Showing posts with label blogger. Show all posts
Showing posts with label blogger. Show all posts

Wednesday, August 19, 2009

Sumbu Pendek, Ekor Panjang dan Benturan Peradaban

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 80/Agustus 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Jebakan persepsi. Gambar perempuan mampu memicu pertengkaran. Satu gambar perempuan muda dan jelita, dan satunya lagi gambar perempuan tua renta.

Satu kelompok akan bersikukuh bahwa gambar yang mereka lihat itu sosok perempuan muda dan jelita. Kelompok lainnya, melihat gambar yang sama sebagai wajah perempuan tua dan pendiriannya itu akan mereka bela mati-matian pula.

Kalau Anda pernah membaca bukunya Stephen R. Covey, 7 Habits of Highly Effective People (1989), Anda akan menemukan ilustrasi yang mengejutkan itu. Sementara dalam bukunya yang lebih baru, The 8th Habit (2006), sosok kontroversi itu berupa gambar perempuan muda dan sosok pemain saksofon.

Inti dari kasus perselisihan ini adalah : betapa dua orang dapat melihat obyek yang sama, saling tidak bersepakat, tetapi keduanya sekaligus sama-sama benar. Simpul Covey adalah : ini semua terjadi bukan terkait dengan logika, melainkan terkait erat dengan hal-hal psikologis.

Gedor Covey kepada pemahaman kita selama ini : “Kalau kejadian 10 detik saja memiliki dampak begitu dahsyat bagi pemahaman kita terhadap dunia, bagaimana bila pengkondisian itu terjadi terus-menerus dalam sepanjang hidup kita ?”

Kita ekstrapolasi : bagaimana bila pengkondisian itu ternyata sudah berlangsung ribuan tahun, berlabelkan hal yang kita nilai sebagai sesuatu yang tinggi, sakral, sekaligus sangat peka, yaitu agama ? Bagaimana pula bila pengkondisian dalam agama tersebut, agama apa saja, senantiasa sangat kental diwarnai dengan upaya penyeragaman, uniformitas, yang sekaligus menegasikan keberagaman, pluralitas ?

Dunia kiranya hanya akan mencatat pelbagai perang dan perang semata. Juga potret-potret tindak kekejaman. Itulah yang terjadi bila ada sebagian umat bersikukuh mendukung doktrin keseragaman, baik agama, ras, budaya, politik sampai ekonomi. Contohnya, adalah Hitler dengan Nazinya, yang mengagungkan ras Arya, telah melahirkan peristiwa Holocaust yang mengerikan. Faham fasis serupa belumlah mati.


Seragam bila mati. Kita tahu, upaya penyeragaman selalu mengalami kegagalan. “Life is plurality,” begitu kata Octavio Paz (1914-1998), diplomat, penulis dan penyair asal Meksiko. Dan hanya, “death is uniformity,” lanjutnya. Hidup itu beragam, sedang kematian adalah seragam. Apa yang mampu membuat dunia ini berputar, tutur Paz, adalah terjadinya saling memengaruhi antara pelbagai perbedaan, yaitu daya tarik dan daya tolaknya.

Bila terjadi penindasan terhadap perbedaan dan beragam keunikan, dengan mengenyahkan peradaban dan budaya yang berbeda, kedepannya semua itu semata melemahkan kehidupan karena lebih memilih kepada kematian. Keseragaman sesuatu yang mustahil. Kalau Allah memang menghendaki keseragaman itu sejak semula, niscaya kita semua sekarang ini telah dijadikan dalam satu umat sejak manusia diciptakan olehNya.


Gempa bumi dahsyat. Keberagaman dalam pelbagai sendi kehidupan umat manusia itu kini semakin mengemuka ketika Internet semakin berperan penting dalam kehidupan umat manusia. “Internet adalah gempa bumi berkekuatan 10,5 Skala Richter yang mengguncang sendi-sendi kehidupan umat manusia,” tegas “nabi digital” Nicholas Negroponte dari Media Lab, MIT, Amerika Serikat.

Salah satu fenomena terdahsyat dari Internet adalah kehadiran beragam media sosial, yang dapat hadir dalam beragam bentuk. Misalnya milis, forum, blog, wiki, podcast, album foto dan video di Internet. Media sosial berbeda dibanding media industri seperti surat kabar, televisi dan film. Kalau media industri membutuhkan biaya besar dan sumber daya mahal untuk menerbitkan informasi, media sosial menyediakan sarana murah bagi setiap orang untuk menjadi produser informasi.

Fenomena ini membalikkan konsep media massa menjadi menciptakan media untuk massa. Setiap orang kini dengan bersenjatakan sarana penerbitan berbasis web yang murah, mudah dikelola, dengan koneksi yang selalu tersambung dan semakin canggihnya sarana komunikasi bergerak, mendaulat mereka menjadi partisipan yang aktif dalam menciptakan berita atau informasi, sekaligus berperan dalam penyebarannya.

Chris Anderson dalam bukunya The Long Tail : Bagaimana Pilihan Tak Terbatas Menciptakan Permintaan Tak Terbatas (2007), mengungkap ketika semua orang kini berpotensi menjadi produser informasi, maka akan hadir fenomena the long tail, si ekor panjang. Dalam fenomena itu pilihan kita hampir tidak terbatas dan ketika segala sesuatunya menjadi tersedia bagi setiap orang. Keragaman benar-benar menjadi raja.

Simak ilustrasi di bawah ini :



Chris Anderson menunjukkan bahwa selama ini dunia bisnis bertumpu pada produk-produk best seller, alias pembuat hit di bagian kepala (head), bagian paling tebal dalam kurva permintaan tradisional. Ekonomi pembuat hit ini memfokuskan bisnisnya hanya menggarap produk atau talenta yang menurut mereka potensial untuk dijual. Ekonomi pembuat hit merupakan kreasi di mana TIDAK CUKUP RUANG untuk menampung segala hal dan tidak mampu memenuhi kebutuhan setiap orang pula.

Rinciannya : tidak cukup ruang di rak-rak toko buku untuk mampu menampung semua buku yang diterbitkan, dan juga semua CD, DVD atau games yang diproduksi. Tidak cukup layar bioskop untuk menayangkan semua film yang ada. Tidak cukup saluran untuk menyiarkan semua acara televisi yang ada. Tidak cukup pula gelombang radio untuk mengudarakan seluruh ciptaan musik yang ada, dan tidak cukup jam setiap harinya bagi kita untuk menyapu semuanya itu di pelbagai slot-slot yang tersedia. Itulah potret diri dunia kelangkaan, the world of scarcity.

Sementara itu dewasa ini, berkat Internet yang membuka distribusi dan eceran secara online, kita memasuki jaman limpah ruah, the world of abundance. Dan perbedaannya sangatlah dahsyat. Menurut Chris Anderson, dunia bisnis masa depan tidaklah bertumpu pada produk-produk best seller, alias pembuat hit di bagian kepala (head) itu, melainkan pada produk-produk yang sampai belum lama ini dianggap gagal atau sampah, yaitu produk-produk di bagian ekor panjang (the long tail) yang tak ada habisnya, pada kurva yang sama.

Sekadar contoh dalam bahasa industri musik, bagian kepala adalah ranahnya major label dan bagian buntut merupakan lahan kiprahnya kaum indie, kaum yang berkarya sesuai kata hati mereka. Dalam dunia apparel, bagian kepala adalah porsi untuk supermarket atau toko fashion besar, sementara pada bagian buntut adalah lahan kiprah bisnisnya beragam distro. Dan tidak sedikit dari mereka yang berkiprah di ranah buntut panjang ini menuai sukses besar pula.

Chris Anderson memiliki tamsil menarik untuk menggambarkan perubahan dahsyat ini. Dalam ekonomi pembuat hit atau produk-produk top, baik buku, lagu sampai film, ibarat pulau-pulau yang menyembul di atas permukaan air. Tetapi ketika air itu surut dan mengering, di bawah puncak-puncak itu akan kita temukan beragam obyek yang selama ini tidak terlihat dalam pandangan kita.

“Yang mulai kita lihat, ketika pengecer online mulai menyambut peluang untuk memanfaatkan jalur distribusi yang sangat efisien dan murah ini adalah gunung raksasa sangat dahsyat yang sebelumnya hanya nampak puncaknya,” tegas Chris Anderson. Untuk itu, kita harus juga angkat topi kepada Larry Page dan Sergei Brin, berkat bantuan mesin pencari Google kreasi mereka, membuat produk atau informasi apa pun di Internet sekarang ini mudah sekali Anda temukan !

Dalam konteks diskusi kita saat ini, dengan merujuk tema pengaruh Internet dan blog terhadap perkembangan kehidupan beragama dan budaya bertoleransi di Soloraya, maka kita, hemat saya, harus mempersiapkan diri menghadapi maraknya fenomena si buntut panjang tersebut. Apalagi Solo masih belum luntur memiliki stigma sebagai kota bersumbu pendek, dimana perbedaan pendapat atau faham seringkali diselesaikan dengan adu fisik dan bukan dengan adu visi.

Fenomena si buntut panjang, seperti lajimnya suatu temuan teknologi, senantiasa memiliki sisi baik dan sisi buruk. Maraknya pemanfaatan media-media sosial, membuka potensi semua orang untuk berbicara, berekspresi, dan meluaskan pengaruh. Tetapi juga sekaligus mampu memicu persaingan dan bahkan benturan.

Khusus benturan yang terkait dengan agama saya, agama Islam, ada beberapa ilustrasi yang mengemuka akhir-akhir ini. Misalnya, baru saja sebagian umat Islam Solo menyambut kedatangan jasad Air Setiawan dan Eko Peang, dengan dielu-elukan sebagai martir atau syuhada, setelah keduanya tewas di Bekasi terkait aksi aparat dalam menumpas terorisme di Jakarta.

