Showing posts with label rizal mallarangeng. Show all posts
Showing posts with label rizal mallarangeng. Show all posts

Friday, August 22, 2008

Hiu Ganas, Media Digital, dan Kampanye RI-1 2009

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 61/Agustus 2008
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia


Slogan melegenda. “Karena saya sangat menyukai produknya, maka saya beli saja perusahaannya.” Slogan ini sangat terkenal dan diluncurkan oleh Victor Kiam (1926-2001), seorang entrepreneur Amerika Serikat. Lulusan universitas Yale, Sorbonne dan Sekolah Bisnis Harvard ini semula berkarir sebagai eksekutif penjualan dari perusahaan Lever Brothers dan Playtex.

Slogannya, ”I liked it so much, I bought the company !” tadi, kemudian jadi penanda yang melegenda bagi keputusan bisnisnya. Konon setelah istrinya membelikan alat pencukur listriknya yang pertama, dimana ia terkesan ketika menggunakannya, Victor Kiam memutuskan membeli perusahaan Remington Products, produser alat cukur listrik tersebut. Bahkan, keputusan bisnis Victor Kiam tersebut juga terkenal sebagai pemberi ilham. Frasa doing a Victor Kiam dewasa ini telah menjadi istilah umum bagi pelanggan yang kemudian menjadi pemilik sesuatu perusahaan.

Salah satu bukunya, Going for It!: How to Succeed As an Entrepreneur (1986), merekam sepak terjang Victor Kiam sebagai wiraswastawan. Buku yang inspiratif. Ini adalah salah satu buku menarik yang pernah saya pinjam dari perpustakaan American Cultural Centre, di Wisma Metropolitan 2, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, tahun 1980-an.

Akhir-akhir ini selintas kenangan akan Victor Kiam, yang juga pemilik klub sepakbola Amerika New England Patriots ( 1988-1991), menjadi muncul lagi. Pemicunya, ketika memergoki gelontoran iklan-iklan politik dari ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN) Soetrisno Bachir (SB) dan juga sosok Rizal Mallarangeng (RM) di media massa akhir-akhir ini.


Balapan uang telah dimulai ! Iklan-iklan politik dari SB dan RM itu, di tengah berduyunnya tokoh-tokoh muda untuk mencalonkan diri sebagai calon presiden di Pilpres 2009, konon diilhami oleh kesuksesan Barack Obama di Amerika Serikat. Itulah penilaian dari Salahuddin Wahid (Jawapos, 9/8/2008). Ia sebut, selain RM yang mengusung slogan Generasi Baru, Harapan Baru, juga muncul Rizal Ramli dengan slogan Jalan Baru, Pemimpin Baru. Belum lagi Fadjroel Rachman, Yudhi Krisnandi, Hidayat Nurwahid, Yusril Ihza Mahendra, dan juga Laksamana Sukardi.

“Munculnya sejumlah tokoh muda untuk menawarkan diri menjadi pimpinan nasional diilhami oleh munculnya Barack Obama. Bahkan, mungkin mereka mengidentifikasikan diri dengan Obama. Karena itu mereka menganggap bahwa masyarakat akan menerima mereka seperti masyarakat AS menerima Obama. Seorang tokoh AS mengatakan, Obama bukan tidak bisa dibendung bukan semata-mata kehebatannya, tetapi karena ada kesadaran bersama bahwa dibutuhkan perubahan untuk memperbaiki Amerika,” tulis Salahuddin Wahid.

Inspirasi doing Barack Obama bisa muncul warna-warni. Rupanya, yang relatih mudah ditiru dari cara sukses Obama adalah dari cara beriklannya. Harian Pontianak Post (25/5/2008) telah memajang laporan dua seri mengenai kampanye Soetrisno Bachir. Judulnya, “Profesional di Balik Strategi Pencitraan Soetrisno Bachir : Seperti Barak Obama, Fox Garap Hulu sampai Hilir”

Apa siapa Fox itu ?

Koran itu melaporkan, setelah ditelisik, otak di balik penggarapan iklan politik (Soetrisno Bachir) tersebut adalah Fox Indonesia di bawah pimpinan Rizal Mallarangeng. Ditemui di kantornya, kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rizal mengaku telah menandatangani kontrak dengan Soetrisno Bachir hingga April 2009. ’’Fox Indonesia merupakan lembaga strategic and political consulting profesional pertama di Indonesia,’’ klaim pria yang juga direktur Freedom Institute tersebut.

