Showing posts with label kastanto hendrowiharso. Show all posts
Showing posts with label kastanto hendrowiharso. Show all posts

Wednesday, December 16, 2009

Epistoholik, Batik dan Merenda Nostalgia Jogja

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 88/Desember 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia


Magnet uang. “Apakah kita membaca buku yang sama ?”

Pertanyaan itu melintas ketika sebuah truk menyalip bis yang saya tumpangi. Hari itu Rabu pagi, 2 Desember 2009. Saya dalam perjalanan Wonogiri-Solo-Jogja. Di bak truk bersangkutan tertulis slogan menawan : I’m a money magnet. Saya bisa memotretnya.

Pertanyaan di atas tentu tak bisa saya ajukan kepada sopir truk bersangkutan. Kita sama-sama melaju di jalan raya. Tetapi slogan di bak truk itu mengingatkan akan isi sebuah buku karya Peter Spann, The Little Pot of Gold : 100 Keys To Success and Wealth (2003).

money magnet,money,magnit

Buku ini hadiah dari teman online saya, Lasma Siregar, yang tinggal di Melbourne, Australia. Buku ini saya terima tanggal 18 Maret 2005. Buku mini ini menghimpun 100 butir motivasi, ditulis pendek-pendek dan bernas.

Misalnya di halaman satu : “Kaya” adalah bila Anda memiliki banyak uang. “Sukses” adalah bila Anda mengerjakan apa yang Anda cintai dan mencintai apa yang Anda kerjakan, ketika Anda dikelilingi oleh mereka yang Anda cintai dan Anda memperoleh imbalan yang sesuai dengan diri Anda.

Terkait dengan slogan di truk tadi, pada halaman 30 Spann menulis : “Tahukah Anda bahwa uang itu selalu menempel ibarat magnet kepada seseorang yang tertentu ? Orang-orang tersebut mengetahui Tiga Rahasia Magnetisme Uang.”

Rahasia Pertama Magnetisme Uang (hal. 31) : “Keunikan. Temukan bakat, keterampilan atau produk yang benar-benar unik, sesuatu yang dibutuhkan orang, di mana mereka bersedia membayar dan hanya Anda satu-satunya yang mampu menyediakannya, dan itulah tiket Anda menuju kaya raya.”

Belum kaya raya. Terima kasih, Peter Spann. Saya setuju dengan formula Anda itu. Selain rada heran mengapa buku ini sering melintas di kepala saat saya melakukan perjalanan, termasuk ketika memperoleh MURI yang kedua (2005), saya berbangga diri karena telah menemukan keunikan pada diri saya sendiri. Sebagai seorang epistoholik, pemabuk penulisan surat-surat pembaca.

Apakah saya telah merasa sukses dengan keunikan itu ? Jawabnya : Yes !, sambil tetap menyadari bahwa keunikan itu bukan sesuatu yang eksklusif. Toh sebelum saya bergiat dalam aktivitas menulis surat pembaca, sudah banyak pendahulu yang melakukannya. Salah satu tokohnya adalah yang akan saya kenang nanti ketika saya menginjak Yogya kembali.

Tetapi jawabnya jelas No ! bila menulis surat pembaca, sekampiun apa pun dan bahkan tercatat di MURI pun, akan mampu membuat diri saya sebagai orang yang kaya raya.

Ah, apakah ini sikap yang pesimistis ? Atau realistis ? Begini sajalah : “kaya raya” ilmu, boleh jadi. Toh Internet telah menyediakannya. Yang juga terbuka bagi Anda semua. Tetapi kaya raya uang, tidak. Atau belum ? :-(

Saya ke Yogya untuk “menjual” keunikan saya. Sebagai penulis naskah pidato sekaligus untuk mengisi buku panduan dari kegiatan Gelar Expo UMKM Kota Yogyakarta dengan tema “Batik Jogja untuk Indonesia.” Lokasinya : Griya UMKM Jl. Taman Siswa No. 39 Yogyakarta. Tanggal 4-6 Desember 2009.

Jadi, wah, rada lucu juga, teks berisi visi saya seputar dunia batik Indonesia masa kini yang saya ketik di Wonogiri, bisa dipidatokan dan sekaligus menjadi bagian dari materi buku pengantar acara itu.