Sementara itu di Jalur Gaza, saat menguping siaran BBC (14/15/2009), diwartakan bahwa penguasa kawasan itu, yaitu Hamas, terlibat bentrokan bersenjata di sebuah masjid melawan kelompok Islam radikal yang menamakan diri sebagai pendiri keemiratan di Gaza, berjulukan Tentara Tuhan. Kelompok itu menyebutkan bahwa Hamas dituduh tidak cukup Islami dibandingkan diri mereka. Pemimpinnya, Abdul Lateef Mhousa, akhirnya tewas. Ia meledakkan dirinya sendiri dengan rompi bom. Korban tewas dalam bentrokan itu, 22 orang.

Di Nigeria, umat muslim juga saling berperang antarmereka. Di Irak, perang antara Sunii vs Syiah, masih membara. Di Pakistan dan Afghanistan, pemerintahan muslimnya juga memerangi kelompok muslim yang radikal, Taliban.

samuel huntington,the age of muslim wars,benturan peradaban,newsweek januari 2002

Samuel Huntington dalam artikelnya “The Age of Muslim Wars” di Newsweek, Des 2001-Feb 2002 (ditunjukkan dalam foto) menyebutkan bahwa pentas politik global kontemporer dewasa ini diisi era peperangan kaum muslim. Baik perang antarkaum muslim sendiri dan juga perang kaum muslim melawan kaum non-muslim. Tetapi ia optimistis, ketika menyimpulkan bahwa peperangan ini akan surut pada tahun 2020-an, ketika gelembung penduduk muda muslim (muslim youth bulge) mengempis.

Sebelum era 2020-an itu datang maka Internet dan blog akan menjadi ajang perang dan benturan budaya itu. Juga di Solo kita ini. Tetapi, hemat saya, selama benturan itu masih berupa kata-kata di layar komputer, di layar televisi dan radio atau dalam bentuk demo di jalanan, bukan sabetan pedang atau ledakan bom, kita tak usah terlalu risau. James Buchanan (1791-1868), presiden AS ke-15, menyatakan : “Saya suka gaduhnya demokrasi.”

Mudah-mudahan obrolan kita ini juga menjadi gaduh dalam upaya membangun budaya dialog yang produktif dan inklusif, untuk memanjangkan sumbu wawasan dan kreatitivitas warga Solo dalam mengarungi masa depan. Saya bangga bisa bersama Anda dalam momen bersejarah ini.


Catatan : Makalah ini disampaikan dalam diskusi bertema “Pengaruh Internet dan Blog Terhadap Perkembangan Kehidupan Beragama dan Budaya Bertoleransi di Soloraya” yang diselenggarakan oleh LSM Commitment Solo, 19 Agustus 2009.

Diskusi yang juga membicarakan peranan surat pembaca itu diselenggarakan sejalan dengan peluncuran blog Mediakeberagaman.com. Pembawa makalah lainnya adalah juga warga Epistoholik Indonesia, FX Triyas Hadi Prihantoro, guru SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta, yang aktif menulis di blog dan media massa.


Wonogiri, 19 Agustus 2009


ee

Wednesday, July 22, 2009

Khoe Seng Seng, Surat Pembaca, Bisnis Kotak Hitam

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 77/Juli 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Blog yang mengguncang. Anda mengenal Robert Scoble ? Ketika masih bekerja di Microsoft, julukannya adalah sebagai software evangelist. Memang agak berbau-bau keagamaan.

Untuk misinya itu ia mengelola blognya pribadi, Scobleizer, untuk menceritakan opininya terkait seluk-beluk dunia TI, utamanya apa yang terjadi di Microsoft.

Berbeda jauh dibanding pendekatan yang lajim digunakan oleh petugas kehumasan, yang penuh gincu dan polesan, Robert Scoble menampilkan tulisannya dengan sentuhan manusiawi. “Bila saya hanya bilang ‘gunakan produk-produk Microsoft, bla,bla,bla,’ maka saya kehilangan seluruh kemampuan untuk melakukan percakapan (dengan konsumen),” ujarnya dikutip dalam majalah bisnis Fortune, 24/1/2005.

Di kalangan blogger, Robert Scoble sudah ibarat “nabi.” Coba simak ajarannya untuk kaum blogger, yang pertama betapa ia menegaskan sebagai seorang blogger kita harus menjunjung tinggi kebenaran. Tell the truth. The whole truth. Nothing but the truth. If your competitor has a product that's better than yours, link to it. You might as well. We'll find it anyway. Bahkan untuk blog pesaing kita pun, yang produknya lebih unggul daripada milik kita, harus dibuatkan link untuk blog mereka.

Ajaran berikutnya : cepatlah memposting berita mengenai perusahaan Anda, baik berita baik atau pun buruk buruk. Apabila ada seseorang berkata-kata buruk tentang produk Anda ? Buatlah link-nya, sebelum blog lainnya baik yang kedua atau yang ketiga membuat hal yang sama, dan jawablah klaim mereka tersebut semaksimal yang Anda mampu. Buatlah hal yang sama bila mereka memuji Anda.

Semua kiat ini bermanfaat untuk membangun kepercayaan jangka panjang. Trik untuk membangun kepercayaan adalah tampil ke depan. Apabila konsumen mengatakan sesuatu tentang produk Anda dan Anda tidak menjawabnya, rasa ketidakpercayaan mulai menggumpal. Sementara itu bila ada konsumen yang memberikan penilaian baik terhadap produk Anda, mengapa Anda tidak membantu mesin pencari Google untuk menemukan informasi positif tentang Anda tersebut ?

Blokade surat pembaca. Terima kasih, Robert Scoble. Bercermin dari ajaran yang begitu luhur dari “nabi” blog itu saya mengalami kejadian unik. Mungkin karena saya telah mengritik terlalu pedas atau apa, baik di blog ini atau di my note pada akun Facebook saya, sebuah surat kabar telah melakukan blokade. Surat-surat pembaca saya tidak bisa lagi muncul di surat kabar bersangkutan. Seorang teman , sesama pencandu kiprah penulisan surat-surat pembaca, bilang bahwa koran tersebut disebutnya masih bergaya “feodal.”

Tetapi bencana yang saya alami itu bukan apa-apa dibanding yang dialami oleh Pak Khoe Seng Seng dan kawan-kawannya yang pemberani, yang mencari keadilan bersenjatakan surat-surat pembaca !

[Maaf, tulisan ini belum selesai. Harap maklum.]


ee

Sunday, June 21, 2009

Solo Batik Carnival dan Publikasi Dunia Maya

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 76/Juni 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia


Pebisnis batik Solo, pelajari fenomena kasus Prita Mulyasari. Satu email curhat-nya atas layanan RS Rumah Sakit Internasional Omni, membuat ia ditahan selama 20 hari.

Tetapi segera kasus kontroversial yang menyinggung rasa keadilan itu memicu gelombang protes yang dahsyat. Semula hanya berupa bisik-bisik di dunia maya, tetapi akhirnya menggelembung, hingga mampu menghasilkan efek publikasi yang luar biasa.

Ribuan orang menulis di blog, bertukar komentar di forum, milis, dan bahkan ratusan ribu orang sengaja bergabung dalam cause di Facebook untuk menuntut pembebasan Prita. Ibaratnya mereka berdemo dan ber-gethok tular di dunia maya yang akhirnya mendorong kasus tersebut dapat dibedah dan diletakkan dalam proporsinya.

Kasus Prita vs Omni di atas menunjukkan kedahsyatan media sosial, yang dapat hadir dalam beragam bentuk, misalnya milis, forum, blog, wiki, podcast, album foto dan video di Internet. Media sosial berbeda dibanding media industri seperti surat kabar, televisi dan film.

Kalau media industri membutuhkan biaya besar dan sumber daya mahal untuk menerbitkan informasi, media sosial menyediakan sarana murah bagi setiap orang untuk menjadi produser informasi.

Fenomena ini membalikkan konsep media massa menjadi menciptakan media untuk massa. Setiap orang kini dengan bersenjatakan sarana penerbitan berbasis web yang murah, mudah dikelola, dengan koneksi yang selalu tersambung dan semakin canggihnya sarana komunikasi bergerak, mendaulat mereka menjadi partisipan yang aktif dalam menciptakan berita atau informasi, sekaligus berperan dalam penyebarannya.

sbc,solopos,bambang haryanto,media sosial

Warga terlibat. Merujuk kepada kemampuan media sosial tersebut, pebisnis batik Solo, Pemkot Solo dan semua pemangku kepentingan terkait penyelenggaraan acara tahunan Solo Batik Carnival (SBC) yang tahun ini akan digelar 26-28 Juni 2009, kini saatnya membuat terobosan baru.

Yaitu secara terencana sengaja melibatkan warga untuk menjadi corong suara ke persada dunia dengan memanfaatkan media-media sosial yang ada. Aktivitas SBC kemudian tidak hanya terpusat kepada persiapan bagi peserta arak-arakannya semata.

Melainkan harus juga menjangkau kepada warga yang dimotivasi sampai dilatih secara cerdas untuk tampil menjadi penerbit informasi di dunia maya tentang semua aspek SBC yang terjadi.

Untuk aksi satu ini kita dapat meneladani langkah yang ditempuh oleh UNS Sebelas Maret. Ketika cita-cita UNS ingin masuk dalam jajaran universitas kelas dunia, yang antara lain dinilai dari frekuensi dan akumulasi penerbitan sivitas akademikanya di dunia maya yang tercatat dalam mesin pencari Google, UNS telah memacu seluruh warganya untuk menjadi blogger, alias menjadi penerbit di dunia maya.

Terus berdengung. Para pemangku kepentingan terkait SBC harus melakukan strategi serupa. Bahkan gerakan memobilisasi publikasi itu harus dilakukan secara sinambung. Sebelum, selama dan sesudah peristiwa budaya tersebut paripurna dilaksanakan. Sehingga peristiwa ini selalu menjadi buzz, berdengung senantiasa di dunia maya.

