Selebritis. Selebritis menjadi makhluk istimewa karena dirinya memberikan sesuatu kepada masyarakat. Utamanya bakat artistik yang mereka geluti dan perjuangkan dalam waktu yang tidak sedikit. Mereka jadi terkenal. Masyarakat luas mudah mengenal mereka, dengan sukarela menjadi fans, pengagum, dan bahkan menghidupinya dengan membeli produk-produk artistik kreasi mereka.

Keistimewaan kaum selebritis itu kini ingin dinikmati para caleg kita. Tetapi dengan jalan pintas. Mereka yang selama ini bukan siapa-siapa, satu kecamatan pun tidak dikenal meluas, mendadak jadi sok selebritis. Lalu meminta dukungan, yang mementingkan dirinya sendiri, hanya dengan memajang papan peraga kampanye di jalan-jalan.

Rata-rata dengan olah grafika yang kacau-balau dan teks-teks yang hambar, datar, tidak menggugah. Tidak komunikatif. Tanggal 9 April 2009 akan menjadi saksi bahwa usaha jalan pintas itu hanya akan sia-sia belaka ! (Dimuat di Kompas Jawa Tengah, Sabtu, 14 Februari 2009, dengan memperoleh penyuntingan).


Caleg Kita dan Melek Media. Pamer tampang dan pamer gelar akademis. Itulah yang mencolok dan mudah ditemui dalam papan peraga kampanye caleg-caleg kita. Ditambah slogan atau janji yang normatif, membuat konstituen kekurangan informasi mengenai visi-misi dan utamanya tentang kualitas intelektual caleg bersangkutan.

Saya heran, mengapa mereka tidak memanfaatkan media massa ?

Kalau kantongnya tak mampu untuk pasang iklan, mengapa mereka tidak menulis artikel atau surat pembaca ? Atau membuat blog. Dengan menulis mereka mengasah ketajaman berpikir atau pengamatannya terhadap masalah yang dihadapi para konstituen, terbuka untuk berdiskusi dan kemudian memberikan solusi.

Inilah saatnya mereka berdiri disamping rakyat dan berbicara memakai kacamata rakyat, sebuah sikap yang harus terus mereka pertahankan bila terpilih kelak sebagai wakil rakyat.

Bukti tertulis dan dibaca banyak orang itu juga bermanfaat untuk menagih janji para wakil rakyat yang ingkar janji ! (Dimuat di Kompas Jawa Tengah, Sabtu, 14 Februari 2009, dengan memperoleh penyuntingan).


Partai cerai berai. Partai politik memasuki Pileg 2009 dengan situasi cerai-berai. Keputusan Mahkamah Konstitusi tentang pemenang pileg bagi mereka yang memperoleh suara terbanyak, memang memberi kedaulatan yang lebih dominan kepada konstituen. Tetapi hal itu merupakan kartu mati bagi partai dan birokrat partai. Karena internal partai kemudian menjadi tidak solid, ketika mau tak mau antarkader mereka dipaksa untuk saling bersaing satu sama lain.

Kondisi ini melemahkan partai. Para kader/caleg terkondisikan sulit bekerjasama guna membesarkan lebih dahulu kue partainya, yaitu porsi konstituen yang dapat diraih partai mereka. Sebaliknya, para caleg itu kini sibuk saling sikut antarteman guna memburu porsi kue pribadi masing-masing untuk bisa terpilih.

Dengan menyimaki strategi dan teknik para caleg dalam menjual diri, yang sebagian besar nampak amatiran dan merupakan wajah-wajah baru yang tidak dikenal, dapat diduga betapa tidak efektifnya mereka kelak dalam menjaring suara. Selamat datang era tokoh, selamat memilih dalam kegelapan, karena para tokoh dalam Pileg 2009 ini rata-rata rakyat memang tidak mengenal akrab diri-diri mereka. (Dimuat di Kompas Jawa Tengah, Selasa, 17 Februari 2009, dengan memperoleh penyuntingan).


Balada bangsa pelupa. Orang bermain dengan cara berbeda jika skor yang mereka capai dicatat. Itulah ajaran Stephen R. Covey dalam bukunya The 8 Habit (2005). Dengan ilustrasi dalam olah raga jalanan, apa saja, ia menyatakan bahwa ketika skor pertandingan tidak dicatat akan mendorong para peserta main secara seenaknya.