Rapor merah-merah. Begitulah, isi hati ini campur aduk. Antara rada merasa lucu, sekaligus senang, karena bisa menginjakkan kaki lagi di Yogya. Tentang lucu, hal itu bisa muncul bila membuka-buka album kenangan saat bersekolah di kota ini.

Selepas lulus di SMP Negeri 1 Wonogiri, saya bersekolah di STM Negeri 2 Yogyakarta Tahun 1970 sampai tahun 1972. Jurusan Mesin. Menengoki dokumen rapor saya, walau sudah dilaminasi plastik oleh ayah saya Kastanto Hendrowiharso toh bagian tengahnya sudah dimakan rayap. Di dokumen itu tercatat banyak sekali angka-angka merah saat saya bersekolah yang terletak di Jetis itu.

Saat duduk di kelas 1 Mesin C, pada semester satu, untuk pelajaran Mesin Uap saya mendapat nilai 4. Mohon maaf kepada James Watt, bapak penemu mesin uap. Mohon maaf pula kepada Bapak Sumarto, guru saya.

Yang saya ingat dari beliau, selain sosok kurus dan berkacamata, adalah keusilannya untuk mau mengomentari judul lagu yang saya cantumkan di bagian bawah kertas ulangan.

Saat itu saya menggemari duo Simon & Garfunkel. Pada bagian akhir kertas ulangan mesin uap itu saya tulis judul lagunya, “The Only Living Boy in New York.” Ketika kertas ulangan dikembalikan, ada tulisan tambahan dari Pak Sumarto : “But, why do you live in Yogya ?”

Pelajaran Motor Bakar juga mendapat nilai 4. Saat itu, seingat saya, saya lebih mudah mengingat nama-nama “indah” para pembalap F-1 saat itu, seperti Clay Reggazoni atau Emerson Fittipaldi, daripada menghafal rumus-rumus pelajaran dari Pak Sardjiman itu.

Nilai 4 juga saya sandang untuk Ilmu Ukur Ruang & Proyeksi. Turbin Uap, 5. Peraturan Keselamatan Kerja, 5. Praktek Bengkel, 5. Aljabar dan Ilmu Ukur Analyt, 5. Di semester satu itu ada 7 angka merah. Syukurlah hanya ada dua merah di semester kedua : Motor Bakar dapat 5 dan Ilmu Gaya, yang sebelumnya dapat 6 kini merosot jadi 4.

Pelajaran favorit saya di sekolah itu justru Bahasa Indonesia yang diampu Ibu Mujimah (“yang seksi,” bisik-bisik teman saat itu), dan Bahasa Inggris dengan guru yang agak nyentrik, Pak Sukartolo.

Saat itu saya tinggal di Dagen, kebetulan ayah saya menjadi komandan Koramil Gedongtengen. Kalau berangkat sekolah bersepeda merek Fongres buatan Belanda, saya sering menyeberang ke timur, melewati Malioboro, lalu menerabasi kampung Sosrokusuman. Fokus perhatian : rumah di sisi timur laut, persis utaranya lapangan tenis.

Pamrihnya, siapa tahu, sambil deg-degan, dari rumah itu bisa saya pergoki siswi SMA Stella Duce yang cantik (sekali). Kalau tak salah ingat, namanya Dini, putri perwira AURI. Ia punya mata yang tajam, sekaligus kelam, seperti mata perempuan dalam lukisannya Jeihan.

bambang haryanto,imam,stm negeri 2 yogyakarta 1972,tur ke bandung,saduki,muwardi,helmy sofyan

Teman-teman dalam kenangan. Di Yogya ini saya diam-diam mampu meneruskan memupuk kegemaran sebagai humoris. Kalau rada jeli dalam menengok ke belakang, saya baru sadar kalau tidak sedikit sesama teman-teman “sekolah pande besi” itu menyimpan bakat-bakat artistik tertentu. Harta karun yang terpendam.

Misalnya, teman saya Bambang Tamtomo Adiguno, asal Magelang. Ia pandai melukis sosok pemuda yang saat itu jadi tren, yaitu sosok pemuda tampan dan keren yang hadir dalam komiknya Yan Mintaraga. Kalau usilnya kumat, ia melukis wajah guru kita yang sedang mengajar, tentu saja dengan teknik deformasi yang mengundang cekikikan.