Ketika karnaval SBC berjalan, saya membayangkan kejadian menakjubkan seperti dikisahkan oleh ahli strategi Internet, John Blossom, asal AS. Dalam situs yang menyertai penerbitan bukunya, Content Nation : Surviving and Thriving as Social Media Changes Our Work, Our Lives, and Our Future (2009), ia bercerita tentang suasana peristiwa olah raga terakbar di Amerika Serikat, yaitu final kejuaraan Super Bowl XLIII awal Februari 2009 yang lalu.

Kiprah ribuan penonton yang sekaligus “wartawan” itu, dengan bersenjatakan media jaringan sosial Facebook dan microblogging Twitter, menjadi fenomenal adanya.

John Blossom menulis : “Di tengah kerumunan itu stadion riuh berhias pendar-pendar nyala layar telepon genggam. Puluhan ribu warga biasa mengirimkan video, audio, foto dan pesan-pesan pendek kepada rekan-rekan mereka sebagai bagian integral peristiwa itu melalui sarana telepon genggam mereka. (Fenomena ini) menegaskan betapa penerbitan melalui media sosial telah menjadi bagian dari selebrasi diri kita sebagai umat manusia.”

Solo Batik Carnival pasti juga merupakan bagian dari selebrasi warga Solo atas batik sebagai karya kebanggaan budaya mereka. Saya memimpikan dan membayangkan betapa dahsyat bila rasa bangga itu, baik sebagai pelaku sampai sebagai saksi dari arak-arakan megah yang mempertontonkan karya kreatif dalam karnaval SBC itu, dapat secara masif mereka ceritakan secara bersama-sama kepada dunia.

Tujuan akhirnya : Solo yang lebih kuncoro bukankah mampu mendatangkan maslahat bagi seluruh warganya ?


[Catatan : Tulisan ini dengan penyuntingan oleh redaksi telah dimuat di Harian Solopos, Senin, 22 Juni 2009].


Wonogiri, 20-22 Juni 2009

ee

Friday, November 21, 2008

Bila Indonesia Tergigit Blogger Berbisa

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 64/November 2008
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia



Jurnalisme akar rumput. Sarah bekerja sebagai akuntan pada sebuah departemen. Ia mengetahui bahwa bosnya, wakil menteri, telah melakukan korupsi. Ia ingin mengabarkan kepada dunia mengenai tindak kriminal ini, tetapi ia juga takut dipecat. Ringkas kata, Sarah memutuskan meluncurkan blog untuk mewartakan tindak korupsi di lembaganya itu. Untuk melindungi dirinya, ia akan bertindak sangat hati-hati sehingga identitas dirinya di balik postingnya itu tidak terungkap. Ia memutuskan untuk ngeblog secara anonim.

Teknik atau kiat-kiat ngeblog secara anonim itu, yang bertujuan baik seperti kiprah Sarah di atas, telah sengaja diajarkan oleh organisasi Wartawan Tanpa Tapal Batas. Mereka berkeyakinan bahwa blog merupakan sarana ampuh sebagai penyalur kebebasan berekspresi yang memicu gairah jutaan warga-warga biasa. Konsumen yang selama ini pasif mengkonsumsi informasi, berkat blog telah berubah menjadi partisipan yang energetik dalam kiprah jurnalisme jenis baru ini. Seorang pionir blog dari Amerika Serikat, Dan Gillmor, menyebut fenomena ini sebagai jurnalisme akar rumput, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Para blogger itu, secara pelahan, akan tergerak mengembangkan kode etik standar bagi kiprah mereka, sehingga eksistensinya menjadi kredibel dan dipercaya masyarakat. Tetapi di Internet juga penuh informasi-informasi sampah dan menjadi ajang penyebar kebencian. Blog yang memberi semua orang, tidak pandang bulu tingkat pendidikan atau pun keterampilan teknisnya, memang terbuka untuk menerbitkan tulisan apa saja. Konsekuensinya, blog-blog yang membosankan atau pun blog yang memuakkan akan tumbuh sama cepatnya dengan blog-blog baik yang bermanfaat bagi kita semua.


Blog-blog hitam. Kita di Indonesia, akhir-akhir ini tersengat oleh hadirnya blog hitam, blog negatif, yang konon meresahkan. Pertama, menjelang eksekusi mati terpidana tindak terorisme di Bali 2002, muncul blog yang isinya berupa ancaman pembunuhan kepada tokoh-tokoh top pemerintahan kita bila eksekusi itu dilakukan. Blog yang konon berpangkalan di Kanada itu kini sudah menghilang. Apa ceritanya lalu menjadi selesai ?

Kedua, baru saja muncul blog lain berbahasa Indonesia, berupa komik, yang isinya disebut menghina Nabi Muhammad SAW. Seperti kebijakan ketika tayangan film buatan politisi Belanda yang menghina Islam muncul di situs YouTube, Indonesia pun melayangkan usul pemblokiran blog itu ke Wordpress, tempat blog komik penodaan agama itu berinduk. Blog tersebut kini telah menghilang pula dari dunia maya.

Kedua blog itu apa blog beneran atau blog rekayasa ? Ketika blog-blog itu kini menghilang, apa ceritanya lalu juga selesai ? Menkominfo dan polisi konon akan terus mengusutnya. Mereka ingin mencari tahu apakah ada unsur-unsur dalam negeri yang terlibat dalam peluncuran blog komik yang bermuatan SARA tersebut.

Bahkan untuk mengantisipasi hal-hal serupa di masa datang, seperti janji Menkominfo dulu itu, akan dibentuk badan khusus guna mengantisipasi munculnya blog-blog hitam bermuatan SARA serupa di masa datang. Realistiskah ikhtiar Menkominfo semacam ini ?


Miskin hero. Mungkin ini sikap skeptis : bangsa Indonesia nampaknya cocok sebagai bangsa yang kurang beruntung. Termasuk dalam berurusan dengan blog. Karena blog yang begitu digdaya itu ternyata seringkali muncul ke permukaan secara besar-besaran (atau dibesar-besarkan) ketika ia hanya menjadi media yang bercitra negatif.

Kita belum memiliki tokoh misalnya, seperti Arash Sigarchi, yang harus masuk penjara selama 14 tahun karena pelbagai postingnya di Internet berupa kritik untuk pemerintahnya, Iran. Kisahnya kemudian mampu menjadi ilham bagi para blogger sejagat, bahwa apa yang ia kerjakan itu merupakan sebuah panggilan, suatu keharusan, dan bukan hanya sebagai pelampiasan hobi belaka.

Di Malaysia kita mengenal blogger Raja Petra Kamaruddin yang terkenal vokal. Blognya disebut sebagai duri bagi Pemerintah Malaysia, khususnya Wakil Perdana Menteri Najib Razak. Sebelum kasus barunya, ia pernah diadili atas tuduhan penghinaan karena mengaitkan Najib Razak, yang akan menjadi PM Malaysia di tahun 2009, dengan kasus pembunuhan model asal Mongolia.

Setelah ditahan dengan dakwaan kasus SARA, yaitu penghinaan terhadap Islam sejak September 2008 dengan menggunakan Undang-Undang Keamanan dalam Negeri atau ISA yang keras, awal November ini ia dibebaskan. Pembebasan ini konon mengindikasikan pemerintah Malaysia di bawah UMNO yang lagi goyah, sekaligus membuka jalan Malaysia menuju pemerintahan yang tidak lagi represif terhadap kaum oposisi dan suara-suara kritis. Blogger ternyata mampu ikut andil dalam penegakan demokrasi.

Itu di Malaysia. Sementara di negara-negara yang masih represif, seperti Cina atau Mesir, blogger senantiasa masuk radar pengawasan pemerintah. Di negara kita, sinyalnya kadang rancu. “Blogger Indonesia Dijamin Tak Dipenjara,” tulis Kompas (23/10/2008 : 13) mengutip kata Menkominfo Muhammad Nuh. Tetapi ketika muncul kasus seperti dalam awal tulisan ini, selalu saja muncul tokoh yang dikenal sebagai pakar telematika yang berkata-kata sambil melotot, menyampaikan pesan ini dan pesan itu, yang sepertinya menganggap blogger itu sebagai anak kecil.

Aksi menghamburkan peringatan semacam ini, juga keinginan Menkominfo membentuk badan khusus guna mengantisipasi munculnya blog-blog hitam di masa datang, di permukaan nampak sebagai langkah yang benar.

Tetapi, benarkah ? Saya teringat artikel Kevin Kelly di majalah Wired (9/1997). Judulnya “New Rules for the New Economy : Twelve dependable principles for thriving in a turbulent world.” Kevin Kelly dalam paparan hukumnya yang kedua belas, yang ia sebut sebagai hukum inefisiensi, telah mematok ajaran pamungkasnya : jangan sekali-kali menyelesaikan masalah.

Dalam artikel berjudul “Solocon Valley” (Kompas Jawa Tengah, 5/8/2006) saya pajang juga ajaran itu. Kata Kevin Kelly, “seperti simpul Peter Drucker yang dikutip oleh George Gilder, rumusnya kini (di era Ekonomi Baru atau Ekonomi Jaringan) berbunyi : jangan menyelesaikan masalah, tetapi carilah peluang. Apabila Anda menyelesaikan sesuatu masalah, Anda berinvestasi bagi kelemahan Anda. “

Kredo yang sama juga menjadi garis bawah John Naisbitt dalam buku barunya, Mind Set!: Reset Your Thinking and See the Future (2006). “Hasil bukan diperoleh dari memecahkan masalah melainkan dari mengeksploitasi peluang,” tegasnya. Atau dalam nasehat Stephen R. Covey : berhentilah mengejar ular.

