Showing posts with label blogger wonogiri. Show all posts
Showing posts with label blogger wonogiri. Show all posts

Monday, September 19, 2011

Ketika Dipelonco di Dapur Solopos

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 118/September 2011
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


Pemimpin redaksi dan redaksi pelaksana koran lokal berboncengan sepeda menuju pulang. Menjelang dini hari. Mereka baru saja dari percetakan.

Tiba-tiba keduanya melihat bendera merah berkibar di tepi jalan. Tanda adanya kesripahan. Keduanya saling memandang, lalu seperti bersepakat menggumam : “Semoga bukan pelanggan koran kita.”

Hari ini, bila seorang pemimpin redaksi melihat bendera yang sama, mungkin reaksinya berbeda. Ia menelpon wartawan yang paling dekat dengan lokasi untuk mencari tahu siapa yang meninggal. Bila seorang tokoh, segera dilakukan liputan. Bagian iklan segera menyusul. Misalnya, menawarkan kapling iklan ucapan ikut berduka cita untuk perusahaan tempat almarhum bekerja.

Kedua cerita itu fiksi semata. Sekadar menggambarkan potret media kecil di masa lalu vs media besar di masa kini yang sudah menjadi entitas bisnis. Bahkan dalam skala global, seperti skandal tabloidnya taipan media Rupert Murdoch akhir-akhir ini, konglomerasi medianya diduga ikut mencampuri dan memaksakan perubahan kekuasaan politik sesuatu negara.

Yang tidak berubah, sebelum era Internet tiba, kehidupan koran bersendi kepada interaksi tiga komponen dalam media triangle, segitiga media. Di puncak segitiga adalah surat kabar. Kemudian pada dua sudut yang berada di dasar mewakili pembaca dan pengiklan. Surat kabar menyajikan berita, hiburan dan informasi bermanfaat lainnya untuk menarik pembaca. Adanya himpunan pembaca tersebut kemudian menarik para pemasang iklan untuk memajang pesan komersialnya di koran, yang ditujukan kepada pembaca yang sekaligus calon konsumen mereka.

bambang haryanto,bisnis kepercayaan,bisnis surat kabar,blogger wonogiri,ulang tahun solopos ke-14,2011,suwarmin,y. bayu widagdo,seth godin,solo kuburan koran,rapat redaksi solopos

Akhir-akhir ini mencuat kekuatiran bahwa demi mendewakan interes bisnis, koran dan pengiklan bersekongkol menginfiltrasi ranah suci kiprah para wartawan, yaitu berita, untuk disusupi iklan-iklan terselubung. Memang ada benarnya Thomas Jefferson (1743–1826), presiden Amerika Serikat ketiga, bilang bahwa iklan merupakan isi koran yang paling menyajikan kebenaran.

Tetapi praksis mencampur aduk berita dengan pesan komersial hanya membuahkan bencana bagi koran sebagai entitas bisnis kepercayaan. Pakar pemasaran digital Seth Godin dalam Unleashing The IdeaVirus (2001) wanti-wanti : “Setiap kali tukang bersin-bersin (pembawa pesan) menerima suap agar mau menularkan virus (informasi), maka kekuatannya jadi menurun.”

Boleh jadi dalam konteks untuk ikut mengamati fenomena dan kekuatiran seperti tergambar di atas, saya ketiban sampur dari harian ini. Saya diundang untuk melongoki dapur koran berpengaruh di kawasan Solo ini dengan mengikuti rapat redaksi (13/9) yang lalu. Sebuah pengalaman baru.

Robert Kiyosaki pernah bilang, bila ingin mempelajari sesuatu akrabilah dulu istilah-istilahnya. Itu yang tidak saya lakukan. Sehingga berada di antara 25 wartawan Solopos, presentasi dan diskusi hangat antarmereka saat menyiapkan materi terbitan esok hari, langsung membuat saya seperti terkena punch drunk, mabuk akibat pukulan. “Bingung dan pusing,” aku saya yang memperoleh gelak dari mereka. Saya seperti reporter yunior ikut perpeloncoan.