Profesionalitas dalam pengertian Rizal adalah bisnis. Bisnis kampanye modern dan konsultan murni. Lembaga yang dipimpinannya akan melayani keperluan klien mulai hulu hingga hilir. Mulai pencitraan, iklan, pemberitaan di media, kampanye, sampai strategi pemenangan suksesi. ’’Kita coba, bikin lembaga yang benar-benar profesional. Seperti lawyer (pengacara), you bayar, kami yang susun konsep kampanyenya,’’ tambah alumnus Universitas Gadjah Mada tersebut.


Balapan uang untuk iklan-iklan politik di Indonesia akan semakin kencang arusnya. Apa klaim sukses dari metode Fox Indonesia yang membanjiri ruang kita dengan iklan-iklan itu ? Tulisan yang disajikan wartawan Jawapos, Candra K. dan A. Bokhin itu melanjutkan, bahwa untuk mengetahui perkembangan hasil pencitraan, pertengahan minggu lalu tim Fox Indonesia dan Soetrisno Bachir melakukan safari ke beberapa kabupaten di Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Jogjakarta, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara. “Hasilnya mencengangkan. Dengan memasang iklan tiga minggu saja, 2/3 audiens yang kita temui sudah mengenal Soetrisno Bachir,” katanya.

Rizal tak membantah jasa konsultan politiknya tidak murah. Bahkan, dia mengklaim Fox Indonesia mematok harga paling mahal di Indonesia. Selain iklan TV, Fox memasang iklan Soetrisno di koran-koran utama, media luar ruang, pemasangan baliho di seluruh Indonesia, dan bioskop. Belum termasuk program road show ke berbagai daerah di Indonesia.

Untuk iklan televisi, misalnya, dalam sehari rata-rata 180 kali tayang. Iklan tersebut ditayangkan di jam-jam utama (prime time) dengan program yang memiliki rating tinggi. Belum lagi iklan di radio dan TV lokal. Jadi, wajar jika anggarannya sangat besar. “Demokrasi itu mahal Bung. Untuk pemilihan internal saja, Obama (Barack Obama, capres Partai Demokrat di AS) hingga saat ini sudah menghabiskan Rp 2 triliun. Kalau di Indonesia, ya kami masih termahal,” katanya.

Hiu ganas berkeliaran. Betul, Rizal. Demokrasi memang mahal. Utamanya, barangkali, bagi Soetrisno Bachir saat ini. Ketercengangan RM atas iklan-iklan SB yang ia buat sendiri, apakah itu yang memicu dirinya untuk meniru kedahsyatan kredo doing a Victor Kiam bagi dirinya sendiri ?

Bagian akhir artikel Salahuddin Wahid akhirnya menggaruk rasa gatal menyimaki peran RM di balik iklan-iklan SB dan kemudian memergoki RM muncul di lapangan yang sama. “Ada sesuatu yang mengganggu kalau tidak ditanyakan. Mengapa RM yang semula menjadi konsultan Soetrisno Bachir dalam promosi dirinya, tiba-tiba muncul sebagai pesaing ? Bukankah di situ ada prinsip konflik kepentingan yang dilanggar ? Apakah telah terjadi pelanggaran etika ?

Kalau sebagai konsultan dia tidak bisa membedakan, apakah sebagai pemimpin dia nanti bisa membedakannya ? Kalau sebagai konsultan tidak bisa menjaga etika, apakah nanti sebagai pemimpin akan bisa ? Tantangan dan godaan sebagai pemimpin pasti lebih besar daripada sebagai konsultan.

Kita tentu tidak bisa menvonnis, hanya boleh mengajukan pertanyaan. Saya pikir RM tidak keberatan dengan pertanyaan semacam itu, sebagai salah satu bentuk pertangungjawaban publik atas apa yang dilakukannya. RM yang lama hidup di AS yang terbuka untuk masalah yang menyangkut masalah kepentingan umum, tentu sudah terbiasa dengan hal seperti itu,” harap Salahuddin Wahid.