Kemunculan dua blog hitam, baik blog yang berisi ancaman pembunuhan atau pun blog bermuatan SARA itu, ibarat bangsa kita sedang tergigit oleh ular berbisa. Reaksi pertama kita yang sering muncul adalah ungkapan marah, lalu berusaha mengejar ular bersangkutan, dan bahkan kalau bisa kita dapat membunuhnya.

Tetapi dalam balutan rasa marah dan aksi ingin membalas dendam itu kita sering buta dan lupa diri. Bahwa racun atau bisa ular yang sudah masuk dalam aliran darah itu akan melumpuhkan diri kita. Bahkan mampu membunuh kita pula.

Untuk umat Islam yang menjadi sasaran provokasi blog SARA tersebut, mari kita hentikan aliran racun itu dulu. Kita dapat bercermin dari kata-kata tokoh agama Din Syamsuddin, bahwa Nabi Muhammad SAW tidak berkurang mulianya akibat cercaan atau penghinaan semacam itu. Ia mengimbau agar umat Islam berlaku bijak dan tenang. Tokoh intelektual muda muslim, Ulil Abshar-Abdalla, telah pula menggariskan keyakinan serupa dalam blognya melalui kredo yang bernas : Iman yang kuat tak akan takut pada keraguan. Iman yang dangkal dan dogmatis selalu was-was pada pertanyaan dan keragu-raguan.

Ancaman gigitan blogger-blogger berbisa dipastikan akan lebih banyak lagi di masa datang. Bangsa Indonesia bebas memilih. Apakah memilih berperilaku mengumbar amarah dan berusaha membunuh blogger-blogger itu ? Atau kita pertama kali lebih memilih untuk berusaha memperkuat ketahanan diri, agar selalu mampu menetralkan diri dari racun-racun berbisa itu, sehingga kita tetap terus bersatu dan juga bertahan ?


Wonogiri, 22/11/2008
Ikut menyambut Pesta Blogger Nasional 2008 di Jakarta dari kejauhan.


ee

Saturday, April 07, 2007

Wimar’s World, Jay Rosen dan Wawancara Harian Republika

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 44/April 2007
Email : humorliner@yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia




Televisi itu kacang. Demikian menurut Orson Welles (1915–1985), bintang film dan sutradara Amerika Serikat. “Saya benci televisi. Benci saya terhadapnya seperti benci saya kepada kacang. Tetapi saya tidak bisa berhenti makan kacang,” katanya kepada New York Herald Tribune (12/10/1956). Sementara itu Robin Day (1923– ), broadcaster Inggris menjelaskan bahwa televisi itu subur berlandaskan ketidaknalaran dan ketidaknalaran juga subur di televisi (Televisi) menyentuh emosi daripada intelek.

Kedua kutipan itu melintas ketika saya memperoleh email dari Wimar Witoelar, 2/4/2007. Judulnya : “Breaking News! Wimar's World Dihentikan !”

Sebagai seseorang yang tidak memiliki pesawat televisi dan tinggal di Wonogiri, berita itu tidak begitu memberikan kejutan yang berarti. Apalagi kita semua tahu, Wimar Witoelar memang memiliki riwayat yang panjang terkait hubungan cinta dan benci dengan televisi. Tetapi menarik juga untuk berspekulasi : apakah pemberhentian acara Wimar’s World itu juga merupakan ketidaknalaran dari pengelola Jak-TV ?

Silakan Anda menjawab.

Sebagai kawan digital dari Wimar Witoelar dalam momen ini saya merasa terkait dengan kedua emailnya yang pernah ia kirimkan kepada saya. Keduanya seolah merupakan cerminan siklus alfa dan omega yang paripurna.

Alfa : ketika ia mulai mengampu acara Wimar’s World, saya memperoleh email pemberitahuan. Kemudian di situsnya, saat itu, saya tulis usul-usil agar judulnya diubah menjadi Wimar’s Wild World. Omega : kini ketika acara itu berakhir secara tiba-tiba, kembali saya memperoleh emailnya tentangnya. Sebagai perwujudan digital camaraderie dengannya, saya telah pula menulis komentar di situsnya, di mana transkripnya tertera di bawah ini.


Komentar panjang. “In the days of Caesar, kings had fools and jesters. Now network presidents have anchormen,” kata Ted Koppel. Bagi Jak-TV, Wimar Witoelar (WW) adalah pula termasuk sebagai kaum fools dan jesters itu. Ketika isi leluconnya dianggap melintasi batas, ia pun mendapat hukuman.

Ketika saya di Wonogiri memperoleh email dari Bang Wimar yang bercerita seputar dihentikannya acara Wimar’s World (saya dulu mengusulkannya : Wimar’s Wild World), saya teringat “kata mutiara” Ted Koppel di atas. Sebagai blogger dan pengelola blog Komedikus Erektus saya memandang dibungkamnya kaum fools dan jesters merupakan tanda matinya kewarasan di negeri ini.

Mengapa semua itu terjadi ?

Saya ingat di blognya ini WW pernah menulis mengenai seorang gubernur “buas” yang tak bakal berpeluang terpilih lagi sedang berkampanye. WW bertanya : untuk apa ? Ternyata, dari radio pagi tadi (5/4) saya mendengar Kwik Kian Gie menyebut bahwa beliau itu sedang merintis jalan untuk menjadi calon presiden.

Apakah ini ada kaitannya dengan dihentikannya Wimar’s World sebagai sinyal untuk WW yang selama ini kritis terhadap kebijakan-kebijakan beliau tadi ? Sinyal itu barangkali berbunyi : Anda juga bisa kami depak dari acara televisi Anda lainnya.

“Medium is the message,” kata nabi media Marshall McLuhan. Bagi saya, pemberhentian acara Wimar’s World adalah juga mengandung kebenaran dari kredo McLuhan itu. Di media yang dikuasai oleh modal besar, yang tidak egaliter, yang dekat dengan kekuasaan, maka media tersebut mampu memaksakan segala “pesan” dan kehendaknya. Baik bagi orang dalamnya sendiri, termasuk anchor, bahkan juga bagi pemirsanya. Media-media semacam itu, one-to-many itu, kini sebenarnya sekarang sedang menghitung harinya.

Hemat saya, bila WW tidak ingin kena sensor internal lagi, sebaiknya ia mendirikan stasiun televisinya sendiri. Atau terjun menerjuni media baru yang menggegerkan dunia, YouTube, hasil inovasi Jawed Karim, Chad Hurley dan Steven Chen, yang justru pernah ditulis oleh WW sendiri di blog Area Magazine, 8 November 2006. YouTube mendapatkan highlight dan accolade di majalah TIME edisi Person of The Year, 25 Desember 2006.

Sebagai seseorang yang pernah bangga disebut sebagai seorang blogger, dan saya ikut tepuk tangan dan sebenarnya mengharap banyak darinya, kini tinggal terpulang kepada diri WW sendiri : maukah ia secara drastis dan tuntas mengubah mindset-nya sebagai seorang blogger sejati ?

Kebetulan di blog saya Esai Epistoholica terkait “heboh” (badai dalam gelas) pembelotan Budi Putra, wartawan bermediakan atom, penganut jurnalisme pohon mati, menjadi blogger purna waktu (saya tidak menyebutnya sebagai blogger profesional !), saya mengungkap kembali saat WW dan Budi Putra tampil di MetroTV membincangkan blog sebagai media egaliter, fondasi kehidupan berdemokrasi. Apakah komitmen dari WW terhadap apa yang ia ucapkan itu masih kokoh kini ?

Apabila ya, maka ketika sebuah pintu media lama, lame stream media itu tertutup, ia dapat secara mudah menemukan pintu-pintu media baru lain yang terbuka. Juga terbuka bagi dirinya untuk terus menjadi fools dan jesters tanpa kuatir kena sensor atau sinyal-sinyal tak jelas, di mana peran semirip punakawan dari dirinya itu sangat vital di negeri yang karut-marut ini. Salam dari Wonogiri !


The Disuse Syndrome. Hanya itu saja yang bisa saya tulis di situsnya Wimar Witoelar. Walau pun demikian, sejauh ini, mungkin komentar saya tersebut yang paling panjang. Terbaik ? Silakan nilai sendiri. Memanglah, saya menyukai posting artikel mau pun komentar yang mampu menuntaskan gelegak perasaan dan isi pikiran, dan untuk itu, mau tak mau, harus panjang-panjang tulisan saya.

Memanglah, tidak semua orang suka.

Di kolom boks bengok blog ini pernah ada pembaca yang setengah mengeluh karena tulisan saya panjang-panjang. Saya berterima kasih untuk opini tersebut. Tetapi, agaknya, saya minta maaf tidak bisa memenuhi permintaan dirinya.

Karena menulis di blog, bagi saya, adalah pembebasan. Rasanya sudah terlalu kenyang berurusan dengan para gatekeepers baik ketika menulis surat-surat pembaca atau pun artikel sejak tahun 1973. Mereka memeriksa sampai melakukan suntingan, yang kadang tidak sesuai dengan kata hati dan alur pemikiran yang semula. Menulis di blog restriksi semacam itu tidak ada lagi.

”This is my magazine !,” demikian pembelaan Jay Rosen, pengajar mata kuliah jurnalisme di New York University sejak 1986 mengenai posting di blognya yang panjang-panjang. Artikel Jay Rosen rata-rata 1500 - 2500 kata. Ia berbeda pendapat dengan B.L. Ochman, seorang corporate blog strategist yang menetapkan bahwa panjang ideal sebuah artikel untuk blog bisnis adalah 250 kata. Yang saya setujui dari dirinya adalah nasehat : links like crazy !

[Saya sudah menulis 958 kata !]

Blog ini bukan blog bisnis. Jadi saya ikut menyetujui pendapat Jay Rosen. Kalau Anda menyukai blog ini, silakan Anda kembali. Karena sebagai seorang intellectual hedonist, menulis bagi saya adalah perjalanan, pengembaraan. Menengok kembali, membangunkan kembali atau menjemput kembali khasanah-khasanah yang selama ini tertidur, atau terbengkalai, lalu menyintesakannya dengan hal-hal baru. Menikmati proses tabrakan atau pun asimilasi yang terjadi.