Syukurlah, begitu rapat berjalan, wawasan saya terbimbing untuk membuahkan pemahaman lebih mendalam. Betapa mekanisme kerja koran ini sudah mapan. Rasa saling percaya antarwartawan terjaga. Misi mereka sepakat : menyajikan informasi berguna bagi pembaca.

Materi paling hangat saat itu adalah bencana kekeringan yang terjadi (rutin) di tempat saya berasal, Wonogiri, yang kemudian diintegrasikan dengan bencana serupa dari daerah lainnya. Ketika gabungan berita itu tersaji dan dilengkapi info grafis, pembaca diajak melihat persoalan itu secara lebih integral.

Pemimpin Redaksi Y. Bayu Widagdo dan Wakil Pemimpin Redaksi Suwarmin, hadir sebagai suh, pengikat, tetapi prakarsa lebih banyak diambil redaktur masing-masing bidang. Hanya ketika mengevaluasi terbitan sebelumnya (12/9), ia memberikan pengayaan agar berita yang dimuat (kecelakaan bus maut di Mojokerto) memperoleh sajian visual lebih akurat dan sesuai konteks lokasi kejadian. “Manfaatkan situs Google Earth, bila perlu,” tandasnya.

Ketika muncul pembahasan tentang kolom “Kriing,” sebenarnya saya ingin usul agar nama-nama pengirim dan minatnya itu diopeni. Yang berprestasi didaulat sebagai hero, diwongke, ditampilkan profilnya. Antarsesama mereka difasilitasi agar bisa berinteraksi. Kajian Heath dan Heath (2007) tentang koran lokal Daily Record di Dunn, Carolina Utara (AS), menunjukkan aksi ngopeni nama membuat koran itu memiliki pelanggan sebanyak : 112 persen !

“Koran yang bagus,” demikian pengarang drama Arthur Miller, “adalah bangsa yang mampu berbicara kepada dirinya sendiri.” Koran ini saya kira mencocoki ujarannya itu. Karena mitos Solo sebagai kota kuburan koran telah dipatahkan oleh koran ini sejak 14 tahun lalu.

Yang antara lain berkat kehadirannya, antarwarga dapat saling berbicara dengan sesamanya. Untuk terbinanya saling asah-asih dan asuh, baik dalam sisi bisnis atau pun sisi idealis, untuk kemaslahatan bersama. Dirgahayu, Solopos !

Wonogiri, 15 September 2011

*) Artikel ini dengan penyuntingan telah dimuat dalam lembaran harian Solopos edisi ulang tahun ke-14, Senin, 19 September 2011.

Saturday, August 13, 2011

Sri Mulyani Indrawati Harus Menyeberang Jurang

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 116/Agustus 2011
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


Tanggal 14 Agustus 1998, Sri Mulyani Indrawati hadir di Solo sebagai pembicara utama dalam seminar ekonomi. Solo saat itu mencoba bangkit setelah huru-hara Mei 1998.

Seminar ekonomi yang diadakan oleh Forum Bisnis Surakarta (Forbis) itu juga didukung oleh PPK Bimo International, perusahaan mebel kayu milik pengusaha Jokowi, kini walikota Surakarta.

Ada momen yang menarik saat Jaya Suprana, sebagai moderator, memberikan pengantar diskusi yang berbau “nujum.” Ia katakan saat itu bahwa sosok Sri Mulyani Indrawati merupakan kandidat presiden Republik Indonesia masa depan.

Tiga belas tahun kemudian, rupanya “nujum” Mas Jaya itu terbukti. Minimal lanskap dunia politik Indonesia kini diramaikan dengan hadirnya partai baru, Partai SRI (Serikat Rakyat Independen) yang berproklamasi mengusung mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) terjun dalam kontes perebutan kursi RI-1 dalam Pilpres 2014 mendatang.