Jawaban secara tak langsung untuk Salahuddin Wahid, untuk warga Republik Indonesia, muncul belakangan. Walau mungkin tidak tuntas dan tidak memuaskan, ternyata sejak Juli 2008, hubungan Fox Indonesia dan Soetrisno Bachir telah berubah. Dari client-consultant relationship menjadi hubungan persahabatan. Fox Indonesia kini mempunyai klien baru yakni Partai Demokrat dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Itulah lanskap khas dari politik. Fenomena di atas mengingatkan pendapat Alan Clark (1928-1999), politisi dari partai Konservatif Inggris yang menulis dalam buku hariannya, 30 November 1990. “Tidak ada teman sejati dalam politik. Kita semua adalah hiu-hiu yang berkeliaran, dan yang saling menunggu jejak-jejak darah yang mengapung di permukaan,” simpulnya.


Bisik-bisik digital itu mematikan Kontroversi hiu makan hiu, antara iklan politik RM versus SB mungkin memang telah berakhir. Tetapi apakah kontroversi iklan-iklan politik RM vs SBY justru baru dimulai ? Kita lihat saja.

Hemat saya, alangkah baiknya, seperti sangka baik Salahuddin Wahid di atas, RM harus segera menuntaskannya. Ia memiliki pilihan beragam media untuk bercerita. Usul saya, manfaatkanlah kekuatan-kekuatan spesifik dari beragam media yang ada secara bijaksana. Jangan remehkan media-media baru berbasis digital yang telah pula ada di tangannya.

Obama, lagi-lagi, dapat menjadi contoh. Untuk mengumumkan siapa calon wakil presiden yang ia pilih, ia tidak mengumumkannya melalui televisi. Tetapi melalui SMS. Terobosan yang dahsyat. Dengan media itu ia menyapa setiap pemilihnya dengan sentuhan personal.

Sentuhan pribadi. Antara dia dan satu individu pemilihnya. “Ini antara kita saja. Anda dan saya,” begitu kira-kira suasananya. Seolah Obama mengatakan bahwa hanya Anda yang ia beritahu rahasia terdalamnya, tentang misteri yang santer berkembang beberapa lama ini, tentang orang kedua yang mendampinginya dalam merebut kursi presiden AS di bulan November 2008 nanti. Sebuah rangkulan hangat dan mempribadi dari Obama yang sulit untuk memperoleh penolakan !

Tetapi RM saat ini belum merangkul. Ia belum mau merangkul. Ia masih suka untuk gencar berteriak-teriak. Satu arah. Broadcast politics. RM belum membuka telinganya secara lebar-lebar untuk kita semua. Bisik-bisik digital yang muncul, kiranya, belum juga menyentuh perhatiannya. Pilihan yang mungkin fatal.

Inilah pelbagai potongan bunyi bisik-bisik digital itu. “Papabonbon” menulis di antara 51 tanggapan dari artikel Kopidangdut : “jadi oom trsni (maksudnya Soetrisno Bachir ? –BH) bikin iklan ke oom rizal abis itu oom rizal bikin iklan buat dirinya sendiri, duitnya lari ke manah .. ?”

“Dibanding capres muda lainnya bisa dibilang dia yang paling kaya. Paling tidak dilihat dari iklan-iklannya. Gencar. Begitulah Rizal Mallarangeng. Ia ada di TV dan media cetak. Bahkan di pinggir tol sekitar Semanggi pun ada. Masih kurang cukup? Sebentar lagi, katanya, iklan dirinya, iklan baru, akan muncul di banyak TV. Dari mana ia beroleh banyak duit? Cukongnya Aburizal Bakrie? Rizal mewakili kepentingan Bakrie dan teman-temannya? “

Dalam artikel yang mendukung tampilnya RM, dalam blognya Ulil Abshar-Abdalla, muncul pendapat dari “Kolonel Inf. Daryatmo (#11)” : “Saya kira Rizal belum punya cukup bukti yang kuat bahwa dia layak jadi pemimpin nasional. Contoh kecil saja, ketika RM memandu acara Save Our Nation di Metro TV, saya sering mengamati bahwa sebagai host, RM terlalu dominan mewarnai acara dengan komentarnya yang jauh lebih banyak ketimbang orang-orang yang diwawancarainya.”