Hukum serupa harus juga diterapkan dalam kehidupan berpolitik kita. Setiap warga negara harus memliki catatan mengenai rekam jejak tokoh atau partai politik tertentu. Termasuk juga ketika memasuki masa kampanye seperti saat ini.

Apalagi pada saat-saat kritis itu, dalam masa pergantian kepemimpinan melalui pemilihan umum, catatan papan skor yang kita buat dapat menjadi pedoman untuk melakukan pilihan. Jangan terbuai oleh isi iklan. Atau strategi pencitraan.

Papan skor juga memperkecil peluang rakyat untuk mudah melupakan masa lalu. Ingat kata pepatah, betapa ingatan bangsa yang buruk merupakan makanan empuk bagi para politisi busuk. Maukah kita ? (Dikirimkan ke Kompas Jawa Tengah, 16 Februari 2009. Tidak dimuat).

Vandalisme Partai Politik. Suhu kampanye Pileg 2009 mulai menghangat. Memang belum terasa bagi konstituen, tetapi baru merambati partai-partai politik peserta. Bahkan dapat diduga, justru terjadi antarcaleg di bawah payung partai yang sama. Di Wonogiri, hal itu ditunjukkan dengan semakin maraknya ulah pengrusakan atribut-atribut kampanye yang terpajang di jalanan.

Siapa pun pelakunya, tindak vandalisme itu merupakan kampanye yang nyata dan sekaligus sangat buruk bagi citra semua partai politik. Citra yang belum berubah bahwa politik itu kotor dan menghalalkan segala cara guna meraih kekuasaan jelas dipertegas dengan pesan konkrit di sebalik aksi-aksi vandalisme itu.

Mereka penganut sikap mental kelangkaan, scarcity mentality, di mana fihak/partai lain merupakan pesaing yang harus dihancurkan. Seharusnya mereka bersikap mental berkelimpahan, abundance mentality, dimana fihak lain merupakan mitra untuk saling memajukan, termasuk memacu modus yang lebih kreatif dan lebih komunikatif dalam menyapa hati rakyat secara mulia dan elegan.

Itulah catatan sisi hitam dari pesta demokrasi kita saat ini. Jadi jangan salahkan rakyat, yang sedang terpuruk dewasa ini, bila mereka muak atau alergi untuk terjerembab dalam pusaran tindak persaingan politik yang tidak beradab itu.

Apalagi rakyat semakin sadar bila mereka terancam hanya diperalat sebagai sarana pencapaian ambisi individu atau partai yang semata jualan busa-busa janji dan impian yang sulit ditagih terkait kesejahteraan mereka di masa depan. (Dimuat di Kompas Jawa Tengah, Kamis, 19 Februari 2009, dengan memperoleh penyuntingan).


Caleg Tidak Mendengar. Hai rakyat, dengarkanlah dan ikuti kata-kataku. Percayai janji-janjiku, dan pilihlah aku. Begitulah inti pesan dari berderet papan peraga kampanye para caleg yang bertebaran di jalanan. Mereka seolah berada di atas, mengira rakyat itu bodoh dan mudah mengikuti apa saja kata mereka.

Persepsi itu salah besar. Mereka harusnya mau belajar dari ujaran Rebbeca MacKinnon, seorang blogger dan peneliti di Universitas Harvard yang mantan wartawan CNN di Beijing dan Tokyo.

Ia bilang, seseorang lebih mampu menyerap dan mengelaborasi kembali informasi secara lebih mendalam bila yang bersangkutan dilibatkan dalam diskusi mengenai materi tersebut. Bahkan mereka memiliki pemahaman lebih mendalam lagi bila dirinya mampu menuliskan opini tentang hal bersangkutan di ruangan publik.

Untuk mensosialisasikan pemilu dan individu caleg bersangkutan, kalau saja saya seorang birokrat KPU/KPUD atau caleg dan birokrat partai, akan saya ajari rakyat untuk menulis di beragam media. Baik artikel atau surat-surat pembaca di media massa, atau pun di blog-blog di Internet. Termasuk membebaskan mereka untuk menuliskan kritik untuk para caleg bersangkutan.