Tommy fasih pula menyanyikan lagu-lagu The Bee Gees. Kadang memberitahu saya isi tangga lagu-lagu Barat dari Radio Australia. Saat itu, moga tak salah ingat, yang baru ngetop antara lain lagunya Rod Stewart, “Maggie Mae” sampai lagu instrumentalia “Apollo 100,” yang menggabungkan nomor Simfoni No. 40-nya Mozart yang terkenal. Tamtomo juga sering bercerita mengenai film-film baru, termasuk “The Dirty Dozen”-nya Lee Marvin, Donald Suttherland,.Jim Brown, Richard Jaeckel, dan kawan-kawan.

Teman lain, yang sering disebut clown class adalah Eddy Suharto. Asal Nagan Kidul, Yogyakarta. Kalau lagi kumat beraksi, ia tak segan-segan menirukan ulah guru-guru kita yang sadis. Termasuk guru matematika yang sampai mengatakan otak-otak kita sebagai “otak gombal.” Eddy sering sering pula memeragakan aksi Mick Jagger dan bunyi drumnya Charlie Watt (?) dalam menyanyikan lagu “Honky Tonk Woman.” Atau melantunkan nomornya The Beatles, “Let It Be” yang sohor itu.

Eddy mengundurkan diri dari bangku STM itu. Juga teman lainnya, Sutrisno. Keduanya memilih sekolah di bangku SMA, sesuatu pilihan berani yang tidak berani saya lakukan. Walau berbeda sekolah, saya sama Eddy tak jarang bertemu. Suatu saat ia memberi saya hadiah lukisan karyanya, lukisan batik bertemakan peperangan Rama dalam cerita Ramayana. Bahkan saat saya lulus, kami berdua melaksanakan nadar kita sebelumnya : berkemah di Kaliurang. Hanya di kebon sekitar pemandian Tlogo Putri.

Teman saya lainnya, Muhammad Umar Hidayat. Tinggalnya di Demangan, Yogyakarta. Saya sering dari Dagen naik sepeda malam-malam untuk mengobrol. Terutama tentang film. Yang paling saya ingat, Hidayat fasih menceritakan film “The Mackenna’s Gold.” Atau bercerita mengenai serial sandiwara radio RRI Yogyakarta. Juga berbagi lirik lagu indahnya Glenn Campbell, “Take My Hand” atau “To See My Angel Cry” (?) -nya Conway Twitty. Di jaman ini pula saya untuk pertama kali jatuh cinta terhadap duo Richard dan Karen Carpenters, lewat lagu indahnya : “For All We Know.”

Sayang dalam tur ke Bandung, teman-teman di atas tak pernah terjepret bersama. Nampak dalam foto di atas adalah, dari kiri ke kanan : Helmy Sofyan (asal Palembang), Muwardi (Palembang), Imam (Lampung), Bambang Haryanto (Wonogiri), Hudoyono (Purworejo), Sarjiman (Yogyakarta), Wahyudi (Wonosari) dan Saduki (Yogyakarta).

Honor dari humor. Kegemaran yang diturunkan dari ayah dan ibu saya, berhumor, memperoleh lahan menarik saat saya bersekolah di Yogya ini. Dengan mengirimkan lelucon-lelucon pendek ke majalah Aktuil dan Varianada. Sekaligus bisa gratisan, tak perlu membeli majalah bersangkutan, untuk bisa mengikuti cerita Denny Sabri, wartawan topnya yang ia tulis dari Jerman.

Tentang kiprah terbaru Ian “Child in Time” Paice, Ritchie “Highway Star” Blackmore dan kawan-kawan dari Deep Purple, Ozzy Osborne dari Black “Paranoid” Sabbath atau pun Robert “Black Dog” Plant sampai Jimmy “You shook me” Page dari Led Zeppelin.

Petugas tata usaha sekolah saya mungkin menjadi heran karena saya, mungkin sebagai satu-satunya siswa, yang menerima kiriman weselpos yang bukan dari orang tua. Tetapi prestasi siswa STM yang mampu menulis lelucon hingga menembus majalah Bandung dan Jakarta itu sama sekali tidak terendus di kalangan guru-guru saya.


Pay it forward. Di Yogya pula, mungkin benih sebagai seorang epistoholik juga mulai bersemi pada diri saya. Ketika mengikuti koran Kedaulatan Rakyat saat itu, sering saya temui nama Ir. RM Pradiko Reksopranoto, dengan alamat Jalan Sultan Agung 65.