“Agus Nizami (#23)” menulis : “Rizal Mallarangeng mencalonkan diri jadi Capres? Iklannya Save Our Nation sering muncul di Metro TV dengan nada simpatik seolah-olah peduli pada rakyat. Padahal dari berbagai berita di media massa, Rizal Mallarangeng jadi tim perunding rebutan blok Migas Cepu antara Pertamina dengan Exxon Mobil yang berakhir dengan penyerahan Blok Cepu ke Exxon. Kemudian Rizal Mallarangeng turut dalam iklan mendukung kenaikan harga BBM tahun 2005 yang mencapai 125%. Itukah cara Rizal untuk mensejahterakan rakyat Indonesia? Menyelamatkan bangsa Indonesia? Save our Nation? Baca selengkapnya berikut berita dari media massa di : http://capresindonesia.wordpress.com/2008/07/24/track-record-rizalmallarangeng-calon-presiden-save-our-nation/"

Beragam pertanyaan di medan digital di atas itu tidak RM jawab. Dalam iklan di media massa ia sudah mengemukakan apologinya. “Saya minta maaf sebab tidak mungkin membalas satu persatu sapaan yang datang kepada saya,” tulisnya. Menurut saya, mungkin sebaiknya RM mulai saat ini bersedia mendengar kata dari Luis Marinho Falcão, Director, Ogilvy Interactive : "The most frightening thing about an electronic whisper is the fact that it becomes a gigantic roar before some notice it." Hal paling mengerikan mengenai bisik-bisik digital adalah fakta bahwa ia mampu menjadi auman dahsyat sebelum kita semua mengetahuinya.

Orang muda, platform tua. Akar “kebisuan” RM terhadap bisik-bisik digital itu boleh jadi karena, sebagaimana kita saksikan dari media digitalnya sendiri, dirinya masih kental dibelit budaya media atom. Media kertas. Media lama. Ia masih muda tetapi platform atau mindset medianya adalah media tua.

Situsnya, http://www.rm09.com/, tak lebih dari agregat artikel atau tulisan yang pernah muncul di media cetak. Bahasa prokem orang-orang dari Lembah Silikon menyebutnya sebagai showelware : isi yang pertama kali muncul di media cetak, dibangkitkan dari lubang kubur dengan disekop, kemudian dipindahkan ke media digitalnya. Mumi-mumi informasi.

Mumi-mumi itu tidak klop dengan Internet sebagai media interaktif. Nyatanya artikel-artikel hasil sekopan tadi, dalam situs RM, juga tidak membuka peluang interaktivitas itu. Karena pembaca tidak difasilitasi untuk memberikan komentar terhadapnya. Kalau menurut Tom Mandel dan Gerard Van der Leun dalam bukunya Rules of The Net (1996), situs semacam itu harus dan wajib dicuekkan saja. If a web site has no feedback mechanism, forget it.

Eksekusi situs yang tidak membuka dialog itu jelas sangat jauh dari pengejawantahan mashab user generated content yang menjadi tulang punggung sukses model bisnisnya Amazon.com sampai Wikipedia. Richard Jalichandra, CEO Technorati, bilang, “media-media arus utama baru sadar sekarang bahwa mereka dapat menciptakan isi lebih banyak bila mereka melibatkan peran serta komunitas. Dewasa ini banyak sekali artikel-artikel media itu tersaji dengan platform blog yang berseberangan dengan sistem manajemen isi (CMS) secara tradisional, dan itulah tantangan menarik bagi media-media bersangkutan kini !”

Sebagai seorang epistoholik saya mencoba memberi usul, dengan mengirimkan email (9/8/2008) sebagai berikut : “Saya suka Internet Anda gunakan sebagai salah satu senjata kampanye Anda. Saya pernah menulis hal ini di Kompas, 8 Maret 2004. Menurut saya, eksekusi media Internet Anda ini sudah ‘kedaluwarsa.’

Platformnya sudah ketinggalan jaman, karena Anda masih menganggap para peselancar sudah cukup dipuasi dengan membaca-baca isi situs Anda. Padahal kami juga ingin berkomentar dan bersuara di situs ini, tetapi Anda menutup pintu untuk itu. Bangun, bung !” Surat saya ini tidak tampil di situs bersangkutan. Juga sama sekali tidak memperoleh jawaban.