Elitis. Kehadiran Partai SRI dan misinya itu yang oleh koran Solopos ini diangkat sebagai “isu yang seksi,” jelas kemudian tidak sepi dari komentar. Yang menonjol adalah pendapat mengenai betapa beratnya perjuangan SMI untuk memenangi Pemilu 2014. Pendapat itu untuk menggarisbawahi realitas bahwa sosok SMI sulit dijual di kalangan bawah yang mayoritas pemilih.

Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta, Gun Gun Heryanto, seperti dikutip Kompas (8/8/2011) menegaskan figur SMI sebagai basis kekuatan utama SMI bersifat elitis, hanya dikenal di kalangan kelas menengah ke atas. Terutama kalangan terdidik seperti kaum intelektual, akademisi, mahasiswa dan aktivis LSM.

Diagram Kura Bell : Menyeberang Jurang Geoffrey A Moore

Merujuk analogi dari tesis konsultan pemasaran teknologi dari Lembah Silikon, Geoffrey A. Moore, kita dapat memperoleh gambaran yang menarik. Dalam buku terkenalnya, Crossing The Chasm : Marketing and Selling Technology Products to Mainstream Customers (1999), ia menggambarkan perilaku publik dalam mengonsumsi teknologi dalam bentuk kurva bel atau genta.

Pada sisi ekstrim kiri kurva, dikenal sedikit golongan yang ia sebut sebagai kelompok orang-orang yang memicu sebuah tren. Dalam kelompok ini tergabung para inovator dan pemakai awal (I-PA, innovators dan early adopters). Mereka adalah orang yang memiliki visi, mau membeli teknologi terbaru sebelum teknologi itu cukup sempurna, atau ketika harganya masih mahal.

Kelompok elit ini bersedia menanggung resiko. Orang-orang jenis ini memang kecanduan teknologi baru dan mau beresiko mengeluarkan uang untuk memiliki gadget teknologi informasi garda depan.

Pada sisi kurva ekstrim kanan, adalah kelompok terbelakang laggards) sebagai konsumen teknologi yang juga sedikit jumlahnya. Sementara itu kue paling besar adalah konsumen yang berada di tengah kurva genta, yang disebut sebagai mayoritas awal (MA, early majority) dan mayoritas terlambat (MT, late majority). Kelompok ini dia gambarkan sebagai mereka yang kuatir terhadap sesuatu perubahan yang mereka nilai akan merusak keseimbangan dalam tatanan kompleks yang sudah mapan dalam hidup mereka.

Moore menjelaskan bahwa perilaku kelompok inovator dan pemakai awal (I-PA) pada satu sisi dan kelompok mayoritas awal (MA) di sisi sebelah kanannya, walau berdekatan, tetapi sebenarnya saling tidak bersesesuaian. Akibatnya inovasi tidak berpindah begitu saja dari kelompok I-PA ke kelompok MA, karena di antara kedua kubu itu terdapat jurang (chasm) yang cukup lebar antara keduanya.

Apabila ada sebuah produk teknologi tinggi tidak berhasil menyebar keluar dari kelompok I-PA, hal itu terjadi karena perusahaan pembuatnya tidak menemukan cara untuk mengubah gagasan yang mudah diterima oleh I-PA untuk menjadi gagasan lain yang mudah diterima oleh anggota MA.

Media sosial. Sri Mulyani Indrawati yang kiranya dapat kita ibaratkan sebagai produk yang diterima oleh kelompok I-PA, tetapi seperti dikatakan oleh banyak pengamat diri dan partainya akan sulit diterima oleh kelompok mayoritas awal (MA) yang kuantitasnya jauh lebih besar. Apa solusinya ?