Suatu keajaiban sejarah terjadi pada tahun 2000. Atau sekitar 30 tahun kemudian. Di arena Festival Aeng-Aeng II Manahan Solo, saya bisa bertemu dengan tokoh unik dengan beragam minat yang kadang nampak esoterik ini. Dalam email yang beliau kirimkan tanggal 17 Oktober 2003, antara lain beliau pernah mengusulkan ide precision penalties dalam sepakbola, yaitu sebanyak 2 x 22 tendangan ke arah gawang yang dilakukan tanpa pemain kiper yang menjaganya !

Fast forward : 2009. Yogya dan surat pembaca kembali mengusik saya ketika menemukan harian Kedaulatan Rakyat (1/12/2009) memuat surat pembaca dengan judul “Trah Arung Binang.” Penulisnya adalah Drs. Tulus Widodo dari Suryowijayan (081328830681).

Beliau, yang saya baru tahu kemudian nampaknya juga seorang epistoholik, mengomentari surat pembaca sebelumnya, juga di KR (17/10/2009) yang ditulis Ir. Avianto Kabul Prayitno, MT (08122732549) yang tinggal di Sapen, Gondokusuman.

Inti isi surat pembaca mereka adalah, karena merasa sama-sama sebagai warga keturunan Trah Arung Binang (Djoko Sangkrib), yang dirunut ke hulu hingga ke Pangeran Puger Kartasura Hadiningrat, Pak Tulus dan Pak Avi itu berniat ingin mengumpulkan balung pisah, menghimpun tali silaturahmi antar sesama warga trahnya.

Pada tanggal 3 Desember 2009 pagi, saya segera mengirim SMS kepada Pak Tulus dan Pak Avi. Saya berjanji akan menghubungkan mereka dengan warga trahnya di Jakarta, yang kebetulan saya kenal. Yaitu Bambang Aroengbinang, asal Mersi, Purwokerto. Ia mengelola blog berbahasa Inggris yang menawan, The Aroengbinang Project [“aku sering kepikiran, ini blog tentang operasi pengeboran minyak lepas pantai”] dan suka dihiasi hasil pemotretan dirinya yang indah.

Melalui warnet Sorpokats, Jl. Taman Siswa, siangnya saya mengirimkan email tentang ide Pak Tulus dan Pak Avi itu ke Mas Bambang Aroengbinang. Beberapa hari kemudian, beliau membalas : “berharap bisa ingin segera mengontak Pak Tulus dan Pak Avi di Yogya itu.”

Salah satu “tugas” bonus sebagai seorang epistoholik, seorang blogger dan katalis, sekaligus “menteri komunikasi dan informasi” dari trah saya, Trah Martowirono, hari itu telah saya lakukan. Begitulah, di Yogya tersebut, selain bisa bernostalgia, ternyata saya juga bisa menyemaikan perkenalan dengan kerabat-kerabat baru pula.

Ketika tanggal 5 Desember 2009 saya meninggalkan Yogya, saya berharap truk yang bertuliskan mantra “I’m a money magnet” itu bisa melintas kembali. Baiklah, harapan itu sia-sia. Di bawah ini, untuk Anda semua, saya ingin melengkapi hukum kedua dan ketiga dari Peter Spann tentang rahasia seseorang untuk menjadi magnet uang itu.

Hukum yang kedua : memberikan nilai tambah. “Bila Anda menemukan cara yang mampu menambah kekayaan, kesehatan, kebahagiaan, cinta atau waktu bagi kehidupan orang lain, Anda akan memperoleh imbalannya.”

Hukum ketiganya adalah, leverage. Maksimalisasi. “Apabila Anda mampu memaksimalkan kualitas sesuatu produk atau jasa, yang meningkatkan hasil, maka imbalan juga akan melimpahi diri Anda.”

Terima kasih, Peter Spann. Beberapa hari di Yogya saya mencoba merealisasikan hukum-hukum itu. Sebisanya. Sepulangnya, pada jiwa ini, syukurlah, saya merasa sebagai orang yang kaya raya.


Wonogiri, 18-23 Desember 2009

ee

Wednesday, August 22, 2007

Epistomedicine !