Sebagai penutup, silakan membuka-buka halaman “Artikel” dari situs RM tersebut. Anda akan menemukan sebagian besar tulisannya terpajang secara rata kanan dan kiri (justified. Dari seorang Robin Good, seorang pakar dalam penguasaan cara –cara berkomunikasi dengan media baru, ditegaskan bahwa penyajian isi dalam situs web atau pun blog haruslah SELALU rata kiri (left aligned).

Bagaimana kalau teks itu tersaji secara rata kanan-kiri (justified) seperti halnya dalam situsnya Rizal Mallarangeng, sang calon Presiden Republik Indonesia yang berniat maju dalam Pilpres 2009 ? Robin Good menjawab :

“Justified text on a web page is like having a label next to it saying in bold capital letters: ‘The people behind this web site KNOW NOTHING about communication on the web’”.


Wonogiri, 23/8-7/9-2008


ee

Sunday, May 25, 2008

Internet, Pilpres 2009 dan Kebangkitan Anak Muda

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 58/Mei 2008
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Koneksi yang terputus. Aktivitas seremonial yang kini jadi mode dan semakin sering dilakukan birokrat adalah meresmikan situs web. Baik itu situs web institusi pemerintahan, lembaga sosial kemasyarakatan, atau pun situs untuk menyambut peristiwa tertentu, seperti situs-situs calon gubernur Jateng yang sedang berpromosi. Harian Kompas Jawa Tengah (9/5/08) misalnya, juga telah melaporkan Pemkot Solo yang meluncurkan situs World Heritage Cities.

Upaya memanfaatkan media dunia maya merupakan kemajuan. Tetapi seringkali pemanfaaatannya tidak disertai perubahan pola pikir pengelolanya untuk sejalan dengan karakter media berbasis Internet itu. Kekurangan yang mendasar dan mencolok, pengelola situs itu banyak menganggap peselancar yang mengunjungi situs bersangkutan sudah cukup dipuaskan dengan membaca-baca saja.

Dikiranya paparan visi-misi sudah afdol sebagai informasi yang menarik. Atau teks pidato, foto-foto pejabat dan kegiatannya yang terpajang di situs bersangkutan sudah dianggap memiliki nilai informasi tinggi. Isi seperti itu hanyalah umpan tekak, appetizer, pembuka belaka.

Internet adalah media interaktif. Mimbar bebas. Roh media internet adalah cerita, cerita dan cerita. Lalu interaksi. Pengunjung harus difasilitasi menjadi bagian utama isi situs. Bahasa gaulnya, user generated content. Mereka dirangsang berbicara, mengeluarkan uneg-uneg, tidak hanya kepada pengelola, tetapi juga dengan pengunjung lainnya. Terjadilah diskusi, termasuk diskusi mengeritik situs bersangkutan dan bahkan kebijakan pejabatnya sekaligus.

Semua isi tersebut harus terpajang, karena dialog-dialog itulah yang membuat situs bersangkutan menjadi hidup. Fungsi situs web yang terbaik adalah sebagai kepanjangan telinga para birokrat untuk mendengarkan suara rakyat. Tanpa fungsi itu dan tanpa lalu lintas dialog membuat situs yang molek sekali pun hanya pantas bernasib sebagai rumah hantu di dunia maya.

Tokoh-tokoh alergi dialog. Paparan di atas merupakan isi surat pembaca yang saya kirimkan ke harian Kompas Jawa Tengah, Jumat, 23 Mei 2008. Topik serupa juga pernah saya kirimkan ke koran yang sama, terkait dengan bentuk kampanye awal para kandidat yang bersiap-siap terjun dalam pemilihan gubernur di Jawa Tengah tahun 2008 ini. Secara lengkapnya terpajang berikut ini dengan judul surat pembaca, “Tokoh-Tokoh Tak Tersentuh.”

Kampanye pemilihan gubernur Jawa Tengah diam-diam mulai bergulir. Di Wonogiri, mulai sering terpasang spanduk yang isinya menyambut kehadiran para kandidat di kota Gaplek ini. Selainnya berupa tempelan stiker di tiang-tiang listrik dan juga baliho yang terpajang, ironisnya, justru terletak di bagian kota yang tidak strategis.