Kunci SRI dan SMI untuk menembus kelompok mayoritas awal (MA) itu kini sebenarnya telah tersedia. Yaitu media-media sosial, yang dapat hadir dalam beragam bentuk, misalnya milis, forum, blog, wiki, podcast, album foto dan video di Internet. Primadonanya saat ini adalah Facebook dan Twitter di mana profil Radio BBC tentang Indonesia terbaru memuat angka menarik. Penduduk Indonesia 232 juta. Pemakai Internet 30 juta. Pemakai Facebook : 37 juta. Pengguna Twitter : 5 juta. Pengguna Blackberry : 3 juta.


Lihatlah, partai-partai politik lalu tidak melewatkan untuk berusaha menubruknya. Misalnya strategi yang ditempuh Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sebagaimana dikutip situs Politikana.com (1/3/2011), dalam meraih ambisinya menjadi partai terbesar ke-3 dalam Pemilu 2014, PKS mewajibkan 500 ribu kadernya untuk memiliki akun Twitter, blog, Facebook, dan situs pribadi.

Tidak ketinggalan Partai Golkar. Masa depan sukses memenangkan pemilu kuncinya berada di Facebook dan Twitter. Demikian kata Sharif Cicip Sutarjo, Wakil Ketua Partai Golkar, sebagaimana dikutip situs The Jakarta Globe (25/7/2011). Ia tandaskan, Partai Golkar menargetkan minimal 60 juta suara dalam Pemilu 2014. Dengan memanfaatkan meda-media sosial, ia bahkan yakin akan mampu menarik lebih dari 100 juta pemilih.

Partai Golkar tidak main-main. Kini mereka sedang gencar menggembleng kadernya untuk terampil memanfaatkan Facebook dan Twitter, di mana ambisi ini kemudian menjadi bahan satir buku Komedikus Erektus 2 : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau (2011).

Diungkap bahwa ketika Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie membuka akun Twitter ia langsung memperoleh pengikut sebanyak 300 juta. Jumlahnya bahkan melebihi jumlah penduduk Indonesia. Tetapi jangan bangga dulu. Angka ini terdiri para korban, keluarga dan mereka yang menaruh simpati terhadap rakyat yang menderita akibat luapan lumpur panas Lapindo. Dari seluruh dunia !

geoffrey e moore,crossing the chasm,bambang haryanto,sri mulyani indrawati,pilpres 2014

Profil mayoritas pengguna media-media sosial itu adalah anak-anak muda. Dibanding para calon presiden lainnya seperti misalnya Aburizal Bakrie, Ani Yudhoyono, Jusuf Kalla, Wiranto, Prabowo Subianto, sosok Sri Mulyani Indrawati jelas tampil lebih fresh di antara yang lainnya dan lebih dekat kohornya dengan para pengguna media sosial di Indonesia tersebut.

Kini tinggal terpulang kepada para pendukungnya bagaimana agar keuntungan digital ini menjadi modal SMI dan SRI agar mampu bersama-sama meloncati jurang untuk meraih kemenangan fenomenal dalam Pilpres 2014 mendatang. Sekaligus membuktikan apakah ramalan seorang Jaya Suprana di Solo 13 tahun lalu itu akan menjadi kenyataan.

*Artikel ini dengan penyuntingan telah dimuat di harian Solopos, Sabtu, 13 Agustus 2011, Halaman 6.



Wonogiri, 14/8/2011

Thursday, June 04, 2009

Inspirasi Prita, Content Nation dan UU ITE Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 74/Juni 2009
Email : humorliner (at) yahoo.com
Home : Epistoholik Indonesia


Surat blogger. Thanks, nDoro Kakung untuk reportasenya. Apakah Anda juga sempat “melihat-lihat” pengacara>a Omni Hospital, Risma Situmorang, di sidang Prita Mulyasari itu ?

Melalui BBC Siaran Indonesia (29/4/2009), saya mendengar Risma Situmorang berkata bahwa kebebasan berekspresi dibolehkan asal tidak mengganggu kebebasan subjektif orang/fihak lain.