Dengan demikian maka papan peraga kampanye di jalanan itu bukan sebagai media indoktrinasi, searah, yang membodohi rakyat. Tetapi lebih merupakan undangan awal bahwa caleg bersangkutan bersedia membuka telinga untuk mendengar aspirasi rakyat. (Dimuat di Kompas Jawa Tengah, Jumat, 20 Maret 2009).


Caleg Yang Tidak Mendidik. Papan nama itu berisi tempelan beragam informasi. Dari lowongan pekerjaan, pelatihan blog, promosi real estat, kursus, seminar, sampai arisan sepeda motor. Tertempel di sebuah kios fotokopi di Wonogiri, yang semakin hari kapling halamannya semakin bertambah dengan info-info yang makin beragam pula. User generated content (UGC), demikian istilah dari dunia Internet untuk fenomena papan nama tersebut.

Para caleg Wonogiri seyogyanya memperkaya kampanyenya dengan cara UGC ini. Di kantor partai atau rumahnya, mereka dapat mendirikan papan informasi untuk masyarakat setempat. Diri mereka tampil sebagai hub, pusat persilangan informasi yang bersifat lokal, yang tentu saja relevan dengan kebutuhan konstituennya.

Prakarsa yang mendidik dan memberi manfaat ini jelas merupakan kampanye yang memiliki keunggulan tersendiri ! (Dimuat di Kompas Jawa Tengah, Rabu, 25 Februari 2009, dengan memperoleh penyuntingan).


Caleg dan Gangguan Jiwa. Caleg-caleg yang gagal terancam didera gangguan kejiwaan. Itulah topik yang marak akhir-akhir ini. Radio BBC ketika mewawancarai pimpinan rumah sakit jiwa di Solo, memperoleh penjelasan menarik.

Kursi legislatif yang ada di DPRD Solo hanya 40-an, tetapi diperebutkan oleh ratusan kontestan. Peluangnya, 1 kursi diperebutkan 10 kontestan. Jauh lebih banyak yang akan gagal, sehingga rumah sakit jiwa bersangkutan mulai kini mempersiapkan layanannya.

Angka itu sebenarnya lebih rendah bila dibandingkan dengan rasio antara lowongan pekerjaan dan pelamar pekerjaan yang aktual di negeri kita saat ini. Tetapi yang membedakan, para caleg memiliki mindset yang berbeda dibandingkan para pencari kerja.

Simak saja papan peraga kampanye mereka, hampir semua pesannya semata berorientasi dan mementingkan diri mereka sendiri. Untuk itu, bahkan mereka berani menghabiskan dana pribadi untuk meraih kursi. Jadi bisa kita bayangkan bila ambisi besar mereka itu nantinya terbentur dalam kegagalan. (Dimuat di Kompas Jawa Tengah, Selasa, 31 Maret 2009).


Politikus Instan dan Media. Siapa menanam, mengetam. Di masa mudanya Barack Obama bertahun-tahun mengabdi sebagai relawan. Bergaul dengan banyak kalangan bawah, bahkan yang tersingkirkan. Ia banyak menyerap, mendengar dan belajar. Popularitas dan keberhasilannya kini sebagai presiden AS bukan ia raih dengan cara-cara yang instan.

Kiat Obama itu semoga menjadi pelajaran bagi para caleg yang ingin bertarung di Pemilu 2014 mendatang. Mereka kini bisa belajar dari para caleg pemilu 2009 saat ini, yang nampak menonjol keinginannya untuk berhasil dengan cara-cara instan yang sebagian besar hanya akan menuai kegagalan.

Para caleg lima tahun mendatang itu harus berinvestasi mulai saat ini. Antara lain dengan menggalang hubungan yang luas, memupuk nama baik dan kepercayaan. Satu hal yang juga sangat penting, mereka harus mengasah keterampilan berkomunikasi yang memanfaatkan beragam media.

Karena di masa depan, untuk memenangkan kompetisi apa pun, setiap individu atau perusahaan harus dikelola sebagai perusahaan media ! (Dikirimkan ke Kompas Jawa Tengah, Jumat, 27 Maret 2009).


Wonogiri, 31/3/2009

ee