Selain foto kandidat, nama, juga termuat janji-janjinya walau mereka belum secara eksplisit menyatakan diri sebagai kandidat gubernur. Mereka mungkin merasa percaya diri bahwa khalayak telah tahu motif di balik pemasangan sarana kampanye semacam itu.

Satu hal yang sangat mengherankan saya, para tokoh itu seperti memilih sikap untuk tidak mau disentuh oleh calon konstituennya. Sebagai warga Wonogiri pada umumnya, mereka itu hanya menonjol sebagai orang-orang asing, tidak kami kenal, yang tidak terbuka, apalagi ramah, untuk terjadinya dialog atau interaksi lebih lanjut.

Pasalnya, dalam pelbagai spanduk, baliho sampai posternya, sama sekali tidak ada data alamat yang bisa dikirimi surat, juga tidak ada nomor telepon, faks, HP, email sampai situs blog/web yang bisa dikontak atau diakses.

Apakah ini justru tanda awal bahwa mereka, ketika masih berstatus sebagai kandidat pun, nyata-nyata telah alergi untuk mau mendengar suara, sapaan dan bahkan teguran dari rakyat ? (Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, Sabtu, 29 September 2007).


Kandidat gubernur gaptek. Ilustrasi di atas mungkin bisa menunjukkan betapa masih gapteknya para calon pemimpin dan pemimpin kita mengenai perkembangan terbaru di bidang informasi dan teknologi komunikasi. Dalam artikel saya sebelumnya, di blog ini pula, gaptek itu bahkan merambah kepada pimpinan tertinggi departemen yang mengurus bidang bersangkutan.

Pemanfaatan media Internet sebagai senjata kampanye, menarik perhatian saya. Saya pernah menulis artikel berjudul "Internet Sebagai Senjata Kampanye Presiden” di harian Kompas (8 Maret 2004), yang memperbandingkan eksekusi situs web calon presiden AS dari Partai Demokrat, John Kerry dan situs Amien Rais dari Partai Amanat Nasional (PAN) di Indonesia.


Bagaimana pemanfaatan Internet untuk Pilgub Jawa Tengah 2008 dan bahkan untuk pemilihan presiden kita di tahun 2009 mendatang ? Mari Anda saja ajak berwisata gagasan, dengan paparan di bawah ini.

Kampanye Pemilu terbaik Megawati terjadi tahun 1999. Ketika reformasi masih menggelora, ia yang terangkat sebagai simbol perlawanan terhadap rezim Soeharto dan Orde Baru, membangkitkan prakarsa akar rumput untuk mendukungnya. Pendirian posko-posko PDIP secara swakarsa jadi bukti bahwa mesin politik paling ampuh apabila muncul dari bawah. Menurut ahli pemasaran digital, Seth Godin, Mega saat itu menjadi ideavirus, virus ide, yang secara ajaib berbiak dan meluas dengan sendirinya di kalangan konstituen.

Tetapi ketika Mega menjadi incumbent dalam Pemilu 2004, prakarsa akar rumputnya praktis habis. Mungkin karena kalangan bawah kecewa dengan kinerja PDIP. Atau merasa ditinggalkan para kadernya, yang setelah menjadi anggota legislatif atau eksekutif mereka melupakan wong cilik dengan segala polah dan deviasinya.

Akibatnya yang mencolok, jalanan tidak lagi atau jarang ditemui posko-posko PDIP yang hidup dan semarak. Apalagi sebagai penguasa PDIP lebih memilih menggerakkan mesin politiknya dari atas. Selain membentuk koalisi, bahkan dengan seterunya selama ini, yaitu Golkar, PDIP tidak luput dari terkaman penyakit yang biasa diderita partai politik mapan.

Seperti simpul Carol Darr, Direktur Institut Politik, Demokrasi dan Internet dari Universitas Washington, kebanyakan kampanye partai politik mapan dilakukan dengan kontrol atas-bawah yang ketat. Staying on message adalah kredonya.

Karena mereka menguatirkan keterlibatan gerakan kelompok swadaya atau akar rumput yang lepas dari kendali hirarki partai, di mana mereka melakukan kampanye secara mandiri, menyebar brosur dan bahkan menjadi sumber liputan media. Kalangan politisi PDIP ibarat terserang paranoia, justru menghalangi warga untuk ikut bicara dalam kampanye karena ketakutan mereka akan salah ngomong yang berakibat rusaknya citra siang kandidat presidennya.