Déjà vu !

Sebagai pengamat komedi (plus : komedian masih gagal : http://komedian.blogspot.com), saya suka mengingat atau mengumpulkan soundbite tokoh-tokoh kita. Omongan Risma itu, kayaknya pernah saya dengar sebelumnya. Ternyata varian omongan tersebut pernah muncul dari Muhammad Nuh, Menkominfo kita.

Di BBC Siaran Indonesia (25/3/2008), ketika menteri kita itu memutuskan untuk memblokir situs-situs porno di Internet, ia berkata : “Kebebasan mencari informasi (di Internet) itu dibatasi oleh kebebasan yang lain, yaitu kebebasan untuk melindungi bangsa ini,” tegasnya.

Ketika heboh film Fitna buatan Geerts Wilders mencuat, Mei 2008, Menkominfo memutuskan Indonesia untuk memblok situs berbagi video, YouTube. Soundbite dia, intinya, bahwa adanya kebebasan berekspresi juga membuka kebebasan orang lain untuk menutup (memblok) produk kebebasan berekspresi itu.

Hukum pasal karet. Benang merah dari pernyataan Menkominfo kita tahun lalu itu sampai kasus Prita Mulyasari sekarang ini, masalah ini akan TETAP menjadi masalah besar kita di masa yang akan datang.

Terutama terkait dengan aspirasi kita sebagai pendukung kebebasan sipil (civil liberties) versus undang-undang yang draconian, yaitu UU ITE 2008 yang oleh “gagahput3ra” (komentar #26 di artikel Omni Pecas Ndahe) dikomentari dengan pernyataan : “Capek ngebahasnya, dari awal UU ITE penuh pasal karet….:( “

Terkait dengan gerakan kebebasan sipil, menarik juga ide dari “hendry” (komentar #50) yang menanyakan ada tidaknya organisasi semacam EFF, kalau tak salah kepanjangannya Electronics Frontier Foundation di AS, untuk “bantu penduduk yang berdomisili di Indonesia.”

Kembali lagi, seperti diungkap “Pangeran Ahmad Nurdin” (komentar di artikel Demo Pecas nDahe), asal-muasal semua bencana itu adalah : “UU ITE-nya itu. Mbak Prita ini adalah salah satu korban yang terekpos dan mendapat sorotan simpati publik. UU ITE ini kan sudah lewat mekanisme perundang-undangan DPR, nah berarti semuanya dodol dan kita harus mengingatkan.”

Akhirnya, jangan lupa selalu akan sabda nDoro Kakung yang satu ini : “Kita harus bersatu melawan kesewenang-wenangan dan ketidakadilan semacam ini. Kita juga mesti semakin hati-hati. Musuh di luar sana semakin pintar. Kita juga harus semakin cerdik.”

Perjuangan Sarah. Himbauan agar kita untuk menjadi cerdik ini telah dinasehatkan pula oleh organisasi Wartawan Tanpa Tapal Batas. Ketika muncul blog di Wordpress, November 2008, yang berisi komik menghina Nabi Muhammad SAW, dan lagi-lagi Menkominfo kita sempat bicara “keras” untuk para blogger, nasehat dari Wartawan Tanpa Tapal Batas itu sempat muncul di kepala saya. Sekarang muncul lagi.

Apakah kita para blogger suatu saat, untuk menghindari bencana seperti yang dialami oleh Prita sekarang ini, harus berlaku seperti tokoh “Sarah” yang harus tampil di dunia maya secara anonim ? Kalau Anda ada waktu silakan klik : [ http://esaiei.blogspot.com/2008/11/bila-indonesia-tergigit-blogger-berbisa.html] untuk mengikuti kiprah “Sarah” dan membaca tip dan kiat-kiat berharga dari organisasi Wartawan Tanpa Tapal Batas itu.