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 48/Agustus 2007
Email : humorliner@yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Most novices picture themselves as masters
and are content with the picture.
This is why there are so few masters.

- Jean Toomer


Impian Membunuh Gajah. Serigala muda baru terbangun dari tidurnya. Ia segera menggeliatkan tubuhnya yang disapu kehangatan matahari pagi. Ia bangun dengan tubuh terasa segar dan kuat untuk memulai kehidupannya hari tersebut. Dengan anggun ia melangkah ke suatu puncak bukit kecil dekat sarangnya. Matahari pagi yang belum sepenggalah bersinar di balik punggungnya ia rasakan seperti memberi sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Serigala muda itu melihat bayang-bayang tubuhnya nampak sangatlah besar menghampar di hadapannya. Ia pun segera terpesona. “Apakah memang sebesar inikah tubuhku ?”, katanya dalam hati dengan perasaan takjub. “Kalau memang tubuhku sebesar dalam bayangan ini, rasanya aku harus tidak takut melawan binatang lain !”, gumamnya penuh kebanggaan.

Ia pun segera menyelinap masuk hutan untuk membuktikannya. Ia dengan sengaja menghadang seekor gajah tua yang besar, dan menantangnya untuk beradu kekuatan. Akibatnya fatal. Gajah itu segera menyambar tubuh serigala muda itu dengan belalainya. Dengan sekali ayun, tubuh serigala tersebut dihempaskan keras-keras ke bebatuan. Serigala itu tewas.

Di dunia kaum epistoholik tidak sedikit dari kita yang perilakunya mirip dengan serigala muda tadi. Dengan menulis surat pembaca, yang kemudian diamplifikasi oleh media massa ketika suratnya itu dimuat, diri si penulis itu merasa telah berbuat sesuatu yang mampu mengubah dunia. Dirinya merasa telah habis-habisan, total, menumpahkan kemarahan, kekesalan, kritik, dan terkadang juga solusi. Tetapi setelah sekian lama, mungkin dirinya merasakan seperti menabrak dinding baja.



Surat pembaca anti lepra. Usaha heroik itu pantas memperoleh apresiasi. “Saya telah menulis surat pembaca mengenai korupsi, kemiskinan, dan juga AIDS. Topik yang paling dekat dengan hati saya adalah penyakit lepra dan senjata nuklir,” tutur Anthony Parakal, “nabi” penulis surat pembaca dari Mumbai, India.

Seperti dikisahkan oleh Pooja Kumar, Parakal (foto) pernah melakukan hal-hal besar seperti itu. Segalanya telah ia tulis dalam surat pembacanya, yang berjumlah hingga 5000 judul yang berbahasa Inggris, membuat dirinya tercatat dalam Guinness Book Of World Records (1993, Edisi India).

Disamping juga diprofilkan kiprahnya di majalah TIME (6 April dan 4 Mei 1992) untuk komitmen sosialnya. Sekedar mengingatkan, isi majalah TIME 6 April 1992 tersebut, lima belas tahun lalu, telah mengilhami saya untuk mendirikan komunitas penulis surat pembaca di Indonesia, Epistoholik Indonesia. Lanjut cita-cita besar Parakal :

“Pada tahun 1981 saya menulis surat ke PBB agar mereka mencanangkan Tahun Lepra yang berpotensi mampu menolong lebih dari empat juta penduduk India yang terserang penyakit itu (dari 12 juta di dunia),” tutur Parakal. “Walau PBB menyetujui gagasan saya, mereka membalas bahwa hal itu tidak dapat diwujudkan karena tidak adanya dukungan dari pemerintah India.”

Upayanya untuk menyumbang pelbagai gagasan konstruktifnya tercatat memperoleh surat balasan dari Perdana Menteri India, baik Gulzari Lal Nanda, Morarji Desai, Indira Gandhi sampai Rajiv Gandhi. Tetapi menurutnya, Anthony Parakal merasa memperoleh rasa puas yang lebih besar apabila isi surat pembacanya memperoleh tanggapan dari pemerintah yang ia kritik.

“Baru-baru ini surat pembaca saya dimuat di suatu harian, isinya kritik karena tidak adanya lampu jalan di sebuah jalan di kota Evershine, Nagar. Pemerintah kota memberikan tanggapan secara pantas dan mereka segera memasang lampu jalan yang saya usulkan itu,” tuturnya dengan penuh kebanggaan.