Edna Ferber (1887–1968), penulis Amerika, mengatakan : “Menulis bukan pekerjaan yang amusing, menghibur. Ini merupakan kombinasi antara menggali lubang, mendaki gunung, berlari-lari di tempat dan melahirkan bayi. Menulis barangkali menarik, menyedot konsentrasi, cerah-ceria, menyakitkan, melegakan. Tetapi menghibur ? Tidak sama sekali !” Dalam semua proses itu maka otak kita harus dipakai semaksimal mungkin.

Simak cerita menarik lainnya di bawah ini.

Walter Bortz, M.D. dalam artikel berjudul “Use It or Lose It” di Saturday Evening Post (Nov/Des 1992), menceritakan cedera kaki kanannya di bagian Achilles tendon akibat kecelakaan main ski. Kaki itu harus digips selama 6 minggu. Ketika gipsnya dilepas, ia melihat kakinya dengan perasaan horor.

‘Ya Tuhan, kaki siapa ini ? Ini bukan kaki saya. Kaki itu nampak begitu tua !,”cetusnya. Tentu saja, kaki itu tidaklah tua. Ia seumur dengan kaki kirinya yang sehat. Kaki kanan yang cedera tersebut mengalami deteriorisasi begitu cepat karena terbalut gips dan tidak digunakan !

Menurutnya, demikian pula otak kita. Otak pun akan akan mengalami penuaan yang hebat dan cepat bila tidak aktif digunakan. Itulah the disuse syndrome yang mungkin berpotensi lebih mengancam para blogger yang hanya suka menulis posting atau pun komentar yang ringkas-ringkas saja :-).


Memutus tali pusar. Menulis untuk berekspresi, juga terutama sebagai intellectual exercise, merasa terus terasah ketika saya mulai menerjuni hobi sebagai seorang epistoholik sejak tahun 1973. Butir-butir topik ini mengemuka ketika Jumat malam (6/4/2007) saya diwawancarai oleh Bung Iman, wartawan harian Republika. Dirinya berminat menulis laporan mengenai kiprah komunitas Epistoholik Indonesia (EI). Ia telah meriset blog-blog saya, kini tinggal menggali hal-hal detilnya. (Update : untuk membacanya, silakan klik artikel bagian pertama dan bagian kedua).


Kontak darinya itu merupakan obrolan telepon kedua yang lumayan menghibur hari ini. Karena sebelumnya saya dapat kabar rada mengecewakan, Niz saya menunda lagi kedatangannya ke Indonesia. “PR saya di London masih seabrek, mas,” alasannya.

Sebelum ini, profil komunitas Epistoholik Indonesia telah muncul di majalah Intisari (Juli 2004), harian Solopos (10/11/2004), tayangan Bussseeet ! di TV7 (20/3/2005 dan 18/5/2005) dan majalah MataBaca (Oktober 2005). Menjadi isi mata acara Saga di jaringan radio 68H (6/11/2006) dan Saga Interaktif di Radio Utan Kayu, Jakarta (11/12/2006).

Berbeda dengan wawancara para wartawan sebelumnya, kali ini Iman Republika tertarik mengeksplorasi lebih jauh isu citizen journalism di mana kaum epistoholik memiliki peluang besar untuk ikut berperan. Sudut pandang yang jitu. Itulah inti pergolakan kami.

Dalam berinteraksi dengan media cetak, di tengah revolusi dunia digital yang terjadi, warga EI sekarang memang sedang mencari peran yang lebih progresif untuk menyuarakan aspirasi pembaca. Kalau selama ini media Internet, radio dan televisi relatif menempatkann audiens sebagai isi secara lebih signifikan, hal itu belum banyak terjadi dalam media cetak.

Mengingat media cetak selama ini terlalu journalist-centered, berpendekatan top-down, kini kami sedang mengetuk-etuk pintu mereka. Seru kami, “libatkan kami, jadikan kami sebagai sumber diskusi koran Anda, karena itu bermakna bagi masyarakat kami !”, sesuai tesis dari Dan Gillmor, pelopor citizen journalism yang kini marak di Amerika Serikat.

Untuk wawancara itu saya sempat mencontohkan sepak terjang media digital di Korea Selatan, OhMyNews, yang memiliki sumber daya 47.000 wartawan amatir di seluruh pelosok negeri.

“Kaum epistoholik, para pencandu penulisan surat pembaca merupakan cikal bakal aktor utama mazhab jurnalisme warga. Karena mereka selama ini sebenarnya merupakan radar, pencatat suara masyarakat, suara arus bawah, tetapi tidak memperoleh porsi yang berarti dalam konstelasi media berbasis atom, media cetak, akibat kolom yang terbatas itu. Ketika media massa beremigrasi ke bentuk digital, dan kapasitas tidak lagi menjadi ganjalan, membuat pendekatan top-down media arus utama menjadi terkikis kredibilitasnya. Mereka harus terbuka terhadap suara arus bawah, yang berasal dari pembacanya, dan yang paling vokal diwakili oleh para penulis surat pembaca,” demikian jual kecap saya.

Sebagaimana OhMyNews, di mana wartawan profesional dan amatir bekerja sama, saya katakan bahwa kini proyek kolaborasi pro-am serupa juga digulirkan di Amerika Serikat. Dipelopori dan didanai oleh penerbit majalah Wired. Proyek ini dikomandani oleh Jay Rosen, editornya Lauren Sandler, dibantu oleh Amanda Michel, Steve Fox, David Cohn, Evan Hansen sampai Jeff Howe. Proyek tersebut diberi label : Assignment Zero.

Dalam obrolan itu, akhirnya isu yang sensitif bagi wartawan media arus utama, terpaksa muncul juga. Sebagaimana saya ungkapkan dalam visi dan misi komunitas EI, saya memimpikan semua penulis surat pembaca memiliki blog. Karena saya berasumsi, semua orang itu cerdas, demikian pula para penulis surat pembaca.

Bagi saya, sebagai refleksi diri, surat pembaca mereka hanyalah puncak gunung es dari harta karun kecerdasan dan kearifan masing-masing. Dengan blog, harta-harta karun di bawah puncak gunung es itu dapat dibongkar, ditulis, dibagikan, disebarluaskan, sehingga menambah kaya khasanah ilmu pengetahuan yang berguna untuk kemaslahatan sesama.

Merujuk hal eksistensial itu maka semua warga EI saya dorong untuk memulai hal sama yang telah saya lakukan selama ini : berternak blog di Internet. Kalau selama ini para penulis surat pembaca ibarat tali pusarnya, umbilical cord, selalu tersambung kepada media massa, maka kehadiran blog mampu membuat penulis-penulis surat pembaca memutus tali pusar tersebut. Ibarat bayi, terputusnya tali pusar tersebut merupakan prasyarat untuk menuju kedewasaan, kemandirian dan kemerdekaan.

Berulang kali saya tulis, dengan berbekal blog diri mereka mampu menjadi warga komunitas global , sekaligus juga menjadi penerbit di muka dunia.

Iman mencecar hal yang ia nilai kontroversial tersebut. Mengapa sebagai penulis surat pembaca justru ingin memutuskan tali kehidupan atau pun eksistensinya dengan media tempat selama ini berkiprah ? Dengan meminta maaf, saya katakan bahwa surat-surat kabar seperti bentuknya seperti sekarang ini akan segera mati.

“Kapan itu terjadi ?”
“Tahun 2010,apabila...” jawab saya.

Wawancara terputus.
Gara-gara energi baterai HP saya habis.

Ketika selesai mencharge, sekitar jam 8 malam, tak ada kontak lagi dari Warung Buncit, Jakarta. Saat itu adalah saat Radio PTPN Solo merelai siaran malam Radio BBC. Bagi saya, selama dua bulan terakhir ini, relai radio satu ini mencerminkan kepongahan dan tindakan semena-mena dari pelaku old media, media lama. Karena siaran BBC yang normalnya sepanjang 30 menit, hanya mereka siarkan sekitar 7-10 menit saja. Hal itu sudah saya tulis di kolom surat pembaca Kompas Jawa Tengah (12/2007). Sungguh ironis, pelaku bisnis industri radio justru tidak menghargai nilai informasi dari radio juga

Memodifikasi ucapan itu Robin Day, kiranya dalam dunia radio masih banyak yang bisa hidup berlandaskan ketidaknalaran.


[Saya sudah menulis 2034 kata !]


Wonogiri, 6-7 April 2007.

ee

Monday, August 01, 2005

Menari Bersama Jerangkong : Blogger, Lurker, dan Miduk Dalam Kenangan Seorang Epistoholik

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 26/Agustus 2005
Email : epsia@plasa.com
Home : Epistoholik Indonesia



I know your eyes in the morning sun
I feel you touch me in the pouring rain
And the moment that you wander far from me
I wanna feel you in my arms again

And you come to me
On a summer breeze
Keep me warm in your love
Then you softly leave
And it's me you need to show
How deep is your love

(The Bee Gees, “How Deep Is Your Love”)


DIKEJAR HANTU ORDE BARU ! Orang tua sering tidak merasa melakukan hal paradoks terhadap anaknya. Ketika masih balita, mereka dengan kasih sayang tak henti-hentinya mengajari agar mampu dan lancar berbicara. Sekadar contoh keterpesonaan orang tua ketika mendengar celoteh anak balitanya, kita dapat menyimak dari salah satu adegan memikat dalam sitkom “Friends” yang terkenal.

Terkisah Rachel Green (Jennifer Aniston) merasa sungguh bahagia ketika anaknya, Emma, yang masih balita, menurut pendengarannya telah mampu mengatakan sesuatu kata yang baru baginya.

Gleba.