Terakhir, terima kasih, Ibu Prita. Semangat dan gut Anda untuk mengeluarkan isi hati terkait ketidakadilan yang Anda rasakan, kini mampu menjadi inspirasi kita semua. Dahsyat. Dahsyat sekali. Benarlah kata begawan Internet dari majalah Wired, Kevin Kelly, bahwa “succes is nonlinear !”

Seperti pula di bagian halaman cause facebook di http://apps.facebook.com/causes/290597 yang digawangi oleh Ika (creator), Enda Nasution, Wenny Trisvianne, Agus Hamonangan, Mariana Amiruddin, bukankah di situ tertulis slogan inspiratif : Anyone can change the world ? Keberanian Ibu Prita ini mampu mengubah dunia kita, semoga, akan menjadi lebih baik nantinya.

Terima kasih untuk Lasma Siregar (Melbourne) yang pertama kali menularkan info kasus Ibu Prita kepada saya. Juga untuk Arista Budyono dari www.wonogiriku.wordpress.com di Jakarta yang terus membocori saya tentang info-info perjuangan dari blognya nDoro Kakung ini.

Terima kasih untuk Antyo Rentjoko, yang mungkin rada jengkel pada tanggal 4/6/2009 saya bombardir ide agar peristiwa besar ini bisa diabadikan dalam kaos sebagai memorabilia. Sampai ide ramai-ramai menghitamkan, black out, blog-blog kita di postingan tanggal saat Ibu Prita disidang, sebagai bentuk demo maya kita.

Warga bangsa penerbit. Tentu saja, terima kasih banyak untuk nDoro Kakung himself. Asupan info Anda yang membuat hari-hari terasa menggairahkan. Saya di kota kecil Wonogiri merasa berbahagia di tengah gelombang aksi demo maya yang menggairahkan ini, inspiratif ini, di antara Anda, baik pembaca dan penulis komentar di blog ini. Juga di media sosial lainnya yang diikat oleh satu inspirasi mulia yang sama.

Keikutsertaan secara sukarela yang dipandu oleh hati nurani itu benar-benar melambungkan saya ikut merasa menjadi warga yang disebut oleh John Blossom sebagai content nation, bangsa penerbit.

Topik aktual ini pernah saya tulis di Tabloid BOLA (13 Maret 2009) saat ulang tahun ke 25 tahun dan di blog suporter sepakbola http://suporter.blogspot.com, dengan judul : Media Sosial dan Masa Depan BOLA.

Content Nation itu punya slogan : the world is a nation of publishers. be a citizen.
Ibu Prita adalah salah satu warga terhormatnya.
Juga kita-kita semua !


[PS : (1) Para calon presiden kita kini juga menaruh perhatian pada kasus Ibu Prita. Tetapi mereka nampaknya super-gaptek semua. Belum lagi ada kubu yang menamai tim-tim pendukungnya dengan istilah-istilah atau kode era radio CB, beriklan tak mencantumkan URL situsnya (kali tak punya), dan mungkin tidak tergerak untuk mempelajari bagaimana kedahsyatan media sosial, termasuk blognya nDoro Kakung ini, beraksi.

Fakta menunjukkan, media sosial telah membuat kasus Ibu Prita menjadi a gigantic roar (istilah dari Luis Marinho Falcão) sehingga mereka ikut-ikutan bicara. Kenapa fenomena dahsyat ini tidak menjadi modus kampanye mereka ? Mungkin mereka justru ketakutan bahwa kita sebagai “content nation” akan menyalak balik terhadap mereka bila ada hal-hal yang tidak sesuai isi hati nurani. Begitukah ?

(2) Rerasan usil : jangan-jangan di luar sana, entah seseorang yang di tipi suka disebut sebagai pakar multimedia atau caleg dpr yang gagal, justru bercita-cita agar semakin banyak penulis keluhan di internet atau para blogger, yang bisa masuk penjara ? :-( ]

Salam saya dari Wonogiri !


Wonogiri, 5/6/2009