Kolom kecil, urusan kecil. Kemenangan atau prestasi seperti yang dialami oleh Anthony Parakal itu juga tak jarang dinikmati oleh warga Epistoholik Indonesia. Engelbertus Kukuh Widyatmoko, warga EI dan guru di Malang, dalam emailnya 21 Maret 2005 pernah bercerita hal menarik di bawah ini :

“Saya pernah menulis surat pembaca di media cetak tentang jalan yang berlubang. Anehnya tulisan saya sampai sekarang tidak dimuat tetapi jalan tersebut yang menjadi bahan (tulisan) saya sudah diperbaiki di kota Malang. Dan (hal) itu terjadi beberapa kali, sehingga saya sedikit kendor dengan pengalaman tersebut. Sungguh saya jadi turun motivasi untuk menulis surat pembaca, terlebih tentang kota saya. Itu berlangusng beberapa kali dan beberapa masalah. Sungguh saya heran.”


FX Triyas Hadi Prihantoro, guru SMA Pangudi Luhur St. Joseph Surakarta, tak kalah menarik pengalamannya sebagai penulis surat pembaca. Ketika menjadi nara sumber acara Saga di Radio 68H Jakarta, 6 November 2006, ia berkeyakinan bahwa “daya gempur” surat pembaca lebih ampuh di banding artikel. Ia pun mencontohkan, jalan di depan kompleks sekolahnya yang mudah terlihat dari jalan protokol, rusak dan terlantar. Dengan satu surat pembaca di koran Solopos yang ia tulis, beberapa saat kemudian jalan itu diperbaiki.Nampak dalam foto Mas Triyas bersama murid-muridnya yang siap melakukan aktivitas olah raga lari di depan kompleks sekolah yang sudah mulus kondisi jalannya.

Dalam acara radio yang sama, Erlangga Chandra dari Banyudono, Boyolali, punya cerita yang lain. Ia mengaku pernah mengirim surat ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia pun memperoleh balasan, isinya standar, yaitu fihak Istana mengucapkan terima kasih atas perhatiannya. Erlangga Chandra, merasa tidak puas. “Ini surat balasan dari SBY atau dari Andi Malarangeng ?”, tanyanya. Ia lalu mengembalikan surat itu. Ia ingin balasan dari seorang SBY !


Cermin Dahlan Iskan. Harapan Pak Erlangga yang besar. Mungkin kemudian akan mudah memunculkan kekecewaan yang juga besar ? Tetapi semua itu kiranya ibarat jalan panjang kehidupan yang pantas dilalui oleh seseorang penulis surat pembaca. Jalan berliku, naik dan turun, yang seyogyanya harus pula dinikmati. Alangkah mulianya bila mampu disyukuri pula.

Karena memiliki kemampuan menulis adalah rahmat. Menuliskannya di media massa untuk orang lain adalah prestasi. Tidak semua orang memperoleh karunia itu. walau pun demikian saya tetap menjadi terheran dan terkagum-kagum ketika mengikuti cerita CEO Jawapos Group, Dahlan Iskan, pasca-operasi transplantasi livernya di China. Cerita bersambung yang menarik dan mengharu biru itu dimuat di suratkabar Jawapos sejak akhir Agustus 2007.

Salah satu momen ia ceritakan, setelah operasinya berjalan sukses, dua belas jam kemudian, ketika dirinya telah sadar, ia memutuskan untuk meminta prioritas kepada tim dokternya. Ia minta tetap diperbolehkan ditemani oleh laptopnya yang tersambung ke Internet.

Karena ia ingin menulis.
Kemudian ia memang menulis dan menulis.

Bahkan kemudian ia pun sempat bergurau, bahwa satu hal yang paling ia kuatirkan apabila liver barunya itu, dari donor warga China, akan mempengaruhi kualitas menulisnya.