Model kampanye secara top-down dan monolitis itu kini juga nampak kental dalam masa pra-kampanye Pemilihan Gubernur Jawa Tengah 2008 dewasa ini. Kalau Anda sedikit jeli mengamati, para bakal calon itu mengeksekusi pesannya seperti memilih sikap untuk tidak mau disentuh konstituennya.

Karena dalam pelbagai peraga kampanye itu sama sekali tidak ada data alamat mereka yang bisa dikirimi surat. Tidak ada nomor telepon, faks, HP, email sampai situs blog/web yang bisa dikontak atau diakses. Apakah semua ini justru tanda awal bahwa mereka, ketika masih berstatus sebagai kandidat pun, nyata-nyata alergi untuk mau mendengar suara, sapaan dan bahkan teguran dari rakyat ?


Rakyat ibarat botol kosong. Dalam bahasa komunikasi politik, kampanye model di atas diberi label sebagai broadcast politics, komunikasi satu arah. Cirinya adalah terjadinya jor-joran memasang papan peraga kampanye, iklan-iklan dan memperbanyak liputan televisi. Konstituen hanya dianggap sebagai botol kosong yang harus siap menelan pesan-pesan politik mereka. Inilah pula kampanye yang mengandalkan tersedianya banyak uang tetapi sekaligus mempersempit keterlibatan rakyat untuk berperanserta.

Kini sebenarnya telah hadir strategi kampanye yang mampu memberdayakan kalangan akar rumput untuk bergerak secara swadaya dan mandiri : bersenjatakan Internet. Karena senyatanya strategi kampanye model broadcast politics tidak kompatibel dengan budaya Internet yang interaktif dan egaliter.

Di Amerika Serikat, kandidat presiden dari Partai Demokrat, Howard Dean, adalah pelopor pemanfaatan Internet sebagai senjata kampanye pemilihan presiden. Walau tersingkir oleh John Kerry, tetapi ide cemerlang manajer kampanyenya, Joe Trippi, banyak diadopsi John Kerry dalam menantang Bush di Pemilu 2004 yang lalu.

Joe Trippi dalam merancang strategi kampanyenya Howard Dean ibarat menyediakan bensin, memercikkan ke dalam nyala api dan lalu menyingkir. Ia membiarkan api itu mengamuk, berkobaran, ketimbang mencoba melakukan kontrol terhadapnya. Bersenjatakan blog dan meet-up di Internet, Trippi bergerilya secara online untuk merekrut massa akar rumput, yang aktif, partisipatif, berpendekatan bawah-atas, sehingga mereka merasa dihargai dan terberdayakan.

Blog adalah jurnal elektronik dimana tim sukses Dean dapat memajang gagasan atau pikiran secara seketika di Internet, baik berisi pesan untuk calon penyumbang dan simpatisan, sehingga merasa mereka dilibatkan secara pribadi. Berbeda dibanding web, melalui blog para simpatisan dapat saling ngerumpi satu sama lain.

Alexis Rice, peneliti masalah blog dari Universitas John Hopkins menyimpulkan bahwa blog merupakan inovasi komunikasi terbesar untuk Pemilu AS 2004. Blog telah mentransformasi komunikasi dalam kampanye dan tidak hanya penting dalam Pemilu Presiden (AS), tetapi juga dalam pemilihan di negara bagian dan pemilu lokal di masa depan.

Sedang meet-up adalah situs web yang menfasilitasi warga yang memiliki minat atau hobi serupa. untuk berhimpun di lingkungan mereka masing-masing. Dalam gerak cepat, situs meet-up Howard Dean mampu merekrut 87,985 anggota dari 562 kota di dunia. Dari pertemuan-pertemuan antar simpatisan itu, mereka menggalang kampanye mendukung Dean secara mandiri. Strategi Joe Trippi ini intinya adalah : bebaskan, biarkan konstituen berbicara, tidak hanya kepada kandidat, tetapi juga dengan konstituen lainnnya.