Pasangan kumpul kebonya, Ross Geller (David Schwimmer), seorang dosen dan doktor paleontologi yang sering mengagung-agungkan statusnya sebagai ilmuwan, justru tidak begitu terkesan ketika memperoleh informasi itu. Kata gleba, menurutnya, adalah kata yang benar-benar tidak ada maknanya !

Rachel menjadi penasaran. Ia pun membuka kamus. Ketemu. Ternyata gleba adalah spora mirip daging yang di dalamnya berisi himpunan massa jamur. Barulah Ross tertarik. Ia pun langsung berkomentar, bercampur rasa bangga berlebihan bahwa Emma memiliki bakat kuat sebagai ilmuwan kelak bila dewasa.

Kita tidak tahu bagaimana interaksi antara Rachel dan Ross dengan Emma kelak dewasa. Tetapi, kita tak jarang menyaksikan paradoks yang mendera para orangtua dalam mengasuh anak mereka. Ketika anaknya tumbuh dewasa, dapat berpikir, bernalar dan tentu saja bicara, para orang tua justru lebih sering membentak agar mereka tutup mulut. Alias tidak boleh bicara. Hal serupa juga telah dilakukan oleh pemerintah Orde Baru. Mereka sepanjang 32 tahun sengaja membungkam rakyatnya dengan segala macam cara.

Salah satunya, seperti disebut oleh psikolog Richard W. Brislin dari Universitas Hawaii, dalam bukunya The Art of Gettings Done : A Practical Guide To The Use of Power (1991), adalah creating a bogeyman. Menciptakan hantu. Untuk menakut-nakuti rakyatnya sendiri.

Persis cara orang tua menakut-nakuti anaknya agar mereka patuh, misalnya mau memakan sayuran atau mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah. Pemerintah Orde Baru paling getol dan paling jago dalam menciptakan hantu. Misalnya bahaya laten komunisme, PKI Malam, ekstrim kiri, ekstrim kanan sampai ancaman organisasi tanpa bentuk.

Untuk meraih keberhasilan taktik tersebut, Pak Harto sangat ahli dalam memasang bawahannya sebagai apa yang oleh Brislin dinamai dengan sebutan lightning rod, penangkal petir. Merekalah figur-figur yang gencar menyuarakan dan menghadirkan hantu-hantu di atas ke dalam benak masyarakat. Mereka sering pula digambarkan sebagai tokoh-tokoh yang memiliki kepribadian abrasive, kasar kayak ampelas.

Menengok ke belakang, jabatan Pangkopkamtib, Panglima ABRI sampai Menteri Dalam Negeri pada era Orde Baru, nampaknya sengaja dipangku oleh para penangkal petir ini. Mereka pasang badan sebagai sasaran frustrasi atau kemarahan publik, sementara Pak Harto sendiri dihindarkan sebagai sasaran langsungnya.

Menjelang penyerbuan kantor pusat PDI di Jl. Diponegoro, 27 Juli 1996, misalnya, Jenderal Feisal Tanjung sebagai Panglima ABRI telah menuduh acara mimbar bebas massa PDI saat itu sebagai gerakan makar, “yang harus dilibas”. Bahkan Tanjung juga memvonis mimbar bebas itu telah disusupi oleh PKI. Hantu lama yang masih ampuh.

Saat peristiwa itu terjadi, saya berada di Perpustakaan LIA, Jl. Pramuka, sekitar 2 km dari arena kebrutalan pemerintah Orde Baru itu.

Ketika pasca-penyerbuan terhadap mimbar bebas massa PDI itu berlangsung, disusul meletus kerusuhan dan pembakaran beberapa gedung, segera aktivis Partai Rakyat Demokrasi (PRD) yang dinilai pemerintah sebagai “kekiri-kirian” dijadikan sebagai tertuduh pemicu kerusuhan. Mereka langsung menjadi hantu ciptaan Orde Baru yang “lebih baru”. Tentu saja, harus pula diuber-uber dan diburu !

Pada jaman Presiden Ronald Reagan, para penangkal petir itu misalnya James Watt, Donald Regan sampai Larry Speakes. Di era kepresidenan SBY saat ini, siapakah hantu-hantu itu ? Tentu saja, antara lain, Dr. Azahari, Nurdin Muh Top beserta jaringannya. Mungkin juga flu burung. Sementara Andi Malarangeng merupakan sosok penangkal petir bagi SBY masa kini ? Lihat-lihat dulu sajalah.


MENYAMBALEWA ! Orde Baru telah tumbang. Tetapi pelbagai stigma yang pernah mereka torehkan, termasuk tentang ancaman organisasi tanpa bentuk, rupanya residunya masih tertanam dan bergentayangan, linger, menyambalewa, pada banyak benak khalayak. Sampai saat ini.

Sekadar ilustrasi, sobat kita yang sesama warga Epistoholik Indonesia, Purnomo Iman Santoso dari Semarang telah menyebut-nyebut hal itu pula. Dalam surat pembaca berjudul “Partai EI” yang muncul di Kompas Jawa Tengah (21/7/2005) yang lalu, ia telah menulis :

“Tanggal 27 Januari 2005 dideklarasikan sebagai hari Epistoholik Indonesia (EI) oleh Bambang Haryanto. Untuk langkah maju lagi, sudah saatnya komunitas EI semakin mempertegas kehadirannya agar tidak dituduh sebagai organisasi tanpa bentuk dengan mendirikan Partai Epistoholik Indonesia (EI)...Partai EI memiliki komitmen kuat sebagai partai oposisi sepanjang masa....tidak perlu daftar agar diverifikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU).Tak perlu ikut pemilu.

Partai EI dibiayai oleh warga EI dengan perangko @ Rp. 1.500 per surat pembaca yang dikirim ke media dalam rangka mewujudkan fungsinya melakukan check and balances. Masa kampanye atau tidak, pemerintah dan presiden boleh silih berganti, moto partai EI adalah Episto ergo sum = saya menulis surat pembaca karena saya ada.

Platform Partai EI mendukung hal yang bersifat pro saling mencerdaskan, kejernihan pemikiran, kreativitas, dan semangat pantang menyerah. Sebaliknya, waspada bahaya laten pembodohan, monopoli intrepretasi, tidak mendukung keloyoan, dan antibudaya menjiplak. Cita-citanya adalah mengajak sebanyak mungkin warga negara Indonesia untuk menulis.”


Terima kasih, Mas Pur. Saya suka ide Anda ini. Saya suka ide-ide baru. Pernah saya membaca kata mutiara mengenai manfaat lain dari ide-ide baru. Untuk mengetahui umur sejati seseorang, jangan hanya menanyakan kapan tahun kelahirannya. Tetapi paparkan kepada mereka ide-ide baru.

Walter Bagehot (1826–1877), esais dan ekonom Inggris, pernah bilang, one of the greatest pains to human nature is the pain of a new idea. Salah satu rasa sakit yang paling sakit bagi umat manusia adalah ketika terpapar ide-ide baru. Begitulah, sudah sering saya temukan anak-anak muda, yang sebenarnya umurnya jauh lebih muda dibanding diri saya, tetapi mereka nampak kesakitan ketika dirinya terpapar ide-ide baru. Dirinya cepat sekali menjadi defensif dan konservatif. Cepat sekali menjadi tua !

Ide Purnomo Iman Santoso, perlu dielaborasi, karena ada beberapa kontradiksi. Tetapi bagi saya, yang paling penting, mari kita kubur stigma Orde Baru mengenai sebutan organisasi tanpa bentuk itu. Istilah rekaculika ini merupakan bentukan Orde Baru sebagai senjata perang wacana saat mereka menindas suara-suara atau gerakan yang mengritisi pemerintah Soeharto saat itu.

Padahal menurut Encyclopedia of the New Economy, organisasi tanpa bentuk identik dengan adhocracy, organisasi tanpa struktur :

Adhocracy : Organization without structure.
Adhocracies have long been used by creative enterprises - film studios and ad agencies, for instance - to produce a steady flow of differentiated products. They are a mirror image of the well-defined bureaucracies that built most industrial organizations: Instead of a strict rule book, there exists an evolving collection of shared goals. Start-up software companies are a classic example. Instead of fixed tasks and job descriptions, everyone does what needs to be done. Computer networks encourage adhocracy by enabling people to continuously share information and coordinate themselves informally.


Kejayaan Hollywood, yang mengolah dan membisniskan karya kreativitas, merupakan contoh nyata kedigdayaan organisasi tanpa bentuk tersebut. Epistoholik Indonesia juga bersendikan pada olah kreativitas. Kerja otak. Demi menyuburkan dan menjunjung tinggi olah kreativitas tersebut maka tidak ada aturan-aturan ketat yang harus dipatuhi oleh warganya.

Krida warga Epistoholik Indonesia dipandu oleh tujuan bersama, yang antara lain telah juga ditegaskan secara menarik oleh surat pembaca Purnomo Iman Santoso. Hubungan antarwarga tak ada hirarki, tanpa ada garis komando, tanpa diatur-atur, tanpa pula ada deskripsi kerja. Setiap warga Epistoholik Indonesia sebagai pribadi yang dewasa dan bertanggung jawab, walau ada yang masih duduk di bangku SMA seperti Eric Levi Siranda dari Malang, telah mengetahui apa yang harus mereka kerjakan.

Sayang sedikit, ini penilaian subjektif saya, jaringan komunikasi melalui komputer yang mampu mendorong kinerja adhocracy, sehingga antarwarga EI dapat secara berkesinambungan berbagi informasi dan mengkoordinasikan diri secara informal, operasionalnya masih jauh dari memadai.

Padahal fasilitas itu sudah tersedia dan gratis. Sejak awal saya telah memberikan contohnya. Bahkan juga telah mengetikannya untuk masing-masing contoh upaya pendokumentasian karya-karya mereka.

Blog, blog, blog !