Tergerak oleh cerita Pak Dahlan Iskan yang inspiratif itu, yang bahkan telah pula disinggung oleh Tanadi Santoso dalam acara radionya Business Wisdom bahwa ”good people, teach, great people inspired,” orang baik mengajari kita dan orang besar menginspirasi kita, saya pada tanggal 4 September 2007 telah menulis email untuk Pak Dahlan Iskan (iskan@jawapos.co.id) itu :


Blog Dahlan Iskan


Ayah saya, Kastanto Hendrowiharso, meninggal dunia dalam usia 54 tahun karena sirosis, kanker liver, pada tahun 1982. Sehingga ketika membaca kisah Pak Dahlan Iskan saya merasa punya kaitan dengan perjuangan Anda yang berani, mengharukan, dan semoga Pak Dahlan Iskan dan keluarga senantiasa dikaruniai rahmat Yang Maha Kuasa di masa depan.

Karena memang sepak terjang dan bakti Pak Dahlan Iskan di masa depan, baik bagi perusahaan, bagi bangsa ini, masih sangat sekali dibutuhkan. Sehat dan optimis selalu Pak Dahlan. Kisah Anda itu pasti telah menginspirasi banyak orang, termasuk diri saya sendiri.

Usul sedikit : alangkah baiknya bila catatan harian Pak Dahlan Iskan itu selain dimuat di Jawapos, juga dibuatkan situs blog tersendiri. Atau tergabung dalam situsnya Jawapos. Atau sudah ?

Dengan media digital itu akan dimudahkan bagi pembaca untuk saling berinteraksi, baik dengan Anda atau pembaca lain, guna saling menyumbangkan perspektif apabila ada keluarga mereka atau diri mereka sendiri yang pernah mengalami cobaan seperti yang pak Dahlan alami selama ini.

Dengan berbagi cerita kita akan merasakan suatu solidaritas, bahwa kita tidak sendiri, suatu perasaan yang kian langka ketika para pemimpin kita lebih suka berjalan “sendiri-sendiri” dan meninggalkan banyak rakyatnya yang terus menderita.

Salam dan doa saya dari Wonogiri.


Bambang Haryanto
Blog Komedikus Erektus (http://komedian.blogspot.com)
Email : humorliner@yahoo.com


Menulis itu menyehatkan. Hari-hari ini Pak Dahlan Iskan menunjukkan kepulihan yang menggembirakan. Saya pernah membaca isi newsletter Health Report bahwa aktivitas menulis itu mampu meningkatkan jumlah antibodi di dalam tubuh kita. Sehingga kekebalan tubuh kita terhadap penyakit akan meningkat.

Bagi saya pribadi, sebagai seseorang yang mengidap hipokondriak atau rasa kuatir mengidap sakit gawat tertentu, menulis adalah solusi untuk menghadapi “mahluk bayangan yang menakutkan” itu. Ketika merasa mentok, merasa tak ada solusi setelah membaca-baca buku sampai CD mengenai kesehatan/kedokteran, saya menumpahkan semua ketakutan sampai kekuatiran itu daalm bentuk tulisan. Mungkin “penyakit” yang ada masih ada, tetapi sebagian telah berpindah ke halaman kertas.

Saya merasa memperoleh perspektif baru dalam melihat “ancaman” yang ada. Ketika ancaman itu tidak ada atau berlalu, sebagaimana rumusan penulis dan sutrada Nora Ephron bahwa tragedi setelah tertimbun oleh waktu akan menjadi komedi, saya mampu untuk tertawa kemudian : menertawakan kebodohan diri sendiri.

Demikian pula ketika isi surat pembaca yang saya tulis dengan berkobar-kobar, ibarat mampu meruntuhkan gunung, tapi berakhir mengecewakan. Ibarat pemula tetapi mengharap memperoleh sambutan sebagai pakar, seperti disindir oleh ucapan Jean Toomer di atas.

Atau mungkin ibarat serigala dalam dongeng Aesop yang karena bayangannya merasa mampu melawan gajah, tetapi ternyata tidak menimbulkan sesuatu reaksi apa pun, maka menurut saya tiba saatnya saya dan kita untuk kembali meledeki kekurangan diri sendiri. Agar saya dan kita semua mampu kembali waras seperti semula.

Akhirnya, saya mengusulkan ke komunitas kedokteran bahwa hal-hal yang sering dialami oleh kaum epistoholik di atas, sudah saatnya diangkat sebagai disiplin baru dalam ilmu kedokteran yang menantang untuk dijelajahi lebih lanjut. Disiplin ilmu baru itu adalah :

Epistomedicine.
Penyembuhan melalui surat pembaca.



Wonogiri, 12/8-25/9/2007


ee