Efek gethok tular tersebut kemudian memicu reaksi berantai sehingga menimbulkan dampak yang luar biasa. Dalam strateginya Trippi itu, kedigdayaan Internet mampu menyelipkan pesan politik yang luhur. Bahwa keberhasilan kandidat dalam memanfaatkannya untuk kampanye justru harus memberi peluang dan mendorong konstituennya buka suara. Bukan justru membisukannya. Sementara para kandidat harus pula membuka lebar-lebar telinganya guna menyerap aspirasi dan suara rakyatnya.


Senjata bangkitnya anak muda Indonesia ? Sekadar contoh aktual, Hillary Clinton dalam kampanye menuju Pilpres AS 2008 bahkan menggunakan situs media sosial Friendster untuk menyapa pemilih dari generasi muda. Dalam konteks Indonesia, dimana populasi pengguna Internet didominasi anak muda, adaptasi strategi model Hillary Clinton dalam kampanye Pilgub Jateng 2008 dan Pilpres 2009 berpotensi membangkitkan anak-anak muda terdidik kita untuk tidak lagi apatis berpolitik. Karena mereka memperoleh saluran yang egaliter untuk bersuara dan berperanserta.

Sehingga diharapkan, berkat Internet pula, mereka mampu memperoleh dan memiliki kekuasaan untuk bersatu sebagai komunitas yang kembali menjadi pemilik sah masa depan negerinya sendiri. Termasuk berpeluang menggolkan tokoh-tokoh muda yang akibat kekangan budaya broadcast politics, yang melibatkan banyak uang itu, senantiasa termarginalkan selama ini.

Untuk ikut serta dan ikut andil menanam embrio gagasan guna membangkitkan anak-anak muda Indonesia dalam merencanakan masa depan negara dan bangsanya melalui jalur politik, bersenjatakan Internet, saya telah menulis surat pembaca berjudul Revolusi Facebook Pilpres 2009.


Surat itu saya kirimkan ke Totot “Pakde” Indrarto selaku pemimpin redaksi majalah periklanan Ad-Diction, 14 Desember 2007. Juga saya “cc”-kan ke Antyo Rentjoko, Aulia A. Muhammad, Boy Syahbana, Budi Putra, Donny BU, Effendi Gazali, Enda Nasution, Onno W. Purbo, Sigit Widodo, Wimar Witoelar, dan sahabat maya saya lainnya.

Saya tahu, embrio gagasan semacam ini tidak mudah secara serta merta mampu tumbuh cepat, besar, menyebar dan menular. Bahkan di komunitas yang melek Internet sekali pun. Di tengah eforia memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional saat ini, nampak sepi-sepi saja wacana mengeksplorasi Internet sebagai senjata bagi kebangkitan bangsa ini, terutama bagi kaum mudanya dalam memvisualisasikan masa depan.

Sekadar contoh : politikus muda Sutrisno Bachir, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), dalam memanfaatkan momentum 100 Tahun Kebangkitan Nasional, nampak juga beriklan tetapi tetap menggunakan “model lama.” Ditukangi oleh Fox Indonesia, biro spin doctor, sebutan untuk biro iklan politik, di bawah komandan Rizal Mallarangeng, iklan-iklannya membanjiri ruang kita baik di koran, radio dan iklan-iklan di gedung bioskop. Tetapi simaklah, sudahkah Anda temui URL situs web atau blog dari tokoh bersangkutan ?

Sekadar bukti kecil lainnya : email saya di atas juga tidak memperoleh sambutan yang berarti. Hanya seorang Aulia A. Muhammad yang berbaik hati memberikan tanggapan. Terima kasih, Mas Aulia.

Secuplik bukti-bukti di atas nampaknya memaksa kita untuk setengah memahami mengapa kampanye politik yang memanfaatkan Internet belum terdengar sebagai wacana yang gencar dalam atmosfir dunia politik kita. Juga dalam masa-masa pra-kampanye Pilgub Jawa Tengah 2008 dewasa ini.

Apakah karena calon-calon gubernur kita, calon-calon pemimpin masa depan Indonesia, masih begitu kronis didera penyakit gaptek, gagap teknologi semuanya ? Atau justru memusuhi Internet ? Atau kah kemampuan Internet sebagai corong aspirasi rakyat yang maha dahsyat itu justru yang membuat mereka ketakutan untuk memanfaatkannya secara sepenuh tenaga ?



Wonogiri, 26 Mei 2008


ee