DIKEJAR-KEJAR MACAN ! Dramawan Putu Wijaya dalam sebuah acara bedah sastra di Jakarta yang juga saya ikuti pernah bilang, menulis itu ibarat dikejar macan. Katanya, ada dua jenis macan. Macan di luar dan macan di dalam.

Macan di luar adalah dorongan menulis untuk memenuhi kebutuhan fisik. Memperoleh uang. Hingga ada kiasan bahwa aktivitas menulis tidak ubahnya perilaku seorang pelacur. Pertama-tama demi memperoleh kesenangan, lalu pelan-pelan beralih guna memperoleh uang. Saya mengalami kejaran macan dari luar itu, hingga kini. Saya sebagai penulis freelance, suka dukanya dikejar macan dari luar itu bisa ditulis panjang lebar.

Bahkan kolom surat pembaca pun dapat secara kreatif saya olah menjadi sarana memperoleh uang. Dengan cara menawarkan solusi, kemudian diwartakan melalui kolom surat-surat pembaca. Di tahun 1985-1995 saya berbisnis kiat-kiat sukses strategi berburu pekerjaan. Penjualannya melalui jasa pos. Mereka yang tertarik terhadap informasi yang saya tuliskan di kolom surat pembaca, lalu menggalang kontak dengan saya. Terjadi diskusi, dan tidak jarang akhirnya mereka membeli informasi-informasi panduan yang saya tawarkan.

Bisnis pertanian melalui surat pembaca juga pernah saya terjuni. Akibat krismon di awal 1998, saya pun harus hengkang dari Jakarta. Kembali mudik ke Wonogiri.

Dalam perjalanan bis Solo-Wonogiri, saya temukan penjaja asongan yang menawarkan produk unik. Yaitu paket kecil berisi sepuluh jenis biji-bijian, benih tanaman sayuran. Ada bayam, kangkung, lombok, sawi, tomat, gambas sampai mentimun. Saya membeli dan minta alamat penjualnya. Dirinya tinggal di daerah Sukoharjo. Harga satu paket, Rp. 1.000. Kalau belinya banyak, harganya Rp. 600 per paket.

Pertanian adalah subjek yang saya buta sama sekali. Saya anak tentara, bukan anak petani. Selama 18 tahun saya pun tinggal di Jakarta. Kini tiba saatnya, pikir saya, untuk belajar menjadi petani. Saya segera mencari info ke Departemen Pertanian. Bahkan kemudian menemukan tempat yang menjual pupuk organik. Juga membaca-baca majalah pertanian Trubus. Di masa krisis moneter itu cabe harganya mencapai puluhan ribu per kilogram, aku pikir, gerakan swadesi alias mencukupi kebutuhan diri sendiri model Mahatma Gandhi sebaiknya dicoba untuk dipromosikan.

Saya segera menulis brosur. Isinya mengenalkan arti pentingnya pertanian organik dan cara-cara mudah untuk membudidayakan lahan sekitar rumah, bahkan hanya dengan kaleng-kaleng cat sebagai pot, setiap rumah tangga berpeluang mencukupi kebutuhan sayur-mayurnya sendiri. Saya segera mempromosikan bisnis baru saya ini melalui surat pembaca. Walau tidak spektakuler, ternyata memperoleh sambutan yang menggembirakan. Saya sempat bermimpi seperti menjalankan bisnis peralatan pertanian secara mail order model Smith & Hawken yang terkenal di Amerika Serikat.

Harga paket benih saya jual Rp. 2. 500. Belum termasuk ongkos kirim. Paket benih itu kadang hanya sebagai pintu masuk, gimmick, untuk membuka bisnis yang lebih menguntungkan. Benih saya berikan secara gratis bila mereka sudi membeli paket pupuk organik, pot-pot plastik sampai alat-alat pertanian ringan. Tidak jarang, ada yang memesan kiriman benih tertentu di luar paket.

Ketika perekonomian negara kita semakin membaik, pasokan dan harga sayur mayur di pasar semakin normal, bisnis pertanian saya pun harus rela surut. Saya tidak tergerak untuk melakukan inovasi lagi, walau sebenarnya tetap terbuka pelbagai pilihan. Bagi saya, yang terpenting, pengalaman saat itu menyenangkan. Karena bisa menyemai gagasan atau ide-ide baru untuk diolah menjadi sebuah kenyataan !


Kembali ke masalah kejaran macan. Kehadiran situs blog di Internet, bagi saya, membukakan dimensi baru dalam aktivitas menulis. Sebagai blogger, yang menulis di blog, saya memang tidak memperoleh bayaran apa pun. Seperti halnya kita, para warga Epistoholik Indonesia selama ini, ketika menulis surat-surat pembaca di media massa cetak.

Dorongan untuk menulis di blog meletup semata-mata berkat kejaran macan dari dalam. Gairah untuk terus menulis. Berekspresi. Mengomunikasikan gagasan. Melakukan rekreasi. Relaksasi. Menguber terapi.

Apalagi saya semakin sering merasakan banyak ketidaksesuaian dengan media cetak. Saya tidak akan protes. Saya menghormati kebijakan dan pilihan mereka. Mungkin karena aspirasi, cita-cita atau pun selera yang berbeda. Tulisan-tulisan saya yang mendapat penolakan dari mereka, melalui blog tetap terbuka peluang untuk bisa saya komunikasikan dengan pembaca. Melalui blog pula saya dapat menulis menurut pola atau gaya yang saya sukai. Kejaran macan dari dalam yang selalu menuntut pembebasan itu akhirnya memperoleh pelampiasan, outlet yang wajar dan sehat, yang mampu memberi kesegaran bagi jiwa.

Dalam introspeksi saya, fasilitas situs blog sangat penting dan sangat berharga karena telah memberikan arena bagi saya untuk berlari dan berlari dari kejaran macan yang ada di dalam diri saya. Sebagai seseorang yang berkepribadian introver, dengan gaya hidup yang “tidak normal”, selain didorong untuk memberikan sesuatu kontribusi gagasan sampai aspirasi kepada masyarakat, dalam diri saya terdapat banyak sekali uneg-uneg yang terus antri untuk dikeluarkan !

“Jika Anda punya jerangkong, kerangka manusia, di dalam lemari Anda, keluarkanlah. Dan menarilah bersamanya”, begitu nasehat Caroline MacKenzie seperti dikutip Susan Shaughnessy dalam bukunya Walking on Alligators : A Book of Meditations for Writers (1993) yang edisi bahasa Indonesianya berjudul Berani Berekspresi : Buku Meditasi Untuk Para Penulis ( 2004).

Terus terang, kerangka-kerangka manusia itu banyak sekali menumpuk di lemari saya. Dan di lantai blog itulah saya bebas dan bisa bersenang-senang untuk berdansa dengan mereka.

Menulis di blog, mungkin juga tidak ada yang membaca. Paling tidak, peluangnya mungkin lebih tipis dibandingkan bila termuat di media massa cetak. Kata mungkin perlu diberi garis bawah, karena di jagat maya Internet juga dikenal apa yang disebut sebagai lurker, pembaca atau fans yang tersembunyi. Bila mereka muncul, dan sering menyapa secara tidak terduga-duga, saya segera merasakan betapa apa yang saya kerjakan selama ini bukan hal yang sia-sia.


HOW DEEP IS YOUR LOVE ! Fenomena lurker itu saya alami jauh sebelum saya mengenal Internet. Berkat menulis di media massa sejak tahun 1973, saya pernah merasakan suatu kejutan yang manis. Maafkan saya, untuk menunda sementara cerita tentang fenomena lurker tersebut.

Peristiwa kejutan manis dari seorang lurker itu terjadi bersamaan ketika saya menjadi saksi saat Krisdinah “Miduk” Purnamaningsih diwisuda sebagai Sarjana Muda Administrasi Negara, Fisipol UNS, 1979. Lokasi : Kampus Fisip UNS Pabelan, Solo. Saya memotretnya. Saya senantiasa bangga dan bahagia mengenang dirinya sebagai wanita paling cantik yang pernah membuat saya jatuh cinta.

Lupakan sebentar Isabelle Adjani, Jackie Bisset atau Sherry Bilsig. Miduk lebih istimewa. Kalau Anda pernah melihat Emma Bunton atau Baby Spice dari kelompok Spice Girls, kilatan senyumnya mirip senyum Miduk yang membuat duniaku penuh warna. Untuk mempermudah gambaran, bayangkan senyum Arie Kusmiran, ketika masih muda dan menawan.

Miduk menyebut atau memberi label cinta saya kepadanya dengan mengambil tamsil dari judul lagu yang ngetop saat itu. Lagu yang tetap indah sampai kini. Lagu diskonya The Bee Gees, ‘’How Deep Is Your Love”. Aku belum mengenal lagu itu, saat itu. Ketika aku lagi praktek kerja di Bengkel Yasa PJKA Madiun, dan, oh senangnya ketika surat Miduk tiba untuk mengabarkan nada-nada indah di hatinya itu.

I believe in you
You know the door to my very soul
You're the light in my deepest, darkest hour
You're my saviour when I fall

And you may not think I care for you
When you know down inside that I really do
And it's me you need to show
How deep is your love

How deep is your love
How deep is your love
I really mean to learn
'Cause we're living in a world of fools
Breakin' us down
When they all should let us be
We belong to you and me


Mereka yang tolol, penghuni dunia kaum tolol, yang akhirnya malah memisahkan hubungan cinta kami, tidak lain adalah diri saya sendiri. Sesudah wisuda, tentu saja Miduk telah menghitung betapa jam biologisnya sebagai perempuan terus saja berdetak. Sebagai perempuan ia pasti pula mengharapkan komitmen penuh dari seorang lelaki yang dipilihnya, dan tentu saja bukan hanya cinta semata walau seindah apa pun, untuk hari-hari hidupnya mendatang.

Semuanya itu, bagi saya, saat itu, justru merupakan sinyal-sinyal yang menakutkan. Sinyal breakin' us down itu akhirnya semakin menegas ketika, suatu hari Minggu malam, saya main ke rumahnya.

“Kok tangannya dingin”, gurau Ibu Mulyadi, ibunya. Saya hanya menyeringai dan menahan malu. Beliau yang saya salami di pojok ruangan sedang membatik. Mungkin hawa panas dari tungku arang, anglo, di dekat beliau yang membuat tangan dingin saya, pertanda gugup dan cemas, semakin kontras terasakan olehnya.

Keluarga ini masih kental darah birunya yang terkait dengan Keraton Surakarta. Kalau Anda bertanya kepada warga Solo nama-nama Minul, Miduk, Dyah, Nina, Nani dan Ndari dari Purwotomo, semoga Anda akan memperoleh cerita yang memadai. Cerita tentang keluarga yang putrinya cantik-cantik semuanya.

Ibu Mulyadi saya temui sebelumnya, sebagai pendamping satu-satunya ketika Miduk diwisuda yang lalu. Untuk ikut merayakan keberhasilannya, saya membawa buku Peringatan Seratus Tahun Kartini, sebagai hadiah wisudanya.

Gurauan Bu Mulyadi itu mungkin isyarat bahwa sambutan Miduk malam itu akan mendingin pula. Betul. Miduk memang hanya mengajakku ngobrol sebentar. Ia telah ditunggu lelaki lain, teman sekantornya, untuk date di luar. Krisandari Yuningrum, adik terkecilnya, menunjukkan raut muka tidak begitu senang karena kakaknya justru meninggalkanku saat itu. Ah, saat itu Ndari tentu belum tahu cara berpikir orang yang lebih dewasa.

nDari adalah murid saya di Workshop Melukis Anak-Anak Gallery Mandungan Muka Kraton Surakarta. Saat itu ia duduk di kelas 6 SD Mangkubumen 15 Solo. Ia sering saya goda karena konon ditaksir oleh Jeffrey, juga murid sanggar melukis saya, yang sekelas dengannya. nDari dengan komplotannya seperti Anita, Ningrum dan Mira, adalah sebagian dari murid sanggar yang dekat dengan saya.

Malam itu akhirnya saya berusaha bersenang-senang, dengan membantu dan menemani nDari dalam belajar. Mata pelajaran biologi. Bareng-bareng menghafal pelajaran, misalnya apa guna kulit sampai manfaat tulang bagi tubuh kita. Tulang antara lain berguna untuk membentuk kerangka manusia !

“Penulis harus menari bersama jerangkong, tulang kerangka mereka sendiri !”, timpal Susan Shaughnessy atas pendapat Carolyn MacKenzie tadi. Kerangka manusia adalah kiasan untuk hal yang paling Anda hindari untuk dituliskan. Misalnya rasa malu yang membuat Anda bergidik dan menciut, yang pada akhirnya akan muncul juga dalam tulisan Anda.

Mengapa ? Karena di sanalah energi jiwa Anda tertimbun. Dengan menuliskannya, Anda meratakannya. Energi itu mengalir ke dalam tulisan Anda dan membuatnya hidup. Jerangkong itu kering dan tak bernyawa. Tetapi mereka bisa menari.

Kini, hari ini, jerangkong diri saya yang terkait dengan Miduk telah saya ajak untuk menari. Seperti tertuang dalam lanjutan cerita tentangnya di bawah ini :

Miduk saya temui lagi, tak sengaja, 1982, di Toko Buku Gramedia Blok M, Jakarta Selatan. Malam hari. Saat itu ia berdiri di dekat pintu masuk. Begitu saya mendorong pintu untuk masuk toko, sungguh tidak ada peluang untuk menghindar. Di dalam hati kecil saya, semoga ia tidak melihat. Miduk melihatku. Jelas melihatku. Aku juga melihatnya.

Di balik kacamata beningnya, saya jelas melihat pupilnya berkilau dan nampak sekejap membesar. Nyala api asmara masih berkobaran di matanya. Nyala yang sama juga masih membakar isi dadaku pula.

Mengingatkan pada tuturan penjelajah dan kerabat Istana Inggris, Walter Raleigh (1552–1618), bahwa “true love is a durable fire, in the mind ever burning, never sick, never old, never dead”. Cinta sejati itu adalah api abadi, selalu membara di hati, tanpa pernah sakit, uzur, atau pun mati.

Sejurus kemudian, suaminya ikut bergabung. Miduk mengenalkanku sebagai Hari, orang yang memberi hadiah buku Seratus Tahun Kartini. Suaminya maklum. Dirinya lalu meninggalkan kami berdua untuk bertegur sapa. Hanya terjadi obrolan formal. Sekarang ada di mana, bagaimana kuliahnya dulu, dan kerja di mana. Antara kami juga tidak bertukar alamat atau nomor telepon.

Malam itu saya pulang dengan merasakan dunia bagaikan runtuh. Juga merasakan pedihnya sayatan ironi. Saat di Gramedia tersebut saya hanya membeli buku primbon perbintangan, Star Sign for Lovers, untuk mencari tahu sifat-sifat diri dan kepribadian Niken Chandra, mahasiswi ASMI Jakarta, yang mengisi hatiku saat-saat ini. Dalam cinta saat itu aku masih berkutat di dunia teori, teori dan teori.

Sementara Krisdinah Purnamaningsih, malam itu wajahnya terasa semakin cemerlang. Dirinya terbalut aura kecantikan alami yang agung, divine, penuh pesona, yang memang senantiasa menyertai seorang wanita yang sedang berbadan dua. Dalam cinta, Miduk telah mempraktekkannya dan memperoleh kebahagiaan darinya. Semoga sampai hari ini pula.


NEGROPONTE DAN AIR MATA. Kembali ke tahun 1979. Di tengah upacara wisudanya Miduk, duduk saya dikerubungi beberapa mahasiswa FISIP UNS, utamanya dari Jurusan Komunikasi. Saya hanya mengenal seorang dari mereka, Widodo, yang aku kenal saat sama-sama membidani terbitnya koran kampus UNS.

Sebagai mahasiswa Fakultas Keguruan Teknik, Jurusan Mesin, saya memang rada diguyur kemewahan karena bisa populer di kalangan sivitas akademika Jurusan Komunikasi UNS. Dosennya pun, Pak Parwoto, Pak Sardjono, sampai Pak Suparnadi, aku kenal akrab. Malah pak Sardjono pernah pinjam bukuku, karya klasiknya Marshall McLuhan, Understanding Media : The Extensions of Man (1964), untuk difotokopi.

Saat itu, salah satu teman Widodo, tiba-tiba nyeletuk kepadaku. Inilah kejutan, sapaan seorang lurker yang tidak pernah terduga :

“Saya pernah di kantor pos dan bareng-bareng ambil kiriman poswesel, bersama kamu”, katanya. Saya merasa ini kejutan yang rada membingungkan. “Saya tahu”, lanjutnya, “wesel yang kamu terima hanya sepersepuluh dari wesel yang aku terima. Tetapi yang membuat diriku rendah diri, weselmu itu berasal dari honormu menulis. Sedang wesel yang aku terima, adalah kiriman dari orangtuaku”

Oh.

Kini sebagai blogger, kemewahan serupa juga terjadi. Melalui email, terbaca sebuah pertanyaan dan sekaligus pernyataan : “Mengapa Pak Bambang harus rela meneteskan air mata sesudah membaca bukunya Nicholas Negroponte yang berjudul Being Digital itu ? Saya telah membaca habis buku tersebut dua kali. Tetapi gara-gara pernyataan Bapak, saya ingin kembali membaca untuk ketiga kalinya”

Email itu ditulis oleh Oki Rosgani. Dari Subang. Sebelumnya, saya tidak pernah mengenal dirinya sama sekali. Ia memiliki dua situs blog yang beralamatkan :

http://okirosgani.blogspot.com
http://rosgani.blogspot.com

Bahkan di situs saya, Komedikus Erektus !, dalam tulisan berjudul "Erika Cantik Makan Jangkrik dan Sitkom Kita", Oki pun bermurah menorehkan komentarnya :

BH : “Tragedi-tragedi dalam hidup hari ini bisa menjadi cerita lucu di hari yang lain”

Meminjam kata-kata yang di ucapkan Nicholas Negroponte di bukunya yang berjudul Being Digital : "Perubahan kecil hari ini bisa menjadi perubahan besar di masa depan."

Setuju, Oki. Dengan memiliki situs blog, kita telah melakukannya. Perubahan kecil yang kita lakukan saat ini, akan menjadi perubahan besar di masa depan. Saya optimis, seperti rasa optimisme yang ditebarkan oleh bukunya Nicholas Negroponte tersebut.

Terakhir, ralat sedikit, pendapat tentang tragedi hidup itu bukan pendapat orisinal diriku sendiri. Melainkan aku kutip dari pendapat Nora Ephron, penulis yang menghasilkan film-film terkenal seperti When Harry Meet Sally, Sleepless in Seattle sampai You’ve Got Mail yang bercorak komedi-romantis itu.

Saya setuju kok dengan pendapat Nora. Tragedi hidup di masa lalu ketika dibongkar-bongkar lagi di masa kini, yang muncul memang letupan komedik di sana-sini ketika kita rela menuliskannya. Syaratnya, adalah keberanian untuk menertawai kebodohan dan kekurangan diri sendiri.

Merasa nyaman untuk berdamai dengan diri sendiri. Itulah keberanian untuk menari bersama tulang kerangka sendiri, di mana pada akhirnya sungguh-sungguh merupakan tarian perayaaan bagi kebebasan jiwa.

Melalui situs blog ini, tarian jerangkong saya, tarian perayaaan bagi kebebasan jiwa itu, bisa saya kabarkan kepada dunia.



Wonogiri, 31 Juli 2005